Kerinduan Junghuhn Pada Alam Jawa

Dalam buku Drie en Dertig Jaren op Java (33 Tahun di Jawa), Dr. C.W. Wormser sebagai pembuka bukunya, mengutip pernyataan dari Franz Junghuhn mengenai kerinduan Junghuhn pada Pulau Jawa. Ketika itu Junghuhn sedang berada di Belanda, memulihkan dirinya setelah selama 12 tahun bergulat dalam belantara Hindia.

Aku sangat ingat hutan di sana yang berhias warna hijau yang abadi, ribuan bunga dengan semerbak wangi yang tak pernah pudar. Dalam pikiranku terdengar angin laut yang berdesir melewati rerimbun pohon pisang dan pucuk pohon kelapa. Aku dengar gemuruh air terjun yang berundak turun dari dinding gunung tinggi di pedalaman negeri. Seolah-olah aku sedang menghirup udara pagi yang dingin. Seolah aku sedang melangkah di depan pondok orang Jawa yang ramah. Keheningan yang sunyi dari hutan belantara mengepungku dari segala sisi. Tinggi di langit di atasku terlihat kepakan kelelawar yang berkerumun, beterbangan kembali ke tempat mereka pulang di siang hari. Perlahan kehidupan bergerak semakin dalam ke hutan. Burung merak berteriak berlomba saling pamer suara. Monyet-monyet melanjutkan permainan mereka dan teriakannya menggema dalam sunyi hutan pegunungan, seolah membangunkan hutan dengan nyanyian paginya. Ribuan burung benyanyi merdu. Bahkan sebelum matahari menampakkan warnanya di timur langit, puncak-puncak gunung telah menyala keemasan. Dari ketinggiannya yang agung, mereka seolah melihatku sebagai seorang kawan lama. Betapa rindu dan membuncah keinginanku untuk mendaki, hingga pada hari nanti di mana aku bisa bilang, Salam padamu, Wahai Gunung-Gunung!

Franz Junghuhn,
Leiden, November 1851

Perjalanan Junghuhn dari Bogor ke Bandung Tahun 1844

Diterjemahkan oleh Muhammad Malik Ar Rahiem dari Buku Reizen Door Java, voornamelijk door Het Oostelijk Gedeelte van dit Eiland oleh Franz Wilhelm Junghuhn, yang diterbitkan tahun 1850 di Leiden.

Cianjur, 7 Agustus 1844

“Salam dariku, gunungku dengan puncak yang bercahaya merah,
Salam dariku, matahari yang menyinarinya!”

Schiller: Spaziergang

Sebelum Mentari pagi menembakkan sinar keemasannya dari balik Pegunungan Megamendung, 6 ekor kuda bergerak keluar dari stasiun Wangun (di atas Buitenzorg). Kuda-kuda itu menarik kereta kuda empat roda yang aku naiki, bergerak dengan berirama. Tak lama kemudian tiga puncak gunung di sekitar Buitenzorg (Salak, Gajak, dan Ciapus), tersinari terang cahaya surya pagi, sementara di bagian barat daya menuju Gede (Cikopo dan Cisarua), serta daerah hingga kaki Gunung Salak masih tertutup oleh bayang-bayang pegunungan Megamendung.

Gunung Salak. F. Junghuhn: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart. 2. Band

Aku memandangi puncak ini dengan seksama. Puncak yang telah didaki oleh begitu banyak naturalis anggota Naturkommisie sejak 1812, sementara itu 50 gunung lainnya di Jawa, hingga kini masih belum diinjak oleh para naturalis.

Udara pagi yang menyegarkan membangkitkan gairah berpetualang dalam diriku. Sementara keindahan dan kemegahan pepohonan dan tetanaman menakjubkanku. Di sini pepohonan masih tersembunyi dalam bayang-bayang hutan yang gelap. Di tempat lain aku lihat beberapa pucuk pohon palem yang sudah berkilauan diterpa sinar Mentari. Suasana ini sangatlah puitis, menghidupkan pikiranku, yang begitu mudah tergoda oleh kesan dari luar, dan membuat hidup dipenuhi kebahagiaan.

Meski demikian, tak ada hal lain yang lebih memancing rasa antusias selain dari kereta di Jawa, yang ditarik oleh Kuda Jawa, dan dikemudikan oleh kusir Jawa. Dari luar roda berdetak dan kuda-kuda mendengus. Dari depan terdengar tepukan keras dari kusir, dan dari belakangnya, tiga orang berteriak, seolah pertunjukan suara tanpa henti, ayoo – oh – ayoo – brr – hui – bur,bur! Tentu tidak dengan gaya Jenny Lind, tepi tetap menyentuh hati, sekaligus memekakkan telinga.

Di Pondok Gede, matahari mulai naik dan menyinari tanaman dari Afrika, yaitu perkebunan Conchineal-Cactus yang berada di satu sisi dari hutan pedesaan yang indah, yang juga muncul berkelompok dengan subur di sisi yang lainnya. Aku sudah tinggal selama 10 tahun di Jawa, tapi tetap saja terpana melihat kubah indah pohon Rambutan (Nephelium lappaceum), Mangga, dan banyak pohon-pohon buah lainnya, atau dedaunan Parkia biglobosa yang halus, bersirip, dan lembut menyebar, serta puncak pohon kelapa dan pinang. Ada kegembiraan yang membuncah, sebagaimana saat pertama kali aku melihatnya.

Kekuatan kebiasaan menumpulkan semua kesenangan. Kita baru bisa memahami keindahan alam melalui perubahan yang kontras, perubahan, dan pergantian yang signifikan. Hal itu harus menjadi rangsangan yang menjaga kerentanan pikiran kita, agar terus-menerus segar dan merasa hidup. Pada akhirnya, seseorang sangat merindukan bentuk-bentuk yang lebih solid, sebagaimana yang ditunjukkan alam kepada kita di utara: pemandangan padang rumput yang monoton, rumpun pohon ek yang tumbuh rendah, atau kebun ceri.

Untuk itu, maka jayalah terus industri mesin yang menjadikan perjalanan menjadi mudah, yang menjadikan perjalanan kereta kuda menjadi begitu nyaman. Semoga Tuhan menguatkan keretaku, terutama membuat as roda bertahan setidaknya sampai aku mencapai Jawa Tengah.

“Agar kita bisa berpencar padanya,
Itulah satu-satunya alasan dunia ini begitu besar”

Segera ketika sore tiba, sang kusir melihat kereta kudaku dengan tatapan keheranan. Ia mengingat perjalanan sebelumnya ke Cianjur, di mana ketika itu ia menjatuhkanku dari kereta hingga dua kali. Aku merasa cukup gembira untuk bertemu kenalan lama. Aku berjanji jika nanti bertemu lagi aku akan memberinya dua gulden, alih-alih satu gulden seperti harga biasa.

Di jalan menuju Megamendung (ketinggian 4620 kaki), aku terkagum dengan fakta bahwa pembangunan terjadi sangat cepat di sini dan populasi meningkat dengan cepat. Hal ini tidak mungkin terjadi tanpa peningkatan kesejahteraan masyarakat secara simultan. Beberapa tahun yang lalu, di tempat ini semua masih tertutup oleh hutan dan merupakan habitat badak. Sekarang banyak keluarga yang telah menetap di sana, dan sebuah warung yang dibangun dengan baik, menawarkan makanan, kopi, dan kue-kue untuk para pelancong. Warung ini berada di titik tertinggi jalan yang dibangun.

Di sini terlihat bahwa pembangunan jalan yang baik memiliki dampak yang kuat terhadap perluasan budidaya di suatu negara. Orang Jawa senang mengikuti jalan dan bermukim di sekitarnya. Oleh karena itu, pembentukan koloni baru, jika diperlukan, dapat dengan mudah diarahkan dengan membangun jalan menuju titik-titik tertentu. Aku tidak akan menjelaskan mengenai kondisi jalanan di Megamendoeng, yaitu jalan tertinggi yang bisa dilalui kendaraan di Jawa. Lintasan tertinggi yang bisa dilalui dengan menunggang kuda adalah lintasan di atas Pegunungan Dieng, dari Pekalongan melewati Batoer ke Wonosobo (titik tertinggi sekitar 6500 kaki). Kemudian jalur yang melewati Pegunungan Tengger, dari Tosari ke Wonosari, dan dari Kebo glaga ke Ledok-ombo. Lintasan terakhir mencapai 7800 kaki di titik tertingginya.

Di ngarai lembah di seberang celah, di antara bebatuan vulkanik, sungai Ci Kundul mengalir ke hilir. Sungai ini memisahkan Megamendoeng (sebagai rantai dari punggungan Pangrango) dari kaki Gede yang tinggi dan rata. Di atasnya, lebih jauh ke selatan, terletaklah Cipanas. Di tepi Ci Kundul, sedikit di bawah dekat jembatan, orang dapat melihat dinding vertikal berwarna abu-abu, cukup halus dengan tinggi sekitar 40 kaki. Dinding ini hanya terdiri atas satu lapisan abu vulkanik yang mengeras (orang Sunda menyebutnya Wadas). Abu ini jarang ditemukan di sekitar Gede, tapi di celah yang sempit ini mungkin merupakan tempat yang sangat tepat untuk berakumulasi, dan mungkin tersapu (pada erupsi sebelumnya) dengan aliran dari Ci Kundul, sebagai suatu aliran lumpur.

Peta Gunung Gede-Pangrango dan Sungai Ci Kundul. F. Junghuhn: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart. 2. Band

Gunung-gunung di daerah ini memiliki nama yang spesial (Gunung Peser, Gunung Rasamala, Gunung Tjipanas, dll). Pegunungannya sendiri, jika dilihat dari kacamata geologi, terbentuk sekaligus dalam satu kesatuan, dan terdiri atas deretan bukit-bukit yang tersambung, di mana dasarnya adalah aliran lava yang berasal dari Gede.

Kami akhirnya tiba di Cianjur pukul 5.30 sore.

Bandung, 9 Agustus 1844

Pada pagi hari di tanggal 8, kami mulai bertolak ke arah timur. Dataran Cianjur terletak di kaki kerucut Gunung Gede, berupa hamparan yang luas, miring menurun menjauh dari pusat gunung berapi. Daerah sebelah selatan Cianjur menurun ke arah tenggara, menuju kaki dari Perbukitan Djampang (Kendeng). Sementara daerah di sebelah timur Cianjur, di mana Jalan Raya Pos berada, merupakan dataran dengan kemiringan landai ke arah timur, menuju lembah Ci Sokan. Sungai ini berhulu di Pegunungan Kendeng, jauh di selatan, dan mengalir menuju utara.

