Curug Halimun Tahun 1928

Minggu lalu saya baru berkunjung ke Curug Halimun, yang terletak di Kampung Cikondang, Saguling. Saya ke sana dengan Pak Bachtiar dan istri, serta adik saya. Kami dipandu langsung oleh ketua Pokdarwis Curug Halimun, Kang Ryan. Untuk memperkaya wawasan tentang Curug Halimun, maka saya sengaja menerjemahkan artikel tentang Curug Halimun yang ditulis oleh S.A. Reitsma (mantan walikota Bandung tahun 1928). Artikel ini dimual dalam Majalah Tropisch Nederland tanggal 28 Desember 1928.

Berikut terjemahannya:

Pada zaman dahulu kala, Dataran Tinggi Bandung pastilah sebuah danau yang begitu luas. Hal ini bisa terlihat dari formasi batuan yang ditemukan di dasar dataran ini.  Hal ini juga tercermin dari berbagai macam legenda Sunda dan penamaan Bandung. Bandung berarti membendung, yang kemudian juga diabadikan sebagai simbol dari logo kota.

Legenda pembentukan dataran tinggi Bandung masih diceritakan dari mulut ke mulut hinga sekarang. Kisahnya kurang lebih adalah begini:

Pangeran Galuh Sri Pamekas mempunyai seorang putri, namanya Dayang Sumbi. Dayang Sumbi mempunyai seorang putra, namanya Sangkuriang, yang begitu ahli dalam berburu. Suatu hari Dayang Sumbi dan putranya sedang bertengkar. Dayang Sumbi tak sengaja melukai putranya di kepala, meninggalkan jejak luka yang dalam. Sangkuriang pergi dari rumah, berkelana mengarungi Jawa dengan pengikut-pengikutnya.

Tahun dan tahun berlalu hingga Sangkurinag kembali ke Bukit Karang Penganten,di mana ia bertemu dengan seorang putri yang cantik Dayang Sumbi yang telah diusir dari Kerajaan Galuh. Tanpa mengetahui tentang hubungan darah yang mereka berdua miliki, mereka merencanakan pernikahan. Hingga Dayang Sumbi akhirnya menemukan bekas luka di kepala Sangkuriang.

Ia begitu terkejut dengan fakta ini. Dia tidak bisa menikahi putranya sendiri. Untuk membatalkan rencana ini, ia membuat syarat, bahwa untuk menikahinya, Sangkuriang haru membendung Ci Tarum, sehingga ada danau yang luas untuk mereka berperahu di sana. Tenggat waktunya besok pagi. Sangkuriang harus mengerjakannya dalam waktu semalam.

Permintaan yang hampir mustahil ini diterima Sangkuriang. Dengan pasukan jin dan roh alam dewata yang dimilikinya, tugas ini sepele saja baginya.

Sebagian pasukan gaibnya dikirim ke Ngarai Ci Tarum dan mulai membendung dengan bebatuan di bagian yang paling sempit. Pepohonan ditebang. Bukit-bukit digali dan dipindahkan. Bebatuan diangkut dan ditumpahkan. Pasukan yang lain dikirim untuk memotong pohon Lambitang raksasa, yang akan dijadikan sebagai perahu. Sementara pasukannya yang wanita dikerahkan untuk menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan persiapan pesta.

Pekerjaan Sangkuriang dan pasukannya berjalan dengan lancar. Di tengah malam, sebagian besar Bandung telah tenggelam dalam bendungan. Dalam terang purnama, Sangkuriang bersiap-siap menjemput pengantinnya.

Dayang Sumbi mengamati dari puncak bukit. Cemas semakin cemas. Ia berdoa, memohon pertolongan dewa-dewa, terutama Brahma yang agung.

Tak lama muncul seorang dukun yang memberinya daun dari Pohon Surgajaya. Dedaunan ini punya kekuatan gaib, yaitu ketika dilemparkan ke danau, ia merusak bendungan, membentuk lubang yang besar, Sangiang TIkoro, sehingga air mengalir keluar dari bendungan yang telah dibuat. Danau mengering cepat. Sangkuriang yang marah menendang perahu yang kemudian terbalik. Pasukan Sangkuriang musnah di rawa-rawa.

Perahu yang terbalik kemudian menjadi Gunung Tangkuban Perahu, yang berarti Perahu Nangkub, atau perahu terbalik. Tentu ini dinamai karena bentuknya yang memang menyerupai perahu terbalik. Dayang Sumbi yang bersedih karena mengorbankan nyawa begitu banyak manusia untuk menghindari menikah dengan putranya sendiri, sangat bersedih. Ia melompat dan masuk ke dalam gunung, kini menjadi Kawah Ratu, kawah utama di Tangkuban Perahu.

Semua sungai di dataran tinggi Bandung, mulai dari yang berhulu di Pengalengan, Malabar, Tangkuban Perahu semua mengalir dan bermuara ke Ci Tarum. Kota Majalaya dan Dayeuhkolot mengalir di tengah dataran Bandung. Di Dayeuh Kolot sungai ini bisa dinavigasi beberapa kilometer hingga rentetan jeram-jeram dimulai. Curug Jompong adalah jeram paling utama di sana.

Kemudian Ci Tarum menerobos pegunungan Neptunian yang menjadi batas barat Dataran Tinggi Bandung. Sungai ini telah melewati kawasan ini selama ratusan bahkan ribuan tahun, membentuk ngarai yang sempit dan dalam, lebih dari 500m. Di beberapa tempat, lebarnya hanya beberapa meter. Melalui jurang yang sempit dan dalam ini, di tebing-tebing batukapur, volume yang masif dari aliran CI Tarum membentuk deretan air terjun yang sangat menakjubkan, paling menakjubkan yang ditemukan di Jawa, sebelum kemudian keluar di dataran Rajamandala.

Bagian terdalam dari ngarai ini disebut Junghuhn sebagai Sanghyang Heuleut. Tak jauh di sana terletak juga Sanghyang Tikoro. Curug Halimun juga ada di sekitar sana, dan telah ditandai dalam peta.

Untuk sampai ke Curug Halimun, kita bisa berkendara dengan mobil atau kereta dari Padalarang. Mengambil jurusan Buitenzorg (Bogor), kemudian berhenti di Rajamandala. Kemudian di pal-26, sebelum jembatan menuju Cihea kita berbelok. Di sana ada perusahaan bernama “Pangkalan”. Setelah satu setengah jam jalanan menanjak, kita akan sampai di Gunung Guha.

Ci Nungnang, sungai kecil, mengalir di tepian gunung ini, yang juga dikenal sebagai Gunung Nungnang. Gunung ini dideskripsi oleh Junghuhn sebagai berikut:

Tebing batugamping ini menjulang tinggi besar. Puncak dan tepi-tepiannya ditutupi pepohonan yang hijau dan subur. Karena curamnya lereng, maka puncak tebing tidak bisa diakses, sehingga penebangan kayu tak terjadi. Jika ingin melihat gambaran mengenai keindahan alam hutan tropis, kunjungilah tebing kapur Gunung Nungnang. Ia menjulang hampir vertikal setinggi 500 kaki di atas Desa Guha. Pohon-pohon besar, tumbuh tinggi menjulang, seolah kolom raksasa. Keindahannya melampaui semua deskripsi. Batang-batangnya menjulang seolah berlomba siapa yang paling tinggi. Kubah pohonnya seolah amfiteater, yang berdekatan satu sama lain. Saking rapatnya, lereng-lereng curam dinding kapur yang putih ini hanya terlihat di beberapa tempat saja.

Kami terus berjalan dan segera mencapai titik tertinggi, 1736′, di Desa Cacaban. Sebelumnya, dari Puncak Larang, kami disuguhi menikmati pemandangan indah Dataran Batujajar dengan markas tantara artileri dengan kelok-kelok Ci Tarum bermeander seolah memahat dataran.

Tak lama kita sampai di Curug Halimun. Jalan menurun sangat ekstrim. Ci Tarum jatuh bebas sebebas-bebasnya. Suaranya menggemuruh yang menggelegar. Sangat disayangkan bahwa air terjun ini sangat sulit untuk direkam baik melalui sketsa dan foto. Sejauh yang kami ketahui, belum ada rekaman foto dari lokasi yang sangat indah ini.

Foto Curug Halimun dalam buku Bandoeng en Haar Hoogvlaakte (1950)

Kami menyusuri tepian Ci Tarum ke arah hulu. Memanjat dari batu ke batu. Melewati satu per satu jeram. Mengikuti persis jejak langkah dari pemandu kami yang lincah. Menyeberangi sungai-sungai kecil, menembus belantara yang lebat. Hingga akhirnya kami sampai di tempat di mana Ci Tarum menerobos bebatuan. Atau mungkin lebih tepat kita sebut di mana Ci Tarum menyayat dinding pegunungan selama ratusan atau ribuan tahun, dibantu gempa bumi dan banjir yang besar.

Air yang mengalir deras dari Dataran Bandung harus melewati jalur sempit selebar 10m. Di sinilah bendungan itu pasti berada. Saat dataran Bandung yang indah dan subur masih berupa danau yang luas. Di sinilah, di antara gunung-gunung yang tinggi, jalan keluar dari danau yang luas, yang legenda dan hikayatnya direkam dari mulut ke mulut oleh leluhur orang Sunda.

Bertumpu pada dinding yang terjal, dan pohon yang tumbuh di tepiannya, masyarakat lokal membangun jembatan dan menamainya Cukang Rahong (Cukang berarti Jembatan. Rahong artinya Membual (*)). Pohon yang menjadi tumpuan, tumbuh mengakar kuat pada rekahan-rekahan. Bisa kita lihat jika kita melihat dengan cermat. Lebar jembatan ini tak lebih dari 11m, dan tersusun atas beberapa batang bambu, yang disambung satu sama lain membentuk segitiga.  

(*) Dalam Kamus Jonathan Rigg, Rahong berarti celah yang sempit, atau ngarai. lebih sesuai untuk konteks Cukang Rahong. Jadi bukan jembatan pembual, tetapi jembatan di atas celah yang sangat sempit.

