Kerinduan Junghuhn Pada Alam Jawa

Dalam buku Drie en Dertig Jaren op Java (33 Tahun di Jawa), Dr. C.W. Wormser sebagai pembuka bukunya, mengutip pernyataan dari Franz Junghuhn mengenai kerinduan Junghuhn pada Pulau Jawa. Ketika itu Junghuhn sedang berada di Belanda, memulihkan dirinya setelah selama 12 tahun bergulat dalam belantara Hindia.

Aku sangat ingat hutan di sana yang berhias warna hijau yang abadi, ribuan bunga dengan semerbak wangi yang tak pernah pudar. Dalam pikiranku terdengar angin laut yang berdesir melewati rerimbun pohon pisang dan pucuk pohon kelapa. Aku dengar gemuruh air terjun yang berundak turun dari dinding gunung tinggi di pedalaman negeri. Seolah-olah aku sedang menghirup udara pagi yang dingin. Seolah aku sedang melangkah di depan pondok orang Jawa yang ramah. Keheningan yang sunyi dari hutan belantara mengepungku dari segala sisi. Tinggi di langit di atasku terlihat kepakan kelelawar yang berkerumun, beterbangan kembali ke tempat mereka pulang di siang hari. Perlahan kehidupan bergerak semakin dalam ke hutan. Burung merak berteriak berlomba saling pamer suara. Monyet-monyet melanjutkan permainan mereka dan teriakannya menggema dalam sunyi hutan pegunungan, seolah membangunkan hutan dengan nyanyian paginya. Ribuan burung benyanyi merdu. Bahkan sebelum matahari menampakkan warnanya di timur langit, puncak-puncak gunung telah menyala keemasan. Dari ketinggiannya yang agung, mereka seolah melihatku sebagai seorang kawan lama. Betapa rindu dan membuncah keinginanku untuk mendaki, hingga pada hari nanti di mana aku bisa bilang, Salam padamu, Wahai Gunung-Gunung!

Franz Junghuhn,
Leiden, November 1851

Perjalanan Junghuhn dari Bogor ke Bandung Tahun 1844

Diterjemahkan oleh Muhammad Malik Ar Rahiem dari Buku Reizen Door Java, voornamelijk door Het Oostelijk Gedeelte van dit Eiland oleh Franz Wilhelm Junghuhn, yang diterbitkan tahun 1850 di Leiden.

Cianjur, 7 Agustus 1844

“Salam dariku, gunungku dengan puncak yang bercahaya merah,
Salam dariku, matahari yang menyinarinya!”

Schiller: Spaziergang

Sebelum Mentari pagi menembakkan sinar keemasannya dari balik Pegunungan Megamendung, 6 ekor kuda bergerak keluar dari stasiun Wangun (di atas Buitenzorg). Kuda-kuda itu menarik kereta kuda empat roda yang aku naiki, bergerak dengan berirama. Tak lama kemudian tiga puncak gunung di sekitar Buitenzorg (Salak, Gajak, dan Ciapus), tersinari terang cahaya surya pagi, sementara di bagian barat daya menuju Gede (Cikopo dan Cisarua), serta daerah hingga kaki Gunung Salak masih tertutup oleh bayang-bayang pegunungan Megamendung.

Gunung Salak. F. Junghuhn: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart. 2. Band

Aku memandangi puncak ini dengan seksama. Puncak yang telah didaki oleh begitu banyak naturalis anggota Naturkommisie sejak 1812, sementara itu 50 gunung lainnya di Jawa, hingga kini masih belum diinjak oleh para naturalis.

Udara pagi yang menyegarkan membangkitkan gairah berpetualang dalam diriku. Sementara keindahan dan kemegahan pepohonan dan tetanaman menakjubkanku. Di sini pepohonan masih tersembunyi dalam bayang-bayang hutan yang gelap. Di tempat lain aku lihat beberapa pucuk pohon palem yang sudah berkilauan diterpa sinar Mentari. Suasana ini sangatlah puitis, menghidupkan pikiranku, yang begitu mudah tergoda oleh kesan dari luar, dan membuat hidup dipenuhi kebahagiaan.

Meski demikian, tak ada hal lain yang lebih memancing rasa antusias selain dari kereta di Jawa, yang ditarik oleh Kuda Jawa, dan dikemudikan oleh kusir Jawa. Dari luar roda berdetak dan kuda-kuda mendengus. Dari depan terdengar tepukan keras dari kusir, dan dari belakangnya, tiga orang berteriak, seolah pertunjukan suara tanpa henti, ayoo – oh – ayoo – brr – hui – bur,bur! Tentu tidak dengan gaya Jenny Lind, tepi tetap menyentuh hati, sekaligus memekakkan telinga.

Di Pondok Gede, matahari mulai naik dan menyinari tanaman dari Afrika, yaitu perkebunan Conchineal-Cactus yang berada di satu sisi dari hutan pedesaan yang indah, yang juga muncul berkelompok dengan subur di sisi yang lainnya. Aku sudah tinggal selama 10 tahun di Jawa, tapi tetap saja terpana melihat kubah indah pohon Rambutan (Nephelium lappaceum), Mangga, dan banyak pohon-pohon buah lainnya, atau dedaunan Parkia biglobosa yang halus, bersirip, dan lembut menyebar, serta puncak pohon kelapa dan pinang. Ada kegembiraan yang membuncah, sebagaimana saat pertama kali aku melihatnya.

Kekuatan kebiasaan menumpulkan semua kesenangan. Kita baru bisa memahami keindahan alam melalui perubahan yang kontras, perubahan, dan pergantian yang signifikan. Hal itu harus menjadi rangsangan yang menjaga kerentanan pikiran kita, agar terus-menerus segar dan merasa hidup. Pada akhirnya, seseorang sangat merindukan bentuk-bentuk yang lebih solid, sebagaimana yang ditunjukkan alam kepada kita di utara: pemandangan padang rumput yang monoton, rumpun pohon ek yang tumbuh rendah, atau kebun ceri.

Untuk itu, maka jayalah terus industri mesin yang menjadikan perjalanan menjadi mudah, yang menjadikan perjalanan kereta kuda menjadi begitu nyaman. Semoga Tuhan menguatkan keretaku, terutama membuat as roda bertahan setidaknya sampai aku mencapai Jawa Tengah.

“Agar kita bisa berpencar padanya,
Itulah satu-satunya alasan dunia ini begitu besar”

Segera ketika sore tiba, sang kusir melihat kereta kudaku dengan tatapan keheranan. Ia mengingat perjalanan sebelumnya ke Cianjur, di mana ketika itu ia menjatuhkanku dari kereta hingga dua kali. Aku merasa cukup gembira untuk bertemu kenalan lama. Aku berjanji jika nanti bertemu lagi aku akan memberinya dua gulden, alih-alih satu gulden seperti harga biasa.

Di jalan menuju Megamendung (ketinggian 4620 kaki), aku terkagum dengan fakta bahwa pembangunan terjadi sangat cepat di sini dan populasi meningkat dengan cepat. Hal ini tidak mungkin terjadi tanpa peningkatan kesejahteraan masyarakat secara simultan. Beberapa tahun yang lalu, di tempat ini semua masih tertutup oleh hutan dan merupakan habitat badak. Sekarang banyak keluarga yang telah menetap di sana, dan sebuah warung yang dibangun dengan baik, menawarkan makanan, kopi, dan kue-kue untuk para pelancong. Warung ini berada di titik tertinggi jalan yang dibangun.

Di sini terlihat bahwa pembangunan jalan yang baik memiliki dampak yang kuat terhadap perluasan budidaya di suatu negara. Orang Jawa senang mengikuti jalan dan bermukim di sekitarnya. Oleh karena itu, pembentukan koloni baru, jika diperlukan, dapat dengan mudah diarahkan dengan membangun jalan menuju titik-titik tertentu. Aku tidak akan menjelaskan mengenai kondisi jalanan di Megamendoeng, yaitu jalan tertinggi yang bisa dilalui kendaraan di Jawa. Lintasan tertinggi yang bisa dilalui dengan menunggang kuda adalah lintasan di atas Pegunungan Dieng, dari Pekalongan melewati Batoer ke Wonosobo (titik tertinggi sekitar 6500 kaki). Kemudian jalur yang melewati Pegunungan Tengger, dari Tosari ke Wonosari, dan dari Kebo glaga ke Ledok-ombo. Lintasan terakhir mencapai 7800 kaki di titik tertingginya.

Di ngarai lembah di seberang celah, di antara bebatuan vulkanik, sungai Ci Kundul mengalir ke hilir. Sungai ini memisahkan Megamendoeng (sebagai rantai dari punggungan Pangrango) dari kaki Gede yang tinggi dan rata. Di atasnya, lebih jauh ke selatan, terletaklah Cipanas. Di tepi Ci Kundul, sedikit di bawah dekat jembatan, orang dapat melihat dinding vertikal berwarna abu-abu, cukup halus dengan tinggi sekitar 40 kaki. Dinding ini hanya terdiri atas satu lapisan abu vulkanik yang mengeras (orang Sunda menyebutnya Wadas). Abu ini jarang ditemukan di sekitar Gede, tapi di celah yang sempit ini mungkin merupakan tempat yang sangat tepat untuk berakumulasi, dan mungkin tersapu (pada erupsi sebelumnya) dengan aliran dari Ci Kundul, sebagai suatu aliran lumpur.

Peta Gunung Gede-Pangrango dan Sungai Ci Kundul. F. Junghuhn: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart. 2. Band

Gunung-gunung di daerah ini memiliki nama yang spesial (Gunung Peser, Gunung Rasamala, Gunung Tjipanas, dll). Pegunungannya sendiri, jika dilihat dari kacamata geologi, terbentuk sekaligus dalam satu kesatuan, dan terdiri atas deretan bukit-bukit yang tersambung, di mana dasarnya adalah aliran lava yang berasal dari Gede.

Kami akhirnya tiba di Cianjur pukul 5.30 sore.

Bandung, 9 Agustus 1844

Pada pagi hari di tanggal 8, kami mulai bertolak ke arah timur. Dataran Cianjur terletak di kaki kerucut Gunung Gede, berupa hamparan yang luas, miring menurun menjauh dari pusat gunung berapi. Daerah sebelah selatan Cianjur menurun ke arah tenggara, menuju kaki dari Perbukitan Djampang (Kendeng). Sementara daerah di sebelah timur Cianjur, di mana Jalan Raya Pos berada, merupakan dataran dengan kemiringan landai ke arah timur, menuju lembah Ci Sokan. Sungai ini berhulu di Pegunungan Kendeng, jauh di selatan, dan mengalir menuju utara.

Beda elevasi dari dataran Cianjur ke dasar Ci Sokan adalah 584 kaki (Cianjur 1450 kaki, Ci Sokan 866 kaki), dengan jarak 8 menit geografis (sekitar 2 mil geografis). Dataran ini sangat cocok untuk budidaya padi, dan kita lihat di sini sawah-sawah yang luas memenuhi lereng-lereng Gunung Gede, membentuk teras-teras hijau, yang basah oleh air, yang di antaranya ditumbuhi oleh pohon-pohon buah, yang seolah menjadi titik-titik berwarna hijau gelap, di antara hamparan padi hijau yang memanjakan mata. Siapapun yang telah terbiasa dengan pemandangan Eropa, mungkin tak menyangka ini adalah Jawa. Hamparan hijau pesawahan, yang di kiri-kanannya pohon-pohon buah-buahan, dengan pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang. Masyarakat yang tinggal di sini adalah orang-orang yang penuh syukur, yang tinggal di pondok-pondok bambu sederhana.

