Sepercik Kasih Travel O’Logy

Saya senang bercerita. Mungkin ini turun dari mama saya yang sangat pandai bercerita. Pernah suatu ketika beberapa kawan mampir ke rumah. Mereka sudah ingin pulang, tapi mama menahannya dengan tidak berhenti-berhentinya bercerita. Waktu teman-teman sudah berdiri mendekat ke pintu, mama melanjutkan lagi ceritanya sampai teman-teman akhirnya duduk lagi.

Kesenangan itu saya bawa hingga mahasiswa dan sekarang setelah lama lulus kuliah. Ketika mendirikan Travel O’Logy, salah satu motivasi saya saat itu adalah agar saya bisa menjadi interpreter sekaliber dosen saya, Pak Budi Brahmantyo, yang hampir semua orang mengakui bahwa beliau pandai membawakan kisah geologi dengan cara yang sederhana. Motivasi dari beliau pun sama, harapannya adalah ada interpreter muda yang bisa mengedukasi geologi dengan cara yang populer lagi tidak menggurui.

Bercerita tentang geologi membuat saya merasa berkembang. Bagaimanapun saya dipaksa untuk merangkum semua detil rumit kisah geologi tentang tektonik, petrogenesa, sedimentologi, vulkanisme, dan lain-lain ke dalam bahasa sederhana yang bisa dimengerti bahkan oleh bocah TK. Mencoba berbagi juga berarti saya harus membuka diri bahwa saya lebih banyak tidak tahu dan menerima juga bahwa mungkin ada orang lain yang lebih tahu, dan saya boleh jadi salah.

Bagi saya, pengalaman bersama Travel O’Logy adalah suatu pencapaian paling hebat dalam hidup saya. Meskipun Travel O’Logy belum berkembang sebagaimana yang saya bayangkan, meskipun ia masih tersengal-sengal, namun saya merasa bangga bahwa kami sudah sampai sejauh ini.

Perlu energi yang begitu besar untuk mendirikan sesuatu yang berkelanjutan. Perlu energi yang besar untuk menciptakan sistem yang bisa berjalan. Perlu energi yang besar untuk bertahan selama ini. Namun yang lebih diperlukan adalah kerendahan hati, untuk bisa menerima bahwa saya tak akan menjadi apa-apa tanpa bantuan dari teman-teman semua. Terima kasih banyak untuk : Fusi, Kure, Yuanita, dan Ikhrandi sebagai founder pertama Travel O’Logy. Terima kasih juga untuk Amran, Ndoy, Edo, Asmi, Carok, Sirka, Nabilah, Dulleh, dan teman-teman lain yang sudah banyak membantu kami bisa berjalan sampai sejauh ini.

Mari berkarya lagi setelah Lebaran!

Gowes Bareng Geolog VI : Surutnya Danau Bandung

Pagi hari Sabtu, 19 Maret 2016 adalah pagi yang seru. Kami Travel O’Logy berkesempatan untuk melakukan pendokumentasian acara ikonik dari Ikatan Alumni Teknik Geologi ITB (IAGL-ITB), yaitu Gowes Bareng Geolog (GBG) VI : Surutnya Danau Bandung. GBG merupakan acara pertama di Indonesia yang mengombinasikan bersepeda dengan field trip geologi dan telah berlangsung 6 kali sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2011.

 

Acara GBG VI ini dilaksanakan juga untuk memperingati World Water Day yang diperingati setiap tanggal 22 Maret. Tema Surutnya Danau Bandung dan lokasi acara di sekitar Danau Saguling dipilih juga untuk mengingatkan kita betapa pentingnya air bagi kehidupan. Danau Saguling yang semakin terancam oleh pencemaran menjadi suatu topik yang diangkat untuk meningkatkan awareness peserta mengenai pentingnya sadar lingkungan, terutama mengenai air.