Pemandangan dari jembatan ini sangatlah indah. Jembatan kecil di atas ngarai sedalam 40m itu berada sekitar 15m di atas permukaan air. Aliran air menggemuruh melewati bebatuan. Buihnya seolah menggelegak, seolah mendidih.  Di sisi sebelah selatan, kami turun ke sungai, di mana kami melihat pemandangan jejak erosi yang begitu indah. Kami lihat juga pohon yang sangat besar yang terbawa oleh banjir.

Karena kami masih di sekitar Ci Tarum, kami memutuskan untuk mengunjungi Sanghyang Tikoro, atau Tenggorokan Ci Tarum.

Jalan mengarah dari Rajamandala menuju Cidohong, kemudian dari sana menuju perkebunan teh dan karet Rajamandala, lalu menuju hutan belantara. Dari sini kami menyusuri lembah Ci Leat. Sesekali kami bisa melihat pemandangan indah dari puncak Gunung Guha. Tak lama hutan semakin rapat. Terik matahari memancarkan sinarnya di atas kanopi. Di antara vegetasi hutan yang rimbun bisa kita temukan begonia dan anggrek, serta tanaman liana (merambat) terbesar di Jawa dengan legum raksasa yang panjangnya lebih dari 1m. Kemudian kami melewati Desa Cisambeng, di mana terdapat mata air panas mengandung belerang dengan suhu hingga 50oC. Sebuah pipa bambu dipasang di belakang batu-batu besar dan membawa air panas ke kamar mandi kecil, di mana air dikumpulkan di dalam baskom batu. Di dekat sumur, ada pipa bambu lain di bawah, di mana banyak penduduk asli membasuh diri untuk mengobati segala macam penyakit.

Desa Cisambeng terletak di anak sungai kecil yang bernama sama, yang mengalir dari gunung yang juga disebut Cisambeng. Rumah kampung masih seluruhnya dilapisi alang-alang panjang.

Kami bisa sampai di sini dengan menunggang kuda. Kemudian kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Jalanan segera menanjak di Desa Cisambeng. Saat melihat ke belakang, kami melihat gambaran desa yang tenang, sepi, dan damai. Jalan setapaknya sempit, naik dan turun. Tak lama, sekitar 15 menit kami tiba di penghujung perjalanan kami. Ci Tarum baru saja berbelok keluar dari ngarai yang sempit di ujung Gunung Guha. Kemudian sungai ini mengalir mengikuti dinding tebing yang curam dan berhutan, hingga kemudian masuk ke dataran Cihea.

Di sini kami melihat pemandangan yang sangat memesona. Pegunungan kapur berwarna putih keabuan Gunung Guha menjadi latarnya. Ci Tarum terbelah menjadi dua, cabang sebelah kanan menghilang dengan cepat ke dalam gua yang gelap, gua Sanghyang Tikoro. Di atas mulutnya, tanaman-tenaman tergantung miring seolah-olah menjadi karangan bunga. Dengan sangat berhati-hati kami bisa turun sedikit di antara bebatuan, yang bertumpukan satu sama lain. Gua ini kemungkinan besar terbentuk akibat runtuhan dinding bebatuan kapur ini.

Kami menghanyutkan sebuah peti berisi obor yang menyala ke dalam gua. Hasilnya luar biasa! Ribuan kelelawar dan burung walet segera berhamburan keluar dari persembunyiannya. Mereka yang sebelumnya bergelantungan menempel di langit-langit gua segera beterbangan. Sanghyang Tikoro panjangnya beberapa ratus meter. Dari atas gua kami menyusuri dan menemukan beberapa sungai keluar dari gelapnya gua-gua yang dalam ini.

Curug Jompong Setelah Diterowong

Sudah sangat lama ada rencana-rencana untuk memapas Curug Jompong. Alasannya adalah karena Curug Jompong dianggap sebagai penghambat aliran Ci Tarum, mengakibatkan aliran Ci Tarum melambat, kemudian mengakibatkan banjir di Bandung Selatan. Ide-ide pemapasan itu ekstrim. Ada ide pemapasan dengan bom, dipapas total, dipapas sebagian, dll. Meski kemudian ternyata pilihan yang lain yang dipilih, yaitu pembuatan terowongan menembus bukit di sebelah utara Curug Jompong. Terowongan ini sudah selesai, dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada bulan Januari 2020 lalu.

Pemindahan aliran Ci Tarum menuju terowongan Nanjung, mengakibatkan kita harus memikirkan ulang Curug Jompong sebagai sebuah curug. Meski batuannya masih ada, tapi tidak ada lagi air terjun. Tidak ada aliran masif Ci Tarum yang menerobos bebatuan keras, membentuk tingkatan-tingkatan jeram-jeram, yang melaluinya aliran Ci Tarum menderu keras. Tak ada lagi air terjun, melainkan tinggal lembah berbatu, dengan aliran sungai yang sangat kecil, setempat berbentuk kolam-kolam yang dibatasi oleh batuan-batuan masif raksasa.

Curug Jompong yang dulu selalu menderu akibat derasnya aliran Ci Tarum yang menghantam bebatuan keras yang menjadi dasarnya, kini menjadi lembah yang hening, dengan aliran yang tenang nyaris tak ada.

Jika saya mengikuti definisi Almarhum Pak Budi Brahmantyo tentang air terjun, maka menurut beliau air terjun didefinisikan sebagai aliran air yang jatuh dari suatu tinggian. Seberapa tinggi? Menurut Pak Budi, 2 meter. Menurut beliau, orang harus mendongak untuk melihat air terjun, maka tinggi air terjun harus lebih tinggi dari rata-rata orang normal, yaitu 2 meter. Sementara itu, jika kurang dari dua meter, maka kita bisa sebut sebagai jeram, atau rapids.

Modifikasi melalui pembangunan terowongan menyingkapkan bagian Curug Jompong yang telah begitu lama tergenang. Mengunjungi Curug Jompong sekarang seolah mengunjungi dunia yang lain. Dunia yang baru, yang belum pernah orang menyentuhnya selama ratusan ribu tahun karena selalu tergenang oleh derasnya aliran Ci Tarum.

Sebagai curug, riwayat Curug Jompong telah tiada. Kini ia menjadi lembah berbatu, dengan jenis keindahan yang berbeda. Seperti lembah terjal Ci Tarum yang berada di balik bendungan Saguling, yang kini menjadi dunia yang berbeda dibandingkan dengan pemahaman orang-orang sebelum 1985, sebelum bendungan Saguling beroperasi.

Curug Jompong Bulan Juni 2020

Meski begitu, saya menikmati kunjungan saya ke Curug Jompong pagi itu. Melompati bebatuan-bebatuan raksasa. Melihat kolam berwarna kehijauan yang menggoda diri untuk berenang, meski masih sangat tidak meyakinkan mengingat aliran Ci Tarum yang begitu keruh di hulunya. Kita bisa lihat juga bagian Curug Jompong yang begitu lama tak tersentuh orang, karena derasnya aliran Ci Tarum.

Dalam pikiran saya, mungkin kita harus memikirkan ulang branding yang tepat untuk Curug Jompong. Branding ini penting mengingat reputasi Curug Jompong yang sangat tidak baik beberapa tahun ke belakang ini. Aliran yang kotor, kabut air yang berbau kurang enak, sampah, dan lain sebagainya.

Mungkin Leuwi Jompong kata yang tepat. Leuwi dalam bahasa Sunda berarti Lubuk. Secara geografis berarti bagian terdalam dari sungai. Atau mungkin ada terminologi geografis lain yang lebih tepat, saya belum tahu. Dengan branding baru, kita bisa memulai cerita Curug Jompong dari lembaran baru pula, yang siap menyambut ribuan penikmat alam untuk berwisata.

Curug Jompong yang baru kini berpotensi menjadi lokasi wisata yang hebat. Lokasinya yang dekat dengan pusat kota, dengan panorama yang menawan, membuat tempat ini punya modal yang sangat besar. Belum lagi sejarah Curug Jompong yang sangat panjang, saya kira bisa membuat orang berlama-lama mampir menghabiskan waktunya di sekitar daerah ini. Begitu juga keberadaan Terowongan Nanjung membuat banyak yang bisa dilihat dan dijelaskan di titik ini.

Mengingat ini, saya teringat kalimat dari Reitsma, tentang jalur melewati Curug Jompong yang merupakan salah satu jalur paling indah di Pulau Jawa.

“…Dari Gadjah kemudian melewati jalan Soreang-Batujajar menyusuri Ci Tarum dan mengitari Gunung Paseban. Bentang alamnya sangat indah di sini, di kanan mengalir sungai yang jernih berkilau, di kiri kerucut indah Gunung Lalakon. Boleh dibilang jalur Soreang – Batujajar melalui Curug Jompong adalah salah satu jalur paling indah di Pulau Jawa. Terutama di musim penghujan, kala aliran sungai penuh bergemuruh, air berlompatan meloncati bebatuan, lalu berdebur gelombang saling berhantaman. Deru air membentuk kabut yang tersusun dari jutaan titik air yang membiaskan cahaya mentari membentuk pelangi dengan latar bebatuan berwarna gelap.” 

S. Reitsma – Gids van Bandoeng en Midden Priangan

Mungkin kita bisa menghidupkan Curug Jompong kembali. Bukan sebagai Curug, tapi sebagai Leuwi, atau entah apa namanya kita mendefinisikannya nanti. Tapi Curug Jompong punya peluang untuk berjaya kembali. Kembali menjadi salah satu tempat paling indah di Jawa. Yang orang datang, berwisata, dan kemudian membawa pengalaman yang gembira. Bahwa ia telah datang ke tempat yang indah, yang memberi kesan indah pada dirinya, lalu ia memberitahu teman-temannya. Lalu kelak menuliskan dalam catatan hidupnya, yang nanti akan menjadi catatan sejarah, bahwa Curug Jompong kembali indah.

Semoga.

GIF Curug Jompong sebelum dan setelah diterowong. Terowongan Nanjung dibuka pada akhir 2019 atau awal 2020. Perhatikan buih air curug yang hilang pada tahun 2020, berpindah ke mulut terowongan.

