Perjalanan Junghuhn dari Bogor ke Bandung Tahun 1844

Diterjemahkan oleh Muhammad Malik Ar Rahiem dari Buku Reizen Door Java, voornamelijk door Het Oostelijk Gedeelte van dit Eiland oleh Franz Wilhelm Junghuhn, yang diterbitkan tahun 1850 di Leiden.

Cianjur, 7 Agustus 1844

“Salam dariku, gunungku dengan puncak yang bercahaya merah,
Salam dariku, matahari yang menyinarinya!”

Schiller: Spaziergang

Sebelum Mentari pagi menembakkan sinar keemasannya dari balik Pegunungan Megamendung, 6 ekor kuda bergerak keluar dari stasiun Wangun (di atas Buitenzorg). Kuda-kuda itu menarik kereta kuda empat roda yang aku naiki, bergerak dengan berirama. Tak lama kemudian tiga puncak gunung di sekitar Buitenzorg (Salak, Gajak, dan Ciapus), tersinari terang cahaya surya pagi, sementara di bagian barat daya menuju Gede (Cikopo dan Cisarua), serta daerah hingga kaki Gunung Salak masih tertutup oleh bayang-bayang pegunungan Megamendung.

Gunung Salak. F. Junghuhn: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart. 2. Band

Aku memandangi puncak ini dengan seksama. Puncak yang telah didaki oleh begitu banyak naturalis anggota Naturkommisie sejak 1812, sementara itu 50 gunung lainnya di Jawa, hingga kini masih belum diinjak oleh para naturalis.

Udara pagi yang menyegarkan membangkitkan gairah berpetualang dalam diriku. Sementara keindahan dan kemegahan pepohonan dan tetanaman menakjubkanku. Di sini pepohonan masih tersembunyi dalam bayang-bayang hutan yang gelap. Di tempat lain aku lihat beberapa pucuk pohon palem yang sudah berkilauan diterpa sinar Mentari. Suasana ini sangatlah puitis, menghidupkan pikiranku, yang begitu mudah tergoda oleh kesan dari luar, dan membuat hidup dipenuhi kebahagiaan.

Meski demikian, tak ada hal lain yang lebih memancing rasa antusias selain dari kereta di Jawa, yang ditarik oleh Kuda Jawa, dan dikemudikan oleh kusir Jawa. Dari luar roda berdetak dan kuda-kuda mendengus. Dari depan terdengar tepukan keras dari kusir, dan dari belakangnya, tiga orang berteriak, seolah pertunjukan suara tanpa henti, ayoo – oh – ayoo – brr – hui – bur,bur! Tentu tidak dengan gaya Jenny Lind, tepi tetap menyentuh hati, sekaligus memekakkan telinga.

Di Pondok Gede, matahari mulai naik dan menyinari tanaman dari Afrika, yaitu perkebunan Conchineal-Cactus yang berada di satu sisi dari hutan pedesaan yang indah, yang juga muncul berkelompok dengan subur di sisi yang lainnya. Aku sudah tinggal selama 10 tahun di Jawa, tapi tetap saja terpana melihat kubah indah pohon Rambutan (Nephelium lappaceum), Mangga, dan banyak pohon-pohon buah lainnya, atau dedaunan Parkia biglobosa yang halus, bersirip, dan lembut menyebar, serta puncak pohon kelapa dan pinang. Ada kegembiraan yang membuncah, sebagaimana saat pertama kali aku melihatnya.

Kekuatan kebiasaan menumpulkan semua kesenangan. Kita baru bisa memahami keindahan alam melalui perubahan yang kontras, perubahan, dan pergantian yang signifikan. Hal itu harus menjadi rangsangan yang menjaga kerentanan pikiran kita, agar terus-menerus segar dan merasa hidup. Pada akhirnya, seseorang sangat merindukan bentuk-bentuk yang lebih solid, sebagaimana yang ditunjukkan alam kepada kita di utara: pemandangan padang rumput yang monoton, rumpun pohon ek yang tumbuh rendah, atau kebun ceri.

Untuk itu, maka jayalah terus industri mesin yang menjadikan perjalanan menjadi mudah, yang menjadikan perjalanan kereta kuda menjadi begitu nyaman. Semoga Tuhan menguatkan keretaku, terutama membuat as roda bertahan setidaknya sampai aku mencapai Jawa Tengah.

“Agar kita bisa berpencar padanya,
Itulah satu-satunya alasan dunia ini begitu besar”

Segera ketika sore tiba, sang kusir melihat kereta kudaku dengan tatapan keheranan. Ia mengingat perjalanan sebelumnya ke Cianjur, di mana ketika itu ia menjatuhkanku dari kereta hingga dua kali. Aku merasa cukup gembira untuk bertemu kenalan lama. Aku berjanji jika nanti bertemu lagi aku akan memberinya dua gulden, alih-alih satu gulden seperti harga biasa.

Di jalan menuju Megamendung (ketinggian 4620 kaki), aku terkagum dengan fakta bahwa pembangunan terjadi sangat cepat di sini dan populasi meningkat dengan cepat. Hal ini tidak mungkin terjadi tanpa peningkatan kesejahteraan masyarakat secara simultan. Beberapa tahun yang lalu, di tempat ini semua masih tertutup oleh hutan dan merupakan habitat badak. Sekarang banyak keluarga yang telah menetap di sana, dan sebuah warung yang dibangun dengan baik, menawarkan makanan, kopi, dan kue-kue untuk para pelancong. Warung ini berada di titik tertinggi jalan yang dibangun.

Di sini terlihat bahwa pembangunan jalan yang baik memiliki dampak yang kuat terhadap perluasan budidaya di suatu negara. Orang Jawa senang mengikuti jalan dan bermukim di sekitarnya. Oleh karena itu, pembentukan koloni baru, jika diperlukan, dapat dengan mudah diarahkan dengan membangun jalan menuju titik-titik tertentu. Aku tidak akan menjelaskan mengenai kondisi jalanan di Megamendoeng, yaitu jalan tertinggi yang bisa dilalui kendaraan di Jawa. Lintasan tertinggi yang bisa dilalui dengan menunggang kuda adalah lintasan di atas Pegunungan Dieng, dari Pekalongan melewati Batoer ke Wonosobo (titik tertinggi sekitar 6500 kaki). Kemudian jalur yang melewati Pegunungan Tengger, dari Tosari ke Wonosari, dan dari Kebo glaga ke Ledok-ombo. Lintasan terakhir mencapai 7800 kaki di titik tertingginya.

Di ngarai lembah di seberang celah, di antara bebatuan vulkanik, sungai Ci Kundul mengalir ke hilir. Sungai ini memisahkan Megamendoeng (sebagai rantai dari punggungan Pangrango) dari kaki Gede yang tinggi dan rata. Di atasnya, lebih jauh ke selatan, terletaklah Cipanas. Di tepi Ci Kundul, sedikit di bawah dekat jembatan, orang dapat melihat dinding vertikal berwarna abu-abu, cukup halus dengan tinggi sekitar 40 kaki. Dinding ini hanya terdiri atas satu lapisan abu vulkanik yang mengeras (orang Sunda menyebutnya Wadas). Abu ini jarang ditemukan di sekitar Gede, tapi di celah yang sempit ini mungkin merupakan tempat yang sangat tepat untuk berakumulasi, dan mungkin tersapu (pada erupsi sebelumnya) dengan aliran dari Ci Kundul, sebagai suatu aliran lumpur.

Peta Gunung Gede-Pangrango dan Sungai Ci Kundul. F. Junghuhn: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart. 2. Band

Gunung-gunung di daerah ini memiliki nama yang spesial (Gunung Peser, Gunung Rasamala, Gunung Tjipanas, dll). Pegunungannya sendiri, jika dilihat dari kacamata geologi, terbentuk sekaligus dalam satu kesatuan, dan terdiri atas deretan bukit-bukit yang tersambung, di mana dasarnya adalah aliran lava yang berasal dari Gede.

Kami akhirnya tiba di Cianjur pukul 5.30 sore.

Bandung, 9 Agustus 1844

Pada pagi hari di tanggal 8, kami mulai bertolak ke arah timur. Dataran Cianjur terletak di kaki kerucut Gunung Gede, berupa hamparan yang luas, miring menurun menjauh dari pusat gunung berapi. Daerah sebelah selatan Cianjur menurun ke arah tenggara, menuju kaki dari Perbukitan Djampang (Kendeng). Sementara daerah di sebelah timur Cianjur, di mana Jalan Raya Pos berada, merupakan dataran dengan kemiringan landai ke arah timur, menuju lembah Ci Sokan. Sungai ini berhulu di Pegunungan Kendeng, jauh di selatan, dan mengalir menuju utara.

Beda elevasi dari dataran Cianjur ke dasar Ci Sokan adalah 584 kaki (Cianjur 1450 kaki, Ci Sokan 866 kaki), dengan jarak 8 menit geografis (sekitar 2 mil geografis). Dataran ini sangat cocok untuk budidaya padi, dan kita lihat di sini sawah-sawah yang luas memenuhi lereng-lereng Gunung Gede, membentuk teras-teras hijau, yang basah oleh air, yang di antaranya ditumbuhi oleh pohon-pohon buah, yang seolah menjadi titik-titik berwarna hijau gelap, di antara hamparan padi hijau yang memanjakan mata. Siapapun yang telah terbiasa dengan pemandangan Eropa, mungkin tak menyangka ini adalah Jawa. Hamparan hijau pesawahan, yang di kiri-kanannya pohon-pohon buah-buahan, dengan pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang. Masyarakat yang tinggal di sini adalah orang-orang yang penuh syukur, yang tinggal di pondok-pondok bambu sederhana.

