Mencari Singkapan Danau Bandung

Hampir semua sudah tahu bahwa Dataran Bandung dulunya adalah suatu danau purba raksasa. Legenda ternama di Bandung, yaitu Legenda Sangkuriang berkisah tentang Pembendungan Ci Tarum untuk membuat danau dalam satu malam. Yang mana menjadi sasakala, atau asal usul kejadian dari Bandung. Sejak zaman Belanda, fakta tentang Danau sebagai bagian sejarah Bandung bahkan telah dijadikan sebagai identitas kota. Gambar danau menjadi bagian dari logo kota Bandung pada zaman kolonial dan juga sekarang. Kabupaten Bandung pun sama, memasukkan unsur danau ke dalam logonya.

Jika orang-orang ditanya, di mana jejak danau itu berada? Kebanyakan akan menjawab dengan mengaitkannya pada toponimi daerah-daerah yang ada di Bandung. Dulu Bandung adalah danau, buktinya ada banyak situ, misal Situ Aksan. Ketika danau mengering, maka menyisakan rawa, yang dalam bahasa Sunda disebut sebagai Ranca. Maka dari itu banyak toponimi yang menggunakan kata Ranca, misal Rancabadak, Rancabolang. Topik terkait hal ini dibahas sangat renyah oleh Pak T. Bachtiar dalam bukunya Toponimi, Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat.

Meski demikian, sebenarnya tempat-tempat itu sudah tak menyisakan sama sekali bentuk-bentuk danau. Hampir semua sudah diurug dan diubah menjadi pemukiman atau perkantoran. Hingga mungkin kita jadi bingung, di mana sebenarnya jejak danau itu bisa kita lihat langsung dengan mata kepala sendiri?

Danau Bandung Purba sendiri, seperti namanya, hanya ada di masa lampau. Danau ini terbentuk karena aktivitas tektonik, yang mengakibatkan Bandung membentuk cekungan, menghambat air bisa mengalir. Ini terjadi sekitar 135 ribu tahun yang lalu. Ditambah lagi dengan letusan Gunung Tangkubanperahu yang membendung Ci Tarum sekitar 105 ribu tahun yang lalu mengakibatkan naiknya muka danau cukup tinggi. Namun ternyata catatan geologi menyatakan bahwa tak selamanya danau ini ada. Selama lebih dari 100 ribu tahun antara 135-20 ribu tahun silam, setidaknya ada 4 fase danau. Jadi danau ini pernah kering juga, namun kemudian terisi lagi, lalu kering lagi, dan seterusnya. Keringnya danau secara permanen terjadi sekitar 20 ribu tahun silam, pada masa Glasial terakhir. Pembahasan mengenai Danau Bandung bisa dibaca pada buku The late quaternary evolution of the Bandung Basin, West-Java, Indonesia karya Rien Dam, 1994.

Kembali lagi ke pertanyaan, di mana kita bisa menemukan singkapan danau Bandung yang baik?

Dari berbagai referensi, danau Bandung Purba elevasi tertingginya berada antara 690-725 mdpl. Pada elevasi inilah maksimal kita bisa menemukan endapan danau. Maka kita bisa mencari singkapan endapan danau pada elevasi di bawah ini. Sebaiknya kita menghindari mencari pada elevasi-elevasi antara 690-725 mdpl, kenapa? Karena pada elevasi tinggi ini, kita akan sulit menemukan singkapan yang baik, gara-gara masih ada pengaruh dari endapan-endapan sungai atau kipas aluvial.

Prof. Koesoemadinata dalam makalahnya pada tahun 1981 berjudul Stratigrafi dan Sedimentasi Daerah Bandung mengelompokkan endapan danau ke dalam Formasi Kosambi, dengan lokasi tipe di sungai kecil di sekitar Kosambi, Cikudapateuh, Bandung. Lokasi tipe artinya adalah lokasi di mana formasi geologi ini tersingkap baik.

Saya mencoba mengunjungi sungai di sekitar Kosambi, namun hanya menemukan singkapan batuan yang berbutir kasar, mungkin pasir kasar. Dugaan saya batuan di sini merupakan batuan vulkaniklastik rombakan dari letusan Gunung Tangkubanperahu. Memang deskripsi litologi Formasi Kosambi tak hanya batuan endapan danau saja, melainkan juga batulempung gunungapi, batulanau gunungapi dan batupasir gunungapi. Mungkin yang di daerah Kosambi itu adalah yang batupasir gunungapi.

Saya mencoba mencari lebih ke hilir, yaitu di Jembatan Ci Kapundung di sekitar Jalan Pungkur, belakang Universitas Langlangbuana. Di dasar sungai tersingkap batuan, namun sekilas batuan ini terlihat cukup keras, sehingga saya menduga ini masih berupa batupasir gunungapi.

Singkapan paling baik akhirnya saya temukan di Ci Kapundung pada segmen antara Jalan Soekarno-Hatta – Batununggal, tepatnya di tepi jalan Sukaati, sekitar Puskesmas Mengger. Agak ke hulu dari titik singkapan ini, Ci Kapundung dibendung, alirannya dialihkan ke kanal yang ada di tepi jalan. Karena ada bendungan, debit air sungai di tempat singkapan ini berada menjadi kecil. Singkapan menjadi terbuka dengan baik.

Di titik yang kondisinya sekarang ini agak menyedihkan, tersingkap batuan lempung, yang merupakan jejak endapan danau Bandung Purba. Batuannya berwarna abu gelap, berlapis tipis, cukup mudah dihancurkan. Dalam 10 tahun saya tertarik mengeksplor Cekungan Bandung, baru kali ini saya melihat singkapan Danau Bandung di bagian timur Cekungan Bandung. Sebelumnya saya melihatnya di sebelah barat, tepatnya di sekitar Cililin. Sehingga saya pikir tempat ini cukup penting untuk sejarah geologi Kota Bandung.

Seperti yang saya bilang tempat ini menyedihkan. Di tepi jalan berdiri bangunan-bangunan pengepul rongsok/sampah, yang bangunannya membelakangi sungai. Di sungai banyak sampah-sampah berserakan. Kita bisa lihat juga mulut-mulut pipa pembuangan mengarah ke sungai, melimpasi dengan limbah. Limbah apapun itu. Tak ingin saya membayangkan atau menceritakannya.

Pada titik singkapan ini, setahu saya belum ada orang yang melaporkannya. Mungkin ada peneliti geologi sebelum saya yang pernah mengunjungi titik ini. Karena itu saya berani mengklaim bahwa saya yang pertama menuliskan tentang titik ini ke dalam media daring. Saya ingin mencoba memberikan makna bagi tempat ini, menginterpretasi mengenai informasi yang disimpan di sini, sehingga orang bisa mengetahuinya. Mengapresiasinya.

Ada beberapa pelajaran geologi yang bisa kita pelajari di sini. Yang pertama adalah bagaimana sedimen sungai berkembang mulai dari hulu ke hilir. Jika kita menyusuri Ci Kapundung sejak Maribaya hingga ke Sukaati, kita bisa melihat perubahan yang kentara dari batuan yang menyusun sungai ini. Di Maribaya kita akan temukan batuan lava basalt, yang menerus hingga ke Curug Dago. Dari Curug Dago hingga ke Cihampelas kita akan temukan endapan lahar dan endapan sungai yang berukuran besar. Bongkah-bongkah basalt yang membundar. Kemudian semakin ke hilir dari Cihampelas hingga ke Braga dan Pungkur, kita akan temukan endapan pasir gunungapi. Lalu menjadi endapan lempung di Sukaati. Sejauh yang saya tahu, ke arah hilir hingga ke muara Ci Kapundung di Dayeuh Kolot, tidak ada lagi singkapan yang tersingkap.

Pelajaran yang kedua adalah mengenai Danau Bandung itu sendiri. Bayangkan berapa lama yang dibutuhkan untuk mengendapkan lempung membentuk singkapan yang kita lihat sekarang. Kemudian kita bisa berimajinasi tentang tinggi kolom air yang menggenangi kawasan tempat kita berdiri, jika kita asumsikan bahwa permukaan danau ada pada elevasi 690-720 mdpl. Titik ini ada pada elevasi 676 mdpl, maka kita bisa membayangkan tinggi kolom air antara 14-44 meter!

Jika ingin menelusuri lebih jauh tentang endapan danau, maka kita bisa membuka buku Evolusi Geologi Kuarter Cekungan Bandung yang ditulis oleh Rien Dam. Endapan danau ini menyimpan catatan perubahan iklim purba, beberapa kali siklus glasial-interglasial, yang berguna untuk merekonstruksi keadaan masa lampau.

Pelajaran yang ketiga, adalah mengenai keadaan lingkungan di Cekungan Bandung. Sangat menyedihkan jika kita mengingat bahwa penghargaan kita terhadap sungai sangatlah minim. Sungai belum jadi urat peradaban kota, melainkan menjadi saluran pembuangan, yang kotor, dan kita punggungi. Padahal kota-kota yang beradab selalu membangun dengan menggunakan sungai sebagai beranda kota. Lihat Frankfurt dengan Sungai Main-nya, Praha dengan Sungai Elbe-nya, London dengan Sungai Thames-nya.

Dari titik ini kita bisa mencoba memperkaya makna yang kita pahami atas Ci Kapundung. Bahwa sungai ini menyimpan informasi yang penting, terkait sejarah pembentukannya, yang bisa dipelajari dan dilihat langsung dengan mata kepala sendiri. Bukan hanya dari toponimi-toponimi saja, yang kini sudah semakin kehilangan identitasnya, karena berubahnya tata guna lahan menjadi kawasan terbangun. Lalu titik singkapan ini bisa menjadi simpul kegiatan geowisata, menjadi lokasi yang menarik untuk dikunjungi, sehingga semakin banyak orang yang peduli.