Kisah Mueller di Gunung Lumbung

Ini adalah cerita tentang seorang naturalis Jerman yang ditugaskan untuk meneliti di Hindia Belanda pada abad ke-19. Penelitian sains di Hindia Belanda pada abad ke-19 bermula pada tahun 1815, ketika Napoleon yang kala itu menguasai hampir seluruh Benua Eropa, takluk pada pertempuran yang dikenal dengan Pertempuran Waterloo. Konon salah satu penyebabnya adalah keganjilan musim akibat letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara beberapa bulan sebelumnya.

Kekalahan Napoleon, diiringi dengan Perjanjian Wina, membuat Kerajaan Belanda kembali merdeka. Berdaulat atas tanahnya sendiri, dan kembali berkuasa di tanah jajahan mereka, nun jauh di Hindia sana.

Kerajaan Belanda yang bangkrut dan defisit membutuhkan terobosan untuk mencari pemasukan. Raja William I, berpikir keras bagaimana cara mengeksploitasi tanah jajahan mereka. Ia kemudian membentuk Komisi Ilmu Alam Hindia Belanda Natuurkundige Commissie voor Nederlands-Indië, sebuah komisi beranggotakan ilmuwan, pelukis, dan penulis yang akan melakukan ekspedisi sains untuk memahami tanah jajahan, Hindia Belanda. Teranglah bahwa tujuan utama investasi pada sains tak lain hanyalah untuk maksud mengeksploitasi.

Komisi itu berdiri pada 1820 hingga dibubarkan pada 1850. Terlepas dari tujuan pendiriannya, selama 30 tahun berdiri, komisi ini menyumbangkan koleksi spesimen yang luar biasa berharga dengan laporan-laporan berkualitas tinggi, yang masih bisa kita manfaatkan hingga sekarang.

Salomon Mueller

Salah satu anggota dari Komisi Ilmu Alam Hindia Belanda adalah seorang Jerman bernama Salomon Mueller. Ia bertugas di Hindia Belanda selama 10 tahun (1826-1836). Ia adalah salah satu yang beruntung dapat selamat kembali ke negerinya, karena banyak dari anggota Komisi yang wafat kala menjalankan tugas penelitian di rimba Hindia Belanda yang ganas, yang membunuh begitu banyak orang Eropa yang mengembara ke sana.

Mueller mungkin tak seterkenal anggota Komisi yang lain, seperti Franz Junghuhn, si Humboldt dari Jawa, atau Carl Anton Schwaner yang namanya diabadikan menjadi nama pegunungan yang menjadi batas antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Meski begitu, Mueller meninggalkan jejak penting yang menarik untuk dibahas. Terutama bagi mereka yang tinggal di Cekungan Bandung. Mueller pernah berekspedisi ke Cekungan Bandung pada tahun 1833 dan laporannya sangat menarik untuk diikuti.

Dalam laporannya, Aanteekeningen Gehouden op Eene Reize Over Een Gedelte van het Eiland Java, atau Laporan Perjalanan ke Sebagian Pulau Jawa yang ditulis oleh Mueller dengan rekannya Pieter van Oort, seorang pelukis, Mueller berkisah tentang perjalanannya di Cekungan Bandung pada awal tahun 1833.

Ia memulai ceritanya di Leuwigajah pada tanggal 3 Januari 1833 dan menutup ceritanya di Banjaran pada tanggal 6 Maret 1833. Selama dua bulan, Mueller dan van Oort berkelana mengarungi tempat-tempat menarik di Cekungan Bandung, mulai dari Situ Lembang, Curug Cimahi, Cililin, Gunung Lumbung, Ciwidey, Banjaran, dan banyak tempat lainnya.

Sebagai seorang pelukis, van Oort menyertakan lukisan dan sketsa otentik dan luar biasa dari Cekungan Bandung pada kala itu. Kawah Ratu, Curug Cimahi, Situ Lembang, hingga sketsa-sketsa peninggalan arkeologi yang ada di Cekungan Bandung, seperti arca yang ditemukan di Ciwidey, lingga dan pecahan gerabah yang ditemukan di Gunung Lumbung, hingga patung sapi yang ditemukan di tepi Ci Tarum.

Lukisan Curug Penganten di Cimahi oleh Pieter van Oort

Dalam tulisan ini, saya akan membagikan cerita Mueller dan van Oort di Gunung Lumbung. Cerita ini sangat menarik karena menyebutkan salah satu pahlawan penting dalam sejarah orang Sunda, yaitu Dipati Ukur, yang mati akibat diperangi oleh Sultan Agung, raja Mataram kala itu. Cerita ini diterjemahkan dari catatan van Oort dan Mueller sehingga penulisannya menggunakan sudut pandang orang pertama. Berikut kisahnya:

Cililin, 17 Januari 1833

Pagi hari sekali, ditemani oleh tetua kampung, kami meninggalkan Cililin untuk menelusuri jejak penemuan artefak yang dilaporkan oleh penduduk lokal. Kami diberitahu bahwa ada artefak di Gunung Lumbung. Selain itu juga dilaporkan bahwa di sini merupakan tempat persembunyian dari Dalem Dipati Ukur. Seorang bangsawan Sunda yang pernah berperang melawan Sultan Agung.

Pagi itu kembali berkabut. Kami berkuda menuju barat daya dari Gunung Geger Pulus, melewati dataran yang indah dan subur di antara aliran-aliran sungai yang berkelok-kelok melewati bentang alam yang indah, yang dihuni kelompok-kelompok kecil masyarakat lokal. Sekitar 1.5 mil dari Cililin, kami harus menyeberangi Sungai Ciminyak yang dalam karena jembatan kayunya hanyut terbawa banjir bandang.

Kabut perlahan menghilang ketika kami sampai di seberang sungai, dan lembah subur Ci Minyak terhampar di hadapan kami. Sungai yang jernih yang menerobos lembah yang lebar memberi efek mencolok pada warna hijau sawah dan warna cerah dari pohon-pohon palem yang tumbuh di lereng dan punggungan. Teramati gunung-gunung, Salak Panden (Salak Pandan), Poetrie (Putri), dan Moenkal-Pajong (kini dikenal sebagai Mukapayung, namun nampaknya ini kekeliruan penerjemahan karena banyak daerah di Jawa Barat yang dimulai dengan kata Mungkal, catatan dari Pak T. Bachtiar), sebagian tertutup awan dan kabut, menjadi latar indah pemandangan ini.

Kami melewati daerah yang cukup kering kemudian menyusuri lagi Ci Minyak hingga sampai di kampung Tegal Ladja[1], yang jaraknya sekitar satu mil dari Cililin. Di sini kami meninggalkan kuda kami, dan melanjutkan dengan berjalan kaki ke Gunung Lumbung.

Semakin ke dalam, pemandangan menjadi semakin monoton. Lahan yang subur digantikan dengan dataran yang ditumbuhi alang-alang yang tinggi. Jalur ini mengarah ke timur menuju lahan padi yang tidak digarap warga di sekitar Gunung Putri dan Gunung Mukapayung. Di kiri kami berdiri tinggi Gunung Salak Pandan. Di antara pepohonan, tebing-tebing terjal yang terbentuk dari batuan trakhit. Di lembahnya, yang ditanami padi, bebatuan raksasa bertebaran. Di kaki Gunung Mukapayung, kami melewati sungai kecil Tjiebieton (Ci Bitung), yang tepi sungainya terdiri dari lapisan-lapisan horizontal hasil pelapukan batulempung. Kami kemudian menuju ke arah timur, menanjak ekstrim melalui lembah yang sempit yang mengarah ke tenggara. Lembah ini dibatasi oleh Gunung Putri dan Gunung Mukapayung di sebelah selatan, dan Gunung Salak Pandan di sebelah utaranya. Lembah ini ditumbuhi oleh pohon pinus dan semakin ke timur oleh palem.

Pemandangan Gunung Salak Pandan (terpotong di ujung kiri), Lembah Cibitung (kiri), Gunung Putri (tengah), Lembah Ciririp (kanan), dan Gunung Hanyewong (ujung kanan) Foto oleh Deni Sugandi

Setelah melewati sungai yang bertingkat-tingkat, sekitar satu mil jaraknya dari Tegal Ladja, hutan mulai terbuka, dan kami tiba di cekungan yang cukup lebar, di mana pada beberapa ketinggian ada beberapa pondokan yang kami pakai untuk beristirahat. Cekungan ini disebut dengan Liembang yang berarti danau atau singgasana, dengan ketinggian sekitar 4000 kaki di atas permukaan laut. Menurut penduduk lokal, biasanya tergenang air, dikelilingi oleh pegunungan Salak Pandan, Gedogan, dan Lumbung. Sebagian dari dataran ini ditutupi oleh hutan, sementara sebagian yang lain ditutupi alang-alang.

Dasar lembah ditanami padi, dengan sepuluh atau dua belas gubuk sebagai bangunan membentuk Desa Lembang. Penghuni desa ini berasal dari Tegal Ladja, namun berpindah untuk mendapatkan lebih banyak lahan untuk menanam padi, gula, dan memelihara kerbau.

Di siang hari kami mendaki Gunung Lumbung dengan lerengnya yang terjal berpohon jarang. Ketika kami sampai di puncak, kami menemukan beberapa teras persegi yang ditumbuhi rerumputan dan semak menutupi tanah yang luas. Puncak bagian tenggara dan barat daya dari Gunung Lumbung juga ditutupi rumput dan semak seperti itu.

Petak-petak teras ini kemungkinan besar merupakan sisa pemukiman dari Pahlawan Sunda, Dipati Ukur. Tetua lokal yang menemani kami bercerita tentang Dipati Ukur. Katanya, dulu ia mendengar Bupati Bandung bercerita:

“Pada masa ketika Sultan Agung[1] mendeklarasikan perang terhadap Belanda di Pulau Kokos[2](Sunda Kelapa), ia mengirim orang-orang terbaiknya. Dipati Ukur adalah salah satunya dan Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur mengumpulkan pasukan Sunda dan pergi berperang. Dipati Ukur kemudian mengumpulkan pasukannya dan bersiap menyerang orang kulit putih di Pulau Kokos (Sunda Kelapa). Belum jauh pasukannya pergi berperang, ia diberitahu oleh anak buahnya bahwa anak buah Sultan telah masuk ke kamar istrinya, berbuat tidak senonoh, memperkosa wanita-wanita yang ditinggalkan di kota.

