Ci Tarum Tercemar Amat Sangat Super Luar Biasa Berat!

Hari ini saya belajar mengenai status mutu air berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 tahun 2003 Tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Dalam pedoman ini, metoda yang digunakan untuk menentukan status mutu air adalah metoda STORET. Metoda ini secara prinsip membandingkan antara data kualitas air dengan baku mutu air yang disesuaikan dengan peruntukannya guna menentukan status mutu air.

Untuk mengklasifikasikan status mutu air, digunakan sistem nilai dari US-EPA, yang mengklasifikasikan mutu air dalam empat kelas, yaitu
(1) Kelas A : baik sekali, skor = 0  memenuhi baku mutu
(2) Kelas B : baik, skor = -1 s/d -10  cemar ringan
(3) Kelas C : sedang, skor = -11 s/d -30  cemar sedang
(4) Kelas D : buruk, skor lebih kecil dari -31  cemar berat

Angka di atas kurang lebih berarti seperti ini: setiap ada satu parameter yang lebih besar dari batas ambang minimal, maka akan dapat skor minus. Parameter yang diukur seperti parameter fisika (TDS, suhu, DHL), kimia (kandungan zat-zat kimia), dan biologi (e-coli). Semakin rendah nilainya (semakin minus), maka semakin buruk skornya.

Nah kemudian saya mencoba membaca hasil analisis kualitas air Ci Tarum di Nanjung, dekat Jembatan Ci Tarum di Leuwigajah, yang dilaporkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat. Pengukurannya sendiri dilakukan pada bulan April, Mei, Juli, September, dan Oktober 2013. Hasilnya adalah skor Storet Ci Tarum di Nanjung -176! (cek tabelnya di: NANJUNG)

Skor -176 ini selisihnya lebih dari 140 dari batas minimal kelas D yang artinya tercemar berat. Mungkin kita bisa menambah beberapa kelas lagi sampai kelas Z untuk menunjukkan bahwa Ci Tarum ini tingkat ketercemarannya sangat luar biasa buruk.

Lebih lima tahun lalu saat kampanye mantan Gubernur Ahmad Heryawan, beliau menjanjikan pada 2018 air Ci Tarum bisa diminum. Janji ini tentu hanya sekedar janji politik yang omong kosong. Kenapa begitu? Karena lihat saja tahun 2013 saat janji itu diungkapkan, angkanya -176, mungkin di stasiun pengukuran lain sama juga, sementara untuk bisa diminum, yaitu memenuhi baku mutu maka nilainya itu 0. Ada puluhan parameter yang harus diperbaiki, sementara aksinya tidak terasa kalau tidak boleh bilang tidak ada.

Kini tahun 2018, Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat belum menyediakan lagi data kualitas air Ci Tarum di laman situsnya. Konon klaimnya, meski kualitas air tetap buruk, tapi angkanya membaik.

Karena di rezim jaman sekarang itu tidak boleh asal kritik dan harus memberi solusi, maka saya ingin mencoba memberi solusi.

Solusi dari saya adalah keterbukaan data agar masyarakat bisa melihat sendiri perbaikan yang terjadi di Ci Tarum. Buka akses selebar-lebarnya terhadap semua pengukuran dan monitoring di Ci Tarum. Buka data analisis kualitas air, dan tunjukkan grafiknya bahwa perubahan terjadi menuju arah yang lebih baik. Biar kita bisa mengukur sendiri, biar kita bisa tahu sejauh mana dampak upaya kita untuk melindungi Ci Tarum.

Saat ini data yang tersedia hanya data tahun 2013. Sementara itu untuk mengakses data-data terbaru harus mengajukkan permohonan yang tentu memakan waktu dan terutama karena kita paham ruwetnya birokrasi. Dengan terbukanya akses data, maka partisipasi warga akan lebih mudah. Toh data milik warga juga, tidak perlu disembunyi-sembunyikan. Kecuali memang ada yang ingin disembunyikan.

Solusi saya yang kedua sifatnya lebih lokal. Salah satu simpul Ci Tarum adalah Curug Jompong. Dalam tulisan saya yang lalu, saya menulis tentang Curug Jompong yang telah dikenal sejak lama dan telah menjadi tempat bergeowisata sekurang-kurangnya sejak 1918. Dengan menghidupkan kembali Curug Jompong sebagai tujuan berwisata (meskipun masih kotor, jorok, dan berbau tak sedap) kita mengundang masyarakat untuk menjadi pengawas Ci Tarum. Ini untuk membuka pikiran masyarakat bahwa Ci Tarum adalah beranda rumah kita, yang harus kita jaga dan pelihara. Juga untuk mengingatkan semua orang bahwa Ci Tarum pernah begitu berjaya dengan Curug Jompongnya, menjadi objek wisata kebanggaan warga Bandung sejak 100 tahun yang lalu.

Semoga saya bisa menjadi bagian dari solusi, bukan hanya yang berucap tanpa berbuat.

Sanghyang Tikoro Tempo Dulu dalam Foto dan Sketsa

Berikut beberapa gambar Sanghyang Tikoro tempo dulu dalam foto dan sketsa. Gambar didapat dari berbagai sumber.

Sanghyang Tikoro dalam buku Bandoeng en haar Hoogvlakte (1930)

 

Sanghyang Tikoro dalam Collection of the Natural Sciences Commission for the Dutch East Indies (1839-1844)

 

Sketsa Sanghyang Tikoro oleh Junghuhn dalam buku Java: Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi en Inwendige Bouw (1854)

 

Sketsa Sanghyang Tikoro oleh Junghuhn dalam buku Java: Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi en Inwendige Bouw (1854)
Sketsa arah aliran Ci Tarum di Sanghyang Tikoro oleh Antoine Aauguste Joseph Payen (1792 – 1853). Koleksi Tropenmuseum

 

Lukisan Sanghyang Tikoro oleh Antoine Aauguste Joseph Payen (1792 – 1853) tahun 1827
Lukisan Sanghyang Tikoro dari hilir oleh Antoine Aauguste Joseph Payen (1792 – 1853) tahun 1827

Catatan Ekspedisi Novara 1857-1859: Menyusuri Ci Tarum dari Curug Jompong Hingga ke Sanghyang Tikoro

Pada tahun 1857, angkatan laut Kerajaan Austria meluncurkan ekspedisi saintifik skala besar menjelajahi dunia dengan nama Ekspedisi Novara (1857-1859). Penelitian ini berlangsung selama 2 tahun 3 bulan, dari 30 April 1857 hingga 30 Agustus 1859. Penjelajahan ini dilakukan dengan kapal Novara di bawah komando Komodor Bernhard von Wüllerstorf-Urbair dengan 345 kru dan 7 orang saintis. Persiapan ekspedisi riset ini dilakukan oleh “Imperial Academy of Sciences in Vienna” oleh para peneliti terkemuka di bawah arahan geolog Ferdinand von Hochstetter dan zoolog Georg von Frauenfeld.