Kesimpulan

Salah satu singkapan jejak Danau Bandung Purba terletak di Ci Kapundung pada segmen Jalan Sukaati, antara Jalan Soekarno Hatta dan Batununggal. Di sini tersingkap endapan lempung berwarna hitam yang berlapis, yang merupakan jejak endapan danau Bandung Purba.

Singkapan ini sangat baik jika digunakan sebagai salah satu simpul geowisata di selatan Bandung, karena di wilayah ini sangat minim objek geowisata. Kita bisa kembangkan kegiatan ekskursi berjalan kaki, misal dari Batununggal hingga ke Taman Regol di Pasirluyu, dengan perjalanan sekitar 3 km.

Mari ikuti Geotrek: Mengenal Danau Bandung Purba, hari Sabtu 9 Oktober 2021, jam 06:30 – 10:00, titik kumpul di Pool Primajasa Batununggal. Untuk mendaftar bisa lewat

malikarrahiem.com/geotrekdanaubandung

Geotrek: Mengenal Danau Bandung

Mengundang Bapak, Ibu, adik-adik, rekan-rekan sejawat, handai taulan, untuk ikut dalam Geotrek: Mengenal Danau Bandung, yang akan diadakan pada hari Sabtu, 9 Oktober 2021, pukul 06:30-10.00. Terbatas untuk 25 orang. Untuk mendaftar silakan mengeklik tautan berikut:

Rute perjalanan Pool Primajasa Batununggal (start) – Jembatan Cikapundung Batununggal – Jalan Sukaati – Taman Regol Sukaluyu (finish). Materi yang akan dibahas: Cekungan Bandung, Sejarah Danau Bandung Purba, Singkapan Danau Bandung Purba, dan Permasalahan Lingkungan di Bandung.

Pemandunya saya sendiri, Muhammad Malik Ar Rahiem, anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Geotrek ini tidak gratis, tapi bersifat pay as you wish artinya Anda bebas untuk membayar pemandu senilai yang Anda mampu, sebagai apresiasi kepada pemandu. Silakan membayar setelah acara selesai.

Akan ada sedikit menyusur sungai, semoga sepatu tidak basah, tapi perlu siap dengan kondisi ini. Outfit: pakaian yang nyaman, baiknya tidak menjuntai.

Doorprize: 1 eksemplar buku Wisata Bumi Cekungan Bandung karya Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar (2009)

Diskursus Danau Bandung: Dari Zaman Junghuhn hingga Sekarang

Oleh: Muhammad Malik Ar Rahiem (Kelompok Riset Cekungan Bandung)

Pertama Kalinya Danau Bandung Dikenali

Diskursus mengenai asal-muasal hingga jebolnya Danau Bandung sudah terjadi cukup lama. Salah satu pendapat awal dari Junghuhn yang mengatakan bahwa Bandung pastilah dulunya adalah sebuah danau,

katanya: Seluruh wilayah dataran tinggi Bandung, sepertinya merupakan dasar dari suatu danau. Ada beberapa alasan dari dugaan ini, yaitu: 1) dataran yang nyaris sempurna ke semua arah; 2) tepi-tepiannya dikelilingi oleh pegunungan, di mana kaki gunungnya terpisah sepenuhnya dari dataran; 3) keberadaan rawa-rawa yang sangat luas; 4) suatu cekungan air yang sangat besar, berasal dari gunung-gunung tinggi yang berhutan lebat dan ratusan aliran sungai, namun kesemuanya bermuara menuju ke satu sungai, Tjitaroem, yang keluar melewati celah sangat sempit di Pegunungan Kapur di sebelah barat. Sungai ini terjepit di antara dinding-dinding bebatuan yang tinggi dan curam. Alirannya berbuih deras, seolah berbusa, ketika melewati bongkah-bongkah bebatuan, hasil runtuhan bebatuan pegunungan yang digerus sungai (Junghuhn, 1841).

Karya Junghuhn di Jawa memikat seorang Geolog Jerman yang berkunjung ke Jawa dalam rangka ekspedisi sains pada tahun 1858, namanya Ferdinand von Hochstetter. Ia mendapatkan saran dari Junghuhn untuk melakukan ekskursi geologi mengunjungi lembah Ci Tarum mulai dari Curug Jompong hingga ke Sanghyang Tikoro. Tak jauh dari Curug Jompong ia menemukan lapisan-lapisan sedimen berlapis datar, terutama lempung, yang menurutnya merupakan endapan danau yang menjadi dasar dari Dataran Tinggi Bandung (Hochstetter, 1864).

Pada tahun 1896, Reindeer Fennema, seorang geolog Belanda, mengemukakan pendapatnya tentang penyebab terjadinya danau. Menurutnya dulu Ci Tarum mengalir ke arah utara, kemudian Gunung Burangrang meletus, dan produk letusannya menutupi lembah aliran Ci Tarum di sekitar Padalarang. Akibatnya danau terbentuk, hingga akhirnya menemukan jalur di sebelah barat, di mana Ci Tarum menoreh pegunungan kapur Rajamandala (Stehn & Umbgrove, 1929; Verbeek & Fennema, 1896). Selain menoreh lembah ini, bocornya danau juga menoreh endapan danau yang telah terbentuk tebal sebelumnya. Ini bisa terlihat dengan baik, terutama di hilir Curug Jompong, sebelum sekarang tergenang oleh Waduk Saguling.

Pada tahun 1926, N.J. Taverne, seorang vulkanolog, menyatakan kesetujuannya terhadap pendapat Fennema. Ia menyatakan bahwa lembah yang kini ditoreh oleh Ci Tarum adalah hasil erosi yang lebih muda. Menurutnya, berdasarkan topografi pegunungan kapur tersier, kita bisa perkirakan bahwa tinggi muka air danau adalah antara 700-740 mdpl. Kita bisa duga juga bahwa di tepian-tepian danau akan terdapat deta-delta (Taverne, 1926). Misal Kota Bandung yang didirikan di atas delta yang terbentuk akibat aliran Ci Mahi, Ci Beureum, dan Ci Kapundung. Atau Soreang yang terbentuk di atas delta Ci Sondari dan Ci-Widey, serta Majalaya yang terbentuk di atas delta Ci Tarum.

Penelitian mendalam mengenai endapan danau pertama kali dipublikasikan oleh Stehn dan Umbgrove pada tahun 1929. Penelitian mereka terutama dilakukan ke arah hilir dari Curug Jompong, jauh sebelum Ci Tarum tergenang oleh Waduk Saguling, sehingga sangat penting karena lokasi penelitiannya kini tak bisa diakses lagi. Hasilnya adalah bahwa lapisan-lapisan horizontal endapan danau ini mengendap di atas lapisan yang terlipat, dan pada lapisan yang lebih tua ini didapatkan fosil-fosil mamalia, seperti Bos, Sus, dan Cervus, selain juga fosil-fosil moluska (Stehn & Umbgrove, 1929).  

Pada tahun 1934, R.W. van Bemmelen mempublikasikan peta geologi Lembar Bandung skala 1:100.000. Dalam peta ini dan buku keterangan peta, Bemmelen mengemukakan mengenai Danau Bandung dan sejarah pembentukannya (Bemmelen & Szemian, 1934). Van Bemmelen sangat tertarik terhadap evolusi geologi di Cekungan Bandung, hingga menuliskan cukup rinci dalam kitabnya yang paling penting, The Geology of Indonesia. Menurutnya pembentukan Danau Bandung terjadi akibat letusan Tangkuban Perahu, yang ia beri nama Erupsi Fase A. Erupsi ini membendung Ci Tarum dan menghasilkan danau dengan ketinggian maksimal 720 mdpl, hingga kemudian menyurut akibat menemukan jalan keluarnya di sekitar Saguling (Bemmelen, 1949). Ia juga menyitir pendapat arkeolog, Von Koenigswald yang melaporkan penemuan artefak obsidian pada lereng-lereng di Cekungan Bandung. Menurut Koenigswald, karena artefak hampir selalu ditemukan pada wilayah yang cukup tinggi, maka masuk akal bila di tengah-tengahnya terdapat danau (Koenigswald, 1935). Menurutnya juga, sumber obsidian berasal dari wilayah sekitar Kendan dan Nagrek, yang berada di sekitar elevasi 700 mdpl, sehingga mungkin manusia purba ketika itu berperahu melewati danau untuk saling bertukar barang, salah satunya komoditas berbahan obsidian. Keberadaan artefak dan kisah Sangkuriang yang begitu sesuai dengan kejadian geologi, membuat van Bemmelen meyakini, bahwa manusia purba Bandung menyaksikan pembendungan Ci Tarum oleh letusan gunungapi yang terjadi dalam satu malam.

Gambar 1 Lokasi penemuan artefak dan delineasi Danau Bandung Purba (Koenigswald, 1935)

Endapan danau Bandung dipetakan sebaran dan stratigrafinya oleh Koesoemadinata dan Hartono pada tahun 1981. Menurut mereka, Endapan Danau Bandung dapat dikelompokkan menjadi Formasi Kosambi (Koesoemadinata & Hartono, 1981). Nama ini digunakan untuk menggantikan nama Endapan Danau yang digunakan dalam peta geologi yang ada sebelumnya (Alzwar et al., 1992; Silitonga, 1973; Sujatmiko, 1972). Ciri litologinya berupa batulempung, batulanau, dan batupasir, yang belum terkompaksi dengan baik, dengan umur Holosen.

