Diskursus Danau Bandung: Dari Zaman Junghuhn hingga Sekarang

Oleh: Muhammad Malik Ar Rahiem (Kelompok Riset Cekungan Bandung)

Pertama Kalinya Danau Bandung Dikenali

Diskursus mengenai asal-muasal hingga jebolnya Danau Bandung sudah terjadi cukup lama. Salah satu pendapat awal dari Junghuhn yang mengatakan bahwa Bandung pastilah dulunya adalah sebuah danau,

katanya: Seluruh wilayah dataran tinggi Bandung, sepertinya merupakan dasar dari suatu danau. Ada beberapa alasan dari dugaan ini, yaitu: 1) dataran yang nyaris sempurna ke semua arah; 2) tepi-tepiannya dikelilingi oleh pegunungan, di mana kaki gunungnya terpisah sepenuhnya dari dataran; 3) keberadaan rawa-rawa yang sangat luas; 4) suatu cekungan air yang sangat besar, berasal dari gunung-gunung tinggi yang berhutan lebat dan ratusan aliran sungai, namun kesemuanya bermuara menuju ke satu sungai, Tjitaroem, yang keluar melewati celah sangat sempit di Pegunungan Kapur di sebelah barat. Sungai ini terjepit di antara dinding-dinding bebatuan yang tinggi dan curam. Alirannya berbuih deras, seolah berbusa, ketika melewati bongkah-bongkah bebatuan, hasil runtuhan bebatuan pegunungan yang digerus sungai (Junghuhn, 1841).

Karya Junghuhn di Jawa memikat seorang Geolog Jerman yang berkunjung ke Jawa dalam rangka ekspedisi sains pada tahun 1858, namanya Ferdinand von Hochstetter. Ia mendapatkan saran dari Junghuhn untuk melakukan ekskursi geologi mengunjungi lembah Ci Tarum mulai dari Curug Jompong hingga ke Sanghyang Tikoro. Tak jauh dari Curug Jompong ia menemukan lapisan-lapisan sedimen berlapis datar, terutama lempung, yang menurutnya merupakan endapan danau yang menjadi dasar dari Dataran Tinggi Bandung (Hochstetter, 1864).

Pada tahun 1896, Reindeer Fennema, seorang geolog Belanda, mengemukakan pendapatnya tentang penyebab terjadinya danau. Menurutnya dulu Ci Tarum mengalir ke arah utara, kemudian Gunung Burangrang meletus, dan produk letusannya menutupi lembah aliran Ci Tarum di sekitar Padalarang. Akibatnya danau terbentuk, hingga akhirnya menemukan jalur di sebelah barat, di mana Ci Tarum menoreh pegunungan kapur Rajamandala (Stehn & Umbgrove, 1929; Verbeek & Fennema, 1896). Selain menoreh lembah ini, bocornya danau juga menoreh endapan danau yang telah terbentuk tebal sebelumnya. Ini bisa terlihat dengan baik, terutama di hilir Curug Jompong, sebelum sekarang tergenang oleh Waduk Saguling.

Pada tahun 1926, N.J. Taverne, seorang vulkanolog, menyatakan kesetujuannya terhadap pendapat Fennema. Ia menyatakan bahwa lembah yang kini ditoreh oleh Ci Tarum adalah hasil erosi yang lebih muda. Menurutnya, berdasarkan topografi pegunungan kapur tersier, kita bisa perkirakan bahwa tinggi muka air danau adalah antara 700-740 mdpl. Kita bisa duga juga bahwa di tepian-tepian danau akan terdapat deta-delta (Taverne, 1926). Misal Kota Bandung yang didirikan di atas delta yang terbentuk akibat aliran Ci Mahi, Ci Beureum, dan Ci Kapundung. Atau Soreang yang terbentuk di atas delta Ci Sondari dan Ci-Widey, serta Majalaya yang terbentuk di atas delta Ci Tarum.

Penelitian mendalam mengenai endapan danau pertama kali dipublikasikan oleh Stehn dan Umbgrove pada tahun 1929. Penelitian mereka terutama dilakukan ke arah hilir dari Curug Jompong, jauh sebelum Ci Tarum tergenang oleh Waduk Saguling, sehingga sangat penting karena lokasi penelitiannya kini tak bisa diakses lagi. Hasilnya adalah bahwa lapisan-lapisan horizontal endapan danau ini mengendap di atas lapisan yang terlipat, dan pada lapisan yang lebih tua ini didapatkan fosil-fosil mamalia, seperti Bos, Sus, dan Cervus, selain juga fosil-fosil moluska (Stehn & Umbgrove, 1929).  

Pada tahun 1934, R.W. van Bemmelen mempublikasikan peta geologi Lembar Bandung skala 1:100.000. Dalam peta ini dan buku keterangan peta, Bemmelen mengemukakan mengenai Danau Bandung dan sejarah pembentukannya (Bemmelen & Szemian, 1934). Van Bemmelen sangat tertarik terhadap evolusi geologi di Cekungan Bandung, hingga menuliskan cukup rinci dalam kitabnya yang paling penting, The Geology of Indonesia. Menurutnya pembentukan Danau Bandung terjadi akibat letusan Tangkuban Perahu, yang ia beri nama Erupsi Fase A. Erupsi ini membendung Ci Tarum dan menghasilkan danau dengan ketinggian maksimal 720 mdpl, hingga kemudian menyurut akibat menemukan jalan keluarnya di sekitar Saguling (Bemmelen, 1949). Ia juga menyitir pendapat arkeolog, Von Koenigswald yang melaporkan penemuan artefak obsidian pada lereng-lereng di Cekungan Bandung. Menurut Koenigswald, karena artefak hampir selalu ditemukan pada wilayah yang cukup tinggi, maka masuk akal bila di tengah-tengahnya terdapat danau (Koenigswald, 1935). Menurutnya juga, sumber obsidian berasal dari wilayah sekitar Kendan dan Nagrek, yang berada di sekitar elevasi 700 mdpl, sehingga mungkin manusia purba ketika itu berperahu melewati danau untuk saling bertukar barang, salah satunya komoditas berbahan obsidian. Keberadaan artefak dan kisah Sangkuriang yang begitu sesuai dengan kejadian geologi, membuat van Bemmelen meyakini, bahwa manusia purba Bandung menyaksikan pembendungan Ci Tarum oleh letusan gunungapi yang terjadi dalam satu malam.

Gambar 1 Lokasi penemuan artefak dan delineasi Danau Bandung Purba (Koenigswald, 1935)

Endapan danau Bandung dipetakan sebaran dan stratigrafinya oleh Koesoemadinata dan Hartono pada tahun 1981. Menurut mereka, Endapan Danau Bandung dapat dikelompokkan menjadi Formasi Kosambi (Koesoemadinata & Hartono, 1981). Nama ini digunakan untuk menggantikan nama Endapan Danau yang digunakan dalam peta geologi yang ada sebelumnya (Alzwar et al., 1992; Silitonga, 1973; Sujatmiko, 1972). Ciri litologinya berupa batulempung, batulanau, dan batupasir, yang belum terkompaksi dengan baik, dengan umur Holosen.

PenulisTinggi Max Danau BandungKeteranganSumber
N.J. Taverne700-740 mdplBerdasarkan rekonstruksi elevasi lembah di perbukitan kapur Rajamandala(Stehn & Umbgrove, 1929; Taverne, 1926)
Von Koenigswald723 mdplBerdasarkan elevasi tertinggi di Padalarang, di mana Danau Bandung mungkin bocor. Penemuan artefak di lereng-lereng Cekungan Bandung(Koenigswald, 1935)
Van Bemmelen720 mdplHasil erupsi Gunung Tangkuban Perahu fase A(Bemmelen, 1949)
Koesoemadinata dan Hartono725 mdplPemetaan stratigrafi Cekungan Bandung(Koesoemadinata & Hartono, 1981)
Suparan-Dam700 mdplPemetaan geologi Kuarter Cekungan Bandung(M. A. C. Dam & Suparan, 1992)
Rien Dam690 mdplBerdasarkan data endapan danau dan rekonstruksi kompaksi sedimen(DAM, 1994)
Brahmantyo-Bachtiar700-712.5 mdplAnalisis terhadap pola kontur 700 dan 712.5 mdpl(Brahmantyo & Bachtiar, 2009)
Tinggi maksimal permukaan Danau Bandung Purba menurut beberapa peneliti

Bobolnya Danau Bandung

Sampai titik ini, hampir semua peneliti bersepakat bahwa Danau Bandung purba itu pernah eksis. Dan semua bersepakat bahwa jebolnya Danau Bandung terjadi di Lembah Ci Tarum yang menoreh Perbukitan Rajamandala, di sebelah barat Bandung. Namun di titik mana?

Ketika pertama keluar dari lembah yang terjal, Ci Tarum menghadapi bukit batugamping yang bernama Pasir Sanghyang Tikoro. Bukit ini dinamai demikian karena di bagian bawahnya terdapat goa kapur, di mana aliran deras Ci Tarum masuk ke dalamnya. Saking megahnya, hal ini membangkitkan imajinasi, Ci Tarum masuk ke dalam tenggorokan Tuhan, karena begitulah arti secara harfiah dari Sanghyang Tikoro. Saking megahnya, goa ini telah dikunjungi begitu banyak orang, bahkan seorang Antoine Payen, yang merupakan guru dari pelukis legendaris Indonesia, yaitu Raden Saleh, pada sekitar 1820an pernah melukis goa ini.  

Catatan paling tua terkait Pembendungan Danau Bandung di Sanghyang Tikoro mungkin dari Jonathan Rigg, seorang Inggris yang menulis kamus Sunda-Inggris (Rigg, 1862). Dalam lema mengenai Tangkuban Prahu, ia menyatakan bahwa pembendungan Ci Tarum terjadi di Sanghyang Tikoro. Rigg mencatat ini berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, yang melegenda di Tatar Sunda. Saking melegendanya, menurut T. Bachtiar, pada masa Perang Kemerdekaan, pejuang Jawa Barat berencana meledakkan Sanghyang Tikoro (Brahmantyo & Bachtiar, 2009), sehingga alih-alih Bandung Lautan Api, yang terjadi adalah Bandung yang kembali tergenang. Legenda ini kemudian diformalkan ke dalam sains oleh Katili yang menulis buku Geologi Indonesia, dan digunakan sebagai buku panduan Ilmu Bumi bagi guru Geografi, sehingga hampir semua meyakini Sanghyang Tikoro sebagai tempat bobolnya Danau Bandung (Brahmantyo & Bachtiar, 2009).

Gambar 2 Sanghyang Tikoro sebelum adanya PLTA Rajamandala

Baru kemudian pada tahun 2002, melalui analisis geomorfologi, diketahui bahwa Danau Bandung tak pernah mencapai Sanghyang Tikoro, sehingga mustahil di Sanghyang Tikoro terjadi kebocoran. Alih-alih Sanghyang Tikoro, bobolnya Danau Bandung diduga terjadi lebih ke hilir, tepatnya di lembah sempit antara Pasir Kiara dan Pasir Larang (Brahmantyo et al., 2002). Bagaimana mekanismenya? Hal ini masih berupa hipotesis. Menurut Brahmantyo, pembobolan terjadi karena erosi ke hulu yang ekstrim karena muka air laut surut begitu dalam pada masa glasiasi terakhir (Brahmantyo & Bachtiar, 2009).

Salah satu penelitian yang memanfaatkan metode modern adalah penelitian dari Rien Dam pada dekade 1990an. Dam tertarik pada endapan danau Bandung, karena meyakini bahwa endapan ini menyimpan rekaman iklim yang sangat panjang dan berguna bagi rekonstruksi paleoiklim global, karena merekam sejarah beberapa kali siklus glasial dan interglasial. Dam melakukan pengeboran dan menganalisis inti bor yang dihasilkan, baik secara deskriptif, dan juga dengan analisis palinologi, sedimentologi, dan juga penanggalan absolut menggunakan Karbon-14 dan Uraniun-Thorium. Beberapa hasil penting yang didapatkan antara lain bahwa pengendapan sedimen danau terjadi sejak sekitar 130 ribu tahun silam dan mengalami fluktuasi dan sesekali diselingi letusan-letusan gunungapi yang kuat (DAM, 1994). Endapan danau tidak terendapkan lagi sejak 16 ribu tahun silam, yang mana menggugurkan pendapat van Bemmelen, yang menduga pembendungan terjadi 6000 tahun silam (Bemmelen, 1949; Brahmantyo & Bachtiar, 2009). Dam juga merekonstruksi kemungkinan elevasi tertinggi endapan danau, dan menduganya pada elevasi 690 mdpl, setelah mempertimbangkan subsidensi dan kompaksi (R. Dam, 2021).

