Kisah Mueller di Gunung Lumbung

Ini adalah cerita tentang seorang naturalis Jerman yang ditugaskan untuk meneliti di Hindia Belanda pada abad ke-19. Awal mula penelitian sains di Hindia Belanda bermula pada tahun 1815, ketika Napoleon yang kala itu menguasai hampir seluruh Benua Eropa, takluk pada pertempuran yang dikenal dengan Pertempuran Waterloo. Konon salah satu penyebabnya adalah keganjilan musim akibat letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara beberapa bulan sebelumnya.

Kekalahan Napoleon, diiringi dengan Perjanjian Wina, membuat Kerajaan Belanda kembali merdeka. Berdaulat atas tanahnya sendiri, dan kembali berkuasa di tanah jajahan mereka, nun jauh di Hindia sana.

Kerajaan Belanda yang bangkrut dan defisit membutuhkan terobosan untuk mencari pemasukan. Raja William I, berpikir keras bagaimana cara mengeksploitasi tanah jajahan mereka. Ia kemudian membentuk Komisi Ilmu Alam Hindia Belanda Natuurkundige Commissie voor Nederlands-Indië, sebuah komisi beranggotakan ilmuwan, pelukis, dan penulis yang akan melakukan ekspedisi sains untuk memahami tanah jajahan, Hindia Belanda. Teranglah bahwa investasi pada sains tak lain hanyalah untuk tujuan eksploitasi.

Komisi itu berdiri pada 1820 hingga dibubarkan pada 1850. Terlepas dari tujuan pendiriannya, selama 30 tahun berdiri, komisi ini menyumbangkan koleksi spesimen yang luar biasa berharga dengan laporan-laporan berkualitas tinggi, yang masih bisa kita manfaatkan hingga sekarang.

Salomon Mueller

Salah satu anggota dari Komisi Ilmu Alam Hindia Belanda adalah seorang Jerman bernama Salomon Mueller. Ia bertugas di Hindia Belanda selama 10 tahun (1826-1836). Ia adalah salah satu yang beruntung dapat selamat kembali ke negerinya, karena banyak dari anggota Komisi yang wafat kala menjalankan tugas penelitian di rimba Hindia Belanda yang ganas, yang membunuh begitu banyak orang Eropa yang mengembara ke sana.

Mueller mungkin tak seterkenal anggota Komisi yang lain, seperti Franz Junghuhn, si Humboldt dari Jawa, atau Carl Anton Schwaner yang namanya diabadikan menjadi nama pegunungan yang menjadi batas antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Meski begitu, Mueller meninggalkan jejak penting yang menarik untuk dibahas. Terutama bagi mereka yang tinggal di Cekungan Bandung. Mueller pernah berekspedisi ke Cekungan Bandung pada tahun 1833 dan laporannya sangat menarik untuk diikuti.

Dalam laporannya, Aanteekeningen Gehouden op Eene Reize Over Een Gedelte van het Eiland Java, atau Laporan Perjalanan ke Sebagian Pulau Jawa yang ditulis oleh Mueller dengan rekannya Pieter van Oort, seorang pelukis, Mueller berkisah tentang perjalanannya di Cekungan Bandung pada awal tahun 1833.

Ia memulai ceritanya di Leuwigajah pada tanggal 3 Januari 1833 dan menutup ceritanya di Banjaran pada tanggal 6 Maret 1833. Selama dua bulan, Mueller dan van Oort berkelana mengarungi tempat-tempat menarik di Cekungan Bandung, mulai dari Situ Lembang, Curug Cimahi, Cililin, Gunung Lumbung, Ciwidey, Banjaran, dan banyak tempat lainnya.

Sebagai seorang pelukis, van Oort menyertakan lukisan dan sketsa otentik dan luar biasa dari Cekungan Bandung pada kala itu. Kawah Ratu, Curug Cimahi, Situ Lembang, hingga sketsa-sketsa peninggalan arkeologi yang ada di Cekungan Bandung, seperti arca yang ditemukan di Ciwidey, lingga dan pecahan gerabah yang ditemukan di Gunung Lumbung, hingga patung sapi yang ditemukan di tepi Ci Tarum.