Beda elevasi dari dataran Cianjur ke dasar Ci Sokan adalah 584 kaki (Cianjur 1450 kaki, Ci Sokan 866 kaki), dengan jarak 8 menit geografis (sekitar 2 mil geografis). Dataran ini sangat cocok untuk budidaya padi, dan kita lihat di sini sawah-sawah yang luas memenuhi lereng-lereng Gunung Gede, membentuk teras-teras hijau, yang basah oleh air, yang di antaranya ditumbuhi oleh pohon-pohon buah, yang seolah menjadi titik-titik berwarna hijau gelap, di antara hamparan padi hijau yang memanjakan mata. Siapapun yang telah terbiasa dengan pemandangan Eropa, mungkin tak menyangka ini adalah Jawa. Hamparan hijau pesawahan, yang di kiri-kanannya pohon-pohon buah-buahan, dengan pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang. Masyarakat yang tinggal di sini adalah orang-orang yang penuh syukur, yang tinggal di pondok-pondok bambu sederhana.

Dataran yang berupa kaki gunung yang luas dan turun ke arah yang berbeda, dengan kemiringan yang rata sempurna, jarang ditemukan di Jawa. Biasanya lereng yang lebih rendah dari gunungapi bergabung dengan lereng gunungapi lainnya dan membentuk teras. Di beberapa gunungapi, kaki gunung menerus terus sampai ke pantai, seperti teramati di kaki selatan Merapi. Dataran Jogjakarta yang terbentuk dengan geomorfologi ini, meski 2/3 lebih rendah dari dataran Cianjur, bisa menjadi pembanding yang baik.

Di sisi kanan Ci Sokan, morfologi kembali menjadi dataran. Tren menurun ke arah timur telah berakhir, memasuki medan datar yang bergelombang, dengan elevasi merata antara 850-870 kaki sejauh 6 pal ke arah timur, hingga ke Ci Tarum, kemudian ke Dataran Rajamandala, lalu menerus hingga ke batas pegunungan batugamping Mesigit, yang menjadi batas sebelah barat dari Dataran Tinggi Bandung. Di Bandung, elevasi meningkat dua kali lipat lebih tinggi.

Ci Sokan dan Ci Tarum mengalir hampir sejajar satu sama lain. Keduanya mengalir dari selatan ke utara, dan kemudian bergabung pada jarak beberapa pal ke arah utara Jalan Raya Pos. Kedua sungai ini menggerus begitu dalam, membentuk ngarai sedalam hingga 150-250 kaki, dengan lebar dua kali lipat kedalamannya. Tepi-tepiannya terjal, dengan dinding curam menurun secara tegak lurus. Saluran di atasnya jatuh menderu ke bawah. Sampai kedalaman yang sama dengan kedalaman ngarai-ngarai ini, daratan di antara lembah (juga dataran Cianjur dan Rajamandala) hanya terdiri dari puing-puing vulanik, yaitu bongkah dan konglomerat dari berbagai ukuran, yang menumpuk di sini setebal beberapa ratus kaki. Mencirikan suatu lembahan luas antara Cianjur dan Pegunungan Batugamping Rajamandala, sebelum menjadi morfologi seperti sekarang.

Kedalaman dasar Ci Sokan berdasarkan observasi barometer adalah 150 kaki, sementara Ci Tarum 255 kaki. Dasar dari kedua ngarai ini masihlah puing-puing batuan vulkanik, sehingga kita tak bisa tahu dengan pasti seberapa tebal lapisan ini, juga lapisan apa yang melandasinya. Kita mungkin tahu informasi ini jika menyusuri ngarai ini jauh ke hilir. Kita tidak tahu pula bahan penyusun lapisan ini berasal dari mana. Apakah dari Burangrang? Apakah dari Gede? Ataukah dari Patuha? Yang kemudian terlimpas jauh hingga ke sini karena dorongan erupsi gunungapi. Kemudian berapa lama kemudian waktu yang dibutuhkan untuk terbentuknya lapisan koral Mesigit, yang kini membumbung tinggi hingga elevasi 2500 kaki. Sulit untuk membayangkannya jika membandingkan dengan sifat alam dari material rombakan gunungapi. Kebanyakan terdiri atas trakhit dengan kristal hornblende yang besar, lalu kristal feldspar yang bersifat gelas tersebar acak di sana, dengan masa dasar feldspar. Lebih jauh lagi, batuan ini biasanya didominasi oleh hornblende, sampai suatu titik bisa kita sebut sebagai batuan hornblende, yang porous, dan sesekali bisa kita lihat gelembung udara besar dan kecil.

Ci Sokan di titik ini telah menggerus lapisan, membentuk ngarai yang dalam, dan menghempaskan begitu banyak pecahan-pecahan dinding yang terakumulasi di dasar sungai. Lokasi pecahan-pecahan yang seolah membentuk pulau ini tertutup oleh lapisan tanah, dengan ketebalan sekitar 5 kaki. Di tepi-tepi teras Ci Tarum (atau setidaknya di mana itu berpapasan dengan jalan), bongkah-bongkah yang besar telah hilang, dan digantikan oleh lapisan tebal debu-pasir volkanik yang berwarna abu kekuningan dan memiliki karakteristik khusus. Di banyak tempat, pasir-pasir ini sudah terlapuk dan berubah menjadi lempung.  

Di banyak tempat, lapisan pasir atau debu ini berselingan dengan lapisan batuan membundar yang terdiri atas trakhit, dengan ketebalannya secara bergantian 5 hingga 10 kaki. Namun, di dataran Rajamandala, di sisi kanan Tji Tarum, terdapat bukaan jalan dengan ketinggian hingga 50 kaki. Di sini hanya tampak tanah lempung yang gembur, yang tampaknya dibentuk oleh dekomposisi batuan konglomerat yang aku sebut sebelumnya.

Pemandangan perbukitan kapur dari Jembatan Citarum Rajamandala

Lembah Ci Sokan dan Ci Tarum adalah satu-satunya lembah di Jawa yang serupa dengan lembah dataran tinggi Sumatera, seperti di Batang Agam (di Padang), atau lembah di Toba di Tanah Batak. Semua sungai-sungai di lembah ini terbentuk di atas lapisan konglomerat. Sebagai contoh Sungai Agam menyayat batuan apung sedalam hingga 500 kaki, seolah memotong dataran tinggi ini. Badan air Ci Tarum kira-kira sepertiga lebih besar daripada Ci Sokan, ini karena sungai ini sebelumnya menampung seluruh aliran air dari dataran tinggi Bandung. Warna aliran ini hampir selalu keruh karena sedimen yang dibawanya. Sedimen coklat ini membentuk kontras yang tajam dengan air jernih dari TJi Bodas yang lebih kecil, yang mengalir dari mata air.

Mungkin karena sulitnya mencari air, karena lokasi aliran sungai yang begitu jauh di bawah permukaan, maka daerah antara Ci Sokan dan Ci Tarum adalah suatu kawasan liar yang tak berpenghuni, dengan pepohonan yang rendah, namun alang-alang yang begitu tinggi. Spesies alang-alang dan gelagah (Imperata alang, Sorghum tropicum, Imperata glaga) menjadi tutupan lahan yang utama di sini. Di antara rerumputan ini, ada spesies Bambu, Emblica officinalis Gartn, Semak Melastoma malabatricum, dan di sana-sini beberapa Colberta obovate yang tersebar, kadang membentuk rumpun kecil seperti di taman. Tapi jarang ditemukan Ficus dan jenis pepohonan lainnya. Relung liar yang berumput dan semak belukar yang tebal ini sangat kontras dengan hutan tinggi yang teduh dan lembab yang ditemukan di sekitarnya. Lebih mudah untuk melewati hutan belantara yang tinggi dan gelap daripada melewati hutan semak yang sangat panas, dan terlebih lagi merupakan tempat favorit rusa, babi, dan harimau.

Lambatnya perjalanan kami terutama karena penyeberangan di kedua sungai. Hanya salah satu di antaranya, yaitu Ci Sokan yang memiliki jembatan yang terbuat dari balok kayu. Gerak kereta begitu lambat karena kerbau-kerbau yang begitu kepayahan menarik kereta melewati jalan yang curam. Dari pos Rajamandala, di tepi kanan Ci Tarum, kami berkuda. Kereta kami ditarik oleh 6 ekor kuda yang bergerak dengan cepat melewati dataran indah Rajamandala. Perjalanan menanjak, sesekali saja menurun. Di sana sini aku lihat tanaman nila, di sisi lain ditanami teh. Hingga akhirnya kami tiba di perbatasan dataran tinggi Bandung, yaitu suatu pegunungan kapur.

Kami bertemu dengan penyambut kami yang sabar, dengan penampakan yang bodoh dan tidak peka (maksudku adalah si kerbau). Kerbau-kerbau ini menarik kami perlahan tapi pasti menuju tujuan. Sepanjang jalan yang perlahan ini, kami punya banyak waktu untuk mengamati situasi pegunungan batukapur, dan bisa melihat beberapa lapisan fosil koral, di mana banyak terlihat bekas-bekas kerang-kerangan. Koral-koral ini terletak di kaki gunung Ciguntur, di sekitar Ci Bogo, tak seberapa jauh dari stasiun Cisitu dan di sebelah timur dari menara gunung kapur Kentjana. Puncak batukapur Kentjana, Mesigit, dan Karang menjulang indah ke kiri, di sebelah utara jalan. Warna putih kapur ini bersinar kontras melalui hijau hutan di sekitarnya. Lebih jauh ke depan, di sebelah selatan jalan, berdiri tegak puncak keempa, sebuah batugamping yang tandus, Gunung Hawu, yang seolah-olah hanya potongan-potongan berbentuk dadu yang ditumpuk satu sama lain. Kaki gunung ini merupakan titik tertinggi dari jalan ini, yaitu pada ketinggian 2.567 kaki. Dari sini jalanan stabil melandai sampai ke dataran Bandung.

Gunung Masigit di Padalarang dilihat dari Puncak Pasir Pawon

Dataran ini semakin luas di hadapan mata para pengembara. Gunung-gunung di hadapan mata bersinar memukau. Puncak-puncak gunung api tersambung satu sama lain, terpandang jelas menembus sanubari. Bening air di danau seolah cermin. Danau buatan yang dibuat dengan membangun bendungan, dan terletak di sebelah kiri jalan. Lahan padi yang ditanam dengan baik disela oleh rumah dan desa-desa, menjadi penyambut para pengelana.

Tanpa menunggu lama, tentu aku merekomendasikan dataran tinggi yang cantik ini. Paling luas di Jawa, pada ketinggian ini (secara umum di Karesidenan Priangan, tipe bentangalamnya seperti di Sumatera, berbeda dengan di Jawa pada umumnya yang berupa dataran rendah dengan gunung-gunung terisolasi). Kepada seluruh petualang, kalian akan menemukan banyak bahan-bahan untuk pertimbangan ilmu pengetahuan, baik meteorologi, botani, dan geologi.