Dataran yang berupa kaki gunung yang luas dan turun ke arah yang berbeda, dengan kemiringan yang rata sempurna, jarang ditemukan di Jawa. Biasanya lereng yang lebih rendah dari gunungapi bergabung dengan lereng gunungapi lainnya dan membentuk teras. Di beberapa gunungapi, kaki gunung menerus terus sampai ke pantai, seperti teramati di kaki selatan Merapi. Dataran Jogjakarta yang terbentuk dengan geomorfologi ini, meski 2/3 lebih rendah dari dataran Cianjur, bisa menjadi pembanding yang baik.

Di sisi kanan Ci Sokan, morfologi kembali menjadi dataran. Tren menurun ke arah timur telah berakhir, memasuki medan datar yang bergelombang, dengan elevasi merata antara 850-870 kaki sejauh 6 pal ke arah timur, hingga ke Ci Tarum, kemudian ke Dataran Rajamandala, lalu menerus hingga ke batas pegunungan batugamping Mesigit, yang menjadi batas sebelah barat dari Dataran Tinggi Bandung. Di Bandung, elevasi meningkat dua kali lipat lebih tinggi.

Ci Sokan dan Ci Tarum mengalir hampir sejajar satu sama lain. Keduanya mengalir dari selatan ke utara, dan kemudian bergabung pada jarak beberapa pal ke arah utara Jalan Raya Pos. Kedua sungai ini menggerus begitu dalam, membentuk ngarai sedalam hingga 150-250 kaki, dengan lebar dua kali lipat kedalamannya. Tepi-tepiannya terjal, dengan dinding curam menurun secara tegak lurus. Saluran di atasnya jatuh menderu ke bawah. Sampai kedalaman yang sama dengan kedalaman ngarai-ngarai ini, daratan di antara lembah (juga dataran Cianjur dan Rajamandala) hanya terdiri dari puing-puing vulanik, yaitu bongkah dan konglomerat dari berbagai ukuran, yang menumpuk di sini setebal beberapa ratus kaki. Mencirikan suatu lembahan luas antara Cianjur dan Pegunungan Batugamping Rajamandala, sebelum menjadi morfologi seperti sekarang.

Kedalaman dasar Ci Sokan berdasarkan observasi barometer adalah 150 kaki, sementara Ci Tarum 255 kaki. Dasar dari kedua ngarai ini masihlah puing-puing batuan vulkanik, sehingga kita tak bisa tahu dengan pasti seberapa tebal lapisan ini, juga lapisan apa yang melandasinya. Kita mungkin tahu informasi ini jika menyusuri ngarai ini jauh ke hilir. Kita tidak tahu pula bahan penyusun lapisan ini berasal dari mana. Apakah dari Burangrang? Apakah dari Gede? Ataukah dari Patuha? Yang kemudian terlimpas jauh hingga ke sini karena dorongan erupsi gunungapi. Kemudian berapa lama kemudian waktu yang dibutuhkan untuk terbentuknya lapisan koral Mesigit, yang kini membumbung tinggi hingga elevasi 2500 kaki. Sulit untuk membayangkannya jika membandingkan dengan sifat alam dari material rombakan gunungapi. Kebanyakan terdiri atas trakhit dengan kristal hornblende yang besar, lalu kristal feldspar yang bersifat gelas tersebar acak di sana, dengan masa dasar feldspar. Lebih jauh lagi, batuan ini biasanya didominasi oleh hornblende, sampai suatu titik bisa kita sebut sebagai batuan hornblende, yang porous, dan sesekali bisa kita lihat gelembung udara besar dan kecil.

Ci Sokan di titik ini telah menggerus lapisan, membentuk ngarai yang dalam, dan menghempaskan begitu banyak pecahan-pecahan dinding yang terakumulasi di dasar sungai. Lokasi pecahan-pecahan yang seolah membentuk pulau ini tertutup oleh lapisan tanah, dengan ketebalan sekitar 5 kaki. Di tepi-tepi teras Ci Tarum (atau setidaknya di mana itu berpapasan dengan jalan), bongkah-bongkah yang besar telah hilang, dan digantikan oleh lapisan tebal debu-pasir volkanik yang berwarna abu kekuningan dan memiliki karakteristik khusus. Di banyak tempat, pasir-pasir ini sudah terlapuk dan berubah menjadi lempung.  

Di banyak tempat, lapisan pasir atau debu ini berselingan dengan lapisan batuan membundar yang terdiri atas trakhit, dengan ketebalannya secara bergantian 5 hingga 10 kaki. Namun, di dataran Rajamandala, di sisi kanan Tji Tarum, terdapat bukaan jalan dengan ketinggian hingga 50 kaki. Di sini hanya tampak tanah lempung yang gembur, yang tampaknya dibentuk oleh dekomposisi batuan konglomerat yang aku sebut sebelumnya.

Pemandangan perbukitan kapur dari Jembatan Citarum Rajamandala

Lembah Ci Sokan dan Ci Tarum adalah satu-satunya lembah di Jawa yang serupa dengan lembah dataran tinggi Sumatera, seperti di Batang Agam (di Padang), atau lembah di Toba di Tanah Batak. Semua sungai-sungai di lembah ini terbentuk di atas lapisan konglomerat. Sebagai contoh Sungai Agam menyayat batuan apung sedalam hingga 500 kaki, seolah memotong dataran tinggi ini. Badan air Ci Tarum kira-kira sepertiga lebih besar daripada Ci Sokan, ini karena sungai ini sebelumnya menampung seluruh aliran air dari dataran tinggi Bandung. Warna aliran ini hampir selalu keruh karena sedimen yang dibawanya. Sedimen coklat ini membentuk kontras yang tajam dengan air jernih dari TJi Bodas yang lebih kecil, yang mengalir dari mata air.

Mungkin karena sulitnya mencari air, karena lokasi aliran sungai yang begitu jauh di bawah permukaan, maka daerah antara Ci Sokan dan Ci Tarum adalah suatu kawasan liar yang tak berpenghuni, dengan pepohonan yang rendah, namun alang-alang yang begitu tinggi. Spesies alang-alang dan gelagah (Imperata alang, Sorghum tropicum, Imperata glaga) menjadi tutupan lahan yang utama di sini. Di antara rerumputan ini, ada spesies Bambu, Emblica officinalis Gartn, Semak Melastoma malabatricum, dan di sana-sini beberapa Colberta obovate yang tersebar, kadang membentuk rumpun kecil seperti di taman. Tapi jarang ditemukan Ficus dan jenis pepohonan lainnya. Relung liar yang berumput dan semak belukar yang tebal ini sangat kontras dengan hutan tinggi yang teduh dan lembab yang ditemukan di sekitarnya. Lebih mudah untuk melewati hutan belantara yang tinggi dan gelap daripada melewati hutan semak yang sangat panas, dan terlebih lagi merupakan tempat favorit rusa, babi, dan harimau.

Lambatnya perjalanan kami terutama karena penyeberangan di kedua sungai. Hanya salah satu di antaranya, yaitu Ci Sokan yang memiliki jembatan yang terbuat dari balok kayu. Gerak kereta begitu lambat karena kerbau-kerbau yang begitu kepayahan menarik kereta melewati jalan yang curam. Dari pos Rajamandala, di tepi kanan Ci Tarum, kami berkuda. Kereta kami ditarik oleh 6 ekor kuda yang bergerak dengan cepat melewati dataran indah Rajamandala. Perjalanan menanjak, sesekali saja menurun. Di sana sini aku lihat tanaman nila, di sisi lain ditanami teh. Hingga akhirnya kami tiba di perbatasan dataran tinggi Bandung, yaitu suatu pegunungan kapur.

Kami bertemu dengan penyambut kami yang sabar, dengan penampakan yang bodoh dan tidak peka (maksudku adalah si kerbau). Kerbau-kerbau ini menarik kami perlahan tapi pasti menuju tujuan. Sepanjang jalan yang perlahan ini, kami punya banyak waktu untuk mengamati situasi pegunungan batukapur, dan bisa melihat beberapa lapisan fosil koral, di mana banyak terlihat bekas-bekas kerang-kerangan. Koral-koral ini terletak di kaki gunung Ciguntur, di sekitar Ci Bogo, tak seberapa jauh dari stasiun Cisitu dan di sebelah timur dari menara gunung kapur Kentjana. Puncak batukapur Kentjana, Mesigit, dan Karang menjulang indah ke kiri, di sebelah utara jalan. Warna putih kapur ini bersinar kontras melalui hijau hutan di sekitarnya. Lebih jauh ke depan, di sebelah selatan jalan, berdiri tegak puncak keempa, sebuah batugamping yang tandus, Gunung Hawu, yang seolah-olah hanya potongan-potongan berbentuk dadu yang ditumpuk satu sama lain. Kaki gunung ini merupakan titik tertinggi dari jalan ini, yaitu pada ketinggian 2.567 kaki. Dari sini jalanan stabil melandai sampai ke dataran Bandung.

Gunung Masigit di Padalarang dilihat dari Puncak Pasir Pawon

Dataran ini semakin luas di hadapan mata para pengembara. Gunung-gunung di hadapan mata bersinar memukau. Puncak-puncak gunung api tersambung satu sama lain, terpandang jelas menembus sanubari. Bening air di danau seolah cermin. Danau buatan yang dibuat dengan membangun bendungan, dan terletak di sebelah kiri jalan. Lahan padi yang ditanam dengan baik disela oleh rumah dan desa-desa, menjadi penyambut para pengelana.

Tanpa menunggu lama, tentu aku merekomendasikan dataran tinggi yang cantik ini. Paling luas di Jawa, pada ketinggian ini (secara umum di Karesidenan Priangan, tipe bentangalamnya seperti di Sumatera, berbeda dengan di Jawa pada umumnya yang berupa dataran rendah dengan gunung-gunung terisolasi). Kepada seluruh petualang, kalian akan menemukan banyak bahan-bahan untuk pertimbangan ilmu pengetahuan, baik meteorologi, botani, dan geologi.

Pada jam 2 siang, aku tiba di Bandung yang telah cukup padat populasinya, meskipun tetap tenang dan menyenangkan. Aku menyiapkan beberapa persiapan untuk melanjutkan perjalanan aku ke beberapa tempat di Priangan, sebelum berangkan ke Jawa Timur. Ah, Gunung Guntur, tak sabar untuk aku datangi lagi. Mr. Nagel (Asisten Residen Bandung) dan Jenderal Cleerens (Residen Priangan) memberikan aku dukungan yang sangat berharga. Jenderal Cleerens bahkan memberikan aku surat pengantar untuk menghadap Residen lainnya.

Junghuhn Seorang Geologist

Dalam pengetahuan komunal masyarakat Indonesia, Junghuhn dikenal sebagai orang yang membuat grafik lokasi ideal tumbuh kembang tanaman berdasarkan elevasi ketinggian. Pengetahuan ini tersebar, karena dimuat dalam pelajaran geografi ketika SD dan SMP. Setidaknya begitu belasan tahun lalu, ketika saya masih sekolah dasar dan sekolah menengah dulu.

Ketika masuk dalam pelajaran sejarah, nama Junghuhn kembali mengemuka mengingat jasanya dalam budidaya kina. Junghuhn dikenang sebagai perintis budidaya kina di Indonesia, hingga pada awal abad 20, Indonesia menguasai pasar kina dunia.