Dipati Ukur marah, menolak pergi berperang dan kembali ke tempatnya, menemukan anak buah Sultan di kamar istrinya. Dipati Ukur membunuh mereka semua. Sultan Agung yang tidak tahu cerita sesungguhnya murka mendengar Dipati Ukur mundur. Tidak mau tahu ia kemudian mengirimkan pasukan yang besar untuk memburu Dipati Ukur. Dipati Ukur kemudian mundur dan membangun pertahanan di Gunung Lumbung.

Pasukan Sultan Agung yang menyerang ke gunung ini disergap oleh pasukan Dipati Ukur dengan menggelindingkan batu-batu raksasa dari gunung, mengakibatkan pasukan Sultan berguguran. Sadar tak bisa menangkap Dipati Ukur dengan kekerasan, Sultan Agung memutuskan memakai jalan lain yang curang. Ia menyuap teman dan saudara Dipati Ukur agar bersedia mengkhianatinya, yang mana cara ini berhasil. Dipati Ukur ditangkap oleh pasukan Sultan dan dibawa ke Mataram. Sultan Agung mengikatnya telanjang di alun-alun dan memerintahkan setiap orang yang lewat untuk mengiris tubuhnya hingga Dipati Ukur tewas tinggal tersisa kerangkanya saja. Kemudian jenazahnya dibuang. Sultan Agung berkata, “Negara ini (negaranya Dipati Ukur) telah binasa. Gunung Lumbung telah dihancurkan. Lelakinya telah dibunuh. Anak-anak dan perempuan ditangkap dan dibawa ke timur.”


  • [1] Sulthan Agung, yang juga dikenal dengan nama Raden Rensang, memerintah kerajaan Mataram dari 1616 hingga 1648, orang kulit putih berarti orang Belanda di sini dan pulau Kokos berarti Batavia. Perang yang dimaksud di sini adalah pada 1628-1629. Dalem Dipati Ukur menguasai sebagian dari Kabupaten Bandung saat itu dan sangat penting untuk Sultan Agung.
  • [2] Perlu dicatat bahwa Pulau Jawa dikenal oleh orang-orang pelaut di Kepulauan India dengan nama Pulau Kalapa, dan dalam tradisi lama dengan nama itu beberapa kali terjadi.

Kini ketika kami tiba Gunung Lumbung, kami menemukan pecahan pot, porselen Cina, dan gentong-gentong yang telah hancur. Seorang janda tua, memberi kami koin perunggu dan mangkok batu yang ditemukannya ketika menyiapkan lahan sawah. Kami menerimanya dan menggantinya dengan uang. Kemudian pemandu kami mengajak kami ke puncak gunung dan kami terkejut karena menemukan arca batu yang sudah sangat tua, entah apakah bisa dibilang sebagai patung apabila melihat bentuknya yang tidak beraturan sekarang.

Arca ini berada di bawah pohon Hoeni (Antidesma bunius). Arca ini dikelilingi oleh belasan batu kali yang tertutupi oleh daun merah pohon Hanjuang (Dracaena terminalis). Bentuk arca ini tidak jelas karena sudah melapuk hebat akibat oksidasi dan tetes air.

Dari depan kami menduga bentuknya adalah kepala burung, seperti burung merak jelas terlihat. Bentuk lainnya kurang jelas, dugaan kami adalah mata ketiga yang terletak di dahi dan melambangkan Dewa Siwa, sang mentari. Tinggi patung ini 0.65 meter, lebar 0.4 meter, dan tebalnya 0.25 meter. Bagian depan mengarah ke barat laut.

Kemudian terdapat juga batu panjang tipis berwarna kemerahan yang kami duga sebagai Lingga. Letaknya di timur laut dari arca. Tingginya 1.2 meter, lebar 0.28 meter, dan tebal 0.2 meter. Kami menemukan batang-batang kayu dan colokan bambu yang terbakar, yang kami duga sebagai sesembahan masyarakat lokal yang ingin mencari wangsit.

Kami meyakini ini bukan peninggalan dari Dipati Ukur karena bagaimanapun Dipati Ukur merupakan pengikut ajaran Muhammad.  Islam sudah masuk dua abad sebelum zaman Dipati Ukur. Mungkin ini berasal dari masa awal Islam di sini. Seorang penganut Hindu menyembunyikan diri di gunung ini. Patung ini berdiri di bawah pohon tua yang tinggi dan dikelilingi oleh batu-batu yang dibuat melingkar.

Penduduk setempat menyebutnya Artja (Arca) dan jika mereka mengunjungi Arca tersebut, mereka menyalakan dupa kemudian memohon kehendak-kehendak yang mereka inginkan.

Dari sini (dari Puncak Gunung Lumbung) pemandangan sangatlah indah. Kami bisa melihat puncak tinggi Pegunungan Selatan dan ke arah barat kami bisa lihat dataran Rongga yang berhutan lebat. Kami membayangkan Dipati Ukur ketika penyerangan oleh pasukan Sultan Agung, kesedihannya karena kekalahannya di Gunung Lumbung. Beranjak ke sore hari, kami kembali ke Cililin.

Sumber:
Aanteekeningen Gehouden op Eene Reize Over Een Gedeelte van het Eiland Java
Over Eenige Oudheden van Java en Sumatra door Dr. Sal Muller

Ketika di Meteora

Negeri Yunani tak hanya tentang kisah panjang Dewa-Dewi. Juga bukan hanya tentang lahirnya demokrasi dengan filsafat-filsafat ternamanya; Sokrates, Aristoteles, Plato, Pytagoras. Ada sisi lain yang tak banyak orang ketahui, mungkin tenggelam oleh kisah-kisah yang disebut di awal. Yang memang begitu panjang dan mengesankan.

Salah satunya adalah kisah tentang Biara-Biara di Meteora. Ketika kami berada di Pegunungan Pindos, di bagian barat Thessalia, antara Metsovo dan Livadia, Yunani. Kami menyaksikan Perbukitan Meteora berdiri gagah menjadi saksi zaman. Salah satu bentang alam paling indah yang pernah saya lihat seumur hidup.

Selang-seling batupasir dan konglomerat, berlapis datar hingga miring landai, membentuk tebing-tebing tegak. Batuan tersingkap jelas, tanpa vegetasi menutupinya. Di puncak-puncaknya berdiri monasteri. Biara-biara Katolik Ortodox yang dibangun sejak abak ke-14.

Pada masa kejayaannya, terdapat 24 biara berdiri di bukit-bukit konglomerat Meteora. Biara ini menempel di tebing yang tinggi, dulunya hanya bisa diakses dengan tangga dan memanjat dinding yang tegak. Kini hanya 6 biara yang tersisa, sementara lainnya hanya tinggal reruntuhan saja.

Pemandangan Lembah Meteora
By Wisniowy – Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=4990018
Biara Rousanou
By Vaggelis Vlahos – Own work, CC BY 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=3431138

Tebing-tebing yang berdiri tegak hingga 400 meter merepresentasikan megahnya kekuasaan Tuhan. Suasana syahdu kala memandang bukit-bukit ini menjulang, menjadikan Meteora menjadi tempat yang sempurna untuk mencari kedamaian, untuk membaktikan diri kepada kehidupan rohani.

Di Meteora, para biarawan/biarawati mengabdi. Hidup di kesunyian yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di puncak bukit, yang entah bagaimana mereka mendapat sumber airnya. Mungkin memanen air hujan, atau menjaring embun pagi.

Begitulah di Meteora. Hari berlangsung lambat. Meski di luar zaman beranjak cepat. Turis yang berlewatan. Satu per satu datang dan pergi. Tapi Meteora tetap berdiri.

Dengan Lawrence, kawan baik dari Ghana

Orang Pertama yang Melaporkan Kawah Patuha (?)

Waktu saya kecil dulu, dalam perjalanan kami ke Cimanggu untuk berendam air panas, ayah saya sering bercerita tentang orang pertama yang menemukan Kawah Putih. Ia adalah orang Eropa. Konon kata ayah, orang itu merasa penasaran kala melihat dari kejauhan, tepatnya dari Kota Ciwidey sekarang, bahwa burung-burung tak pernah terbang di atas Gunung Patuha. Ada pun jika burung terbang di atas Patuha, maka segera ia akan mati, menukik jatuh, seolah pesawat yang rusak mesinnya. Di Ciwidey kala itu, masyarakat mencoba menerangkan fenomena ini dari kacamata mistis, tentang makhluk-makhluk penunggu gunung yang enggan diganggu, bahkan oleh burung sekali pun.

Sebagai seorang Eropa yang menolak perkara mistis, tentu si petualang itu menolak percaya mitos. Ia ingin membuktikan sendiri dan merancang sebuah ekspedisi mendaki Gunung Patuha. Ratusan kuli dikerahkannya untuk menemani perjalanannya mendaki. Orang Eropa itu bernama Franz Junghuhn, si Humboldt dari Jawa, yang masyhur karena penelitiannya pada abad ke 19, membuka tabir Pulau Jawa dari kacamata sains modern.

Cerita ini diteruskan turun temurun dari mulut ke mulut. Tak bisa kita telusuri siapa orang pertama yang menceritakannya, siapa yang pertama bilang Junghuhn adalah orangnya yang pertama ke sana, atau pertama kali melaporkan keberadaan Kawah Putih yang megah. Karena ayah saya juga mendapat cerita ini dari entah siapa, maka ia pun tidak bisa mempertanggungjawabkan cerita ini. Tidak ada sumber yang pasti, selalu desas-desus, selalu konon, selalu kabar angin. Hingga suatu hari saya menemukan nama dan tanggal yang lebih pasti.

Yang sudah bisa saya pastikan adalah bahwa bukan Franz Junghuhn orang pertama yang datang ke Kawah Putih. Franz Junghuhn datang ke Kawah Putih dalam perjalanan penelitiannya di Pulau Jawa pada 1837. Junghuhn kala itu bekerja di bawah supervisi dari peneliti Jerman bernama Ernst Albert Fritze yang merupakan Kepala Dinas Kesehatan Hindia Belanda kala itu.