Pada jam 2 siang, aku tiba di Bandung yang telah cukup padat populasinya, meskipun tetap tenang dan menyenangkan. Aku menyiapkan beberapa persiapan untuk melanjutkan perjalanan aku ke beberapa tempat di Priangan, sebelum berangkan ke Jawa Timur. Ah, Gunung Guntur, tak sabar untuk aku datangi lagi. Mr. Nagel (Asisten Residen Bandung) dan Jenderal Cleerens (Residen Priangan) memberikan aku dukungan yang sangat berharga. Jenderal Cleerens bahkan memberikan aku surat pengantar untuk menghadap Residen lainnya.

Junghuhn Seorang Geologist

Dalam pengetahuan komunal masyarakat Indonesia, Junghuhn dikenal sebagai orang yang membuat grafik lokasi ideal tumbuh kembang tanaman berdasarkan elevasi ketinggian. Pengetahuan ini tersebar, karena dimuat dalam pelajaran geografi ketika SD dan SMP. Setidaknya begitu belasan tahun lalu, ketika saya masih sekolah dasar dan sekolah menengah dulu.

Ketika masuk dalam pelajaran sejarah, nama Junghuhn kembali mengemuka mengingat jasanya dalam budidaya kina. Junghuhn dikenang sebagai perintis budidaya kina di Indonesia, hingga pada awal abad 20, Indonesia menguasai pasar kina dunia.

Tugu Makam Junghuhn di Lembang, dikelilingi pohon-pohon kina. Telah ditetapkan sebagai Cagar Alam Junghuhn seluas 2.5 ha

Selain dari dua bidang tersebut, nama Junghuhn tak banyak saya lihat. Ketika saya berkuliah di jurusan geologi, namanya tak muncul. Mungkin hanya sekali, yaitu ketika almarhum Pak Budi Brahmantyo menceritakan tentang sketsa Junghuhn di Situ Patengan. Namun selebihnya ia tak terdengar.

Padahal Franz Junghuhn (lahir di Mansfeld Jerman, 1809 dan wafat di Bandung, 1864) adalah salah satu perintis penelitian geologi di Hindia Belanda, terutama di Jawa. Karyanya yang paling masyhur, Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart (Jawa, Bentuk, Vegetasi, dan Struktur Pembentuknya), yang terdiri atas tiga volume, pada volume III setebal 329 halaman, khusus membahas mengenai geologi Pulau Jawa. Di dalamnya tercakup pembahasan mengenai sebaran mineral, sedimen, morfologi pegunungan, fosil hewan dan tanaman, formasi-formasi penting, batuan gunungapi, keberadaan metal, bahkan hingga mata air panas. Deskripsi fosil dan lokasi penemuannya menjadi lokasi A-Z, menjadi sumbangan sangat berharga bagi penelitian stratigrafi di Hindia.

Sementara volume I membahas mengenai tanaman-tanaman dan volume II membahas mengenai gunungapi. Pada tahun 1855, Junghuhn mempublikasikan peta Pulau Jawa skala 1:350.000 yang ia bagi ke dalam 4 lembar. Salah satu edisi peta ini merupakan peta geologi dengan warna-warna yang membedakan formasi-formasi batuan. Peta ini merupakan peta geologi kedua Pulau Jawa, setelah peta geologi oleh Horsfield pada awal abad-19.

Peta Geologi Bandung dan Sekitarnya oleh Junghuhn (1855)

Jika kita menelusuri karya-karya Junghuhn secara kronologis, maka kita akan tahu bahwa mulanya Junghuhn tidak begitu awas dengan kondisi geologi. Passion-nya ketika itu lebih ke aspek botani. Menurut Rogier Verbeek, kemungkinan besar Junghuhn mulai awas dengan kondisi geologi adalah pada tahun 1834, ketika ia berkunjung ke Laacher See (Danau Laach) di sekitar Pegunungan Eifel. Di sini, Junghuhn muda terkesima dengan pegunungan vulkanik ini, dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa geologi juga merupakan hal menarik yang belum banyak dipahami.

Pada awal karir Junghuhn di Hindia pun, ia tak begitu awas dengan kondisi geologi. Ia lebih banyak memperhatikan tanaman-tanaman, mendeskripsi, kemudian mengumpulkan spesimennya. Baru pada tahun 1837, ketika Junghuhn ditugaskan menjadi deputi dari Dr. Fritze, ia mulai memiliki pembimbing dalam ilmu geologi. Dalam buku “Topograpische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java, Magdeburg 1845”, Junghuhn menuliskan bahwa dalam perjalanannya dengan Dr. Fritze, Junghuhn melakukan penelitian mengenai tanaman; sementara Dr. Fritze melakukan observasi geologi, mengunjungi kawah, dan mengoleksi bebatuan. Pada bulan Mei 1839, Fritze meninggal dan meninggalkan kesedihan mendalam bagi Junghuhn.

Ernst Albert Fritze (1791-1839)

Junghuhn melanjutkan petualangannya di Jawa hingga tahun 1841, untuk kemudian berpindah ke Sumatera dan melakukan penelitian di Tanah Batak selama 13 bulan. Di rimba yang liar ini, Junghuhn berhasil memetakan topografi kawasan ini dengan sangat baik, sekaligus mempublikasikan pengamatannya mengenai Tanah Batak di Sumatera (Die Battaländer auf Sumatra). Menurut Verbeek, dalam buku tersebut Junghuhn secara eksplisit menyebutkan mengenai rencana pembahasan geologi yang akan dituliskan dalam buku volume kedua. Namun buku tersebut tak pernah terpublikasikan. Buku Die Battaländer auf Sumatra hanya terbit dalam bahasa Jerman. Ini karena naskah buku ini ditolak oleh pemerintah kolonial karena catatan-catatan kritis mengenai perlakuan buruk tawanan Jawa oleh serdadu kolonial.

Pada periode awal Junghuhn di Hindia, selama 13 tahun (1835-1848), kemudian kita kurangkan dua tahun bekerja di Sumatera, dan dua tahun lainnya untuk membuat laporan tentang Tanah Batak, maka sebenarnya Junghuhn hanya punya sekitar 9 tahun untuk meneliti Jawa. Bayangkan 9 tahun untuk mendaki 45 gunung, beberapa di antaranya berkali-kali, 16 di antaranya ia merupakan orang yang pertama, kemudian mengunjungi lembah-lembah yang dalam dan deras, serta menerobos rimba belantara yang kejam, mengumpulkan spesimen dalam peti-peti dan mengirimkannya ke Eropa. Bahkan pada periode awal, kebanyakan dari waktu tersebut bahkan dilakukan pada masa-masa cuti, karena pada awalnya Junghuhn adalah seorang dokter militer. Ini merupakan prestasi yang hebat, menimbang seluruh kesulitan yang ada ketika itu. Perjalanan-perjalanan geologi Junghuhn hanya bisa dilakukan jika ada persitensi yang tinggi, mengingat begitu terperincinya laporan yang ditulis Junghuhn.

“Sebuah cahaya baru yang telah lama dinantikan, baru-baru ini terbit mengenai karakter geognostic Pulau Jawa, melengkapi karya-karya terdahulu Horsfield, Raffles, dan Reinwardt, yang masih belum lengkap. Dibuat oleh peneliti alam yang cerdas, piawai, dan pantang menyerah, Franz Junghuhn. Setelah tinggal lebih dari 12 tahun ia merampungkan karya yang sangat berharga: Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart.”

Alexander von Humboldt dalam Kosmos jilid 4, tahun 1858

Junghuhn harus kita kenang sebagai geologist yang handal. Kita harus ingat bahwa Junghuhn memelajari geologi secara otodidak. Ia tak punya pendidikan khusus geologi. Hal ini juga kemudian mengakibatkan banyak observasinya yang kurang presisi, meski tidak mengurangi rasa apresiasi kita padanya. Verbeek menuliskan bahwa Junghuhn mengklaim bahwa basalt hanya ditemukan di tiga gunungapi di Jawa, padahal batuan ini bisa ditemukan di begitu banyak gunung. Junghuhn juga banyak mendeskripsi batuan plagioklas-trakhit, yang ternyata merupakan batuan andesit. Lebih lanjut Verbeek mengapresiasi Junghuhn begitu tinggi, terkait deskripsi medan yang begitu detil terperinci dengan ilustrasi yang dilengkapi banyak sketsa, profil, dan peta. Namun harus diakui bahwa ketika Junghuhn membahas substansi geologi, maka maknanya kurang begitu berarti, terutama jika kita bandingkan dengan ilmu yang berkembang sekarang.

Beberapa teori penting yang dikemukakan Junghuhn, terutama teori mengenai pembentukan gunungapi. Junghuhn lah yang pertama menyatakan dan membuktikan bahwa kerucut gunungapi volkanik itu bertumbuh dan membangun kerucutnya secara berturut-turut dari letusan debu gunungapi dan aliran lava. Naiknya elevasi gunungapi bukan karena pengangkatan, tetapi karena proses letusan-letusan yang berulang. Teori ini mungkin sekarang sudah usang dan kuno, tetapi pada zaman Junghuhn, teori itu diterima sebagai teori yang benar, dan bahkan didukung oleh Leopold von Buch. Tak hanya von Buch, Charles Lyell, bapak geologi abad 19, dalam bukunya yang legendaris, The Principle of Geology (1868) tak ragu untuk menyebut nama Junghuhn 6 kali dalam bukunya, dan menyitir pendapat Junghuhn, membuktikan betapa berharganya informasi dan analisis yang dikembangkan Junghuhn di Jawa.

Pada akhirnya, Junghuhn harus kita kenang sebagai salah satu perintis ilmu geologi di Indonesia. Seperti yang disampaikan Verbeek dalam memoir mengenang 100 tahun Franz Junghuhn, bahwa Junghuhn memberikan efek sugestif pada generasi muda. Ia menginspirasi pemuda generasi Verbeek untuk berkarya mengeksplorasi bumi Hindia, dan harusnya juga pada generasi-generasi setelahnya, termasuk generasi kita. Junghuhn adalah contoh dari orang berjiwa Promethean, yaitu orang yang memberikan segalanya untuk kemajuan ilmu pengetahuan, tanpa memedulikan konsekuensi terhadap dirinya sendiri.

Wahai Junghuhn, karyamu abadi!

