Memahami Urban Heat Island di Bandung Menggunakan Google Earth Engine

Hari Rabu nanti, 17 Juli 2019, kakak saya, Muhamad Riza Fakhlevi, akan mempresentasikan makalah kami yang berjudul “Analisis Fenomena Pulau Panas Perkotaan di Kota Bandung Menggunakan Google Earth Engine”. Makalah ini kami daftarkan ke Seminar Nasional Penginderaan Jauh 2019 (Sinasinderaja), yang akan diselenggarakan di Margo Hotel, Depok.

Saya pernah membahas mengenai apa yang kami tuliskan dalam makalah ini dalam tulisan Bandung Hareudang. Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan tersebut, juga merupakan rangkuman dari apa yang akan kami presentasikan nanti di Depok.

Kenapa Harus Riset Urban Heat Island (UHI)?
UHI ini isu penting perkotaan. Menurut Bank Dunia 52% penduduk Indonesia tinggal di perkotaan. Tahun 2025, diperkirakan persentasenya akan meningkat hingga 68%. Kota sebagaimana yang kita tahu, suhunya lebih panas karena ketiadaan pepohonan. Selain itu dengan ancaman perubahan iklim, kota semakin terancam tidak mampu menanggulangi panas ekstrim, yang di beberapa tempat terbukti mematikan.

Di Eropa misal, pada tahun 2003 terjadi gelombang panas mematikan yang menewaskan hingga 70 ribu orang! (Jean Marie Robin dkk, 2008)

Oleh karena itu, penting bagi setiap kota untuk memahami karakteristik daerahnya. Penting untuk setiap kota memahami variasi spasial dan temporal suhu di daerahnya, sehingga bisa mengantisipasi segala macam kemungkinan.

Urban Heat Island di Bandung
Penelitian UHI di Bandung sudah sangat banyak. Misal penelitian dari Tursilowati (2005) yang menyatakan bahwa perubahan suhu di Bandung terjadi akibat perubahan peruntukan lahan. Penelitian lain misal dari Paramita dan Fukuda (2014) yang menyatakan bahwa terjadi perubahan panas yang signifikan di daerah urban di Bandung. Penelitian lain misal adalah makalah tesis dari Inu Kusuma Wardana dari ITC, Twente (2015) yang menggunakan data satelit untuk membandingkan suhu dan tutupan lahan di Kota Bandung sejak tahun 1994 hingga tahun 2014. Widya Ningrum dan Narulita (2018) menyatakan bahwa suhu rata-rata Kota Bandung meningkat sebesar 1,3 derajat Celcius antara tahun 2005-2016.

Dari sekian banyak penelitian ini, lantas apa yang berbeda dari makalah kami?

Kami mencoba cara baru mengolah data citra satelit. Biasanya untuk meneliti suhu permukaan, orang membandingkan citra satelit dari tahun-tahun tertentu. Misal satu gambar dari 2005, satu gambar dari 2010, kemudian satu gambar dari 2015, lalu dibuat perubahannya, kecenderungannya, dan lain sebagainya. Orang harus mengunduh citra satelit, kemudian menggunakan piranti lunak pengolah data citra satelit, seperti ArcGIS, Erdas, SNAP, QGIS, dll.

Cara ini tentu valid dan sudah mapan. Sudah sangat banyak penelitian suhu permukaan dilakukan dengan cara ini. Tapi cara ini punya kelemahan, yaitu tidak bisa menganalisis data yang sangat banyak, karena keterbatasan kemampuan komputer memproses data.

Apalagi di zaman sekarang, ketika data citra satelit semakin tinggi resolusi spasial dan resolusi temporalnya. Di zaman sekarang, di era Big Data yang semua serba cepat dan serba internet. Cara yang saya sebut di atas semakin tertinggal sehingga kita harus pindah ke cara baru, yaitu dengan memanfaatkan komputasi awan.

Apa itu komputasi awan?

Komputasi awan adalah sebuah teknik menggunakan jaringan internet untuk menyimpan, mengatur, dan memproses data, alih-alih menggunakan jaringan lokal atau komputer pribadi kita.

Di bidang inderaja, ada Google Earth Engine (GEE) yang memberikan layanan gratis pemanfaatan komputasi awan untuk mengolah data citra satelit. Komputasi awan ini sangat powerful. Komputer super google mampu mengolah data ratusan bahkan ribuan gigabyte dengan cepat. Kita hanya tinggal menulis naskah pemrograman yang berisikan perintah-perintah yang ingin dikerjakan, lalu komputer GEE akan melakukannya dan kita akan diberikan hasilnya.

Dengan menggunakan komputasi awan GEE, kami bisa menganalisis 125 citra satelit Landsat 8 di daerah Cekungan Bandung dari tahun 2013 hingga sekarang. Semuanya dilakukan dengan GEE.

Data dan Metodologi
Hebatnya GEE adalah berbasis kode. Para pengembang GEE atau mereka yang sudah mempublikasikan makalahnya tentang GEE, biasanya membagikan kode mereka. Karena kode ini dibagikan, orang bisa melihat dan mempelajari kode ini.

Kami mengadaptasi kode yang dikembangkan seorang peneliti dari Amerika bernama Anthony Cak. Ia melakukan penelitian Land Surface Temperature di Amazon. Kodenya ia bagikan di githubnya. Saya mengirim surel kepada Pak Cak ini untuk meminta izin menggunakan dan memodifikasi kodenya. Beliau mengizinkan.

Kode dari Cak, kami modifikasi dan kode ini bisa diakses pada tautan berikut. Di dalam kode ini terdapat banyak fungsi, misal fungsi menentukan area penelitian, fungsi menghitung nilai Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), fungsi memilih jenis satelit, interval penelitian, filter awan, dll. Kode ini juga kami terjemahkan sebisa mungkin agar bisa dipahami oleh semua orang. Data-data dan kode kami simpan di dalam repositori yang bisa diakses semua orang di tautan berikut: https://github.com/malikarrahiem/urbanheatislandbandung.git

Hasil dan Diskusi
Tak banyak hal baru yang kami temukan dalam penelitian ini. Hampir semua hasil merupakan hal yang lumrah dipahami semua orang. Suhu di Bandung lebih panas daripada daerah di sekitarnya. Suhu di kota lebih panas daripada suhu di hutan kota, dan suhu di hutan kota lebih panas daripada suhu di hutan.

peta persebaran suhu permukaan tanah Kota Bandung tahun 2013-2018

Hal baru yang kami tunjukan adalah bahwa hal ini bisa diperoleh dengan waktu waktu singkat saja. Sekali klik Ctrl+Enter menggunakan Google Earth Engine. Hebatnya lagi data ini dapat dengan mudah dimodifikasi dan jika Anda berminat, Anda bisa praktikkan di mana saja di seluruh dunia.

Prasyaratnya tentu adalah kemampuan memahami cara bahasa pemrograman Java bekerja. Tapi sebenarnya itu juga bukan hal yang sulit karena sudah begitu banyak tutorial dan panduan tersedia.

Dengan menggunakan GEE, kami bisa memangkas waktu sangat banyak, tanpa perlu komputer yang hebat atau kapasitas harddisk yang besar. Kami tidak perlu mengunduh apa pun. Kami hanya perlu akses internet agar bisa mengakses Google Earth Engine dan voilaa, skrip kami berjalan seperti sihir.

Hal lain yang kami temukan adalah bagaimana pentingnya replikabilitas dari suatu penelitian ilmiah. Kami belajar dan mengulik bagaimana naskah Java Anthony Cak bekerja, bagaimana teori yang melandasinya, dan kami bisa membuat makalah ini dengan begitu mudahnya. Dan Anda pun pasti bisa. Kami sadar pentingnya keterbukaan data dan pentingnya memberi kemudahan orang mengakses dan mereplikasi penelitian kita. Ini mempercepat perkembangan sains dan akan memberi keuntungan bagi semua orang.

Big Data Remote Sensing dan Sustainable Development Goal
Melalui penelitian ini, kami ingin menunjukkan bahwa komputasi awan bisa merevolusi teknik pengolahan data citra satelit. Kita tidak lagi terbelenggu oleh kapasitas komputer. Kita bisa mengolah data yang begitu besar, asal kita tahu data kita mau diapakan dan kita mampu menerjemahkan keinginan kita itu ke dalam bahasa yang dimengerti oleh GEE, yaitu bahasa pemrograman Java.

Kita bisa membuat satu naskah yang sama, tapi misal untuk seluruh Indonesia. Kita bisa membuatnya untuk menganalisis data dengan interval panjang bertahun-tahun. Batasan kita hanyalah imajinasi. Ketika kita mampu berimajinasi cara mengolah data, maka kita bisa melakukannya. Kita hanya perlu berkreasi dan berinovasi.