Ferdinand von Hochstetter dan laporannya

Kisah perjalanan ini dilaporkan dalam laporan “Reise der österreichischen Fregatte Novara um die Erde in den Jahren 1857, 1858, 1859 unter den befehlen des Commodore B. von Wüllerstorf-Urbair” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “Narrative of the circumnavigation of the globe by the Austrian frigate Novara (Commodore B. von Wüllerstorf-Urbair)”, atau kalau dalam bahasa Indonesia menjadi Kisah Naratif Perjalanan Mengarungi Bumi dengan Kapal Penjelajah Novara.

Yang menarik dari ekspedisi ini adalah perjalanannya melewati Indonesia, dan Bandung pada 1857. Hochstetter, sebagai geolog dalam tim riset ini melaporkan perjalanan mereka berkunjung ke Bandung menelusuri Ci Tarum melewati Curug Jompong, kemudian melewati Ci Lanang hingga sampai di Gunung Guha dan Sanghyang Tikoro. Catatan yang lengkapnya dalam bahasa Jerman saya coba alih bahasakan dengan bantuan Google Translate.

Bagaimana ceritanya? Silakan ikuti berikut ini:

“Pada 19 Mei kami mengarahkan tujuan kami ke timur ke Bandung untuk mengunjungi Tji Tarum (baca: Ci Tarum) . Keinginan kami adalah mengeksplorasi bentang alam indah yang dihasilkan dari interaksi sungai dan batuan dasarnya, terutama ketika Ci Tarum menerobos bebatuan hijau dan batuan porfiritik membentuk deretan air terjun, Tjuruk Kapek (entah padanannya sekarang apa), Tjuruk-Lanong (baca: Curug Lanang, sudah tidak ada sejak digenang Saguling), dan Tjuruk Djombong (baca: Curug Jompong). Dari sana kami berkuda menerobos perbukitan porfiritik menuju kerucut bebatuan Batu Susun, di tepi Gunung Bulut (Gunung Buleud?) yang terbentuk dari kolom batuan beku porfiritik.

Batu Susun Gunung Bulut. Sumber: Hochstetter
Gunung Buleud masa kini. Foto dari Instagram Desa Situwangi

Pada sore hari yang sama, kami mencapai Tjililui (baca: Cililin), ibu kota dari kabupaten Rongga, karena kekayaan bebatuannya. Yang sangat mengejutkan adalah ramahnya sambutan dari masyarakat ketika kami sampai di sana. Makanan penuh di Pesanggrahan, bahkan Wedana Cililin juga menyediakan spesimen geologi yang ia kumpul dan siapkan, kemudian berikan pada kami. Nama orang sunda yang bersemangat ini adalah Mas Djaja Bradja, Wedana Cililin.

Pada tanggal 20 Mei kami mengecek tempat di mana spesimen itu ditemukan. Di tengah hari kami menemukan tempat pembakaran kapur, Liotji Tjangkang (Lio Ci Cangkang? Ci Cangkang adalah daerah di dekat Gunung Halu), di mana koral yang telah membatu berlimpah dan dapat diamati dari kejauhan. Karenanya kami mengarahkan kompas kami ke barat laut, masuk semakin dalam ke pegunungan, di sekitaran Gonnong Gatu (Gunung Batu?). Daerah ini terkenal karena banyaknya harimau, juga karena tebalnya alang-alang. Kami menyusuri Tji Lanang (Ci Lanang) dan cabang-cabang sungainya. Pertama kami harus turun jauh menuju pertemuan Tji Burial (Ci Burial) dan Tji Tangkil (Ci Tangkil), di mana di sana ada korok trakhit. Kami mengidentifikasi fosil kerang conchylia di antara puing-puing bebatuan yang terlepas dari dinding sungai. Batuan dasarnya adalah lumpur tufan.

Kami berkuda dengan kecepatan penuh melewati gunung yang tidak banyak penduduknya. Ini karena kami harus menghindari hujan badai karena petir dan kilat sudah menyambar-nyambar. Kami beruntung tiba tepat waktu di desa kecil di kaki gunung, yaitu Desa Gunung-Alu (baca: Gunung Halu), di tepi Tji Dadass (baca: Ci Cadas), di kaki pegunungan yang menjadi batas air antara pegunungan utara dan selatan Jawa.

Pada tanggal 21 Mei, kami pergi ke Lembah Tji Lanang yang membentang di lereng terjal Gunung Sela yang terbentuk dari batupasir yang miring terjal. Lokasi ini adalah di mana petrifaksi melimpah dan di mana sisa-sisa fosil bisa diamati pada posisi fosil itu terendapkan di antara lapisan lumpur dan batupasirnya. Satu spesies fosil resin sering juga ditemukan di sini, berdampingan dengan fosil-fosil indah lainnya. Dari titik ini kami mengikuti lembah Tji-Lanang ke arah utara, dan di ujung lembah ini kami berbelok ke jalan yang jarang dilalui menuju lembah Tji-Tjamotha (baca: Ci Camota?), yaitu di batuan breksi gampingan Batu-Kakapa (?). Masih sedikit jauh dari desa perbukitan Tji-Jabang (?), di mana kemudian kami akan kembali ke sungai Tji-Tarum, di mana di titik ini Tji Tarum membentuk air terjun paling megah di Pulau Jawa, yang membelah pegunungan yang menjadi batas dataran Bandung, terbentuk dari batu hijau porfiritik, basal-trakit, dan tebing-tebing tegak kapur. Mengalir ke hilir, setelah melewati jeram-jeram yang indah, Tji Tarum kemudian menjadi sungai yang bisa dilayari, mengalir pelan melewati teras Rajamandala.

Pemandangan alam Jawa terasa sangat megah dengan deretan bukit berbatu, hutan primer yang dihantui kisah-kisah mengerikan binatang-binatang liar. Di daerah ini ada tiga titik yang sangat menarik, Tjukang-Raon (baca: Cukang Rahong), Tjuruk-Almion (baca: Curug Halimun), dan Sangjang-Holut (baca: Sanghyang Heuleut). Ketiganya menyimpan potensi menarik, yang orang-orang dapat mempelajari struktur-struktur geologinya. Ketiga titik ini terletak saling berdekatan. Untuk mencapai daerah ini, orang dapat memulai dari desa Tjijabang, di dataran perbukitan, kemudian menuruni lereng-lereng terjal dengan ketinggian 300-500 meter! Orang-orang dapat mempercayai apa yang ditulis Junghuhn pada 1854, bahwa meskipun Tjurak-Almion (Curug Halimun, air terjun kabut) adalah air terjun paling megah di Pulau Jawa, tapi tidak ada satu pun orang Eropa, kecuali dirinya yang pernah ke sana. Kami bisa membayangkan penderitaan masyarakat lokal yang membuat jalur ke sana untuk membuat akses memungkinkan. Kami menemukan jejak-jejak langkah, tangga, dan tali rotan, dan karenanya kami bisa bilang bahwa kami mengikuti jalur Junghuhn.