Sketsa geologi pantai dengan undercut di bawahnya. Terdiri atas lapisan batupasir dan kapur
Sketsa Bukit Breksi Batu Nini di sekitar Gunung Buleud Cililin
Sketsa batuan sedimen berlapis nyaris tegak di Sanghyang Heuleut

Beberapa sumber tulisan ini:
1. Junghuhn als Geologe – Rogier Verbeek
2. Forschen – Vermessern – Streiten – oleh Renate Sternagel dan Gerhard Aus
3. Buku Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart volume III – Franz Junghuhn

Danau-Danau di Kota Bandung

Saya baru lihat postingan Pak T.Bachtiar yang akan membahas mengenai Danau-danau yang Hilang di Bandung, hari Senin 2 November 2020, nanti. Topik ini menarik karena saya pernah mendigitasi Peta Kota Bandung tahun 1931, untuk bisa menampalkan danau-danau yang dulu ada, ke keadaan sekarang. Kita tahu bahwa hampir seluruh danau di Bandung itu telah diurug, dijadikan perumahan. Mungkin yang paling terkenal adalah Situ Aksan, yang letaknya di sekitar Jalan Aksan, dekat Jalan Jamika dan Jalan Sudirman. Kini Situ Aksan sudah hilang, berganti menjadi perumahan.

https://www.instagram.com/tbachtiargeo/

Tak perlu kita bahas lebih panjang mengenai sejarah, asal muasal, dan kondisi danau-danau ini sekarang, karena saya yakin akan dibahas dengan sangat renyah oleh Pak Bachtiar nanti. Yang akan saya bahas adalah mengenai hasil digitasi saya, serta hasil penampalan kepada kondisi sekarang. Seberapa banyak tubuh air yang hilang? Berapa luasannya?

Sumber peta yang digunakan adalah Peta Topografi Lembar Bandung Nord dan Bandung Zuid skala 1:25.000 yang diterbitkan oleh Dinas Perpetaan Hindia Belanda tahun 1931. Peta ini bisa didapatkan di https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/ secara cuma-cuma.

Penting untuk saya sampaikan, bahwa cakupan peta ini tidak besar. Luas yang dicakup masing-masing peta sekitar 10×10 km. Pada lembar Bandung Zuid, batas selatannya adalah Dayeuhkolot, sementara pada lembar Bandung Nord, batas utaranya adalah Cihideung dan Ciumbeuleuit. Batas barat dari peta ini adalah di Cimindi, sementara batas timurnya adalah Kiara Condong. Total luas yang tercakup dalam kedua peta yang berjejer utara selatan ini sekitar 20×10 km, atau 200 km2.

Sebagai peta skala 1:25.000, informasi yang ada di dalam peta ini cukup lengkap dan detil. Dalam kaitannya dengan data danau-danau yang ada di Bandung ketika itu, kita bisa bedakan dengan jelas, yang mana tubuh air, sehingga bisa kita digitasi dengan mudah.

contoh Tubuh Air yang ada di sekitar Cihampelas. Sekarang sudah diurug menjadi Apartemen Jardin
Contoh lain tubuh air di Leuwipanjang ke arah selatan, kita bisa lihat ada sangat banyak tubuh air, dengan yang paling luas adalah Situ Tarate di selatan Cibaduyut.

Kedua peta ini kemudian akan kita georeferensi. Cara menggeoreferensinya sama dengan cara menggeoreferensi Peta Geologi yang pernah saya bahas di tulisan saya yang lalu:

Setelah kita cek, ternyata peta ini menampal dengan sempurna di atas peta topografi Openstreetmap yang kita punya. Selanjutnya adalah mendigitasi poligon-poligon danaunya.

Setelah kita plot, ternyata sangat banyak danau yang hilang. Saya akan tunjukkan beberapa lokasi yang familiar:

Di sekitar Sekeloa, dekat Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unpad, kita lihat ada danau yang sekarang sudah hilang. Tak heran di sana ada danau, karena Seke berarti mata air. Maka besar kemungkinan, mata air itu begitu berlimpah hingga membentuk danau.
Situ Aksan di sekitar Pagarsih
Danau besar di antara Jalan Galot Subroto dengan Rel Kereta Api
Situ di sekitar Babakan Ciparay sekitar Jalan Caringin, antara Jalan Kopo dan Jalan Soekarno-Hatta

Serta banyak lagi tubuh air yang ada. Secara total, saya berhasil mendigitasi 73 tubuh air, dengan luas total 50.053 hektar. Sebagai perbandingan komplek Tegalega mulai dari Jalan Inggit Garnasih hingga ke BKR dan Jalan Otista hingga ke Jalan Moh Toha adalah sekitar 20 hektar. Maka luas danau di 2 lembar peta Bandung Nord dan Bandung Zuid pada tahun 1931 adalah 2.5 kali Komplek Tegalega.

Ada >15 danau yang memiliki luas lebih dari 1 hektar. Beberapa danau telah dinamai pada peta tersebut, antara lain Situ Aksan (2,57 ha), Situ Tarate (2,32 ha), Situ Hiang (1,84 ha), dan Situ Goenting (1,54 ha).

Danau paling besar berada di antara Jalan Gatot Subroto – Rel Kereta Api, yang kini sebagian ditempati oleh Trans Studio, luasnya mencapai 6,57 ha.

Danau-danau ini jika kita anggap memiliki kedalaman rata-rata 2 meter, maka seluruh tubuh air ini mampu menyimpan air sebanyak 1 juta meter kubik. Sebanyak itulah air yang harus kita carikan jalur parkirnya, jika kita mengurug seluruh danau, yang mana sudah kita lakukan sejak lama. Jumlah air sebanyak ini bisa mengisi 300 kolam standar olympic yang berukuran 50x25x3 m.

Keseluruhan peta ini kemudian saya buat dalam suatu webmap yang bisa diakses pada halaman berikut:

http://malikarrahiem.com/qgis2web/index.html#16/-6.9568/107.5947

Webmap ini juga bisa dibuka di website saya, di header > Peta.

Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi suplemen dari presentasi bernas Pak Bachtiar, hari senin nanti.

Salam sehat

Curug Halimun Tahun 1928

Minggu lalu saya baru berkunjung ke Curug Halimun, yang terletak di Kampung Cikondang, Saguling. Saya ke sana dengan Pak Bachtiar dan istri, serta adik saya. Kami dipandu langsung oleh ketua Pokdarwis Curug Halimun, Kang Ryan. Untuk memperkaya wawasan tentang Curug Halimun, maka saya sengaja menerjemahkan artikel tentang Curug Halimun yang ditulis oleh S.A. Reitsma (mantan walikota Bandung tahun 1928). Artikel ini dimual dalam Majalah Tropisch Nederland tanggal 28 Desember 1928.

Berikut terjemahannya:

Pada zaman dahulu kala, Dataran Tinggi Bandung pastilah sebuah danau yang begitu luas. Hal ini bisa terlihat dari formasi batuan yang ditemukan di dasar dataran ini.  Hal ini juga tercermin dari berbagai macam legenda Sunda dan penamaan Bandung. Bandung berarti membendung, yang kemudian juga diabadikan sebagai simbol dari logo kota.

Legenda pembentukan dataran tinggi Bandung masih diceritakan dari mulut ke mulut hinga sekarang. Kisahnya kurang lebih adalah begini:

Pangeran Galuh Sri Pamekas mempunyai seorang putri, namanya Dayang Sumbi. Dayang Sumbi mempunyai seorang putra, namanya Sangkuriang, yang begitu ahli dalam berburu. Suatu hari Dayang Sumbi dan putranya sedang bertengkar. Dayang Sumbi tak sengaja melukai putranya di kepala, meninggalkan jejak luka yang dalam. Sangkuriang pergi dari rumah, berkelana mengarungi Jawa dengan pengikut-pengikutnya.

Tahun dan tahun berlalu hingga Sangkurinag kembali ke Bukit Karang Penganten,di mana ia bertemu dengan seorang putri yang cantik Dayang Sumbi yang telah diusir dari Kerajaan Galuh. Tanpa mengetahui tentang hubungan darah yang mereka berdua miliki, mereka merencanakan pernikahan. Hingga Dayang Sumbi akhirnya menemukan bekas luka di kepala Sangkuriang.

Ia begitu terkejut dengan fakta ini. Dia tidak bisa menikahi putranya sendiri. Untuk membatalkan rencana ini, ia membuat syarat, bahwa untuk menikahinya, Sangkuriang haru membendung Ci Tarum, sehingga ada danau yang luas untuk mereka berperahu di sana. Tenggat waktunya besok pagi. Sangkuriang harus mengerjakannya dalam waktu semalam.

Permintaan yang hampir mustahil ini diterima Sangkuriang. Dengan pasukan jin dan roh alam dewata yang dimilikinya, tugas ini sepele saja baginya.

Sebagian pasukan gaibnya dikirim ke Ngarai Ci Tarum dan mulai membendung dengan bebatuan di bagian yang paling sempit. Pepohonan ditebang. Bukit-bukit digali dan dipindahkan. Bebatuan diangkut dan ditumpahkan. Pasukan yang lain dikirim untuk memotong pohon Lambitang raksasa, yang akan dijadikan sebagai perahu. Sementara pasukannya yang wanita dikerahkan untuk menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan persiapan pesta.

Pekerjaan Sangkuriang dan pasukannya berjalan dengan lancar. Di tengah malam, sebagian besar Bandung telah tenggelam dalam bendungan. Dalam terang purnama, Sangkuriang bersiap-siap menjemput pengantinnya.

Dayang Sumbi mengamati dari puncak bukit. Cemas semakin cemas. Ia berdoa, memohon pertolongan dewa-dewa, terutama Brahma yang agung.

Tak lama muncul seorang dukun yang memberinya daun dari Pohon Surgajaya. Dedaunan ini punya kekuatan gaib, yaitu ketika dilemparkan ke danau, ia merusak bendungan, membentuk lubang yang besar, Sangiang TIkoro, sehingga air mengalir keluar dari bendungan yang telah dibuat. Danau mengering cepat. Sangkuriang yang marah menendang perahu yang kemudian terbalik. Pasukan Sangkuriang musnah di rawa-rawa.

Perahu yang terbalik kemudian menjadi Gunung Tangkuban Perahu, yang berarti Perahu Nangkub, atau perahu terbalik. Tentu ini dinamai karena bentuknya yang memang menyerupai perahu terbalik. Dayang Sumbi yang bersedih karena mengorbankan nyawa begitu banyak manusia untuk menghindari menikah dengan putranya sendiri, sangat bersedih. Ia melompat dan masuk ke dalam gunung, kini menjadi Kawah Ratu, kawah utama di Tangkuban Perahu.

Semua sungai di dataran tinggi Bandung, mulai dari yang berhulu di Pengalengan, Malabar, Tangkuban Perahu semua mengalir dan bermuara ke Ci Tarum. Kota Majalaya dan Dayeuhkolot mengalir di tengah dataran Bandung. Di Dayeuh Kolot sungai ini bisa dinavigasi beberapa kilometer hingga rentetan jeram-jeram dimulai. Curug Jompong adalah jeram paling utama di sana.