Acara GBG VI ini diikuti oleh sekitar 140an penggowes dan dipandu oleh interpreter Dr. Ir. Budi Brahmantyo, M.Sc, yang menjelaskan bagaimana surutnya Danau Bandung. Perjalanan dimulai dari ITB, sepeda dinaikkan ke mobil bak terbuka, peserta berarak menggunakan angkutan bus.

DSC_0018
Peserta berfoto bersama sebelum berangkat di Gerbang Depan ITB

Spot I : Bendungan Saguling

Perjalanan sepeda dimulai di Bendungan Saguling. Bendungan Saguling yang mulai beroperasi pada tahun 1985. Air genangan Saguling kemudian dialirkan melalui pipa pesat untuk memutarkan turbin yang menghasilkan listrik sebesar 700 MW dan menerangi Pulau Jawa. Saat ini, Bendungan Saguling menghasilkan genangan pada elevasi 643 mdpl.

20160317112042
Genangan Danau Saguling di elevasi 643 mdpl

Melihat genangan air danau Saguling, kita seolah-olah dibawa ke puluhan ribu tahun yang lalu ketika Cekungan Bandung masih tergenang air menjadi sebuah danau. Alkisah pada 105 ribu tahun yang lalu, terjadi sebuah letusan katastrofi dari sebuah gunung di Utara Bandung, yaitu Gunung Sunda. Letusan ini menutup sebuah lembah di sekitar Padalarang, mengakibatkan Sungai Citarum Purba yang melewatinya terbendung dan kemudian menggenangi kawasan Cekungan Bandung yang serupa mangkok. Namun ketinggian air pada saat itu jauh lebih tinggi dari sekarang. Jika genangan air Saguling berada pada elevasi maksimal 643 mdpl, genangan air Danau Bandung kala itu berada pada elevasi 715 mdpl.

Permasalahan Lingkungan

Bendungan Saguling didesain untuk beroperasi selama 100 tahun dengan laju sedimentasi maksimal sebesar 4 juta m3/tahun. Namun perubahan tata guna lahan di daerah tangkapan air Danau Saguling mengakibatkan laju sedimentasi terus bertambah hingga 4.2 juta m3/tahun. Hal ini terjadi karena di daerah hulu terjadi perubahan tata guna lahan, dari hutan menjadi perkebunan, perumahan, industri, dan lain-lain. Dengan laju sedimentasi seperti saat ini, maka diperkirakan sedimen akan memenuhi Danau Saguling pada 36 tahun yang akan datang. Ketika hal ini terjadi, maka Bendungan Saguling hanya akan bisa memproduksi listrik di musim penghujan, akibatnya adalah hilangnya 700 MW yang diproduksi oleh PLTA Saguling.

Air Danau Saguling pun kini sudah berada di level D, dari sebelumnya di level B pada saat pembangunannya. Level D ini berarti bahwa kualitas air Danau Saguling hanya cocok untuk kebutuhan industri. Pada awal pembendungan, ikan mas masih bisa dibudidayakan di air Danau Saguling, namun kini ikan Patin yang lebih tangguh pun sudah tidak bisa dibudidayakan disini. Selain itu, kualitas air yang buruk dan sedimen yang tinggi juga memengaruhi kebutuhan kincir pemutar turbin yang dengan mudahnya terkorosi. Hal ini tentu membuat biaya perawatan alat di PLTA semakin tinggi.

Spot II : Surge Tank

Dari Bendungan Saguling, kami bersepeda terus ke arah Cikuda. Menyusuri tanjakan Pasir Cikukur yang melelahkan. Disini para penggowes diuji ketabahannya dalam menaiki tanjakan. Satu persatu terlihat memapah sepedanya, yang lain melambai-lambai mencari pertolongan. Warung-warung ramai dimampiri sekedar mencari teh manis untuk mengisi energi. Hingga akhirnya sampai di puncak Pasir Tikukur dan turun sedikit ke Surge Tank.