Pada tanggal 11 Juli – 23 Agustus 1837, Junghuhn bersama Fritze berkelana di rimba hutan Jawa Barat. Ia mendatangi Situ Patengan, Gunung Patuha, Gunung Tangkuban Perahu, Guntur, Papandayan, Galunggung, dan Ciremai. Catatan perjalanan Junghuhn di Pulau Jawa dibukukannya dalam Topographische und naturwissenschaftliche Reise durch Java yang diterbitkan pada tahun 1838.

Dalam magnum opusnya: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart  volume kedua yang diterbitkan pada tahun 1857 di Leipzig, Junghuhn menuliskan orang-orang yang lebih dahulu melaporkan tentang Kawah Gunung Patuha.

Pada tahun 1787, seorang ahli Botani dari Spanyol bernama Francisco Noronha mengunjungi Kawah Putih. Noronha terkenal memberikan jasa yang luar biasa besar bagi pembuatan katalog tanaman di Jawa. Kemudian pada tahun 1804, seorang naturalis dari Amerika Dr. Thomas Horsfield juga mengunjungi Kawah Putih.

Setelah Horsfield, pada tahun 1819 giliran Professor Caspar Georg Carl Reinwardt, seorang naturalis kelahiran Prusia berkebangsaan Belanda yang mengunjungi Kawah Putih. Menurut Junghuhn, Reinwardt melaporkan ketinggian Kawah Putih pada 6950 kaki, sementara menurut pengukuran Junghuhn, ketinggian Kawah Putih berada pada elevasi 6685 kaki. Reinwardt adalah salah satu perintis Kebun Raya Bogor. Reinwardt memberikan apresiasi untuk Noronha dengan memberi nama satu spesies tanaman, yaitu Pohon Puspa Schima noronhae.

Empat tahun sebelum ekspedisi Junghuhn, pada tahun 1833, dua orang peneliti dari Natuurkundige Commissie voor Nederlands-Indië, Salomon Müller dan Pieter van Oort juga melakukan kunjungan ke Kawah Putih. Müller adalah seorang naturalis dari Jerman, sementara van Oort adalah seorang pelukis dari Belanda. Mereka melakukan perjalanan ke Jawa Barat dan melaporkan perjalanannya pada komite. Perjalanan dimulai pada awal Januari 1833 dari Situ Lembang menyusuri Ci Mahi hingga ke Cililin, kemudian ke Gunung Lumbung untuk melihat peninggalan Dipati Ukur, selanjutnya mereka menyusuri Pegunungan Tumpak Royong, yang kini dikenal sebagai Gunung Padang Ciwidey hingga akhirnya sampai di Ciwidey yang kala itu termasuk dalam Distrik Cisondari. Perjalanan berakhir di Banjaran pada 10 Maret 1833.

Lukisan Kawah Putih oleh Pieter van Oort. Sumber 

Di Ciwidey, Müller dan van Oort menyusuri kebun kopi yang subur yang merupakan produk dari periode Tanam Paksa yang di kawasan Priangan telah dilaksanakan sejak abad ke-18 (Preangersteelsel), dan dilanjutkan kembali sejak 1830 melalui Cultuurnstelsel. Mereka akhirnya sampai di Kawah Gunung Patuha dan melihat pemandangan indah Kawah Putih. Van Oort membuat sketsa yang indah dari kawah ini.

Kini hampir dua ratus tahun atau lebih sejak Reinwardt berkunjung ke Kawah Putih. Hampir 250 tahun sejak Noronha menjejakkan kaki di sana. Tempat ini kini ramai hiruk pikuk tak karuan. Orang-orang datang tanpa henti, tapi banyak yang kembali tanpa membawa apa-apa selain rasa senang sudah bepergian, atau stroberi yang ditanam warga di lereng-lereng Ci Sondari. Memang bukan urusan hidup dan mati siapa yang pertama datang, atau siapa pernah melakukan apa. Juga bukan suatu keharusan orang harus tahu tentang Junghuhn, Mueller, van Oort, Reinwardt, dan seterusnya. Tapi seperti Soekarno selalu bilang, “jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah“. Atau seperti kata Kuntowijoyo “Dengan sejarah, kita belajar jatuh cinta.” 

Dan memang setelah kita mengetahui sejarah panjang Kawah Patuha, semakin pula kita mencintainya.

Lukisan Kawah Putih Gunung Patuha oleh Franz Junghuhn. Sumber https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Junghuhn_See_Kawah_Patua_auf_Java.jpg

catatan: Sejauh ini saya belum dapat catatan orang yang lebih dulu melaporkan Kawah Patuha sebelum Noronha. Boleh jadi ada yang lebih dulu. Mohon infonya bila ada di antara pembaca yang budiman mengetahui. Karena saya bukan ahli sejarah, hanya orang yang menggemari sejarah.

Catatan Ekspedisi Novara 1857-1859: Menyusuri Ci Tarum dari Curug Jompong Hingga ke Sanghyang Tikoro

Pada tahun 1857, angkatan laut Kerajaan Austria meluncurkan ekspedisi saintifik skala besar menjelajahi dunia dengan nama Ekspedisi Novara (1857-1859). Penelitian ini berlangsung selama 2 tahun 3 bulan, dari 30 April 1857 hingga 30 Agustus 1859. Penjelajahan ini dilakukan dengan kapal Novara di bawah komando Komodor Bernhard von Wüllerstorf-Urbair dengan 345 kru dan 7 orang saintis. Persiapan ekspedisi riset ini dilakukan oleh “Imperial Academy of Sciences in Vienna” oleh para peneliti terkemuka di bawah arahan geolog Ferdinand von Hochstetter dan zoolog Georg von Frauenfeld.

Ferdinand von Hochstetter dan laporannya

Kisah perjalanan ini dilaporkan dalam laporan “Reise der österreichischen Fregatte Novara um die Erde in den Jahren 1857, 1858, 1859 unter den befehlen des Commodore B. von Wüllerstorf-Urbair” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “Narrative of the circumnavigation of the globe by the Austrian frigate Novara (Commodore B. von Wüllerstorf-Urbair)”, atau kalau dalam bahasa Indonesia menjadi Kisah Naratif Perjalanan Mengarungi Bumi dengan Kapal Penjelajah Novara.

Yang menarik dari ekspedisi ini adalah perjalanannya melewati Indonesia, dan Bandung pada 1857. Hochstetter, sebagai geolog dalam tim riset ini melaporkan perjalanan mereka berkunjung ke Bandung menelusuri Ci Tarum melewati Curug Jompong, kemudian melewati Ci Lanang hingga sampai di Gunung Guha dan Sanghyang Tikoro. Catatan yang lengkapnya dalam bahasa Jerman saya coba alih bahasakan dengan bantuan Google Translate.

Bagaimana ceritanya? Silakan ikuti berikut ini:

“Pada 19 Mei kami mengarahkan tujuan kami ke timur ke Bandung untuk mengunjungi Tji Tarum (baca: Ci Tarum) . Keinginan kami adalah mengeksplorasi bentang alam indah yang dihasilkan dari interaksi sungai dan batuan dasarnya, terutama ketika Ci Tarum menerobos bebatuan hijau dan batuan porfiritik membentuk deretan air terjun, Tjuruk Kapek (entah padanannya sekarang apa), Tjuruk-Lanong (baca: Curug Lanang, sudah tidak ada sejak digenang Saguling), dan Tjuruk Djombong (baca: Curug Jompong). Dari sana kami berkuda menerobos perbukitan porfiritik menuju kerucut bebatuan Batu Susun, di tepi Gunung Bulut (Gunung Buleud?) yang terbentuk dari kolom batuan beku porfiritik.

Batu Susun Gunung Bulut. Sumber: Hochstetter

Gunung Buleud masa kini. Foto dari Instagram Desa Situwangi

Pada sore hari yang sama, kami mencapai Tjililui (baca: Cililin), ibu kota dari kabupaten Rongga, karena kekayaan bebatuannya. Yang sangat mengejutkan adalah ramahnya sambutan dari masyarakat ketika kami sampai di sana. Makanan penuh di Pesanggrahan, bahkan Wedana Cililin juga menyediakan spesimen geologi yang ia kumpul dan siapkan, kemudian berikan pada kami. Nama orang sunda yang bersemangat ini adalah Mas Djaja Bradja, Wedana Cililin.

Pada tanggal 20 Mei kami mengecek tempat di mana spesimen itu ditemukan. Di tengah hari kami menemukan tempat pembakaran kapur, Liotji Tjangkang (Lio Ci Cangkang? Ci Cangkang adalah daerah di dekat Gunung Halu), di mana koral yang telah membatu berlimpah dan dapat diamati dari kejauhan. Karenanya kami mengarahkan kompas kami ke barat laut, masuk semakin dalam ke pegunungan, di sekitaran Gonnong Gatu (Gunung Batu?). Daerah ini terkenal karena banyaknya harimau, juga karena tebalnya alang-alang. Kami menyusuri Tji Lanang (Ci Lanang) dan cabang-cabang sungainya. Pertama kami harus turun jauh menuju pertemuan Tji Burial (Ci Burial) dan Tji Tangkil (Ci Tangkil), di mana di sana ada korok trakhit. Kami mengidentifikasi fosil kerang conchylia di antara puing-puing bebatuan yang terlepas dari dinding sungai. Batuan dasarnya adalah lumpur tufan.

Kami berkuda dengan kecepatan penuh melewati gunung yang tidak banyak penduduknya. Ini karena kami harus menghindari hujan badai karena petir dan kilat sudah menyambar-nyambar. Kami beruntung tiba tepat waktu di desa kecil di kaki gunung, yaitu Desa Gunung-Alu (baca: Gunung Halu), di tepi Tji Dadass (baca: Ci Cadas), di kaki pegunungan yang menjadi batas air antara pegunungan utara dan selatan Jawa.