Pada tanggal 21 Mei, kami hanya mengunjungi Tjukang-Raon, di mana Tji-Tarum mengalir dahsyat karena dipaksa melewati celah yang lebarnya tidak lebih dari 4 meter. Di sini ada tangga bambu yang tampak rapuh dengan tali rotan tergantung di kedua sisinya, mengarah ke dinding tegak lurus dari portal batu ini.

Pada pagi hari tanggal 22 Mei, kami mengunjungi Tjuruk-Almion, air terjun terindah di Tji Tarum, di mana di sini air terjun jatuh di atas tebing batu hijau setinggi empat meter. Kemudian kami melewati rantai basal Gunung Lanang, turun sangat jauh dari ketinggian 2653 kaki ke bagian terdalam, yaitu suatu lembah jurang, Sangjang Holut, yang diduga merupakan suatu kawah purba yang sejajar dengan batuan tersier batupasir menyisakan sungai selebar 4 meter saja.

Di hari yang sama, kami sampai di desa kecil Gua, di kaki gunung bagian utara Gunung Nungnang, suatu formasi batugamping yang megah, yang sisi curamnya menjadi batas antar perbukitan batugamping dengan dataran Radjamandala yang luas ke utaranya. Gunung Nungnang memeiliki banyak rekahan-rekahan, yang dimanfaatkan oleh burung walet untuk membuat sarang. Sarang ini kemudian diambil oleh masyarakat lokal untuk diserahkan pada Bupati, sebuah pekerjaan yang sangat berbahaya.

Gunung Nungnang bei Gua – Batugamping Eosen. Sumber: Hochstetter

Pada tanggal 23 Mei, kami dengan hati-hati menjelajahi Sangjang Tjikoro, suatu bukit batugamping, di mana Tji-Tarum bercabang masuk menembus masuk ke dalam bukit. Sangat menarik dari sudut pandang geolog, karena pada titik ini kita menemukan batugamping yang sama dalam posisi horizontal membentuk struktur bukit di tepi seberang sungai ini. Dari Radjamandala kami kembali ke jalan utama ke Tjiandjur dan kemudian kembali ke Batavia.

Kegiatan membaca buku-buku lama tentang Bandung membuat saya semakin hanyut dalam kisahnya. Terutama di buku ini dibahas tentang Ci Lanang yang merupakan tempat tugas akhir saya waktu kuliah sarjana dulu. Semoga bisa menggali lebih detil lagi.

Silakan bertanya, meninggalkan komentar, atau memberi saran bacaan menarik tentang sejarah cekungan bandung, saya akan senang sekali.

 

sumber

 

Geotrek Curug Jompong Tahun 1918

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya Curug Jompong Dulu dan Sekarang

Pernah gak membayangkan bahwa geotrek itu sudah ada sejak 100 tahun yang lalu? Atau lebih mantap lagi pernah gak membayangkan bahwa geotrek ke Curug Jompong itu sudah ada sejak 100 tahun yang lalu?

urn-gvn-VKM01-A92-32-large (2)
Curug Jompong tahun 1915. Kerncollectie Fotografie, Museum Volkenkunde. Foto: 

Ternyata budaya berkelompok dan mengunjungi objek geowisata bersama-sama sudah dikenal sejak lama. Dalam sebuah pengumuman yang dimuat oleh Harian Umum Hindia: Tanah Priangan (nama asli korannya Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode), Perkumpulan Sejarah dan Alam Cabang Bandung (Natuurhistorische Vereeniging) mengajak anggotanya atau mungkin masyarakat umum untuk ikut dalam ekskursi mereka ke Curug Jompong. Pengumuman ini bertanggal 19 Desember 1918, hampir 100 tahun yang lalu. Modelnya persis dengan geotrek yang biasa dilakukan oleh komunitas-komunitas di Bandung.

Seperti apa ceritanya? Berikut artikel yang telah dialihbahasakan secara bebas dengan bantuan Google Translate.

Perkumpulan Sejarah dan Alam cabang Bandung mengadakan ekskursi pada tanggal 22 Desember tahun ini ke salah satu jeram Ci Tarum di daerah Leuwi Sapi yang dikenal sebagai Curug Jompong. Jeram ini terbentuk akibat halangan dari batuan andesit piroksen (salah satu spesies batuan tertua berumur miosen), dan merupakan tipe batuan yang langka, karena hanya ditemukan beberapa saja di Pulau Jawa. Lokasinya sekitar 7 km arah selatan dari Cimahi. 

Peserta yang ingin ikut bisa berkumpul jam 6 pagi di Pasar Andir dan dari sana kita akan berjalan kaki ke arah selatan. Rute ini secara umum jalan setapak, tapi akan menyenangkan karena kita akan melihat banyak desa-desa di sepanjang jalan yang jarang kita lihat karena tidak terletak di jalan utama. 

Setelah dua jam berjalan kaki kita akan sampai di daerah Gadjah di tepi Ci Tarum. Kita sebrangi Ci Tarum lewat sebuah jembatan bambu yang indah, mengobati energi kita yang terkuras habis di sini. 

Gadjah pada waktu lampau merupakan ibukota dari Kabupaten Batulayang, tetapi harus didirikan dan dibangun ulang oleh Rangga Abdoelrachman. Pada tahun 1802, kabupaten ini dilebur ke Bandung karena bupatinya berlaku buruk karena kebanyakan mabuk dan mengonsumsi opium. Kabupaten ini juga enggan membayar pajak pada Batavia dan akibatnya Bupati Bandung harus menalangi tagihan kabupaten ini. 

Gadjah yang sekarang (tahun 1918) merupakan desa kecil di tepi Ci Tarum dan kita bisa temukan makam dari Bupati Batulayang. “Bupati, istri, dan anaknya dimakamkan di sini”, kata penduduk setempat. Di makamnya ada atap kayu dan makamnya di kelilingi oleh pagar bambu yang tidak rapi. Penduduk lokal tidak tahu siapa nama bupati itu, dan hanya menyebutnya sebagai “Dalem”, yang mana merupakan sebutan umum untuk bupati di wilayah ini. Kemungkinan besar itu adalah makan Raden Tumenggung Angadiredja.

Di depan pintu masuk utama, ditemukan arca/gambar Ganesha, Dewa India yang merupakan dewa ilmu pengetahuan dan berbentuk gajah. Gambar inilah kemungkinan besar yang menjadi asal muasal nama Kampung Gadjah. Dari kampung Gadjah, kita menyusuri tepian Ci Tarum hingga ke kaki Gunung Paseban. Bentang alamnya sangat indah di sini. Di kanan ada deras aliran air sungai, dan di kiri kita lihat kerucut sempurna Gunung Lalakon. 