Surge Tank atau Bak Pendatar Air adalah sebuah bak yang digunakan untuk mengumpulkan air Danau Saguling sebelum dialirkan ke pipa pesat untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. Secara teori pipa pesat berfungsi sebagaimana piston yang harus terisi air sepenuh mungkin dan tidak boleh ada udara di dalamnya. Ketika pipa pesat terisi penuh, maka energi potensialnya akan maksimal. Energi potensial inilah yang dikonversi menjadi energi listrik ketika aliran deras air memutar turbin.

Spot III : Curug Bedil

Dari Surge Tank kita terus turun menuruni Back Slope dari punggungan homoklin Saguling yang miring ke selatan. Hingga kita berhenti di sebuah air terjun (dalam bahasa sunda disebut curug), bernama Curug Bedil. Yang menarik dari curug ini adalah bahwa curug ini menjadi model paling ideal untuk menggambarkan proses erosi ke hulu. Proses ini merupakan proses yang bertanggung jawab atas bobolnya Danau Bandung pada masa lampau.

20160317120311
Curug Bedil sebagai contoh erosi ke hulu resen. Erosi ke hulu menjadi alasan utama pembobolan Danau Bandung

Setelah Sungai Citarum terbendung pada 105 ribu tahun yang lalu, proses erosi secara intensif terjadi di balik genangan Danau Bandung. Puncaknya adalah di 16 ribu tahun yang lalu, bertepatan dengan puncak zaman es Wurm Max (18 ribu tahun yang lalu). Ketika itu muka air laut lebih rendah hingga 140 meter dari muka air laut saat ini. Akibatnya adalah erosi vertikal semakin besar di seluruh daratan karena air berupaya mengejar muka air laut.

Ketika itu, di antara Pasir Kiara dan Pasir Larang pada saat ini terjadi penjebolan dinding yang membendung Danau Bandung. Air yang menemukan celahnya kemudian mengerosi celah tersebut begitu hebatnya hingga terbentuk sebuah lembah yang begitu terjal dan dalam yang kini menjadi lembah Citarum lama.

Erosi ke hulu resen yang kita lihat di Curug Bedil merupakan sebuah cara bagaimana seorang geolog melihat masa lalu. Kami percaya bahwa the present is the key to the past, yaitu proses-proses yang terjadi di masa sekarang juga terjadi pada masa lampau.

 

 

 

Spot IV : Sanghyang Tikoro

Akhir dari turunan kita tiba di Sanghyang Tikoro, tepat di samping Power House PLTA Saguling. Sanghyang Tikoro berarti Kerongkongan Dewa (atau Dewa Kerongkongan?). Hal ini merujuk pada dimensi lubang yang begitu besar dan air Citarum masuk ke dalamnya. Siapapun yang melihat aliran Citarum di Sanghyang Tikoro tentu berimajinasi. Sejak lama geolog-geolog Belanda menduga bahwa bocornya Danau Bandung terjadi disini. Hal ini dipercaya turun-temurun. Bahkan pada saat perang kemerdekaan, beberapa pejuang mengusulkan mengebom Sanghyang Tikoro dengan tujuan membuat Bandung menjadi danau lagi.

20160317122717
Citarum masuk ke dalam Gua Sanghyang Tikoro. Besarnya dimensi gua ini mengakibatkan semua berimajinasi bahwa Danau Bandung bobol disini.

Hal ini dapat dibuktikan keliru secara geomorfologi, karena Danau Bandung tak pernah menyentuh Sanghyang Tikoro mengingat elevasinya yang begitu rendah dan posisinya yang berada di balik dinding bendungan. Sanghyang Tikoro berelevasi 394 mdpl, begitu jauh dari elevasi genangan Danau Bandung di elevasi 715 mdpl. Diketahui kemudian bahwa pembobolan Danau Bandung terjadi di sebuah lembah terjal antara Pasir Kiara dan Pasir Larang.