Tugu Makam Junghuhn di Lembang, dikelilingi pohon-pohon kina. Telah ditetapkan sebagai Cagar Alam Junghuhn seluas 2.5 ha

Selain dari dua bidang tersebut, nama Junghuhn tak banyak saya lihat. Ketika saya berkuliah di jurusan geologi, namanya tak muncul. Mungkin hanya sekali, yaitu ketika almarhum Pak Budi Brahmantyo menceritakan tentang sketsa Junghuhn di Situ Patengan. Namun selebihnya ia tak terdengar.

Padahal Franz Junghuhn (lahir di Mansfeld Jerman, 1809 dan wafat di Bandung, 1864) adalah salah satu perintis penelitian geologi di Hindia Belanda, terutama di Jawa. Karyanya yang paling masyhur, Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart (Jawa, Bentuk, Vegetasi, dan Struktur Pembentuknya), yang terdiri atas tiga volume, pada volume III setebal 329 halaman, khusus membahas mengenai geologi Pulau Jawa. Di dalamnya tercakup pembahasan mengenai sebaran mineral, sedimen, morfologi pegunungan, fosil hewan dan tanaman, formasi-formasi penting, batuan gunungapi, keberadaan metal, bahkan hingga mata air panas. Deskripsi fosil dan lokasi penemuannya menjadi lokasi A-Z, menjadi sumbangan sangat berharga bagi penelitian stratigrafi di Hindia.

Sementara volume I membahas mengenai tanaman-tanaman dan volume II membahas mengenai gunungapi. Pada tahun 1855, Junghuhn mempublikasikan peta Pulau Jawa skala 1:350.000 yang ia bagi ke dalam 4 lembar. Salah satu edisi peta ini merupakan peta geologi dengan warna-warna yang membedakan formasi-formasi batuan. Peta ini merupakan peta geologi kedua Pulau Jawa, setelah peta geologi oleh Horsfield pada awal abad-19.

Peta Geologi Bandung dan Sekitarnya oleh Junghuhn (1855)

Jika kita menelusuri karya-karya Junghuhn secara kronologis, maka kita akan tahu bahwa mulanya Junghuhn tidak begitu awas dengan kondisi geologi. Passion-nya ketika itu lebih ke aspek botani. Menurut Rogier Verbeek, kemungkinan besar Junghuhn mulai awas dengan kondisi geologi adalah pada tahun 1834, ketika ia berkunjung ke Laacher See (Danau Laach) di sekitar Pegunungan Eifel. Di sini, Junghuhn muda terkesima dengan pegunungan vulkanik ini, dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa geologi juga merupakan hal menarik yang belum banyak dipahami.

Pada awal karir Junghuhn di Hindia pun, ia tak begitu awas dengan kondisi geologi. Ia lebih banyak memperhatikan tanaman-tanaman, mendeskripsi, kemudian mengumpulkan spesimennya. Baru pada tahun 1837, ketika Junghuhn ditugaskan menjadi deputi dari Dr. Fritze, ia mulai memiliki pembimbing dalam ilmu geologi. Dalam buku “Topograpische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java, Magdeburg 1845”, Junghuhn menuliskan bahwa dalam perjalanannya dengan Dr. Fritze, Junghuhn melakukan penelitian mengenai tanaman; sementara Dr. Fritze melakukan observasi geologi, mengunjungi kawah, dan mengoleksi bebatuan. Pada bulan Mei 1839, Fritze meninggal dan meninggalkan kesedihan mendalam bagi Junghuhn.

Ernst Albert Fritze (1791-1839)

Junghuhn melanjutkan petualangannya di Jawa hingga tahun 1841, untuk kemudian berpindah ke Sumatera dan melakukan penelitian di Tanah Batak selama 13 bulan. Di rimba yang liar ini, Junghuhn berhasil memetakan topografi kawasan ini dengan sangat baik, sekaligus mempublikasikan pengamatannya mengenai Tanah Batak di Sumatera (Die Battaländer auf Sumatra). Menurut Verbeek, dalam buku tersebut Junghuhn secara eksplisit menyebutkan mengenai rencana pembahasan geologi yang akan dituliskan dalam buku volume kedua. Namun buku tersebut tak pernah terpublikasikan. Buku Die Battaländer auf Sumatra hanya terbit dalam bahasa Jerman. Ini karena naskah buku ini ditolak oleh pemerintah kolonial karena catatan-catatan kritis mengenai perlakuan buruk tawanan Jawa oleh serdadu kolonial.

Pada periode awal Junghuhn di Hindia, selama 13 tahun (1835-1848), kemudian kita kurangkan dua tahun bekerja di Sumatera, dan dua tahun lainnya untuk membuat laporan tentang Tanah Batak, maka sebenarnya Junghuhn hanya punya sekitar 9 tahun untuk meneliti Jawa. Bayangkan 9 tahun untuk mendaki 45 gunung, beberapa di antaranya berkali-kali, 16 di antaranya ia merupakan orang yang pertama, kemudian mengunjungi lembah-lembah yang dalam dan deras, serta menerobos rimba belantara yang kejam, mengumpulkan spesimen dalam peti-peti dan mengirimkannya ke Eropa. Bahkan pada periode awal, kebanyakan dari waktu tersebut bahkan dilakukan pada masa-masa cuti, karena pada awalnya Junghuhn adalah seorang dokter militer. Ini merupakan prestasi yang hebat, menimbang seluruh kesulitan yang ada ketika itu. Perjalanan-perjalanan geologi Junghuhn hanya bisa dilakukan jika ada persitensi yang tinggi, mengingat begitu terperincinya laporan yang ditulis Junghuhn.

“Sebuah cahaya baru yang telah lama dinantikan, baru-baru ini terbit mengenai karakter geognostic Pulau Jawa, melengkapi karya-karya terdahulu Horsfield, Raffles, dan Reinwardt, yang masih belum lengkap. Dibuat oleh peneliti alam yang cerdas, piawai, dan pantang menyerah, Franz Junghuhn. Setelah tinggal lebih dari 12 tahun ia merampungkan karya yang sangat berharga: Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart.”

Alexander von Humboldt dalam Kosmos jilid 4, tahun 1858

Junghuhn harus kita kenang sebagai geologist yang handal. Kita harus ingat bahwa Junghuhn memelajari geologi secara otodidak. Ia tak punya pendidikan khusus geologi. Hal ini juga kemudian mengakibatkan banyak observasinya yang kurang presisi, meski tidak mengurangi rasa apresiasi kita padanya. Verbeek menuliskan bahwa Junghuhn mengklaim bahwa basalt hanya ditemukan di tiga gunungapi di Jawa, padahal batuan ini bisa ditemukan di begitu banyak gunung. Junghuhn juga banyak mendeskripsi batuan plagioklas-trakhit, yang ternyata merupakan batuan andesit. Lebih lanjut Verbeek mengapresiasi Junghuhn begitu tinggi, terkait deskripsi medan yang begitu detil terperinci dengan ilustrasi yang dilengkapi banyak sketsa, profil, dan peta. Namun harus diakui bahwa ketika Junghuhn membahas substansi geologi, maka maknanya kurang begitu berarti, terutama jika kita bandingkan dengan ilmu yang berkembang sekarang.

Beberapa teori penting yang dikemukakan Junghuhn, terutama teori mengenai pembentukan gunungapi. Junghuhn lah yang pertama menyatakan dan membuktikan bahwa kerucut gunungapi volkanik itu bertumbuh dan membangun kerucutnya secara berturut-turut dari letusan debu gunungapi dan aliran lava. Naiknya elevasi gunungapi bukan karena pengangkatan, tetapi karena proses letusan-letusan yang berulang. Teori ini mungkin sekarang sudah usang dan kuno, tetapi pada zaman Junghuhn, teori itu diterima sebagai teori yang benar, dan bahkan didukung oleh Leopold von Buch. Tak hanya von Buch, Charles Lyell, bapak geologi abad 19, dalam bukunya yang legendaris, The Principle of Geology (1868) tak ragu untuk menyebut nama Junghuhn 6 kali dalam bukunya, dan menyitir pendapat Junghuhn, membuktikan betapa berharganya informasi dan analisis yang dikembangkan Junghuhn di Jawa.

Pada akhirnya, Junghuhn harus kita kenang sebagai salah satu perintis ilmu geologi di Indonesia. Seperti yang disampaikan Verbeek dalam memoir mengenang 100 tahun Franz Junghuhn, bahwa Junghuhn memberikan efek sugestif pada generasi muda. Ia menginspirasi pemuda generasi Verbeek untuk berkarya mengeksplorasi bumi Hindia, dan harusnya juga pada generasi-generasi setelahnya, termasuk generasi kita. Junghuhn adalah contoh dari orang berjiwa Promethean, yaitu orang yang memberikan segalanya untuk kemajuan ilmu pengetahuan, tanpa memedulikan konsekuensi terhadap dirinya sendiri.

Wahai Junghuhn, karyamu abadi!

Sketsa geologi pantai dengan undercut di bawahnya. Terdiri atas lapisan batupasir dan kapur
Sketsa Bukit Breksi Batu Nini di sekitar Gunung Buleud Cililin
Sketsa batuan sedimen berlapis nyaris tegak di Sanghyang Heuleut

Beberapa sumber tulisan ini:
1. Junghuhn als Geologe – Rogier Verbeek
2. Forschen – Vermessern – Streiten – oleh Renate Sternagel dan Gerhard Aus
3. Buku Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart volume III – Franz Junghuhn

Curug Tjigeureu di Gunung Malabar

Sejak dua tahun lalu, saya rajin nongkrong di halaman situsnya Tropenmuseum, Rijksmuseum, dan Perpustakaan Universitas Leiden. Tujuan saya adalah untuk mencari foto, lukisan, atau sketsa lama yang membuat saya senang ketika membuka dan melihat-lihatnya. Mungkin seperti orang yang hobi belanja senang buka-buka lapak pasar-el (e-commerce), begitu pun saya senang buka-buka situs gambar sejarah.

Dari hasil telusuran saya, saya mengetahui bahwa ada beberapa pelukis zaman kolonial yang hasil dokumentasinya sangat banyak, salah satunya adalah Antoine Payen. Ia adalah seorang pelukis berkebangsaan Belgia yang bekerja bagi pemerintah kolonial pada awal abad ke-19. Ketika Payen bekerja, ia menemukan seorang mutiara terpendam yang kelak akan menjadi pelukis Indonesia paling masyhur. Namanya Raden Saleh. Tulisan lengkap mengenai siapa Antoine Payen bisa dilihat pada tulisan Pak Ridwan Hutagalung berjudul “Payen dan Sang Pangeran Jawa“.

Salah satu gambar paling baru yang saya temukan adalah gambar berjudul “Gezicht op de waterval van de Tjigeureu in de bossen van de berg Malabar” atau jika diterjemahkan bebas menjadi “Pemandangan air terjun Tjigeureu di hutan Gunung Malabar”. Dalam keterangan lukisan tertulis: Dit is de waterval van Cigeureuh bij de berg Malabar. Op de voorgrond zijn twee mannen te zien die kijken naar een Javaanse neushoorn in de verte, atau berarti: Ini adalah air terjun Cigeureuh di gunung Malabar. Di latar depan dua lelaki dapat terlihat sedang melihat badak Jawa di kejauhan.