Dalam penelitiannya juga Dam menyatakan bahwa pembentukan danau tidak semata terjadi karena letusan gunungapi yang membendung Ci Tarum saja, melainkan juga subsidensi tektonik pada Cekungan Bandung dan perubahan iklim menjadi lebih humid pada sekitar 125 ribu tahun silam. Selama lebih dari 100 ribu tahun eksis, Danau Bandung Purba mengalami fluktuasi ketinggian, akibat efek iklim, dan juga erupsi gunungapi. Letusan gunungapi yang materialnya mengisi cekungan, mengakibatkan muka danau menjadi naik, terutama pada 35-20 ribu tahun yang lalu. Sementara itu hilangnya Danau Bandung terjadi karena beberapa faktor, yaitu: 1. Sedimentasi yang mengisi penuh cekungan, 2. Faktor iklim, 3. Erosi dari Ci Tarum yang mengakibatkan turunnya elevasi dasar sungai (DAM, 1994).

Peluang Penelitian Lanjutan

Pada tahun 1985, Bendungan Saguling diresmikan Pemerintah. Bendungan ini dibangun di daerah Saguling, tepatnya antara Pasir Pancalikan dan Pasir Saguling pada elevasi sekitar 650 mdpl. Dari bendungan, air dialihkan dan kemudian dikeluarkan melalui pipa pesat ke PLTA yang berada di dekat Pasir Sanghyang Tikoro. Pembendungan ini mengakibatkan segmen Ci Tarum antara Saguling dan Sanghyang Tikoro menjadi kering karena hanya dipasok oleh air dari tangkapan air di sekitar lembah ini saja.

Suksesnya PLTA Saguling menginspirasi pembangunan PLTA lainnya, yaitu PLTA Rajamandala yang baru diresmikan pada 2019 silam. PLTA ini memanfaatkan air yang baru dilimpaskan dari PLTA Saguling. Aliran yang keluar kemudian dipindahkan melalui terowongan yang menerobos bukit, untuk kemudian memutar turbin. Akibat dari pembangunan PLTA ini cukup dramatis. Debit aliran Ci Tarum mulai dari Sanghyang Tikoro hingga PLTA Rajamandala menjadi cukup kecil, dari sebelumnya sangat deras dan bisa menjadi tempat latihan arung jeram. Pemindahan aliran ini juga mengakibatkan Goa Sanghyang Tikoro menjadi kering, sehingga bisa disusuri, mungkin untuk pertama kalinya setelah selama puluhan ribu tahun dialiri oleh aliran deras Ci Tarum.

Dalam satu kesempatan menyusuri Goa Sanghyang Tikoro dari arah Sanghyang Kenit, dijumpai endapan-endapan sungai yang terendapkan sangat baik di lorong-lorong goa. Endapan kerakal-berangkal yang membundar dengan sortasi baik dan memiliki struktur imbrikasi mencirikan bahwa di dalam lorong-lorong goa ini, aliran sungai mengalir dengan arus yang sangat deras, namun stabil dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu juga di beberapa tempat dijumpai endapan-endapan banjir, yang mencirikan bahwa di dalam goa ini juga beberapa kali terjadi banjir, atau mungkin cukup rutin. Di dalam goa dijumpai batang kayu yang cukup besar yang mencirikan besarnya aliran air yang masuk ke dalam goa ini.

Gambar 3 Endapan sungai di dalam goa Sanghyang Tikoro. Foto oleh Deni Sugandi

Penemuan ini cukup menarik, sehingga memancing rasa ingin tahu. Menurut pendapat para ahli sejak zaman kolonial, Ci Tarum sebelumnya tidak mengalir lewat Saguling-Rajamandala. Aliran ini relatif baru. Mungkin setelah terjadi pembendungan. Jika pembendungan diduga terjadi pada 130 ribu tahun silam, dan surutnya Danau Bandung terjadi pada 16 ribu tahun silam, maka mungkin Goa Sanghyang Tikoro baru pertama kali dimasuki Ci Tarum pada saat itu juga. Artinya, jika kita menggali parit pada endapan sungai di dalam Goa Sanghyang Tikoro dan mencapai dasarnya, kemudian mencari material yang bisa dianalisis umurnya, apakah kita bisa mengetahui kapan pertama kali endapan sungai masuk ke dalam goa ini? Jika hipotesis ini benar, apakah kita bisa tentukan kapan Danau Bandung jebol?

Penutup

Mengetahui kapan dan dimana Danau Bandung Jebol mungkin bukan hal yang menyangkut hidup dan mati atau terkait dengan hajat hidup orang banyak. Namun rasa ingin tahu adalah bagian dasar dari diri manusia, dan keingintahuan terkait Danau Bandung telah ada sejak ratusan tahun silam. Sangat menarik untuk menelusuri keping-keping berserak mengenai sejarah tempat kita tinggal, yang kini perlahan mulai terangkai menjadi kisah yang utuh. Mulai dari terbentuknya danau, pelamparan danau, bagaimana surutnya, dan kini kita mencoba menjawab kapan terjadinya, secara lebih eksak dan presisi. Wilayah Lembah Ci Tarum di Saguling-Rajamandala kini sedang bersolek untuk mengembangkan diri menjadi objek geowisata kelas dunia, yang salah satu elemennya adalah latar belakang ilmu pengetahuan. Semoga ada kesempatan untuk melakukan penelitian terkait hal ini.

Referensi:

Alzwar, M., Akbar, N., & Bachri, S. (1992). Peta Geologi Lembar Garut (1st ed.) [Map]. Direktorat Geologi, Dinas Pertambangan Republik Indonesia.

Bemmelen, R. W. van. (1949). The geology of Indonesia (Vol. 2). Govt. Printing Office The Hague. https://nla.gov.au/nla.cat-vn2287853

Bemmelen, R. W. van, & Szemian, J. (1934). Geologische Kaart van Java Blad 36, Bandoeng [Map]. Batavia : Topografische Dienst. https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/813208

Brahmantyo, B., & Bachtiar, T. (2009). Wisata Bumi Cekungan Bandung (1st ed.). Truedee Pusaka Sejati. https://catalogue.nla.gov.au/Record/4603322

Brahmantyo, B., Sampurno, & Bandono. (2002). Analisis Geomorfologi Perbukitan Saguling-Sangiangtikoro: Pengeringan Danau Bandung Purba tidak Melalui Gua Sangiangtikoro. Majalah Geologi Indonesia, 17(3).

DAM, M. A. C. (1994). The Late Quaternary evolution of the Bandung Basin, West Java, Indonesia. Thesis VU Amsterdam. https://ci.nii.ac.jp/naid/10013487372/

Dam, M. A. C., & Suparan, P. (1992). Geology of the Bandung Basin. Republic of Indonesia, Department of Mines and Energy, Directorate General of Geology and Mineral Resources, Geological Research and Development Centre.

Dam, R. (2021, July 24). The Geology of Bandung Basin and Potential Future Research. Geologi ITB Menyapa #16, Zoom Meeting. https://youtu.be/nPJdRDpcDe4?t=1736

Hochstetter, C. G. F. R. von. (1864). Geologische Ausfluge auf Java. https://www.zobodat.at/pdf/MON-GEO_0032_0113-0152.pdf

Junghuhn, F. W. (1841). Uitstapje naar de bosschen van de gebergten Malabar, Wayang en Tilu, op Java. bij S. en J. Luchtmans. https://books.google.co.id/books?id=2oP5Vr-eGoIC

Koenigswald, G. von. (1935). Das Neolithicum der Umgebung von Bandung. Tijdschriff voor Indische Taal. Land-En Volkenkunde, 75, 394–419.

Koesoemadinata, R. P., & Hartono, D. (1981). Stratigrafi dan Sedimentasi Daerah Bandung. Ikatan Ahli Geologi Indonesia, 23 pp.

Rigg, J. (1862). A Dictionary of the Sunda language of Java, by Jonathan Rigg … Lange.

Silitonga, P. H. (1973). Peta Geologi Lembar Bandung (1st ed.) [Map]. Direktorat Geologi, Dinas Pertambangan Republik Indonesia.

Stehn, C. E., & Umbgrove, J. H. F. (1929). Bijdrage tot de geologie der vlakte van Bandoeng. Tijdschr. K. Nederl. Aardrijkskd. Genoot., 46, 301–314.

Sujatmiko. (1972). Peta Geologi Lembar Cianjur (1st ed.) [Map]. Direktorat Geologi, Dinas Pertambangan Republik Indonesia.

Taverne, N. J. M. (1926). Vulkaanstudien op Java. Algemeene Landsdrukkerij.

Verbeek, R. D. M., & Fennema, R. (1896). Geologische beschrijving van Java en Madoera (Vol. 2). JG Stemler Cz.

Perjalanan Junghuhn dari Bogor ke Bandung Tahun 1844

Diterjemahkan oleh Muhammad Malik Ar Rahiem dari Buku Reizen Door Java, voornamelijk door Het Oostelijk Gedeelte van dit Eiland oleh Franz Wilhelm Junghuhn, yang diterbitkan tahun 1850 di Leiden.

Cianjur, 7 Agustus 1844

“Salam dariku, gunungku dengan puncak yang bercahaya merah,
Salam dariku, matahari yang menyinarinya!”

Schiller: Spaziergang

Sebelum Mentari pagi menembakkan sinar keemasannya dari balik Pegunungan Megamendung, 6 ekor kuda bergerak keluar dari stasiun Wangun (di atas Buitenzorg). Kuda-kuda itu menarik kereta kuda empat roda yang aku naiki, bergerak dengan berirama. Tak lama kemudian tiga puncak gunung di sekitar Buitenzorg (Salak, Gajak, dan Ciapus), tersinari terang cahaya surya pagi, sementara di bagian barat daya menuju Gede (Cikopo dan Cisarua), serta daerah hingga kaki Gunung Salak masih tertutup oleh bayang-bayang pegunungan Megamendung.

Gunung Salak. F. Junghuhn: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart. 2. Band

Aku memandangi puncak ini dengan seksama. Puncak yang telah didaki oleh begitu banyak naturalis anggota Naturkommisie sejak 1812, sementara itu 50 gunung lainnya di Jawa, hingga kini masih belum diinjak oleh para naturalis.

Udara pagi yang menyegarkan membangkitkan gairah berpetualang dalam diriku. Sementara keindahan dan kemegahan pepohonan dan tetanaman menakjubkanku. Di sini pepohonan masih tersembunyi dalam bayang-bayang hutan yang gelap. Di tempat lain aku lihat beberapa pucuk pohon palem yang sudah berkilauan diterpa sinar Mentari. Suasana ini sangatlah puitis, menghidupkan pikiranku, yang begitu mudah tergoda oleh kesan dari luar, dan membuat hidup dipenuhi kebahagiaan.

Meski demikian, tak ada hal lain yang lebih memancing rasa antusias selain dari kereta di Jawa, yang ditarik oleh Kuda Jawa, dan dikemudikan oleh kusir Jawa. Dari luar roda berdetak dan kuda-kuda mendengus. Dari depan terdengar tepukan keras dari kusir, dan dari belakangnya, tiga orang berteriak, seolah pertunjukan suara tanpa henti, ayoo – oh – ayoo – brr – hui – bur,bur! Tentu tidak dengan gaya Jenny Lind, tepi tetap menyentuh hati, sekaligus memekakkan telinga.

Di Pondok Gede, matahari mulai naik dan menyinari tanaman dari Afrika, yaitu perkebunan Conchineal-Cactus yang berada di satu sisi dari hutan pedesaan yang indah, yang juga muncul berkelompok dengan subur di sisi yang lainnya. Aku sudah tinggal selama 10 tahun di Jawa, tapi tetap saja terpana melihat kubah indah pohon Rambutan (Nephelium lappaceum), Mangga, dan banyak pohon-pohon buah lainnya, atau dedaunan Parkia biglobosa yang halus, bersirip, dan lembut menyebar, serta puncak pohon kelapa dan pinang. Ada kegembiraan yang membuncah, sebagaimana saat pertama kali aku melihatnya.

Kekuatan kebiasaan menumpulkan semua kesenangan. Kita baru bisa memahami keindahan alam melalui perubahan yang kontras, perubahan, dan pergantian yang signifikan. Hal itu harus menjadi rangsangan yang menjaga kerentanan pikiran kita, agar terus-menerus segar dan merasa hidup. Pada akhirnya, seseorang sangat merindukan bentuk-bentuk yang lebih solid, sebagaimana yang ditunjukkan alam kepada kita di utara: pemandangan padang rumput yang monoton, rumpun pohon ek yang tumbuh rendah, atau kebun ceri.

Untuk itu, maka jayalah terus industri mesin yang menjadikan perjalanan menjadi mudah, yang menjadikan perjalanan kereta kuda menjadi begitu nyaman. Semoga Tuhan menguatkan keretaku, terutama membuat as roda bertahan setidaknya sampai aku mencapai Jawa Tengah.