Kemudian Ci Tarum menerobos pegunungan Neptunian yang menjadi batas barat Dataran Tinggi Bandung. Sungai ini telah melewati kawasan ini selama ratusan bahkan ribuan tahun, membentuk ngarai yang sempit dan dalam, lebih dari 500m. Di beberapa tempat, lebarnya hanya beberapa meter. Melalui jurang yang sempit dan dalam ini, di tebing-tebing batukapur, volume yang masif dari aliran CI Tarum membentuk deretan air terjun yang sangat menakjubkan, paling menakjubkan yang ditemukan di Jawa, sebelum kemudian keluar di dataran Rajamandala.

Bagian terdalam dari ngarai ini disebut Junghuhn sebagai Sanghyang Heuleut. Tak jauh di sana terletak juga Sanghyang Tikoro. Curug Halimun juga ada di sekitar sana, dan telah ditandai dalam peta.

Untuk sampai ke Curug Halimun, kita bisa berkendara dengan mobil atau kereta dari Padalarang. Mengambil jurusan Buitenzorg (Bogor), kemudian berhenti di Rajamandala. Kemudian di pal-26, sebelum jembatan menuju Cihea kita berbelok. Di sana ada perusahaan bernama “Pangkalan”. Setelah satu setengah jam jalanan menanjak, kita akan sampai di Gunung Guha.

Ci Nungnang, sungai kecil, mengalir di tepian gunung ini, yang juga dikenal sebagai Gunung Nungnang. Gunung ini dideskripsi oleh Junghuhn sebagai berikut:

Tebing batugamping ini menjulang tinggi besar. Puncak dan tepi-tepiannya ditutupi pepohonan yang hijau dan subur. Karena curamnya lereng, maka puncak tebing tidak bisa diakses, sehingga penebangan kayu tak terjadi. Jika ingin melihat gambaran mengenai keindahan alam hutan tropis, kunjungilah tebing kapur Gunung Nungnang. Ia menjulang hampir vertikal setinggi 500 kaki di atas Desa Guha. Pohon-pohon besar, tumbuh tinggi menjulang, seolah kolom raksasa. Keindahannya melampaui semua deskripsi. Batang-batangnya menjulang seolah berlomba siapa yang paling tinggi. Kubah pohonnya seolah amfiteater, yang berdekatan satu sama lain. Saking rapatnya, lereng-lereng curam dinding kapur yang putih ini hanya terlihat di beberapa tempat saja.

Kami terus berjalan dan segera mencapai titik tertinggi, 1736′, di Desa Cacaban. Sebelumnya, dari Puncak Larang, kami disuguhi menikmati pemandangan indah Dataran Batujajar dengan markas tantara artileri dengan kelok-kelok Ci Tarum bermeander seolah memahat dataran.

Tak lama kita sampai di Curug Halimun. Jalan menurun sangat ekstrim. Ci Tarum jatuh bebas sebebas-bebasnya. Suaranya menggemuruh yang menggelegar. Sangat disayangkan bahwa air terjun ini sangat sulit untuk direkam baik melalui sketsa dan foto. Sejauh yang kami ketahui, belum ada rekaman foto dari lokasi yang sangat indah ini.

Foto Curug Halimun dalam buku Bandoeng en Haar Hoogvlaakte (1950)

Kami menyusuri tepian Ci Tarum ke arah hulu. Memanjat dari batu ke batu. Melewati satu per satu jeram. Mengikuti persis jejak langkah dari pemandu kami yang lincah. Menyeberangi sungai-sungai kecil, menembus belantara yang lebat. Hingga akhirnya kami sampai di tempat di mana Ci Tarum menerobos bebatuan. Atau mungkin lebih tepat kita sebut di mana Ci Tarum menyayat dinding pegunungan selama ratusan atau ribuan tahun, dibantu gempa bumi dan banjir yang besar.

Air yang mengalir deras dari Dataran Bandung harus melewati jalur sempit selebar 10m. Di sinilah bendungan itu pasti berada. Saat dataran Bandung yang indah dan subur masih berupa danau yang luas. Di sinilah, di antara gunung-gunung yang tinggi, jalan keluar dari danau yang luas, yang legenda dan hikayatnya direkam dari mulut ke mulut oleh leluhur orang Sunda.

Bertumpu pada dinding yang terjal, dan pohon yang tumbuh di tepiannya, masyarakat lokal membangun jembatan dan menamainya Cukang Rahong (Cukang berarti Jembatan. Rahong artinya Membual (*)). Pohon yang menjadi tumpuan, tumbuh mengakar kuat pada rekahan-rekahan. Bisa kita lihat jika kita melihat dengan cermat. Lebar jembatan ini tak lebih dari 11m, dan tersusun atas beberapa batang bambu, yang disambung satu sama lain membentuk segitiga.  

(*) Dalam Kamus Jonathan Rigg, Rahong berarti celah yang sempit, atau ngarai. lebih sesuai untuk konteks Cukang Rahong. Jadi bukan jembatan pembual, tetapi jembatan di atas celah yang sangat sempit.

Pemandangan dari jembatan ini sangatlah indah. Jembatan kecil di atas ngarai sedalam 40m itu berada sekitar 15m di atas permukaan air. Aliran air menggemuruh melewati bebatuan. Buihnya seolah menggelegak, seolah mendidih.  Di sisi sebelah selatan, kami turun ke sungai, di mana kami melihat pemandangan jejak erosi yang begitu indah. Kami lihat juga pohon yang sangat besar yang terbawa oleh banjir.

Karena kami masih di sekitar Ci Tarum, kami memutuskan untuk mengunjungi Sanghyang Tikoro, atau Tenggorokan Ci Tarum.

Jalan mengarah dari Rajamandala menuju Cidohong, kemudian dari sana menuju perkebunan teh dan karet Rajamandala, lalu menuju hutan belantara. Dari sini kami menyusuri lembah Ci Leat. Sesekali kami bisa melihat pemandangan indah dari puncak Gunung Guha. Tak lama hutan semakin rapat. Terik matahari memancarkan sinarnya di atas kanopi. Di antara vegetasi hutan yang rimbun bisa kita temukan begonia dan anggrek, serta tanaman liana (merambat) terbesar di Jawa dengan legum raksasa yang panjangnya lebih dari 1m. Kemudian kami melewati Desa Cisambeng, di mana terdapat mata air panas mengandung belerang dengan suhu hingga 50oC. Sebuah pipa bambu dipasang di belakang batu-batu besar dan membawa air panas ke kamar mandi kecil, di mana air dikumpulkan di dalam baskom batu. Di dekat sumur, ada pipa bambu lain di bawah, di mana banyak penduduk asli membasuh diri untuk mengobati segala macam penyakit.

Desa Cisambeng terletak di anak sungai kecil yang bernama sama, yang mengalir dari gunung yang juga disebut Cisambeng. Rumah kampung masih seluruhnya dilapisi alang-alang panjang.

Kami bisa sampai di sini dengan menunggang kuda. Kemudian kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Jalanan segera menanjak di Desa Cisambeng. Saat melihat ke belakang, kami melihat gambaran desa yang tenang, sepi, dan damai. Jalan setapaknya sempit, naik dan turun. Tak lama, sekitar 15 menit kami tiba di penghujung perjalanan kami. Ci Tarum baru saja berbelok keluar dari ngarai yang sempit di ujung Gunung Guha. Kemudian sungai ini mengalir mengikuti dinding tebing yang curam dan berhutan, hingga kemudian masuk ke dataran Cihea.

Di sini kami melihat pemandangan yang sangat memesona. Pegunungan kapur berwarna putih keabuan Gunung Guha menjadi latarnya. Ci Tarum terbelah menjadi dua, cabang sebelah kanan menghilang dengan cepat ke dalam gua yang gelap, gua Sanghyang Tikoro. Di atas mulutnya, tanaman-tenaman tergantung miring seolah-olah menjadi karangan bunga. Dengan sangat berhati-hati kami bisa turun sedikit di antara bebatuan, yang bertumpukan satu sama lain. Gua ini kemungkinan besar terbentuk akibat runtuhan dinding bebatuan kapur ini.

Kami menghanyutkan sebuah peti berisi obor yang menyala ke dalam gua. Hasilnya luar biasa! Ribuan kelelawar dan burung walet segera berhamburan keluar dari persembunyiannya. Mereka yang sebelumnya bergelantungan menempel di langit-langit gua segera beterbangan. Sanghyang Tikoro panjangnya beberapa ratus meter. Dari atas gua kami menyusuri dan menemukan beberapa sungai keluar dari gelapnya gua-gua yang dalam ini.

Menggeoreferensi Peta Van Bemmelen

R.W. van Bemmelen adalah geologist paling popular di Indonesia. Karya terutamanya, kitab the Geology of Indonesia adalah bacaan wajib seluruh mahasiswa geologi di Indonesia, sejak almarhum Katili, hingga sekarang. Selain buku ini, van Bemmelen juga aktif melakukan pemetaan. Salah satu karyanya adalah Peta Geologi Lembar Bandung skala 1:100.000 yang diterbitkan pada tahun 1934.

Sejak memahami tentang teknik menggeoreferensi, saya ingin mengetahui apakah saya bisa menggeoreferensi peta van Bemmelen ini, sehingga kita tahu bagaimana sebaran batuan menurut van Bemmelen pada kondisi yang sekarang. Tidak terlalu penting sebenarnya, tapi kalau bisa ya kenapa tidak.

Ok pertama kita akan mengunduh peta geologi Lembar Bandung tahun 1934. Kita bisa mengunduh data ini di website koleksi digital Universitas Leiden https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/ gunakan kata kunci “Bandoeng” dan cari di bagian “Maps (KITLV) (under construction)“. Kalau sulit, bisa pakai tautan ini.

Di tautan tersebut, Anda akan dapat 11 peta geologi jadul, keluaran tahun 1930an. Kita akan pilih nomor D E 14,3 yang merupakan kode Peta Geologi Lembar Bandung. Di bagian bawah peta, terdapat ikon untuk menguduh. Bentuk ikonnya seperti kardus pipih dengan mata panah mengarah ke kardus tersebut. Letaknya di samping ikon rantai, di atas tulisan In Collections. Silakan mengunduh Original Master dengan ukuran file 121 MB.

Untuk menggeoreferensi, kita akan menggunakan piranti lunak QGIS 3.10.5. Jika tidak punya software ini, maka bisa mengunduh dan menginstalnya di komputer masing-masing. Dalam tulisan ini, saya berasumsi bahwa pembaca sudah paham prinsip dasar menggeoreferensi.