Dataran yang berupa kaki gunung yang luas dan turun ke arah yang berbeda, dengan kemiringan yang rata sempurna, jarang ditemukan di Jawa. Biasanya lereng yang lebih rendah dari gunungapi bergabung dengan lereng gunungapi lainnya dan membentuk teras. Di beberapa gunungapi, kaki gunung menerus terus sampai ke pantai, seperti teramati di kaki selatan Merapi. Dataran Jogjakarta yang terbentuk dengan geomorfologi ini, meski 2/3 lebih rendah dari dataran Cianjur, bisa menjadi pembanding yang baik.

Di sisi kanan Ci Sokan, morfologi kembali menjadi dataran. Tren menurun ke arah timur telah berakhir, memasuki medan datar yang bergelombang, dengan elevasi merata antara 850-870 kaki sejauh 6 pal ke arah timur, hingga ke Ci Tarum, kemudian ke Dataran Rajamandala, lalu menerus hingga ke batas pegunungan batugamping Mesigit, yang menjadi batas sebelah barat dari Dataran Tinggi Bandung. Di Bandung, elevasi meningkat dua kali lipat lebih tinggi.

Ci Sokan dan Ci Tarum mengalir hampir sejajar satu sama lain. Keduanya mengalir dari selatan ke utara, dan kemudian bergabung pada jarak beberapa pal ke arah utara Jalan Raya Pos. Kedua sungai ini menggerus begitu dalam, membentuk ngarai sedalam hingga 150-250 kaki, dengan lebar dua kali lipat kedalamannya. Tepi-tepiannya terjal, dengan dinding curam menurun secara tegak lurus. Saluran di atasnya jatuh menderu ke bawah. Sampai kedalaman yang sama dengan kedalaman ngarai-ngarai ini, daratan di antara lembah (juga dataran Cianjur dan Rajamandala) hanya terdiri dari puing-puing vulanik, yaitu bongkah dan konglomerat dari berbagai ukuran, yang menumpuk di sini setebal beberapa ratus kaki. Mencirikan suatu lembahan luas antara Cianjur dan Pegunungan Batugamping Rajamandala, sebelum menjadi morfologi seperti sekarang.

Kedalaman dasar Ci Sokan berdasarkan observasi barometer adalah 150 kaki, sementara Ci Tarum 255 kaki. Dasar dari kedua ngarai ini masihlah puing-puing batuan vulkanik, sehingga kita tak bisa tahu dengan pasti seberapa tebal lapisan ini, juga lapisan apa yang melandasinya. Kita mungkin tahu informasi ini jika menyusuri ngarai ini jauh ke hilir. Kita tidak tahu pula bahan penyusun lapisan ini berasal dari mana. Apakah dari Burangrang? Apakah dari Gede? Ataukah dari Patuha? Yang kemudian terlimpas jauh hingga ke sini karena dorongan erupsi gunungapi. Kemudian berapa lama kemudian waktu yang dibutuhkan untuk terbentuknya lapisan koral Mesigit, yang kini membumbung tinggi hingga elevasi 2500 kaki. Sulit untuk membayangkannya jika membandingkan dengan sifat alam dari material rombakan gunungapi. Kebanyakan terdiri atas trakhit dengan kristal hornblende yang besar, lalu kristal feldspar yang bersifat gelas tersebar acak di sana, dengan masa dasar feldspar. Lebih jauh lagi, batuan ini biasanya didominasi oleh hornblende, sampai suatu titik bisa kita sebut sebagai batuan hornblende, yang porous, dan sesekali bisa kita lihat gelembung udara besar dan kecil.

Ci Sokan di titik ini telah menggerus lapisan, membentuk ngarai yang dalam, dan menghempaskan begitu banyak pecahan-pecahan dinding yang terakumulasi di dasar sungai. Lokasi pecahan-pecahan yang seolah membentuk pulau ini tertutup oleh lapisan tanah, dengan ketebalan sekitar 5 kaki. Di tepi-tepi teras Ci Tarum (atau setidaknya di mana itu berpapasan dengan jalan), bongkah-bongkah yang besar telah hilang, dan digantikan oleh lapisan tebal debu-pasir volkanik yang berwarna abu kekuningan dan memiliki karakteristik khusus. Di banyak tempat, pasir-pasir ini sudah terlapuk dan berubah menjadi lempung.  

Di banyak tempat, lapisan pasir atau debu ini berselingan dengan lapisan batuan membundar yang terdiri atas trakhit, dengan ketebalannya secara bergantian 5 hingga 10 kaki. Namun, di dataran Rajamandala, di sisi kanan Tji Tarum, terdapat bukaan jalan dengan ketinggian hingga 50 kaki. Di sini hanya tampak tanah lempung yang gembur, yang tampaknya dibentuk oleh dekomposisi batuan konglomerat yang aku sebut sebelumnya.

Pemandangan perbukitan kapur dari Jembatan Citarum Rajamandala

Lembah Ci Sokan dan Ci Tarum adalah satu-satunya lembah di Jawa yang serupa dengan lembah dataran tinggi Sumatera, seperti di Batang Agam (di Padang), atau lembah di Toba di Tanah Batak. Semua sungai-sungai di lembah ini terbentuk di atas lapisan konglomerat. Sebagai contoh Sungai Agam menyayat batuan apung sedalam hingga 500 kaki, seolah memotong dataran tinggi ini. Badan air Ci Tarum kira-kira sepertiga lebih besar daripada Ci Sokan, ini karena sungai ini sebelumnya menampung seluruh aliran air dari dataran tinggi Bandung. Warna aliran ini hampir selalu keruh karena sedimen yang dibawanya. Sedimen coklat ini membentuk kontras yang tajam dengan air jernih dari TJi Bodas yang lebih kecil, yang mengalir dari mata air.

Mungkin karena sulitnya mencari air, karena lokasi aliran sungai yang begitu jauh di bawah permukaan, maka daerah antara Ci Sokan dan Ci Tarum adalah suatu kawasan liar yang tak berpenghuni, dengan pepohonan yang rendah, namun alang-alang yang begitu tinggi. Spesies alang-alang dan gelagah (Imperata alang, Sorghum tropicum, Imperata glaga) menjadi tutupan lahan yang utama di sini. Di antara rerumputan ini, ada spesies Bambu, Emblica officinalis Gartn, Semak Melastoma malabatricum, dan di sana-sini beberapa Colberta obovate yang tersebar, kadang membentuk rumpun kecil seperti di taman. Tapi jarang ditemukan Ficus dan jenis pepohonan lainnya. Relung liar yang berumput dan semak belukar yang tebal ini sangat kontras dengan hutan tinggi yang teduh dan lembab yang ditemukan di sekitarnya. Lebih mudah untuk melewati hutan belantara yang tinggi dan gelap daripada melewati hutan semak yang sangat panas, dan terlebih lagi merupakan tempat favorit rusa, babi, dan harimau.

Lambatnya perjalanan kami terutama karena penyeberangan di kedua sungai. Hanya salah satu di antaranya, yaitu Ci Sokan yang memiliki jembatan yang terbuat dari balok kayu. Gerak kereta begitu lambat karena kerbau-kerbau yang begitu kepayahan menarik kereta melewati jalan yang curam. Dari pos Rajamandala, di tepi kanan Ci Tarum, kami berkuda. Kereta kami ditarik oleh 6 ekor kuda yang bergerak dengan cepat melewati dataran indah Rajamandala. Perjalanan menanjak, sesekali saja menurun. Di sana sini aku lihat tanaman nila, di sisi lain ditanami teh. Hingga akhirnya kami tiba di perbatasan dataran tinggi Bandung, yaitu suatu pegunungan kapur.

Kami bertemu dengan penyambut kami yang sabar, dengan penampakan yang bodoh dan tidak peka (maksudku adalah si kerbau). Kerbau-kerbau ini menarik kami perlahan tapi pasti menuju tujuan. Sepanjang jalan yang perlahan ini, kami punya banyak waktu untuk mengamati situasi pegunungan batukapur, dan bisa melihat beberapa lapisan fosil koral, di mana banyak terlihat bekas-bekas kerang-kerangan. Koral-koral ini terletak di kaki gunung Ciguntur, di sekitar Ci Bogo, tak seberapa jauh dari stasiun Cisitu dan di sebelah timur dari menara gunung kapur Kentjana. Puncak batukapur Kentjana, Mesigit, dan Karang menjulang indah ke kiri, di sebelah utara jalan. Warna putih kapur ini bersinar kontras melalui hijau hutan di sekitarnya. Lebih jauh ke depan, di sebelah selatan jalan, berdiri tegak puncak keempa, sebuah batugamping yang tandus, Gunung Hawu, yang seolah-olah hanya potongan-potongan berbentuk dadu yang ditumpuk satu sama lain. Kaki gunung ini merupakan titik tertinggi dari jalan ini, yaitu pada ketinggian 2.567 kaki. Dari sini jalanan stabil melandai sampai ke dataran Bandung.

Gunung Masigit di Padalarang dilihat dari Puncak Pasir Pawon

Dataran ini semakin luas di hadapan mata para pengembara. Gunung-gunung di hadapan mata bersinar memukau. Puncak-puncak gunung api tersambung satu sama lain, terpandang jelas menembus sanubari. Bening air di danau seolah cermin. Danau buatan yang dibuat dengan membangun bendungan, dan terletak di sebelah kiri jalan. Lahan padi yang ditanam dengan baik disela oleh rumah dan desa-desa, menjadi penyambut para pengelana.

Tanpa menunggu lama, tentu aku merekomendasikan dataran tinggi yang cantik ini. Paling luas di Jawa, pada ketinggian ini (secara umum di Karesidenan Priangan, tipe bentangalamnya seperti di Sumatera, berbeda dengan di Jawa pada umumnya yang berupa dataran rendah dengan gunung-gunung terisolasi). Kepada seluruh petualang, kalian akan menemukan banyak bahan-bahan untuk pertimbangan ilmu pengetahuan, baik meteorologi, botani, dan geologi.