Dalam dunia yang penuh tantangan dan kewajiban kita untuk mewujudkan Tujuan Pembangungan Berkelanjutan 2030, kita harus memanfaatkan segala fasilitas yang ada. Kita harus memanfaatkan big data inderaja yang luar biasa besar. Tapi kita begitu terbatas dalam memanfaatkan big data jika kita masih menggunakan cara-cara lama yang konvensional.

Kita perlu cara-cara baru. Kita perlu teknik-teknik mutakhir, dan makalah kami ini bertujuan untuk menunjukkan itu.

Semoga bermanfaat.

Salam

Silakan mampir di repositori makalah ini di:

https://github.com/malikarrahiem/urbanheatislandbandung.git

Kisah Mueller di Gunung Lumbung

Ini adalah cerita tentang seorang naturalis Jerman yang ditugaskan untuk meneliti di Hindia Belanda pada abad ke-19. Penelitian sains di Hindia Belanda pada abad ke-19 bermula pada tahun 1815, ketika Napoleon yang kala itu menguasai hampir seluruh Benua Eropa, takluk pada pertempuran yang dikenal dengan Pertempuran Waterloo. Konon salah satu penyebabnya adalah keganjilan musim akibat letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara beberapa bulan sebelumnya.

Kekalahan Napoleon, diiringi dengan Perjanjian Wina, membuat Kerajaan Belanda kembali merdeka. Berdaulat atas tanahnya sendiri, dan kembali berkuasa di tanah jajahan mereka, nun jauh di Hindia sana.

Kerajaan Belanda yang bangkrut dan defisit membutuhkan terobosan untuk mencari pemasukan. Raja William I, berpikir keras bagaimana cara mengeksploitasi tanah jajahan mereka. Ia kemudian membentuk Komisi Ilmu Alam Hindia Belanda Natuurkundige Commissie voor Nederlands-Indië, sebuah komisi beranggotakan ilmuwan, pelukis, dan penulis yang akan melakukan ekspedisi sains untuk memahami tanah jajahan, Hindia Belanda. Teranglah bahwa tujuan utama investasi pada sains tak lain hanyalah untuk maksud mengeksploitasi.

Komisi itu berdiri pada 1820 hingga dibubarkan pada 1850. Terlepas dari tujuan pendiriannya, selama 30 tahun berdiri, komisi ini menyumbangkan koleksi spesimen yang luar biasa berharga dengan laporan-laporan berkualitas tinggi, yang masih bisa kita manfaatkan hingga sekarang.

Salomon Mueller

Salah satu anggota dari Komisi Ilmu Alam Hindia Belanda adalah seorang Jerman bernama Salomon Mueller. Ia bertugas di Hindia Belanda selama 10 tahun (1826-1836). Ia adalah salah satu yang beruntung dapat selamat kembali ke negerinya, karena banyak dari anggota Komisi yang wafat kala menjalankan tugas penelitian di rimba Hindia Belanda yang ganas, yang membunuh begitu banyak orang Eropa yang mengembara ke sana.

Mueller mungkin tak seterkenal anggota Komisi yang lain, seperti Franz Junghuhn, si Humboldt dari Jawa, atau Carl Anton Schwaner yang namanya diabadikan menjadi nama pegunungan yang menjadi batas antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Meski begitu, Mueller meninggalkan jejak penting yang menarik untuk dibahas. Terutama bagi mereka yang tinggal di Cekungan Bandung. Mueller pernah berekspedisi ke Cekungan Bandung pada tahun 1833 dan laporannya sangat menarik untuk diikuti.

Dalam laporannya, Aanteekeningen Gehouden op Eene Reize Over Een Gedelte van het Eiland Java, atau Laporan Perjalanan ke Sebagian Pulau Jawa yang ditulis oleh Mueller dengan rekannya Pieter van Oort, seorang pelukis, Mueller berkisah tentang perjalanannya di Cekungan Bandung pada awal tahun 1833.

Ia memulai ceritanya di Leuwigajah pada tanggal 3 Januari 1833 dan menutup ceritanya di Banjaran pada tanggal 6 Maret 1833. Selama dua bulan, Mueller dan van Oort berkelana mengarungi tempat-tempat menarik di Cekungan Bandung, mulai dari Situ Lembang, Curug Cimahi, Cililin, Gunung Lumbung, Ciwidey, Banjaran, dan banyak tempat lainnya.

Sebagai seorang pelukis, van Oort menyertakan lukisan dan sketsa otentik dan luar biasa dari Cekungan Bandung pada kala itu. Kawah Ratu, Curug Cimahi, Situ Lembang, hingga sketsa-sketsa peninggalan arkeologi yang ada di Cekungan Bandung, seperti arca yang ditemukan di Ciwidey, lingga dan pecahan gerabah yang ditemukan di Gunung Lumbung, hingga patung sapi yang ditemukan di tepi Ci Tarum.

Lukisan Curug Penganten di Cimahi oleh Pieter van Oort

Dalam tulisan ini, saya akan membagikan cerita Mueller dan van Oort di Gunung Lumbung. Cerita ini sangat menarik karena menyebutkan salah satu pahlawan penting dalam sejarah orang Sunda, yaitu Dipati Ukur, yang mati akibat diperangi oleh Sultan Agung, raja Mataram kala itu. Cerita ini diterjemahkan dari catatan van Oort dan Mueller sehingga penulisannya menggunakan sudut pandang orang pertama. Berikut kisahnya:

Cililin, 17 Januari 1833

Pagi hari sekali, ditemani oleh tetua kampung, kami meninggalkan Cililin untuk menelusuri jejak penemuan artefak yang dilaporkan oleh penduduk lokal. Kami diberitahu bahwa ada artefak di Gunung Lumbung. Selain itu juga dilaporkan bahwa di sini merupakan tempat persembunyian dari Dalem Dipati Ukur. Seorang bangsawan Sunda yang pernah berperang melawan Sultan Agung.

Pagi itu kembali berkabut. Kami berkuda menuju barat daya dari Gunung Geger Pulus, melewati dataran yang indah dan subur di antara aliran-aliran sungai yang berkelok-kelok melewati bentang alam yang indah, yang dihuni kelompok-kelompok kecil masyarakat lokal. Sekitar 1.5 mil dari Cililin, kami harus menyeberangi Sungai Ciminyak yang dalam karena jembatan kayunya hanyut terbawa banjir bandang.

Kabut perlahan menghilang ketika kami sampai di seberang sungai, dan lembah subur Ci Minyak terhampar di hadapan kami. Sungai yang jernih yang menerobos lembah yang lebar memberi efek mencolok pada warna hijau sawah dan warna cerah dari pohon-pohon palem yang tumbuh di lereng dan punggungan. Teramati gunung-gunung, Salak Panden (Salak Pandan), Poetrie (Putri), dan Moenkal-Pajong (kini dikenal sebagai Mukapayung, namun nampaknya ini kekeliruan penerjemahan karena banyak daerah di Jawa Barat yang dimulai dengan kata Mungkal, catatan dari Pak T. Bachtiar), sebagian tertutup awan dan kabut, menjadi latar indah pemandangan ini.

Kami melewati daerah yang cukup kering kemudian menyusuri lagi Ci Minyak hingga sampai di kampung Tegal Ladja[1], yang jaraknya sekitar satu mil dari Cililin. Di sini kami meninggalkan kuda kami, dan melanjutkan dengan berjalan kaki ke Gunung Lumbung.

Semakin ke dalam, pemandangan menjadi semakin monoton. Lahan yang subur digantikan dengan dataran yang ditumbuhi alang-alang yang tinggi. Jalur ini mengarah ke timur menuju lahan padi yang tidak digarap warga di sekitar Gunung Putri dan Gunung Mukapayung. Di kiri kami berdiri tinggi Gunung Salak Pandan. Di antara pepohonan, tebing-tebing terjal yang terbentuk dari batuan trakhit. Di lembahnya, yang ditanami padi, bebatuan raksasa bertebaran. Di kaki Gunung Mukapayung, kami melewati sungai kecil Tjiebieton (Ci Bitung), yang tepi sungainya terdiri dari lapisan-lapisan horizontal hasil pelapukan batulempung. Kami kemudian menuju ke arah timur, menanjak ekstrim melalui lembah yang sempit yang mengarah ke tenggara. Lembah ini dibatasi oleh Gunung Putri dan Gunung Mukapayung di sebelah selatan, dan Gunung Salak Pandan di sebelah utaranya. Lembah ini ditumbuhi oleh pohon pinus dan semakin ke timur oleh palem.

Pemandangan Gunung Salak Pandan (terpotong di ujung kiri), Lembah Cibitung (kiri), Gunung Putri (tengah), Lembah Ciririp (kanan), dan Gunung Hanyewong (ujung kanan) Foto oleh Deni Sugandi

Setelah melewati sungai yang bertingkat-tingkat, sekitar satu mil jaraknya dari Tegal Ladja, hutan mulai terbuka, dan kami tiba di cekungan yang cukup lebar, di mana pada beberapa ketinggian ada beberapa pondokan yang kami pakai untuk beristirahat. Cekungan ini disebut dengan Liembang yang berarti danau atau singgasana, dengan ketinggian sekitar 4000 kaki di atas permukaan laut. Menurut penduduk lokal, biasanya tergenang air, dikelilingi oleh pegunungan Salak Pandan, Gedogan, dan Lumbung. Sebagian dari dataran ini ditutupi oleh hutan, sementara sebagian yang lain ditutupi alang-alang.