Gezicht op de waterval van de Tjigeureu in de bossen van de berg Malabar. Antoine Payen – 1841. Sumber Tropenmuseum

Dalam gambar ini, sebuah air terjun yang sangat tinggi menjadi objek utama. Menuju ke air terjun, terdapat jeram-jeram bertingkat dengan aliran yang cukup deras. Hutan digambarkan tidak padat, tapi terbuka. Di tengah bagian dekat dengan pengamat, dua orang tampak bersembunyi. Seorang seolah mengokang senjata, atau mungkin keduanya memegang sejata. Mereka mengamati seekor badak di kejauhan. Cukup menarik juga mengingat Payen menggambarkan satu bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum Becc) yang berada di bagian kanan bawah lukisan.

Saya takjub dengan ketelitian ini. Saya merasa perlu tahu di mana curug ini berada. Dengan penuh semangat saya mencoba mencari tahu, di mana air terjun Tjigeureu ini berada.

Pilihan pertama saya adalah dengan mencari di google dengan kata kunci “Curug Tjigeureu”. Tapi hasilnya nihil. Kemudian ketika saya cari Cigeureuh, maka saya menemukan blog dari http://cekunganbandung.blogspot.com/2010/11/berjuang-menggapai-hulu-cigeureuh.html. Dalam blog ini penulis mencantumkan judul “berjuang menggapai hulu Cigeureuh”. Dalam tulisan ini, ia bercerita tentang perjuangannya dan teman-temannya menyusuri hulu Cigeureuh untuk menuju Curug Siliwangi. Masuk akal juga. Berarti sungai di mana curug ini berada bernama Ci Geureuh, dan curugnya bernama Curug Siliwangi.

Ketika saya mengamati foto Curug Siliwangi, saya merasa ada sedikit persamaan dengan Curug Tjigeureu yang dilukis Payen, terutama dari ketinggian air terjun. Sayang tidak ada foto yang diambil dari lebih jauh. Kemungkinan besar karena vegetasi sangat lebat.

Curug Siliwangi, Gunung Puntang. Sumber Facebook Gunung Puntang

Dalam lukisan Payen, Curug Cigeureuh digambar dari jauh. Namun kita bisa duga bahwa air terjun ini sangatlah tinggi. Begitu pun Curug Siliwangi yang ditulis berketinggian 150 meter. Dalam video-video perjalanan ke Curug Siliwangi yang saya tonton di Youtube, perjalanannya sangat berat dan melewati jeram-jeram. Mungkin itulah jeram yang digambar juga oleh Payen.

Selain itu, saya juga mencoba membandingkan Curug Cigeureuh ini dengan peta-peta lama yang saya punya. Pertama saya membandingkan dengan Peta Wisata Bandung dan Sekitarnya, touristenkaart van bandoeng en omstreken, yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata Hindia Belanda pada tahun 1939. Dalam peta ini, di lembah antara Gunung Puntang dan Gunung Haruman, terletak air terjun tanpa nama yang hanya disebut sebagai Waterval.

Gunung Malabar pada Peta Wisata Bandung yang dipublikasikan oleh Dinas Pariwisata Hindia Belanda

Kemudian saya mencoba mencari informasi mengenai Gunung Malabar di buku Java volume 1, karya Junghuhn. Di dalam buku ini, Junghuhn mendeskripsi menggambarkan profil ketinggian gunung-gunung di Jawa, salah satunya gunung-gunung di Cekungan Bandung. Ketika menggambarkan kompleks Gunung Malabar, yang disebut oleh Junghuhn sebagai Malawar, secara menarik ia menggambarkan satu air terjun, Tjuruk Tjiguru. Saya menduga ini air terjun yang juga dimaksud oleh Payen, Tjurug Tjigeureuh

Franz Wilhelm Junghuhn, Java seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart Vol.1

Kesimpulan: Curug Cigeureuh hampir pasti merupakan air terjun yang berada di lembah di antara Gunung Puntang dan Gunung Haruman, di kompleks Gunung Malabar. Jika benar di sanalah curug berada, maka elevasinya sekitar 1500-1800 mdpl. Kemungkinan curug ini ekivalen dengan Curug Siliwangi yang kita kenal sekarang, namun perlu memastikan koordinat Curug Siliwangi berada. Ada dua informasi penting yang bisa kita dapat dari lukisan Antoine Payen, yaitu: 1) keberadaan bunga bangkai raksasa, dan 2) keberadaan badak jawa. Dua spesies ini merupakan spesies langka, bahkan sekarang badak hanya ditemukan di Ujungkulon saja. Laporan ini menunjukkan bahwa Kompleks Gunung Malabar pernah menjadi rumah bagi spesies-spesies langka Nusantara, entah kondisinya sekarang bagaimana. Meskipun badak sudah pasti tidak ada, semoga yang lain masih ada.

Tentang Gunung Malabar

Mungkin orang-orang kurang awas terhadap Gunung Malabar karena bentuknya yang tidak seikonik Gunung Tangkuban Perahu. Padahal kedua gunung ini berhadap-hadapan. Keduanya megah dibatasi oleh lembah luas di mana jutaan manusia hidup. Dari titik mana pun di tengah Cekungan Bandung kita bisa melihat Gunung Malabar ini. Setiap pagi, dari rumah saya di bilangan Ciwaruga, setiap saya memandang ke arah selatan, terutama di pagi hari, maka gunung ini akan tampak megah berdiri. Mungkin pemandangan yang serupa dengan gambar Payen di bawah ini.

Pemandangan Gunung Malabar yang dilukis oleh Payen dari Bandung Utara

Dalam buku Java jilid 2, Junghuhn mendeskripsi Gunung Malabar sebagai berikut:

Obgleich kein Krater und keine Solfatara als diesem Gebirge zugehörig bis jetzt bekannt ist, so wird er hier dennoch unter die Zahl der Feuerberge aufgenommen, -weil sowohl die Gestalt desselben als auch seine Gebirgsarten. — Lava —, aus welchen er zusammengesetzt ist, deutlich verrathen, dass auch er einst ein thätiger Vulkan war. Siehe die augitische und basaltische L.Nr. 55 und 56 und die Gluthbrezzie: L.Nr.54, welche in seinem nordlichen Vorgebirge gefunden werden. — Über seine Lage und Verbindung mit den benachbarten Bergen wird hier sowohl, wie bei allen übrigen Preanger Vulkanen auf die beigefügte Skizze verwiesen. Sein Gipfel ist keineswegs konisch, sondern er besteht aus zwei lang hingezogenen, schmalen Firsten, die ostwärts in einem spitzen Winkel zusammenstossen und die 7090′ hohe Ostkuppe des Gebirges bilden. Auch ihre entgegengesetzten Endigungen sind schroff und kuppenartig. Sie schliessen einen beinahe dreieckigen Raum ein, der sich westnordwestwärts in weiter, klüftiger Öffnung zum Berge hinabzicht und den man nicht anstehen kann, für den alten spaltenförmigen Krater des G.-Malawar (wahrscheinlich abgeleitet von Mawar = Rose und würde dann so viel bedeuten als : überall mit Rosen geschmückt) zu halten, wenn man die schroffe Senkung beider Bergfirsten nach innen wahrnimmt, die mit ihren steilen Wänden einander gegenüberstehen und sich als Kratennauern beurkunden. Die südlichere der Firsten zieht sich mehre Pfähle lang hin. Es ist sehr zu vermuthen, dass man im Grunde der genannten
grossen Kluft zwischen den Firsten bei genauer Nachsuchung noch überzeugendere Beweise ihres ehemaligen Charakters finden und vielleicht noch dampfende Fumarolen oder kochende Schlammpfützen daselbst antreffen wird. Übrigens sind sowohl die Kluft als die Firsten mit uralter Waldung überzogen, deren Physiognomie ich an einem andern Orte versucht habe zu schildern und nur zwei warme Quellen am Südabhange des Berges sind die einzigen jetzt bekannten Überbleibsel ehemaliger Vulkanität. ~ Ich besuchte den Berg im Monat October 1839 von seiner Ostseite her, wo der Pasanggrahan Malawar tjiparai gelegen ist.

Franz Junghuhn, Java seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart Vol.2

Berikut adalah penerjemahan bebas oleh penulis dibantu dengan Google Translate:

Meskipun tidak dijumpai kawah dan solfatara di gunung ini dan sekitarnya, gunung ini tetap termasuk sebagai gunung api, terutama karena bentuk, jenis gunung, serta lava yang menyusun gunung ini menandakan bahwa gunung ini dulunya merupakan gunungapi yang aktif. Sampel batuan yang saya kumpulan berjeniskan lava augit dan lava basaltik (lihat nomor 55 dan 56) serta Gluthbrezzie (Breksi berwarna arang gelap, glut = arang dalam bahasa Jerman) bernomor 54 yang saya temukan di punggungan sebelah utara.

Sebagaimana gunungapi lainnya di Priangan, saya membuat referensi lokasi pengambilan spesimen ini relatif terhadap lokasi gunung dan hubungannya dengan gunung-gunung di sekitarnya. Puncak gunung ini tidak berbentuk kerucut, tetapi terdiri atas dua tebing sempit yang memanjang yang pertemuannya membentuk sudut lancip di sebelah timur dengan ketinggian 7090 kaki, di sebelah timur kompleks pegunungan ini. Ujung dari tebing-tebing ini kasar dan berbentuk kubah. Mereka melampirkan ruang hampir segitiga yang memanjang barat-barat laut di celah yang lebar, bergerigi ke G. Malawar (kemungkinan berasal dari kata Mawar yang berarti bunga, sehingga diasumsikan Junghuhn berarti gunung yang dipuja layaknya bunga). Mungkin bagian tengah dari gunung ini adalah kawah. Sangat dicurigai bahwa pada celah yang disebutkan di antara punggungan-punggungan akan ditemukan bukti yang lebih meyakinkan mengenai keberadaan fumarol yang mengepul atau genangan lumpur mendidih di sana. Kebetulan, pola lembahan dan punggungan ditutupi dengan hutan lebat, fisiognomi yang saya coba gambarkan di tempat lain, dan hanya dua mata air hangat di lereng selatan gunung adalah satu-satunya sisa vulkanisitas bekas gunung berapi yang diketahui. ~ Saya mengunjungi gunung ini pada bulan Oktober 1839 dari sisi timurnya, di mana Pasanggrahan Tjiparai Malawar berada.

Franz Junghuhn, Java volume 2, dengan penerjemahan bebas penulis.

Dalam katalog spesimen yang dikumpulkan oleh Junghuhn: Catalog der Geologischen Sammlung von Java. Oder Verzeichniss der Felsarten gesammelt zur erlauterung des geologischen baues dieser Insel niedergelegt und geordnet im Reichs-museum fur Naturgesichte zu Leiden von Fr. Junghuhn (Katalog Koleksi Geologi Jawa. Atau daftar jenis batuan yang dikumpulkan untuk menjelaskan struktur geologi pulau ini diletakkan dan dipesan di Museum Sejarah Alam Reich oleh Leiden oleh Franz Junghuhn), sampel dari Malabar bernomorkan L.54-L.56. Sampel-sampel ini adalah:

Halaman 13
  1. Batu trachytic dari gluthbrezzie. Ujung barat punggungan G. Malawar: dari dinding vertikal, ke kiri jalan yang mengarah dari Bandong ke Bandjaran.
  2. Lava doleritik dan basaltik. Lereng G. Malawar: Bandjaran dan Pengalengan, dasar sungai Tji-Biana (distrik yang sama)
  3. Lava syenitik dan basaltik. G. Malawar. dasar sungai Tji-Ngiroan dekat Pengalengan

Sumber:

  1. Lukisan Tjurug Tjigeureu dari Tropenmuseum
  2. https://mooibandoeng.com/2016/02/02/payen-dan-sang-pangeran-jawa/
  3. http://cekunganbandung.blogspot.com/2010/11/berjuang-menggapai-hulu-cigeureuh.html
  4. https://www.facebook.com/BuperGPCommunity/posts/air-terjun-curug-siliwangiterletak-di-areal-wana-wisata-gunung-puntang-di-komple/511613966045832/
  5. Touristenkaart van bandoeng en omstreken. 1939
  6. Franz Wilhelm Junghuhn, Java seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart Vol.1
  7. Franz Wilhelm Junghuhn, Java seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart Vol.2
  8. Catalog der Geologischen Sammlung von Java. Oder Verzeichniss der Felsarten gesammelt zur erlauterung des geologischen baues dieser Insel niedergelegt und geordnet im Reichs-museum fur Naturgesichte zu Leiden von Fr. Junghuhn

Apakah Tuna Netra Bisa Jadi Geolog?