PenulisTinggi Max Danau BandungKeteranganSumber
N.J. Taverne700-740 mdplBerdasarkan rekonstruksi elevasi lembah di perbukitan kapur Rajamandala(Stehn & Umbgrove, 1929; Taverne, 1926)
Von Koenigswald723 mdplBerdasarkan elevasi tertinggi di Padalarang, di mana Danau Bandung mungkin bocor. Penemuan artefak di lereng-lereng Cekungan Bandung(Koenigswald, 1935)
Van Bemmelen720 mdplHasil erupsi Gunung Tangkuban Perahu fase A(Bemmelen, 1949)
Koesoemadinata dan Hartono725 mdplPemetaan stratigrafi Cekungan Bandung(Koesoemadinata & Hartono, 1981)
Suparan-Dam700 mdplPemetaan geologi Kuarter Cekungan Bandung(M. A. C. Dam & Suparan, 1992)
Rien Dam690 mdplBerdasarkan data endapan danau dan rekonstruksi kompaksi sedimen(DAM, 1994)
Brahmantyo-Bachtiar700-712.5 mdplAnalisis terhadap pola kontur 700 dan 712.5 mdpl(Brahmantyo & Bachtiar, 2009)
Tinggi maksimal permukaan Danau Bandung Purba menurut beberapa peneliti

Bobolnya Danau Bandung

Sampai titik ini, hampir semua peneliti bersepakat bahwa Danau Bandung purba itu pernah eksis. Dan semua bersepakat bahwa jebolnya Danau Bandung terjadi di Lembah Ci Tarum yang menoreh Perbukitan Rajamandala, di sebelah barat Bandung. Namun di titik mana?

Ketika pertama keluar dari lembah yang terjal, Ci Tarum menghadapi bukit batugamping yang bernama Pasir Sanghyang Tikoro. Bukit ini dinamai demikian karena di bagian bawahnya terdapat goa kapur, di mana aliran deras Ci Tarum masuk ke dalamnya. Saking megahnya, hal ini membangkitkan imajinasi, Ci Tarum masuk ke dalam tenggorokan Tuhan, karena begitulah arti secara harfiah dari Sanghyang Tikoro. Saking megahnya, goa ini telah dikunjungi begitu banyak orang, bahkan seorang Antoine Payen, yang merupakan guru dari pelukis legendaris Indonesia, yaitu Raden Saleh, pada sekitar 1820an pernah melukis goa ini.  

Catatan paling tua terkait Pembendungan Danau Bandung di Sanghyang Tikoro mungkin dari Jonathan Rigg, seorang Inggris yang menulis kamus Sunda-Inggris (Rigg, 1862). Dalam lema mengenai Tangkuban Prahu, ia menyatakan bahwa pembendungan Ci Tarum terjadi di Sanghyang Tikoro. Rigg mencatat ini berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, yang melegenda di Tatar Sunda. Saking melegendanya, menurut T. Bachtiar, pada masa Perang Kemerdekaan, pejuang Jawa Barat berencana meledakkan Sanghyang Tikoro (Brahmantyo & Bachtiar, 2009), sehingga alih-alih Bandung Lautan Api, yang terjadi adalah Bandung yang kembali tergenang. Legenda ini kemudian diformalkan ke dalam sains oleh Katili yang menulis buku Geologi Indonesia, dan digunakan sebagai buku panduan Ilmu Bumi bagi guru Geografi, sehingga hampir semua meyakini Sanghyang Tikoro sebagai tempat bobolnya Danau Bandung (Brahmantyo & Bachtiar, 2009).

Gambar 2 Sanghyang Tikoro sebelum adanya PLTA Rajamandala

Baru kemudian pada tahun 2002, melalui analisis geomorfologi, diketahui bahwa Danau Bandung tak pernah mencapai Sanghyang Tikoro, sehingga mustahil di Sanghyang Tikoro terjadi kebocoran. Alih-alih Sanghyang Tikoro, bobolnya Danau Bandung diduga terjadi lebih ke hilir, tepatnya di lembah sempit antara Pasir Kiara dan Pasir Larang (Brahmantyo et al., 2002). Bagaimana mekanismenya? Hal ini masih berupa hipotesis. Menurut Brahmantyo, pembobolan terjadi karena erosi ke hulu yang ekstrim karena muka air laut surut begitu dalam pada masa glasiasi terakhir (Brahmantyo & Bachtiar, 2009).

Salah satu penelitian yang memanfaatkan metode modern adalah penelitian dari Rien Dam pada dekade 1990an. Dam tertarik pada endapan danau Bandung, karena meyakini bahwa endapan ini menyimpan rekaman iklim yang sangat panjang dan berguna bagi rekonstruksi paleoiklim global, karena merekam sejarah beberapa kali siklus glasial dan interglasial. Dam melakukan pengeboran dan menganalisis inti bor yang dihasilkan, baik secara deskriptif, dan juga dengan analisis palinologi, sedimentologi, dan juga penanggalan absolut menggunakan Karbon-14 dan Uraniun-Thorium. Beberapa hasil penting yang didapatkan antara lain bahwa pengendapan sedimen danau terjadi sejak sekitar 130 ribu tahun silam dan mengalami fluktuasi dan sesekali diselingi letusan-letusan gunungapi yang kuat (DAM, 1994). Endapan danau tidak terendapkan lagi sejak 16 ribu tahun silam, yang mana menggugurkan pendapat van Bemmelen, yang menduga pembendungan terjadi 6000 tahun silam (Bemmelen, 1949; Brahmantyo & Bachtiar, 2009). Dam juga merekonstruksi kemungkinan elevasi tertinggi endapan danau, dan menduganya pada elevasi 690 mdpl, setelah mempertimbangkan subsidensi dan kompaksi (R. Dam, 2021).

Dalam penelitiannya juga Dam menyatakan bahwa pembentukan danau tidak semata terjadi karena letusan gunungapi yang membendung Ci Tarum saja, melainkan juga subsidensi tektonik pada Cekungan Bandung dan perubahan iklim menjadi lebih humid pada sekitar 125 ribu tahun silam. Selama lebih dari 100 ribu tahun eksis, Danau Bandung Purba mengalami fluktuasi ketinggian, akibat efek iklim, dan juga erupsi gunungapi. Letusan gunungapi yang materialnya mengisi cekungan, mengakibatkan muka danau menjadi naik, terutama pada 35-20 ribu tahun yang lalu. Sementara itu hilangnya Danau Bandung terjadi karena beberapa faktor, yaitu: 1. Sedimentasi yang mengisi penuh cekungan, 2. Faktor iklim, 3. Erosi dari Ci Tarum yang mengakibatkan turunnya elevasi dasar sungai (DAM, 1994).

Peluang Penelitian Lanjutan

Pada tahun 1985, Bendungan Saguling diresmikan Pemerintah. Bendungan ini dibangun di daerah Saguling, tepatnya antara Pasir Pancalikan dan Pasir Saguling pada elevasi sekitar 650 mdpl. Dari bendungan, air dialihkan dan kemudian dikeluarkan melalui pipa pesat ke PLTA yang berada di dekat Pasir Sanghyang Tikoro. Pembendungan ini mengakibatkan segmen Ci Tarum antara Saguling dan Sanghyang Tikoro menjadi kering karena hanya dipasok oleh air dari tangkapan air di sekitar lembah ini saja.

Suksesnya PLTA Saguling menginspirasi pembangunan PLTA lainnya, yaitu PLTA Rajamandala yang baru diresmikan pada 2019 silam. PLTA ini memanfaatkan air yang baru dilimpaskan dari PLTA Saguling. Aliran yang keluar kemudian dipindahkan melalui terowongan yang menerobos bukit, untuk kemudian memutar turbin. Akibat dari pembangunan PLTA ini cukup dramatis. Debit aliran Ci Tarum mulai dari Sanghyang Tikoro hingga PLTA Rajamandala menjadi cukup kecil, dari sebelumnya sangat deras dan bisa menjadi tempat latihan arung jeram. Pemindahan aliran ini juga mengakibatkan Goa Sanghyang Tikoro menjadi kering, sehingga bisa disusuri, mungkin untuk pertama kalinya setelah selama puluhan ribu tahun dialiri oleh aliran deras Ci Tarum.

Dalam satu kesempatan menyusuri Goa Sanghyang Tikoro dari arah Sanghyang Kenit, dijumpai endapan-endapan sungai yang terendapkan sangat baik di lorong-lorong goa. Endapan kerakal-berangkal yang membundar dengan sortasi baik dan memiliki struktur imbrikasi mencirikan bahwa di dalam lorong-lorong goa ini, aliran sungai mengalir dengan arus yang sangat deras, namun stabil dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu juga di beberapa tempat dijumpai endapan-endapan banjir, yang mencirikan bahwa di dalam goa ini juga beberapa kali terjadi banjir, atau mungkin cukup rutin. Di dalam goa dijumpai batang kayu yang cukup besar yang mencirikan besarnya aliran air yang masuk ke dalam goa ini.

Gambar 3 Endapan sungai di dalam goa Sanghyang Tikoro. Foto oleh Deni Sugandi

Penemuan ini cukup menarik, sehingga memancing rasa ingin tahu. Menurut pendapat para ahli sejak zaman kolonial, Ci Tarum sebelumnya tidak mengalir lewat Saguling-Rajamandala. Aliran ini relatif baru. Mungkin setelah terjadi pembendungan. Jika pembendungan diduga terjadi pada 130 ribu tahun silam, dan surutnya Danau Bandung terjadi pada 16 ribu tahun silam, maka mungkin Goa Sanghyang Tikoro baru pertama kali dimasuki Ci Tarum pada saat itu juga. Artinya, jika kita menggali parit pada endapan sungai di dalam Goa Sanghyang Tikoro dan mencapai dasarnya, kemudian mencari material yang bisa dianalisis umurnya, apakah kita bisa mengetahui kapan pertama kali endapan sungai masuk ke dalam goa ini? Jika hipotesis ini benar, apakah kita bisa tentukan kapan Danau Bandung jebol?

Penutup

Mengetahui kapan dan dimana Danau Bandung Jebol mungkin bukan hal yang menyangkut hidup dan mati atau terkait dengan hajat hidup orang banyak. Namun rasa ingin tahu adalah bagian dasar dari diri manusia, dan keingintahuan terkait Danau Bandung telah ada sejak ratusan tahun silam. Sangat menarik untuk menelusuri keping-keping berserak mengenai sejarah tempat kita tinggal, yang kini perlahan mulai terangkai menjadi kisah yang utuh. Mulai dari terbentuknya danau, pelamparan danau, bagaimana surutnya, dan kini kita mencoba menjawab kapan terjadinya, secara lebih eksak dan presisi. Wilayah Lembah Ci Tarum di Saguling-Rajamandala kini sedang bersolek untuk mengembangkan diri menjadi objek geowisata kelas dunia, yang salah satu elemennya adalah latar belakang ilmu pengetahuan. Semoga ada kesempatan untuk melakukan penelitian terkait hal ini.