“Agar kita bisa berpencar padanya,
Itulah satu-satunya alasan dunia ini begitu besar”

Segera ketika sore tiba, sang kusir melihat kereta kudaku dengan tatapan keheranan. Ia mengingat perjalanan sebelumnya ke Cianjur, di mana ketika itu ia menjatuhkanku dari kereta hingga dua kali. Aku merasa cukup gembira untuk bertemu kenalan lama. Aku berjanji jika nanti bertemu lagi aku akan memberinya dua gulden, alih-alih satu gulden seperti harga biasa.

Di jalan menuju Megamendung (ketinggian 4620 kaki), aku terkagum dengan fakta bahwa pembangunan terjadi sangat cepat di sini dan populasi meningkat dengan cepat. Hal ini tidak mungkin terjadi tanpa peningkatan kesejahteraan masyarakat secara simultan. Beberapa tahun yang lalu, di tempat ini semua masih tertutup oleh hutan dan merupakan habitat badak. Sekarang banyak keluarga yang telah menetap di sana, dan sebuah warung yang dibangun dengan baik, menawarkan makanan, kopi, dan kue-kue untuk para pelancong. Warung ini berada di titik tertinggi jalan yang dibangun.

Di sini terlihat bahwa pembangunan jalan yang baik memiliki dampak yang kuat terhadap perluasan budidaya di suatu negara. Orang Jawa senang mengikuti jalan dan bermukim di sekitarnya. Oleh karena itu, pembentukan koloni baru, jika diperlukan, dapat dengan mudah diarahkan dengan membangun jalan menuju titik-titik tertentu. Aku tidak akan menjelaskan mengenai kondisi jalanan di Megamendoeng, yaitu jalan tertinggi yang bisa dilalui kendaraan di Jawa. Lintasan tertinggi yang bisa dilalui dengan menunggang kuda adalah lintasan di atas Pegunungan Dieng, dari Pekalongan melewati Batoer ke Wonosobo (titik tertinggi sekitar 6500 kaki). Kemudian jalur yang melewati Pegunungan Tengger, dari Tosari ke Wonosari, dan dari Kebo glaga ke Ledok-ombo. Lintasan terakhir mencapai 7800 kaki di titik tertingginya.

Di ngarai lembah di seberang celah, di antara bebatuan vulkanik, sungai Ci Kundul mengalir ke hilir. Sungai ini memisahkan Megamendoeng (sebagai rantai dari punggungan Pangrango) dari kaki Gede yang tinggi dan rata. Di atasnya, lebih jauh ke selatan, terletaklah Cipanas. Di tepi Ci Kundul, sedikit di bawah dekat jembatan, orang dapat melihat dinding vertikal berwarna abu-abu, cukup halus dengan tinggi sekitar 40 kaki. Dinding ini hanya terdiri atas satu lapisan abu vulkanik yang mengeras (orang Sunda menyebutnya Wadas). Abu ini jarang ditemukan di sekitar Gede, tapi di celah yang sempit ini mungkin merupakan tempat yang sangat tepat untuk berakumulasi, dan mungkin tersapu (pada erupsi sebelumnya) dengan aliran dari Ci Kundul, sebagai suatu aliran lumpur.

Peta Gunung Gede-Pangrango dan Sungai Ci Kundul. F. Junghuhn: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart. 2. Band

Gunung-gunung di daerah ini memiliki nama yang spesial (Gunung Peser, Gunung Rasamala, Gunung Tjipanas, dll). Pegunungannya sendiri, jika dilihat dari kacamata geologi, terbentuk sekaligus dalam satu kesatuan, dan terdiri atas deretan bukit-bukit yang tersambung, di mana dasarnya adalah aliran lava yang berasal dari Gede.

Kami akhirnya tiba di Cianjur pukul 5.30 sore.

Bandung, 9 Agustus 1844

Pada pagi hari di tanggal 8, kami mulai bertolak ke arah timur. Dataran Cianjur terletak di kaki kerucut Gunung Gede, berupa hamparan yang luas, miring menurun menjauh dari pusat gunung berapi. Daerah sebelah selatan Cianjur menurun ke arah tenggara, menuju kaki dari Perbukitan Djampang (Kendeng). Sementara daerah di sebelah timur Cianjur, di mana Jalan Raya Pos berada, merupakan dataran dengan kemiringan landai ke arah timur, menuju lembah Ci Sokan. Sungai ini berhulu di Pegunungan Kendeng, jauh di selatan, dan mengalir menuju utara.

Beda elevasi dari dataran Cianjur ke dasar Ci Sokan adalah 584 kaki (Cianjur 1450 kaki, Ci Sokan 866 kaki), dengan jarak 8 menit geografis (sekitar 2 mil geografis). Dataran ini sangat cocok untuk budidaya padi, dan kita lihat di sini sawah-sawah yang luas memenuhi lereng-lereng Gunung Gede, membentuk teras-teras hijau, yang basah oleh air, yang di antaranya ditumbuhi oleh pohon-pohon buah, yang seolah menjadi titik-titik berwarna hijau gelap, di antara hamparan padi hijau yang memanjakan mata. Siapapun yang telah terbiasa dengan pemandangan Eropa, mungkin tak menyangka ini adalah Jawa. Hamparan hijau pesawahan, yang di kiri-kanannya pohon-pohon buah-buahan, dengan pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang. Masyarakat yang tinggal di sini adalah orang-orang yang penuh syukur, yang tinggal di pondok-pondok bambu sederhana.

Dataran yang berupa kaki gunung yang luas dan turun ke arah yang berbeda, dengan kemiringan yang rata sempurna, jarang ditemukan di Jawa. Biasanya lereng yang lebih rendah dari gunungapi bergabung dengan lereng gunungapi lainnya dan membentuk teras. Di beberapa gunungapi, kaki gunung menerus terus sampai ke pantai, seperti teramati di kaki selatan Merapi. Dataran Jogjakarta yang terbentuk dengan geomorfologi ini, meski 2/3 lebih rendah dari dataran Cianjur, bisa menjadi pembanding yang baik.

Di sisi kanan Ci Sokan, morfologi kembali menjadi dataran. Tren menurun ke arah timur telah berakhir, memasuki medan datar yang bergelombang, dengan elevasi merata antara 850-870 kaki sejauh 6 pal ke arah timur, hingga ke Ci Tarum, kemudian ke Dataran Rajamandala, lalu menerus hingga ke batas pegunungan batugamping Mesigit, yang menjadi batas sebelah barat dari Dataran Tinggi Bandung. Di Bandung, elevasi meningkat dua kali lipat lebih tinggi.

Ci Sokan dan Ci Tarum mengalir hampir sejajar satu sama lain. Keduanya mengalir dari selatan ke utara, dan kemudian bergabung pada jarak beberapa pal ke arah utara Jalan Raya Pos. Kedua sungai ini menggerus begitu dalam, membentuk ngarai sedalam hingga 150-250 kaki, dengan lebar dua kali lipat kedalamannya. Tepi-tepiannya terjal, dengan dinding curam menurun secara tegak lurus. Saluran di atasnya jatuh menderu ke bawah. Sampai kedalaman yang sama dengan kedalaman ngarai-ngarai ini, daratan di antara lembah (juga dataran Cianjur dan Rajamandala) hanya terdiri dari puing-puing vulanik, yaitu bongkah dan konglomerat dari berbagai ukuran, yang menumpuk di sini setebal beberapa ratus kaki. Mencirikan suatu lembahan luas antara Cianjur dan Pegunungan Batugamping Rajamandala, sebelum menjadi morfologi seperti sekarang.

Kedalaman dasar Ci Sokan berdasarkan observasi barometer adalah 150 kaki, sementara Ci Tarum 255 kaki. Dasar dari kedua ngarai ini masihlah puing-puing batuan vulkanik, sehingga kita tak bisa tahu dengan pasti seberapa tebal lapisan ini, juga lapisan apa yang melandasinya. Kita mungkin tahu informasi ini jika menyusuri ngarai ini jauh ke hilir. Kita tidak tahu pula bahan penyusun lapisan ini berasal dari mana. Apakah dari Burangrang? Apakah dari Gede? Ataukah dari Patuha? Yang kemudian terlimpas jauh hingga ke sini karena dorongan erupsi gunungapi. Kemudian berapa lama kemudian waktu yang dibutuhkan untuk terbentuknya lapisan koral Mesigit, yang kini membumbung tinggi hingga elevasi 2500 kaki. Sulit untuk membayangkannya jika membandingkan dengan sifat alam dari material rombakan gunungapi. Kebanyakan terdiri atas trakhit dengan kristal hornblende yang besar, lalu kristal feldspar yang bersifat gelas tersebar acak di sana, dengan masa dasar feldspar. Lebih jauh lagi, batuan ini biasanya didominasi oleh hornblende, sampai suatu titik bisa kita sebut sebagai batuan hornblende, yang porous, dan sesekali bisa kita lihat gelembung udara besar dan kecil.

Ci Sokan di titik ini telah menggerus lapisan, membentuk ngarai yang dalam, dan menghempaskan begitu banyak pecahan-pecahan dinding yang terakumulasi di dasar sungai. Lokasi pecahan-pecahan yang seolah membentuk pulau ini tertutup oleh lapisan tanah, dengan ketebalan sekitar 5 kaki. Di tepi-tepi teras Ci Tarum (atau setidaknya di mana itu berpapasan dengan jalan), bongkah-bongkah yang besar telah hilang, dan digantikan oleh lapisan tebal debu-pasir volkanik yang berwarna abu kekuningan dan memiliki karakteristik khusus. Di banyak tempat, pasir-pasir ini sudah terlapuk dan berubah menjadi lempung.  

Di banyak tempat, lapisan pasir atau debu ini berselingan dengan lapisan batuan membundar yang terdiri atas trakhit, dengan ketebalannya secara bergantian 5 hingga 10 kaki. Namun, di dataran Rajamandala, di sisi kanan Tji Tarum, terdapat bukaan jalan dengan ketinggian hingga 50 kaki. Di sini hanya tampak tanah lempung yang gembur, yang tampaknya dibentuk oleh dekomposisi batuan konglomerat yang aku sebut sebelumnya.

Pemandangan perbukitan kapur dari Jembatan Citarum Rajamandala

Lembah Ci Sokan dan Ci Tarum adalah satu-satunya lembah di Jawa yang serupa dengan lembah dataran tinggi Sumatera, seperti di Batang Agam (di Padang), atau lembah di Toba di Tanah Batak. Semua sungai-sungai di lembah ini terbentuk di atas lapisan konglomerat. Sebagai contoh Sungai Agam menyayat batuan apung sedalam hingga 500 kaki, seolah memotong dataran tinggi ini. Badan air Ci Tarum kira-kira sepertiga lebih besar daripada Ci Sokan, ini karena sungai ini sebelumnya menampung seluruh aliran air dari dataran tinggi Bandung. Warna aliran ini hampir selalu keruh karena sedimen yang dibawanya. Sedimen coklat ini membentuk kontras yang tajam dengan air jernih dari TJi Bodas yang lebih kecil, yang mengalir dari mata air.

Mungkin karena sulitnya mencari air, karena lokasi aliran sungai yang begitu jauh di bawah permukaan, maka daerah antara Ci Sokan dan Ci Tarum adalah suatu kawasan liar yang tak berpenghuni, dengan pepohonan yang rendah, namun alang-alang yang begitu tinggi. Spesies alang-alang dan gelagah (Imperata alang, Sorghum tropicum, Imperata glaga) menjadi tutupan lahan yang utama di sini. Di antara rerumputan ini, ada spesies Bambu, Emblica officinalis Gartn, Semak Melastoma malabatricum, dan di sana-sini beberapa Colberta obovate yang tersebar, kadang membentuk rumpun kecil seperti di taman. Tapi jarang ditemukan Ficus dan jenis pepohonan lainnya. Relung liar yang berumput dan semak belukar yang tebal ini sangat kontras dengan hutan tinggi yang teduh dan lembab yang ditemukan di sekitarnya. Lebih mudah untuk melewati hutan belantara yang tinggi dan gelap daripada melewati hutan semak yang sangat panas, dan terlebih lagi merupakan tempat favorit rusa, babi, dan harimau.

Lambatnya perjalanan kami terutama karena penyeberangan di kedua sungai. Hanya salah satu di antaranya, yaitu Ci Sokan yang memiliki jembatan yang terbuat dari balok kayu. Gerak kereta begitu lambat karena kerbau-kerbau yang begitu kepayahan menarik kereta melewati jalan yang curam. Dari pos Rajamandala, di tepi kanan Ci Tarum, kami berkuda. Kereta kami ditarik oleh 6 ekor kuda yang bergerak dengan cepat melewati dataran indah Rajamandala. Perjalanan menanjak, sesekali saja menurun. Di sana sini aku lihat tanaman nila, di sisi lain ditanami teh. Hingga akhirnya kami tiba di perbatasan dataran tinggi Bandung, yaitu suatu pegunungan kapur.