Dasar lembah ditanami padi, dengan sepuluh atau dua belas gubuk sebagai bangunan membentuk Desa Lembang. Penghuni desa ini berasal dari Tegal Ladja, namun berpindah untuk mendapatkan lebih banyak lahan untuk menanam padi, gula, dan memelihara kerbau.

Di siang hari kami mendaki Gunung Lumbung dengan lerengnya yang terjal berpohon jarang. Ketika kami sampai di puncak, kami menemukan beberapa teras persegi yang ditumbuhi rerumputan dan semak menutupi tanah yang luas. Puncak bagian tenggara dan barat daya dari Gunung Lumbung juga ditutupi rumput dan semak seperti itu.

Petak-petak teras ini kemungkinan besar merupakan sisa pemukiman dari Pahlawan Sunda, Dipati Ukur. Tetua lokal yang menemani kami bercerita tentang Dipati Ukur. Katanya, dulu ia mendengar Bupati Bandung bercerita:

“Pada masa ketika Sultan Agung[1] mendeklarasikan perang terhadap Belanda di Pulau Kokos[2](Sunda Kelapa), ia mengirim orang-orang terbaiknya. Dipati Ukur adalah salah satunya dan Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur mengumpulkan pasukan Sunda dan pergi berperang. Dipati Ukur kemudian mengumpulkan pasukannya dan bersiap menyerang orang kulit putih di Pulau Kokos (Sunda Kelapa). Belum jauh pasukannya pergi berperang, ia diberitahu oleh anak buahnya bahwa anak buah Sultan telah masuk ke kamar istrinya, berbuat tidak senonoh, memperkosa wanita-wanita yang ditinggalkan di kota.

Dipati Ukur marah, menolak pergi berperang dan kembali ke tempatnya, menemukan anak buah Sultan di kamar istrinya. Dipati Ukur membunuh mereka semua. Sultan Agung yang tidak tahu cerita sesungguhnya murka mendengar Dipati Ukur mundur. Tidak mau tahu ia kemudian mengirimkan pasukan yang besar untuk memburu Dipati Ukur. Dipati Ukur kemudian mundur dan membangun pertahanan di Gunung Lumbung.

Pasukan Sultan Agung yang menyerang ke gunung ini disergap oleh pasukan Dipati Ukur dengan menggelindingkan batu-batu raksasa dari gunung, mengakibatkan pasukan Sultan berguguran. Sadar tak bisa menangkap Dipati Ukur dengan kekerasan, Sultan Agung memutuskan memakai jalan lain yang curang. Ia menyuap teman dan saudara Dipati Ukur agar bersedia mengkhianatinya, yang mana cara ini berhasil. Dipati Ukur ditangkap oleh pasukan Sultan dan dibawa ke Mataram. Sultan Agung mengikatnya telanjang di alun-alun dan memerintahkan setiap orang yang lewat untuk mengiris tubuhnya hingga Dipati Ukur tewas tinggal tersisa kerangkanya saja. Kemudian jenazahnya dibuang. Sultan Agung berkata, “Negara ini (negaranya Dipati Ukur) telah binasa. Gunung Lumbung telah dihancurkan. Lelakinya telah dibunuh. Anak-anak dan perempuan ditangkap dan dibawa ke timur.”


  • [1] Sulthan Agung, yang juga dikenal dengan nama Raden Rensang, memerintah kerajaan Mataram dari 1616 hingga 1648, orang kulit putih berarti orang Belanda di sini dan pulau Kokos berarti Batavia. Perang yang dimaksud di sini adalah pada 1628-1629. Dalem Dipati Ukur menguasai sebagian dari Kabupaten Bandung saat itu dan sangat penting untuk Sultan Agung.
  • [2] Perlu dicatat bahwa Pulau Jawa dikenal oleh orang-orang pelaut di Kepulauan India dengan nama Pulau Kalapa, dan dalam tradisi lama dengan nama itu beberapa kali terjadi.

Kini ketika kami tiba Gunung Lumbung, kami menemukan pecahan pot, porselen Cina, dan gentong-gentong yang telah hancur. Seorang janda tua, memberi kami koin perunggu dan mangkok batu yang ditemukannya ketika menyiapkan lahan sawah. Kami menerimanya dan menggantinya dengan uang. Kemudian pemandu kami mengajak kami ke puncak gunung dan kami terkejut karena menemukan arca batu yang sudah sangat tua, entah apakah bisa dibilang sebagai patung apabila melihat bentuknya yang tidak beraturan sekarang.

Arca ini berada di bawah pohon Hoeni (Antidesma bunius). Arca ini dikelilingi oleh belasan batu kali yang tertutupi oleh daun merah pohon Hanjuang (Dracaena terminalis). Bentuk arca ini tidak jelas karena sudah melapuk hebat akibat oksidasi dan tetes air.

Dari depan kami menduga bentuknya adalah kepala burung, seperti burung merak jelas terlihat. Bentuk lainnya kurang jelas, dugaan kami adalah mata ketiga yang terletak di dahi dan melambangkan Dewa Siwa, sang mentari. Tinggi patung ini 0.65 meter, lebar 0.4 meter, dan tebalnya 0.25 meter. Bagian depan mengarah ke barat laut.

Kemudian terdapat juga batu panjang tipis berwarna kemerahan yang kami duga sebagai Lingga. Letaknya di timur laut dari arca. Tingginya 1.2 meter, lebar 0.28 meter, dan tebal 0.2 meter. Kami menemukan batang-batang kayu dan colokan bambu yang terbakar, yang kami duga sebagai sesembahan masyarakat lokal yang ingin mencari wangsit.

Kami meyakini ini bukan peninggalan dari Dipati Ukur karena bagaimanapun Dipati Ukur merupakan pengikut ajaran Muhammad.  Islam sudah masuk dua abad sebelum zaman Dipati Ukur. Mungkin ini berasal dari masa awal Islam di sini. Seorang penganut Hindu menyembunyikan diri di gunung ini. Patung ini berdiri di bawah pohon tua yang tinggi dan dikelilingi oleh batu-batu yang dibuat melingkar.

Penduduk setempat menyebutnya Artja (Arca) dan jika mereka mengunjungi Arca tersebut, mereka menyalakan dupa kemudian memohon kehendak-kehendak yang mereka inginkan.

Dari sini (dari Puncak Gunung Lumbung) pemandangan sangatlah indah. Kami bisa melihat puncak tinggi Pegunungan Selatan dan ke arah barat kami bisa lihat dataran Rongga yang berhutan lebat. Kami membayangkan Dipati Ukur ketika penyerangan oleh pasukan Sultan Agung, kesedihannya karena kekalahannya di Gunung Lumbung. Beranjak ke sore hari, kami kembali ke Cililin.

Sumber:
Aanteekeningen Gehouden op Eene Reize Over Een Gedeelte van het Eiland Java
Over Eenige Oudheden van Java en Sumatra door Dr. Sal Muller

Bandung Hareudang – Penelitian Suhu Permukaan Kota Bandung

Bandung yang dingin adalah sebuah kefanaan. Dalam buku-buku nostalgia, banyak dikisahkan cerita tentang Bandung yang dingin, adem, dan nyaman ditinggali. Bahkan ada sebuah memoar terkenal karya Us Tiarsa berjudul Basa Bandung Halimunan, atau jika diterjemahkan berarti Ketika Bandung Berkabut, menunjukkan betapa Bandung sebagai kota yang dingin dan bahkan sering berkabut saking dinginnya.

“Bandung dingin adalah fana, hareudang-lah yang nyata”

Hal inilah yang mendorong saya melakukan penelitian kecil sederhana. Yang sudah banyak dilakukan orang sebelumnya. Hanya sedikit saya modifikasi. Agar ada perbedaan. Ada kebaruan. Saya mencoba memetakan suhu permukaan di Kota Bandung. Memberi bukti, bahwa hareudang itu nyata.

Syahdan NASA (LAPAN-nya Amerika Serikat) dan USGS (Badan Geologi-nya Amerika Serikat) mengirimkan satelit ke atmosfir. Nama misinya Landsat. Mulai dari Landsat 1 tahun 1972, hingga sekarang sudah Landsat 8 sejak 2013, dan nanti Landsat 9 mungkin tahun 2020.

Dari langit satelit ini merekam respon permukaan bumi terhadap radiasi cahaya matahari. Hutan punya respon tersendiri. Kota juga punya. Begitu juga air, sawah, dan berbagai macam bentang alam lainnya.