Referensi:

Alzwar, M., Akbar, N., & Bachri, S. (1992). Peta Geologi Lembar Garut (1st ed.) [Map]. Direktorat Geologi, Dinas Pertambangan Republik Indonesia.

Bemmelen, R. W. van. (1949). The geology of Indonesia (Vol. 2). Govt. Printing Office The Hague. https://nla.gov.au/nla.cat-vn2287853

Bemmelen, R. W. van, & Szemian, J. (1934). Geologische Kaart van Java Blad 36, Bandoeng [Map]. Batavia : Topografische Dienst. https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/813208

Brahmantyo, B., & Bachtiar, T. (2009). Wisata Bumi Cekungan Bandung (1st ed.). Truedee Pusaka Sejati. https://catalogue.nla.gov.au/Record/4603322

Brahmantyo, B., Sampurno, & Bandono. (2002). Analisis Geomorfologi Perbukitan Saguling-Sangiangtikoro: Pengeringan Danau Bandung Purba tidak Melalui Gua Sangiangtikoro. Majalah Geologi Indonesia, 17(3).

DAM, M. A. C. (1994). The Late Quaternary evolution of the Bandung Basin, West Java, Indonesia. Thesis VU Amsterdam. https://ci.nii.ac.jp/naid/10013487372/

Dam, M. A. C., & Suparan, P. (1992). Geology of the Bandung Basin. Republic of Indonesia, Department of Mines and Energy, Directorate General of Geology and Mineral Resources, Geological Research and Development Centre.

Dam, R. (2021, July 24). The Geology of Bandung Basin and Potential Future Research. Geologi ITB Menyapa #16, Zoom Meeting. https://youtu.be/nPJdRDpcDe4?t=1736

Hochstetter, C. G. F. R. von. (1864). Geologische Ausfluge auf Java. https://www.zobodat.at/pdf/MON-GEO_0032_0113-0152.pdf

Junghuhn, F. W. (1841). Uitstapje naar de bosschen van de gebergten Malabar, Wayang en Tilu, op Java. bij S. en J. Luchtmans. https://books.google.co.id/books?id=2oP5Vr-eGoIC

Koenigswald, G. von. (1935). Das Neolithicum der Umgebung von Bandung. Tijdschriff voor Indische Taal. Land-En Volkenkunde, 75, 394–419.

Koesoemadinata, R. P., & Hartono, D. (1981). Stratigrafi dan Sedimentasi Daerah Bandung. Ikatan Ahli Geologi Indonesia, 23 pp.

Rigg, J. (1862). A Dictionary of the Sunda language of Java, by Jonathan Rigg … Lange.

Silitonga, P. H. (1973). Peta Geologi Lembar Bandung (1st ed.) [Map]. Direktorat Geologi, Dinas Pertambangan Republik Indonesia.

Stehn, C. E., & Umbgrove, J. H. F. (1929). Bijdrage tot de geologie der vlakte van Bandoeng. Tijdschr. K. Nederl. Aardrijkskd. Genoot., 46, 301–314.

Sujatmiko. (1972). Peta Geologi Lembar Cianjur (1st ed.) [Map]. Direktorat Geologi, Dinas Pertambangan Republik Indonesia.

Taverne, N. J. M. (1926). Vulkaanstudien op Java. Algemeene Landsdrukkerij.

Verbeek, R. D. M., & Fennema, R. (1896). Geologische beschrijving van Java en Madoera (Vol. 2). JG Stemler Cz.

Kerinduan Junghuhn Pada Alam Jawa

Dalam buku Drie en Dertig Jaren op Java (33 Tahun di Jawa), Dr. C.W. Wormser sebagai pembuka bukunya, mengutip pernyataan dari Franz Junghuhn mengenai kerinduan Junghuhn pada Pulau Jawa. Ketika itu Junghuhn sedang berada di Belanda, memulihkan dirinya setelah selama 12 tahun bergulat dalam belantara Hindia.

Aku sangat ingat hutan di sana yang berhias warna hijau yang abadi, ribuan bunga dengan semerbak wangi yang tak pernah pudar. Dalam pikiranku terdengar angin laut yang berdesir melewati rerimbun pohon pisang dan pucuk pohon kelapa. Aku dengar gemuruh air terjun yang berundak turun dari dinding gunung tinggi di pedalaman negeri. Seolah-olah aku sedang menghirup udara pagi yang dingin. Seolah aku sedang melangkah di depan pondok orang Jawa yang ramah. Keheningan yang sunyi dari hutan belantara mengepungku dari segala sisi. Tinggi di langit di atasku terlihat kepakan kelelawar yang berkerumun, beterbangan kembali ke tempat mereka pulang di siang hari. Perlahan kehidupan bergerak semakin dalam ke hutan. Burung merak berteriak berlomba saling pamer suara. Monyet-monyet melanjutkan permainan mereka dan teriakannya menggema dalam sunyi hutan pegunungan, seolah membangunkan hutan dengan nyanyian paginya. Ribuan burung benyanyi merdu. Bahkan sebelum matahari menampakkan warnanya di timur langit, puncak-puncak gunung telah menyala keemasan. Dari ketinggiannya yang agung, mereka seolah melihatku sebagai seorang kawan lama. Betapa rindu dan membuncah keinginanku untuk mendaki, hingga pada hari nanti di mana aku bisa bilang, Salam padamu, Wahai Gunung-Gunung!

Franz Junghuhn,
Leiden, November 1851

Junghuhn Seorang Geologist

Dalam pengetahuan komunal masyarakat Indonesia, Junghuhn dikenal sebagai orang yang membuat grafik lokasi ideal tumbuh kembang tanaman berdasarkan elevasi ketinggian. Pengetahuan ini tersebar, karena dimuat dalam pelajaran geografi ketika SD dan SMP. Setidaknya begitu belasan tahun lalu, ketika saya masih sekolah dasar dan sekolah menengah dulu.

Ketika masuk dalam pelajaran sejarah, nama Junghuhn kembali mengemuka mengingat jasanya dalam budidaya kina. Junghuhn dikenang sebagai perintis budidaya kina di Indonesia, hingga pada awal abad 20, Indonesia menguasai pasar kina dunia.

Tugu Makam Junghuhn di Lembang, dikelilingi pohon-pohon kina. Telah ditetapkan sebagai Cagar Alam Junghuhn seluas 2.5 ha

Selain dari dua bidang tersebut, nama Junghuhn tak banyak saya lihat. Ketika saya berkuliah di jurusan geologi, namanya tak muncul. Mungkin hanya sekali, yaitu ketika almarhum Pak Budi Brahmantyo menceritakan tentang sketsa Junghuhn di Situ Patengan. Namun selebihnya ia tak terdengar.

Padahal Franz Junghuhn (lahir di Mansfeld Jerman, 1809 dan wafat di Bandung, 1864) adalah salah satu perintis penelitian geologi di Hindia Belanda, terutama di Jawa. Karyanya yang paling masyhur, Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart (Jawa, Bentuk, Vegetasi, dan Struktur Pembentuknya), yang terdiri atas tiga volume, pada volume III setebal 329 halaman, khusus membahas mengenai geologi Pulau Jawa. Di dalamnya tercakup pembahasan mengenai sebaran mineral, sedimen, morfologi pegunungan, fosil hewan dan tanaman, formasi-formasi penting, batuan gunungapi, keberadaan metal, bahkan hingga mata air panas. Deskripsi fosil dan lokasi penemuannya menjadi lokasi A-Z, menjadi sumbangan sangat berharga bagi penelitian stratigrafi di Hindia.

Sementara volume I membahas mengenai tanaman-tanaman dan volume II membahas mengenai gunungapi. Pada tahun 1855, Junghuhn mempublikasikan peta Pulau Jawa skala 1:350.000 yang ia bagi ke dalam 4 lembar. Salah satu edisi peta ini merupakan peta geologi dengan warna-warna yang membedakan formasi-formasi batuan. Peta ini merupakan peta geologi kedua Pulau Jawa, setelah peta geologi oleh Horsfield pada awal abad-19.

Peta Geologi Bandung dan Sekitarnya oleh Junghuhn (1855)

Jika kita menelusuri karya-karya Junghuhn secara kronologis, maka kita akan tahu bahwa mulanya Junghuhn tidak begitu awas dengan kondisi geologi. Passion-nya ketika itu lebih ke aspek botani. Menurut Rogier Verbeek, kemungkinan besar Junghuhn mulai awas dengan kondisi geologi adalah pada tahun 1834, ketika ia berkunjung ke Laacher See (Danau Laach) di sekitar Pegunungan Eifel. Di sini, Junghuhn muda terkesima dengan pegunungan vulkanik ini, dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa geologi juga merupakan hal menarik yang belum banyak dipahami.

Pada awal karir Junghuhn di Hindia pun, ia tak begitu awas dengan kondisi geologi. Ia lebih banyak memperhatikan tanaman-tanaman, mendeskripsi, kemudian mengumpulkan spesimennya. Baru pada tahun 1837, ketika Junghuhn ditugaskan menjadi deputi dari Dr. Fritze, ia mulai memiliki pembimbing dalam ilmu geologi. Dalam buku “Topograpische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java, Magdeburg 1845”, Junghuhn menuliskan bahwa dalam perjalanannya dengan Dr. Fritze, Junghuhn melakukan penelitian mengenai tanaman; sementara Dr. Fritze melakukan observasi geologi, mengunjungi kawah, dan mengoleksi bebatuan. Pada bulan Mei 1839, Fritze meninggal dan meninggalkan kesedihan mendalam bagi Junghuhn.