Pada jam 2 siang, aku tiba di Bandung yang telah cukup padat populasinya, meskipun tetap tenang dan menyenangkan. Aku menyiapkan beberapa persiapan untuk melanjutkan perjalanan aku ke beberapa tempat di Priangan, sebelum berangkan ke Jawa Timur. Ah, Gunung Guntur, tak sabar untuk aku datangi lagi. Mr. Nagel (Asisten Residen Bandung) dan Jenderal Cleerens (Residen Priangan) memberikan aku dukungan yang sangat berharga. Jenderal Cleerens bahkan memberikan aku surat pengantar untuk menghadap Residen lainnya.

Junghuhn Seorang Geologist

Dalam pengetahuan komunal masyarakat Indonesia, Junghuhn dikenal sebagai orang yang membuat grafik lokasi ideal tumbuh kembang tanaman berdasarkan elevasi ketinggian. Pengetahuan ini tersebar, karena dimuat dalam pelajaran geografi ketika SD dan SMP. Setidaknya begitu belasan tahun lalu, ketika saya masih sekolah dasar dan sekolah menengah dulu.

Ketika masuk dalam pelajaran sejarah, nama Junghuhn kembali mengemuka mengingat jasanya dalam budidaya kina. Junghuhn dikenang sebagai perintis budidaya kina di Indonesia, hingga pada awal abad 20, Indonesia menguasai pasar kina dunia.

Tugu Makam Junghuhn di Lembang, dikelilingi pohon-pohon kina. Telah ditetapkan sebagai Cagar Alam Junghuhn seluas 2.5 ha

Selain dari dua bidang tersebut, nama Junghuhn tak banyak saya lihat. Ketika saya berkuliah di jurusan geologi, namanya tak muncul. Mungkin hanya sekali, yaitu ketika almarhum Pak Budi Brahmantyo menceritakan tentang sketsa Junghuhn di Situ Patengan. Namun selebihnya ia tak terdengar.

Padahal Franz Junghuhn (lahir di Mansfeld Jerman, 1809 dan wafat di Bandung, 1864) adalah salah satu perintis penelitian geologi di Hindia Belanda, terutama di Jawa. Karyanya yang paling masyhur, Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart (Jawa, Bentuk, Vegetasi, dan Struktur Pembentuknya), yang terdiri atas tiga volume, pada volume III setebal 329 halaman, khusus membahas mengenai geologi Pulau Jawa. Di dalamnya tercakup pembahasan mengenai sebaran mineral, sedimen, morfologi pegunungan, fosil hewan dan tanaman, formasi-formasi penting, batuan gunungapi, keberadaan metal, bahkan hingga mata air panas. Deskripsi fosil dan lokasi penemuannya menjadi lokasi A-Z, menjadi sumbangan sangat berharga bagi penelitian stratigrafi di Hindia.

Sementara volume I membahas mengenai tanaman-tanaman dan volume II membahas mengenai gunungapi. Pada tahun 1855, Junghuhn mempublikasikan peta Pulau Jawa skala 1:350.000 yang ia bagi ke dalam 4 lembar. Salah satu edisi peta ini merupakan peta geologi dengan warna-warna yang membedakan formasi-formasi batuan. Peta ini merupakan peta geologi kedua Pulau Jawa, setelah peta geologi oleh Horsfield pada awal abad-19.

Peta Geologi Bandung dan Sekitarnya oleh Junghuhn (1855)

Jika kita menelusuri karya-karya Junghuhn secara kronologis, maka kita akan tahu bahwa mulanya Junghuhn tidak begitu awas dengan kondisi geologi. Passion-nya ketika itu lebih ke aspek botani. Menurut Rogier Verbeek, kemungkinan besar Junghuhn mulai awas dengan kondisi geologi adalah pada tahun 1834, ketika ia berkunjung ke Laacher See (Danau Laach) di sekitar Pegunungan Eifel. Di sini, Junghuhn muda terkesima dengan pegunungan vulkanik ini, dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa geologi juga merupakan hal menarik yang belum banyak dipahami.

Pada awal karir Junghuhn di Hindia pun, ia tak begitu awas dengan kondisi geologi. Ia lebih banyak memperhatikan tanaman-tanaman, mendeskripsi, kemudian mengumpulkan spesimennya. Baru pada tahun 1837, ketika Junghuhn ditugaskan menjadi deputi dari Dr. Fritze, ia mulai memiliki pembimbing dalam ilmu geologi. Dalam buku “Topograpische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java, Magdeburg 1845”, Junghuhn menuliskan bahwa dalam perjalanannya dengan Dr. Fritze, Junghuhn melakukan penelitian mengenai tanaman; sementara Dr. Fritze melakukan observasi geologi, mengunjungi kawah, dan mengoleksi bebatuan. Pada bulan Mei 1839, Fritze meninggal dan meninggalkan kesedihan mendalam bagi Junghuhn.

Ernst Albert Fritze (1791-1839)

Junghuhn melanjutkan petualangannya di Jawa hingga tahun 1841, untuk kemudian berpindah ke Sumatera dan melakukan penelitian di Tanah Batak selama 13 bulan. Di rimba yang liar ini, Junghuhn berhasil memetakan topografi kawasan ini dengan sangat baik, sekaligus mempublikasikan pengamatannya mengenai Tanah Batak di Sumatera (Die Battaländer auf Sumatra). Menurut Verbeek, dalam buku tersebut Junghuhn secara eksplisit menyebutkan mengenai rencana pembahasan geologi yang akan dituliskan dalam buku volume kedua. Namun buku tersebut tak pernah terpublikasikan. Buku Die Battaländer auf Sumatra hanya terbit dalam bahasa Jerman. Ini karena naskah buku ini ditolak oleh pemerintah kolonial karena catatan-catatan kritis mengenai perlakuan buruk tawanan Jawa oleh serdadu kolonial.

Pada periode awal Junghuhn di Hindia, selama 13 tahun (1835-1848), kemudian kita kurangkan dua tahun bekerja di Sumatera, dan dua tahun lainnya untuk membuat laporan tentang Tanah Batak, maka sebenarnya Junghuhn hanya punya sekitar 9 tahun untuk meneliti Jawa. Bayangkan 9 tahun untuk mendaki 45 gunung, beberapa di antaranya berkali-kali, 16 di antaranya ia merupakan orang yang pertama, kemudian mengunjungi lembah-lembah yang dalam dan deras, serta menerobos rimba belantara yang kejam, mengumpulkan spesimen dalam peti-peti dan mengirimkannya ke Eropa. Bahkan pada periode awal, kebanyakan dari waktu tersebut bahkan dilakukan pada masa-masa cuti, karena pada awalnya Junghuhn adalah seorang dokter militer. Ini merupakan prestasi yang hebat, menimbang seluruh kesulitan yang ada ketika itu. Perjalanan-perjalanan geologi Junghuhn hanya bisa dilakukan jika ada persitensi yang tinggi, mengingat begitu terperincinya laporan yang ditulis Junghuhn.

“Sebuah cahaya baru yang telah lama dinantikan, baru-baru ini terbit mengenai karakter geognostic Pulau Jawa, melengkapi karya-karya terdahulu Horsfield, Raffles, dan Reinwardt, yang masih belum lengkap. Dibuat oleh peneliti alam yang cerdas, piawai, dan pantang menyerah, Franz Junghuhn. Setelah tinggal lebih dari 12 tahun ia merampungkan karya yang sangat berharga: Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart.”

Alexander von Humboldt dalam Kosmos jilid 4, tahun 1858

Junghuhn harus kita kenang sebagai geologist yang handal. Kita harus ingat bahwa Junghuhn memelajari geologi secara otodidak. Ia tak punya pendidikan khusus geologi. Hal ini juga kemudian mengakibatkan banyak observasinya yang kurang presisi, meski tidak mengurangi rasa apresiasi kita padanya. Verbeek menuliskan bahwa Junghuhn mengklaim bahwa basalt hanya ditemukan di tiga gunungapi di Jawa, padahal batuan ini bisa ditemukan di begitu banyak gunung. Junghuhn juga banyak mendeskripsi batuan plagioklas-trakhit, yang ternyata merupakan batuan andesit. Lebih lanjut Verbeek mengapresiasi Junghuhn begitu tinggi, terkait deskripsi medan yang begitu detil terperinci dengan ilustrasi yang dilengkapi banyak sketsa, profil, dan peta. Namun harus diakui bahwa ketika Junghuhn membahas substansi geologi, maka maknanya kurang begitu berarti, terutama jika kita bandingkan dengan ilmu yang berkembang sekarang.

Beberapa teori penting yang dikemukakan Junghuhn, terutama teori mengenai pembentukan gunungapi. Junghuhn lah yang pertama menyatakan dan membuktikan bahwa kerucut gunungapi volkanik itu bertumbuh dan membangun kerucutnya secara berturut-turut dari letusan debu gunungapi dan aliran lava. Naiknya elevasi gunungapi bukan karena pengangkatan, tetapi karena proses letusan-letusan yang berulang. Teori ini mungkin sekarang sudah usang dan kuno, tetapi pada zaman Junghuhn, teori itu diterima sebagai teori yang benar, dan bahkan didukung oleh Leopold von Buch. Tak hanya von Buch, Charles Lyell, bapak geologi abad 19, dalam bukunya yang legendaris, The Principle of Geology (1868) tak ragu untuk menyebut nama Junghuhn 6 kali dalam bukunya, dan menyitir pendapat Junghuhn, membuktikan betapa berharganya informasi dan analisis yang dikembangkan Junghuhn di Jawa.

Pada akhirnya, Junghuhn harus kita kenang sebagai salah satu perintis ilmu geologi di Indonesia. Seperti yang disampaikan Verbeek dalam memoir mengenang 100 tahun Franz Junghuhn, bahwa Junghuhn memberikan efek sugestif pada generasi muda. Ia menginspirasi pemuda generasi Verbeek untuk berkarya mengeksplorasi bumi Hindia, dan harusnya juga pada generasi-generasi setelahnya, termasuk generasi kita. Junghuhn adalah contoh dari orang berjiwa Promethean, yaitu orang yang memberikan segalanya untuk kemajuan ilmu pengetahuan, tanpa memedulikan konsekuensi terhadap dirinya sendiri.