 

Spot V : Jembatan Gantung Citarum

Selepas dari Sanghyang Tikoro kami melanjutkan gowes ke arah Desa Bantar Caringin menyebrangi Sungai Citarum dengan jembatan gantung dan masuk ke lokasi proyek Bendungan Rajamandala. Dengan medan offroad tanah dan berbatu kami mengayuh pedal kami kepayahan karena panas yang luar biasa. Konon katanya hari itu adalah hari ketika matahari tepat berada di khatulistiwa sehingga panasnya cuaca menguras stamina kami.

Kemudian kami masuk ke hutan untuk menembus ke Desa Untu-Untu, Cihea. Di desa ini kami menyusuri jalan perkebunan singkong/jagung milik PTPN yang tak ada tanaman pelindung. Meskipun begitu, pemandangan Gunung Guha di belakang kami menjadi sebuah pelipur kelelahan yang mendera.

Lepas dari jalur perkebunan, kami masuk ke jalan Bandung-Cianjur lama. Jalan ini jarang dilewati lagi semenjak pembangunan Jembatan Rajamandala, sehingga sepi kendaraan yang lewat. Meskipun begitu jalanan begitu bagus sehingga perjalanan lancar, kecuali bagi kami yang sudah kehabisan stamina.

Spot VI : Jembatan Rajamandala

Jembatan Rajamandala menjadi pemberhentian terakhir. Disini kami makan dana menerima satu materi terakhir. Sebenarnya ini mempercepat finish karena lokasi finish sebenarnya di Jembatan Kereta Leuwijurig, yaitu jalur kereta api Bandung-Cianjur yang kini non-aktif.

Disini kami melihat lembah terjal yang digores oleh Citarum. Kami bisa membayangkan bagaimana derasnya aliran Citarum sehingga menghasilkan lembah yang begitu tinggi, vertikal. Namun saat ini setelah dibendung di Saguling dan Cirata, Citarum bagaikan anak manis yang mengalir dengan manja. Alirannya pelan santai, kita bisa berperahu di bawahnya.

Acara berakhir dengan kuis dari Pak Budi yang berhadiah batu mulia dari Mang Okim. Mang Okim menutup acara dengan mengajak kami menyanyikan lagu Bagimu Negeri. Hal ini menurut beliau adalah karena perjalanan ini adalah upaya kita untuk mengenali negeri kita dalam rangka memperkuat rasa cinta kita pada Indonesia. Bahwa orang-orang yang terlibat menyelenggarakan acara ini berupaya begitu maksimal agar acara berjalan lancar dan bagaimana acara ini kemudian mampu memberikan makna bagi kami para peserta yang mengikutinya.

Terima kasih untuk panitia Gowes Bareng Geolog VI! Bravo GEA! Sampai jumpa di GBG VII, segera!

Kaitan Sasakala Sangkuriang Dengan Kejadian Geologi Cekungan Bandung

Bicara tentang Cekungan Bandung, maka kita takkan lepas dari kisah Sangkuriang yang mencintai ibunya, Dayang Sumbi. Kisah ini begitu melegenda, bahkan catatan paling tua tentang kisah ini ada sejak abad ke-16, yaitu pada catatan Bujangga Manik. Bujangga Manik, seorang pangeran Kerajaan Pajajaran memilih jalan hidup seorang resi atau pertapa dan melakukan perjalanan mengelilingi Pulau Jawa. Catatannya yang kini tersimpan di Museum Oxford di Inggris menyimpan begitu banyak informasi mengenai toponimi daerah di Jawa Barat. Mengenai Sangkuriang, ia mencatat:

Leumpang aing ka baratkeun, datang ka bukit Patenggeng. Sasakala Sang Kuriang, masa dek nyitu Ci Tarum, burung tembey kasiangan

Artinya:

“Berjalanan aku ke barat, datang dari Bukit Patenggeng, Legenda Sang Kuriang, bagaimana mau membendung Ci Tarum, gagal karena kesiangan”

legenda sangkuriang dan gunung tangkuban perahu
Ilustrasi Sangkuriang menendang perahu yang telah dibuatnya

R.W. van Bemmelen, seorang geolog Belanda begitu terpana ketika mendengar kisah Sangkuriang, Keterpanaan ini karena menurutnya kisah Sangkuriang begitu cocok dengan kisah pembentukan Danau Bandung dan letusan katastrofi Gunung Tangkuban Perahu. Hal yang menarik juga karena pada beberapa daerah toponimi atau penamaan wilayah begitu erat kaitannya dengan Sasakala Sangkuriang.