Ernst Albert Fritze (1791-1839)

Junghuhn melanjutkan petualangannya di Jawa hingga tahun 1841, untuk kemudian berpindah ke Sumatera dan melakukan penelitian di Tanah Batak selama 13 bulan. Di rimba yang liar ini, Junghuhn berhasil memetakan topografi kawasan ini dengan sangat baik, sekaligus mempublikasikan pengamatannya mengenai Tanah Batak di Sumatera (Die Battaländer auf Sumatra). Menurut Verbeek, dalam buku tersebut Junghuhn secara eksplisit menyebutkan mengenai rencana pembahasan geologi yang akan dituliskan dalam buku volume kedua. Namun buku tersebut tak pernah terpublikasikan. Buku Die Battaländer auf Sumatra hanya terbit dalam bahasa Jerman. Ini karena naskah buku ini ditolak oleh pemerintah kolonial karena catatan-catatan kritis mengenai perlakuan buruk tawanan Jawa oleh serdadu kolonial.

Pada periode awal Junghuhn di Hindia, selama 13 tahun (1835-1848), kemudian kita kurangkan dua tahun bekerja di Sumatera, dan dua tahun lainnya untuk membuat laporan tentang Tanah Batak, maka sebenarnya Junghuhn hanya punya sekitar 9 tahun untuk meneliti Jawa. Bayangkan 9 tahun untuk mendaki 45 gunung, beberapa di antaranya berkali-kali, 16 di antaranya ia merupakan orang yang pertama, kemudian mengunjungi lembah-lembah yang dalam dan deras, serta menerobos rimba belantara yang kejam, mengumpulkan spesimen dalam peti-peti dan mengirimkannya ke Eropa. Bahkan pada periode awal, kebanyakan dari waktu tersebut bahkan dilakukan pada masa-masa cuti, karena pada awalnya Junghuhn adalah seorang dokter militer. Ini merupakan prestasi yang hebat, menimbang seluruh kesulitan yang ada ketika itu. Perjalanan-perjalanan geologi Junghuhn hanya bisa dilakukan jika ada persitensi yang tinggi, mengingat begitu terperincinya laporan yang ditulis Junghuhn.

“Sebuah cahaya baru yang telah lama dinantikan, baru-baru ini terbit mengenai karakter geognostic Pulau Jawa, melengkapi karya-karya terdahulu Horsfield, Raffles, dan Reinwardt, yang masih belum lengkap. Dibuat oleh peneliti alam yang cerdas, piawai, dan pantang menyerah, Franz Junghuhn. Setelah tinggal lebih dari 12 tahun ia merampungkan karya yang sangat berharga: Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart.”

Alexander von Humboldt dalam Kosmos jilid 4, tahun 1858

Junghuhn harus kita kenang sebagai geologist yang handal. Kita harus ingat bahwa Junghuhn memelajari geologi secara otodidak. Ia tak punya pendidikan khusus geologi. Hal ini juga kemudian mengakibatkan banyak observasinya yang kurang presisi, meski tidak mengurangi rasa apresiasi kita padanya. Verbeek menuliskan bahwa Junghuhn mengklaim bahwa basalt hanya ditemukan di tiga gunungapi di Jawa, padahal batuan ini bisa ditemukan di begitu banyak gunung. Junghuhn juga banyak mendeskripsi batuan plagioklas-trakhit, yang ternyata merupakan batuan andesit. Lebih lanjut Verbeek mengapresiasi Junghuhn begitu tinggi, terkait deskripsi medan yang begitu detil terperinci dengan ilustrasi yang dilengkapi banyak sketsa, profil, dan peta. Namun harus diakui bahwa ketika Junghuhn membahas substansi geologi, maka maknanya kurang begitu berarti, terutama jika kita bandingkan dengan ilmu yang berkembang sekarang.

Beberapa teori penting yang dikemukakan Junghuhn, terutama teori mengenai pembentukan gunungapi. Junghuhn lah yang pertama menyatakan dan membuktikan bahwa kerucut gunungapi volkanik itu bertumbuh dan membangun kerucutnya secara berturut-turut dari letusan debu gunungapi dan aliran lava. Naiknya elevasi gunungapi bukan karena pengangkatan, tetapi karena proses letusan-letusan yang berulang. Teori ini mungkin sekarang sudah usang dan kuno, tetapi pada zaman Junghuhn, teori itu diterima sebagai teori yang benar, dan bahkan didukung oleh Leopold von Buch. Tak hanya von Buch, Charles Lyell, bapak geologi abad 19, dalam bukunya yang legendaris, The Principle of Geology (1868) tak ragu untuk menyebut nama Junghuhn 6 kali dalam bukunya, dan menyitir pendapat Junghuhn, membuktikan betapa berharganya informasi dan analisis yang dikembangkan Junghuhn di Jawa.

Pada akhirnya, Junghuhn harus kita kenang sebagai salah satu perintis ilmu geologi di Indonesia. Seperti yang disampaikan Verbeek dalam memoir mengenang 100 tahun Franz Junghuhn, bahwa Junghuhn memberikan efek sugestif pada generasi muda. Ia menginspirasi pemuda generasi Verbeek untuk berkarya mengeksplorasi bumi Hindia, dan harusnya juga pada generasi-generasi setelahnya, termasuk generasi kita. Junghuhn adalah contoh dari orang berjiwa Promethean, yaitu orang yang memberikan segalanya untuk kemajuan ilmu pengetahuan, tanpa memedulikan konsekuensi terhadap dirinya sendiri.

Wahai Junghuhn, karyamu abadi!

Sketsa geologi pantai dengan undercut di bawahnya. Terdiri atas lapisan batupasir dan kapur
Sketsa Bukit Breksi Batu Nini di sekitar Gunung Buleud Cililin
Sketsa batuan sedimen berlapis nyaris tegak di Sanghyang Heuleut

Beberapa sumber tulisan ini:
1. Junghuhn als Geologe – Rogier Verbeek
2. Forschen – Vermessern – Streiten – oleh Renate Sternagel dan Gerhard Aus
3. Buku Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart volume III – Franz Junghuhn

Danau-Danau di Kota Bandung

Saya baru lihat postingan Pak T.Bachtiar yang akan membahas mengenai Danau-danau yang Hilang di Bandung, hari Senin 2 November 2020, nanti. Topik ini menarik karena saya pernah mendigitasi Peta Kota Bandung tahun 1931, untuk bisa menampalkan danau-danau yang dulu ada, ke keadaan sekarang. Kita tahu bahwa hampir seluruh danau di Bandung itu telah diurug, dijadikan perumahan. Mungkin yang paling terkenal adalah Situ Aksan, yang letaknya di sekitar Jalan Aksan, dekat Jalan Jamika dan Jalan Sudirman. Kini Situ Aksan sudah hilang, berganti menjadi perumahan.

https://www.instagram.com/tbachtiargeo/

Tak perlu kita bahas lebih panjang mengenai sejarah, asal muasal, dan kondisi danau-danau ini sekarang, karena saya yakin akan dibahas dengan sangat renyah oleh Pak Bachtiar nanti. Yang akan saya bahas adalah mengenai hasil digitasi saya, serta hasil penampalan kepada kondisi sekarang. Seberapa banyak tubuh air yang hilang? Berapa luasannya?

Sumber peta yang digunakan adalah Peta Topografi Lembar Bandung Nord dan Bandung Zuid skala 1:25.000 yang diterbitkan oleh Dinas Perpetaan Hindia Belanda tahun 1931. Peta ini bisa didapatkan di https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/ secara cuma-cuma.

Penting untuk saya sampaikan, bahwa cakupan peta ini tidak besar. Luas yang dicakup masing-masing peta sekitar 10×10 km. Pada lembar Bandung Zuid, batas selatannya adalah Dayeuhkolot, sementara pada lembar Bandung Nord, batas utaranya adalah Cihideung dan Ciumbeuleuit. Batas barat dari peta ini adalah di Cimindi, sementara batas timurnya adalah Kiara Condong. Total luas yang tercakup dalam kedua peta yang berjejer utara selatan ini sekitar 20×10 km, atau 200 km2.

Sebagai peta skala 1:25.000, informasi yang ada di dalam peta ini cukup lengkap dan detil. Dalam kaitannya dengan data danau-danau yang ada di Bandung ketika itu, kita bisa bedakan dengan jelas, yang mana tubuh air, sehingga bisa kita digitasi dengan mudah.

contoh Tubuh Air yang ada di sekitar Cihampelas. Sekarang sudah diurug menjadi Apartemen Jardin
Contoh lain tubuh air di Leuwipanjang ke arah selatan, kita bisa lihat ada sangat banyak tubuh air, dengan yang paling luas adalah Situ Tarate di selatan Cibaduyut.

Kedua peta ini kemudian akan kita georeferensi. Cara menggeoreferensinya sama dengan cara menggeoreferensi Peta Geologi yang pernah saya bahas di tulisan saya yang lalu:

Setelah kita cek, ternyata peta ini menampal dengan sempurna di atas peta topografi Openstreetmap yang kita punya. Selanjutnya adalah mendigitasi poligon-poligon danaunya.

Setelah kita plot, ternyata sangat banyak danau yang hilang. Saya akan tunjukkan beberapa lokasi yang familiar:

Di sekitar Sekeloa, dekat Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unpad, kita lihat ada danau yang sekarang sudah hilang. Tak heran di sana ada danau, karena Seke berarti mata air. Maka besar kemungkinan, mata air itu begitu berlimpah hingga membentuk danau.
Situ Aksan di sekitar Pagarsih
Danau besar di antara Jalan Galot Subroto dengan Rel Kereta Api
Situ di sekitar Babakan Ciparay sekitar Jalan Caringin, antara Jalan Kopo dan Jalan Soekarno-Hatta

Serta banyak lagi tubuh air yang ada. Secara total, saya berhasil mendigitasi 73 tubuh air, dengan luas total 50,053 hektar. Sebagai perbandingan komplek Tegalega mulai dari Jalan Inggit Garnasih hingga ke BKR dan Jalan Otista hingga ke Jalan Moh Toha adalah sekitar 20 hektar. Maka luas danau di 2 lembar peta Bandung Nord dan Bandung Zuid pada tahun 1931 adalah 2.5 kali Komplek Tegalega.