Kami bertemu dengan penyambut kami yang sabar, dengan penampakan yang bodoh dan tidak peka (maksudku adalah si kerbau). Kerbau-kerbau ini menarik kami perlahan tapi pasti menuju tujuan. Sepanjang jalan yang perlahan ini, kami punya banyak waktu untuk mengamati situasi pegunungan batukapur, dan bisa melihat beberapa lapisan fosil koral, di mana banyak terlihat bekas-bekas kerang-kerangan. Koral-koral ini terletak di kaki gunung Ciguntur, di sekitar Ci Bogo, tak seberapa jauh dari stasiun Cisitu dan di sebelah timur dari menara gunung kapur Kentjana. Puncak batukapur Kentjana, Mesigit, dan Karang menjulang indah ke kiri, di sebelah utara jalan. Warna putih kapur ini bersinar kontras melalui hijau hutan di sekitarnya. Lebih jauh ke depan, di sebelah selatan jalan, berdiri tegak puncak keempa, sebuah batugamping yang tandus, Gunung Hawu, yang seolah-olah hanya potongan-potongan berbentuk dadu yang ditumpuk satu sama lain. Kaki gunung ini merupakan titik tertinggi dari jalan ini, yaitu pada ketinggian 2.567 kaki. Dari sini jalanan stabil melandai sampai ke dataran Bandung.

Gunung Masigit di Padalarang dilihat dari Puncak Pasir Pawon

Dataran ini semakin luas di hadapan mata para pengembara. Gunung-gunung di hadapan mata bersinar memukau. Puncak-puncak gunung api tersambung satu sama lain, terpandang jelas menembus sanubari. Bening air di danau seolah cermin. Danau buatan yang dibuat dengan membangun bendungan, dan terletak di sebelah kiri jalan. Lahan padi yang ditanam dengan baik disela oleh rumah dan desa-desa, menjadi penyambut para pengelana.

Tanpa menunggu lama, tentu aku merekomendasikan dataran tinggi yang cantik ini. Paling luas di Jawa, pada ketinggian ini (secara umum di Karesidenan Priangan, tipe bentangalamnya seperti di Sumatera, berbeda dengan di Jawa pada umumnya yang berupa dataran rendah dengan gunung-gunung terisolasi). Kepada seluruh petualang, kalian akan menemukan banyak bahan-bahan untuk pertimbangan ilmu pengetahuan, baik meteorologi, botani, dan geologi.

Pada jam 2 siang, aku tiba di Bandung yang telah cukup padat populasinya, meskipun tetap tenang dan menyenangkan. Aku menyiapkan beberapa persiapan untuk melanjutkan perjalanan aku ke beberapa tempat di Priangan, sebelum berangkan ke Jawa Timur. Ah, Gunung Guntur, tak sabar untuk aku datangi lagi. Mr. Nagel (Asisten Residen Bandung) dan Jenderal Cleerens (Residen Priangan) memberikan aku dukungan yang sangat berharga. Jenderal Cleerens bahkan memberikan aku surat pengantar untuk menghadap Residen lainnya.

Junghuhn Seorang Geologist

Dalam pengetahuan komunal masyarakat Indonesia, Junghuhn dikenal sebagai orang yang membuat grafik lokasi ideal tumbuh kembang tanaman berdasarkan elevasi ketinggian. Pengetahuan ini tersebar, karena dimuat dalam pelajaran geografi ketika SD dan SMP. Setidaknya begitu belasan tahun lalu, ketika saya masih sekolah dasar dan sekolah menengah dulu.

Ketika masuk dalam pelajaran sejarah, nama Junghuhn kembali mengemuka mengingat jasanya dalam budidaya kina. Junghuhn dikenang sebagai perintis budidaya kina di Indonesia, hingga pada awal abad 20, Indonesia menguasai pasar kina dunia.

Tugu Makam Junghuhn di Lembang, dikelilingi pohon-pohon kina. Telah ditetapkan sebagai Cagar Alam Junghuhn seluas 2.5 ha

Selain dari dua bidang tersebut, nama Junghuhn tak banyak saya lihat. Ketika saya berkuliah di jurusan geologi, namanya tak muncul. Mungkin hanya sekali, yaitu ketika almarhum Pak Budi Brahmantyo menceritakan tentang sketsa Junghuhn di Situ Patengan. Namun selebihnya ia tak terdengar.

Padahal Franz Junghuhn (lahir di Mansfeld Jerman, 1809 dan wafat di Bandung, 1864) adalah salah satu perintis penelitian geologi di Hindia Belanda, terutama di Jawa. Karyanya yang paling masyhur, Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart (Jawa, Bentuk, Vegetasi, dan Struktur Pembentuknya), yang terdiri atas tiga volume, pada volume III setebal 329 halaman, khusus membahas mengenai geologi Pulau Jawa. Di dalamnya tercakup pembahasan mengenai sebaran mineral, sedimen, morfologi pegunungan, fosil hewan dan tanaman, formasi-formasi penting, batuan gunungapi, keberadaan metal, bahkan hingga mata air panas. Deskripsi fosil dan lokasi penemuannya menjadi lokasi A-Z, menjadi sumbangan sangat berharga bagi penelitian stratigrafi di Hindia.

Sementara volume I membahas mengenai tanaman-tanaman dan volume II membahas mengenai gunungapi. Pada tahun 1855, Junghuhn mempublikasikan peta Pulau Jawa skala 1:350.000 yang ia bagi ke dalam 4 lembar. Salah satu edisi peta ini merupakan peta geologi dengan warna-warna yang membedakan formasi-formasi batuan. Peta ini merupakan peta geologi kedua Pulau Jawa, setelah peta geologi oleh Horsfield pada awal abad-19.

Peta Geologi Bandung dan Sekitarnya oleh Junghuhn (1855)

Jika kita menelusuri karya-karya Junghuhn secara kronologis, maka kita akan tahu bahwa mulanya Junghuhn tidak begitu awas dengan kondisi geologi. Passion-nya ketika itu lebih ke aspek botani. Menurut Rogier Verbeek, kemungkinan besar Junghuhn mulai awas dengan kondisi geologi adalah pada tahun 1834, ketika ia berkunjung ke Laacher See (Danau Laach) di sekitar Pegunungan Eifel. Di sini, Junghuhn muda terkesima dengan pegunungan vulkanik ini, dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa geologi juga merupakan hal menarik yang belum banyak dipahami.

Pada awal karir Junghuhn di Hindia pun, ia tak begitu awas dengan kondisi geologi. Ia lebih banyak memperhatikan tanaman-tanaman, mendeskripsi, kemudian mengumpulkan spesimennya. Baru pada tahun 1837, ketika Junghuhn ditugaskan menjadi deputi dari Dr. Fritze, ia mulai memiliki pembimbing dalam ilmu geologi. Dalam buku “Topograpische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java, Magdeburg 1845”, Junghuhn menuliskan bahwa dalam perjalanannya dengan Dr. Fritze, Junghuhn melakukan penelitian mengenai tanaman; sementara Dr. Fritze melakukan observasi geologi, mengunjungi kawah, dan mengoleksi bebatuan. Pada bulan Mei 1839, Fritze meninggal dan meninggalkan kesedihan mendalam bagi Junghuhn.

Ernst Albert Fritze (1791-1839)

Junghuhn melanjutkan petualangannya di Jawa hingga tahun 1841, untuk kemudian berpindah ke Sumatera dan melakukan penelitian di Tanah Batak selama 13 bulan. Di rimba yang liar ini, Junghuhn berhasil memetakan topografi kawasan ini dengan sangat baik, sekaligus mempublikasikan pengamatannya mengenai Tanah Batak di Sumatera (Die Battaländer auf Sumatra). Menurut Verbeek, dalam buku tersebut Junghuhn secara eksplisit menyebutkan mengenai rencana pembahasan geologi yang akan dituliskan dalam buku volume kedua. Namun buku tersebut tak pernah terpublikasikan. Buku Die Battaländer auf Sumatra hanya terbit dalam bahasa Jerman. Ini karena naskah buku ini ditolak oleh pemerintah kolonial karena catatan-catatan kritis mengenai perlakuan buruk tawanan Jawa oleh serdadu kolonial.

Pada periode awal Junghuhn di Hindia, selama 13 tahun (1835-1848), kemudian kita kurangkan dua tahun bekerja di Sumatera, dan dua tahun lainnya untuk membuat laporan tentang Tanah Batak, maka sebenarnya Junghuhn hanya punya sekitar 9 tahun untuk meneliti Jawa. Bayangkan 9 tahun untuk mendaki 45 gunung, beberapa di antaranya berkali-kali, 16 di antaranya ia merupakan orang yang pertama, kemudian mengunjungi lembah-lembah yang dalam dan deras, serta menerobos rimba belantara yang kejam, mengumpulkan spesimen dalam peti-peti dan mengirimkannya ke Eropa. Bahkan pada periode awal, kebanyakan dari waktu tersebut bahkan dilakukan pada masa-masa cuti, karena pada awalnya Junghuhn adalah seorang dokter militer. Ini merupakan prestasi yang hebat, menimbang seluruh kesulitan yang ada ketika itu. Perjalanan-perjalanan geologi Junghuhn hanya bisa dilakukan jika ada persitensi yang tinggi, mengingat begitu terperincinya laporan yang ditulis Junghuhn.

“Sebuah cahaya baru yang telah lama dinantikan, baru-baru ini terbit mengenai karakter geognostic Pulau Jawa, melengkapi karya-karya terdahulu Horsfield, Raffles, dan Reinwardt, yang masih belum lengkap. Dibuat oleh peneliti alam yang cerdas, piawai, dan pantang menyerah, Franz Junghuhn. Setelah tinggal lebih dari 12 tahun ia merampungkan karya yang sangat berharga: Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart.”

Alexander von Humboldt dalam Kosmos jilid 4, tahun 1858

Junghuhn harus kita kenang sebagai geologist yang handal. Kita harus ingat bahwa Junghuhn memelajari geologi secara otodidak. Ia tak punya pendidikan khusus geologi. Hal ini juga kemudian mengakibatkan banyak observasinya yang kurang presisi, meski tidak mengurangi rasa apresiasi kita padanya. Verbeek menuliskan bahwa Junghuhn mengklaim bahwa basalt hanya ditemukan di tiga gunungapi di Jawa, padahal batuan ini bisa ditemukan di begitu banyak gunung. Junghuhn juga banyak mendeskripsi batuan plagioklas-trakhit, yang ternyata merupakan batuan andesit. Lebih lanjut Verbeek mengapresiasi Junghuhn begitu tinggi, terkait deskripsi medan yang begitu detil terperinci dengan ilustrasi yang dilengkapi banyak sketsa, profil, dan peta. Namun harus diakui bahwa ketika Junghuhn membahas substansi geologi, maka maknanya kurang begitu berarti, terutama jika kita bandingkan dengan ilmu yang berkembang sekarang.

Beberapa teori penting yang dikemukakan Junghuhn, terutama teori mengenai pembentukan gunungapi. Junghuhn lah yang pertama menyatakan dan membuktikan bahwa kerucut gunungapi volkanik itu bertumbuh dan membangun kerucutnya secara berturut-turut dari letusan debu gunungapi dan aliran lava. Naiknya elevasi gunungapi bukan karena pengangkatan, tetapi karena proses letusan-letusan yang berulang. Teori ini mungkin sekarang sudah usang dan kuno, tetapi pada zaman Junghuhn, teori itu diterima sebagai teori yang benar, dan bahkan didukung oleh Leopold von Buch. Tak hanya von Buch, Charles Lyell, bapak geologi abad 19, dalam bukunya yang legendaris, The Principle of Geology (1868) tak ragu untuk menyebut nama Junghuhn 6 kali dalam bukunya, dan menyitir pendapat Junghuhn, membuktikan betapa berharganya informasi dan analisis yang dikembangkan Junghuhn di Jawa.

Pada akhirnya, Junghuhn harus kita kenang sebagai salah satu perintis ilmu geologi di Indonesia. Seperti yang disampaikan Verbeek dalam memoir mengenang 100 tahun Franz Junghuhn, bahwa Junghuhn memberikan efek sugestif pada generasi muda. Ia menginspirasi pemuda generasi Verbeek untuk berkarya mengeksplorasi bumi Hindia, dan harusnya juga pada generasi-generasi setelahnya, termasuk generasi kita. Junghuhn adalah contoh dari orang berjiwa Promethean, yaitu orang yang memberikan segalanya untuk kemajuan ilmu pengetahuan, tanpa memedulikan konsekuensi terhadap dirinya sendiri.

Wahai Junghuhn, karyamu abadi!