Di Leuwisapi sampailah kita ke Ci Tarum, dan dengan sedikit perjuangan lagi tiba di tujuan utama, yaitu Curug Jompong. Ci Tarum meninggalkan dataran Bandung di sini dan menerobos perbukitan Selacau-Lagadar dan Lalakon dan membentuk beberapa air terjun dengan tinggi hingga 15 kaki atau 5 meter. Dari Curug Jompong kita masih harus berjalan sekitar 1.5 jam hingga Cimahi (yang capek bisa naik Sado – moda transportasi seperti delman). Jika masih ada waktu tersisa maka kunjungilah resort tepi danau Soeka Bernang. Kemudian peserta bisa naik kereta dari Cimahi kembali ke Bandung. 

MMKB08_000137465_mpeg21_p001_image.jpg
Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode 19 Desember 1918

Curug Jompong punya modal sejarah yang cukup untuk bangkit dan merebut kembali predikat lokasi wisata utama di Bandung raya. Saya ingin membandingkan Curug Jompong dengan Rheinfall, air terjun paling besar di Swiss dan di Eropa karena karakternya yang serupa. Kedua air terjun jatuh di sungai yang besar dan merupakan sungai utama di kedua daerah. Rheinfall jatuh di Sungai Rhein, sungai utama di Swiss dan Jerman, sementara Curug Jompong jatuh di Ci Tarum yang merupakan urat nadi kehidupan di Jawa Barat.

Semoga tulisan ini bisa merupakan langkah konkrit menuju jayanya kembali Curug Jompong di masa yang akan datang.

Curug Jompong Dulu dan Sekarang

Ci Tarum berkelok, berliku, dan mengalir pelan di dataran Bandung Selatan. Kemudian menabrak batuan beku intrusi berumur 4 juta tahun di Perbukitan Selacau-Lagadar, tepatnya di Gunung Paseban. Karena menabrak dinding yang kuat dan resisten, Ci Tarum berbelok ke utara mengitari Gunung Pancir, kemudian berbelok ke barat menerobos lembah antara Pasir Malang di sebelah selatan dan Gunung Lagadar di utaranya.

Di kiri-kanan lembah ini terdapat beberapa bukit seperti Gunung Korehkotok, Gunung Gadung, dan Gunung Selacau. Di lembahan inilah, dengan batuan dasar batuan beku intrusif Dasit-Andesit, aliran Ci Tarum terdisrupsi batuan keras, membentuk jeram-jeram bertingkat, salah satu yang paling terkenal adalah Curug Jompong.

Air terjun ini dulu pernah menjadi primadona pariwisata di Bandung Raya. Dalam Panduan Pariwisata Bandung Tempo Dulu Gidds van Bandoeng en Midden Priangan, Reitsma dan Hoogland menulis Curug Jompong sebagai destinasi wisata favorit warga Kota Bandung pada awal abad ke-20.


cover
Halaman Muka Buku Panduan ke Bandung dan Priangan Tengah karya Reitsma dan Hoogland

Salah satu jalur yang disarankan oleh Reitsma dan Hoogland untuk mengunjungi Curug Jompong adalah dengan berjalan kaki atau bersepeda dari Stasiun Andir ke arah selatan melewati daerah Cigondewah hilir (sekarang Taman Kopo Indah), menyeberangi Ci Tarum, kemudian sampai di daerah Gadjah, kurang lebih di daerah Kampung Mahmud (baca tentang Kampung Mahmud oleh Budi Brahmantyo di sini).  Gadjah adalah daerah penting dalam sejarah Priangan, karena merupakan ibukota dari Kabupaten Batulayang (lebih lanjut tentang Batulayang baca reportase Tirto).

Berikut deskripsi Reitsma dan Hoogland tentang jalur ini (diterjemahkan bebas dengan bantuan Google Translate):

“…Dari Gadjah kemudian melewati jalan Soreang-Batujajar menyusuri Ci Tarum dan mengitari Gunung Paseban. Bentang alamnya sangat indah di sini, di kanan mengalir sungai yang jernih berkilau, di kiri kerucut indah Gunung Lalakon. Boleh dibilang jalur Soreang – Batujajar melalui Curug Jompong adalah salah satu jalur paling indah di Pulau Jawa. Terutama di musim penghujan, kala aliran sungai penuh bergemuruh, air berlompatan meloncati bebatuan, lalu berdebur gelombang saling berhantaman. Deru air membentuk kabut yang tersusun dari jutaan titik air yang membiaskan cahaya mentari membentuk pelangi dengan latar bebatuan berwarna gelap.” 

Dalam catatan lain di buku Bandoeng en haar Hoogvlakte (Bandung dan Dataran Tinggi), yang diterbitkan oleh Penerbit Visser & Co. cabang Bandung pada tahun 1930, Professor Th. H.F. Klompe, yang namanya diabadikan menjadi nama Perpustakaan Teknik Geologi ITB, menulis artikel Geologische Geschiedenis van de Vlaakte van Bandoeng (Kisah Geologi Dataran Bandung) dalam segmen Wat de Stennen zeggen (Apa yang disampaikan bebatuan). Dalam tulisannya ini Professor Klompe menulis tentang Curug Jompong.

Bandoeng en haar Hoogvlakte.png
Halaman muka buku Bandoeng en haar Hoogvlakt

“…Tji Tarum menerobos batuan vulkanik yang membentuk lembah terjal seperti ngarai. Segmen ini terbagi menjadi tiga tingkat jeram. Tingkatan yang pertama disebut Tjoeroeg Djompong, di mana air sungai jatuh di sekitar air terjun setinggi kurang lebih 15 meter. Sungai kemudian mengalir melalui ngarai yang terbentuk di antara dinding curam dan memiliki kedalaman 100 hingga 150 meter hingga jeram kedua yang terbentuk dari batuan vulkanik yang sama di tempat Tji Mahi bermuara ke Tji Tarum. Tji Tarum berbelok agak ke barat daya sehingga tidak memungkinkan untuk melihat ke arah timur. 

Di bagian bawah dari tebing, ditemukan endapan berlapis datar yang tidak selaras dengan tebing, yaitu endapan danau. Di sini ditemukan sisa-sisa kerang air tawar, sementara jika kita menggali lebih dalam akan menemukan batuan vulkanik dan tersier. Menurut Junghuhn, endapan ini terdiri atas endapan debu volkanik yang membentuk lapisan datar dan telah mengeras. Dari fakta-fakta geologi yang didapatkan bahwa dataran Bandung terbentuk dari seri endapan gunungapi dan lapisan paling muda (sebelum endapan danau) juga merupakan endapan gunungapi, maka pada masa pra-sejarah, erupsi gunungapi pastilah memiliki signifikansi yang tinggi.” 

Membaca catatan-catatan tua tentang Curug Jompong saya meringis, miris. Monumen alam luar biasa yang menempati tempat spesial di hati orang-orang yang menghargai keindahan alam, yang menghargai signifikansi sejarah suatu kisah, kini nasibnya begitu menyedihkan.