Ada >15 danau yang memiliki luas lebih dari 1 hektar. Beberapa danau telah dinamai pada peta tersebut, antara lain Situ Aksan (2,57 ha), Situ Tarate (2,32 ha), Situ Hiang (1,84 ha), dan Situ Goenting (1,54 ha).

Danau paling besar berada di antara Jalan Gatot Subroto – Rel Kereta Api, yang kini sebagian ditempati oleh Trans Studio, luasnya mencapai 6,57 ha.

Danau-danau ini jika kita anggap memiliki kedalaman rata-rata 2 meter, maka seluruh tubuh air ini mampu menyimpan air sebanyak 1 juta meter kubik. Sebanyak itulah air yang harus kita carikan jalur parkirnya, jika kita mengurug seluruh danau, yang mana sudah kita lakukan sejak lama. Jumlah air sebanyak ini bisa mengisi 300 kolam standar olympic yang berukuran 50x25x3 m.

Keseluruhan peta ini kemudian saya buat dalam suatu webmap yang bisa diakses pada halaman berikut:

http://malikarrahiem.com/situdibandung

Webmap ini juga bisa dibuka di website saya, di header > Peta.

Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi suplemen dari presentasi bernas Pak Bachtiar, hari senin nanti.

Salam sehat

Curug Halimun Tahun 1928

Minggu lalu saya baru berkunjung ke Curug Halimun, yang terletak di Kampung Cikondang, Saguling. Saya ke sana dengan Pak Bachtiar dan istri, serta adik saya. Kami dipandu langsung oleh ketua Pokdarwis Curug Halimun, Kang Ryan. Untuk memperkaya wawasan tentang Curug Halimun, maka saya sengaja menerjemahkan artikel tentang Curug Halimun yang ditulis oleh S.A. Reitsma (mantan walikota Bandung tahun 1928). Artikel ini dimual dalam Majalah Tropisch Nederland tanggal 28 Desember 1928.

Berikut terjemahannya:

Pada zaman dahulu kala, Dataran Tinggi Bandung pastilah sebuah danau yang begitu luas. Hal ini bisa terlihat dari formasi batuan yang ditemukan di dasar dataran ini.  Hal ini juga tercermin dari berbagai macam legenda Sunda dan penamaan Bandung. Bandung berarti membendung, yang kemudian juga diabadikan sebagai simbol dari logo kota.

Legenda pembentukan dataran tinggi Bandung masih diceritakan dari mulut ke mulut hinga sekarang. Kisahnya kurang lebih adalah begini:

Pangeran Galuh Sri Pamekas mempunyai seorang putri, namanya Dayang Sumbi. Dayang Sumbi mempunyai seorang putra, namanya Sangkuriang, yang begitu ahli dalam berburu. Suatu hari Dayang Sumbi dan putranya sedang bertengkar. Dayang Sumbi tak sengaja melukai putranya di kepala, meninggalkan jejak luka yang dalam. Sangkuriang pergi dari rumah, berkelana mengarungi Jawa dengan pengikut-pengikutnya.

Tahun dan tahun berlalu hingga Sangkurinag kembali ke Bukit Karang Penganten,di mana ia bertemu dengan seorang putri yang cantik Dayang Sumbi yang telah diusir dari Kerajaan Galuh. Tanpa mengetahui tentang hubungan darah yang mereka berdua miliki, mereka merencanakan pernikahan. Hingga Dayang Sumbi akhirnya menemukan bekas luka di kepala Sangkuriang.

Ia begitu terkejut dengan fakta ini. Dia tidak bisa menikahi putranya sendiri. Untuk membatalkan rencana ini, ia membuat syarat, bahwa untuk menikahinya, Sangkuriang haru membendung Ci Tarum, sehingga ada danau yang luas untuk mereka berperahu di sana. Tenggat waktunya besok pagi. Sangkuriang harus mengerjakannya dalam waktu semalam.

Permintaan yang hampir mustahil ini diterima Sangkuriang. Dengan pasukan jin dan roh alam dewata yang dimilikinya, tugas ini sepele saja baginya.

Sebagian pasukan gaibnya dikirim ke Ngarai Ci Tarum dan mulai membendung dengan bebatuan di bagian yang paling sempit. Pepohonan ditebang. Bukit-bukit digali dan dipindahkan. Bebatuan diangkut dan ditumpahkan. Pasukan yang lain dikirim untuk memotong pohon Lambitang raksasa, yang akan dijadikan sebagai perahu. Sementara pasukannya yang wanita dikerahkan untuk menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan persiapan pesta.

Pekerjaan Sangkuriang dan pasukannya berjalan dengan lancar. Di tengah malam, sebagian besar Bandung telah tenggelam dalam bendungan. Dalam terang purnama, Sangkuriang bersiap-siap menjemput pengantinnya.

Dayang Sumbi mengamati dari puncak bukit. Cemas semakin cemas. Ia berdoa, memohon pertolongan dewa-dewa, terutama Brahma yang agung.

Tak lama muncul seorang dukun yang memberinya daun dari Pohon Surgajaya. Dedaunan ini punya kekuatan gaib, yaitu ketika dilemparkan ke danau, ia merusak bendungan, membentuk lubang yang besar, Sangiang TIkoro, sehingga air mengalir keluar dari bendungan yang telah dibuat. Danau mengering cepat. Sangkuriang yang marah menendang perahu yang kemudian terbalik. Pasukan Sangkuriang musnah di rawa-rawa.

Perahu yang terbalik kemudian menjadi Gunung Tangkuban Perahu, yang berarti Perahu Nangkub, atau perahu terbalik. Tentu ini dinamai karena bentuknya yang memang menyerupai perahu terbalik. Dayang Sumbi yang bersedih karena mengorbankan nyawa begitu banyak manusia untuk menghindari menikah dengan putranya sendiri, sangat bersedih. Ia melompat dan masuk ke dalam gunung, kini menjadi Kawah Ratu, kawah utama di Tangkuban Perahu.

Semua sungai di dataran tinggi Bandung, mulai dari yang berhulu di Pengalengan, Malabar, Tangkuban Perahu semua mengalir dan bermuara ke Ci Tarum. Kota Majalaya dan Dayeuhkolot mengalir di tengah dataran Bandung. Di Dayeuh Kolot sungai ini bisa dinavigasi beberapa kilometer hingga rentetan jeram-jeram dimulai. Curug Jompong adalah jeram paling utama di sana.

Kemudian Ci Tarum menerobos pegunungan Neptunian yang menjadi batas barat Dataran Tinggi Bandung. Sungai ini telah melewati kawasan ini selama ratusan bahkan ribuan tahun, membentuk ngarai yang sempit dan dalam, lebih dari 500m. Di beberapa tempat, lebarnya hanya beberapa meter. Melalui jurang yang sempit dan dalam ini, di tebing-tebing batukapur, volume yang masif dari aliran CI Tarum membentuk deretan air terjun yang sangat menakjubkan, paling menakjubkan yang ditemukan di Jawa, sebelum kemudian keluar di dataran Rajamandala.

Bagian terdalam dari ngarai ini disebut Junghuhn sebagai Sanghyang Heuleut. Tak jauh di sana terletak juga Sanghyang Tikoro. Curug Halimun juga ada di sekitar sana, dan telah ditandai dalam peta.

Untuk sampai ke Curug Halimun, kita bisa berkendara dengan mobil atau kereta dari Padalarang. Mengambil jurusan Buitenzorg (Bogor), kemudian berhenti di Rajamandala. Kemudian di pal-26, sebelum jembatan menuju Cihea kita berbelok. Di sana ada perusahaan bernama “Pangkalan”. Setelah satu setengah jam jalanan menanjak, kita akan sampai di Gunung Guha.

Ci Nungnang, sungai kecil, mengalir di tepian gunung ini, yang juga dikenal sebagai Gunung Nungnang. Gunung ini dideskripsi oleh Junghuhn sebagai berikut:

Tebing batugamping ini menjulang tinggi besar. Puncak dan tepi-tepiannya ditutupi pepohonan yang hijau dan subur. Karena curamnya lereng, maka puncak tebing tidak bisa diakses, sehingga penebangan kayu tak terjadi. Jika ingin melihat gambaran mengenai keindahan alam hutan tropis, kunjungilah tebing kapur Gunung Nungnang. Ia menjulang hampir vertikal setinggi 500 kaki di atas Desa Guha. Pohon-pohon besar, tumbuh tinggi menjulang, seolah kolom raksasa. Keindahannya melampaui semua deskripsi. Batang-batangnya menjulang seolah berlomba siapa yang paling tinggi. Kubah pohonnya seolah amfiteater, yang berdekatan satu sama lain. Saking rapatnya, lereng-lereng curam dinding kapur yang putih ini hanya terlihat di beberapa tempat saja.

Kami terus berjalan dan segera mencapai titik tertinggi, 1736′, di Desa Cacaban. Sebelumnya, dari Puncak Larang, kami disuguhi menikmati pemandangan indah Dataran Batujajar dengan markas tantara artileri dengan kelok-kelok Ci Tarum bermeander seolah memahat dataran.

Tak lama kita sampai di Curug Halimun. Jalan menurun sangat ekstrim. Ci Tarum jatuh bebas sebebas-bebasnya. Suaranya menggemuruh yang menggelegar. Sangat disayangkan bahwa air terjun ini sangat sulit untuk direkam baik melalui sketsa dan foto. Sejauh yang kami ketahui, belum ada rekaman foto dari lokasi yang sangat indah ini.