Sketsa geologi pantai dengan undercut di bawahnya. Terdiri atas lapisan batupasir dan kapur
Sketsa Bukit Breksi Batu Nini di sekitar Gunung Buleud Cililin
Sketsa batuan sedimen berlapis nyaris tegak di Sanghyang Heuleut

Beberapa sumber tulisan ini:
1. Junghuhn als Geologe – Rogier Verbeek
2. Forschen – Vermessern – Streiten – oleh Renate Sternagel dan Gerhard Aus
3. Buku Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart volume III – Franz Junghuhn

Menggeoreferensi Peta Van Bemmelen

R.W. van Bemmelen adalah geologist paling popular di Indonesia. Karya terutamanya, kitab the Geology of Indonesia adalah bacaan wajib seluruh mahasiswa geologi di Indonesia, sejak almarhum Katili, hingga sekarang. Selain buku ini, van Bemmelen juga aktif melakukan pemetaan. Salah satu karyanya adalah Peta Geologi Lembar Bandung skala 1:100.000 yang diterbitkan pada tahun 1934.

Sejak memahami tentang teknik menggeoreferensi, saya ingin mengetahui apakah saya bisa menggeoreferensi peta van Bemmelen ini, sehingga kita tahu bagaimana sebaran batuan menurut van Bemmelen pada kondisi yang sekarang. Tidak terlalu penting sebenarnya, tapi kalau bisa ya kenapa tidak.

Ok pertama kita akan mengunduh peta geologi Lembar Bandung tahun 1934. Kita bisa mengunduh data ini di website koleksi digital Universitas Leiden https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/ gunakan kata kunci “Bandoeng” dan cari di bagian “Maps (KITLV) (under construction)“. Kalau sulit, bisa pakai tautan ini.

Di tautan tersebut, Anda akan dapat 11 peta geologi jadul, keluaran tahun 1930an. Kita akan pilih nomor D E 14,3 yang merupakan kode Peta Geologi Lembar Bandung. Di bagian bawah peta, terdapat ikon untuk menguduh. Bentuk ikonnya seperti kardus pipih dengan mata panah mengarah ke kardus tersebut. Letaknya di samping ikon rantai, di atas tulisan In Collections. Silakan mengunduh Original Master dengan ukuran file 121 MB.

Untuk menggeoreferensi, kita akan menggunakan piranti lunak QGIS 3.10.5. Jika tidak punya software ini, maka bisa mengunduh dan menginstalnya di komputer masing-masing. Dalam tulisan ini, saya berasumsi bahwa pembaca sudah paham prinsip dasar menggeoreferensi.

Hal pertama yang harus dilakukan sebelum menggeoreferensi adalah mengetahui sistem koordinat. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melihat pojok-pojok peta. Pada Peta Geologi Lembar Bandung ini kita melihat terdapat sistem koordinat, terutama pada bagian pojok kiri bawah di mana terdapat informasi sebagai berikut:

Di dalam peta ini kita dapat melihat bahwa Van Bemmelen sudah meletakkan sistem koordinat. Informasi di atas berarti bahwa titik pojok kiri bawah pada peta ini berjarak 0 derajat 40 menit ke arah timur dari Meridian Batavia, dan 7 derajat ke arah selatan dari ekuator. Meridian dari Batavia sendiri didefinisikan berjarak 106 derajat 48 menit 27.8 detik ke arah timur dari Greenwich. Informasi ini sangat penting, karena akan kita bandingkan dengan informasi yang kita miliki di QGIS.

Sekarang kita akan membuka QGIS. Ketika kita membuka QGIS, di bagian pojok kanan bawah, terdapat tulisan EPSG:XXXX yang merupakan sistem koordinat projek kita. Kita bisa klik gambar globe di samping tulisan EPSG untuk tahu sistem koordinat apa saja yang tersedia.

Selanjutnya, karena kita akan menggeoreferensi peta lama Indonesia, maka kita gunakan kata kunci “Batavia”. Maka akan ditemukan beberapa sistem koordinat (lihat baris Predefined Coordinate Reference Systems), yaitu sistem koordinat geografis dan terproyeksi (Geographic Coordinate Systems dan Projected Coordinate Systems).

Karena data kita menggunakan sistem koordinat geografis, maka kita cari di bagian Geographic Coordinate Systems. Perhatikan bahwa ada dua sistem, yaitu EPSG:4211 dan EPSG:4813. Apa bedanya? Kita akan tinjau.

Perbedaannya adalah EPSG:4211 berprime-meridien di Greenwich, artinya titik nol garis bujur berada di Greenwich. Sementara EPSG:4813 berprime-meridien di Batavia, artinya titik nol garis bujur pada sistem koordinat ini berada di Batavia. Namun terdapat keterangan bahwa Jakarta(Batavia) berjarak 106.807719 derajat dari Greenwich. Angka ini jika diubah menjadi derajat menit detik akan sama dengan 106 derajat 48 menit 27.8 detik. Artinya sistem koordinat ini akan sesuai dengan peta kita. Berikut adalah informasi geografis dari sistem koordinat EPSG:4813:

GEOGCRS["Batavia (Jakarta)",
    DATUM["Batavia (Jakarta)",
        ELLIPSOID["Bessel 1841",6377397.155,299.1528128,
            LENGTHUNIT["metre",1]]],
    PRIMEM["Jakarta",106.807719444444,
        ANGLEUNIT["degree",0.0174532925199433]],
    CS[ellipsoidal,2],
        AXIS["geodetic latitude (Lat)",north,
            ORDER[1],
            ANGLEUNIT["degree",0.0174532925199433]],
        AXIS["geodetic longitude (Lon)",east,
            ORDER[2],
            ANGLEUNIT["degree",0.0174532925199433]],
    USAGE[
        SCOPE["unknown"],
        AREA["Indonesia - Bali, Java and western Sumatra onshore"],
        BBOX[-8.91,95.16,5.97,115.77]],
    ID["EPSG",4813]]

Oleh karena itu kita akan pilih sistem koordinat ini di peta kita.

Setelah itu kita akan masuk di bagian georeferensi.

Pada toolbar, klik Raster, kemudian pilih Georeferencer.

Di pojok kiri atas windows Georeferencer, pilih Open Raster. Pilih Raster yang ingin digeoreferensi. Dalam hal ini, raster yang sudah kita download, yaitu raster Peta Geologi Lembar Bandung. Hasilnya kurang lebih akan seperti gambar di bawah ini.

Di bawah tulisan settings, agak ke kanan sedikit, terdapat ikon berwarna kuning yang berbentuk seperti gerigi, yaitu ikon Transformation Settings. Kita akan mengatur Transformation pada pengaturan ini.

Pada pengaturan ini, pilih tipe transformasi menjadi Helmert. Metode Resampel menjadi Nearest neightbour dan Target SRS menjadi Project CRS, yaitu EPSG:4813. Atur output raster, sisanya tinggalkan sebagaimana default.

Pilih empat titik di pojok kiri atas, kanan atas, kanan bawah, dan kiri bawah sebagai titik ikat. Pastikan bahwa Anda menggunakan bagian dalam dari frame sebagai lokasi koordinat. Sebagai contoh saya menggeoreferensi pojok kiri atas peta, maka saya mengisi X/East sebagai 0 dan 40, artinya 0 derajat dan 40 menit. QGIS secara otomatis membacanya demikian. Sementara pada Y/North Anda akan mengisikan sebagai -6 dan 40 karena kita berada di selatan ekuator. Lakukan hal yang sama untuk sudut-sudut peta lainnya.

Setelah empat sudut terpilih sebagai GCP, maka kita bisa mulai menggeoreferensi dengan mengeklik ikon segitiga miring berwarna hijau, yang mirip dengan ikon play. Setelah itu kita bisa mengecek hasil georeferensi kita. Caranya dengan membuka file raster yang kita buat ke dalam QGIS.

Untuk mengecek apakah peta kita tergeoreferensi dengan benar, kita bisa bandingkan dengan peta OSM. Kita atur transparansi dari layer OSM untuk kita bandingkan bagaimana kedua layer ini. Saya pikir layer ini tergeoreferensi dengan baik sekali.

Kesesuaian peta OSM dengan peta hasil georeferensi. Perhatikan daerah Jalan Cagak di atas.
Di sekitar Ci Tarum terlihat ada sedikit distorsi. Tapi masih bisa ditoleransi.
Sangat memuaskan melihat bagaimana sungai-sungai berada di lokasi yang tepat. Gambar ini dioverlay dengan layer ESRI World Hillshade

Demikian tutorial singkat menggeoreferensi Peta Geologi Van Bemmelen tahun 1934.

Masalah Dalam Menggeoreferensi Peta Geologi

Bertahun-tahun saya dibuat frustasi dengan peta geologi tergeoreferensi yang ada di sekitar Bandung, terutama karena ada ketidakakuratan lokasi. Begitu pun ketika saya mencoba menggeoreferensi sendiri, entah kenapa batas litologi, batas sungai, dll itu selalu tidak pas dengan morfologi. Lari sekian puluh meter. Endapan yang harusnya ada di sungai lari ke lereng, dan seterusnya. Selain itu, pada peta geologi terdigitasi yang banyak beredar daring pun demikian. Poligonnya selalu melenceng sekian puluh meter.

Sebagai contoh pada gambar di bawah: Lokasinya di Bandung, tepatnya di daerah Curug Jompong. Perhatikan bukit di bawah tulisan Cisaat yang digitasi peta geologinya tidak sesuai dengan pola kontur bukitnya. Perhatikan juga bukit di pojok kiri atas, yang hasil digitasinya tidak sesuai dengan bentuk bukit.

Di daerah lain, di sekitar Sariwangi, petanya pun demikian. Aliran lava yang dalam peta geologi mengalir pada lembah, bergeser sekian puluh meter ke arah barat, mengakibatkan lava seolah berada di lereng.

Buat saya, ini sangat menyebalkan. Mungkin dalam skala regional ini tak begitu berarti, tapi ketika kita melihat detil, maka ini bisa menyesatkan. Misal kita ingin membuat peta longsor. Kita bisa salah duga karena kita anggap lava itu tidak rawan longsor, misalnya. Analisis kita bisa jadi keliru.

Bertahun-tahun lamanya saya struggle dengan permasalahan ini, sampai akhirnya saya paham bahwa yang salah adalah cara kita meng-georeference peta geologi kita. Terutama dalam memilih Sistem Referensi Koordinat Coordinate Reference System(CRS).

Waktu saya kuliah S1 dulu, asisten mata kuliah Sistem Informasi Geografi saya, hanya memberitahu perbedaan sistem longitude-latitude dengan sistem UTM. Jadi kalau koordinat yang diinginkan berformat derajat-menit-detik maka kita gunakan geographic system, kalau kita ingin sistem koordinat kita berformat meter, kita pakai UTM. Secara default mereka juga mengajarkan saya untuk selalu menggunakan WGS 1984 sebagai datum. Sedangkan datum-datum lain dilupakan saja dulu. Begitu katanya. Saya tidak pernah diajari apa bedanya datum, elipsoid, jenis proyeksi, dll.

Di sinilah semua kekeliruan berasal. Yaitu ketika kita menyamarakatan semua menggunakan WGS 1984. Apapun petanya, kita georeferensi dengan CRS WGS 1984, dan seterusnya.

Ambil contoh peta geologi Lembar Bandung terbitan Direktorat Geologi yang dipetakan oleh Silitonga tahun 1973. Di empat sudut peta, terdapat koordinat lokasi peta. Selain itu di bagian bawah peta terdapat indeks peta yang menunjukkan posisi relatif peta dengan peta di sekitarnya. Dari peta ini kita tahu bahwa peta geologi lembar Bandung berada antara koordinat 107.5 -108 derajat bujur timur, dan 6.5 – 7 derajat lintang selatan. Pertanyaannya, alamat koordinat ini dalam sistem koordinat apa apa?

Dugaan saya, hampir semua digitasi peta geologi yang ada menggunakan template default WGS 1984 sebagai datumnya. Oleh karena itu tak heran ada distorsi. Kenapa ada distorsi? Karena peta geologi lembar Bandung ini tak dibuat dengan sistem koordinat itu.

Lantas dengan sistem koordinat apa apa?

Sebelumnya ini DISCLAIMER, mohon maaf kalau saya keliru membedakan datum, sistem koordinat, proyeksi dll. Pengetahuan saya terbatas dalam hal itu. Mungkin kawan-kawan geodesi bisa lebih tepat dalam bagian ini

Inilah yang masih saya pertanyakan sampai sekarang. Biasanya di dalam peta, dicantumkan datum, jenis proyeksi yang digunakan, spheroid dll. Jenis datum penting untuk diketahui, sehingga kita mereferensikan peta kita pada datum yang tepat. Tabel di bawah adalah contoh datum-datum yang ada. Salah satunya WGS 84 yang biasa kita pakai. Setiap daerah punya datumnya masing-masing. Misal di Amerika Utara, mereka biasa pakai NAD (North American Datum). Di Eropa mereka pakai ETRS (European Terrestrial Reference System). Untuk data yang bersifat global, mereka biasanya pakai WGS, terutama WGS1984 yang biasa kita pakai. Kesalahan penggunaan datum dalam mereferensi akan mengakibatkan distorsi pada peta. Seperti yang terjadi pada peta Bandung kita.