Berdasarkan legenda, Sangkuriang yang diminta untuk membuat sebuah danau dan perahu, membendung Ci Tarum dalam satu malam. Bahan perahu diambilnya dari Pohon Lametang yang berada di sebelah timur. Pohon itu ditebangnya kemudian runtuh ke arah barat. Sisa tunggulnya kemudian menjadi Gunung Bukittunggul. Runtuhnya pohon begitu dahsyat sehingga menimbulkan gempa. Sisa batang yang runtuh memanjang barat timur menjadi tinggian Sesar Lembang. Bagian ranting dan batang pohon dalam bahasa Sunda disebut Rangrang, diinterpretasikan sebagai Gunung Burangrang. Kejadian ini terjadi sebelum terbentuknya perahu. Hal ini dianggap bersesuaian dengan penelitian bahwa Gunung Tangkuban Perahu adalah gunung yang berusia lebih muda dibandingkan gunung-gunung di sekitarnya.

Kemudian Sangkuriang membendung Ci Tarum dan ketika air Ci Tarum mulai tergenang dan danau akan selesai, Dayang Sumbi yang cemas bersiasat sembari berdoa pada yang maha Kuasa. Ia mengibar-ngibarkan selendangnya di ufuk timur. Selendangnya konon tersisa sebagai Batu Selendang di Tahura Dago. Melihat mentari telah bersinar di ufuk timur, Sangkuriang yang merasa gagal sangatlah kesal. Ia kemudian menendang perahu yang telah dibuatnya. Perahu mendarat terbalik menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Batu Selendang, dipercaya sebagai Selendang Dayang Sumbi. Foto oleh Budi Brahmantyo.

Sisa-sisa Sasakala Sangkuriang juga terdapat di Bandung Barat. Di kawasan perbukitan kapur Rajamandala, beberapa bukit dinamai sesuai dengan nama-nama perkakas pesta. Di daerah ini terdapat beberapa nama bukit seperti Bukit Pawon yang artinya dapur. Ada pula Pasir Pabeasan yang artinya tempat beras. Pasir Manik = manik-manik perhiasan, Pasir Hawu = tungku, Pasir Leuit = lumbung, Pasir Kancahnangkub =wajan/panci terbalik, Pasir Bende dan Gua Ketuk = alat tetabuhan. Bukit-bukit itu berada pada posisi yang terpisa jauh, seolah-olah berserakan karena ditendang Sangkuriang.

Kearifan masyarakat Sunda dalam menamai wilayahnya tentu sangat menarik untuk dikaji. Bagaimana bisa kisah-kisah ini begitu berkaitan. Bagi mereka yang skeptis, boleh jadi ini hanya reka-rekaan atau kita hanya mencocok-cocokan. Namun saya merasa bahwa hal ini terlalu menarik untuk disebut sebagai sebuah kebetulan. Bagaimanapun masih banyak kebijaksanaan leluhur kita yang kita belum pahami. Begitu banyak warisan lisan yang tak tercatat dan akan segera hilang apabila penuturnya telah berpulang. Maka tentu sangat penting bagi kita generasi muda untuk mencari tahu dan menjaga agar kearifan-kearifan itu bisa terjaga.

 

Daftar Pustaka

Bachtiar, T. dan Syafriani, Dewi., 2012. Bandung Purba. Bandung: Pustaka Jaya

Kunto, H., 2014. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung: Granesia

Brahmantyo, B., dan Bachtiar, T., 2009. Wisata Bumi Cekungan Bandung. Bandung: Truedeepustakasejati