Wahai Junghuhn, karyamu abadi!

Sketsa geologi pantai dengan undercut di bawahnya. Terdiri atas lapisan batupasir dan kapur
Sketsa Bukit Breksi Batu Nini di sekitar Gunung Buleud Cililin
Sketsa batuan sedimen berlapis nyaris tegak di Sanghyang Heuleut

Beberapa sumber tulisan ini:
1. Junghuhn als Geologe – Rogier Verbeek
2. Forschen – Vermessern – Streiten – oleh Renate Sternagel dan Gerhard Aus
3. Buku Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart volume III – Franz Junghuhn

Danau-Danau di Kota Bandung

Saya baru lihat postingan Pak T.Bachtiar yang akan membahas mengenai Danau-danau yang Hilang di Bandung, hari Senin 2 November 2020, nanti. Topik ini menarik karena saya pernah mendigitasi Peta Kota Bandung tahun 1931, untuk bisa menampalkan danau-danau yang dulu ada, ke keadaan sekarang. Kita tahu bahwa hampir seluruh danau di Bandung itu telah diurug, dijadikan perumahan. Mungkin yang paling terkenal adalah Situ Aksan, yang letaknya di sekitar Jalan Aksan, dekat Jalan Jamika dan Jalan Sudirman. Kini Situ Aksan sudah hilang, berganti menjadi perumahan.

https://www.instagram.com/tbachtiargeo/

Tak perlu kita bahas lebih panjang mengenai sejarah, asal muasal, dan kondisi danau-danau ini sekarang, karena saya yakin akan dibahas dengan sangat renyah oleh Pak Bachtiar nanti. Yang akan saya bahas adalah mengenai hasil digitasi saya, serta hasil penampalan kepada kondisi sekarang. Seberapa banyak tubuh air yang hilang? Berapa luasannya?

Sumber peta yang digunakan adalah Peta Topografi Lembar Bandung Nord dan Bandung Zuid skala 1:25.000 yang diterbitkan oleh Dinas Perpetaan Hindia Belanda tahun 1931. Peta ini bisa didapatkan di https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/ secara cuma-cuma.

Penting untuk saya sampaikan, bahwa cakupan peta ini tidak besar. Luas yang dicakup masing-masing peta sekitar 10×10 km. Pada lembar Bandung Zuid, batas selatannya adalah Dayeuhkolot, sementara pada lembar Bandung Nord, batas utaranya adalah Cihideung dan Ciumbeuleuit. Batas barat dari peta ini adalah di Cimindi, sementara batas timurnya adalah Kiara Condong. Total luas yang tercakup dalam kedua peta yang berjejer utara selatan ini sekitar 20×10 km, atau 200 km2.

Sebagai peta skala 1:25.000, informasi yang ada di dalam peta ini cukup lengkap dan detil. Dalam kaitannya dengan data danau-danau yang ada di Bandung ketika itu, kita bisa bedakan dengan jelas, yang mana tubuh air, sehingga bisa kita digitasi dengan mudah.

contoh Tubuh Air yang ada di sekitar Cihampelas. Sekarang sudah diurug menjadi Apartemen Jardin
Contoh lain tubuh air di Leuwipanjang ke arah selatan, kita bisa lihat ada sangat banyak tubuh air, dengan yang paling luas adalah Situ Tarate di selatan Cibaduyut.

Kedua peta ini kemudian akan kita georeferensi. Cara menggeoreferensinya sama dengan cara menggeoreferensi Peta Geologi yang pernah saya bahas di tulisan saya yang lalu:

Setelah kita cek, ternyata peta ini menampal dengan sempurna di atas peta topografi Openstreetmap yang kita punya. Selanjutnya adalah mendigitasi poligon-poligon danaunya.

Setelah kita plot, ternyata sangat banyak danau yang hilang. Saya akan tunjukkan beberapa lokasi yang familiar:

Di sekitar Sekeloa, dekat Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unpad, kita lihat ada danau yang sekarang sudah hilang. Tak heran di sana ada danau, karena Seke berarti mata air. Maka besar kemungkinan, mata air itu begitu berlimpah hingga membentuk danau.
Situ Aksan di sekitar Pagarsih
Danau besar di antara Jalan Galot Subroto dengan Rel Kereta Api
Situ di sekitar Babakan Ciparay sekitar Jalan Caringin, antara Jalan Kopo dan Jalan Soekarno-Hatta

Serta banyak lagi tubuh air yang ada. Secara total, saya berhasil mendigitasi 73 tubuh air, dengan luas total 50.053 hektar. Sebagai perbandingan komplek Tegalega mulai dari Jalan Inggit Garnasih hingga ke BKR dan Jalan Otista hingga ke Jalan Moh Toha adalah sekitar 20 hektar. Maka luas danau di 2 lembar peta Bandung Nord dan Bandung Zuid pada tahun 1931 adalah 2.5 kali Komplek Tegalega.

Ada >15 danau yang memiliki luas lebih dari 1 hektar. Beberapa danau telah dinamai pada peta tersebut, antara lain Situ Aksan (2,57 ha), Situ Tarate (2,32 ha), Situ Hiang (1,84 ha), dan Situ Goenting (1,54 ha).

Danau paling besar berada di antara Jalan Gatot Subroto – Rel Kereta Api, yang kini sebagian ditempati oleh Trans Studio, luasnya mencapai 6,57 ha.

Danau-danau ini jika kita anggap memiliki kedalaman rata-rata 2 meter, maka seluruh tubuh air ini mampu menyimpan air sebanyak 1 juta meter kubik. Sebanyak itulah air yang harus kita carikan jalur parkirnya, jika kita mengurug seluruh danau, yang mana sudah kita lakukan sejak lama. Jumlah air sebanyak ini bisa mengisi 300 kolam standar olympic yang berukuran 50x25x3 m.

Keseluruhan peta ini kemudian saya buat dalam suatu webmap yang bisa diakses pada halaman berikut:

http://malikarrahiem.com/qgis2web/index.html#16/-6.9568/107.5947

Webmap ini juga bisa dibuka di website saya, di header > Peta.

Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi suplemen dari presentasi bernas Pak Bachtiar, hari senin nanti.

Salam sehat

Curug Jompong Setelah Diterowong

Sudah sangat lama ada rencana-rencana untuk memapas Curug Jompong. Alasannya adalah karena Curug Jompong dianggap sebagai penghambat aliran Ci Tarum, mengakibatkan aliran Ci Tarum melambat, kemudian mengakibatkan banjir di Bandung Selatan. Ide-ide pemapasan itu ekstrim. Ada ide pemapasan dengan bom, dipapas total, dipapas sebagian, dll. Meski kemudian ternyata pilihan yang lain yang dipilih, yaitu pembuatan terowongan menembus bukit di sebelah utara Curug Jompong. Terowongan ini sudah selesai, dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada bulan Januari 2020 lalu.

Pemindahan aliran Ci Tarum menuju terowongan Nanjung, mengakibatkan kita harus memikirkan ulang Curug Jompong sebagai sebuah curug. Meski batuannya masih ada, tapi tidak ada lagi air terjun. Tidak ada aliran masif Ci Tarum yang menerobos bebatuan keras, membentuk tingkatan-tingkatan jeram-jeram, yang melaluinya aliran Ci Tarum menderu keras. Tak ada lagi air terjun, melainkan tinggal lembah berbatu, dengan aliran sungai yang sangat kecil, setempat berbentuk kolam-kolam yang dibatasi oleh batuan-batuan masif raksasa.

Curug Jompong yang dulu selalu menderu akibat derasnya aliran Ci Tarum yang menghantam bebatuan keras yang menjadi dasarnya, kini menjadi lembah yang hening, dengan aliran yang tenang nyaris tak ada.

Jika saya mengikuti definisi Almarhum Pak Budi Brahmantyo tentang air terjun, maka menurut beliau air terjun didefinisikan sebagai aliran air yang jatuh dari suatu tinggian. Seberapa tinggi? Menurut Pak Budi, 2 meter. Menurut beliau, orang harus mendongak untuk melihat air terjun, maka tinggi air terjun harus lebih tinggi dari rata-rata orang normal, yaitu 2 meter. Sementara itu, jika kurang dari dua meter, maka kita bisa sebut sebagai jeram, atau rapids.

Modifikasi melalui pembangunan terowongan menyingkapkan bagian Curug Jompong yang telah begitu lama tergenang. Mengunjungi Curug Jompong sekarang seolah mengunjungi dunia yang lain. Dunia yang baru, yang belum pernah orang menyentuhnya selama ratusan ribu tahun karena selalu tergenang oleh derasnya aliran Ci Tarum.

Sebagai curug, riwayat Curug Jompong telah tiada. Kini ia menjadi lembah berbatu, dengan jenis keindahan yang berbeda. Seperti lembah terjal Ci Tarum yang berada di balik bendungan Saguling, yang kini menjadi dunia yang berbeda dibandingkan dengan pemahaman orang-orang sebelum 1985, sebelum bendungan Saguling beroperasi.

Curug Jompong Bulan Juni 2020

Meski begitu, saya menikmati kunjungan saya ke Curug Jompong pagi itu. Melompati bebatuan-bebatuan raksasa. Melihat kolam berwarna kehijauan yang menggoda diri untuk berenang, meski masih sangat tidak meyakinkan mengingat aliran Ci Tarum yang begitu keruh di hulunya. Kita bisa lihat juga bagian Curug Jompong yang begitu lama tak tersentuh orang, karena derasnya aliran Ci Tarum.