Setiap 16 hari sekali Landsat 8 ini mengelilingi bumi. Satu titik di gambar yang direkam satelit ini mewakili 0.1 – 1 hektar lahan. Salah satu data yang bisa direkam adalah suhu di permukaan. Yang saya pakai untuk penelitian saya ini.

Selain satelit Landsat, sebenarnya masih banyak lagi satelit lain yang merekam temperatur. Tapi tidak saya pakai. Mungkin nanti. Jika ada waktu dan kesempatan di lain hari.

Citra satelit ini saya saring berdasarkan tutupan awan. Kalau ada awan, tidak ada data suhu permukaan. Yang terekam angka negatif. Sangat dingin karena suhu awan.

Dari tahun 2013 hingga sekarang total ada 125 citra satelit yang berhasil dikumpulkan oleh piranti Google Earth Engine (GEE). Piranti super powerful yang menurut saya harus dikuasai oleh ahli kebumian seperti di tulisan saya yang lalu.

Dengan memodifikasi naskah-naskah pemrograman Java yang tersedia di forum-forum developer GEE, saya membuat peta persebaran suhu permukaan tanah di Cekungan Bandung dan membuat diagram seri waktu suhu di tengah kota, di Baksil, dan di Tahura.

Hasilnya mudah diduga, bahwa suhu di tengah kota lebih tinggi. Kemudian suhu di Baksil, dan paling adem adalah suhu di Tahura.

Peta suhu permukaan tanah rata-rata Cekungan Bandung. Suhu rata-rata 20-22 C.
Peta suhu permukaan tanah rata-rata Kota Bandung dan sekitarnya. Suhu rata-rata 25-26 C.

Fenomena kota yang lebih panas dari daerah di sekitarnya dikenal dengan nama Urban heat island. Ini terjadi di seluruh daerah urban di dunia. Seiring dengan ancaman perubahan iklim akibat ulah manusia, akan semakin sering terjadi suhu ekstrim. Artinya musim panas semakin panas, musim dingin semakin dingin.

Di Kota Bandung, suhu rata-ratanya antara 25-26 C, sementara di Cekungan Bandung suhu rata-ratanya antara 20-22 C. Di titik di kota, suhu rata-ratanya 27.94 C. Di Baksil suhu rata-ratanya 22.57 C. Sementara di Tahura suhu rata-ratanya adalah 19.33 C.

Menurut penelitian dari Widya Ningrum (2018), suhu rata-rata Kota Bandung bertambah 1.3 C antara tahun 2005 hingga tahun 2016.

Penting bagi para perencana kota untuk merespon fenomena Pulau Panas Perkotaan ini agar panasnya Kota Bandung tidak sampai taraf mematikan. Pernah dengar cerita para lansia yang meninggal dunia karena musim panas yang tidak mampu ditahannya? Cerita itu nyata dan terjadi di banyak tempat di bumi kita ini.

Ada banyak penelitian juga yang menunjukkan bahwa orang-orang yang taraf ekonominya kurang, umumnya hidup di wilayah yang lebih panas. Akibatnya mereka lebih rentan terkena dampak fenomena ini.

Data suhu yang saya sajikan di tulisan ini hanyalah data dari satelit. Tingkat akurasinya tidak meyakinkan. Perlu lebih banyak sensor suhu dipasang di darat. Merekam data harian. Agar kita tahu bagaimana kota kita hidup. Bagaimana kota kita ini berdenyut.

Konon saya dengar ada pemasangan sensor suhu di kelurahan-kelurahan di Kota Bandung. Wah ini sangat menarik kalau datanya bisa dielaborasi. Digabungkan dan dianalisis bersama-sama. Lalu kita bisa tahu di mana kekurangan data. Biar kita bisa semakin pahami kota yang kita cintai ini.

Karena aksi itu harus bisa diukur tingkat keberhasilannya. Misal kita menanam sejuta pohon. Apakah itu berhasil atau tidak? Mana kita tahu jika tidak ada pembandingnya. Hanya perasaan saja. Contoh yang paling nyata misal pembuatan sejuta lubang biopori. Apakah itu ada pengukuran dampaknya? Saya kira tidak ada. Maka ya itu seolah gerakan asal saja.

Penelitian Pulau Panas Perkotaan ini masih bisa berkembang jauh lagi. Kita bisa bandingkan setiap kelurahan dan kepadatan penduduknya. Kita bisa bandingkan tingkat pendapatan dan jenis kegiatan dominan yang ada di wilayah tersebut. Kita bisa hitung jumlah ruang terbuka hijau dan membandingkan suhu rata-rata di daerah yang banyak dan sedikit ruang terbuka hijaunya. Dan masih banyak lagi kemungkinan penelitian-penelitian lainnya. Yang seru. Yang membuka mata kita akan fakta-fakta tentang kota yang kita cinta.

Dan Bandung bagiku bukan hanya
masalah wilayah belaka
Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan
yang bersamaku ketika sunyi

Pidi Baiq

PS: oh iya penelitian ini sedang saya tulis makalahnya untuk dimasukkan ke http://sinasinderaja.lapan.go.id/, konferensi tahunan yang diselenggarakan LAPAN (NASA-nya Indonesia). Nanti kalau sudah selesai, saya akan bagikan tautan makalah dan juga kode programnya.

Sumber Air Minum Warga Kota Bandung

Minggu ini saya bermain-main dengan data dari http://data.bandung.go.id/dataset. Ternyata ada banyak data yang bisa dipakai untuk buat peta ala-ala.

Di peta ini digambarkan persentase sumber air minum warga Kota Bandung. Sumber air minum warga kota Bandung terdiri dari air kemasan/mineral, ledeng, pompa, sumur terlindung, sumur tak terlindung,, mata air terlindung, mata air tak terlindung, dan lain-lain. Bisa dilihat di gambar bahwa mayoritas warga Kota Bandung membeli air minumnya berupa air kemasan atau air galon.

Hampir di semua tempat, terutama di Bandung bagian selatan, orang-orang membeli air mineral/kemasan sebagai air minumnya. Hanya di beberapa tempat, terutama di Bandung Utara, warga bisa memakai sumber mata air, atau dari sumur.

Memang kita bisa mafhum, karena air kita memang tercemar. Sehingga untuk minum, memang paling aman pakai air galon.

Mungkin jika ada yang membuat penelitian tentang pengeluaran masyarakat untuk air, peta ini bisa disandingkan sehingga kita bisa bikin perbandingannya. Atau bisa juga kita tumpang tindihkan dengan peta kemiskinan dan pendapatan yang datanya juga tersedia di pusat data Kota Bandung.

Dari sini kita bisa ambil kesimpulan. Pantas saja bisnis air galon maju terus pantang mundur. Pasarnya gede betul, hampir 2.5 juta orang di masa depan akan pakai air galon untuk sumber minumnya. Akibatnya perusahaan air makin rajin beli kaveling di sumber-sumber air kita semua.

Mungkin teman-teman banyak yang tidak tahu bahwa PDAM adalah singkatan dari Perusahaan Daerah Air Minum. Sebenarnya mereka punya obligasi untuk menyediakan air minum bagi masyarakat Kota Bandung. Namun entah kenapa sampai kini mereka hanya sediakan air baku, itu pun jaringannya sangat terbatas, mati-nyala-mati-nyala bergiliran komplain di media masa.

Yang menarik sebenarnya, kita bisa pakai data ini sebagai titik awal Kota Bandung berbenah di bidang air. Kita bikin regulasi yang ketat untuk air galon, kualitas tinggi harga murah. PDAM yang menyediakannya.

Jangan seperti sekarang, harga air galon mahal. Misal merk Aqua yang keluarga saya biasa beli 19 ribu satu galon (19 liter, 1000/liter). Sementara di Jerman, di tempat saya tinggal sekarang, air keran yang bisa diminum itu harganya 2 euro per m3, atau 32 ribu per 1000 liter, atau 32 rupiah per liter. Kualitasnya jangan tanya, standarnya ketat, monitoringnya rutin nyaris tanpa cela.

Kalau kita bikin air galon harga 19 liter atau 1 galon = 600 rupiah, kira-kira orang masih mau kah beli Aqua 19 ribu atau VIT 9 ribu rupiah di Alfa? Kalau kita bisa bikin prosesnya bagus, tentu bisa kita kejar harganya segitu.

Jangan lah masyarakat itu dipaksa menyediakan sendiri air minumnya. Jangan kebutuhan penting kaya begitu diserahkan ke mekanisme pasar. Jangan kita dipaksa membeli yang mahal karena ketidakmampuan kita untuk percaya pada pemerintah mampu menyediakan hal yang lebih murah dan terjangkau.

Data ini ke depannya ingin saya tumpang tindihkan dengan data jaringan distribusi PDAM dan sumur-sumur milik warga. Selain itu saya juga sedang mencari data titik-titik sumur pantau di Kota Bandung. Biar bisa membuat peta kedalaman air tanah di Kota Bandung. Barangkali ada yang tahu di mana saya bisa cari datanya, bisa berbagi dengan saya.