Kembali ke peta geologi lembar Bandung. Di dalam peta, meskipun tidak ada informasi mengenai datum, tetapi terdapat informasi mengenai sumber peta yang digunakan untuk membuat peta ini. Peta dasar dibuat berdasarkan peta topografi US Army Map Service (AMS) seri T 725 skala 1:50.000.

Dengan informasi yang ada ini, saya hanya bisa mengasumsikan bahwa peta kita dibuat dengan datum yang sama dengan peta topografi US AMS seri T725 skala 1:50.000. Lalu saya mencari data US AMS seri T 725, yang kebetulan bisa kita akses pada halaman berikut: http://legacy.lib.utexas.edu/maps/ams/java_and_madura/

Di dalam peta AMS yang rata-rata dibuat pada tahun 1940-an ini, kita bisa tahu bahwa peta AMS dibuat berdasarkan peta yang dibuat oleh Dinas Perpetaan (Topographic Dienst) Hindia Belanda, dan mereka menggunakan Meridian of Batavia dengan jarak 106 derajat 48 menit 27.79 detik ke arah timur dari Greenwich.

Dari peta ini, saya masih belum dapat info datum. Tapi saya mendapati bahwa sebelum peta AMS dibuat, pemerintah kolonial telah menetapkan suatu datum di Batavia, yang diikatkan dengan titik nol di Greenwich. Hanya kita masih belum mengetahui tahun datum, sehingga kita bisa georeferensi data ini dengan benar. Meski begitu kita tahu, bahwa datum peta kita, pasti lebih tua dari tahun 1940. Maka dari itu, datum WGS84 menjadi tidak relevan, karena datum itu pasti untuk peta yang dibuat setelah tahun 1984.

Menggeoreferensi di QGIS

Dengan menggunakan piranti lunak gratis QGIS, kita bisa menggeoreferensi peta. QGIS juga memiliki database datum untuk kita pakai, sehingga kita bisa menggeoreferensi dengan benar. Ketika kita menggeoreferensi di QGIS, akan ada opsi Target SRS. Opsi ini memungkinkan kita memilih datum. Ketika kita tulis dalam filter, Indonesia, maka akan ada CRS-CRS yang bisa digunakan di Indonesia. Namun kalau filter ini yang dipakai, hanya akan keluar pilihan DGN95, yaitu sistem koordinat nasional yang menggunakan Datum Geodesi Nasional  tahun 1995.

Oleh karena itu, saya mengganti kata kuncinya menjadi Batavia, karena Jakarta dulu, di zaman kolonial Belanda namanya Batavia. Dengan menggunakan kata kunci ini, saya menemukan 9 sistem koordinat yang bisa digunakan di Batavia; 2 sistem koordinat geografis, dan 7 sistem koordinat terproyeksi. Karena data yang kita punya jenisnya geografis longitude-latitude, maka saya pilih yang sistem geografis.

Ada dua pilihan kode EPSG (EPSG adalah kode sistem koordinat yang dibikin sama European Petroleum Survey Group) yang kita dapat, EPSG:4211 dan EPSG:4813. Perbedaan dua EPSG ini adalah, yang 4211 itu titik nolnya di Greenwich, sedangkan yang 4813 itu titik nolnya di Jakarta. Kedua sistem koordinat ini menggunakan elipsoid yang didefinisikan di Bessel tahun 1841. Jadi mungkin merupakan salah satu sistem koordinat paling awal yang dipakai.

Jika kita mau menggeoreferensi peta AMS misal yang sistemnya menggunakan 0 derajat di Batavia, maka kita pakai EPSG:4813. Sementara itu kalau kita mau menggeoreferensi peta yang sistemnya 0 derajat di Greenwich, maka kita pakai EPSG:4211.

Dengan asumsi bahwa peta geologi lembar Bandung dibuat menggunakan sistem koordinat yang sama dengan peta AMS, maka saya menduga bahwa sistem koordinat EPSG:4211 adalah sistem koordinat yang harus kita pakai untuk menggeoreferensi peta ini.

Kita akan lihat hasil georeferensinya seperti apa. Seperti biasa titik yang digeoreferensi adalah 4 titik di sudut peta. Gambar peta di bawah ini adalah peta yang digeoreferensi, sementara garis berwarna hitam adalah poligon geologi hasil digitasi yang tersebar di dunia maya. Kita bisa lihat distorsi yang cukup jauh karena adanya perbedaan sistem koordinat yang dipakai. Saya mengukur perbedaannya antara 90-150 meter, tergantung kedetailan digitasi.

Bedanya besar sekali. Kita akan bandingkan topografi dengan peta geologi yang sudah kita georeferensi menggunakan sistem koordinat Batavia. Pada gambar di bawah, garis biru adalah sungai, garis oranye adalah kontur, garis merah adalah poligon geologi hasil digitasi yang tersebar di dunia maya, sementara latar adalah peta geologi yang kita georeferensi menggunakan sistem koordinat EPSG:4211.

Secara umum, saya melihat bahwa georeferensi ini lebih pas, dan tepat dibandingkan peta hasil georeferensi yang tersebar di dunia maya. Pola aliran lava mengikuti pola lembah, selain itu kita bisa lihat juga pola kontur yang meliuk-liuk juga hampir serupa dengan pola kontur topografi.

Dari sini saya meyakini, bahwa selama ini kita menggeoreferensi dengan cara yang keliru, sehingga digitasi peta kita menjadi terdistorsi. Distorsi 100 meter bisa berarti banyak sekali. Jalur sesar menjadi bergeser, batas litologi, dan lain sebagainya. Apabila kita sudah menggeoreferensi peta dengan benar, maka untuk mengonversi ke sistem koordinat yang lain akan mudah saja.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami jenis sistem koordinat dari peta yang kita pakai. Jangan sampai terjadi kesalahan elementer semacam menggeoreferensi dengan keliru yang mengakibatkan kesalahan lain secara domino. Terutama karena data ini merupakan data dasar yang penting bagi pembangunan.

Demikian, tulisan saya tentang menggeoreferensi peta geologi, semoga bisa membantu meluruskan hal yang selama ini telah dilakukan dengan keliru oleh begitu banyak orang.

Curug Tjigeureu di Gunung Malabar

Sejak dua tahun lalu, saya rajin nongkrong di halaman situsnya Tropenmuseum, Rijksmuseum, dan Perpustakaan Universitas Leiden. Tujuan saya adalah untuk mencari foto, lukisan, atau sketsa lama yang membuat saya senang ketika membuka dan melihat-lihatnya. Mungkin seperti orang yang hobi belanja senang buka-buka lapak pasar-el (e-commerce), begitu pun saya senang buka-buka situs gambar sejarah.

Dari hasil telusuran saya, saya mengetahui bahwa ada beberapa pelukis zaman kolonial yang hasil dokumentasinya sangat banyak, salah satunya adalah Antoine Payen. Ia adalah seorang pelukis berkebangsaan Belgia yang bekerja bagi pemerintah kolonial pada awal abad ke-19. Ketika Payen bekerja, ia menemukan seorang mutiara terpendam yang kelak akan menjadi pelukis Indonesia paling masyhur. Namanya Raden Saleh. Tulisan lengkap mengenai siapa Antoine Payen bisa dilihat pada tulisan Pak Ridwan Hutagalung berjudul “Payen dan Sang Pangeran Jawa“.

Salah satu gambar paling baru yang saya temukan adalah gambar berjudul “Gezicht op de waterval van de Tjigeureu in de bossen van de berg Malabar” atau jika diterjemahkan bebas menjadi “Pemandangan air terjun Tjigeureu di hutan Gunung Malabar”. Dalam keterangan lukisan tertulis: Dit is de waterval van Cigeureuh bij de berg Malabar. Op de voorgrond zijn twee mannen te zien die kijken naar een Javaanse neushoorn in de verte, atau berarti: Ini adalah air terjun Cigeureuh di gunung Malabar. Di latar depan dua lelaki dapat terlihat sedang melihat badak Jawa di kejauhan.

Gezicht op de waterval van de Tjigeureu in de bossen van de berg Malabar. Antoine Payen – 1841. Sumber Tropenmuseum

Dalam gambar ini, sebuah air terjun yang sangat tinggi menjadi objek utama. Menuju ke air terjun, terdapat jeram-jeram bertingkat dengan aliran yang cukup deras. Hutan digambarkan tidak padat, tapi terbuka. Di tengah bagian dekat dengan pengamat, dua orang tampak bersembunyi. Seorang seolah mengokang senjata, atau mungkin keduanya memegang sejata. Mereka mengamati seekor badak di kejauhan. Cukup menarik juga mengingat Payen menggambarkan satu bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum Becc) yang berada di bagian kanan bawah lukisan.

Saya takjub dengan ketelitian ini. Saya merasa perlu tahu di mana curug ini berada. Dengan penuh semangat saya mencoba mencari tahu, di mana air terjun Tjigeureu ini berada.

Pilihan pertama saya adalah dengan mencari di google dengan kata kunci “Curug Tjigeureu”. Tapi hasilnya nihil. Kemudian ketika saya cari Cigeureuh, maka saya menemukan blog dari http://cekunganbandung.blogspot.com/2010/11/berjuang-menggapai-hulu-cigeureuh.html. Dalam blog ini penulis mencantumkan judul “berjuang menggapai hulu Cigeureuh”. Dalam tulisan ini, ia bercerita tentang perjuangannya dan teman-temannya menyusuri hulu Cigeureuh untuk menuju Curug Siliwangi. Masuk akal juga. Berarti sungai di mana curug ini berada bernama Ci Geureuh, dan curugnya bernama Curug Siliwangi.

Ketika saya mengamati foto Curug Siliwangi, saya merasa ada sedikit persamaan dengan Curug Tjigeureu yang dilukis Payen, terutama dari ketinggian air terjun. Sayang tidak ada foto yang diambil dari lebih jauh. Kemungkinan besar karena vegetasi sangat lebat.

Curug Siliwangi, Gunung Puntang. Sumber Facebook Gunung Puntang

Dalam lukisan Payen, Curug Cigeureuh digambar dari jauh. Namun kita bisa duga bahwa air terjun ini sangatlah tinggi. Begitu pun Curug Siliwangi yang ditulis berketinggian 150 meter. Dalam video-video perjalanan ke Curug Siliwangi yang saya tonton di Youtube, perjalanannya sangat berat dan melewati jeram-jeram. Mungkin itulah jeram yang digambar juga oleh Payen.

Selain itu, saya juga mencoba membandingkan Curug Cigeureuh ini dengan peta-peta lama yang saya punya. Pertama saya membandingkan dengan Peta Wisata Bandung dan Sekitarnya, touristenkaart van bandoeng en omstreken, yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata Hindia Belanda pada tahun 1939. Dalam peta ini, di lembah antara Gunung Puntang dan Gunung Haruman, terletak air terjun tanpa nama yang hanya disebut sebagai Waterval.

Gunung Malabar pada Peta Wisata Bandung yang dipublikasikan oleh Dinas Pariwisata Hindia Belanda

Kemudian saya mencoba mencari informasi mengenai Gunung Malabar di buku Java volume 1, karya Junghuhn. Di dalam buku ini, Junghuhn mendeskripsi menggambarkan profil ketinggian gunung-gunung di Jawa, salah satunya gunung-gunung di Cekungan Bandung. Ketika menggambarkan kompleks Gunung Malabar, yang disebut oleh Junghuhn sebagai Malawar, secara menarik ia menggambarkan satu air terjun, Tjuruk Tjiguru. Saya menduga ini air terjun yang juga dimaksud oleh Payen, Tjurug Tjigeureuh

Franz Wilhelm Junghuhn, Java seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart Vol.1

Kesimpulan: Curug Cigeureuh hampir pasti merupakan air terjun yang berada di lembah di antara Gunung Puntang dan Gunung Haruman, di kompleks Gunung Malabar. Jika benar di sanalah curug berada, maka elevasinya sekitar 1500-1800 mdpl. Kemungkinan curug ini ekivalen dengan Curug Siliwangi yang kita kenal sekarang, namun perlu memastikan koordinat Curug Siliwangi berada. Ada dua informasi penting yang bisa kita dapat dari lukisan Antoine Payen, yaitu: 1) keberadaan bunga bangkai raksasa, dan 2) keberadaan badak jawa. Dua spesies ini merupakan spesies langka, bahkan sekarang badak hanya ditemukan di Ujungkulon saja. Laporan ini menunjukkan bahwa Kompleks Gunung Malabar pernah menjadi rumah bagi spesies-spesies langka Nusantara, entah kondisinya sekarang bagaimana. Meskipun badak sudah pasti tidak ada, semoga yang lain masih ada.