Boro-boro menjadi tempat wisata. Curug Jompong yang sekarang sangatlah memilukan. Jika seratus tahun yang lalu Reitsma bilang sungai yang mengalir jernih kemilau, yang ada sekarang adalah aliran dengan air beracun, penuh limbah, dan jeramnya menjadi pusaran sampah. Beberapa kali pembunuhan terjadi dan mayat yang dibuang ke Ci Tarum tersangkut di sini hingga masyarakat enggan berdekatan dengan sungai karena takut direpotkan.

Geomorfologinya yang megah yang menjeram air dari hulu malah dianggap sebagai penyebab banjir karena melambatkan aliran air. Ia dituduh sana-sini, menjadi kambing hitam atas kondisi alamiah Cekungan Bandung yang bahkan sudah banjir sejak sebelum Klompe menulis artikelnya.

Gunung-gunung di sekitar Curug Jompong yang ditulis Reitsma dan Hoogland sebagai salah satu latar pemandangan paling indah di Pulau Jawa pun kini malang nasibnya. Bopeng-bopeng dipocel sana-sini. Coba susuri jalan dari Stadion Si Jalak Harupat ke Cililin, jika hari normal maka debu beterbangan. Jika hari hujan maka lumpur berbanjiran di jalan. Tidak ada yang ingat bahwa kawasan itu pernah punya predikat yang luar biasa.

Dua dari tiga tingkatan jeram yang tercatat dalam tulisan Klompe pun tidak ada lagi sejak Saguling digenangi tahun 1985.

Lantas kita sekarang harus bagaimana?

Salah satu cara agar kita bisa mengapresiasi yang kita miliki adalah dengan mengenali lebih dekat. Napak tilas jalur wisata yang disarankan oleh Reitsma dan Hoogland boleh jadi salah satu titik awalnya. Dengan membuka catatan lama kita seolah menghidupkan kembali memori yang diabadikan penulis dalam tulisannya, seolah memutar balik waktu, mencoba membayangkan apa yang dilihat orang-orang di Bandung tempo dulu, hampir seratus tahun yang lalu.

Kembangkan jalur wisata, jalur berjalan kaki dari Soreang ke Batujajar dari Mohammad Toha sampai ke Cililin, dengan Curug Jompong sebagai pusatnya, dengan pemuda sebagai motornya. Jangan sampai Perbukitan Selacau-Lagadar hanya jadi halaman belakang pabrik-pabrik dan tambang seperti sekarang. Yang enggan kita mengunjunginya, yang segan kita mampir karena satpam menjagainya.

Sebelum semua kerucut intrusi gunungapi purba di Perbukitan Selacau-Lagadar dilinggis habis, sebelum jeram megah Curug Jompong dipangkas tumpas.

Selagi masih bisa kita menjaganya, selagi masih mungkin kita mengembalikan kejayaannya. Membawanya pada kejayaan yang baru, yang membikin orang nanti lupa bahwa Curug Jompong pernah begini merana, seperti kita sekarang lupa Curug Jompong pernah begitu memesona pada masanya.

Semoga.

urn-gvn-VKM01-A92-32-large (2).jpeg
Tjurug Djompong
curug-jompong
Curug Jompong dari udara. Foto Jurnalis Peduli Citarum

Cerita Berguru Kepada Mahasiswa di Unikom

Salah satu pengalaman hidup saya yang paling saya banggakan adalah pengalaman mengajar saya. Pada tahun 2015-2016 saya diminta untuk membantu mengajar mata kuliah Geologi Lingkungan di Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Unikom Bandung. Sebenarnya saya paham saya belum pantas untuk mengajar karena minimnya pengetahuan yang saya punya, juga status pendidikan saya yang hanya sarjana, tapi mungkin inilah kenyataan di Indonesia bahwa kita kekurangan tenaga pendidik.

Sebelum mengajar di Unikom, pengalaman mengajar saya adalah sebagai asisten praktikum di Jurusan Teknik Geologi ITB, yaitu praktikum Petrologi, praktikum Sistem Informasi Geografi (SIG), dan praktikum Geologi Teknik. Selain itu saya juga membantu pengajaran mata kuliah Geologi Lingkungan, yaitu memfasilitasi penyelesaian masalah geologi lingkungan menggunakan SIG. Juga membantu almarhum Pak Budi Brahmantyo mengajar peserta Olimpiade Geografi Nasional untuk mempersiapkan ke Olimpiade Geografi Internasional.

Tapi tentu yang paling berkesan bagi saya adalah mengajar di Unikom, karena di sini saya bertanggung jawab penuh terhadap tata cara pengajaran dari materi, ujian, penilaian, hingga ekskursi.

Saya yang waktu itu masih berumur 24 tahun sudah dipanggil Bapak oleh mahasiswa-mahasiswa yang tidak lebih muda dari adik saya. Rasanya agak canggung, tapi saya merasakan hormat yang besar dari kawan-kawan saya itu. Ya, mereka lebih pantas saya sebut sebagai kawan-kawan saya dibandingkan sebagai mahasiswa saya.

Rasanya juga tak pantas jika saya disebut mengajar kawan-kawan saya itu, karena saya merasa saya belajar lebih banyak dari mereka. Saya belajar untuk mempersiapkan diri, saya belajar untuk berbicara di depan publik, saya belajar untuk menuangkan pikiran saya dengan kalimat yang sederhana. Tapi yang paling utama adalah saya belajar untuk mempraktikkan ilmu yang saya terima dari guru saya, Pak Budi Brahmantyo, yaitu cara menciptakan suasana belajar mengajar yang egaliter tapi tetap saling menghargai.

Saya menikmati setiap kunjungan saya ke Museum Geologi untuk memikirkan cara yang paling mudah mengajari kawan-kawan saya ini mengerti bebatuan dan geologi. Membayangkan tugas yang diberikan, seberapa banyak waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas karena saya paham mahasiswa tidak senang mengerjakan tugas.

Saya menikmati menyiapkan presentasi kuliah, mengatur temponya agar sesuai dengan lama waktu perkuliahan. Saya ingat di awal periode perkuliahan saya memakai salindia (slide) milik Pak Budi. Saya ingat Pak Budi menghabiskan lebih dari 2 jam mata pelajaran untuk menyelesaikan salindia tersebut, sementara saya bercuap-cuap dan selesai dalam 30 menit. Saya sadar di sana bahwa saya perlu berlatih dan bersiap-siap. Saya harus tahu betul apa yang mau saya sampaikan dan bagaimana cara saya mengukur ketersampaian apa yang saya sampaikan.

Suatu hari setelah berkisah tentang bencana geologi, seorang mahasiswa saya melaporkan tentang banjir bandang di daerah Cikutra. Ia menuliskan opininya, pandangannya tentang alih fungsi lahan di Bandung Utara yang menyebabkan terjadinya banjir bandang di sana. Saya bangga luar biasa pada dia, bahwa dalam dirinya ada keinginan untuk mencari tahu dan peduli pada sekitar.