Dalam pikiran saya, mungkin kita harus memikirkan ulang branding yang tepat untuk Curug Jompong. Branding ini penting mengingat reputasi Curug Jompong yang sangat tidak baik beberapa tahun ke belakang ini. Aliran yang kotor, kabut air yang berbau kurang enak, sampah, dan lain sebagainya.

Mungkin Leuwi Jompong kata yang tepat. Leuwi dalam bahasa Sunda berarti Lubuk. Secara geografis berarti bagian terdalam dari sungai. Atau mungkin ada terminologi geografis lain yang lebih tepat, saya belum tahu. Dengan branding baru, kita bisa memulai cerita Curug Jompong dari lembaran baru pula, yang siap menyambut ribuan penikmat alam untuk berwisata.

Curug Jompong yang baru kini berpotensi menjadi lokasi wisata yang hebat. Lokasinya yang dekat dengan pusat kota, dengan panorama yang menawan, membuat tempat ini punya modal yang sangat besar. Belum lagi sejarah Curug Jompong yang sangat panjang, saya kira bisa membuat orang berlama-lama mampir menghabiskan waktunya di sekitar daerah ini. Begitu juga keberadaan Terowongan Nanjung membuat banyak yang bisa dilihat dan dijelaskan di titik ini.

Mengingat ini, saya teringat kalimat dari Reitsma, tentang jalur melewati Curug Jompong yang merupakan salah satu jalur paling indah di Pulau Jawa.

“…Dari Gadjah kemudian melewati jalan Soreang-Batujajar menyusuri Ci Tarum dan mengitari Gunung Paseban. Bentang alamnya sangat indah di sini, di kanan mengalir sungai yang jernih berkilau, di kiri kerucut indah Gunung Lalakon. Boleh dibilang jalur Soreang – Batujajar melalui Curug Jompong adalah salah satu jalur paling indah di Pulau Jawa. Terutama di musim penghujan, kala aliran sungai penuh bergemuruh, air berlompatan meloncati bebatuan, lalu berdebur gelombang saling berhantaman. Deru air membentuk kabut yang tersusun dari jutaan titik air yang membiaskan cahaya mentari membentuk pelangi dengan latar bebatuan berwarna gelap.” 

S. Reitsma – Gids van Bandoeng en Midden Priangan

Mungkin kita bisa menghidupkan Curug Jompong kembali. Bukan sebagai Curug, tapi sebagai Leuwi, atau entah apa namanya kita mendefinisikannya nanti. Tapi Curug Jompong punya peluang untuk berjaya kembali. Kembali menjadi salah satu tempat paling indah di Jawa. Yang orang datang, berwisata, dan kemudian membawa pengalaman yang gembira. Bahwa ia telah datang ke tempat yang indah, yang memberi kesan indah pada dirinya, lalu ia memberitahu teman-temannya. Lalu kelak menuliskan dalam catatan hidupnya, yang nanti akan menjadi catatan sejarah, bahwa Curug Jompong kembali indah.

Semoga.

GIF Curug Jompong sebelum dan setelah diterowong. Terowongan Nanjung dibuka pada akhir 2019 atau awal 2020. Perhatikan buih air curug yang hilang pada tahun 2020, berpindah ke mulut terowongan.

Foto Udara ITB 1933 dan Sekarang

Melanjutkan penemuan foto udara daerah Tegallega yang saya post kemarin, saya juga mendapatkan foto udara orthophoto daerah ITB dan sekitarnya. Kemudian foto ini saya georeferensi, lalu saya bandingkan kondisinya dengan kondisi sekarang. 

Gambar di atas adalah perbandingan foto udara ITB tahun 1933 dibandingkan dengan sekarang. Gambar ini diputar 44 derajat ke arah timur agar menyesuaikan sudut pengambilan gambar. ITB baru dibangun pada tahun 1920, sehingga pada masa itu bangunan belum sebanyak sekarang. 

Pada tahun 1933, hanya ada bangunan yang sekarang menjadi Aula Barat, Aula Timur, Gedung Prodi Teknik Sipil, Gedung Prodi Fisika, dan yang sekarang menjadi Gedung Seni Rupa dan Arsitektur. Penggunaannya ketika itu saya belum tahu, jurusan-jurusan apa yang sudah ada pun saya belum tahu. 

Di sebelah utara masih kosong melompong hamparan lega sampai ke jalan Tamansari sekarang. Begitu pun Sasana Budaya Ganesha belum ada juga karena baru dibangun pada tahun 1997. 

Di sebelah barat terlihat bentukan oval, kini menjadi Kebun Binatang Bandung. Saya belum tahu apakah daerah ini sudah menjadi kebun binatang atau belum, meskipun saya tahu bahwa KBB mulai didirikan tahun 1930. 

Di sebelah selatan, terdapat Taman Ganesha yang dulunya bernama Ijzerman Park sebagai penghargaan untuk Tuan Ijzerman yang berjasa dalam pembangunan ITB. Pepohonan di sekitar jalan Ganesha dan Gelap Nyawang belum ada. Masih berupa bibit-bibit kecil, sehingga pepoponan besar yang ada sekarang itu masih berumur kurang dari 100 tahun.  Begitu juga pepohonan di tepi Jalan Tamansari pun belum ada. 

Di sebelah timur Jalan Dago pun masih sepi. Perkomplekan elite daerah Jalan Imam Bonjol, Teuku Umar, dll masih berupa lahan kosong, bahkan masih berupa petak-petak kebun. 

Gambar di bawah merupakan perbandingan foto udara dengan peta openstreetmap. 

Begitulah bagaimana Bandung berkembang dari dulu hingga sekarang. Betapa banyak yang berubah, namun satu yang kita ketahui, bahwa dulu Bandung pernah gundul tak ada pepohonan. Belum terlambat untuk kita jika ingin memiliki pepohonan besar yang rimbun seperti di daerah Ganesha dan Tamansari sekarang. Mungkin puluhan tahun yang datang, maka tanaman kita akan rimbun, sebagaimana daerah ini sekarang.

Salam

Keterangan:
Foto udara berasal dari Tropenmuseum
Foto pada muka berasal dari Tropenmuseum
Foto citra satelit berasal dari Google Earth
Foto peta berasal dari OpenStreetMap

Foto Udara Tegallega 1933 dan Sekarang

Saya baru menemukan foto udara daerah Tegallega yang diambil sekitar tahun 1933-1940. Sumbernya dari http://collectie.wereldculturen.nl/. Judul fotonya Omgeving raceterrein Bandoeng. Tegallega-wijk yang berarti Area Balapan Bandung, lingkungan Tegallega.

Peta ini agak diputar sekitar 32 derajat ke arah barat untuk menyesuaikan pengambilan gambar dari udara. Di peta ini kita bisa lihat bagaimana kondisi Tegallega sekitar 80 tahun yang lalu. Lapangan Tegallega sendiri dulunya merupakan arena pacuan kuda. Pada masa itu, Lapangan Tegallega adalah batas paling selatan Kota Bandung. Jalan Mohamad Toha merupakan Jalan Raya Banjaran yang menghubungkan Bandung dengan Banjaran, sementara Jalan Oto Iskandar Dinata berada di sebelah baratnya.

Pada masa itu Lapangan Tegallega hanyalah lapangan kosong, dengan lajur pacuan kuda di tepiannya mengitari lapangan. Di bagian tengahnya kemungkinan besar hanyalah tanah kosong. Sementara sekarang, lapangan ini menjadi hutan kota, dengan kolam renang, dan monumen Bandung Lautan Api di tengah-tengahnya. Pedagang banyak tersebar di bagian barat Tegallega, sekaligus dekat dengan terminal.

Pada tahun 1933, sudah banyak pemukim di sekitar Tegallega, terutama di bagian utara Tegallega. Sementara di sebelah timur, yang kini menjadi daerah Sawahkurung (SMP 11, Jalan H. Samsudin) merupakan daerah persawahan yang belum banyak dihuni orang. Kini di area itu telah dipenuhi perumahan; Jalan Sawah Kurung, Jalan Kotabaru, Gang PLN hingga ke Jalan Pungkur.

Demikian, nostalgia kita akan Bandung Tempo Dulu. Yang indah dikenang, yang semoga bisa terulang. Semoga Bandung semakin dicintai oleh warganya, semakin nyaman ditinggali semua penduduknya.

Keterangan:
Gambar di muka merupakan gambar koleksi Wijnand Elbert Kerkhoff/Nederlands Fotomuseum yang dimuat di website AyoBandung. https://www.ayobandung.com/read/2017/02/09/16224/tegalega-riwayatmu-kini

Gambar pada slide komparasi merupakan gambar dari Tropenmuseum yang diakses dari http://collectie.wereldculturen.nl/. Sementara gambar dasarnya merupakan citra google earth yang diakses dari QGIS.

Kisah Mueller di Gunung Lumbung

Ini adalah cerita tentang seorang naturalis Jerman yang ditugaskan untuk meneliti di Hindia Belanda pada abad ke-19. Penelitian sains di Hindia Belanda pada abad ke-19 bermula pada tahun 1815, ketika Napoleon yang kala itu menguasai hampir seluruh Benua Eropa, takluk pada pertempuran yang dikenal dengan Pertempuran Waterloo. Konon salah satu penyebabnya adalah keganjilan musim akibat letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara beberapa bulan sebelumnya.

Kekalahan Napoleon, diiringi dengan Perjanjian Wina, membuat Kerajaan Belanda kembali merdeka. Berdaulat atas tanahnya sendiri, dan kembali berkuasa di tanah jajahan mereka, nun jauh di Hindia sana.

Kerajaan Belanda yang bangkrut dan defisit membutuhkan terobosan untuk mencari pemasukan. Raja William I, berpikir keras bagaimana cara mengeksploitasi tanah jajahan mereka. Ia kemudian membentuk Komisi Ilmu Alam Hindia Belanda Natuurkundige Commissie voor Nederlands-Indië, sebuah komisi beranggotakan ilmuwan, pelukis, dan penulis yang akan melakukan ekspedisi sains untuk memahami tanah jajahan, Hindia Belanda. Teranglah bahwa tujuan utama investasi pada sains tak lain hanyalah untuk maksud mengeksploitasi.