Kira-kira bisa berkembang ke mana saja kah data ini, terutama jika dikaitkan dengan kondisi hidrogeologi Kota Bandung?

Cekungan Bandung ala Lord of the Rings

Semester ini di TU Darmstadt saya dapat akses ke ArcGIS Pro. Wah ini piranti lunak yang sudah lama ingin saya coba, terutama sejak saya lihat artikel keren, judulnya Mapping with Style yang ditulis oleh John Nelson dari ESRI.

Di artikel ini, John Nelson memamerkan peta dunia yang digambarnya pakai gaya Lord of the Rings. Saya jadi kepengen dong!

Nah karena itu, saya kemudian ngulik dan sekarang berhasil membuat peta Cekungan Bandung bergaya Lord of the Rings. Cara buatnya saya ikutin artikelnya John Nelson, bisa dibaca sendiri.

Saya sedang gandrung dengan kartografi dan mungkin akan mencoba mengasah kemampuan saya di bidang ini agar bisa menghasilkan peta yang enak dilihat dan mudah dimengerti. Harapan saya agar bisa membuat peta yang tak lekang dimakan waktu, seperti peta-peta karya Junghuhn, atau peta zaman dulu, yang entah kenapa sangat informatif dan enak dibaca, padahal bikinnya manual dilukis tangan.

Mohon jika ingin menggunakan peta ini agar mencantumkan tauntan langsung ke blog saya.

Orang Pertama yang Melaporkan Kawah Patuha (?)

Waktu saya kecil dulu, dalam perjalanan kami ke Cimanggu untuk berendam air panas, ayah saya sering bercerita tentang orang pertama yang menemukan Kawah Putih. Ia adalah orang Eropa. Konon kata ayah, orang itu merasa penasaran kala melihat dari kejauhan, tepatnya dari Kota Ciwidey sekarang, bahwa burung-burung tak pernah terbang di atas Gunung Patuha. Ada pun jika burung terbang di atas Patuha, maka segera ia akan mati, menukik jatuh, seolah pesawat yang rusak mesinnya. Di Ciwidey kala itu, masyarakat mencoba menerangkan fenomena ini dari kacamata mistis, tentang makhluk-makhluk penunggu gunung yang enggan diganggu, bahkan oleh burung sekali pun.

Sebagai seorang Eropa yang menolak perkara mistis, tentu si petualang itu menolak percaya mitos. Ia ingin membuktikan sendiri dan merancang sebuah ekspedisi mendaki Gunung Patuha. Ratusan kuli dikerahkannya untuk menemani perjalanannya mendaki. Orang Eropa itu bernama Franz Junghuhn, si Humboldt dari Jawa, yang masyhur karena penelitiannya pada abad ke 19, membuka tabir Pulau Jawa dari kacamata sains modern.

Cerita ini diteruskan turun temurun dari mulut ke mulut. Tak bisa kita telusuri siapa orang pertama yang menceritakannya, siapa yang pertama bilang Junghuhn adalah orangnya yang pertama ke sana, atau pertama kali melaporkan keberadaan Kawah Putih yang megah. Karena ayah saya juga mendapat cerita ini dari entah siapa, maka ia pun tidak bisa mempertanggungjawabkan cerita ini. Tidak ada sumber yang pasti, selalu desas-desus, selalu konon, selalu kabar angin. Hingga suatu hari saya menemukan nama dan tanggal yang lebih pasti.

Yang sudah bisa saya pastikan adalah bahwa bukan Franz Junghuhn orang pertama yang datang ke Kawah Putih. Franz Junghuhn datang ke Kawah Putih dalam perjalanan penelitiannya di Pulau Jawa pada 1837. Junghuhn kala itu bekerja di bawah supervisi dari peneliti Jerman bernama Ernst Albert Fritze yang merupakan Kepala Dinas Kesehatan Hindia Belanda kala itu.

Pada tanggal 11 Juli – 23 Agustus 1837, Junghuhn bersama Fritze berkelana di rimba hutan Jawa Barat. Ia mendatangi Situ Patengan, Gunung Patuha, Gunung Tangkuban Perahu, Guntur, Papandayan, Galunggung, dan Ciremai. Catatan perjalanan Junghuhn di Pulau Jawa dibukukannya dalam Topographische und naturwissenschaftliche Reise durch Java yang diterbitkan pada tahun 1838.

Dalam magnum opusnya: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart  volume kedua yang diterbitkan pada tahun 1857 di Leipzig, Junghuhn menuliskan orang-orang yang lebih dahulu melaporkan tentang Kawah Gunung Patuha.

Pada tahun 1787, seorang ahli Botani dari Spanyol bernama Francisco Noronha mengunjungi Kawah Putih. Noronha terkenal memberikan jasa yang luar biasa besar bagi pembuatan katalog tanaman di Jawa. Kemudian pada tahun 1804, seorang naturalis dari Amerika Dr. Thomas Horsfield juga mengunjungi Kawah Putih.

Setelah Horsfield, pada tahun 1819 giliran Professor Caspar Georg Carl Reinwardt, seorang naturalis kelahiran Prusia berkebangsaan Belanda yang mengunjungi Kawah Putih. Menurut Junghuhn, Reinwardt melaporkan ketinggian Kawah Putih pada 6950 kaki, sementara menurut pengukuran Junghuhn, ketinggian Kawah Putih berada pada elevasi 6685 kaki. Reinwardt adalah salah satu perintis Kebun Raya Bogor. Reinwardt memberikan apresiasi untuk Noronha dengan memberi nama satu spesies tanaman, yaitu Pohon Puspa Schima noronhae.

Empat tahun sebelum ekspedisi Junghuhn, pada tahun 1833, dua orang peneliti dari Natuurkundige Commissie voor Nederlands-Indië, Salomon Müller dan Pieter van Oort juga melakukan kunjungan ke Kawah Putih. Müller adalah seorang naturalis dari Jerman, sementara van Oort adalah seorang pelukis dari Belanda. Mereka melakukan perjalanan ke Jawa Barat dan melaporkan perjalanannya pada komite. Perjalanan dimulai pada awal Januari 1833 dari Situ Lembang menyusuri Ci Mahi hingga ke Cililin, kemudian ke Gunung Lumbung untuk melihat peninggalan Dipati Ukur, selanjutnya mereka menyusuri Pegunungan Tumpak Royong, yang kini dikenal sebagai Gunung Padang Ciwidey hingga akhirnya sampai di Ciwidey yang kala itu termasuk dalam Distrik Cisondari. Perjalanan berakhir di Banjaran pada 10 Maret 1833.

Lukisan Kawah Putih oleh Pieter van Oort. Sumber 

Di Ciwidey, Müller dan van Oort menyusuri kebun kopi yang subur yang merupakan produk dari periode Tanam Paksa yang di kawasan Priangan telah dilaksanakan sejak abad ke-18 (Preangersteelsel), dan dilanjutkan kembali sejak 1830 melalui Cultuurnstelsel. Mereka akhirnya sampai di Kawah Gunung Patuha dan melihat pemandangan indah Kawah Putih. Van Oort membuat sketsa yang indah dari kawah ini.

Kini hampir dua ratus tahun atau lebih sejak Reinwardt berkunjung ke Kawah Putih. Hampir 250 tahun sejak Noronha menjejakkan kaki di sana. Tempat ini kini ramai hiruk pikuk tak karuan. Orang-orang datang tanpa henti, tapi banyak yang kembali tanpa membawa apa-apa selain rasa senang sudah bepergian, atau stroberi yang ditanam warga di lereng-lereng Ci Sondari. Memang bukan urusan hidup dan mati siapa yang pertama datang, atau siapa pernah melakukan apa. Juga bukan suatu keharusan orang harus tahu tentang Junghuhn, Mueller, van Oort, Reinwardt, dan seterusnya. Tapi seperti Soekarno selalu bilang, “jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah“. Atau seperti kata Kuntowijoyo “Dengan sejarah, kita belajar jatuh cinta.” 

Dan memang setelah kita mengetahui sejarah panjang Kawah Patuha, semakin pula kita mencintainya.

Lukisan Kawah Putih Gunung Patuha oleh Franz Junghuhn. Sumber https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Junghuhn_See_Kawah_Patua_auf_Java.jpg

catatan: Sejauh ini saya belum dapat catatan orang yang lebih dulu melaporkan Kawah Patuha sebelum Noronha. Boleh jadi ada yang lebih dulu. Mohon infonya bila ada di antara pembaca yang budiman mengetahui. Karena saya bukan ahli sejarah, hanya orang yang menggemari sejarah.