Pada tanggal 21 Mei, kami pergi ke Lembah Tji Lanang yang membentang di lereng terjal Gunung Sela yang terbentuk dari batupasir yang miring terjal. Lokasi ini adalah di mana petrifaksi melimpah dan di mana sisa-sisa fosil bisa diamati pada posisi fosil itu terendapkan di antara lapisan lumpur dan batupasirnya. Satu spesies fosil resin sering juga ditemukan di sini, berdampingan dengan fosil-fosil indah lainnya. Dari titik ini kami mengikuti lembah Tji-Lanang ke arah utara, dan di ujung lembah ini kami berbelok ke jalan yang jarang dilalui menuju lembah Tji-Tjamotha (baca: Ci Camota?), yaitu di batuan breksi gampingan Batu-Kakapa (?). Masih sedikit jauh dari desa perbukitan Tji-Jabang (?), di mana kemudian kami akan kembali ke sungai Tji-Tarum, di mana di titik ini Tji Tarum membentuk air terjun paling megah di Pulau Jawa, yang membelah pegunungan yang menjadi batas dataran Bandung, terbentuk dari batu hijau porfiritik, basal-trakit, dan tebing-tebing tegak kapur. Mengalir ke hilir, setelah melewati jeram-jeram yang indah, Tji Tarum kemudian menjadi sungai yang bisa dilayari, mengalir pelan melewati teras Rajamandala.

Pemandangan alam Jawa terasa sangat megah dengan deretan bukit berbatu, hutan primer yang dihantui kisah-kisah mengerikan binatang-binatang liar. Di daerah ini ada tiga titik yang sangat menarik, Tjukang-Raon (baca: Cukang Rahong), Tjuruk-Almion (baca: Curug Halimun), dan Sangjang-Holut (baca: Sanghyang Heuleut). Ketiganya menyimpan potensi menarik, yang orang-orang dapat mempelajari struktur-struktur geologinya. Ketiga titik ini terletak saling berdekatan. Untuk mencapai daerah ini, orang dapat memulai dari desa Tjijabang, di dataran perbukitan, kemudian menuruni lereng-lereng terjal dengan ketinggian 300-500 meter! Orang-orang dapat mempercayai apa yang ditulis Junghuhn pada 1854, bahwa meskipun Tjurak-Almion (Curug Halimun, air terjun kabut) adalah air terjun paling megah di Pulau Jawa, tapi tidak ada satu pun orang Eropa, kecuali dirinya yang pernah ke sana. Kami bisa membayangkan penderitaan masyarakat lokal yang membuat jalur ke sana untuk membuat akses memungkinkan. Kami menemukan jejak-jejak langkah, tangga, dan tali rotan, dan karenanya kami bisa bilang bahwa kami mengikuti jalur Junghuhn.

Pada tanggal 21 Mei, kami hanya mengunjungi Tjukang-Raon, di mana Tji-Tarum mengalir dahsyat karena dipaksa melewati celah yang lebarnya tidak lebih dari 4 meter. Di sini ada tangga bambu yang tampak rapuh dengan tali rotan tergantung di kedua sisinya, mengarah ke dinding tegak lurus dari portal batu ini.

Pada pagi hari tanggal 22 Mei, kami mengunjungi Tjuruk-Almion, air terjun terindah di Tji Tarum, di mana di sini air terjun jatuh di atas tebing batu hijau setinggi empat meter. Kemudian kami melewati rantai basal Gunung Lanang, turun sangat jauh dari ketinggian 2653 kaki ke bagian terdalam, yaitu suatu lembah jurang, Sangjang Holut, yang diduga merupakan suatu kawah purba yang sejajar dengan batuan tersier batupasir menyisakan sungai selebar 4 meter saja.

Di hari yang sama, kami sampai di desa kecil Gua, di kaki gunung bagian utara Gunung Nungnang, suatu formasi batugamping yang megah, yang sisi curamnya menjadi batas antar perbukitan batugamping dengan dataran Radjamandala yang luas ke utaranya. Gunung Nungnang memeiliki banyak rekahan-rekahan, yang dimanfaatkan oleh burung walet untuk membuat sarang. Sarang ini kemudian diambil oleh masyarakat lokal untuk diserahkan pada Bupati, sebuah pekerjaan yang sangat berbahaya.

Gunung Nungnang bei Gua – Batugamping Eosen. Sumber: Hochstetter

Pada tanggal 23 Mei, kami dengan hati-hati menjelajahi Sangjang Tjikoro, suatu bukit batugamping, di mana Tji-Tarum bercabang masuk menembus masuk ke dalam bukit. Sangat menarik dari sudut pandang geolog, karena pada titik ini kita menemukan batugamping yang sama dalam posisi horizontal membentuk struktur bukit di tepi seberang sungai ini. Dari Radjamandala kami kembali ke jalan utama ke Tjiandjur dan kemudian kembali ke Batavia.

Kegiatan membaca buku-buku lama tentang Bandung membuat saya semakin hanyut dalam kisahnya. Terutama di buku ini dibahas tentang Ci Lanang yang merupakan tempat tugas akhir saya waktu kuliah sarjana dulu. Semoga bisa menggali lebih detil lagi.

Silakan bertanya, meninggalkan komentar, atau memberi saran bacaan menarik tentang sejarah cekungan bandung, saya akan senang sekali.

 

sumber

 

Geotrek Curug Jompong Tahun 1918

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya Curug Jompong Dulu dan Sekarang

Pernah gak membayangkan bahwa geotrek itu sudah ada sejak 100 tahun yang lalu? Atau lebih mantap lagi pernah gak membayangkan bahwa geotrek ke Curug Jompong itu sudah ada sejak 100 tahun yang lalu?

urn-gvn-VKM01-A92-32-large (2)
Curug Jompong tahun 1915. Kerncollectie Fotografie, Museum Volkenkunde. Foto: 

Ternyata budaya berkelompok dan mengunjungi objek geowisata bersama-sama sudah dikenal sejak lama. Dalam sebuah pengumuman yang dimuat oleh Harian Umum Hindia: Tanah Priangan (nama asli korannya Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode), Perkumpulan Sejarah dan Alam Cabang Bandung (Natuurhistorische Vereeniging) mengajak anggotanya atau mungkin masyarakat umum untuk ikut dalam ekskursi mereka ke Curug Jompong. Pengumuman ini bertanggal 19 Desember 1918, hampir 100 tahun yang lalu. Modelnya persis dengan geotrek yang biasa dilakukan oleh komunitas-komunitas di Bandung.

Seperti apa ceritanya? Berikut artikel yang telah dialihbahasakan secara bebas dengan bantuan Google Translate.

Perkumpulan Sejarah dan Alam cabang Bandung mengadakan ekskursi pada tanggal 22 Desember tahun ini ke salah satu jeram Ci Tarum di daerah Leuwi Sapi yang dikenal sebagai Curug Jompong. Jeram ini terbentuk akibat halangan dari batuan andesit piroksen (salah satu spesies batuan tertua berumur miosen), dan merupakan tipe batuan yang langka, karena hanya ditemukan beberapa saja di Pulau Jawa. Lokasinya sekitar 7 km arah selatan dari Cimahi. 

Peserta yang ingin ikut bisa berkumpul jam 6 pagi di Pasar Andir dan dari sana kita akan berjalan kaki ke arah selatan. Rute ini secara umum jalan setapak, tapi akan menyenangkan karena kita akan melihat banyak desa-desa di sepanjang jalan yang jarang kita lihat karena tidak terletak di jalan utama. 

Setelah dua jam berjalan kaki kita akan sampai di daerah Gadjah di tepi Ci Tarum. Kita sebrangi Ci Tarum lewat sebuah jembatan bambu yang indah, mengobati energi kita yang terkuras habis di sini. 

Gadjah pada waktu lampau merupakan ibukota dari Kabupaten Batulayang, tetapi harus didirikan dan dibangun ulang oleh Rangga Abdoelrachman. Pada tahun 1802, kabupaten ini dilebur ke Bandung karena bupatinya berlaku buruk karena kebanyakan mabuk dan mengonsumsi opium. Kabupaten ini juga enggan membayar pajak pada Batavia dan akibatnya Bupati Bandung harus menalangi tagihan kabupaten ini. 

Gadjah yang sekarang (tahun 1918) merupakan desa kecil di tepi Ci Tarum dan kita bisa temukan makam dari Bupati Batulayang. “Bupati, istri, dan anaknya dimakamkan di sini”, kata penduduk setempat. Di makamnya ada atap kayu dan makamnya di kelilingi oleh pagar bambu yang tidak rapi. Penduduk lokal tidak tahu siapa nama bupati itu, dan hanya menyebutnya sebagai “Dalem”, yang mana merupakan sebutan umum untuk bupati di wilayah ini. Kemungkinan besar itu adalah makan Raden Tumenggung Angadiredja.

Di depan pintu masuk utama, ditemukan arca/gambar Ganesha, Dewa India yang merupakan dewa ilmu pengetahuan dan berbentuk gajah. Gambar inilah kemungkinan besar yang menjadi asal muasal nama Kampung Gadjah. Dari kampung Gadjah, kita menyusuri tepian Ci Tarum hingga ke kaki Gunung Paseban. Bentang alamnya sangat indah di sini. Di kanan ada deras aliran air sungai, dan di kiri kita lihat kerucut sempurna Gunung Lalakon. 

Di Leuwisapi sampailah kita ke Ci Tarum, dan dengan sedikit perjuangan lagi tiba di tujuan utama, yaitu Curug Jompong. Ci Tarum meninggalkan dataran Bandung di sini dan menerobos perbukitan Selacau-Lagadar dan Lalakon dan membentuk beberapa air terjun dengan tinggi hingga 15 kaki atau 5 meter. Dari Curug Jompong kita masih harus berjalan sekitar 1.5 jam hingga Cimahi (yang capek bisa naik Sado – moda transportasi seperti delman). Jika masih ada waktu tersisa maka kunjungilah resort tepi danau Soeka Bernang. Kemudian peserta bisa naik kereta dari Cimahi kembali ke Bandung. 