Beberapa bulan lalu ada perdebatan seru di Twitter, tentang apakah seorang buta warna bisa berkuliah di jurusan geologi di Indonesia. Di kampus saya dulu, Insitut Teknologi Bandung, memang ada aturan ini. Bahwa salah satu pra-syarat masuk jurusan geologi adalah mampu menunjukkan surat bebas buta warna. Entah apakah sekarang masih ada atau tidak.

Sebelumnya saya tidak pernah benar-benar memikirkan hal ini, tapi saya kemudian sadar bahwa ini adalah aturan diskriminatif yang harus dihapuskan. Geologi adalah ilmu yang harus bisa dipelajari oleh siapa saja. Lebih umum lagi, pendidikan harus bisa diakses siapa pun, terlepas dari kondisi fisiknya. Jadi siapa saja bisa belajar apa saja yang dikehendakinya.

Apa hak kampus untuk melarang seorang buta warna belajar geologi? Apakah seorang buta warna tidak bisa menjadi geolog? Jika buta warna saja tidak bisa, apalagi tuna netra. Lalu muncul pertanyaan lain, apakah seorang tuna netra tidak bisa menjadi geolog?

Tuna netra jadi geolog? Jawabannya bisa!

Ini adalah cerita yang menjungkirbalikkan semua asumsi-asumsi keliru, yang membuktikan bahwa ketika kesempatannya ada, semua orang bisa, mampu, dan bahkan menjadi yang terbaik. Bahkan seorang tuna netra bisa menjadi nomor satu di dunia dalam bidangnya.

Ini cerita tentang Dr. Geerat Vermeij, seorang ahli moluska, profesor di bidang Paleobiologi di Universitas California Davis (UC Davis), Amerika Serikat. Ia bukanlah seorang buta warna. Ia adalah seorang tuna netra. Ia kehilangan pandangan sejak umurnya 3 tahun.

Profesor Vermeij membuktikan bahwa ketidakmampuan untuk melihat bukanlah hambatan untuk berkarya. Dalam puluhan tahun karirnya ia mempublikasikan lebih dari 200 publikasi, termasuk 5 buku. Publikasinya tersebar di jurnal ternama, Paleobiology, Science, American Naturalist, dll.

Contoh publikasi Vermeij

Buku terbarunya, Nature an Economic History, membahas mengenai ekonomi dan evolusi. Ia membandingkan antara prinsip dasar evolusi dengan prinsip dasar ekonomi, kemudian mengorelasikannya dengan tren sejarah kehidupan dan sejarah kemanusiaan.

Profesor Vermeij adalah seorang tuna netra. Tapi itu tak mencegah ia menjadi yang terbaik di bidangnya. Tahun 2001, ia dianugerahi Medali Daniel Giraud Elliot. Penghargaan ini diberikan oleh U.S. National Academy of Sciences bagi mereka yang memberikan dampak besar di bidang zoologi atau paleontologi.

Pada tahun 2017, ia dianugerahi Fellow Medalist dari Fellows of the California Academy of Sciences. Ini adalah penghargaan tertinggi di California untuk ilmuwan yang memberikan kontribusi ilmiah di bidang ilmu alam.

Kedua penghargaan prestisius ini tentu tidak diberikan karena Dr. Vermeij adalah seorang tuna netra. Kedua penghargaan ini diberikan karena karya-karya Vermeij memang eksepsional dan memberikan dampak yang luar biasa.

Tidak mudah tapi mungkin
Perjalanan Profesor Vermeij hingga di posisinya sekarang itu sama sekali tidak mudah. Tapi ia membuktikan bahwa ia bisa. Sejak kecil ia dibimbing oleh orang tuanya untuk menyukai ilmu pengetahuan. Pada umur 10 tahun, mereka pindah ke Amerika Serikat, dan Vermeij mulai tertarik pada kerang-kerangan. Ia mulai mengoleksi kerang. Orang tua dan saudara-saudaranya sangat senang dan antusias dengan kegemarannya. Mereka membacakan, mentranskrip, dan mendiktekan setiap buku ilmu pengetahuan yang mereka bisa dapat.

Sejak kecil, ia selalu mendapat dukungan yang ia perlukan. Semua guru-gurunya menerima dengan hangat dan mendengarkan dengan antusias ketika Vermeij muda menceritakan keinginannya untuk menjadi ahli kerang atau biologi. Bidang yang sama sekali visual. Tak pernah sekalipun mereka menyatakan bahwa bidang yang ingin ia geluti ini tidak cocok dengan kondisinya. Mungkin dalam hatinya mereka berpikir bahwa tuna netra janganlah belajar biologi karena itu akan merepotkan, tapi tak pernah sekalipun pikiran-pikiran itu mereka sampaikan.

Vermeij muda kemudian diterima masuk Universitas Princeton di jurusan Biologi dan Geologi. Profesor-profesornya di sana memberikan dukungan penuh.

Selepas dari Princeton, tahun 1971 Vermeij melanjutkan studi doktoral di Yale. Ketika ia diwawancara oleh kepala departemen, ia dites. Ia diberikan dua buah cangkang dan ditanya apakah ia mengenali cangkang itu. Vermeij muda hanya tersenyum, karena dua cangkang itu sangat dikenalinya.

Kepala departemen sangat puas dengan kecerdasan Vermeij dan kemudian memberikan dukungan penuhnya. Vermeij mendapatkan beasiswa penuh dan juga diberikan dana untuk riset doktoralnya. Posisi terakhirnya adalah profesor paleontologi di UC Davis, kampus ternama di Negara bagian California, Amerika Serikat.

Yang dilakukan Vermeij sama dengan yang dilakukan geolog-geolog lainnya. Ia pergi ke lapangan. Ia mengumpulkan sampel. Ia menganalisis sampel yang dikumpulkannya di laboratorium. Ia pergi ke museum, ke perpustakaan. Ia meneliti sampel yang ada. Ia mempelajari literatur yang tersedia.

Kegiatan lapangannya pun sama seperti geolog-geolog lainnya. Ia meneliti terumbu karang. Ia berbasah-basahan di rawa mangrove, di rawa berlumpur, di pantai, di gurun, hutan hujan, di kapal, di stasiun pengamatan, dan banyak tempat lainnya.

Apakah kebutaan menjadi halangan? Tidak. Sama sekali tidak.

Vermeij mendapat bantuan ketika ia bekerja. Ada orang yang memandunya. Tapi apakah ini kemewahannya sebagai seorang peneliti yang tuna netra? Tidak juga. Penulis sendiri ketika dulu bekerja selalu ditemani oleh asisten. Franz Junghuhn di tahun 1830an ketika meneliti di Indonesia, konon ditemani lebih dari 20 asisten.

Bagi Vermeij, kebutaan bukanlah hal yang menghalangi ia untuk bekerja sama seperti peneliti lainnya. Bahkan menurut dia, tak ada hal dalam pekerjaannya yang membuat seorang tuna netra lain tak bisa melakukan apa yang dia lakukan. Ketika di lapangan, ia pernah disengat lebah, dicapit kepiting, terpeleset di batu, terkena batu tajam, dan banyak hal lainnya. Baginya, baik tuna netra, maupun mereka yang bisa melihat mempunyai risiko yang sama saja.

Pesan Vermeij
Pengalaman Vermeij bertahun-tahun sebagai ahli kerang bisa menjadi contoh bagi kita semua bahwa ketika kesempatannya ada, maka tuna netra bisa menjadi yang terbaik di bidangnya. Bahkan lebih baik dari mereka yang bisa melihat. Bahkan di bidang yang sangat visual seperti biologi, dan juga geologi.

Menurut Vermeij, pendidikan umum selama ini harus direformasi. Terlalu lama pendidikan memperlakukan tuna netra dengan tidak adil. Selama ini tuna netra selalu diarahkan menuju ilmu sosial atau jurusan-jurusan yang “aman”, jauh dari laboratorium atau jurusan yang berkegiatan di lapangan. Ini tidak adil, katanya. Kunci dari semua ini adalah kesetaraan, dan kunci kesetaraan adalah kesempatan dan respek. Selama kesempatannya tidak sama, maka tidak akan pernah ada kesetaraan.

Lantas bagaimana?
Bagi saya, yang utama adalah mendukung kesetaraan. Setiap orang harus dapat kesempatan yang sama. Sekarang bagaimana bisa semua orang dapat kesempatan yang sama jika aturan dasar masuk sekolah saja sudah sangat diskriminatif?

Maka ayolah kita sudahi perdebatan-perdebatan tidak perlu perihal penerimaan mahasiswa jurusan geologi atau jurusan lain harus begini begitu, yang aturannya malah diskriminatif dan memberatkan orang lain. Cukuplah persyaratan akademik yang menjadi batas.

Kampus janganlah mendiskriminasi orang dari kondisi fisiknya. Beri kesempatan untuk semua orang. Siapa yang tahu kalau jenius paleontologi moluska itu seorang tuna netra? Apakah ini mungkin terjadi jika dulu Princeton dan Yale menolak mahasiswa tuna netra di kampusnya?

Menurut Yayasan Mitra Netra, ada sekitar 3,5 juta orang tuna netra di Indonesia. Ini termasuk mereka yang parsial dan total. Sudah berapa banyak orang kita rebut haknya untuk belajar dengan aturan-aturan yang membelenggu itu? Bagaimana jika ada orang-orang jenius seperti Vermeij yang kita lupakan. Betapa meruginya dunia sains Indonesia.

Ketika masuk hal teknis, misal seorang tuna netra terdaftar di jurusan geologi yang banyak kegiatan lapangan. Mungkin kampus dapat meminta mahasiswa untuk menyanggupi menyediakan pemandu yang bisa mendampingi. Jangan mahasiswa ditolak ketika ia punya keinginan kuat dan kemampuan untuk mewujudkan keinginannya. Atau kita tidak akan pernah punya Vermeij-Vermeij lain di Indonesia. Yang bisa mewakili kaumnya, yang bisa menjadi inspirasi kelompoknya. Yang bisa menjadi bukti bahwa kesempatan bisa mewujudkan kesetaraan. Yang bisa menjadi bukti bahwa setiap orang, tak peduli kondisi fisiknya, bisa menjadi yang terbaik di bidang apapun.

Sumber:
https://nfb.org/images/nfb/publications/books/kernel1/kern0610.htm

Tuna netra hebat lainnya: Rumphius.

Image result for rumphius
Rumphius, salah satu botanist ternama yang meneliti Indonesia di tahun 1600an. Karyanya Herbarium Amboinense, adalah katalog tanaman di Maluku. Rumphius menulis bukunya dalam keadaan buta.