Foto Curug Halimun dalam buku Bandoeng en Haar Hoogvlaakte (1950)

Kami menyusuri tepian Ci Tarum ke arah hulu. Memanjat dari batu ke batu. Melewati satu per satu jeram. Mengikuti persis jejak langkah dari pemandu kami yang lincah. Menyeberangi sungai-sungai kecil, menembus belantara yang lebat. Hingga akhirnya kami sampai di tempat di mana Ci Tarum menerobos bebatuan. Atau mungkin lebih tepat kita sebut di mana Ci Tarum menyayat dinding pegunungan selama ratusan atau ribuan tahun, dibantu gempa bumi dan banjir yang besar.

Air yang mengalir deras dari Dataran Bandung harus melewati jalur sempit selebar 10m. Di sinilah bendungan itu pasti berada. Saat dataran Bandung yang indah dan subur masih berupa danau yang luas. Di sinilah, di antara gunung-gunung yang tinggi, jalan keluar dari danau yang luas, yang legenda dan hikayatnya direkam dari mulut ke mulut oleh leluhur orang Sunda.

Bertumpu pada dinding yang terjal, dan pohon yang tumbuh di tepiannya, masyarakat lokal membangun jembatan dan menamainya Cukang Rahong (Cukang berarti Jembatan. Rahong artinya Membual (*)). Pohon yang menjadi tumpuan, tumbuh mengakar kuat pada rekahan-rekahan. Bisa kita lihat jika kita melihat dengan cermat. Lebar jembatan ini tak lebih dari 11m, dan tersusun atas beberapa batang bambu, yang disambung satu sama lain membentuk segitiga.  

(*) Dalam Kamus Jonathan Rigg, Rahong berarti celah yang sempit, atau ngarai. lebih sesuai untuk konteks Cukang Rahong. Jadi bukan jembatan pembual, tetapi jembatan di atas celah yang sangat sempit.

Pemandangan dari jembatan ini sangatlah indah. Jembatan kecil di atas ngarai sedalam 40m itu berada sekitar 15m di atas permukaan air. Aliran air menggemuruh melewati bebatuan. Buihnya seolah menggelegak, seolah mendidih.  Di sisi sebelah selatan, kami turun ke sungai, di mana kami melihat pemandangan jejak erosi yang begitu indah. Kami lihat juga pohon yang sangat besar yang terbawa oleh banjir.

Karena kami masih di sekitar Ci Tarum, kami memutuskan untuk mengunjungi Sanghyang Tikoro, atau Tenggorokan Ci Tarum.

Jalan mengarah dari Rajamandala menuju Cidohong, kemudian dari sana menuju perkebunan teh dan karet Rajamandala, lalu menuju hutan belantara. Dari sini kami menyusuri lembah Ci Leat. Sesekali kami bisa melihat pemandangan indah dari puncak Gunung Guha. Tak lama hutan semakin rapat. Terik matahari memancarkan sinarnya di atas kanopi. Di antara vegetasi hutan yang rimbun bisa kita temukan begonia dan anggrek, serta tanaman liana (merambat) terbesar di Jawa dengan legum raksasa yang panjangnya lebih dari 1m. Kemudian kami melewati Desa Cisambeng, di mana terdapat mata air panas mengandung belerang dengan suhu hingga 50oC. Sebuah pipa bambu dipasang di belakang batu-batu besar dan membawa air panas ke kamar mandi kecil, di mana air dikumpulkan di dalam baskom batu. Di dekat sumur, ada pipa bambu lain di bawah, di mana banyak penduduk asli membasuh diri untuk mengobati segala macam penyakit.

Desa Cisambeng terletak di anak sungai kecil yang bernama sama, yang mengalir dari gunung yang juga disebut Cisambeng. Rumah kampung masih seluruhnya dilapisi alang-alang panjang.

Kami bisa sampai di sini dengan menunggang kuda. Kemudian kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Jalanan segera menanjak di Desa Cisambeng. Saat melihat ke belakang, kami melihat gambaran desa yang tenang, sepi, dan damai. Jalan setapaknya sempit, naik dan turun. Tak lama, sekitar 15 menit kami tiba di penghujung perjalanan kami. Ci Tarum baru saja berbelok keluar dari ngarai yang sempit di ujung Gunung Guha. Kemudian sungai ini mengalir mengikuti dinding tebing yang curam dan berhutan, hingga kemudian masuk ke dataran Cihea.

Di sini kami melihat pemandangan yang sangat memesona. Pegunungan kapur berwarna putih keabuan Gunung Guha menjadi latarnya. Ci Tarum terbelah menjadi dua, cabang sebelah kanan menghilang dengan cepat ke dalam gua yang gelap, gua Sanghyang Tikoro. Di atas mulutnya, tanaman-tenaman tergantung miring seolah-olah menjadi karangan bunga. Dengan sangat berhati-hati kami bisa turun sedikit di antara bebatuan, yang bertumpukan satu sama lain. Gua ini kemungkinan besar terbentuk akibat runtuhan dinding bebatuan kapur ini.

Kami menghanyutkan sebuah peti berisi obor yang menyala ke dalam gua. Hasilnya luar biasa! Ribuan kelelawar dan burung walet segera berhamburan keluar dari persembunyiannya. Mereka yang sebelumnya bergelantungan menempel di langit-langit gua segera beterbangan. Sanghyang Tikoro panjangnya beberapa ratus meter. Dari atas gua kami menyusuri dan menemukan beberapa sungai keluar dari gelapnya gua-gua yang dalam ini.

Menggeoreferensi Peta Van Bemmelen

R.W. van Bemmelen adalah geologist paling popular di Indonesia. Karya terutamanya, kitab the Geology of Indonesia adalah bacaan wajib seluruh mahasiswa geologi di Indonesia, sejak almarhum Katili, hingga sekarang. Selain buku ini, van Bemmelen juga aktif melakukan pemetaan. Salah satu karyanya adalah Peta Geologi Lembar Bandung skala 1:100.000 yang diterbitkan pada tahun 1934.

Sejak memahami tentang teknik menggeoreferensi, saya ingin mengetahui apakah saya bisa menggeoreferensi peta van Bemmelen ini, sehingga kita tahu bagaimana sebaran batuan menurut van Bemmelen pada kondisi yang sekarang. Tidak terlalu penting sebenarnya, tapi kalau bisa ya kenapa tidak.

Ok pertama kita akan mengunduh peta geologi Lembar Bandung tahun 1934. Kita bisa mengunduh data ini di website koleksi digital Universitas Leiden https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/ gunakan kata kunci “Bandoeng” dan cari di bagian “Maps (KITLV) (under construction)“. Kalau sulit, bisa pakai tautan ini.

Di tautan tersebut, Anda akan dapat 11 peta geologi jadul, keluaran tahun 1930an. Kita akan pilih nomor D E 14,3 yang merupakan kode Peta Geologi Lembar Bandung. Di bagian bawah peta, terdapat ikon untuk menguduh. Bentuk ikonnya seperti kardus pipih dengan mata panah mengarah ke kardus tersebut. Letaknya di samping ikon rantai, di atas tulisan In Collections. Silakan mengunduh Original Master dengan ukuran file 121 MB.

Untuk menggeoreferensi, kita akan menggunakan piranti lunak QGIS 3.10.5. Jika tidak punya software ini, maka bisa mengunduh dan menginstalnya di komputer masing-masing. Dalam tulisan ini, saya berasumsi bahwa pembaca sudah paham prinsip dasar menggeoreferensi.

Hal pertama yang harus dilakukan sebelum menggeoreferensi adalah mengetahui sistem koordinat. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melihat pojok-pojok peta. Pada Peta Geologi Lembar Bandung ini kita melihat terdapat sistem koordinat, terutama pada bagian pojok kiri bawah di mana terdapat informasi sebagai berikut:

Di dalam peta ini kita dapat melihat bahwa Van Bemmelen sudah meletakkan sistem koordinat. Informasi di atas berarti bahwa titik pojok kiri bawah pada peta ini berjarak 0 derajat 40 menit ke arah timur dari Meridian Batavia, dan 7 derajat ke arah selatan dari ekuator. Meridian dari Batavia sendiri didefinisikan berjarak 106 derajat 48 menit 27.8 detik ke arah timur dari Greenwich. Informasi ini sangat penting, karena akan kita bandingkan dengan informasi yang kita miliki di QGIS.

Sekarang kita akan membuka QGIS. Ketika kita membuka QGIS, di bagian pojok kanan bawah, terdapat tulisan EPSG:XXXX yang merupakan sistem koordinat projek kita. Kita bisa klik gambar globe di samping tulisan EPSG untuk tahu sistem koordinat apa saja yang tersedia.

Selanjutnya, karena kita akan menggeoreferensi peta lama Indonesia, maka kita gunakan kata kunci “Batavia”. Maka akan ditemukan beberapa sistem koordinat (lihat baris Predefined Coordinate Reference Systems), yaitu sistem koordinat geografis dan terproyeksi (Geographic Coordinate Systems dan Projected Coordinate Systems).

Karena data kita menggunakan sistem koordinat geografis, maka kita cari di bagian Geographic Coordinate Systems. Perhatikan bahwa ada dua sistem, yaitu EPSG:4211 dan EPSG:4813. Apa bedanya? Kita akan tinjau.

Perbedaannya adalah EPSG:4211 berprime-meridien di Greenwich, artinya titik nol garis bujur berada di Greenwich. Sementara EPSG:4813 berprime-meridien di Batavia, artinya titik nol garis bujur pada sistem koordinat ini berada di Batavia. Namun terdapat keterangan bahwa Jakarta(Batavia) berjarak 106.807719 derajat dari Greenwich. Angka ini jika diubah menjadi derajat menit detik akan sama dengan 106 derajat 48 menit 27.8 detik. Artinya sistem koordinat ini akan sesuai dengan peta kita. Berikut adalah informasi geografis dari sistem koordinat EPSG:4813:

GEOGCRS["Batavia (Jakarta)",
    DATUM["Batavia (Jakarta)",
        ELLIPSOID["Bessel 1841",6377397.155,299.1528128,
            LENGTHUNIT["metre",1]]],
    PRIMEM["Jakarta",106.807719444444,
        ANGLEUNIT["degree",0.0174532925199433]],
    CS[ellipsoidal,2],
        AXIS["geodetic latitude (Lat)",north,
            ORDER[1],
            ANGLEUNIT["degree",0.0174532925199433]],
        AXIS["geodetic longitude (Lon)",east,
            ORDER[2],
            ANGLEUNIT["degree",0.0174532925199433]],
    USAGE[
        SCOPE["unknown"],
        AREA["Indonesia - Bali, Java and western Sumatra onshore"],
        BBOX[-8.91,95.16,5.97,115.77]],
    ID["EPSG",4813]]

Oleh karena itu kita akan pilih sistem koordinat ini di peta kita.