Lukisan Curug Penganten di Cimahi oleh Pieter van Oort

Dalam tulisan ini, saya akan membagikan cerita Mueller dan van Oort di Gunung Lumbung. Cerita ini sangat menarik karena menyebutkan salah satu pahlawan penting dalam sejarah orang Sunda, yaitu Dipati Ukur, yang mati akibat diperangi oleh Sultan Agung, raja Mataram kala itu. Cerita ini diterjemahkan dari catatan van Oort dan Mueller sehingga penulisannya menggunakan sudut pandang orang pertama. Berikut kisahnya:

Cililin, 17 Januari 1833

Pagi hari sekali, ditemani oleh tetua kampung, kami meninggalkan Cililin untuk menelusuri jejak penemuan artefak yang dilaporkan oleh penduduk lokal. Kami diberitahu bahwa ada artefak di Gunung Lumbung. Selain itu juga dilaporkan bahwa di sini merupakan tempat persembunyian dari Dalem Dipati Ukur. Seorang bangsawan Sunda yang pernah berperang melawan Sultan Agung.

Pagi itu kembali berkabut. Kami berkuda menuju barat daya dari Gunung Geger Pulus, melewati dataran yang indah dan subur di antara aliran-aliran sungai yang berkelok-kelok melewati bentang alam yang indah, yang dihuni kelompok-kelompok kecil masyarakat lokal. Sekitar 1.5 mil dari Cililin, kami harus menyeberangi Sungai Ciminyak yang dalam karena jembatan kayunya hanyut terbawa banjir bandang.

Kabut perlahan menghilang ketika kami sampai di seberang sungai, dan lembah subur Ci Minyak terhampar di hadapan kami. Sungai yang jernih yang menerobos lembah yang lebar memberi efek mencolok pada warna hijau sawah dan warna cerah dari pohon-pohon palem yang tumbuh di lereng dan punggungan. Teramati gunung-gunung, Salak Panden (Salak Pandan), Poetrie (Putri), dan Moenkal-Pajong (kini dikenal sebagai Mukapayung, namun nampaknya ini kekeliruan penerjemahan karena banyak daerah di Jawa Barat yang dimulai dengan kata Mungkal, catatan dari Pak T. Bachtiar), sebagian tertutup awan dan kabut, menjadi latar indah pemandangan ini.

Kami melewati daerah yang cukup kering kemudian menyusuri lagi Ci Minyak hingga sampai di kampung Tegal Ladja[1], yang jaraknya sekitar satu mil dari Cililin. Di sini kami meninggalkan kuda kami, dan melanjutkan dengan berjalan kaki ke Gunung Lumbung.

Semakin ke dalam, pemandangan menjadi semakin monoton. Lahan yang subur digantikan dengan dataran yang ditumbuhi alang-alang yang tinggi. Jalur ini mengarah ke timur menuju lahan padi yang tidak digarap warga di sekitar Gunung Putri dan Gunung Mukapayung. Di kiri kami berdiri tinggi Gunung Salak Pandan. Di antara pepohonan, tebing-tebing terjal yang terbentuk dari batuan trakhit. Di lembahnya, yang ditanami padi, bebatuan raksasa bertebaran. Di kaki Gunung Mukapayung, kami melewati sungai kecil Tjiebieton (Ci Bitung), yang tepi sungainya terdiri dari lapisan-lapisan horizontal hasil pelapukan batulempung. Kami kemudian menuju ke arah timur, menanjak ekstrim melalui lembah yang sempit yang mengarah ke tenggara. Lembah ini dibatasi oleh Gunung Putri dan Gunung Mukapayung di sebelah selatan, dan Gunung Salak Pandan di sebelah utaranya. Lembah ini ditumbuhi oleh pohon pinus dan semakin ke timur oleh palem.