Cilanang Beds, Sebuah Sejarah Panjang Penelitian Fosil Moluska dari Bandung Barat Daya

Apa yang terlintas dalam benak anda saat dengan kata “fosil”? Mungkin hal pertama yang terpikirkan adalah fosil-fosil dinosaurus dan petualangan Jurassic Park yang menjadi sumber imajinasi anak-anak tahun 90-an. Tapi jika ditambahkan satu kata “moluska” di belakang kata fosil, maka seolah-olah kata itu kehilangan daya tariknya. “Hah apaan fosil moluska? So what?” mungkin begitu respon yang ada.

Bagi kebanyakan orang mungkin begitu, tapi tidak bagi peneliti-peneliti klasik tempo dulu yang menemukan begitu banyak informasi berharga dari fosil moluska. Catatan orang-orang yang melaporkan tempat penemuan fosil dibaca dan kemudian jejaknya ditelusuri. Mereka berusaha agar bisa melakukan suatu ekspedisi penelitian ke sana dan mengumpulkan spesimen-spesimen untuk menjawab pertanyaan tentang kehidupan.

Tulisan ini adalah tentang Cilanang Beds. Suatu lapisan sedimen kaya dengan fosil moluska yang masyhur di antara para paleontolog di Jawa, terutama mereka yang membaca literatur-literatur klasik. Sayangnya, meski hanya berjarak 50 kilometer dari Kota Bandung, kota yang memiliki begitu banyak lembaga penelitian geologi, tempat ini hanya diketahui oleh segelintir orang saja. Padahal, ternyata tempat ini memiliki sejarah penelitian yang panjang, sejak lebih dari 150 tahun yang lalu.

Kisah panjang Cilanang bermula pada pertengahan abad ke 19, kala Franz Junghuhn, seorang naturalis berkebangsaan Jerman, melakukan perjalanan penelitiannya yang masyhur di Pulau Jawa. Junghuhn menulis 4 jilid buku tentang Jawa dengan tebal lebih dari dua ribu halaman yang dipublikasikan secara berkala dari tahun 1850 hingga 1854.

Dalam buku jilid ke 4, Junghuhn melaporkan tentang kondisi geologi dari daerah-daerah yang dikunjunginya. Catatannya ini sangat mengagumkan. Deskripsinya penuh presisi dengan sketsa yang luar biasa. Ketika membacanya seolah kita tak percaya bahwa buku ini ditulis hampir dua ratus tahun yang lalu.

Salah satu catatan geologi yang dilaporkan Junghuhn adalah penemuan fosil-fosil yang lokasi penemuannya ia kelompokkan dengan kode lokasi A-Z. Salah satu lokasi yang penemuan fosilnya cukup banyak dan catatannya cukup detil adalah Lokasi O.

Tentang Lokasi O Junghuhn menulis:

“Bagian barat daya dari dataran tinggi Bandung, terutama di Distrik Rongga, di sebelah selatan dari Ngarai Ci Tarum, antara Curug Jompong dan lembah yang menerobos pegunungan memanjang antara Bandung dan Rajamandala. Bagian selatan dari tempat ini adalah suatu pegunungan yang berasal dari endapan gunung api. Dari Lio Tjitjangkang berjalan turun ke arah barat hingga Gunung Sela, kita akan temui daratan yang menjorok ke sungai, di mana kita bisa lihat lapisan lempung dan batupasir marl yang lunak dan berwarna kebiruan dengan kandungan fosil yang luar biasa baik dengan tingkat keterawetan yang sangat tinggi. Dengan ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, singkapan ini berada di tepian Ngarai Ci Lanang hingga ke Gunung Sela, di mana sepanjang ngarai inilah fosil-fosil bisa ditemukan.”

Terpesona oleh catatan Junghuhn, pada tahun 1857, dalam sebuah ekspedisi sains berkeliling dunia yang didanai Kerajaan Austria, Ferdinand von Hochstetter bersama timnya menyusuri kembali jalur yang dilaporkan Junghuhn. Perlu diketahui bahwa pada masa itu dunia riset di Eropa sedang giat-giatnya melakukan ekspedisi untuk mengumpulkan spesimen-spesimen fosil dari seluruh dunia. Dalam ekspedisi yang diberi nama Ekspedisi Novara ini (berdasarkan nama kapal ekspedisi), Hochstetter dan timnya mengumpulkan begitu banyak spesimen yang dikirimkan ke Vienna. (lihat Catatan Ekspedisi Novara 1857-1859: Menyusuri Ci Tarum dari Curug Jompong Hingga ke Sanghyang Tikoro)

Kemudian pada tahun 1879, seorang geolog dan paleontolog berkebangsaan Jerman Johann Karl Ludwig Martin, mempublikasikan laporannya tentang hasil analisis fosil-fosil yang dikumpulkan oleh Junghuhn dan oleh ekspeditor lain yang dilakukan di Jawa. Laporan ini berjudul “Die Tertiärschichten Auf Java” atau “Lapisan Tersier di Jawa”. Dalam laporan ini Martin juga menganalisis mengenai Lokasi O yang disebutkan Junghuhn. Lokasi ini cukup istimewa karena jumlah spesies yang bisa diidentifikasi sangat banyak, lebih dari 100 fosil bisa diidentifikasi dari lokasi ini.

Sedikit bocoran tentang Martin. Ia lahir di Jever, Jerman pada 1851 dan kemudian pada 1877 diangkat menjadi  profesor geologi di Universitas Leiden, Belanda. Kemudian dari tahun 1878 hingga 1922 ia menjadi direktur Museum Geologi di Leiden. Sebagai seorang saintis, penelitiannya terutama pada bidang paleontologi dan stratigrafi di Hindia Belanda, terutama di Maluku. Martin ini dianggap sebagai sesepuhnya paleontologi di Belanda.

Martin pertama kali berkunjung ke Jawa pada tahun 1910. Setahun kemudian ia mempublikasikan penelitiannya yang berjudul “Vorläufiger Bericht über geologische Forschungen auf Java” atau jika diterjemahkan menjadi “Laporan Awal Mengenai Penelitian Geologi di Jawa”. Dalam publikasi ini, Martin melaporkan banyak hal menarik, seperti letusan Gunung Tangkuban Perahu pada tahun 1910. Tapi yang paling utama adalah laporannya mengenai lapisan-lapisan sedimen kaya moluska di Jawa, salah satunya di Cilanang. Bermula dari makalah inilah istilah Tjilanang Beds atau Lapisan Cilanang dikenal, yang kemudian menjadi penamaan lapisan ini.

Martin mencari tahu lokasi-lokasi mana saja yang dideksripsi oleh Junghuhn sebagai Lokasi O. Setelah mempelajari detil laporan Junghuhn dan Hochstetter, Martin mengunjungi Cilanang dan mendapati 4 lokasi penemuan fosil, yaitu; di pertemuan Ci Lanang dan Ci Tangkil, kemudian di Lembah Ci Lanang menuju Gunung Sela, kemudian di Lembah Ci Bining, dan di Lio Cicangkang. Tempat-tempat ini beberapa masih bisa dikenali hingga sekarang.

Ci Lanang adalah sungai menjadi batas dua desa di Kecamatan Gunung Halu, yaitu Desa Wargasaluyu dan Desa Tamansari. Ciburial adalah nama kampung di Desa Celak, Kecamatan Gunung Halu, juga merupakan nama sungai.

Lio Cicangkang tidak dikenali lagi, tapi ada nama daerah Cicangkang di perbatasan Kecamatan Gununghalu dan Sindangkerta. Menurut Hochstetter, Lio Cicangkang adalah tempat pembakaran kapur, dan tempat ini merupakan satu-satunya lokasi bisa ditemukan kapur di daerah ini. Dalam peta geologi lembar Cianjur (Sudjatmiko, 1972), terdapat satuan batuan Mtjl atau anggota batugamping Formasi Cilanang di sekitar Cicangkang yang kemungkinan besar merupakan sisa-sisa Lio Cicangkang. Sementara Ci Bining tidak dikenali lagi.

Dari keempat lokasi ini Martin mengumpulkan 2563 spesimen dari 119 spesies yang berbeda. Ditemukan 104 spesies di Ci Burial, kemudian 46 spesies di Ci Lanang, dan 29 spesies di Ci Bining.

Contoh sketsa fosil-fosil yang disketsa Martin dalam buku Die Tertiarschichten auf Java (1879)

Martin melanjutkan penelitiannya tentang lapisan Tersier di Indonesia dan melaporkan hasil penelitiannya pada tahun 1928 melalui publikasinya “Eine Nachlese zu den Neogenen Mollusken von Java”, “Sekilas tentang Moluska berumur Neogen di Jawa”. Dalam publikasinya ini, Martin memberikan sintesis fosil-fosil yang ditemukan di Ci Lanang. Secara total terdapat 189 spesies moluska yang dikenali di Cilanang. Moluska ini berasal dari dua kelas, yaitu kelas Gastropoda (kelas siput) dan kelas Lammelibranchiata (kerang-kerangan yang memiliki dua tangkup cangkang atau bivalvia). Dari 189 spesies ini, 63 spesies masih ditemukan hidup hingga sekarang, sehingga terdapat persentase 34%. Fosil-fosil yang dikumpulkan oleh Martin dapat dilihat dalam katalog di sini.

Persentase antara fosil yang masih hidup dengan jumlah fosil yang ditemukan ini digunakan Martin untuk mengklasifikasikan umur lapisan-lapisan sedimen. Untuk lapisan di Cilanang, Martin menyimpulkan lapisan ini berumur Miosen tengah atas atau sekitar 7-10 juta tahun yang lalu.

Oleh Martodjojo (1984) lapisan kaya moluska di Cilanang dikelompokkan ke dalam Formasi Cimandiri yang berumur Miosen atas. Singkapan di sepanjang aliran Ci Lanang diusulkan Martodjojo sebagai hipostratotipe dari Formasi Cimandiri.

Stratotipe adalah perwujudan alamiah satuan stratigrafi yang memberikan gambaran ciri umum dan batas-batas satuan stratigrafi. Hipostratotipe adalah tambahan bagi stratotipe. Lokasi tipe dari Formasi Cimandiri terletak di Ci Talahab, Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Pengukuran penampang stratigrafi di Ci Talahab hanya menunjukkan ketebalan 167 meter, sementara pengukuran di Ci Lanang menghasilkan ketebalan 407 meter. Lapisan yang kaya moluska memiliki ketebalan sekitar 100 meter.

Lama waktu berselang, lebih dari 100 tahun sejak publikasi Martin tahun 1911. Pada tahun 2013 di Ci Burial saya sedang menggali singkapan dengan palu geologi saya. Suatu lapisan batupasir berwarna terang yang kaya dengan kandungan fosil moluska. Bingung dan payah tak tahu bagaimana cara mengidentifikasi moluska yang ada di hadapan saya. Padahal ia telah begitu lama diidentifikasi, telah lebih seratus tahun lamanya.

Begitulah cerita tentang Cilanang. Tentang suatu lapisan penting yang mengandung cerita panjang lingkungan pengendapan purba di Pulau Jawa dan saya yang baru sekarang memahami penting dan indahnya lapisan sedimen yang pernah saya teliti.