Curug Lanang, Air Terjun yang Hilang di Ci Tarum

Dulu, di aliran Ci Tarum di sekitar Leuwigajah, di tempat sekarang Curug Jompong berada, tidak hanya ada satu air terjun saja. Di sana terdapat deretan air terjun, ada dua air terjun lainnya ke hilir dari Curug Jompong. Dua air terjun itu kini tidak ada lagi, karena sejak 1985 ikut tenggelam dalam genangan Waduk Saguling setelah struktur bendungan dibangun antara Pasir Saguling dan Gunung Pancalikan, membendung Ci Tarum pada elevasi 650 meter di atas permukaan laut.

Keberadaan deretan air terjun di Bandung ini telah dilaporkan sejak lama. Tercatat Junghuhn yang pertama melaporkannya pada 1854. Junghuhn dalam bukunya Java, Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi En Inwendige Bouw volume ke 4 yang diterbitkan tahun 1854 (hal. 384), melaporkan penemuan bebatuan Diorit di sekitar Curug Jompong. Ia juga melaporkan deretan air terjun setelah Curug Jompong. Curug Jompong adalah air terjun yang pertama, kemudian Curug Lanang, dan ketiga adalah Curug Kapek.

Pada tahun 1857, Ferdinand Hochstetter dan timnya dalam ekspedisi Novara, menapaktilasi jejak Junghuhn dan melaporkan hasil ekspedisinya dalam buku “Narrative of the Circumnavigation of the Globe by the Austrian Frigate Novara“. Dipimpin oleh Komodor B. von Wullerstrof-Urbair dan ditulis oleh Dr. Karl Scherzer, laporan mengenai tiga air terjun di sekitar Lagadar dilaporkan dalam buku volume kedua yang diterbitkan di London tahun 1862. Tapi catatan lengkap mengenai perjalanan ke Jawa ditulis langsung oleh Ferdinand Hochstetter dalam Geologische Ausflüge auf Java.

Laporan ini merupakan yang paling lengkap dan terperinci mengenai tiga air terjun di Lagadar. Dalam laporannya ini Hochstetter menuliskan pengalamannya berkunjung ke daerah ini.

” Curug Jompong adalah air terjun pertama di Ci Tarum. Lokasinya merupakan gerbang di mana Ci Tarum berpindah dari dataran Bandung menerobos perbukitan yang jika dilihat dari selatan (Gunung Tilu dan Gunung Patuha), perbukitan ini seolah membentuk koridor memanjang ke arah utara menuju dataran tinggi Bandung. 

Erosinya cukup dalam di sini, hingga 100 kaki. Sebatang pohon kiara berdiri tegak di dasar sungai yang berdebur kencang, menjadi pemandangan indah yang natural dengan bebatuan yang ditumbuhi lumut. Aliran air menerjang di lembah dengan lebar sekitar 100 kaki, menderu menurun karena ada dua tingkatan, kemudian bersamaan jatuh setinggi 30 kaki. Sedikit jauh ke hilir kita bisa amati turunan ketiga. 

Di tengah-tengah air yang berbusa, tampak batuan tertutup semak dan batuan besar yang seolah membentuk pulau kecil dengan pohon tumbuh dari retakannya. Dinding batuan di sebelah kiri sungai menunjukkan karakter felspatik, teramati juga hornblende dan massa trakitik yang mengandung kuarsa, dengan tekstur porfiritik dan berwarna terang. 

Batuan ini mirip dengan batuan Vorospatak di Transylvania yang diteliti oleh Dr. Strassen yang mendeskripsi batuan ini sebagai Dasit. Sayang sekali saya tidak bisa mendapat spesimen yang segar dari tempat ini. 

Sekitar setengah mil ke hilir dari Curug Jompong, Ci Tarum yang menoreh bukit-bukit trakitik, seperti Bukit Korehkotok di kiri sungai, dan kerucut Gunung Selacau yang mencolok di kanan sungai, kembali terdisrupsi.  

Di sinilah air terjun kedua, yaitu Curug Lanang berada. Erosi sungai semakin dalam di sini. Tepi sungai terjal dan berbatu, sehingga untuk turun ke sungai hanya mungkin dengan bantuan tangga bambu. Curug Lanang ini lebih berupa jeram daripada air terjun. Batuannya sangat resisten dengan mineral berwarna abu kehijauan tanpa hornblende. Dinding vertikal di kiri sungai menunjukkan seri lapisan sedimen yang menarik, yaitu:

–6 kaki lempung
–8 kaki kerakal
–12 kaki batupasir coklat dengan selingan lempung
–10 kaki kerikil
–dan 20 kaki lapisan tipis batupasir kecoklatan.

Lapisan-lapisan sedimen ini berlapis datar tanpa disrupsi di atas masa batuan yang menjadi dasar sungai. Lapisan ini merupakan endapan danau yang menjadi dasar dari Dataran Tinggi Bandung. 

Kami beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan ke Curug Kapek, yaitu air terjun ketiga. Air terjun ini tidak jauh dari Curug Lanang, tapi karena tidak ada akses kami harus jalan memutar. Curug Kapek juga lebih tepat disebut sebagai jeram daripada air terjun. Sungai di segmen ini hanya selebar 24 kaki, dan air terjun jatuh dari ketinggian 6 kaki dari lapisan batupasir yang merupakan lapisan paling bawah dari profil yang saya sebutkan di atas. Pasir dalam profil ini merupakan endapan volkanik berukuran pasir halus. 

Setelah mengamati sendiri, saya merasa cukup yakin tentang pendapat Junghuhn mengenai material yang dianggap sebagai lapisan danau di Dataran Bandung ini berasal dari endapan gunung api. Juga bahwa dataran tinggi ini, seperti juga daerah lain di tengah-tengah Pulau Jawa, ditimbun oleh endapan volkanik, lava, material rombakan, debu, dan pasir. Sementara endapan yang lebih tua mungkin endapan aluvial. Kami bisa membayangkan asal muasal dari material-material ini dengan menganalogikan dengan letusan gunung yang terjadi belakangan ini di Jawa, misal letusan Gunung Galunggung tahun 1822 yang aliran lumpurnya mengakibatkan areal yang berada pada jarak tertentu dari pusat erupsi ini tertimbun hingga 50 kaki dalamnya.”

Kemudian pada tahun 1930, Profesor geologi Th. Klompe dalam buku buku Bandoeng en haar Hoogvlakte (Bandung dan Dataran Tingginya), yang diterbitkan oleh Penerbit Visser & Co. cabang Bandung pada tahun 1930, menulis:

“…Tji Tarum menerobos batuan vulkanik yang membentuk lembah terjal seperti ngarai. Segmen ini terbagi menjadi tiga tingkat jeram. Tingkatan yang pertama disebut Tjoeroeg Djompong, di mana air sungai jatuh di sekitar air terjun setinggi kurang lebih 15 meter. Sungai kemudian mengalir melalui ngarai yang terbentuk di antara dinding curam dan memiliki kedalaman 100 hingga 150 meter hingga jeram kedua yang terbentuk dari batuan vulkanik yang sama di tempat Tji Mahi bermuara ke Tji Tarum. Tji Tarum berbelok agak ke barat daya sehingga tidak memungkinkan untuk melihat ke arah timur. “

Profesor Klompe tidak menyebutkan secara gamblang nama air terjun setelah Curug Jompong. Ia hanya menyebutkan bahwa terdapat tiga tingkatan jeram di daerah ini. Boleh jadi ini merujuk pada Curug Lanang dan Curug Kapek seperti yang telah dilaporkan oleh Hochstetter dan Junghuhn.

Setelah mencari-cari cukup lama, akhirnya saya dapat foto air terjun yang saya duga adalah Curug Lanang. Foto-foto ini merupakan koleksi digital dari Universitas Leiden. Kira-kira diambil tahun 1910. Keterangan dalam foto ini hanya menyebut jeram di Ci Tarum tempat bermuaranya Ci Kuya.

Perhatikan batu di gambar 1, merupakan batu yang sama dengan gambar 2. Sementara gambar 3 kemungkinan adalah foto dari jarak jauh.

Yang menarik di dalam Peta Geologi Lembar Bandung yang dibuat oleh van Bemmelen dan Szemian tahun 1934, terdapat toponimi Kapek di sebelah utara Curug Jompong. daerah ini berada di sekitar Ci Kuya yang kemudian bermuara ke Ci Tarum. Meski demikian kemungkinan besar di muara Ci Kuya ini justru merupakan letak dari Curug Lanang, karena deskripsi geografisnya lebih cocok, yaitu di antara Pasir Korehkotok di kiri sungai dan Gunung Selacau di kanan sungai (kiri kanan sungai dilihat dari arah sungai mengalir). Sementara dalam tulisan Klompe, ia menyatakan bahwa Ci Lanang berada di muara sungai pertama setelah Curug Jompong.  Dalam peta geologi van Bemmelen dan Szemian ini, Curug Jompong ditandai dengan kata Stroomversnelling yang artinya jeram.

Peta Geologi Lembar Bandung van Bemmelen 1934

Kemungkinan lokasi Curug Lanang. Paling besar kemungkinannya adalah lokasi di hilir.