Hal pertama yang harus dilakukan sebelum menggeoreferensi adalah mengetahui sistem koordinat. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melihat pojok-pojok peta. Pada Peta Geologi Lembar Bandung ini kita melihat terdapat sistem koordinat, terutama pada bagian pojok kiri bawah di mana terdapat informasi sebagai berikut:

Di dalam peta ini kita dapat melihat bahwa Van Bemmelen sudah meletakkan sistem koordinat. Informasi di atas berarti bahwa titik pojok kiri bawah pada peta ini berjarak 0 derajat 40 menit ke arah timur dari Meridian Batavia, dan 7 derajat ke arah selatan dari ekuator. Meridian dari Batavia sendiri didefinisikan berjarak 106 derajat 48 menit 27.8 detik ke arah timur dari Greenwich. Informasi ini sangat penting, karena akan kita bandingkan dengan informasi yang kita miliki di QGIS.

Sekarang kita akan membuka QGIS. Ketika kita membuka QGIS, di bagian pojok kanan bawah, terdapat tulisan EPSG:XXXX yang merupakan sistem koordinat projek kita. Kita bisa klik gambar globe di samping tulisan EPSG untuk tahu sistem koordinat apa saja yang tersedia.

Selanjutnya, karena kita akan menggeoreferensi peta lama Indonesia, maka kita gunakan kata kunci “Batavia”. Maka akan ditemukan beberapa sistem koordinat (lihat baris Predefined Coordinate Reference Systems), yaitu sistem koordinat geografis dan terproyeksi (Geographic Coordinate Systems dan Projected Coordinate Systems).

Karena data kita menggunakan sistem koordinat geografis, maka kita cari di bagian Geographic Coordinate Systems. Perhatikan bahwa ada dua sistem, yaitu EPSG:4211 dan EPSG:4813. Apa bedanya? Kita akan tinjau.

Perbedaannya adalah EPSG:4211 berprime-meridien di Greenwich, artinya titik nol garis bujur berada di Greenwich. Sementara EPSG:4813 berprime-meridien di Batavia, artinya titik nol garis bujur pada sistem koordinat ini berada di Batavia. Namun terdapat keterangan bahwa Jakarta(Batavia) berjarak 106.807719 derajat dari Greenwich. Angka ini jika diubah menjadi derajat menit detik akan sama dengan 106 derajat 48 menit 27.8 detik. Artinya sistem koordinat ini akan sesuai dengan peta kita. Berikut adalah informasi geografis dari sistem koordinat EPSG:4813:

GEOGCRS["Batavia (Jakarta)",
    DATUM["Batavia (Jakarta)",
        ELLIPSOID["Bessel 1841",6377397.155,299.1528128,
            LENGTHUNIT["metre",1]]],
    PRIMEM["Jakarta",106.807719444444,
        ANGLEUNIT["degree",0.0174532925199433]],
    CS[ellipsoidal,2],
        AXIS["geodetic latitude (Lat)",north,
            ORDER[1],
            ANGLEUNIT["degree",0.0174532925199433]],
        AXIS["geodetic longitude (Lon)",east,
            ORDER[2],
            ANGLEUNIT["degree",0.0174532925199433]],
    USAGE[
        SCOPE["unknown"],
        AREA["Indonesia - Bali, Java and western Sumatra onshore"],
        BBOX[-8.91,95.16,5.97,115.77]],
    ID["EPSG",4813]]

Oleh karena itu kita akan pilih sistem koordinat ini di peta kita.

Setelah itu kita akan masuk di bagian georeferensi.

Pada toolbar, klik Raster, kemudian pilih Georeferencer.

Di pojok kiri atas windows Georeferencer, pilih Open Raster. Pilih Raster yang ingin digeoreferensi. Dalam hal ini, raster yang sudah kita download, yaitu raster Peta Geologi Lembar Bandung. Hasilnya kurang lebih akan seperti gambar di bawah ini.

Di bawah tulisan settings, agak ke kanan sedikit, terdapat ikon berwarna kuning yang berbentuk seperti gerigi, yaitu ikon Transformation Settings. Kita akan mengatur Transformation pada pengaturan ini.

Pada pengaturan ini, pilih tipe transformasi menjadi Helmert. Metode Resampel menjadi Nearest neightbour dan Target SRS menjadi Project CRS, yaitu EPSG:4813. Atur output raster, sisanya tinggalkan sebagaimana default.

Pilih empat titik di pojok kiri atas, kanan atas, kanan bawah, dan kiri bawah sebagai titik ikat. Pastikan bahwa Anda menggunakan bagian dalam dari frame sebagai lokasi koordinat. Sebagai contoh saya menggeoreferensi pojok kiri atas peta, maka saya mengisi X/East sebagai 0 dan 40, artinya 0 derajat dan 40 menit. QGIS secara otomatis membacanya demikian. Sementara pada Y/North Anda akan mengisikan sebagai -6 dan 40 karena kita berada di selatan ekuator. Lakukan hal yang sama untuk sudut-sudut peta lainnya.

Setelah empat sudut terpilih sebagai GCP, maka kita bisa mulai menggeoreferensi dengan mengeklik ikon segitiga miring berwarna hijau, yang mirip dengan ikon play. Setelah itu kita bisa mengecek hasil georeferensi kita. Caranya dengan membuka file raster yang kita buat ke dalam QGIS.

Untuk mengecek apakah peta kita tergeoreferensi dengan benar, kita bisa bandingkan dengan peta OSM. Kita atur transparansi dari layer OSM untuk kita bandingkan bagaimana kedua layer ini. Saya pikir layer ini tergeoreferensi dengan baik sekali.

Kesesuaian peta OSM dengan peta hasil georeferensi. Perhatikan daerah Jalan Cagak di atas.
Di sekitar Ci Tarum terlihat ada sedikit distorsi. Tapi masih bisa ditoleransi.
Sangat memuaskan melihat bagaimana sungai-sungai berada di lokasi yang tepat. Gambar ini dioverlay dengan layer ESRI World Hillshade

Demikian tutorial singkat menggeoreferensi Peta Geologi Van Bemmelen tahun 1934.

Curug Jompong Setelah Diterowong

Sudah sangat lama ada rencana-rencana untuk memapas Curug Jompong. Alasannya adalah karena Curug Jompong dianggap sebagai penghambat aliran Ci Tarum, mengakibatkan aliran Ci Tarum melambat, kemudian mengakibatkan banjir di Bandung Selatan. Ide-ide pemapasan itu ekstrim. Ada ide pemapasan dengan bom, dipapas total, dipapas sebagian, dll. Meski kemudian ternyata pilihan yang lain yang dipilih, yaitu pembuatan terowongan menembus bukit di sebelah utara Curug Jompong. Terowongan ini sudah selesai, dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada bulan Januari 2020 lalu.

Pemindahan aliran Ci Tarum menuju terowongan Nanjung, mengakibatkan kita harus memikirkan ulang Curug Jompong sebagai sebuah curug. Meski batuannya masih ada, tapi tidak ada lagi air terjun. Tidak ada aliran masif Ci Tarum yang menerobos bebatuan keras, membentuk tingkatan-tingkatan jeram-jeram, yang melaluinya aliran Ci Tarum menderu keras. Tak ada lagi air terjun, melainkan tinggal lembah berbatu, dengan aliran sungai yang sangat kecil, setempat berbentuk kolam-kolam yang dibatasi oleh batuan-batuan masif raksasa.

Curug Jompong yang dulu selalu menderu akibat derasnya aliran Ci Tarum yang menghantam bebatuan keras yang menjadi dasarnya, kini menjadi lembah yang hening, dengan aliran yang tenang nyaris tak ada.

Jika saya mengikuti definisi Almarhum Pak Budi Brahmantyo tentang air terjun, maka menurut beliau air terjun didefinisikan sebagai aliran air yang jatuh dari suatu tinggian. Seberapa tinggi? Menurut Pak Budi, 2 meter. Menurut beliau, orang harus mendongak untuk melihat air terjun, maka tinggi air terjun harus lebih tinggi dari rata-rata orang normal, yaitu 2 meter. Sementara itu, jika kurang dari dua meter, maka kita bisa sebut sebagai jeram, atau rapids.

Modifikasi melalui pembangunan terowongan menyingkapkan bagian Curug Jompong yang telah begitu lama tergenang. Mengunjungi Curug Jompong sekarang seolah mengunjungi dunia yang lain. Dunia yang baru, yang belum pernah orang menyentuhnya selama ratusan ribu tahun karena selalu tergenang oleh derasnya aliran Ci Tarum.

Sebagai curug, riwayat Curug Jompong telah tiada. Kini ia menjadi lembah berbatu, dengan jenis keindahan yang berbeda. Seperti lembah terjal Ci Tarum yang berada di balik bendungan Saguling, yang kini menjadi dunia yang berbeda dibandingkan dengan pemahaman orang-orang sebelum 1985, sebelum bendungan Saguling beroperasi.

Curug Jompong Bulan Juni 2020

Meski begitu, saya menikmati kunjungan saya ke Curug Jompong pagi itu. Melompati bebatuan-bebatuan raksasa. Melihat kolam berwarna kehijauan yang menggoda diri untuk berenang, meski masih sangat tidak meyakinkan mengingat aliran Ci Tarum yang begitu keruh di hulunya. Kita bisa lihat juga bagian Curug Jompong yang begitu lama tak tersentuh orang, karena derasnya aliran Ci Tarum.

Dalam pikiran saya, mungkin kita harus memikirkan ulang branding yang tepat untuk Curug Jompong. Branding ini penting mengingat reputasi Curug Jompong yang sangat tidak baik beberapa tahun ke belakang ini. Aliran yang kotor, kabut air yang berbau kurang enak, sampah, dan lain sebagainya.

Mungkin Leuwi Jompong kata yang tepat. Leuwi dalam bahasa Sunda berarti Lubuk. Secara geografis berarti bagian terdalam dari sungai. Atau mungkin ada terminologi geografis lain yang lebih tepat, saya belum tahu. Dengan branding baru, kita bisa memulai cerita Curug Jompong dari lembaran baru pula, yang siap menyambut ribuan penikmat alam untuk berwisata.

Curug Jompong yang baru kini berpotensi menjadi lokasi wisata yang hebat. Lokasinya yang dekat dengan pusat kota, dengan panorama yang menawan, membuat tempat ini punya modal yang sangat besar. Belum lagi sejarah Curug Jompong yang sangat panjang, saya kira bisa membuat orang berlama-lama mampir menghabiskan waktunya di sekitar daerah ini. Begitu juga keberadaan Terowongan Nanjung membuat banyak yang bisa dilihat dan dijelaskan di titik ini.

Mengingat ini, saya teringat kalimat dari Reitsma, tentang jalur melewati Curug Jompong yang merupakan salah satu jalur paling indah di Pulau Jawa.