Di hari yang lain kawan-kawan saya ini menyusun sebuah acara geowisata kunjungan ke Taman Hutan Raya Djuanda. Ini merupakan ekskursi mandiri mereka setelah ekskursi wajib pertama ke Rajamandala. Saya merasa melihat diri saya sendiri bertahun-tahun lalu ketika masih mahasiswa dan punya energi untuk melakukan banyak hal. Begitu juga teman-teman saya ini, energinya besar untuk berbuat dan menghasilkan karya.

Mengajar di Unikom merupakan salah satu pengalaman terbaik saya. Di sana saya belajar banyak tentang ilmu kehidupan. Benar-benar ilmu kehidupan karena jarang kita punya kesempatan untuk belajar menjadi teman, guru, mentor, teladan. Tak banyak kesempatan kita untuk belajar bersikap, menghargai pendapat, memberi semangat dan motivasi.

Dan untuk itu saya berterima kasih banyak pada kawan-kawan saya,

PWK Unikom 2014

pwk2014

PWK Unikom 2015

pwk2015

Menyusur Deretan Air Terjun di Curug Malela

Curug Malela adalah aset berharga Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Air terjun ini merupakan destinasi wisata nomor satu di Kabupaten Bandung Barat bagian selatan. Pencarian google per tanggal 14 Juli 2018 menghasilkan 96100 halaman membahas mengenai Curug Malela dan terdapat lebih dari 12 ribu kiriman dengan tagar (hashtag) #CurugMalela di Instagram.

Pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Curug Malela sudah memetakan potensi kawasan di Curug Malela. Hasilnya adalah jika kita menyusur ke hilir Ci Curug dari Curug Malela, maka kita bisa temui deretan curug-curug lainnya, mulai dari Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Sumpel, Curug Ngebul, Curug Palisir, dan Curug Pameungpeuk. Informasi mengenai curug-curug ini masih sukar didapat meski sudah ada beberapa kiriman foto di media seperti Facebook atau Instagram.

Kesan-kesan mereka yang sudah mengunjungi curug-curug ini adalah tentang potensi besarnya untuk berkembang. Curug-curug ini memiliki potensinya masing-masing, seperti Curug Katumiri yang berpelangi di pagi hari, Curug Sumpel yang tinggi yang kita bisa mengamati fenomena geologi sesar, atau Curug Ngebul yang alirannya jatuh tegak dan menimbulkan percikan hebat, bahkan seringkali seolah-olah langit “ngebul” atau berasap, semua air terjun punya karakter dan keindahannya masing-masing. Namun permasalahan utama dari deretan air terjun penuh potensi ini adalah belum adanya akses. Saat ini untuk menyusuri deretan air terjun ini, kita harus merintis jalur menyusuri lereng yang sangat terjal. Jalurnya masih sangat berbahaya dan sangat tidak dianjurkan untuk dilewati.

Saat ini jika kita berkunjung ke Curug Malela, maka hampir dipastikan bahwa kita akan datang dan pergi melalui jalur yang sama. Di sepanjang jalur ini, fasilitas yang tersedia sudah sangat baik. Banyak pula warga sekitar yang mendapatkan manfaat dengan membuka warung, membuat anjungan untuk berfoto, menjual jagung, dan lain-lain. Namun jika kita membuka jalur ke bagian hilir dari Ci Curug menyusuri curug-curug yang ada, kita bisa membuat suatu lintasan wisata tertutup. Jadi kita bisa pergi dan pulang lewat jalur yang berbeda. Ini bisa memberikan pengalaman baru yang positif bagi mereka yang berwisata ke Curug Malela.

Pada peta di bawah ini, dapat dilihat bahwa ada potensi untuk membuka jalan setapak sepanjang 2 kilometer sepanjang aliran Ci Curug untuk kemudian menyambungkan jalur wisata yang sudah ada dengan jalur di Kampung Cikadumanglid yang selama ini mungkin kurang mendapat ekspos dibandingkan kampung tetangganya, Kampung Manglid yang berada di area parkir Curug Malela.

curugmalelacopyright
Saran rancangan jalur geotrek Curug Malela. Dari Curug Malela harus membuka jalur baru hingga ke Curug Ngebul dan ke Lembur Cikadumanglid. Potensi besar untuk mengembangkan perekonomian Lembur Cikadumanglid.

Dengan membuka jalan setapak baru ini juga, kita bisa memperpanjang waktu kunjungan wisatawan ke Curug Malela. Saat ini belum ada data pastinya, tapi diperkirakan rata-rata pengunjung Curug Malela menghabiskan 2-3 jam untuk bermain di sekitar Curug Malela. Jika ada jalur wisata baru kita bisa menambah waktu kunjungan 3 jam untuk 1 penelusuran (jika jalur sudah siap dan baik). Tiga jam tambahan waktu ini bisa menjadi alasan kuat untuk pengunjung memutuskan bermalam di Curug Malela, baik berkemah maupun menyewa rumah penduduk. Selain itu juga karena jalurnya ekstrim, tidak menutup kemungkinan pula pengurus Pokdarwis membatasi kunjungan ke hilir dan mewajibkan pemanduan. Tentu ini menjadi peluang baik bagi masyarakat untuk bekerja di sektor jasa wisata.

Bayangkan Curug Malela seperti Taman Hutan Raya Djuanda yang jalurnya nyaman, pengunjungnya datang menyusuri jalur yang sudah ada, berfoto di air terjun, Curug Malela, Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul dan seterusnya. Dari situ berkembang lagi potensi yang lain, mendaki Gunung Malela misalnya, atau entah apa lagi potensi yang bisa terbuka lebar jika kita serius memanfaatkan potensi yang kita punya.

Bagi yang ingin tahu lebih lanjut tentang curug Malela bisa mampir di Geotrek Curug Malela, Ekspresi Rasa Takjub pada Ciptaan Yang Maha Kuasa

Merawat Sejarah Bentang Alam

Suatu hari saya berjalan kaki di tepian Sungai Elbe di Kota Dresden, Jerman. Di awal musim semi ketika udara mulai hangat dan orang-orang bertebaran menikmati matahari yang tak lagi jarang. Sungai Elbe adalah salah satu sungai penting di Eropa Tengah dengan panjang hingga 1000 kilometer. Ia mengalir dari Pegunungan Krkonoše di Republik Ceko hingga bermuara ke Hamburg, di Laut Utara.

Selayaknya kota di mana pun di dunia yang menjadikan sungai sebagai pusat kebudayaannya, di Dresden pun sama, Sungai Elbe adalah denyut nadi utama kota Dresden. Ia menjadi saksi tumbuh kembangnya budaya, naik-turunnya raja-raja, pemerintahan-pemerintahan, dari monarki yang absolut, Republik Demokrasi Jerman Timur, hingga pemerintahan zaman sekarang.