Komisi itu berdiri pada 1820 hingga dibubarkan pada 1850. Terlepas dari tujuan pendiriannya, selama 30 tahun berdiri, komisi ini menyumbangkan koleksi spesimen yang luar biasa berharga dengan laporan-laporan berkualitas tinggi, yang masih bisa kita manfaatkan hingga sekarang.

Salomon Mueller

Salah satu anggota dari Komisi Ilmu Alam Hindia Belanda adalah seorang Jerman bernama Salomon Mueller. Ia bertugas di Hindia Belanda selama 10 tahun (1826-1836). Ia adalah salah satu yang beruntung dapat selamat kembali ke negerinya, karena banyak dari anggota Komisi yang wafat kala menjalankan tugas penelitian di rimba Hindia Belanda yang ganas, yang membunuh begitu banyak orang Eropa yang mengembara ke sana.

Mueller mungkin tak seterkenal anggota Komisi yang lain, seperti Franz Junghuhn, si Humboldt dari Jawa, atau Carl Anton Schwaner yang namanya diabadikan menjadi nama pegunungan yang menjadi batas antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Meski begitu, Mueller meninggalkan jejak penting yang menarik untuk dibahas. Terutama bagi mereka yang tinggal di Cekungan Bandung. Mueller pernah berekspedisi ke Cekungan Bandung pada tahun 1833 dan laporannya sangat menarik untuk diikuti.

Dalam laporannya, Aanteekeningen Gehouden op Eene Reize Over Een Gedelte van het Eiland Java, atau Laporan Perjalanan ke Sebagian Pulau Jawa yang ditulis oleh Mueller dengan rekannya Pieter van Oort, seorang pelukis, Mueller berkisah tentang perjalanannya di Cekungan Bandung pada awal tahun 1833.

Ia memulai ceritanya di Leuwigajah pada tanggal 3 Januari 1833 dan menutup ceritanya di Banjaran pada tanggal 6 Maret 1833. Selama dua bulan, Mueller dan van Oort berkelana mengarungi tempat-tempat menarik di Cekungan Bandung, mulai dari Situ Lembang, Curug Cimahi, Cililin, Gunung Lumbung, Ciwidey, Banjaran, dan banyak tempat lainnya.

Sebagai seorang pelukis, van Oort menyertakan lukisan dan sketsa otentik dan luar biasa dari Cekungan Bandung pada kala itu. Kawah Ratu, Curug Cimahi, Situ Lembang, hingga sketsa-sketsa peninggalan arkeologi yang ada di Cekungan Bandung, seperti arca yang ditemukan di Ciwidey, lingga dan pecahan gerabah yang ditemukan di Gunung Lumbung, hingga patung sapi yang ditemukan di tepi Ci Tarum.

Lukisan Curug Penganten di Cimahi oleh Pieter van Oort

Dalam tulisan ini, saya akan membagikan cerita Mueller dan van Oort di Gunung Lumbung. Cerita ini sangat menarik karena menyebutkan salah satu pahlawan penting dalam sejarah orang Sunda, yaitu Dipati Ukur, yang mati akibat diperangi oleh Sultan Agung, raja Mataram kala itu. Cerita ini diterjemahkan dari catatan van Oort dan Mueller sehingga penulisannya menggunakan sudut pandang orang pertama. Berikut kisahnya:

Cililin, 17 Januari 1833

Pagi hari sekali, ditemani oleh tetua kampung, kami meninggalkan Cililin untuk menelusuri jejak penemuan artefak yang dilaporkan oleh penduduk lokal. Kami diberitahu bahwa ada artefak di Gunung Lumbung. Selain itu juga dilaporkan bahwa di sini merupakan tempat persembunyian dari Dalem Dipati Ukur. Seorang bangsawan Sunda yang pernah berperang melawan Sultan Agung.

Pagi itu kembali berkabut. Kami berkuda menuju barat daya dari Gunung Geger Pulus, melewati dataran yang indah dan subur di antara aliran-aliran sungai yang berkelok-kelok melewati bentang alam yang indah, yang dihuni kelompok-kelompok kecil masyarakat lokal. Sekitar 1.5 mil dari Cililin, kami harus menyeberangi Sungai Ciminyak yang dalam karena jembatan kayunya hanyut terbawa banjir bandang.

Kabut perlahan menghilang ketika kami sampai di seberang sungai, dan lembah subur Ci Minyak terhampar di hadapan kami. Sungai yang jernih yang menerobos lembah yang lebar memberi efek mencolok pada warna hijau sawah dan warna cerah dari pohon-pohon palem yang tumbuh di lereng dan punggungan. Teramati gunung-gunung, Salak Panden (Salak Pandan), Poetrie (Putri), dan Moenkal-Pajong (kini dikenal sebagai Mukapayung, namun nampaknya ini kekeliruan penerjemahan karena banyak daerah di Jawa Barat yang dimulai dengan kata Mungkal, catatan dari Pak T. Bachtiar), sebagian tertutup awan dan kabut, menjadi latar indah pemandangan ini.

Kami melewati daerah yang cukup kering kemudian menyusuri lagi Ci Minyak hingga sampai di kampung Tegal Ladja[1], yang jaraknya sekitar satu mil dari Cililin. Di sini kami meninggalkan kuda kami, dan melanjutkan dengan berjalan kaki ke Gunung Lumbung.

Semakin ke dalam, pemandangan menjadi semakin monoton. Lahan yang subur digantikan dengan dataran yang ditumbuhi alang-alang yang tinggi. Jalur ini mengarah ke timur menuju lahan padi yang tidak digarap warga di sekitar Gunung Putri dan Gunung Mukapayung. Di kiri kami berdiri tinggi Gunung Salak Pandan. Di antara pepohonan, tebing-tebing terjal yang terbentuk dari batuan trakhit. Di lembahnya, yang ditanami padi, bebatuan raksasa bertebaran. Di kaki Gunung Mukapayung, kami melewati sungai kecil Tjiebieton (Ci Bitung), yang tepi sungainya terdiri dari lapisan-lapisan horizontal hasil pelapukan batulempung. Kami kemudian menuju ke arah timur, menanjak ekstrim melalui lembah yang sempit yang mengarah ke tenggara. Lembah ini dibatasi oleh Gunung Putri dan Gunung Mukapayung di sebelah selatan, dan Gunung Salak Pandan di sebelah utaranya. Lembah ini ditumbuhi oleh pohon pinus dan semakin ke timur oleh palem.

Pemandangan Gunung Salak Pandan (terpotong di ujung kiri), Lembah Cibitung (kiri), Gunung Putri (tengah), Lembah Ciririp (kanan), dan Gunung Hanyewong (ujung kanan) Foto oleh Deni Sugandi

Setelah melewati sungai yang bertingkat-tingkat, sekitar satu mil jaraknya dari Tegal Ladja, hutan mulai terbuka, dan kami tiba di cekungan yang cukup lebar, di mana pada beberapa ketinggian ada beberapa pondokan yang kami pakai untuk beristirahat. Cekungan ini disebut dengan Liembang yang berarti danau atau singgasana, dengan ketinggian sekitar 4000 kaki di atas permukaan laut. Menurut penduduk lokal, biasanya tergenang air, dikelilingi oleh pegunungan Salak Pandan, Gedogan, dan Lumbung. Sebagian dari dataran ini ditutupi oleh hutan, sementara sebagian yang lain ditutupi alang-alang.

Dasar lembah ditanami padi, dengan sepuluh atau dua belas gubuk sebagai bangunan membentuk Desa Lembang. Penghuni desa ini berasal dari Tegal Ladja, namun berpindah untuk mendapatkan lebih banyak lahan untuk menanam padi, gula, dan memelihara kerbau.

Di siang hari kami mendaki Gunung Lumbung dengan lerengnya yang terjal berpohon jarang. Ketika kami sampai di puncak, kami menemukan beberapa teras persegi yang ditumbuhi rerumputan dan semak menutupi tanah yang luas. Puncak bagian tenggara dan barat daya dari Gunung Lumbung juga ditutupi rumput dan semak seperti itu.

Petak-petak teras ini kemungkinan besar merupakan sisa pemukiman dari Pahlawan Sunda, Dipati Ukur. Tetua lokal yang menemani kami bercerita tentang Dipati Ukur. Katanya, dulu ia mendengar Bupati Bandung bercerita:

“Pada masa ketika Sultan Agung[1] mendeklarasikan perang terhadap Belanda di Pulau Kokos[2](Sunda Kelapa), ia mengirim orang-orang terbaiknya. Dipati Ukur adalah salah satunya dan Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur mengumpulkan pasukan Sunda dan pergi berperang. Dipati Ukur kemudian mengumpulkan pasukannya dan bersiap menyerang orang kulit putih di Pulau Kokos (Sunda Kelapa). Belum jauh pasukannya pergi berperang, ia diberitahu oleh anak buahnya bahwa anak buah Sultan telah masuk ke kamar istrinya, berbuat tidak senonoh, memperkosa wanita-wanita yang ditinggalkan di kota.

Dipati Ukur marah, menolak pergi berperang dan kembali ke tempatnya, menemukan anak buah Sultan di kamar istrinya. Dipati Ukur membunuh mereka semua. Sultan Agung yang tidak tahu cerita sesungguhnya murka mendengar Dipati Ukur mundur. Tidak mau tahu ia kemudian mengirimkan pasukan yang besar untuk memburu Dipati Ukur. Dipati Ukur kemudian mundur dan membangun pertahanan di Gunung Lumbung.