“…Dari Gadjah kemudian melewati jalan Soreang-Batujajar menyusuri Ci Tarum dan mengitari Gunung Paseban. Bentang alamnya sangat indah di sini, di kanan mengalir sungai yang jernih berkilau, di kiri kerucut indah Gunung Lalakon. Boleh dibilang jalur Soreang – Batujajar melalui Curug Jompong adalah salah satu jalur paling indah di Pulau Jawa. Terutama di musim penghujan, kala aliran sungai penuh bergemuruh, air berlompatan meloncati bebatuan, lalu berdebur gelombang saling berhantaman. Deru air membentuk kabut yang tersusun dari jutaan titik air yang membiaskan cahaya mentari membentuk pelangi dengan latar bebatuan berwarna gelap.” 

S. Reitsma – Gids van Bandoeng en Midden Priangan

Mungkin kita bisa menghidupkan Curug Jompong kembali. Bukan sebagai Curug, tapi sebagai Leuwi, atau entah apa namanya kita mendefinisikannya nanti. Tapi Curug Jompong punya peluang untuk berjaya kembali. Kembali menjadi salah satu tempat paling indah di Jawa. Yang orang datang, berwisata, dan kemudian membawa pengalaman yang gembira. Bahwa ia telah datang ke tempat yang indah, yang memberi kesan indah pada dirinya, lalu ia memberitahu teman-temannya. Lalu kelak menuliskan dalam catatan hidupnya, yang nanti akan menjadi catatan sejarah, bahwa Curug Jompong kembali indah.

Semoga.

GIF Curug Jompong sebelum dan setelah diterowong. Terowongan Nanjung dibuka pada akhir 2019 atau awal 2020. Perhatikan buih air curug yang hilang pada tahun 2020, berpindah ke mulut terowongan.

Foto Udara ITB 1933 dan Sekarang

Melanjutkan penemuan foto udara daerah Tegallega yang saya post kemarin, saya juga mendapatkan foto udara orthophoto daerah ITB dan sekitarnya. Kemudian foto ini saya georeferensi, lalu saya bandingkan kondisinya dengan kondisi sekarang. 

Gambar di atas adalah perbandingan foto udara ITB tahun 1933 dibandingkan dengan sekarang. Gambar ini diputar 44 derajat ke arah timur agar menyesuaikan sudut pengambilan gambar. ITB baru dibangun pada tahun 1920, sehingga pada masa itu bangunan belum sebanyak sekarang. 

Pada tahun 1933, hanya ada bangunan yang sekarang menjadi Aula Barat, Aula Timur, Gedung Prodi Teknik Sipil, Gedung Prodi Fisika, dan yang sekarang menjadi Gedung Seni Rupa dan Arsitektur. Penggunaannya ketika itu saya belum tahu, jurusan-jurusan apa yang sudah ada pun saya belum tahu. 

Di sebelah utara masih kosong melompong hamparan lega sampai ke jalan Tamansari sekarang. Begitu pun Sasana Budaya Ganesha belum ada juga karena baru dibangun pada tahun 1997. 

Di sebelah barat terlihat bentukan oval, kini menjadi Kebun Binatang Bandung. Saya belum tahu apakah daerah ini sudah menjadi kebun binatang atau belum, meskipun saya tahu bahwa KBB mulai didirikan tahun 1930. 

Di sebelah selatan, terdapat Taman Ganesha yang dulunya bernama Ijzerman Park sebagai penghargaan untuk Tuan Ijzerman yang berjasa dalam pembangunan ITB. Pepohonan di sekitar jalan Ganesha dan Gelap Nyawang belum ada. Masih berupa bibit-bibit kecil, sehingga pepoponan besar yang ada sekarang itu masih berumur kurang dari 100 tahun.  Begitu juga pepohonan di tepi Jalan Tamansari pun belum ada. 

Di sebelah timur Jalan Dago pun masih sepi. Perkomplekan elite daerah Jalan Imam Bonjol, Teuku Umar, dll masih berupa lahan kosong, bahkan masih berupa petak-petak kebun. 

Gambar di bawah merupakan perbandingan foto udara dengan peta openstreetmap. 

Begitulah bagaimana Bandung berkembang dari dulu hingga sekarang. Betapa banyak yang berubah, namun satu yang kita ketahui, bahwa dulu Bandung pernah gundul tak ada pepohonan. Belum terlambat untuk kita jika ingin memiliki pepohonan besar yang rimbun seperti di daerah Ganesha dan Tamansari sekarang. Mungkin puluhan tahun yang datang, maka tanaman kita akan rimbun, sebagaimana daerah ini sekarang.

Salam

Keterangan:
Foto udara berasal dari Tropenmuseum
Foto pada muka berasal dari Tropenmuseum
Foto citra satelit berasal dari Google Earth
Foto peta berasal dari OpenStreetMap

Foto Udara Tegallega 1933 dan Sekarang

Saya baru menemukan foto udara daerah Tegallega yang diambil sekitar tahun 1933-1940. Sumbernya dari http://collectie.wereldculturen.nl/. Judul fotonya Omgeving raceterrein Bandoeng. Tegallega-wijk yang berarti Area Balapan Bandung, lingkungan Tegallega.

Peta ini agak diputar sekitar 32 derajat ke arah barat untuk menyesuaikan pengambilan gambar dari udara. Di peta ini kita bisa lihat bagaimana kondisi Tegallega sekitar 80 tahun yang lalu. Lapangan Tegallega sendiri dulunya merupakan arena pacuan kuda. Pada masa itu, Lapangan Tegallega adalah batas paling selatan Kota Bandung. Jalan Mohamad Toha merupakan Jalan Raya Banjaran yang menghubungkan Bandung dengan Banjaran, sementara Jalan Oto Iskandar Dinata berada di sebelah baratnya.

Pada masa itu Lapangan Tegallega hanyalah lapangan kosong, dengan lajur pacuan kuda di tepiannya mengitari lapangan. Di bagian tengahnya kemungkinan besar hanyalah tanah kosong. Sementara sekarang, lapangan ini menjadi hutan kota, dengan kolam renang, dan monumen Bandung Lautan Api di tengah-tengahnya. Pedagang banyak tersebar di bagian barat Tegallega, sekaligus dekat dengan terminal.

Pada tahun 1933, sudah banyak pemukim di sekitar Tegallega, terutama di bagian utara Tegallega. Sementara di sebelah timur, yang kini menjadi daerah Sawahkurung (SMP 11, Jalan H. Samsudin) merupakan daerah persawahan yang belum banyak dihuni orang. Kini di area itu telah dipenuhi perumahan; Jalan Sawah Kurung, Jalan Kotabaru, Gang PLN hingga ke Jalan Pungkur.

Demikian, nostalgia kita akan Bandung Tempo Dulu. Yang indah dikenang, yang semoga bisa terulang. Semoga Bandung semakin dicintai oleh warganya, semakin nyaman ditinggali semua penduduknya.

Keterangan:
Gambar di muka merupakan gambar koleksi Wijnand Elbert Kerkhoff/Nederlands Fotomuseum yang dimuat di website AyoBandung. https://www.ayobandung.com/read/2017/02/09/16224/tegalega-riwayatmu-kini

Gambar pada slide komparasi merupakan gambar dari Tropenmuseum yang diakses dari http://collectie.wereldculturen.nl/. Sementara gambar dasarnya merupakan citra google earth yang diakses dari QGIS.

Curug Tjigeureu di Gunung Malabar

Sejak dua tahun lalu, saya rajin nongkrong di halaman situsnya Tropenmuseum, Rijksmuseum, dan Perpustakaan Universitas Leiden. Tujuan saya adalah untuk mencari foto, lukisan, atau sketsa lama yang membuat saya senang ketika membuka dan melihat-lihatnya. Mungkin seperti orang yang hobi belanja senang buka-buka lapak pasar-el (e-commerce), begitu pun saya senang buka-buka situs gambar sejarah.

Dari hasil telusuran saya, saya mengetahui bahwa ada beberapa pelukis zaman kolonial yang hasil dokumentasinya sangat banyak, salah satunya adalah Antoine Payen. Ia adalah seorang pelukis berkebangsaan Belgia yang bekerja bagi pemerintah kolonial pada awal abad ke-19. Ketika Payen bekerja, ia menemukan seorang mutiara terpendam yang kelak akan menjadi pelukis Indonesia paling masyhur. Namanya Raden Saleh. Tulisan lengkap mengenai siapa Antoine Payen bisa dilihat pada tulisan Pak Ridwan Hutagalung berjudul “Payen dan Sang Pangeran Jawa“.

Salah satu gambar paling baru yang saya temukan adalah gambar berjudul “Gezicht op de waterval van de Tjigeureu in de bossen van de berg Malabar” atau jika diterjemahkan bebas menjadi “Pemandangan air terjun Tjigeureu di hutan Gunung Malabar”. Dalam keterangan lukisan tertulis: Dit is de waterval van Cigeureuh bij de berg Malabar. Op de voorgrond zijn twee mannen te zien die kijken naar een Javaanse neushoorn in de verte, atau berarti: Ini adalah air terjun Cigeureuh di gunung Malabar. Di latar depan dua lelaki dapat terlihat sedang melihat badak Jawa di kejauhan.

Gezicht op de waterval van de Tjigeureu in de bossen van de berg Malabar. Antoine Payen – 1841. Sumber Tropenmuseum

Dalam gambar ini, sebuah air terjun yang sangat tinggi menjadi objek utama. Menuju ke air terjun, terdapat jeram-jeram bertingkat dengan aliran yang cukup deras. Hutan digambarkan tidak padat, tapi terbuka. Di tengah bagian dekat dengan pengamat, dua orang tampak bersembunyi. Seorang seolah mengokang senjata, atau mungkin keduanya memegang sejata. Mereka mengamati seekor badak di kejauhan. Cukup menarik juga mengingat Payen menggambarkan satu bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum Becc) yang berada di bagian kanan bawah lukisan.

Saya takjub dengan ketelitian ini. Saya merasa perlu tahu di mana curug ini berada. Dengan penuh semangat saya mencoba mencari tahu, di mana air terjun Tjigeureu ini berada.

Pilihan pertama saya adalah dengan mencari di google dengan kata kunci “Curug Tjigeureu”. Tapi hasilnya nihil. Kemudian ketika saya cari Cigeureuh, maka saya menemukan blog dari http://cekunganbandung.blogspot.com/2010/11/berjuang-menggapai-hulu-cigeureuh.html. Dalam blog ini penulis mencantumkan judul “berjuang menggapai hulu Cigeureuh”. Dalam tulisan ini, ia bercerita tentang perjuangannya dan teman-temannya menyusuri hulu Cigeureuh untuk menuju Curug Siliwangi. Masuk akal juga. Berarti sungai di mana curug ini berada bernama Ci Geureuh, dan curugnya bernama Curug Siliwangi.

Ketika saya mengamati foto Curug Siliwangi, saya merasa ada sedikit persamaan dengan Curug Tjigeureu yang dilukis Payen, terutama dari ketinggian air terjun. Sayang tidak ada foto yang diambil dari lebih jauh. Kemungkinan besar karena vegetasi sangat lebat.