Di tepian Sungai Elbe, saya melihat sebuah instalasi sederhana yang mengagumkan. Instalasi itu hanya sebuah bingkai tembus yang menghadap ke arah Sungai Elbe dengan latar bangunan-bangunan tua kebanggaan Kota Dresden. Melihat ke bingkai itu, ditambah dengan sebuah deskripsi mengenai Kota Dresden di masa lampau dan sebuah lukisan lawas lanskap yang sama tempo dulu, membuat saya seolah kembali ke masa lalu, ke masa 100-200 tahun yang lalu.

Dari seberang Sungai Elbe, kita bisa menangkap bangunan-bangunan tua berderet (dari kiri ke kanan di dalam bingkai:) Frauenkirche, Courthouse Dresden, dan Katolische Hofkirche, serta Jembatan Augustus (Augustusbrucke). Bangunan-bangunan yang masih sama dengan ratusan tahun yang lalu, hanya tanpa mesin-mesin yang dipakai untuk renovasi di masa sekarang.

20180405_152737

20180405_151809
Gambar di bagian bawah bingkai. Terlihat Frauenkirche (sebelah kiri), dan Katolische Hofkirche (kanan). Gambar sekitar abad ke-19.

Saya kira instalasi ini sangat elegan. Sebuah upaya merawat sebuah lanskap agar tak hilang ditelan ketamakan. Saya yakin benar bahwa pemerintah Kota Dresden akan berupaya sekuat tenaga untuk menjaga lanskap ini tetap sama sebagai identitas utama kotanya.

Melihat itu kemudian saya teringat Gedung Sate dan Gedung Balai Kota Bandung yang gagal menjaga lanskapnya. Dari pemahaman saya melalui cerita-cerita yang saya pahami, Gedung Sate dibangun berorientasi Utara-Selatan dan kita disajikan pemandangan Gunung Tangkuban Perahu dan Burangrang bebas tanpa halangan apa-apa. Oleh karena itu, konon tak boleh ada gedung yang tinggi di depan Gedung Sate sehingga tak menghalangi pemandangan gunung-gunung tersebut.

gedung sate.png
Pemandangan Gedung Sate. Amati gedung putih tinggi yang menghalangi pandangan dari Gedung Sate ke Gunung Burangrang. Gambar dicuplik dari video drone oleh Drone Keliling.

Pun demikian dengan Gedung Balai Kota, kita bisa melihat hotel di belakang Gedung Balai Kota. Menurut hemat saya, (tanpa bermaksud menjelekkan gedung baru) keberadaan hotel ini menghancurkan estetika Gedung Balai Kota sama sekali.

20170420_130844.jpg
Gedung di belakang Balai Kota Bandung, sangat merusak estetika bangunan. Gagal paham.

Bentang alam adalah sebuah monumen yang harus dilestarikan. Ia adalah latar dari kota, bangunan, kejadian-kejadian, atau segala hal-hal yang kemudian mempunyai nilai sebagai identitas. Tanpa bentang alam ini, maka identitas kota, bangunan, kejadian-kejadian pun perlahan sirna, orang sulit mengingatnya.

Pun demikian halnya dengan bentang alam geologi, seperti kisah “Gunung Gamping, Contoh Buruk Eksploitasi Karst” yang ditulis oleh dosen saya, Dr. Budi Brahmantyo, beliau bercerita tentang kegagalan kita menjaga bentang alam Gunung Gamping hingga hanya menyisakan sebuah sketsa lama Junghuhn, dan sebuah bongkah batu kecil sebagai penanda bahwa pernah ada formasi batugamping di sana.

 

Posted by Budi Brahmantyo on Thursday, July 4, 2013

Demikian instalasi bingkai kota Dresden dan Sungai Elbe ini menginspirasi saya tentang cara yang sangat sederhana untuk merawat bentang alam. Mengabadikannya dengan membuat instalasi sederhana, agar orang yang datang mampu merasakan bahwa lanskap yang ada di hadapannya adalah berharga, jangan dihalangi oleh gedung-gedung tinggi, atau jangan dibongkar diratakan dengan tanah demi kepentingan rupiah yang tak seberapa. Buat saya instalasi ini sangat menarik untuk dipraktekkan untuk melawan degradasi hebat di monumen-monumen kota dan alam di Indonesia. Siapa tahu?

 

Berburu Fosil Moluska dan Fosil Kayu di Ci Lanang

Alkisah 5-6 tahun yang lalu saya diminta mengantar ibu saya ke daerah Cijenuk, Kabupaten Bandung Barat, sekitar 35 km arah barat daya Kota Bandung, untuk mengunjungi suatu pesantren. Waktu itu pertama kali saya mengunjungi Cijenuk dan rasanya jauh sekali. Saya mengumpat dan menyumpah, kurang lebih seperti ini, “Aku mah moal sakali-kali deui kadieu” atau dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya saya tidak akan sekali-kali lagi kesini. Namun ternyata tidak baik mengumpat di depan orangtua, akhirnya saya kena dampaknya. Di tahun 2013, lapangan tugas akhir saya berlokasi di Gunung Halu, ya sekitar 30 kilometer arah barat dari Cijenuk.

Saya punya ikatan batin yang cukup baik dengan daerah Gununghalu, terutama karena berkat peta geologi saya di daerah ini saya dapat lulus sarjana dari ITB dan bisa mencari makan dengan pengetahuan yang saya miliki.

Tulisan kali ini adalah upaya saya untuk memperkenalkan salahsatu tempat untuk belajar dan berwisata di Gununghalu, yaitu Ci Lanang – Wisata Fosil Moluska, Fosil Kayu, dan Akik.

Cilanang Beds

Cilanang Beds adalah istilah yang diperkenalkan oleh Oostingh (1939, dalam van Bemmelen 1949) sebagai suatu lapisan batupasir di Ci Lanang yang mengandung fosil-fosil moluska berumur Miosen Tengah atau oleh Oostingh dikelompokkan ke dalam jenjang Preangerian. Umur ini didapatkan dengan meninjau kandungan fosil moluska yang masih hidup hingga sekarang yaitu sebanyak 33%.

Selain kandungan fosil moluska, di Ci Lanang juga dijumpai fosil-fosil kayu dan batu akik sebagaimana penemuan oleh Sujatmiko dan penulis sendiri ketika melaksanakan tugas akhir di tahun 2013.

Dalam peta geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru (Koesmono dkk, 1996), lapisan ini termasuk ke dalam Formasi Cimandiri (Tmc) berumur Miosen Tengah dengan lingkungan pengendapan fluvial-peralihan. Ciri litologinya adalah perselingan batulempung dan batulanau kelabu muda sampai menengah dan batupasir coklat kekuning-kuningan; setempat gampingan; setempat meliputi endapan lahar yang tersusun atas tuf, breksi andesit, dan breksi tuf. Globigerina, butir-butir damar yang lembut dan sisa-sisa tumbuhan terdapat jarang-jarang di dalam sisipan batulanau atau batupasir mengandung glaukonit.

peta-geologi-gabung
Lokasi penelitian pada Formasi Cimandiri (Tmc) berwarna hijau kebiruan. Lembar bagian atas adalah Lembar Cianjur, bagian bawah adalah Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru.