Tentu Curug Lanang tak bisa kita lihat lagi keberadaannya. Namun bukan berarti kita lupakan saja dan lanjutkan hidup seperti biasa. Justru kita harus menggali apa yang mungkin bisa kita manfaatkan untuk masa depan. (Menggali di sini bukan berarti menambang yaa).

Membuka ulang catatan-catatan lama bukan berarti bernostalgia dengan masa lalu dan menganggap masa lalu lebih baik dari masa sekarang. Ini hanyalah upaya untuk merefleksi diri, melihat kembali apa yang pernah kita punya agar kita bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan ke depannya. Mempelajari sejarah adalah mempelajari kebijaksanaan lampau untuk kita manfaatkan dalam kehidupan kita sehari-hari sekarang. Paling sederhana bisa jadi menghidupkan kembali jalur berwisata di sekitar Curug Jompong. Mengajak orang-orang kembali ke masa lalu untuk bisa memperbaiki Ci Tarum yang rusak berat saat ini.

Dalam catatan-catatan panduan perjalanan berwisata di Bandung, sering sekali disebut bahwa daerah perbukitan intrusi yang diterobos Ci Tarum ini memiliki bentang alam paling indah di Pulau Jawa. Mungkin kita bisa mengembalikan daerah ini seperti dulu, kembali pada habitatnya sebagai tempat yang indah, tempat yang dikunjungi dan dibanggakan, bukan tempat yang dibelakangi dan ditinggalkan.

Semoga bermanfaat.

Ci Tarum Tercemar Amat Sangat Super Luar Biasa Berat!

Hari ini saya belajar mengenai status mutu air berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 tahun 2003 Tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Dalam pedoman ini, metoda yang digunakan untuk menentukan status mutu air adalah metoda STORET. Metoda ini secara prinsip membandingkan antara data kualitas air dengan baku mutu air yang disesuaikan dengan peruntukannya guna menentukan status mutu air.

Untuk mengklasifikasikan status mutu air, digunakan sistem nilai dari US-EPA, yang mengklasifikasikan mutu air dalam empat kelas, yaitu
(1) Kelas A : baik sekali, skor = 0  memenuhi baku mutu
(2) Kelas B : baik, skor = -1 s/d -10  cemar ringan
(3) Kelas C : sedang, skor = -11 s/d -30  cemar sedang
(4) Kelas D : buruk, skor lebih kecil dari -31  cemar berat

Angka di atas kurang lebih berarti seperti ini: setiap ada satu parameter yang lebih besar dari batas ambang minimal, maka akan dapat skor minus. Parameter yang diukur seperti parameter fisika (TDS, suhu, DHL), kimia (kandungan zat-zat kimia), dan biologi (e-coli). Semakin rendah nilainya (semakin minus), maka semakin buruk skornya.

Nah kemudian saya mencoba membaca hasil analisis kualitas air Ci Tarum di Nanjung, dekat Jembatan Ci Tarum di Leuwigajah, yang dilaporkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat. Pengukurannya sendiri dilakukan pada bulan April, Mei, Juli, September, dan Oktober 2013. Hasilnya adalah skor Storet Ci Tarum di Nanjung -176! (cek tabelnya di: NANJUNG)

Skor -176 ini selisihnya lebih dari 140 dari batas minimal kelas D yang artinya tercemar berat. Mungkin kita bisa menambah beberapa kelas lagi sampai kelas Z untuk menunjukkan bahwa Ci Tarum ini tingkat ketercemarannya sangat luar biasa buruk.

Lebih lima tahun lalu saat kampanye mantan Gubernur Ahmad Heryawan, beliau menjanjikan pada 2018 air Ci Tarum bisa diminum. Janji ini tentu hanya sekedar janji politik yang omong kosong. Kenapa begitu? Karena lihat saja tahun 2013 saat janji itu diungkapkan, angkanya -176, mungkin di stasiun pengukuran lain sama juga, sementara untuk bisa diminum, yaitu memenuhi baku mutu maka nilainya itu 0. Ada puluhan parameter yang harus diperbaiki, sementara aksinya tidak terasa kalau tidak boleh bilang tidak ada.

Kini tahun 2018, Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat belum menyediakan lagi data kualitas air Ci Tarum di laman situsnya. Konon klaimnya, meski kualitas air tetap buruk, tapi angkanya membaik.

Karena di rezim jaman sekarang itu tidak boleh asal kritik dan harus memberi solusi, maka saya ingin mencoba memberi solusi.

Solusi dari saya adalah keterbukaan data agar masyarakat bisa melihat sendiri perbaikan yang terjadi di Ci Tarum. Buka akses selebar-lebarnya terhadap semua pengukuran dan monitoring di Ci Tarum. Buka data analisis kualitas air, dan tunjukkan grafiknya bahwa perubahan terjadi menuju arah yang lebih baik. Biar kita bisa mengukur sendiri, biar kita bisa tahu sejauh mana dampak upaya kita untuk melindungi Ci Tarum.

Saat ini data yang tersedia hanya data tahun 2013. Sementara itu untuk mengakses data-data terbaru harus mengajukkan permohonan yang tentu memakan waktu dan terutama karena kita paham ruwetnya birokrasi. Dengan terbukanya akses data, maka partisipasi warga akan lebih mudah. Toh data milik warga juga, tidak perlu disembunyi-sembunyikan. Kecuali memang ada yang ingin disembunyikan.

Solusi saya yang kedua sifatnya lebih lokal. Salah satu simpul Ci Tarum adalah Curug Jompong. Dalam tulisan saya yang lalu, saya menulis tentang Curug Jompong yang telah dikenal sejak lama dan telah menjadi tempat bergeowisata sekurang-kurangnya sejak 1918. Dengan menghidupkan kembali Curug Jompong sebagai tujuan berwisata (meskipun masih kotor, jorok, dan berbau tak sedap) kita mengundang masyarakat untuk menjadi pengawas Ci Tarum. Ini untuk membuka pikiran masyarakat bahwa Ci Tarum adalah beranda rumah kita, yang harus kita jaga dan pelihara. Juga untuk mengingatkan semua orang bahwa Ci Tarum pernah begitu berjaya dengan Curug Jompongnya, menjadi objek wisata kebanggaan warga Bandung sejak 100 tahun yang lalu.

Semoga saya bisa menjadi bagian dari solusi, bukan hanya yang berucap tanpa berbuat.

Sanghyang Tikoro Tempo Dulu dalam Foto dan Sketsa

Berikut beberapa gambar Sanghyang Tikoro tempo dulu dalam foto dan sketsa. Gambar didapat dari berbagai sumber.

Sanghyang Tikoro dalam buku Bandoeng en haar Hoogvlakte (1930)

 

Sanghyang Tikoro dalam Collection of the Natural Sciences Commission for the Dutch East Indies (1839-1844)

 

Sketsa Sanghyang Tikoro oleh Junghuhn dalam buku Java: Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi en Inwendige Bouw (1854)

 

Sketsa Sanghyang Tikoro oleh Junghuhn dalam buku Java: Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi en Inwendige Bouw (1854)

Sketsa arah aliran Ci Tarum di Sanghyang Tikoro oleh Antoine Aauguste Joseph Payen (1792 – 1853). Koleksi Tropenmuseum

 

Lukisan Sanghyang Tikoro oleh Antoine Aauguste Joseph Payen (1792 – 1853) tahun 1827

Lukisan Sanghyang Tikoro dari hilir oleh Antoine Aauguste Joseph Payen (1792 – 1853) tahun 1827

Catatan Ekspedisi Novara 1857-1859: Menyusuri Ci Tarum dari Curug Jompong Hingga ke Sanghyang Tikoro

Pada tahun 1857, angkatan laut Kerajaan Austria meluncurkan ekspedisi saintifik skala besar menjelajahi dunia dengan nama Ekspedisi Novara (1857-1859). Penelitian ini berlangsung selama 2 tahun 3 bulan, dari 30 April 1857 hingga 30 Agustus 1859. Penjelajahan ini dilakukan dengan kapal Novara di bawah komando Komodor Bernhard von Wüllerstorf-Urbair dengan 345 kru dan 7 orang saintis. Persiapan ekspedisi riset ini dilakukan oleh “Imperial Academy of Sciences in Vienna” oleh para peneliti terkemuka di bawah arahan geolog Ferdinand von Hochstetter dan zoolog Georg von Frauenfeld.

Ferdinand von Hochstetter dan laporannya

Kisah perjalanan ini dilaporkan dalam laporan “Reise der österreichischen Fregatte Novara um die Erde in den Jahren 1857, 1858, 1859 unter den befehlen des Commodore B. von Wüllerstorf-Urbair” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “Narrative of the circumnavigation of the globe by the Austrian frigate Novara (Commodore B. von Wüllerstorf-Urbair)”, atau kalau dalam bahasa Indonesia menjadi Kisah Naratif Perjalanan Mengarungi Bumi dengan Kapal Penjelajah Novara.