Catatan Ekspedisi Novara 1857-1859: Menyusuri Ci Tarum dari Curug Jompong Hingga ke Sanghyang Tikoro

Pada tahun 1857, angkatan laut Kerajaan Austria meluncurkan ekspedisi saintifik skala besar menjelajahi dunia dengan nama Ekspedisi Novara (1857-1859). Penelitian ini berlangsung selama 2 tahun 3 bulan, dari 30 April 1857 hingga 30 Agustus 1859. Penjelajahan ini dilakukan dengan kapal Novara di bawah komando Komodor Bernhard von Wüllerstorf-Urbair dengan 345 kru dan 7 orang saintis. Persiapan ekspedisi riset ini dilakukan oleh “Imperial Academy of Sciences in Vienna” oleh para peneliti terkemuka di bawah arahan geolog Ferdinand von Hochstetter dan zoolog Georg von Frauenfeld.

Ferdinand von Hochstetter dan laporannya

Kisah perjalanan ini dilaporkan dalam laporan “Reise der österreichischen Fregatte Novara um die Erde in den Jahren 1857, 1858, 1859 unter den befehlen des Commodore B. von Wüllerstorf-Urbair” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “Narrative of the circumnavigation of the globe by the Austrian frigate Novara (Commodore B. von Wüllerstorf-Urbair)”, atau kalau dalam bahasa Indonesia menjadi Kisah Naratif Perjalanan Mengarungi Bumi dengan Kapal Penjelajah Novara.

Yang menarik dari ekspedisi ini adalah perjalanannya melewati Indonesia, dan Bandung pada 1857. Hochstetter, sebagai geolog dalam tim riset ini melaporkan perjalanan mereka berkunjung ke Bandung menelusuri Ci Tarum melewati Curug Jompong, kemudian melewati Ci Lanang hingga sampai di Gunung Guha dan Sanghyang Tikoro. Catatan yang lengkapnya dalam bahasa Jerman saya coba alih bahasakan dengan bantuan Google Translate.

Bagaimana ceritanya? Silakan ikuti berikut ini:

“Pada 19 Mei kami mengarahkan tujuan kami ke timur ke Bandung untuk mengunjungi Tji Tarum (baca: Ci Tarum) . Keinginan kami adalah mengeksplorasi bentang alam indah yang dihasilkan dari interaksi sungai dan batuan dasarnya, terutama ketika Ci Tarum menerobos bebatuan hijau dan batuan porfiritik membentuk deretan air terjun, Tjuruk Kapek (entah padanannya sekarang apa), Tjuruk-Lanong (baca: Curug Lanang, sudah tidak ada sejak digenang Saguling), dan Tjuruk Djombong (baca: Curug Jompong). Dari sana kami berkuda menerobos perbukitan porfiritik menuju kerucut bebatuan Batu Susun, di tepi Gunung Bulut (Gunung Buleud?) yang terbentuk dari kolom batuan beku porfiritik.

Batu Susun Gunung Bulut. Sumber: Hochstetter

Gunung Buleud masa kini. Foto dari Instagram Desa Situwangi

Pada sore hari yang sama, kami mencapai Tjililui (baca: Cililin), ibu kota dari kabupaten Rongga, karena kekayaan bebatuannya. Yang sangat mengejutkan adalah ramahnya sambutan dari masyarakat ketika kami sampai di sana. Makanan penuh di Pesanggrahan, bahkan Wedana Cililin juga menyediakan spesimen geologi yang ia kumpul dan siapkan, kemudian berikan pada kami. Nama orang sunda yang bersemangat ini adalah Mas Djaja Bradja, Wedana Cililin.

Pada tanggal 20 Mei kami mengecek tempat di mana spesimen itu ditemukan. Di tengah hari kami menemukan tempat pembakaran kapur, Liotji Tjangkang (Lio Ci Cangkang? Ci Cangkang adalah daerah di dekat Gunung Halu), di mana koral yang telah membatu berlimpah dan dapat diamati dari kejauhan. Karenanya kami mengarahkan kompas kami ke barat laut, masuk semakin dalam ke pegunungan, di sekitaran Gonnong Gatu (Gunung Batu?). Daerah ini terkenal karena banyaknya harimau, juga karena tebalnya alang-alang. Kami menyusuri Tji Lanang (Ci Lanang) dan cabang-cabang sungainya. Pertama kami harus turun jauh menuju pertemuan Tji Burial (Ci Burial) dan Tji Tangkil (Ci Tangkil), di mana di sana ada korok trakhit. Kami mengidentifikasi fosil kerang conchylia di antara puing-puing bebatuan yang terlepas dari dinding sungai. Batuan dasarnya adalah lumpur tufan.

Kami berkuda dengan kecepatan penuh melewati gunung yang tidak banyak penduduknya. Ini karena kami harus menghindari hujan badai karena petir dan kilat sudah menyambar-nyambar. Kami beruntung tiba tepat waktu di desa kecil di kaki gunung, yaitu Desa Gunung-Alu (baca: Gunung Halu), di tepi Tji Dadass (baca: Ci Cadas), di kaki pegunungan yang menjadi batas air antara pegunungan utara dan selatan Jawa.

Pada tanggal 21 Mei, kami pergi ke Lembah Tji Lanang yang membentang di lereng terjal Gunung Sela yang terbentuk dari batupasir yang miring terjal. Lokasi ini adalah di mana petrifaksi melimpah dan di mana sisa-sisa fosil bisa diamati pada posisi fosil itu terendapkan di antara lapisan lumpur dan batupasirnya. Satu spesies fosil resin sering juga ditemukan di sini, berdampingan dengan fosil-fosil indah lainnya. Dari titik ini kami mengikuti lembah Tji-Lanang ke arah utara, dan di ujung lembah ini kami berbelok ke jalan yang jarang dilalui menuju lembah Tji-Tjamotha (baca: Ci Camota?), yaitu di batuan breksi gampingan Batu-Kakapa (?). Masih sedikit jauh dari desa perbukitan Tji-Jabang (?), di mana kemudian kami akan kembali ke sungai Tji-Tarum, di mana di titik ini Tji Tarum membentuk air terjun paling megah di Pulau Jawa, yang membelah pegunungan yang menjadi batas dataran Bandung, terbentuk dari batu hijau porfiritik, basal-trakit, dan tebing-tebing tegak kapur. Mengalir ke hilir, setelah melewati jeram-jeram yang indah, Tji Tarum kemudian menjadi sungai yang bisa dilayari, mengalir pelan melewati teras Rajamandala.

Pemandangan alam Jawa terasa sangat megah dengan deretan bukit berbatu, hutan primer yang dihantui kisah-kisah mengerikan binatang-binatang liar. Di daerah ini ada tiga titik yang sangat menarik, Tjukang-Raon (baca: Cukang Rahong), Tjuruk-Almion (baca: Curug Halimun), dan Sangjang-Holut (baca: Sanghyang Heuleut). Ketiganya menyimpan potensi menarik, yang orang-orang dapat mempelajari struktur-struktur geologinya. Ketiga titik ini terletak saling berdekatan. Untuk mencapai daerah ini, orang dapat memulai dari desa Tjijabang, di dataran perbukitan, kemudian menuruni lereng-lereng terjal dengan ketinggian 300-500 meter! Orang-orang dapat mempercayai apa yang ditulis Junghuhn pada 1854, bahwa meskipun Tjurak-Almion (Curug Halimun, air terjun kabut) adalah air terjun paling megah di Pulau Jawa, tapi tidak ada satu pun orang Eropa, kecuali dirinya yang pernah ke sana. Kami bisa membayangkan penderitaan masyarakat lokal yang membuat jalur ke sana untuk membuat akses memungkinkan. Kami menemukan jejak-jejak langkah, tangga, dan tali rotan, dan karenanya kami bisa bilang bahwa kami mengikuti jalur Junghuhn.

Pada tanggal 21 Mei, kami hanya mengunjungi Tjukang-Raon, di mana Tji-Tarum mengalir dahsyat karena dipaksa melewati celah yang lebarnya tidak lebih dari 4 meter. Di sini ada tangga bambu yang tampak rapuh dengan tali rotan tergantung di kedua sisinya, mengarah ke dinding tegak lurus dari portal batu ini.

Pada pagi hari tanggal 22 Mei, kami mengunjungi Tjuruk-Almion, air terjun terindah di Tji Tarum, di mana di sini air terjun jatuh di atas tebing batu hijau setinggi empat meter. Kemudian kami melewati rantai basal Gunung Lanang, turun sangat jauh dari ketinggian 2653 kaki ke bagian terdalam, yaitu suatu lembah jurang, Sangjang Holut, yang diduga merupakan suatu kawah purba yang sejajar dengan batuan tersier batupasir menyisakan sungai selebar 4 meter saja.

Di hari yang sama, kami sampai di desa kecil Gua, di kaki gunung bagian utara Gunung Nungnang, suatu formasi batugamping yang megah, yang sisi curamnya menjadi batas antar perbukitan batugamping dengan dataran Radjamandala yang luas ke utaranya. Gunung Nungnang memeiliki banyak rekahan-rekahan, yang dimanfaatkan oleh burung walet untuk membuat sarang. Sarang ini kemudian diambil oleh masyarakat lokal untuk diserahkan pada Bupati, sebuah pekerjaan yang sangat berbahaya.

Gunung Nungnang bei Gua – Batugamping Eosen. Sumber: Hochstetter

Pada tanggal 23 Mei, kami dengan hati-hati menjelajahi Sangjang Tjikoro, suatu bukit batugamping, di mana Tji-Tarum bercabang masuk menembus masuk ke dalam bukit. Sangat menarik dari sudut pandang geolog, karena pada titik ini kita menemukan batugamping yang sama dalam posisi horizontal membentuk struktur bukit di tepi seberang sungai ini. Dari Radjamandala kami kembali ke jalan utama ke Tjiandjur dan kemudian kembali ke Batavia.

Kegiatan membaca buku-buku lama tentang Bandung membuat saya semakin hanyut dalam kisahnya. Terutama di buku ini dibahas tentang Ci Lanang yang merupakan tempat tugas akhir saya waktu kuliah sarjana dulu. Semoga bisa menggali lebih detil lagi.

Silakan bertanya, meninggalkan komentar, atau memberi saran bacaan menarik tentang sejarah cekungan bandung, saya akan senang sekali.

 

sumber

 

Membuka Ulang Catatan Franz Junghuhn Tentang Papandayan

Ketika sedang asik main di perpustakaan TU Darmstadt, saya tak sengaja melihat koleksi luar biasa di katalog daring, sebuah buku klasik dari salah satu pionir peneliti Pulau Jawa yang paling banyak dikutip peneliti setelahnya, Franz Wilhelm Junghuhn, judulnya “Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart”, cetakan kedua, diterbitkan di Leipzig tahun 1857.

Capture

Buat yang belum tahu Junghuhn itu siapa bisa lihat tulisan saya tentang Junghuhn di sini

Buku Junghuhn memuat catatannya ketika menjelajahi Pulau Jawa, dari barat ke timur. Ia membuat catatan terperinci mengenai geografi, flora, fauna, geologi, peristiwa kebencanaan, dan banyak lainnya di Pulau Jawa. Kualitas catatannya diakui sangat baik, terutama sketsa-sketsanya yang sangat detil dan menarik.

Junghuhn membagi bukunya yang lebih dari 1000 halaman ke dalam tiga bagian besar, bagian pertama “Beitrage zur Geschichte der Vulkane von West und Mittel Java” yang kalau diterjemahkan kurang lebih menjadi “Kontribusi terhadap Kisah Gunung Api di Jawa Bagian Barat dan Tengah”.