Pasukan Sultan Agung yang menyerang ke gunung ini disergap oleh pasukan Dipati Ukur dengan menggelindingkan batu-batu raksasa dari gunung, mengakibatkan pasukan Sultan berguguran. Sadar tak bisa menangkap Dipati Ukur dengan kekerasan, Sultan Agung memutuskan memakai jalan lain yang curang. Ia menyuap teman dan saudara Dipati Ukur agar bersedia mengkhianatinya, yang mana cara ini berhasil. Dipati Ukur ditangkap oleh pasukan Sultan dan dibawa ke Mataram. Sultan Agung mengikatnya telanjang di alun-alun dan memerintahkan setiap orang yang lewat untuk mengiris tubuhnya hingga Dipati Ukur tewas tinggal tersisa kerangkanya saja. Kemudian jenazahnya dibuang. Sultan Agung berkata, “Negara ini (negaranya Dipati Ukur) telah binasa. Gunung Lumbung telah dihancurkan. Lelakinya telah dibunuh. Anak-anak dan perempuan ditangkap dan dibawa ke timur.”


  • [1] Sulthan Agung, yang juga dikenal dengan nama Raden Rensang, memerintah kerajaan Mataram dari 1616 hingga 1648, orang kulit putih berarti orang Belanda di sini dan pulau Kokos berarti Batavia. Perang yang dimaksud di sini adalah pada 1628-1629. Dalem Dipati Ukur menguasai sebagian dari Kabupaten Bandung saat itu dan sangat penting untuk Sultan Agung.
  • [2] Perlu dicatat bahwa Pulau Jawa dikenal oleh orang-orang pelaut di Kepulauan India dengan nama Pulau Kalapa, dan dalam tradisi lama dengan nama itu beberapa kali terjadi.

Kini ketika kami tiba Gunung Lumbung, kami menemukan pecahan pot, porselen Cina, dan gentong-gentong yang telah hancur. Seorang janda tua, memberi kami koin perunggu dan mangkok batu yang ditemukannya ketika menyiapkan lahan sawah. Kami menerimanya dan menggantinya dengan uang. Kemudian pemandu kami mengajak kami ke puncak gunung dan kami terkejut karena menemukan arca batu yang sudah sangat tua, entah apakah bisa dibilang sebagai patung apabila melihat bentuknya yang tidak beraturan sekarang.

Arca ini berada di bawah pohon Hoeni (Antidesma bunius). Arca ini dikelilingi oleh belasan batu kali yang tertutupi oleh daun merah pohon Hanjuang (Dracaena terminalis). Bentuk arca ini tidak jelas karena sudah melapuk hebat akibat oksidasi dan tetes air.

Dari depan kami menduga bentuknya adalah kepala burung, seperti burung merak jelas terlihat. Bentuk lainnya kurang jelas, dugaan kami adalah mata ketiga yang terletak di dahi dan melambangkan Dewa Siwa, sang mentari. Tinggi patung ini 0.65 meter, lebar 0.4 meter, dan tebalnya 0.25 meter. Bagian depan mengarah ke barat laut.

Kemudian terdapat juga batu panjang tipis berwarna kemerahan yang kami duga sebagai Lingga. Letaknya di timur laut dari arca. Tingginya 1.2 meter, lebar 0.28 meter, dan tebal 0.2 meter. Kami menemukan batang-batang kayu dan colokan bambu yang terbakar, yang kami duga sebagai sesembahan masyarakat lokal yang ingin mencari wangsit.

Kami meyakini ini bukan peninggalan dari Dipati Ukur karena bagaimanapun Dipati Ukur merupakan pengikut ajaran Muhammad.  Islam sudah masuk dua abad sebelum zaman Dipati Ukur. Mungkin ini berasal dari masa awal Islam di sini. Seorang penganut Hindu menyembunyikan diri di gunung ini. Patung ini berdiri di bawah pohon tua yang tinggi dan dikelilingi oleh batu-batu yang dibuat melingkar.

Penduduk setempat menyebutnya Artja (Arca) dan jika mereka mengunjungi Arca tersebut, mereka menyalakan dupa kemudian memohon kehendak-kehendak yang mereka inginkan.

Dari sini (dari Puncak Gunung Lumbung) pemandangan sangatlah indah. Kami bisa melihat puncak tinggi Pegunungan Selatan dan ke arah barat kami bisa lihat dataran Rongga yang berhutan lebat. Kami membayangkan Dipati Ukur ketika penyerangan oleh pasukan Sultan Agung, kesedihannya karena kekalahannya di Gunung Lumbung. Beranjak ke sore hari, kami kembali ke Cililin.

Sumber:
Aanteekeningen Gehouden op Eene Reize Over Een Gedeelte van het Eiland Java
Over Eenige Oudheden van Java en Sumatra door Dr. Sal Muller

Bandung Hareudang – Penelitian Suhu Permukaan Kota Bandung

Bandung yang dingin adalah sebuah kefanaan. Dalam buku-buku nostalgia, banyak dikisahkan cerita tentang Bandung yang dingin, adem, dan nyaman ditinggali. Bahkan ada sebuah memoar terkenal karya Us Tiarsa berjudul Basa Bandung Halimunan, atau jika diterjemahkan berarti Ketika Bandung Berkabut, menunjukkan betapa Bandung sebagai kota yang dingin dan bahkan sering berkabut saking dinginnya.

“Bandung dingin adalah fana, hareudang-lah yang nyata”

Hal inilah yang mendorong saya melakukan penelitian kecil sederhana. Yang sudah banyak dilakukan orang sebelumnya. Hanya sedikit saya modifikasi. Agar ada perbedaan. Ada kebaruan. Saya mencoba memetakan suhu permukaan di Kota Bandung. Memberi bukti, bahwa hareudang itu nyata.

Syahdan NASA (LAPAN-nya Amerika Serikat) dan USGS (Badan Geologi-nya Amerika Serikat) mengirimkan satelit ke atmosfir. Nama misinya Landsat. Mulai dari Landsat 1 tahun 1972, hingga sekarang sudah Landsat 8 sejak 2013, dan nanti Landsat 9 mungkin tahun 2020.

Dari langit satelit ini merekam respon permukaan bumi terhadap radiasi cahaya matahari. Hutan punya respon tersendiri. Kota juga punya. Begitu juga air, sawah, dan berbagai macam bentang alam lainnya.

Setiap 16 hari sekali Landsat 8 ini mengelilingi bumi. Satu titik di gambar yang direkam satelit ini mewakili 0.1 – 1 hektar lahan. Salah satu data yang bisa direkam adalah suhu di permukaan. Yang saya pakai untuk penelitian saya ini.

Selain satelit Landsat, sebenarnya masih banyak lagi satelit lain yang merekam temperatur. Tapi tidak saya pakai. Mungkin nanti. Jika ada waktu dan kesempatan di lain hari.

Citra satelit ini saya saring berdasarkan tutupan awan. Kalau ada awan, tidak ada data suhu permukaan. Yang terekam angka negatif. Sangat dingin karena suhu awan.

Dari tahun 2013 hingga sekarang total ada 125 citra satelit yang berhasil dikumpulkan oleh piranti Google Earth Engine (GEE). Piranti super powerful yang menurut saya harus dikuasai oleh ahli kebumian seperti di tulisan saya yang lalu.

Dengan memodifikasi naskah-naskah pemrograman Java yang tersedia di forum-forum developer GEE, saya membuat peta persebaran suhu permukaan tanah di Cekungan Bandung dan membuat diagram seri waktu suhu di tengah kota, di Baksil, dan di Tahura.

Hasilnya mudah diduga, bahwa suhu di tengah kota lebih tinggi. Kemudian suhu di Baksil, dan paling adem adalah suhu di Tahura.

Peta suhu permukaan tanah rata-rata Cekungan Bandung. Suhu rata-rata 20-22 C.
Peta suhu permukaan tanah rata-rata Kota Bandung dan sekitarnya. Suhu rata-rata 25-26 C.

Fenomena kota yang lebih panas dari daerah di sekitarnya dikenal dengan nama Urban heat island. Ini terjadi di seluruh daerah urban di dunia. Seiring dengan ancaman perubahan iklim akibat ulah manusia, akan semakin sering terjadi suhu ekstrim. Artinya musim panas semakin panas, musim dingin semakin dingin.

Di Kota Bandung, suhu rata-ratanya antara 25-26 C, sementara di Cekungan Bandung suhu rata-ratanya antara 20-22 C. Di titik di kota, suhu rata-ratanya 27.94 C. Di Baksil suhu rata-ratanya 22.57 C. Sementara di Tahura suhu rata-ratanya adalah 19.33 C.

Menurut penelitian dari Widya Ningrum (2018), suhu rata-rata Kota Bandung bertambah 1.3 C antara tahun 2005 hingga tahun 2016.

Penting bagi para perencana kota untuk merespon fenomena Pulau Panas Perkotaan ini agar panasnya Kota Bandung tidak sampai taraf mematikan. Pernah dengar cerita para lansia yang meninggal dunia karena musim panas yang tidak mampu ditahannya? Cerita itu nyata dan terjadi di banyak tempat di bumi kita ini.

Ada banyak penelitian juga yang menunjukkan bahwa orang-orang yang taraf ekonominya kurang, umumnya hidup di wilayah yang lebih panas. Akibatnya mereka lebih rentan terkena dampak fenomena ini.

Data suhu yang saya sajikan di tulisan ini hanyalah data dari satelit. Tingkat akurasinya tidak meyakinkan. Perlu lebih banyak sensor suhu dipasang di darat. Merekam data harian. Agar kita tahu bagaimana kota kita hidup. Bagaimana kota kita ini berdenyut.

Konon saya dengar ada pemasangan sensor suhu di kelurahan-kelurahan di Kota Bandung. Wah ini sangat menarik kalau datanya bisa dielaborasi. Digabungkan dan dianalisis bersama-sama. Lalu kita bisa tahu di mana kekurangan data. Biar kita bisa semakin pahami kota yang kita cintai ini.