MMKB08_000137465_mpeg21_p001_image.jpg
Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode 19 Desember 1918

Curug Jompong punya modal sejarah yang cukup untuk bangkit dan merebut kembali predikat lokasi wisata utama di Bandung raya. Saya ingin membandingkan Curug Jompong dengan Rheinfall, air terjun paling besar di Swiss dan di Eropa karena karakternya yang serupa. Kedua air terjun jatuh di sungai yang besar dan merupakan sungai utama di kedua daerah. Rheinfall jatuh di Sungai Rhein, sungai utama di Swiss dan Jerman, sementara Curug Jompong jatuh di Ci Tarum yang merupakan urat nadi kehidupan di Jawa Barat.

Semoga tulisan ini bisa merupakan langkah konkrit menuju jayanya kembali Curug Jompong di masa yang akan datang.

Curug Jompong Dulu dan Sekarang

Ci Tarum berkelok, berliku, dan mengalir pelan di dataran Bandung Selatan. Kemudian menabrak batuan beku intrusi berumur 4 juta tahun di Perbukitan Selacau-Lagadar, tepatnya di Gunung Paseban. Karena menabrak dinding yang kuat dan resisten, Ci Tarum berbelok ke utara mengitari Gunung Pancir, kemudian berbelok ke barat menerobos lembah antara Pasir Malang di sebelah selatan dan Gunung Lagadar di utaranya.

Di kiri-kanan lembah ini terdapat beberapa bukit seperti Gunung Korehkotok, Gunung Gadung, dan Gunung Selacau. Di lembahan inilah, dengan batuan dasar batuan beku intrusif Dasit-Andesit, aliran Ci Tarum terdisrupsi batuan keras, membentuk jeram-jeram bertingkat, salah satu yang paling terkenal adalah Curug Jompong.

Air terjun ini dulu pernah menjadi primadona pariwisata di Bandung Raya. Dalam Panduan Pariwisata Bandung Tempo Dulu Gidds van Bandoeng en Midden Priangan, Reitsma dan Hoogland menulis Curug Jompong sebagai destinasi wisata favorit warga Kota Bandung pada awal abad ke-20.


cover
Halaman Muka Buku Panduan ke Bandung dan Priangan Tengah karya Reitsma dan Hoogland

Salah satu jalur yang disarankan oleh Reitsma dan Hoogland untuk mengunjungi Curug Jompong adalah dengan berjalan kaki atau bersepeda dari Stasiun Andir ke arah selatan melewati daerah Cigondewah hilir (sekarang Taman Kopo Indah), menyeberangi Ci Tarum, kemudian sampai di daerah Gadjah, kurang lebih di daerah Kampung Mahmud (baca tentang Kampung Mahmud oleh Budi Brahmantyo di sini).  Gadjah adalah daerah penting dalam sejarah Priangan, karena merupakan ibukota dari Kabupaten Batulayang (lebih lanjut tentang Batulayang baca reportase Tirto).

Berikut deskripsi Reitsma dan Hoogland tentang jalur ini (diterjemahkan bebas dengan bantuan Google Translate):

“…Dari Gadjah kemudian melewati jalan Soreang-Batujajar menyusuri Ci Tarum dan mengitari Gunung Paseban. Bentang alamnya sangat indah di sini, di kanan mengalir sungai yang jernih berkilau, di kiri kerucut indah Gunung Lalakon. Boleh dibilang jalur Soreang – Batujajar melalui Curug Jompong adalah salah satu jalur paling indah di Pulau Jawa. Terutama di musim penghujan, kala aliran sungai penuh bergemuruh, air berlompatan meloncati bebatuan, lalu berdebur gelombang saling berhantaman. Deru air membentuk kabut yang tersusun dari jutaan titik air yang membiaskan cahaya mentari membentuk pelangi dengan latar bebatuan berwarna gelap.” 

Dalam catatan lain di buku Bandoeng en haar Hoogvlakte (Bandung dan Dataran Tinggi), yang diterbitkan oleh Penerbit Visser & Co. cabang Bandung pada tahun 1930, Professor Th. H.F. Klompe, yang namanya diabadikan menjadi nama Perpustakaan Teknik Geologi ITB, menulis artikel Geologische Geschiedenis van de Vlaakte van Bandoeng (Kisah Geologi Dataran Bandung) dalam segmen Wat de Stennen zeggen (Apa yang disampaikan bebatuan). Dalam tulisannya ini Professor Klompe menulis tentang Curug Jompong.

Bandoeng en haar Hoogvlakte.png
Halaman muka buku Bandoeng en haar Hoogvlakt

“…Tji Tarum menerobos batuan vulkanik yang membentuk lembah terjal seperti ngarai. Segmen ini terbagi menjadi tiga tingkat jeram. Tingkatan yang pertama disebut Tjoeroeg Djompong, di mana air sungai jatuh di sekitar air terjun setinggi kurang lebih 15 meter. Sungai kemudian mengalir melalui ngarai yang terbentuk di antara dinding curam dan memiliki kedalaman 100 hingga 150 meter hingga jeram kedua yang terbentuk dari batuan vulkanik yang sama di tempat Tji Mahi bermuara ke Tji Tarum. Tji Tarum berbelok agak ke barat daya sehingga tidak memungkinkan untuk melihat ke arah timur. 

Di bagian bawah dari tebing, ditemukan endapan berlapis datar yang tidak selaras dengan tebing, yaitu endapan danau. Di sini ditemukan sisa-sisa kerang air tawar, sementara jika kita menggali lebih dalam akan menemukan batuan vulkanik dan tersier. Menurut Junghuhn, endapan ini terdiri atas endapan debu volkanik yang membentuk lapisan datar dan telah mengeras. Dari fakta-fakta geologi yang didapatkan bahwa dataran Bandung terbentuk dari seri endapan gunungapi dan lapisan paling muda (sebelum endapan danau) juga merupakan endapan gunungapi, maka pada masa pra-sejarah, erupsi gunungapi pastilah memiliki signifikansi yang tinggi.” 

Membaca catatan-catatan tua tentang Curug Jompong saya meringis, miris. Monumen alam luar biasa yang menempati tempat spesial di hati orang-orang yang menghargai keindahan alam, yang menghargai signifikansi sejarah suatu kisah, kini nasibnya begitu menyedihkan.

Boro-boro menjadi tempat wisata. Curug Jompong yang sekarang sangatlah memilukan. Jika seratus tahun yang lalu Reitsma bilang sungai yang mengalir jernih kemilau, yang ada sekarang adalah aliran dengan air beracun, penuh limbah, dan jeramnya menjadi pusaran sampah. Beberapa kali pembunuhan terjadi dan mayat yang dibuang ke Ci Tarum tersangkut di sini hingga masyarakat enggan berdekatan dengan sungai karena takut direpotkan.

Geomorfologinya yang megah yang menjeram air dari hulu malah dianggap sebagai penyebab banjir karena melambatkan aliran air. Ia dituduh sana-sini, menjadi kambing hitam atas kondisi alamiah Cekungan Bandung yang bahkan sudah banjir sejak sebelum Klompe menulis artikelnya.

Gunung-gunung di sekitar Curug Jompong yang ditulis Reitsma dan Hoogland sebagai salah satu latar pemandangan paling indah di Pulau Jawa pun kini malang nasibnya. Bopeng-bopeng dipocel sana-sini. Coba susuri jalan dari Stadion Si Jalak Harupat ke Cililin, jika hari normal maka debu beterbangan. Jika hari hujan maka lumpur berbanjiran di jalan. Tidak ada yang ingat bahwa kawasan itu pernah punya predikat yang luar biasa.

Dua dari tiga tingkatan jeram yang tercatat dalam tulisan Klompe pun tidak ada lagi sejak Saguling digenangi tahun 1985.

Lantas kita sekarang harus bagaimana?

Salah satu cara agar kita bisa mengapresiasi yang kita miliki adalah dengan mengenali lebih dekat. Napak tilas jalur wisata yang disarankan oleh Reitsma dan Hoogland boleh jadi salah satu titik awalnya. Dengan membuka catatan lama kita seolah menghidupkan kembali memori yang diabadikan penulis dalam tulisannya, seolah memutar balik waktu, mencoba membayangkan apa yang dilihat orang-orang di Bandung tempo dulu, hampir seratus tahun yang lalu.

Kembangkan jalur wisata, jalur berjalan kaki dari Soreang ke Batujajar dari Mohammad Toha sampai ke Cililin, dengan Curug Jompong sebagai pusatnya, dengan pemuda sebagai motornya. Jangan sampai Perbukitan Selacau-Lagadar hanya jadi halaman belakang pabrik-pabrik dan tambang seperti sekarang. Yang enggan kita mengunjunginya, yang segan kita mampir karena satpam menjagainya.

Sebelum semua kerucut intrusi gunungapi purba di Perbukitan Selacau-Lagadar dilinggis habis, sebelum jeram megah Curug Jompong dipangkas tumpas.

Selagi masih bisa kita menjaganya, selagi masih mungkin kita mengembalikan kejayaannya. Membawanya pada kejayaan yang baru, yang membikin orang nanti lupa bahwa Curug Jompong pernah begini merana, seperti kita sekarang lupa Curug Jompong pernah begitu memesona pada masanya.

Semoga.

urn-gvn-VKM01-A92-32-large (2).jpeg
Tjurug Djompong

curug-jompong
Curug Jompong dari udara. Foto Jurnalis Peduli Citarum

Membuka Ulang Catatan Franz Junghuhn Tentang Papandayan

Ketika sedang asik main di perpustakaan TU Darmstadt, saya tak sengaja melihat koleksi luar biasa di katalog daring, sebuah buku klasik dari salah satu pionir peneliti Pulau Jawa yang paling banyak dikutip peneliti setelahnya, Franz Wilhelm Junghuhn, judulnya “Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart”, cetakan kedua, diterbitkan di Leipzig tahun 1857.

Capture

Buat yang belum tahu Junghuhn itu siapa bisa lihat tulisan saya tentang Junghuhn di sini

Buku Junghuhn memuat catatannya ketika menjelajahi Pulau Jawa, dari barat ke timur. Ia membuat catatan terperinci mengenai geografi, flora, fauna, geologi, peristiwa kebencanaan, dan banyak lainnya di Pulau Jawa. Kualitas catatannya diakui sangat baik, terutama sketsa-sketsanya yang sangat detil dan menarik.