Yang menarik dari ekspedisi ini adalah perjalanannya melewati Indonesia, dan Bandung pada 1857. Hochstetter, sebagai geolog dalam tim riset ini melaporkan perjalanan mereka berkunjung ke Bandung menelusuri Ci Tarum melewati Curug Jompong, kemudian melewati Ci Lanang hingga sampai di Gunung Guha dan Sanghyang Tikoro. Catatan yang lengkapnya dalam bahasa Jerman saya coba alih bahasakan dengan bantuan Google Translate.

Bagaimana ceritanya? Silakan ikuti berikut ini:

“Pada 19 Mei kami mengarahkan tujuan kami ke timur ke Bandung untuk mengunjungi Tji Tarum (baca: Ci Tarum) . Keinginan kami adalah mengeksplorasi bentang alam indah yang dihasilkan dari interaksi sungai dan batuan dasarnya, terutama ketika Ci Tarum menerobos bebatuan hijau dan batuan porfiritik membentuk deretan air terjun, Tjuruk Kapek (entah padanannya sekarang apa), Tjuruk-Lanong (baca: Curug Lanang, sudah tidak ada sejak digenang Saguling), dan Tjuruk Djombong (baca: Curug Jompong). Dari sana kami berkuda menerobos perbukitan porfiritik menuju kerucut bebatuan Batu Susun, di tepi Gunung Bulut (Gunung Buleud?) yang terbentuk dari kolom batuan beku porfiritik.

Batu Susun Gunung Bulut. Sumber: Hochstetter

Gunung Buleud masa kini. Foto dari Instagram Desa Situwangi

Pada sore hari yang sama, kami mencapai Tjililui (baca: Cililin), ibu kota dari kabupaten Rongga, karena kekayaan bebatuannya. Yang sangat mengejutkan adalah ramahnya sambutan dari masyarakat ketika kami sampai di sana. Makanan penuh di Pesanggrahan, bahkan Wedana Cililin juga menyediakan spesimen geologi yang ia kumpul dan siapkan, kemudian berikan pada kami. Nama orang sunda yang bersemangat ini adalah Mas Djaja Bradja, Wedana Cililin.

Pada tanggal 20 Mei kami mengecek tempat di mana spesimen itu ditemukan. Di tengah hari kami menemukan tempat pembakaran kapur, Liotji Tjangkang (Lio Ci Cangkang? Ci Cangkang adalah daerah di dekat Gunung Halu), di mana koral yang telah membatu berlimpah dan dapat diamati dari kejauhan. Karenanya kami mengarahkan kompas kami ke barat laut, masuk semakin dalam ke pegunungan, di sekitaran Gonnong Gatu (Gunung Batu?). Daerah ini terkenal karena banyaknya harimau, juga karena tebalnya alang-alang. Kami menyusuri Tji Lanang (Ci Lanang) dan cabang-cabang sungainya. Pertama kami harus turun jauh menuju pertemuan Tji Burial (Ci Burial) dan Tji Tangkil (Ci Tangkil), di mana di sana ada korok trakhit. Kami mengidentifikasi fosil kerang conchylia di antara puing-puing bebatuan yang terlepas dari dinding sungai. Batuan dasarnya adalah lumpur tufan.

Kami berkuda dengan kecepatan penuh melewati gunung yang tidak banyak penduduknya. Ini karena kami harus menghindari hujan badai karena petir dan kilat sudah menyambar-nyambar. Kami beruntung tiba tepat waktu di desa kecil di kaki gunung, yaitu Desa Gunung-Alu (baca: Gunung Halu), di tepi Tji Dadass (baca: Ci Cadas), di kaki pegunungan yang menjadi batas air antara pegunungan utara dan selatan Jawa.

Pada tanggal 21 Mei, kami pergi ke Lembah Tji Lanang yang membentang di lereng terjal Gunung Sela yang terbentuk dari batupasir yang miring terjal. Lokasi ini adalah di mana petrifaksi melimpah dan di mana sisa-sisa fosil bisa diamati pada posisi fosil itu terendapkan di antara lapisan lumpur dan batupasirnya. Satu spesies fosil resin sering juga ditemukan di sini, berdampingan dengan fosil-fosil indah lainnya. Dari titik ini kami mengikuti lembah Tji-Lanang ke arah utara, dan di ujung lembah ini kami berbelok ke jalan yang jarang dilalui menuju lembah Tji-Tjamotha (baca: Ci Camota?), yaitu di batuan breksi gampingan Batu-Kakapa (?). Masih sedikit jauh dari desa perbukitan Tji-Jabang (?), di mana kemudian kami akan kembali ke sungai Tji-Tarum, di mana di titik ini Tji Tarum membentuk air terjun paling megah di Pulau Jawa, yang membelah pegunungan yang menjadi batas dataran Bandung, terbentuk dari batu hijau porfiritik, basal-trakit, dan tebing-tebing tegak kapur. Mengalir ke hilir, setelah melewati jeram-jeram yang indah, Tji Tarum kemudian menjadi sungai yang bisa dilayari, mengalir pelan melewati teras Rajamandala.

Pemandangan alam Jawa terasa sangat megah dengan deretan bukit berbatu, hutan primer yang dihantui kisah-kisah mengerikan binatang-binatang liar. Di daerah ini ada tiga titik yang sangat menarik, Tjukang-Raon (baca: Cukang Rahong), Tjuruk-Almion (baca: Curug Halimun), dan Sangjang-Holut (baca: Sanghyang Heuleut). Ketiganya menyimpan potensi menarik, yang orang-orang dapat mempelajari struktur-struktur geologinya. Ketiga titik ini terletak saling berdekatan. Untuk mencapai daerah ini, orang dapat memulai dari desa Tjijabang, di dataran perbukitan, kemudian menuruni lereng-lereng terjal dengan ketinggian 300-500 meter! Orang-orang dapat mempercayai apa yang ditulis Junghuhn pada 1854, bahwa meskipun Tjurak-Almion (Curug Halimun, air terjun kabut) adalah air terjun paling megah di Pulau Jawa, tapi tidak ada satu pun orang Eropa, kecuali dirinya yang pernah ke sana. Kami bisa membayangkan penderitaan masyarakat lokal yang membuat jalur ke sana untuk membuat akses memungkinkan. Kami menemukan jejak-jejak langkah, tangga, dan tali rotan, dan karenanya kami bisa bilang bahwa kami mengikuti jalur Junghuhn.

Pada tanggal 21 Mei, kami hanya mengunjungi Tjukang-Raon, di mana Tji-Tarum mengalir dahsyat karena dipaksa melewati celah yang lebarnya tidak lebih dari 4 meter. Di sini ada tangga bambu yang tampak rapuh dengan tali rotan tergantung di kedua sisinya, mengarah ke dinding tegak lurus dari portal batu ini.

Pada pagi hari tanggal 22 Mei, kami mengunjungi Tjuruk-Almion, air terjun terindah di Tji Tarum, di mana di sini air terjun jatuh di atas tebing batu hijau setinggi empat meter. Kemudian kami melewati rantai basal Gunung Lanang, turun sangat jauh dari ketinggian 2653 kaki ke bagian terdalam, yaitu suatu lembah jurang, Sangjang Holut, yang diduga merupakan suatu kawah purba yang sejajar dengan batuan tersier batupasir menyisakan sungai selebar 4 meter saja.

Di hari yang sama, kami sampai di desa kecil Gua, di kaki gunung bagian utara Gunung Nungnang, suatu formasi batugamping yang megah, yang sisi curamnya menjadi batas antar perbukitan batugamping dengan dataran Radjamandala yang luas ke utaranya. Gunung Nungnang memeiliki banyak rekahan-rekahan, yang dimanfaatkan oleh burung walet untuk membuat sarang. Sarang ini kemudian diambil oleh masyarakat lokal untuk diserahkan pada Bupati, sebuah pekerjaan yang sangat berbahaya.

Gunung Nungnang bei Gua – Batugamping Eosen. Sumber: Hochstetter

Pada tanggal 23 Mei, kami dengan hati-hati menjelajahi Sangjang Tjikoro, suatu bukit batugamping, di mana Tji-Tarum bercabang masuk menembus masuk ke dalam bukit. Sangat menarik dari sudut pandang geolog, karena pada titik ini kita menemukan batugamping yang sama dalam posisi horizontal membentuk struktur bukit di tepi seberang sungai ini. Dari Radjamandala kami kembali ke jalan utama ke Tjiandjur dan kemudian kembali ke Batavia.

Kegiatan membaca buku-buku lama tentang Bandung membuat saya semakin hanyut dalam kisahnya. Terutama di buku ini dibahas tentang Ci Lanang yang merupakan tempat tugas akhir saya waktu kuliah sarjana dulu. Semoga bisa menggali lebih detil lagi.

Silakan bertanya, meninggalkan komentar, atau memberi saran bacaan menarik tentang sejarah cekungan bandung, saya akan senang sekali.

 

sumber