Kemudian bagian kedua “Ost-Java, in Skizzen, entworfen auf einer Reise durch die Insel zu Ende des Jahres 1844″ yang kalau diterjemahkan kurang lebih menjadi “Jawa Timur dalam sketsa, didesain dalam perjalanan menyusuri Pulau Jawa pada tahun 1844”.

Dan bagian ketiga “Die Vulkane der ubrigen Inseln des Indischen Archipels ausser Java, und die Erscheinungen die mit den Vulkanen in ursachlichem Zussamenhange stehen” kalau diterjemahkan kurang lebih menjadi “Gunungapi di luar Jawa di Kepulauan Hindia dan fenomena yang berkaitan dengan toponimi asal-usul nama gunungapi tersebut”

Karena bukunya dalam bahasa Jerman, saya sulit untuk baca dan mengerti. Saya hanya membuka-buka sekilas melihat sketsa-sketsa gambar dan daftar pustaka. Salah satu yang saya lihat adalah catatan Junghuhn tentang Papandayan yang saya kira cukup menarik untuk dibaca ulang tentu dibantu oleh Google Translate. Catatan ini berada di bagian kesatu buku,

“Pada malam hari tanggal  11 dan 12 Agustus 1772, terjadi satu-satunya erupsi yang diketahui dari gunung ini (Papandayan). Salah satu letusan terkuat yang terjadi dan mengakibatkan kekacauan di Pulau Jawa, terutama bagi mereka yang pernah berkunjung ke Jawa. Penduduk yang tinggal di lembahan di Garut berlarian kacau di tengah malam, karena melihat Puncak Gunung Papandayan yang berpijar benderang oleh nyala letusan. Pijarnya menyala terang, mengalahkan gelap malam. 

Dentuman bongkah dan gemuruh asap menjadi latar suara orang-orang yang panik berlarian. Bola api dan bongkah panas yang berpijar beterbangan di udara. Empat puluh desa di kaki Papandayan binasa, dan hampir tiga ribu orang menemui ajalnya, dikubur awan panas yang menerjangnya. 

Penduduk desa-desa yang lebih terpencil menyelamatkan diri mereka sendiri. Mereka bersegera melarikan diri, menghindari kehancuran oleh hujan batu berikutnya. Keesokan hari mereka menyadari dahsyatnya letusan Papandayan. Puncak Gunung Papandayan yang mereka kenal sudah tiada, hanya menyisakan celah kawah yang dalam terbuka, terbatuk-batuk hembuskan debu dan letusan yang masih tersisa. 

Pada hari yang sama dengan letusan Papandayan, dua gunungapi lainnya tak mau kalah dan terbangun juga, yaitu Gunung Ciremai dan Gunung Slamet. Gunung-gunung ini saling berjauhan! Entah ada hubungan apa di antara mereka?

Sejak 1843 hingga sekarang, ketika saya (Junghuhn) terakhir mengunjungi gunung ini, artinya dalam periode 71 tahun, pertumbuhan gunung telah menutupi hingga dua pertiga dari jurang kawah yang terbentuk 71 tahun sebelumnya. Endapan-endapan lontaran gunungapi seperti pasir dan abu yang menutupi lembah Garut telah ditutupi tanah, desa-desa baru bangkit kembali di kuburan yang lama.”

Picture1
Sketsa Papandayan oleh Junghuhn

Dalam laporannya, Junghuhn menuliskan tanggapannya mengenai laporan-laporan yang dibacanya untuk menuliskan kisah Papandayan. Salah satu kesimpulan Junghuhn kala itu adalah bahwa tidak ada orang Eropa yang melihat langsung kejadian letusan Papandayan. Catatan-catatan yang ada merupakan penutusan dari orang lokal sehingga banyak laporan yang tidak akurat karena keterbatasan pengetahuan bahasa Sunda bagi orang Eropa saat itu. Perlu dipahami juga bahwa pada 1772, Belanda hanya menguasai wilayah pantai, sementara di pedalaman hampir tidak ada orang Eropa.

Junghuhn juga menuliskan ulang kisah 40 orang yang selamat dari letusan Papandayan karena mereka bersembunyi di kebun pisang kecil (mungkin karena lokasi kebun pisang di dataran tinggi kata Junghuhn). juga kisah tentang dua orang Jawa yang sudah terkubur di dalam tanah tapi entah bagaimana caranya bisa menyelamatkan diri dari kematian. Secara total hampir 3000 orang meninggal dunia, sementara kerugian yaitu 40 desa lenyap, 1500 ternak, perkebunan kapas, indigo, serta kopi yang cukup luas juga hancur lebur.

Begitulah Junghuhn, ada banyak lagi yang bisa saya dapat dari buku ini jika saja saya mahir berbahasa Jerman. Membaca buku ini membuat saya semakin bersemangat untuk memperlancar bahasa Jerman saya yang terbata-bata dan tergagu-gagu.

Terima kasih Junghuhn, Der Humboldt von Java, jasamu abadi.

Junghuhn_self-portrait
Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864)

Grimm Bersaudara dan Dedikasinya pada Sastra

Semua orang pasti pernah dengar cerita Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, Rapunzel, dll. Siapa coba pengarangnya?

Cerita-cerita itu adalah folklor dari Jerman yang kemudian dicatat, dikembangkan, dan ditulis ulang oleh Grimm Bersaudara, Jacob dan Wilhelm Grimm pada awal abad ke-19. Mereka adalah cendekiawan dari Jerman, filolog, leksikolog, akademia di bidang kultur dan budaya. Kisahnya diabadikan dalam film Brothers Grimm yang dibintangi oleh Matt Damon dan Heath Ledger (saya belum nonton tapi kayanya seru nih).

Jacob_und_Wilhelm_Grimm.png
Grimm Bersaudara. By Ludwig Emil Grimm – Historisches Museum, Hanau zeno.org, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=3193091

Grimm Bersaudara lahir di Hanau, sekitar 20 kilometer arah timur dari Frankfurt, dekat dengan tempat saya tinggal. Mereka berkuliah di Universitas Marburg, salah satu universitas paling tua di Jerman, juga paling terkemuka. Di sinilah mereka memulai studi tentang sastra periode pertengahan Jerman.

Sekitar tahun 1810 mereka bekerja sebagai pustawakan di Kassel, pekerjaan yang sederhana tapi bisa memberikan waktu luar biasa untuk meriset dan berkarya. Sekitar periode ini hingga 1830 merupakan saat-saat paling produktif tatkala mereka berhasil mempublikasikan banyak karya terutama Kinder- und Hausmärchen, yaitu cerita anak-anak Jerman. Juga karya-karya seperti folklor Denmark dan Irlandia, mitologi bangsa Nordik. 

Karena publikasinya ini, mereka diangkat sebagai Profesor Sastra Jerman di Universitas Goettingen. Jacob mempublikasikan Mitologi Jerman, sementara Wilhelm melanjutkan publikasi Kinder- und Hausmärchen. 

Karya terbesar mereka adalah Kamus Besar Bahasa Jerman edisi pertama. Mereka memulai projek ini pada tahun 1838 setelah mereka dipecat dari universitas karena memprotes penguasa. Selama dua tahun mereka mengerjakan projek ini secara mandiri, hingga kemudian situasi politik mencair dan mereka melanjutkan bekerja di Universitas Berlin. Di sini juga mereka menerima dana riset dan melanjutkan pembuatan Kamus Besar Bahasa Jerman yang dipublikasikan pertama kali pada 1854.

German_dictionary

Wilhelm meninggal dunia di Berlin pada 1859. Jacob yang berlarut dalam kesedihan akibat kehilangan saudaranya terus melanjutkan perjuangan mereka dalam menyusun kamus, hingga akhirnya menyusul pada tahun 1863.

Grimm Bersaudara adalah contoh dedikasi tiada henti pada bidang sastra. Karyanya pada dokumentasi folklor kemudian menjadi suatu cabang ilmu (folkloristics), menjadi standar dalam dokumentasi cerita rakyat lain mungkin hingga sekarang. Kinder- und Hausmärchen adalah buku yang menjadi bacaan wajib pelajar pada akhir abad ke 19. Dongeng-dongeng hasil publikasi Grimm Bersaudara kini menjadi dasar fondasi dari kerajaan milyaran dolar Disney. Cerita-ceritanya mewarnai masa kecil hampir semua anak di dunia. 

Brothers_grimm_movie_poster
By Source, Fair use, https://en.wikipedia.org/w/index.php?curid=1980464

Rumah Grimm Bersaudara di Marburg. Sayang pas berkunjung lagi tutup karena pengurusnya sedang libur musim panas.

Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Brothers_Grimm

Franz Junghuhn si Pengagum Alam Raya

Franz Wilhelm Junghuhn adalah seorang penjelajah keturunan Jerman. Ia lahir di Mansfield pada tahun 1809 dan wafat di Lembang pada 1864. Pada tahun 1837, Junghuhn bersama Dr. E.A. Fritze ditugaskan untuk melakukan inspeksi kesehatan di beberapa daerah di Jawa Barat. Saat berada di Dataran Tinggi Bandung, keduanya mendaki Gunung Malabar. Pengalaman menjelajahi Bandung Selatan begitu berkesan baginya sehingga ia memilih daerah Pangalengan untuk lokasi pengembangan dan penelitian tanaman kina.

Junghuhn_self-portrait
Junghuhn muda

Junghuhn dijuluki sebagai Humboldt van Java karena kegemarannya akan ilmu pengetahuan. Sebagaimana Humboldt ia pun adalah seorang naturalis, pencinta alam, geolog, eksplorasionis. Ia menyelidiki begitu banyak hal, terutama tentang Flora-Fauna, Geografi, Geologi, Iklim dan Sosiografi Penduduk Pulau Jawa. Dari hasil penelitiannya, terutama di daerah Priangan menjadi landasan bagi para pengusaha Belanda untuk menentukan lokasi yang tepat untuk perkebunannya. Hasil penyelidikan Junghuhn dibukukan dalam 4 jilid berjudul “Java” Gravenhage, 1853.

Haryoto Kunto, dalam Bandung Tempo Doeloe mendeskripsikan kecintaan Junghuhn pada tanah Priangan dengan cerita akhir hayatnya. Di akhir hayatnya, Junghuhn yang begitu mencintai tanah Priangan berkata pada sahabatnya, Dr. Groneman.

Groneman yang budiman, maukah engkau membukakan pintu jendela kamarku ini? Aku ingin berpamitan dengan gunung-gunungku yang tercinta. Buat akhir kali, aku ingin memandang hutan-hutanku. Ku ingin sekali menghirup udara pegunungan yang segar.”

Sambil memandangi dataran Bandung yang molek di bawah kaki langit, dihiasi gunung dan hutan alam Parahyangan yang cantik menghijau, berpulanglah Franz Junghuhn, Pengagum Alam Raya, menuju haribaan-Nya.

Begitulah Junghuhn, orang yang memiliki banyak jasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan di republik ini. Sebuah bukit di Pangalengan dinamai sesuai namanya, Pasir Junghuhn. Di makamnya di Jayagiri dibangun sebuah tugu obelisk untuk mengenangnya. Di sekitar tugu ditanamlah pohon-pohon kina untuk mengingat jasanya yang mengembangbiakan kina di Indonesia hingga pernah memenuhi 90% kebutuhan kina dunia. Begitulah Junghuhn, jasanya abadi.

slide_73
Klasifikasi vegetasi berdasarkan elevasi

Pustaka:

Kunto, H., 2014. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung: Granesia

Suganda, Her. 2014. Kisah Para Preanger Planters. Jakarta: Kompas.