Karena aksi itu harus bisa diukur tingkat keberhasilannya. Misal kita menanam sejuta pohon. Apakah itu berhasil atau tidak? Mana kita tahu jika tidak ada pembandingnya. Hanya perasaan saja. Contoh yang paling nyata misal pembuatan sejuta lubang biopori. Apakah itu ada pengukuran dampaknya? Saya kira tidak ada. Maka ya itu seolah gerakan asal saja.

Penelitian Pulau Panas Perkotaan ini masih bisa berkembang jauh lagi. Kita bisa bandingkan setiap kelurahan dan kepadatan penduduknya. Kita bisa bandingkan tingkat pendapatan dan jenis kegiatan dominan yang ada di wilayah tersebut. Kita bisa hitung jumlah ruang terbuka hijau dan membandingkan suhu rata-rata di daerah yang banyak dan sedikit ruang terbuka hijaunya. Dan masih banyak lagi kemungkinan penelitian-penelitian lainnya. Yang seru. Yang membuka mata kita akan fakta-fakta tentang kota yang kita cinta.

Dan Bandung bagiku bukan hanya
masalah wilayah belaka
Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan
yang bersamaku ketika sunyi

Pidi Baiq

PS: oh iya penelitian ini sedang saya tulis makalahnya untuk dimasukkan ke http://sinasinderaja.lapan.go.id/, konferensi tahunan yang diselenggarakan LAPAN (NASA-nya Indonesia). Nanti kalau sudah selesai, saya akan bagikan tautan makalah dan juga kode programnya.

Cekungan Bandung ala Lord of the Rings

Semester ini di TU Darmstadt saya dapat akses ke ArcGIS Pro. Wah ini piranti lunak yang sudah lama ingin saya coba, terutama sejak saya lihat artikel keren, judulnya Mapping with Style yang ditulis oleh John Nelson dari ESRI.

Di artikel ini, John Nelson memamerkan peta dunia yang digambarnya pakai gaya Lord of the Rings. Saya jadi kepengen dong!

Nah karena itu, saya kemudian ngulik dan sekarang berhasil membuat peta Cekungan Bandung bergaya Lord of the Rings. Cara buatnya saya ikutin artikelnya John Nelson, bisa dibaca sendiri.

Saya sedang gandrung dengan kartografi dan mungkin akan mencoba mengasah kemampuan saya di bidang ini agar bisa menghasilkan peta yang enak dilihat dan mudah dimengerti. Harapan saya agar bisa membuat peta yang tak lekang dimakan waktu, seperti peta-peta karya Junghuhn, atau peta zaman dulu, yang entah kenapa sangat informatif dan enak dibaca, padahal bikinnya manual dilukis tangan.

Mohon jika ingin menggunakan peta ini agar mencantumkan tauntan langsung ke blog saya.

Orang Pertama yang Melaporkan Kawah Patuha (?)

Waktu saya kecil dulu, dalam perjalanan kami ke Cimanggu untuk berendam air panas, ayah saya sering bercerita tentang orang pertama yang menemukan Kawah Putih. Ia adalah orang Eropa. Konon kata ayah, orang itu merasa penasaran kala melihat dari kejauhan, tepatnya dari Kota Ciwidey sekarang, bahwa burung-burung tak pernah terbang di atas Gunung Patuha. Ada pun jika burung terbang di atas Patuha, maka segera ia akan mati, menukik jatuh, seolah pesawat yang rusak mesinnya. Di Ciwidey kala itu, masyarakat mencoba menerangkan fenomena ini dari kacamata mistis, tentang makhluk-makhluk penunggu gunung yang enggan diganggu, bahkan oleh burung sekali pun.

Sebagai seorang Eropa yang menolak perkara mistis, tentu si petualang itu menolak percaya mitos. Ia ingin membuktikan sendiri dan merancang sebuah ekspedisi mendaki Gunung Patuha. Ratusan kuli dikerahkannya untuk menemani perjalanannya mendaki. Orang Eropa itu bernama Franz Junghuhn, si Humboldt dari Jawa, yang masyhur karena penelitiannya pada abad ke 19, membuka tabir Pulau Jawa dari kacamata sains modern.

Cerita ini diteruskan turun temurun dari mulut ke mulut. Tak bisa kita telusuri siapa orang pertama yang menceritakannya, siapa yang pertama bilang Junghuhn adalah orangnya yang pertama ke sana, atau pertama kali melaporkan keberadaan Kawah Putih yang megah. Karena ayah saya juga mendapat cerita ini dari entah siapa, maka ia pun tidak bisa mempertanggungjawabkan cerita ini. Tidak ada sumber yang pasti, selalu desas-desus, selalu konon, selalu kabar angin. Hingga suatu hari saya menemukan nama dan tanggal yang lebih pasti.

Yang sudah bisa saya pastikan adalah bahwa bukan Franz Junghuhn orang pertama yang datang ke Kawah Putih. Franz Junghuhn datang ke Kawah Putih dalam perjalanan penelitiannya di Pulau Jawa pada 1837. Junghuhn kala itu bekerja di bawah supervisi dari peneliti Jerman bernama Ernst Albert Fritze yang merupakan Kepala Dinas Kesehatan Hindia Belanda kala itu.

Pada tanggal 11 Juli – 23 Agustus 1837, Junghuhn bersama Fritze berkelana di rimba hutan Jawa Barat. Ia mendatangi Situ Patengan, Gunung Patuha, Gunung Tangkuban Perahu, Guntur, Papandayan, Galunggung, dan Ciremai. Catatan perjalanan Junghuhn di Pulau Jawa dibukukannya dalam Topographische und naturwissenschaftliche Reise durch Java yang diterbitkan pada tahun 1838.

Dalam magnum opusnya: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart  volume kedua yang diterbitkan pada tahun 1857 di Leipzig, Junghuhn menuliskan orang-orang yang lebih dahulu melaporkan tentang Kawah Gunung Patuha.

Pada tahun 1787, seorang ahli Botani dari Spanyol bernama Francisco Noronha mengunjungi Kawah Putih. Noronha terkenal memberikan jasa yang luar biasa besar bagi pembuatan katalog tanaman di Jawa. Kemudian pada tahun 1804, seorang naturalis dari Amerika Dr. Thomas Horsfield juga mengunjungi Kawah Putih.

Setelah Horsfield, pada tahun 1819 giliran Professor Caspar Georg Carl Reinwardt, seorang naturalis kelahiran Prusia berkebangsaan Belanda yang mengunjungi Kawah Putih. Menurut Junghuhn, Reinwardt melaporkan ketinggian Kawah Putih pada 6950 kaki, sementara menurut pengukuran Junghuhn, ketinggian Kawah Putih berada pada elevasi 6685 kaki. Reinwardt adalah salah satu perintis Kebun Raya Bogor. Reinwardt memberikan apresiasi untuk Noronha dengan memberi nama satu spesies tanaman, yaitu Pohon Puspa Schima noronhae.

Empat tahun sebelum ekspedisi Junghuhn, pada tahun 1833, dua orang peneliti dari Natuurkundige Commissie voor Nederlands-Indië, Salomon Müller dan Pieter van Oort juga melakukan kunjungan ke Kawah Putih. Müller adalah seorang naturalis dari Jerman, sementara van Oort adalah seorang pelukis dari Belanda. Mereka melakukan perjalanan ke Jawa Barat dan melaporkan perjalanannya pada komite. Perjalanan dimulai pada awal Januari 1833 dari Situ Lembang menyusuri Ci Mahi hingga ke Cililin, kemudian ke Gunung Lumbung untuk melihat peninggalan Dipati Ukur, selanjutnya mereka menyusuri Pegunungan Tumpak Royong, yang kini dikenal sebagai Gunung Padang Ciwidey hingga akhirnya sampai di Ciwidey yang kala itu termasuk dalam Distrik Cisondari. Perjalanan berakhir di Banjaran pada 10 Maret 1833.

Lukisan Kawah Putih oleh Pieter van Oort. Sumber 

Di Ciwidey, Müller dan van Oort menyusuri kebun kopi yang subur yang merupakan produk dari periode Tanam Paksa yang di kawasan Priangan telah dilaksanakan sejak abad ke-18 (Preangersteelsel), dan dilanjutkan kembali sejak 1830 melalui Cultuurnstelsel. Mereka akhirnya sampai di Kawah Gunung Patuha dan melihat pemandangan indah Kawah Putih. Van Oort membuat sketsa yang indah dari kawah ini.

Kini hampir dua ratus tahun atau lebih sejak Reinwardt berkunjung ke Kawah Putih. Hampir 250 tahun sejak Noronha menjejakkan kaki di sana. Tempat ini kini ramai hiruk pikuk tak karuan. Orang-orang datang tanpa henti, tapi banyak yang kembali tanpa membawa apa-apa selain rasa senang sudah bepergian, atau stroberi yang ditanam warga di lereng-lereng Ci Sondari. Memang bukan urusan hidup dan mati siapa yang pertama datang, atau siapa pernah melakukan apa. Juga bukan suatu keharusan orang harus tahu tentang Junghuhn, Mueller, van Oort, Reinwardt, dan seterusnya. Tapi seperti Soekarno selalu bilang, “jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah“. Atau seperti kata Kuntowijoyo “Dengan sejarah, kita belajar jatuh cinta.” 

Dan memang setelah kita mengetahui sejarah panjang Kawah Patuha, semakin pula kita mencintainya.

Lukisan Kawah Putih Gunung Patuha oleh Franz Junghuhn. Sumber https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Junghuhn_See_Kawah_Patua_auf_Java.jpg

catatan: Sejauh ini saya belum dapat catatan orang yang lebih dulu melaporkan Kawah Patuha sebelum Noronha. Boleh jadi ada yang lebih dulu. Mohon infonya bila ada di antara pembaca yang budiman mengetahui. Karena saya bukan ahli sejarah, hanya orang yang menggemari sejarah.