Sedangkan dalam peta geologi Lembar Cianjur (Sujatmiko), lapisan ini dikelompokkan sebagai Tufa Batuapung, Batupasir Tufan (Mt) dengan ciri litologi: Breksi tufan berbatuapung, batupasir tufan, napal tufan. Mengandung foraminifera kecil. Berlapis baik. Bila lapuk, formasi ini bercorak khusus, lunak, putih, atau abu-abu muda dan dapat dikenal mudah dari kejauhan. Di beberapa tempat terdapat tufa-tufa terkersikkan (akik) dan kayu terkersikkan.

Kehadiran fosil, akik dan fosil kayu dalam Formasi Cimandiri merupakan suatu hal unik dan menarik untuk diamati dan dipelajari.

Lokasi Penemuan Fosil Moluska dan Fosil Kayu

Aliran Ci Lanang berasal dari Pasir Ciasahan di Desa Tamanjaya, Kecamatan Gununghalu. Sungai ini bermuara ke genangan Saguling di Kampung Cinangka, Desa Mekarsari, Kecamatan Cipongkor. Lokasi pengamatan fosil moluska, akik, dan fosil kayu berada di Kampung Tonjongpeusing, Desa Wargasaluyu.

Pada lokasi ini ditemukan beberapa jenis fosil moluska yaitu Paphia neglecta, Strombus herklotsi, dan Anadara preangerensis. Moluska-moluska ini hidup pada zaman Miosen Atas dengan lingkungan hidup laut dangkal.

moluska
Kandungan fosil moluska di daerah penelitian. (a) , Paphia neglecta  Martin, 1919 (b) Strombus herklotsi  Martin, 1879 (c) Anadara preangerensis Martin, 1910

Di bagian hulu dari Ci Lanang, ditemukan fosil kayu dalam endapan laharik. Fosil ini merupakan kayu yang sudah mengalami silisifikasi sehingga menjadi keras.

Fosil Kayu di Ci Lanang
Fosil Kayu di Ci Lanang dalam singkapan aliran lahar
Fosil Kayu di Ci Lanang
Fosil Kayu di Ci Lanang dalam aliran laharik. Teramati sisa-sisa karbon pembakaran arang.

Sujatmiko dalam laman facebooknya (https://www.facebook.com/sujatmiko.miko24/posts/10204251346833644) melaporkan penemuan batuakik pada singkapan di Ci Lanang. Penulis menduga bahwa lokasi penemuan tidak jauh dari lokasi temuan penulis.

10406477_10204250413850320_5283812878537429191_n
Temuan batuakik oleh Sujatmiko yang telah diolah dan siap menjadi perhiasan

Menurut Sujatmiko, salahsatu batu mulia yang ditemukan di Cilanang adalah kalsedon yang ditemukan mengisi rekahan-rekahan dalam satu bongkah besar batupasir Formasi Cimandiri. Struktur-struktur pada batu mulia yang dijumpai di antaranya struktur bulu ayam (plume structure) atau bunga (flower structure).

Model Wisata Edukasi

Keberadaan fosil moluska, fosil kayu, dan batuakik dalam singkapan-singkapan di Ci Lanang merupakan suatu potensi pembelajaran yang baik dan menarik. Saya membayangkan geotrek yang kontennya adalah eksplorasi fosil moluska, fosil kayu, dan batu akik. Seperti yang dilakukan oleh Sujatmiko dengan SEG-SC (Society of Economic Geology – Student Chapter) Unpad pada tahun 2014.

Para pengunjung bisa mengeksplorasi fosil-fosil dan mungkin membawa pulang sebagai oleh-oleh seperti wisata fosil di Amerika (U-Dig Fossil, Utah) dimana pengunjung melakukan eksplorasi mandiri terhadap fosil-fosil dan kemudian boleh membawanya pulang. Bahkan beberapa paleontolog muda kemudian lahir dari model pariwisata semacam ini, yaitu anak-anak yang diinspirasi oleh orangtuanya untuk berburu fosil-fosil.

Harapan saya kemudian kelak wisata edukasi seperti ini akan berkembang, semakin diminati dan mewujudkan mimpi para perintis bangsa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

equipment_hammer_chisel2
Contoh wisata edukasi mencari fosil di Inggris (http://www.discoveringfossils.co.uk/equipment.htm)

Salam.

Daftar Pustaka:

Koesmono, M., Kusnama, dan Suwarna, N., 1996. Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa skala 1:100.000 edisi ke-2. Puslitbang Geologi, Bandung.

Sujatmiko. 1972. Peta Geologi Lembar Cianjur skala 1:100.000. Puslitbang Geologi. Bandung

Sujatmiko.”FIELD TRIP SEG-SC UNPAD KE GUNUNG HALU BANDUNG.” Artikel Facebook. 18 Juni 2014. Diakses 31 Oktober 2016. https://www.facebook.com/sujatmiko.miko24/posts/10204251346833644

Van Bemmelen, R.W. 1949. The Geology of Indonesia vol 1A.. Martinus Nijhof, The Hague, The Netherland

Lava di Galeri Nuarta

Berkunjung ke Galeri Nuart milik perupa Nyoman Nuarta di Setrasari Bandung merupakan pengalaman seni yang menarik sekali. Ditemani sahabat saya, seorang pemandu di galeri tersebut, kami disuguhi cerita tentang karya-karya Pak Nyoman yang begitu mendunia. 

Namun dalam perjalanan saya, saya terkesima akan satu pemandangan dekat bengkel kerja patung Garuda Wisnu Kencana di bagian belakang galeri ini. Pak Nyoman membangun galeri ini di hamparan aliran lava Tangkuban Perahu purba berumur 48ka. Meski saya tak sempat mendekat untuk mengobservasi lebih teliti, saya mengamati blok-blok lava yang sepintas mirip kekar kolom yang tak membentuk sempurna.

Pak Nyoman sendiri membangun rumahnya di dekat sebuah curug bernama Curug Aleh. Curug ini dipercaya merupakan ujung aliran lava dari Tangkuban Perahu di sungai ini. Analog dengan Curug Dago yang juga merupakan ujung aliran lava Tangkuban Perahu 48ka. 

Lava yang bersifat basaltik ini mengalir encer dari pusat erupsinya di Tangkuban Perahu sana, membentuk aliran lava dengan struktur menarik seperti kekar kolom, pahoehoe lava, dll.

Alangkah baiknya jika informasi geologi disediakan pula di Galeri Nuarta sebagai pengaya informasi sehingga pengunjung menerima informasi komprehensif mengenai Galeri Nuarta. Tapi secara keseluruhan, galeri ini sangat menarik untuk dikunjungi. 

Muhammad Malik Ar Rahiem