Junghuhn membagi bukunya yang lebih dari 1000 halaman ke dalam tiga bagian besar, bagian pertama “Beitrage zur Geschichte der Vulkane von West und Mittel Java” yang kalau diterjemahkan kurang lebih menjadi “Kontribusi terhadap Kisah Gunung Api di Jawa Bagian Barat dan Tengah”.

Kemudian bagian kedua “Ost-Java, in Skizzen, entworfen auf einer Reise durch die Insel zu Ende des Jahres 1844″ yang kalau diterjemahkan kurang lebih menjadi “Jawa Timur dalam sketsa, didesain dalam perjalanan menyusuri Pulau Jawa pada tahun 1844”.

Dan bagian ketiga “Die Vulkane der ubrigen Inseln des Indischen Archipels ausser Java, und die Erscheinungen die mit den Vulkanen in ursachlichem Zussamenhange stehen” kalau diterjemahkan kurang lebih menjadi “Gunungapi di luar Jawa di Kepulauan Hindia dan fenomena yang berkaitan dengan toponimi asal-usul nama gunungapi tersebut”

Karena bukunya dalam bahasa Jerman, saya sulit untuk baca dan mengerti. Saya hanya membuka-buka sekilas melihat sketsa-sketsa gambar dan daftar pustaka. Salah satu yang saya lihat adalah catatan Junghuhn tentang Papandayan yang saya kira cukup menarik untuk dibaca ulang tentu dibantu oleh Google Translate. Catatan ini berada di bagian kesatu buku,

“Pada malam hari tanggal  11 dan 12 Agustus 1772, terjadi satu-satunya erupsi yang diketahui dari gunung ini (Papandayan). Salah satu letusan terkuat yang terjadi dan mengakibatkan kekacauan di Pulau Jawa, terutama bagi mereka yang pernah berkunjung ke Jawa. Penduduk yang tinggal di lembahan di Garut berlarian kacau di tengah malam, karena melihat Puncak Gunung Papandayan yang berpijar benderang oleh nyala letusan. Pijarnya menyala terang, mengalahkan gelap malam. 

Dentuman bongkah dan gemuruh asap menjadi latar suara orang-orang yang panik berlarian. Bola api dan bongkah panas yang berpijar beterbangan di udara. Empat puluh desa di kaki Papandayan binasa, dan hampir tiga ribu orang menemui ajalnya, dikubur awan panas yang menerjangnya. 

Penduduk desa-desa yang lebih terpencil menyelamatkan diri mereka sendiri. Mereka bersegera melarikan diri, menghindari kehancuran oleh hujan batu berikutnya. Keesokan hari mereka menyadari dahsyatnya letusan Papandayan. Puncak Gunung Papandayan yang mereka kenal sudah tiada, hanya menyisakan celah kawah yang dalam terbuka, terbatuk-batuk hembuskan debu dan letusan yang masih tersisa. 

Pada hari yang sama dengan letusan Papandayan, dua gunungapi lainnya tak mau kalah dan terbangun juga, yaitu Gunung Ciremai dan Gunung Slamet. Gunung-gunung ini saling berjauhan! Entah ada hubungan apa di antara mereka?

Sejak 1843 hingga sekarang, ketika saya (Junghuhn) terakhir mengunjungi gunung ini, artinya dalam periode 71 tahun, pertumbuhan gunung telah menutupi hingga dua pertiga dari jurang kawah yang terbentuk 71 tahun sebelumnya. Endapan-endapan lontaran gunungapi seperti pasir dan abu yang menutupi lembah Garut telah ditutupi tanah, desa-desa baru bangkit kembali di kuburan yang lama.”

Picture1
Sketsa Papandayan oleh Junghuhn

Dalam laporannya, Junghuhn menuliskan tanggapannya mengenai laporan-laporan yang dibacanya untuk menuliskan kisah Papandayan. Salah satu kesimpulan Junghuhn kala itu adalah bahwa tidak ada orang Eropa yang melihat langsung kejadian letusan Papandayan. Catatan-catatan yang ada merupakan penutusan dari orang lokal sehingga banyak laporan yang tidak akurat karena keterbatasan pengetahuan bahasa Sunda bagi orang Eropa saat itu. Perlu dipahami juga bahwa pada 1772, Belanda hanya menguasai wilayah pantai, sementara di pedalaman hampir tidak ada orang Eropa.

Junghuhn juga menuliskan ulang kisah 40 orang yang selamat dari letusan Papandayan karena mereka bersembunyi di kebun pisang kecil (mungkin karena lokasi kebun pisang di dataran tinggi kata Junghuhn). juga kisah tentang dua orang Jawa yang sudah terkubur di dalam tanah tapi entah bagaimana caranya bisa menyelamatkan diri dari kematian. Secara total hampir 3000 orang meninggal dunia, sementara kerugian yaitu 40 desa lenyap, 1500 ternak, perkebunan kapas, indigo, serta kopi yang cukup luas juga hancur lebur.

Begitulah Junghuhn, ada banyak lagi yang bisa saya dapat dari buku ini jika saja saya mahir berbahasa Jerman. Membaca buku ini membuat saya semakin bersemangat untuk memperlancar bahasa Jerman saya yang terbata-bata dan tergagu-gagu.

Terima kasih Junghuhn, Der Humboldt von Java, jasamu abadi.

Junghuhn_self-portrait
Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864)

Menyusur Deretan Air Terjun di Curug Malela

Curug Malela adalah aset berharga Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Air terjun ini merupakan destinasi wisata nomor satu di Kabupaten Bandung Barat bagian selatan. Pencarian google per tanggal 14 Juli 2018 menghasilkan 96100 halaman membahas mengenai Curug Malela dan terdapat lebih dari 12 ribu kiriman dengan tagar (hashtag) #CurugMalela di Instagram.

Pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Curug Malela sudah memetakan potensi kawasan di Curug Malela. Hasilnya adalah jika kita menyusur ke hilir Ci Curug dari Curug Malela, maka kita bisa temui deretan curug-curug lainnya, mulai dari Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Sumpel, Curug Ngebul, Curug Palisir, dan Curug Pameungpeuk. Informasi mengenai curug-curug ini masih sukar didapat meski sudah ada beberapa kiriman foto di media seperti Facebook atau Instagram.

Kesan-kesan mereka yang sudah mengunjungi curug-curug ini adalah tentang potensi besarnya untuk berkembang. Curug-curug ini memiliki potensinya masing-masing, seperti Curug Katumiri yang berpelangi di pagi hari, Curug Sumpel yang tinggi yang kita bisa mengamati fenomena geologi sesar, atau Curug Ngebul yang alirannya jatuh tegak dan menimbulkan percikan hebat, bahkan seringkali seolah-olah langit “ngebul” atau berasap, semua air terjun punya karakter dan keindahannya masing-masing. Namun permasalahan utama dari deretan air terjun penuh potensi ini adalah belum adanya akses. Saat ini untuk menyusuri deretan air terjun ini, kita harus merintis jalur menyusuri lereng yang sangat terjal. Jalurnya masih sangat berbahaya dan sangat tidak dianjurkan untuk dilewati.

Saat ini jika kita berkunjung ke Curug Malela, maka hampir dipastikan bahwa kita akan datang dan pergi melalui jalur yang sama. Di sepanjang jalur ini, fasilitas yang tersedia sudah sangat baik. Banyak pula warga sekitar yang mendapatkan manfaat dengan membuka warung, membuat anjungan untuk berfoto, menjual jagung, dan lain-lain. Namun jika kita membuka jalur ke bagian hilir dari Ci Curug menyusuri curug-curug yang ada, kita bisa membuat suatu lintasan wisata tertutup. Jadi kita bisa pergi dan pulang lewat jalur yang berbeda. Ini bisa memberikan pengalaman baru yang positif bagi mereka yang berwisata ke Curug Malela.

Pada peta di bawah ini, dapat dilihat bahwa ada potensi untuk membuka jalan setapak sepanjang 2 kilometer sepanjang aliran Ci Curug untuk kemudian menyambungkan jalur wisata yang sudah ada dengan jalur di Kampung Cikadumanglid yang selama ini mungkin kurang mendapat ekspos dibandingkan kampung tetangganya, Kampung Manglid yang berada di area parkir Curug Malela.

curugmalelacopyright
Saran rancangan jalur geotrek Curug Malela. Dari Curug Malela harus membuka jalur baru hingga ke Curug Ngebul dan ke Lembur Cikadumanglid. Potensi besar untuk mengembangkan perekonomian Lembur Cikadumanglid.

Dengan membuka jalan setapak baru ini juga, kita bisa memperpanjang waktu kunjungan wisatawan ke Curug Malela. Saat ini belum ada data pastinya, tapi diperkirakan rata-rata pengunjung Curug Malela menghabiskan 2-3 jam untuk bermain di sekitar Curug Malela. Jika ada jalur wisata baru kita bisa menambah waktu kunjungan 3 jam untuk 1 penelusuran (jika jalur sudah siap dan baik). Tiga jam tambahan waktu ini bisa menjadi alasan kuat untuk pengunjung memutuskan bermalam di Curug Malela, baik berkemah maupun menyewa rumah penduduk. Selain itu juga karena jalurnya ekstrim, tidak menutup kemungkinan pula pengurus Pokdarwis membatasi kunjungan ke hilir dan mewajibkan pemanduan. Tentu ini menjadi peluang baik bagi masyarakat untuk bekerja di sektor jasa wisata.

Bayangkan Curug Malela seperti Taman Hutan Raya Djuanda yang jalurnya nyaman, pengunjungnya datang menyusuri jalur yang sudah ada, berfoto di air terjun, Curug Malela, Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul dan seterusnya. Dari situ berkembang lagi potensi yang lain, mendaki Gunung Malela misalnya, atau entah apa lagi potensi yang bisa terbuka lebar jika kita serius memanfaatkan potensi yang kita punya.

Bagi yang ingin tahu lebih lanjut tentang curug Malela bisa mampir di Geotrek Curug Malela, Ekspresi Rasa Takjub pada Ciptaan Yang Maha Kuasa