Pemandangan Gunung Salak Pandan (terpotong di ujung kiri), Lembah Cibitung (kiri), Gunung Putri (tengah), Lembah Ciririp (kanan), dan Gunung Hanyewong (ujung kanan) Foto oleh Deni Sugandi

Setelah melewati sungai yang bertingkat-tingkat, sekitar satu mil jaraknya dari Tegal Ladja, hutan mulai terbuka, dan kami tiba di cekungan yang cukup lebar, di mana pada beberapa ketinggian ada beberapa pondokan yang kami pakai untuk beristirahat. Cekungan ini disebut dengan Liembang yang berarti danau atau singgasana, dengan ketinggian sekitar 4000 kaki di atas permukaan laut. Menurut penduduk lokal, biasanya tergenang air, dikelilingi oleh pegunungan Salak Pandan, Gedogan, dan Lumbung. Sebagian dari dataran ini ditutupi oleh hutan, sementara sebagian yang lain ditutupi alang-alang.

Dasar lembah ditanami padi, dengan sepuluh atau dua belas gubuk sebagai bangunan membentuk Desa Lembang. Penghuni desa ini berasal dari Tegal Ladja, namun berpindah untuk mendapatkan lebih banyak lahan untuk menanam padi, gula, dan memelihara kerbau.

Di siang hari kami mendaki Gunung Lumbung dengan lerengnya yang terjal berpohon jarang. Ketika kami sampai di puncak, kami menemukan beberapa teras persegi yang ditumbuhi rerumputan dan semak menutupi tanah yang luas. Puncak bagian tenggara dan barat daya dari Gunung Lumbung juga ditutupi rumput dan semak seperti itu.

Petak-petak teras ini kemungkinan besar merupakan sisa pemukiman dari Pahlawan Sunda, Dipati Ukur. Tetua lokal yang menemani kami bercerita tentang Dipati Ukur. Katanya, dulu ia mendengar Bupati Bandung bercerita:

“Pada masa ketika Sultan Agung[1] mendeklarasikan perang terhadap Belanda di Pulau Kokos[2](Sunda Kelapa), ia mengirim orang-orang terbaiknya. Dipati Ukur adalah salah satunya dan Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur mengumpulkan pasukan Sunda dan pergi berperang. Dipati Ukur kemudian mengumpulkan pasukannya dan bersiap menyerang orang kulit putih di Pulau Kokos (Sunda Kelapa). Belum jauh pasukannya pergi berperang, ia diberitahu oleh anak buahnya bahwa anak buah Sultan telah masuk ke kamar istrinya, berbuat tidak senonoh, memperkosa wanita-wanita yang ditinggalkan di kota.

Dipati Ukur marah, menolak pergi berperang dan kembali ke tempatnya, menemukan anak buah Sultan di kamar istrinya. Dipati Ukur membunuh mereka semua. Sultan Agung yang tidak tahu cerita sesungguhnya murka mendengar Dipati Ukur mundur. Tidak mau tahu ia kemudian mengirimkan pasukan yang besar untuk memburu Dipati Ukur. Dipati Ukur kemudian mundur dan membangun pertahanan di Gunung Lumbung.

Pasukan Sultan Agung yang menyerang ke gunung ini disergap oleh pasukan Dipati Ukur dengan menggelindingkan batu-batu raksasa dari gunung, mengakibatkan pasukan Sultan berguguran. Sadar tak bisa menangkap Dipati Ukur dengan kekerasan, Sultan Agung memutuskan memakai jalan lain yang curang. Ia menyuap teman dan saudara Dipati Ukur agar bersedia mengkhianatinya, yang mana cara ini berhasil. Dipati Ukur ditangkap oleh pasukan Sultan dan dibawa ke Mataram. Sultan Agung mengikatnya telanjang di alun-alun dan memerintahkan setiap orang yang lewat untuk mengiris tubuhnya hingga Dipati Ukur tewas tinggal tersisa kerangkanya saja. Kemudian jenazahnya dibuang. Sultan Agung berkata, “Negara ini (negaranya Dipati Ukur) telah binasa. Gunung Lumbung telah dihancurkan. Lelakinya telah dibunuh. Anak-anak dan perempuan ditangkap dan dibawa ke timur.”