Tentang Gunung Malabar

Mungkin orang-orang kurang awas terhadap Gunung Malabar karena bentuknya yang tidak seikonik Gunung Tangkuban Perahu. Padahal kedua gunung ini berhadap-hadapan. Keduanya megah dibatasi oleh lembah luas di mana jutaan manusia hidup. Dari titik mana pun di tengah Cekungan Bandung kita bisa melihat Gunung Malabar ini. Setiap pagi, dari rumah saya di bilangan Ciwaruga, setiap saya memandang ke arah selatan, terutama di pagi hari, maka gunung ini akan tampak megah berdiri. Mungkin pemandangan yang serupa dengan gambar Payen di bawah ini.

Pemandangan Gunung Malabar yang dilukis oleh Payen dari Bandung Utara

Dalam buku Java jilid 2, Junghuhn mendeskripsi Gunung Malabar sebagai berikut:

Obgleich kein Krater und keine Solfatara als diesem Gebirge zugehörig bis jetzt bekannt ist, so wird er hier dennoch unter die Zahl der Feuerberge aufgenommen, -weil sowohl die Gestalt desselben als auch seine Gebirgsarten. — Lava —, aus welchen er zusammengesetzt ist, deutlich verrathen, dass auch er einst ein thätiger Vulkan war. Siehe die augitische und basaltische L.Nr. 55 und 56 und die Gluthbrezzie: L.Nr.54, welche in seinem nordlichen Vorgebirge gefunden werden. — Über seine Lage und Verbindung mit den benachbarten Bergen wird hier sowohl, wie bei allen übrigen Preanger Vulkanen auf die beigefügte Skizze verwiesen. Sein Gipfel ist keineswegs konisch, sondern er besteht aus zwei lang hingezogenen, schmalen Firsten, die ostwärts in einem spitzen Winkel zusammenstossen und die 7090′ hohe Ostkuppe des Gebirges bilden. Auch ihre entgegengesetzten Endigungen sind schroff und kuppenartig. Sie schliessen einen beinahe dreieckigen Raum ein, der sich westnordwestwärts in weiter, klüftiger Öffnung zum Berge hinabzicht und den man nicht anstehen kann, für den alten spaltenförmigen Krater des G.-Malawar (wahrscheinlich abgeleitet von Mawar = Rose und würde dann so viel bedeuten als : überall mit Rosen geschmückt) zu halten, wenn man die schroffe Senkung beider Bergfirsten nach innen wahrnimmt, die mit ihren steilen Wänden einander gegenüberstehen und sich als Kratennauern beurkunden. Die südlichere der Firsten zieht sich mehre Pfähle lang hin. Es ist sehr zu vermuthen, dass man im Grunde der genannten
grossen Kluft zwischen den Firsten bei genauer Nachsuchung noch überzeugendere Beweise ihres ehemaligen Charakters finden und vielleicht noch dampfende Fumarolen oder kochende Schlammpfützen daselbst antreffen wird. Übrigens sind sowohl die Kluft als die Firsten mit uralter Waldung überzogen, deren Physiognomie ich an einem andern Orte versucht habe zu schildern und nur zwei warme Quellen am Südabhange des Berges sind die einzigen jetzt bekannten Überbleibsel ehemaliger Vulkanität. ~ Ich besuchte den Berg im Monat October 1839 von seiner Ostseite her, wo der Pasanggrahan Malawar tjiparai gelegen ist.

Franz Junghuhn, Java seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart Vol.2

Berikut adalah penerjemahan bebas oleh penulis dibantu dengan Google Translate:

Meskipun tidak dijumpai kawah dan solfatara di gunung ini dan sekitarnya, gunung ini tetap termasuk sebagai gunung api, terutama karena bentuk, jenis gunung, serta lava yang menyusun gunung ini menandakan bahwa gunung ini dulunya merupakan gunungapi yang aktif. Sampel batuan yang saya kumpulan berjeniskan lava augit dan lava basaltik (lihat nomor 55 dan 56) serta Gluthbrezzie (Breksi berwarna arang gelap, glut = arang dalam bahasa Jerman) bernomor 54 yang saya temukan di punggungan sebelah utara.

Sebagaimana gunungapi lainnya di Priangan, saya membuat referensi lokasi pengambilan spesimen ini relatif terhadap lokasi gunung dan hubungannya dengan gunung-gunung di sekitarnya. Puncak gunung ini tidak berbentuk kerucut, tetapi terdiri atas dua tebing sempit yang memanjang yang pertemuannya membentuk sudut lancip di sebelah timur dengan ketinggian 7090 kaki, di sebelah timur kompleks pegunungan ini. Ujung dari tebing-tebing ini kasar dan berbentuk kubah. Mereka melampirkan ruang hampir segitiga yang memanjang barat-barat laut di celah yang lebar, bergerigi ke G. Malawar (kemungkinan berasal dari kata Mawar yang berarti bunga, sehingga diasumsikan Junghuhn berarti gunung yang dipuja layaknya bunga). Mungkin bagian tengah dari gunung ini adalah kawah. Sangat dicurigai bahwa pada celah yang disebutkan di antara punggungan-punggungan akan ditemukan bukti yang lebih meyakinkan mengenai keberadaan fumarol yang mengepul atau genangan lumpur mendidih di sana. Kebetulan, pola lembahan dan punggungan ditutupi dengan hutan lebat, fisiognomi yang saya coba gambarkan di tempat lain, dan hanya dua mata air hangat di lereng selatan gunung adalah satu-satunya sisa vulkanisitas bekas gunung berapi yang diketahui. ~ Saya mengunjungi gunung ini pada bulan Oktober 1839 dari sisi timurnya, di mana Pasanggrahan Tjiparai Malawar berada.

Franz Junghuhn, Java volume 2, dengan penerjemahan bebas penulis.

Dalam katalog spesimen yang dikumpulkan oleh Junghuhn: Catalog der Geologischen Sammlung von Java. Oder Verzeichniss der Felsarten gesammelt zur erlauterung des geologischen baues dieser Insel niedergelegt und geordnet im Reichs-museum fur Naturgesichte zu Leiden von Fr. Junghuhn (Katalog Koleksi Geologi Jawa. Atau daftar jenis batuan yang dikumpulkan untuk menjelaskan struktur geologi pulau ini diletakkan dan dipesan di Museum Sejarah Alam Reich oleh Leiden oleh Franz Junghuhn), sampel dari Malabar bernomorkan L.54-L.56. Sampel-sampel ini adalah:

Halaman 13
  1. Batu trachytic dari gluthbrezzie. Ujung barat punggungan G. Malawar: dari dinding vertikal, ke kiri jalan yang mengarah dari Bandong ke Bandjaran.
  2. Lava doleritik dan basaltik. Lereng G. Malawar: Bandjaran dan Pengalengan, dasar sungai Tji-Biana (distrik yang sama)
  3. Lava syenitik dan basaltik. G. Malawar. dasar sungai Tji-Ngiroan dekat Pengalengan

Sumber:

  1. Lukisan Tjurug Tjigeureu dari Tropenmuseum
  2. https://mooibandoeng.com/2016/02/02/payen-dan-sang-pangeran-jawa/
  3. http://cekunganbandung.blogspot.com/2010/11/berjuang-menggapai-hulu-cigeureuh.html
  4. https://www.facebook.com/BuperGPCommunity/posts/air-terjun-curug-siliwangiterletak-di-areal-wana-wisata-gunung-puntang-di-komple/511613966045832/
  5. Touristenkaart van bandoeng en omstreken. 1939
  6. Franz Wilhelm Junghuhn, Java seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart Vol.1
  7. Franz Wilhelm Junghuhn, Java seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart Vol.2
  8. Catalog der Geologischen Sammlung von Java. Oder Verzeichniss der Felsarten gesammelt zur erlauterung des geologischen baues dieser Insel niedergelegt und geordnet im Reichs-museum fur Naturgesichte zu Leiden von Fr. Junghuhn

Belajar Mineralogi Lewat Mineral Cup!

Ada banyak cara belajar mineral. Kita bisa lihat dan baca buku Rock and Mineral, kita bisa mampir ke museum geologi, kita bisa nonton Youtube, kita bisa pergi ke lapangan dan mengeksplorasi sendiri. Tapi cara yang satu ini saya kira jenius dan super seru, lewat Twitter dan lewat kompetisi. Mineral Cup namanya.

Hah? Gimana-gimana?

Mineral Cup adalah kompetisi voting mineral terfavorit yang diadakan di Twitter. Pencetusnya adalah Dr. Eddie Dempsey dari Uni Hull @tectonictweets. Jadi idenya adalah Dr. Dempsey membuat bagan turnamen yang isinya 32 mineral. Setiap hari 2 mineral ditandingkan, dan divoting. Para geologist, mineralogist, dan semua yang senang mineral ngetweet tentang mineral jagoannya. Isi twitnya adalah fakta-fakta tentang mineral jagoannya. Serunya orang-orang yang ngetwit ini banyak yang jago-jago mineralogi dan mereka memberi fakta-fakta baru yang belum kita tahu. (baca cerita tentang MinCup 2017 menurut Dr. Dempsey di sini)

Setiap hari ada mineral yang maju dan ada mineral yang tersingkir. Pendukung mineral-mineral makin rajin ngetwit dan mencantumkan tagar mineralnya, misal #TeamOlivine, #TeamTourmaline, dll. Ada juga yang mengetwit foto-foto mineral yang cantik-cantik; berbentuk sampel, sayatan tipis, singkapan, atau bahkan sudah jadi perhiasan.

Meskipun cuma lomba voting mineral terfavorit, MinCup ini seru banget. Idenya original. Hebatnya Mineral Cup adalah bahwa sesuatu yang awalnya seru-seruan, ternyata kemudian menjadi satu contoh konkrit komunikasi sains dan bagaimana suatu komunitas periset di seluruh dunia bersatu, saling berbagi pengetahuan. MinCup pertama tahun 2017 divoting lebih dari 17 ribu orang. MinCup kedua tahun 2018 divoting lebih banyak lagi, lebih dari 31 ribu orang.

Kehebatan lainnya adalah bahwa Mineral Cup bisa jadi bahan pembelajaran mahasiswa. Seorang dosen geologi @Geol_Greenhead membawa Mineral Cup ke kelasnya. Mahasiswa disuruh berdebat tentang mineral-mineral.

Mineral Cup sudah masuk tahun ke-tiga. Dimulai sejak tahun 2017, yang dijuarai oleh Olivine, dan tahun 2018 yang dijuarai oleh Garnet, yang kala itu bersaing hebat dengan penantang tak terduga, Ice.

Saya pertama ikut tahun lalu. Dan saya belajar banyaaaak banget tentang mineralogi dari Mineral Cup ini. Jadi saya gak sabar lagi mau ikut MinCup 2019, 1 September nanti.

Olivine – Pemenang #MinCup2017. Sketsa oleh Hazel Gibson @IamHazelGibson
Klasemen akhir Mineral Cup 2018. Source

Mineral Cup 2019 akan dimulai tanggal 1 September 2019 nanti. Kita bisa ikutan dengan mengikuti akun Twitter @MineralCup. Setiap hari kita ikut vote mineral mana yang harus lanjut, atau yang mana yang akan tersingkir. Kalau kita punya foto singkapan, sampel, atau sayatan tipis boleh banget ikutan ngepost di Twitter. Saya jamin banyak keseruan yang bisa didapat.

Di atas adalah bagan turnamen #MinCup2019. Jadi apa mineral jagoanmu? Kalau saya #TeamTourmaline

Liddicoatite Tourmaline – Mineralogy Museum Marburg

Source:
1. MinCup: Elevating humble minerals to new heights
2. #Mincup2017 – how Olivine became the greatest mineral of all (for one year at least)

Model Interaktif Batimetri 3D Gunung Anak Krakatau Sebelum Letusan 2018

Masih tentang Anak Krakatau. Kegiatan ngulik saya ternyata belum selesai. Semakin saya cari, semakin banyak data tentang Krakatau yang saya temukan. Salah satu yang bisa saya mainkan adalah data batimetri yang saya dapat dari makalah Inner structure of the Krakatau volcanic complex (Indonesia) from gravity and bathymetry data karya Deplus dkk (1996) yang dimuat di Journal of Volcanology and Geothermal Research.

Data batimetri ini saya digitasi, lalu saya konversi jadi model elevasi digital, kemudian saya tampilkan di ArcScene. Dari ArcScene saya ekspor datanya menjadi vrml (Virtual Reality Modeling Language), ini adalah jenis data yang biasa dipakai untuk 3D.