Curug Siliwangi, Gunung Puntang. Sumber Facebook Gunung Puntang

Dalam lukisan Payen, Curug Cigeureuh digambar dari jauh. Namun kita bisa duga bahwa air terjun ini sangatlah tinggi. Begitu pun Curug Siliwangi yang ditulis berketinggian 150 meter. Dalam video-video perjalanan ke Curug Siliwangi yang saya tonton di Youtube, perjalanannya sangat berat dan melewati jeram-jeram. Mungkin itulah jeram yang digambar juga oleh Payen.

Selain itu, saya juga mencoba membandingkan Curug Cigeureuh ini dengan peta-peta lama yang saya punya. Pertama saya membandingkan dengan Peta Wisata Bandung dan Sekitarnya, touristenkaart van bandoeng en omstreken, yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata Hindia Belanda pada tahun 1939. Dalam peta ini, di lembah antara Gunung Puntang dan Gunung Haruman, terletak air terjun tanpa nama yang hanya disebut sebagai Waterval.

Gunung Malabar pada Peta Wisata Bandung yang dipublikasikan oleh Dinas Pariwisata Hindia Belanda

Kemudian saya mencoba mencari informasi mengenai Gunung Malabar di buku Java volume 1, karya Junghuhn. Di dalam buku ini, Junghuhn mendeskripsi menggambarkan profil ketinggian gunung-gunung di Jawa, salah satunya gunung-gunung di Cekungan Bandung. Ketika menggambarkan kompleks Gunung Malabar, yang disebut oleh Junghuhn sebagai Malawar, secara menarik ia menggambarkan satu air terjun, Tjuruk Tjiguru. Saya menduga ini air terjun yang juga dimaksud oleh Payen, Tjurug Tjigeureuh

Franz Wilhelm Junghuhn, Java seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart Vol.1

Kesimpulan: Curug Cigeureuh hampir pasti merupakan air terjun yang berada di lembah di antara Gunung Puntang dan Gunung Haruman, di kompleks Gunung Malabar. Jika benar di sanalah curug berada, maka elevasinya sekitar 1500-1800 mdpl. Kemungkinan curug ini ekivalen dengan Curug Siliwangi yang kita kenal sekarang, namun perlu memastikan koordinat Curug Siliwangi berada. Ada dua informasi penting yang bisa kita dapat dari lukisan Antoine Payen, yaitu: 1) keberadaan bunga bangkai raksasa, dan 2) keberadaan badak jawa. Dua spesies ini merupakan spesies langka, bahkan sekarang badak hanya ditemukan di Ujungkulon saja. Laporan ini menunjukkan bahwa Kompleks Gunung Malabar pernah menjadi rumah bagi spesies-spesies langka Nusantara, entah kondisinya sekarang bagaimana. Meskipun badak sudah pasti tidak ada, semoga yang lain masih ada.

Tentang Gunung Malabar

Mungkin orang-orang kurang awas terhadap Gunung Malabar karena bentuknya yang tidak seikonik Gunung Tangkuban Perahu. Padahal kedua gunung ini berhadap-hadapan. Keduanya megah dibatasi oleh lembah luas di mana jutaan manusia hidup. Dari titik mana pun di tengah Cekungan Bandung kita bisa melihat Gunung Malabar ini. Setiap pagi, dari rumah saya di bilangan Ciwaruga, setiap saya memandang ke arah selatan, terutama di pagi hari, maka gunung ini akan tampak megah berdiri. Mungkin pemandangan yang serupa dengan gambar Payen di bawah ini.

Pemandangan Gunung Malabar yang dilukis oleh Payen dari Bandung Utara

Dalam buku Java jilid 2, Junghuhn mendeskripsi Gunung Malabar sebagai berikut:

Obgleich kein Krater und keine Solfatara als diesem Gebirge zugehörig bis jetzt bekannt ist, so wird er hier dennoch unter die Zahl der Feuerberge aufgenommen, -weil sowohl die Gestalt desselben als auch seine Gebirgsarten. — Lava —, aus welchen er zusammengesetzt ist, deutlich verrathen, dass auch er einst ein thätiger Vulkan war. Siehe die augitische und basaltische L.Nr. 55 und 56 und die Gluthbrezzie: L.Nr.54, welche in seinem nordlichen Vorgebirge gefunden werden. — Über seine Lage und Verbindung mit den benachbarten Bergen wird hier sowohl, wie bei allen übrigen Preanger Vulkanen auf die beigefügte Skizze verwiesen. Sein Gipfel ist keineswegs konisch, sondern er besteht aus zwei lang hingezogenen, schmalen Firsten, die ostwärts in einem spitzen Winkel zusammenstossen und die 7090′ hohe Ostkuppe des Gebirges bilden. Auch ihre entgegengesetzten Endigungen sind schroff und kuppenartig. Sie schliessen einen beinahe dreieckigen Raum ein, der sich westnordwestwärts in weiter, klüftiger Öffnung zum Berge hinabzicht und den man nicht anstehen kann, für den alten spaltenförmigen Krater des G.-Malawar (wahrscheinlich abgeleitet von Mawar = Rose und würde dann so viel bedeuten als : überall mit Rosen geschmückt) zu halten, wenn man die schroffe Senkung beider Bergfirsten nach innen wahrnimmt, die mit ihren steilen Wänden einander gegenüberstehen und sich als Kratennauern beurkunden. Die südlichere der Firsten zieht sich mehre Pfähle lang hin. Es ist sehr zu vermuthen, dass man im Grunde der genannten
grossen Kluft zwischen den Firsten bei genauer Nachsuchung noch überzeugendere Beweise ihres ehemaligen Charakters finden und vielleicht noch dampfende Fumarolen oder kochende Schlammpfützen daselbst antreffen wird. Übrigens sind sowohl die Kluft als die Firsten mit uralter Waldung überzogen, deren Physiognomie ich an einem andern Orte versucht habe zu schildern und nur zwei warme Quellen am Südabhange des Berges sind die einzigen jetzt bekannten Überbleibsel ehemaliger Vulkanität. ~ Ich besuchte den Berg im Monat October 1839 von seiner Ostseite her, wo der Pasanggrahan Malawar tjiparai gelegen ist.

Franz Junghuhn, Java seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart Vol.2

Berikut adalah penerjemahan bebas oleh penulis dibantu dengan Google Translate:

Meskipun tidak dijumpai kawah dan solfatara di gunung ini dan sekitarnya, gunung ini tetap termasuk sebagai gunung api, terutama karena bentuk, jenis gunung, serta lava yang menyusun gunung ini menandakan bahwa gunung ini dulunya merupakan gunungapi yang aktif. Sampel batuan yang saya kumpulan berjeniskan lava augit dan lava basaltik (lihat nomor 55 dan 56) serta Gluthbrezzie (Breksi berwarna arang gelap, glut = arang dalam bahasa Jerman) bernomor 54 yang saya temukan di punggungan sebelah utara.

Sebagaimana gunungapi lainnya di Priangan, saya membuat referensi lokasi pengambilan spesimen ini relatif terhadap lokasi gunung dan hubungannya dengan gunung-gunung di sekitarnya. Puncak gunung ini tidak berbentuk kerucut, tetapi terdiri atas dua tebing sempit yang memanjang yang pertemuannya membentuk sudut lancip di sebelah timur dengan ketinggian 7090 kaki, di sebelah timur kompleks pegunungan ini. Ujung dari tebing-tebing ini kasar dan berbentuk kubah. Mereka melampirkan ruang hampir segitiga yang memanjang barat-barat laut di celah yang lebar, bergerigi ke G. Malawar (kemungkinan berasal dari kata Mawar yang berarti bunga, sehingga diasumsikan Junghuhn berarti gunung yang dipuja layaknya bunga). Mungkin bagian tengah dari gunung ini adalah kawah. Sangat dicurigai bahwa pada celah yang disebutkan di antara punggungan-punggungan akan ditemukan bukti yang lebih meyakinkan mengenai keberadaan fumarol yang mengepul atau genangan lumpur mendidih di sana. Kebetulan, pola lembahan dan punggungan ditutupi dengan hutan lebat, fisiognomi yang saya coba gambarkan di tempat lain, dan hanya dua mata air hangat di lereng selatan gunung adalah satu-satunya sisa vulkanisitas bekas gunung berapi yang diketahui. ~ Saya mengunjungi gunung ini pada bulan Oktober 1839 dari sisi timurnya, di mana Pasanggrahan Tjiparai Malawar berada.

Franz Junghuhn, Java volume 2, dengan penerjemahan bebas penulis.

Dalam katalog spesimen yang dikumpulkan oleh Junghuhn: Catalog der Geologischen Sammlung von Java. Oder Verzeichniss der Felsarten gesammelt zur erlauterung des geologischen baues dieser Insel niedergelegt und geordnet im Reichs-museum fur Naturgesichte zu Leiden von Fr. Junghuhn (Katalog Koleksi Geologi Jawa. Atau daftar jenis batuan yang dikumpulkan untuk menjelaskan struktur geologi pulau ini diletakkan dan dipesan di Museum Sejarah Alam Reich oleh Leiden oleh Franz Junghuhn), sampel dari Malabar bernomorkan L.54-L.56. Sampel-sampel ini adalah:

Halaman 13
  1. Batu trachytic dari gluthbrezzie. Ujung barat punggungan G. Malawar: dari dinding vertikal, ke kiri jalan yang mengarah dari Bandong ke Bandjaran.
  2. Lava doleritik dan basaltik. Lereng G. Malawar: Bandjaran dan Pengalengan, dasar sungai Tji-Biana (distrik yang sama)
  3. Lava syenitik dan basaltik. G. Malawar. dasar sungai Tji-Ngiroan dekat Pengalengan

Sumber:

  1. Lukisan Tjurug Tjigeureu dari Tropenmuseum
  2. https://mooibandoeng.com/2016/02/02/payen-dan-sang-pangeran-jawa/
  3. http://cekunganbandung.blogspot.com/2010/11/berjuang-menggapai-hulu-cigeureuh.html
  4. https://www.facebook.com/BuperGPCommunity/posts/air-terjun-curug-siliwangiterletak-di-areal-wana-wisata-gunung-puntang-di-komple/511613966045832/
  5. Touristenkaart van bandoeng en omstreken. 1939
  6. Franz Wilhelm Junghuhn, Java seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart Vol.1
  7. Franz Wilhelm Junghuhn, Java seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart Vol.2
  8. Catalog der Geologischen Sammlung von Java. Oder Verzeichniss der Felsarten gesammelt zur erlauterung des geologischen baues dieser Insel niedergelegt und geordnet im Reichs-museum fur Naturgesichte zu Leiden von Fr. Junghuhn