  • [1] Sulthan Agung, yang juga dikenal dengan nama Raden Rensang, memerintah kerajaan Mataram dari 1616 hingga 1648, orang kulit putih berarti orang Belanda di sini dan pulau Kokos berarti Batavia. Perang yang dimaksud di sini adalah pada 1628-1629. Dalem Dipati Ukur menguasai sebagian dari Kabupaten Bandung saat itu dan sangat penting untuk Sultan Agung.
  • [2] Perlu dicatat bahwa Pulau Jawa dikenal oleh orang-orang pelaut di Kepulauan India dengan nama Pulau Kalapa, dan dalam tradisi lama dengan nama itu beberapa kali terjadi.

Kini ketika kami tiba Gunung Lumbung, kami menemukan pecahan pot, porselen Cina, dan gentong-gentong yang telah hancur. Seorang janda tua, memberi kami koin perunggu dan mangkok batu yang ditemukannya ketika menyiapkan lahan sawah. Kami menerimanya dan menggantinya dengan uang. Kemudian pemandu kami mengajak kami ke puncak gunung dan kami terkejut karena menemukan arca batu yang sudah sangat tua, entah apakah bisa dibilang sebagai patung apabila melihat bentuknya yang tidak beraturan sekarang.

Arca ini berada di bawah pohon Hoeni (Antidesma bunius). Arca ini dikelilingi oleh belasan batu kali yang tertutupi oleh daun merah pohon Hanjuang (Dracaena terminalis). Bentuk arca ini tidak jelas karena sudah melapuk hebat akibat oksidasi dan tetes air.

Dari depan kami menduga bentuknya adalah kepala burung, seperti burung merak jelas terlihat. Bentuk lainnya kurang jelas, dugaan kami adalah mata ketiga yang terletak di dahi dan melambangkan Dewa Siwa, sang mentari. Tinggi patung ini 0.65 meter, lebar 0.4 meter, dan tebalnya 0.25 meter. Bagian depan mengarah ke barat laut.

Kemudian terdapat juga batu panjang tipis berwarna kemerahan yang kami duga sebagai Lingga. Letaknya di timur laut dari arca. Tingginya 1.2 meter, lebar 0.28 meter, dan tebal 0.2 meter. Kami menemukan batang-batang kayu dan colokan bambu yang terbakar, yang kami duga sebagai sesembahan masyarakat lokal yang ingin mencari wangsit.

Kami meyakini ini bukan peninggalan dari Dipati Ukur karena bagaimanapun Dipati Ukur merupakan pengikut ajaran Muhammad.  Islam sudah masuk dua abad sebelum zaman Dipati Ukur. Mungkin ini berasal dari masa awal Islam di sini. Seorang penganut Hindu menyembunyikan diri di gunung ini. Patung ini berdiri di bawah pohon tua yang tinggi dan dikelilingi oleh batu-batu yang dibuat melingkar.

Penduduk setempat menyebutnya Artja (Arca) dan jika mereka mengunjungi Arca tersebut, mereka menyalakan dupa kemudian memohon kehendak-kehendak yang mereka inginkan.

Dari sini (dari Puncak Gunung Lumbung) pemandangan sangatlah indah. Kami bisa melihat puncak tinggi Pegunungan Selatan dan ke arah barat kami bisa lihat dataran Rongga yang berhutan lebat. Kami membayangkan Dipati Ukur ketika penyerangan oleh pasukan Sultan Agung, kesedihannya karena kekalahannya di Gunung Lumbung. Beranjak ke sore hari, kami kembali ke Cililin.

Sumber:
Aanteekeningen Gehouden op Eene Reize Over Een Gedeelte van het Eiland Java
Over Eenige Oudheden van Java en Sumatra door Dr. Sal Muller

You Might Also Like
Leave a Reply