Data vrml ini kemudian saya konversi lagi jadi .obj agar bisa saya tampilkan online menggunakan media sosial Sketchfab. Sketchfab ini semacam media sosialnya 3d modeller. Gratis dengan batas unggah 50 MB.

Hasilnya adalah model interaktif di bawah ini:

Gunung yang tinggi adalah Rakata, letaknya berada di paling selatan. Di tengah ada Gunung Anak Krakatau sebelum letusan 2018. Sebelah timur Gunung Anak Krakatau adalah Pulau Panjang, sementara sebelah baratnya adalah Pulau Sertung.

Karena saya masih belum tahu caranya bikin legenda di model 3 dimensi, jadi saya sertakan legenda model Krakatau saya di peta 2 dimensi berikut:

Saya buat peta ini pakai ArcMap, datanya sama dengan model 3 dimensi, dari batimetri dan DEMNAS. Warnanya agak beda karena ditumpuk dengan hillshade supaya ada efek 3 dimensi.

Model lain yang saya bikin adalah model ArcScene yang saya tumpuk dengan citra satelit. Harusnya model ini yang diunggah ke Sketchfab, tapi entah kenapa software saya error jadi gak bisa unggah.

Model ArcScene Krakatau sebelum letusan 2018. Warna biru semakin tua menunjukkan kedalaman laut yang semakin dalam. Utara ke arah kiri peta.

Oke deh segitu dulu. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Salam

keterangan: semua gambar di dalam tulisan ini bebas digunakan asal mencantumkan sumber dan menautkan ke halaman blog ini.

Membandingkan Elevasi Gunung Anak Krakatau Sebelum dan Setelah Erupsi Desember 2018

Kemarin saya lihat satu cuitan Twitter dari salah satu peneliti yang saya ikuti, Dr. Sotiris Valkaniotis dari Universitas Tesaloniki, Yunani. Beliau ini rajin membagikan info-info menarik, terutama tentang kebencanaan. Saya pertama mengikuti akunnya pasca erupsi Anak Krakatau, akhir tahun 2018 lalu.

Di cuitannya, Dr. Valkaniotis membagikan perbandingan elevasi Gunung Anak Krakatau sebelum erupsi besar akhir tahun 2018 lalu dan setelah erupsi. Data elevasi sebelum erupsi didapat dari model elevasi nasional DEMNAS yang dipublikasikan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG), bisa diakses di http://tides.big.go.id/DEMNAS/. Data elevasi setelah erupsi didapat dari satelit ICEsat 2 (Ice, Cloud, and Land Elevation Satellite), yang bisa diakses di https://openaltimetry.org/data/icesat2/.

Karena saya penasaran dengan data ICEsat 2 ini, saya langsung cari di google dan akhirnya ketemu. Lalu saya coba sendiri mengolah data mentah elevasi dari ICEsat 2 ini.

Misi ICEsat 2 ini menarik karena dia menyediakan kita data elevasi dari satelit. Satelit ini mengelilingi bumi dan mengukur ketinggian dengan presisi yang mengagumkan. Dia bisa mendeteksi perubahan tinggi kanopi, bisa juga mendeteksi perubahan ketebalan lapisan es, yang mana dua ini merupakan alasan utama diluncurkannya satelit ini ke angkasa. Untuk tahu lebih lanjut bisa langsung buka di sini.

Saya kemudian mencoba membuat ulang apa yang sudah dibuat oleh Dr. Valkaniotis. Rekonstruksi ketinggian Gunung Anak Krakatau sebelum dan sesudah erupsi akhir tahun 2018.

Gambar di atas adalah hasil rekonstruksi saya. Titik-titik elevasi dari ICEsat 2 (berwarna biru) saya ekstrak kemudian saya tampilkan bandingkan dengan elevasi dari DEMNAS. Agak sedikit tricky karena model bumi yang dipakai oleh ICEsat 2 adalah model bumi ellipsoid, sementara model bumi DEMNAS adalah model bumi geoid. Ini pelajaran dasar ilmu geodesi yang sejujurnya gak pernah saya menduga akan mengaplikasikannya sendiri.

Intinya elevasi dari ICEsat 2 ini harus dikonversi dulu. Tapi tenang sudah ada kalkulatornya, jadi kita tidak perlu cemas.

Setelah dibandingkan kita jadi tahu bahwa kawah yang terbentuk sekarang itu dulunya puncak Anak Krakatau yang hampir 250 meter tingginya. Kalau sempat, sebenarnya bisa juga kita estimasi volume yang hilang (volume sebelum erupsi – volume setelah erupsi), tapi untuk ini kita baiknya punya data batimetri agar volume di bawah laut dihitung juga.

(Bangga baru bisa bikin slider image kaya gambar di atas!) Gambar sebelum erupsi menggunakan false color dengan komposisi Band 12, Band 11, dan Band 4. Gambar setelah erupsi menggunakan mode True Color komposisi Band 4, Band 3, Band 2.

Pesan penting!
Dalam tulisan ini saya ingin berbagi tiga hal yang menurut saya sangat penting bagi perkembangan sains.

Pertama adalah keterbukaan data. Bayangkan data Openaltimetry.org dan DEMNAS gak terbuka dan bebas diakses? Gak akan ada tulisan ini. Maka penting sekali bahwa data-data yang sifatnya publik dan bisa bermanfaat bagi orang banyak untuk dibuka atau dimudahkan aksesnya. Jangan dibuat ribet harus datang, bikin surat, bikin segala macam administrasi yang menghambat perkembangan sains. Jangan cuma investasi yang dipermudah.

Maka saya berterima kasih banyak pada BIG yang membagikan data secara gratis. Saya ingat dulu waktu mahasiswa kalau mau beli data Autocad topografi itu harus bayar ke Bakosurtanal. Sekarang kita sudah bisa akses mudah dan gratis di web BIG.

Kedua adalah keinginan untuk berbagi. Tulisan ini tidak akan ada kalau Dr. Sotiris Valkaniotis tidak membagikan gambarnya tentang ICEsat 2 dan Gunung Anak Krakatau. Tanpa twitnya, saya tidak akan tahu ICEsat dan tidak akan terbesit untuk mencoba. Tapi dia berbagi, dan karena kesediaannya untuk berbagi, dia menginspirasi orang.

Bayangkan jika semua ilmuwan berbagi ilmunya, wah betapa cepatnya sains terdiseminasi. Semakin inklusif dan bisa diakses semua orang. Dibagikan dengan kalimat yang mudah dimengerti dengan bentuk yang tidak kaku.

Ketiga adalah pentingnya kita untuk bermedia sosial, dalam hal ini Twitter. Buat saya, twitter adalah media sosial paling bagus untuk mengupdate hal termutakhir dalam sains. Sekarang sudah sangat banyak peneliti yang punya akun Twitter dan mereka sehari-hari membagi apa yang mereka kerjakan. Sudah banyak instansi riset yang mengumumkan aktivitas dan hasil riset mereka. Dan Twitter adalah media yang paling cepat. Dalam hitungan jam sesuatu bisa mendunia di Twitter

Terakhir, semoga tulisan ini menjadi hal yang bermanfaat, terutama bagi diri saya pribadi, dan bagi rekan-rekan sekalian yang membacanya.

Salam

Aplikasi Sistem Informasi Hidrogeologi Cekungan Bandung

Di Cekungan Bandung, pasti sudah ada ratusan atau bahkan ribuan sumur bor yang terdaftar, belum yang tidak terdaftar atau bahkan yang ilegal. Sumur-sumur bor yang terdaftar, untuk mengajukan izin pembuatan atau perpanjangan, harus melampirkan rencana konstruksi sumur, salah satunya adalah log sumur, yang dipakai untuk menentukan di kedalaman mana saringan/screen akan dipasang, atau dengan kata lain dari akifer mana air akan diambil. Akifer adalah lapisan yang menyimpan dan mampu melewatkan air.

Di Cekungan Bandung ada beberapa lapisan akifer. Ada lapisan akifer dangkal dan lapisan akifer dalam. Geometrinya cukup kompleks karena terbentuk dari perselingan endapan gunungapi. endapan kipas aluvial, dan endapan danau-rawa. Masing-masing endapan ini tidak selalu saling berhubungan, membentuk endapan yang pelamparannya luas. Seringkali endapan-endapan ini hanya berupa kantung-kantung (patches) yang hubungan antar satuannya itu menjari atau membaji.

Konsumsi air tanah di Cekungan Bandung sudah masuk dalam tahap mencemaskan. Pemompaan berlebih dari akifer dalam mengakibatkan akifer yang dulu sifatnya artesis, kini muka air tanahnya lebih rendah daripada batas atas lapisan (Hutasoit, 2009). Ekstraksi air tanah berlebih telah mengakibatkan penurunan ekstrim. Di beberapa tempat bahkan menyentuh hingga 23 cm/tahun (Abidin dkk, 2012).

Dalam rangka melindungi akifer, kita harus memahami geometri akifer kita. Hanya dengan begitu kita bisa membuat strategi pemantauan yang jitu, yang tepat guna. Data yang kita butuhkan untuk memahami geometri akifer sudah ada, yaitu data sumur-sumur bor yang sudah begitu melimpah kita punya.

Penelitian mengenai geometri akifer Cekungan Bandung terbaru dilakukan oleh Pak Bambang Sunarwan (2014) Dalam disertasinya, Sunarwan mengembangkan unit hidrostratigrafi di Cekungan Bandung berdasarkan parameter hidrolik, hidrokimia dan isotop. Hebatnya disertasi ini adalah keterbukaan akses. Artinya semua bisa melihat, membaca, dan mengakses datanya. Lisensi datanya adalah cc-by. Dalam lisensi ini, pengguna data dapat menggunakan dan mengadaptasi data dalam format apapun untuk kebutuhan apapun.

Karena keterbukaan datanya, saya bisa menggunakan data ini untuk mengembangkan aplikasi sederhana Sistem Informasi Hidrogeologi Cekungan Bandung. Ada sekitar 100 sumur yang saya jadikan data dasar. Data yang saya miliki adalah data log litologi dan log resistivitas. Kedua data ini bisa dijadikan sebagai dasar untuk menginterpretasi lapisan pembawa air/akifer. Berikut adalah tampilannya.

Aplikasi ini saya kembangkan berbasis R. Sebenarnya saya sudah membuat aplikasi webnya di menggunakan shinyapps.io, https://malikarrahiem.shinyapps.io/Malik_Apps/ . Tapi akun saya gratisan, hanya bisa diakses total 10 jam. Jadi sementara saya matikan. Akan dinyalakan nanti kalau mau ketemu dosen pembimbing.

Aplikasi pertama saya ini terbatas kemampuannya. Di dalam aplikasi, hanya ditampilkan titik-titik sumur. Jika kita mengeklik sumur, maka di layar sebelah kanan akan muncul log litologi dan resistivitas.

Dalam bayangan saya nanti, kita bisa menambah informasi yang ditampilkan. Misal formasi batuan X ada di kedalaman berapa, hidrostratigrafi Y ada di kedalaman berapa, dan seterusnya. Kita juga bisa menambah informasi lain seperti parameter hidrolik, hidrokimia, atau juga data isotop.

Latar belakangnya juga bukan cuma gambar Kota Bandung saja, tapi bisa juga ditambahkan poligon hidrogeologi yang didigitasi dari Peta Hidrogeologi Bandung. Bisa juga peta geologi, peta geomorfologi, atau juga peta tata guna lahan.

Selain itu, saya juga akan menampilkan penampang. Misal pengguna ingin membuat penampang di antara titik-titik tertentu, maka aplikasi akan menampilkan seperti gambar di bawah ini.

Tak cuma tampilan 2 dimensi, saya juga sedang mengembangkan model 3 dimensi unit hidrostratigafi di Cekungan Bandung. Melalui tampilan 3 dimensi, yang juga akan ditampilkan dalam webGIS ini nanti, pengguna bisa melihat model 3 dimensi dan memainkannya. Memutar-mutar, memperbesar, memperkecil, menambah dan mengurangi lapisan yang ingin ditampilkan, dll. Tapi ini masih belum ada yang bisa ditunjukkan jadi semoga segera bisa saya kerjakan.

Melalui sistem informasi hidrogeologi ini, saya berharap orang-orang menjadi lebih mudah untuk memahami sistem hidrogeologi Cekungan Bandung. Dengan memahami maka akan timbul rasa memiliki dan keinginan untuk menjaga. Selain itu, keterbukaan data juga akan mendorong tata kelola air tanah yang lebih transparan.

Saya menyadari bahwa ini masih panjang dan perlu tekad kuat serta konsistensi untuk mewujudkannya. Semoga Allah berikan saya kekuatan untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.

Bismillah