Setelah itu kita akan masuk di bagian georeferensi.

Pada toolbar, klik Raster, kemudian pilih Georeferencer.

Di pojok kiri atas windows Georeferencer, pilih Open Raster. Pilih Raster yang ingin digeoreferensi. Dalam hal ini, raster yang sudah kita download, yaitu raster Peta Geologi Lembar Bandung. Hasilnya kurang lebih akan seperti gambar di bawah ini.

Di bawah tulisan settings, agak ke kanan sedikit, terdapat ikon berwarna kuning yang berbentuk seperti gerigi, yaitu ikon Transformation Settings. Kita akan mengatur Transformation pada pengaturan ini.

Pada pengaturan ini, pilih tipe transformasi menjadi Helmert. Metode Resampel menjadi Nearest neightbour dan Target SRS menjadi Project CRS, yaitu EPSG:4813. Atur output raster, sisanya tinggalkan sebagaimana default.

Pilih empat titik di pojok kiri atas, kanan atas, kanan bawah, dan kiri bawah sebagai titik ikat. Pastikan bahwa Anda menggunakan bagian dalam dari frame sebagai lokasi koordinat. Sebagai contoh saya menggeoreferensi pojok kiri atas peta, maka saya mengisi X/East sebagai 0 dan 40, artinya 0 derajat dan 40 menit. QGIS secara otomatis membacanya demikian. Sementara pada Y/North Anda akan mengisikan sebagai -6 dan 40 karena kita berada di selatan ekuator. Lakukan hal yang sama untuk sudut-sudut peta lainnya.

Setelah empat sudut terpilih sebagai GCP, maka kita bisa mulai menggeoreferensi dengan mengeklik ikon segitiga miring berwarna hijau, yang mirip dengan ikon play. Setelah itu kita bisa mengecek hasil georeferensi kita. Caranya dengan membuka file raster yang kita buat ke dalam QGIS.

Untuk mengecek apakah peta kita tergeoreferensi dengan benar, kita bisa bandingkan dengan peta OSM. Kita atur transparansi dari layer OSM untuk kita bandingkan bagaimana kedua layer ini. Saya pikir layer ini tergeoreferensi dengan baik sekali.

Kesesuaian peta OSM dengan peta hasil georeferensi. Perhatikan daerah Jalan Cagak di atas.
Di sekitar Ci Tarum terlihat ada sedikit distorsi. Tapi masih bisa ditoleransi.
Sangat memuaskan melihat bagaimana sungai-sungai berada di lokasi yang tepat. Gambar ini dioverlay dengan layer ESRI World Hillshade

Demikian tutorial singkat menggeoreferensi Peta Geologi Van Bemmelen tahun 1934.

Curug Jompong Setelah Diterowong

Sudah sangat lama ada rencana-rencana untuk memapas Curug Jompong. Alasannya adalah karena Curug Jompong dianggap sebagai penghambat aliran Ci Tarum, mengakibatkan aliran Ci Tarum melambat, kemudian mengakibatkan banjir di Bandung Selatan. Ide-ide pemapasan itu ekstrim. Ada ide pemapasan dengan bom, dipapas total, dipapas sebagian, dll. Meski kemudian ternyata pilihan yang lain yang dipilih, yaitu pembuatan terowongan menembus bukit di sebelah utara Curug Jompong. Terowongan ini sudah selesai, dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada bulan Januari 2020 lalu.

Pemindahan aliran Ci Tarum menuju terowongan Nanjung, mengakibatkan kita harus memikirkan ulang Curug Jompong sebagai sebuah curug. Meski batuannya masih ada, tapi tidak ada lagi air terjun. Tidak ada aliran masif Ci Tarum yang menerobos bebatuan keras, membentuk tingkatan-tingkatan jeram-jeram, yang melaluinya aliran Ci Tarum menderu keras. Tak ada lagi air terjun, melainkan tinggal lembah berbatu, dengan aliran sungai yang sangat kecil, setempat berbentuk kolam-kolam yang dibatasi oleh batuan-batuan masif raksasa.

Curug Jompong yang dulu selalu menderu akibat derasnya aliran Ci Tarum yang menghantam bebatuan keras yang menjadi dasarnya, kini menjadi lembah yang hening, dengan aliran yang tenang nyaris tak ada.

Jika saya mengikuti definisi Almarhum Pak Budi Brahmantyo tentang air terjun, maka menurut beliau air terjun didefinisikan sebagai aliran air yang jatuh dari suatu tinggian. Seberapa tinggi? Menurut Pak Budi, 2 meter. Menurut beliau, orang harus mendongak untuk melihat air terjun, maka tinggi air terjun harus lebih tinggi dari rata-rata orang normal, yaitu 2 meter. Sementara itu, jika kurang dari dua meter, maka kita bisa sebut sebagai jeram, atau rapids.

Modifikasi melalui pembangunan terowongan menyingkapkan bagian Curug Jompong yang telah begitu lama tergenang. Mengunjungi Curug Jompong sekarang seolah mengunjungi dunia yang lain. Dunia yang baru, yang belum pernah orang menyentuhnya selama ratusan ribu tahun karena selalu tergenang oleh derasnya aliran Ci Tarum.

Sebagai curug, riwayat Curug Jompong telah tiada. Kini ia menjadi lembah berbatu, dengan jenis keindahan yang berbeda. Seperti lembah terjal Ci Tarum yang berada di balik bendungan Saguling, yang kini menjadi dunia yang berbeda dibandingkan dengan pemahaman orang-orang sebelum 1985, sebelum bendungan Saguling beroperasi.

Curug Jompong Bulan Juni 2020

Meski begitu, saya menikmati kunjungan saya ke Curug Jompong pagi itu. Melompati bebatuan-bebatuan raksasa. Melihat kolam berwarna kehijauan yang menggoda diri untuk berenang, meski masih sangat tidak meyakinkan mengingat aliran Ci Tarum yang begitu keruh di hulunya. Kita bisa lihat juga bagian Curug Jompong yang begitu lama tak tersentuh orang, karena derasnya aliran Ci Tarum.

Dalam pikiran saya, mungkin kita harus memikirkan ulang branding yang tepat untuk Curug Jompong. Branding ini penting mengingat reputasi Curug Jompong yang sangat tidak baik beberapa tahun ke belakang ini. Aliran yang kotor, kabut air yang berbau kurang enak, sampah, dan lain sebagainya.

Mungkin Leuwi Jompong kata yang tepat. Leuwi dalam bahasa Sunda berarti Lubuk. Secara geografis berarti bagian terdalam dari sungai. Atau mungkin ada terminologi geografis lain yang lebih tepat, saya belum tahu. Dengan branding baru, kita bisa memulai cerita Curug Jompong dari lembaran baru pula, yang siap menyambut ribuan penikmat alam untuk berwisata.

Curug Jompong yang baru kini berpotensi menjadi lokasi wisata yang hebat. Lokasinya yang dekat dengan pusat kota, dengan panorama yang menawan, membuat tempat ini punya modal yang sangat besar. Belum lagi sejarah Curug Jompong yang sangat panjang, saya kira bisa membuat orang berlama-lama mampir menghabiskan waktunya di sekitar daerah ini. Begitu juga keberadaan Terowongan Nanjung membuat banyak yang bisa dilihat dan dijelaskan di titik ini.

Mengingat ini, saya teringat kalimat dari Reitsma, tentang jalur melewati Curug Jompong yang merupakan salah satu jalur paling indah di Pulau Jawa.

“…Dari Gadjah kemudian melewati jalan Soreang-Batujajar menyusuri Ci Tarum dan mengitari Gunung Paseban. Bentang alamnya sangat indah di sini, di kanan mengalir sungai yang jernih berkilau, di kiri kerucut indah Gunung Lalakon. Boleh dibilang jalur Soreang – Batujajar melalui Curug Jompong adalah salah satu jalur paling indah di Pulau Jawa. Terutama di musim penghujan, kala aliran sungai penuh bergemuruh, air berlompatan meloncati bebatuan, lalu berdebur gelombang saling berhantaman. Deru air membentuk kabut yang tersusun dari jutaan titik air yang membiaskan cahaya mentari membentuk pelangi dengan latar bebatuan berwarna gelap.” 

S. Reitsma – Gids van Bandoeng en Midden Priangan

Mungkin kita bisa menghidupkan Curug Jompong kembali. Bukan sebagai Curug, tapi sebagai Leuwi, atau entah apa namanya kita mendefinisikannya nanti. Tapi Curug Jompong punya peluang untuk berjaya kembali. Kembali menjadi salah satu tempat paling indah di Jawa. Yang orang datang, berwisata, dan kemudian membawa pengalaman yang gembira. Bahwa ia telah datang ke tempat yang indah, yang memberi kesan indah pada dirinya, lalu ia memberitahu teman-temannya. Lalu kelak menuliskan dalam catatan hidupnya, yang nanti akan menjadi catatan sejarah, bahwa Curug Jompong kembali indah.

Semoga.

GIF Curug Jompong sebelum dan setelah diterowong. Terowongan Nanjung dibuka pada akhir 2019 atau awal 2020. Perhatikan buih air curug yang hilang pada tahun 2020, berpindah ke mulut terowongan.

Foto Udara ITB 1933 dan Sekarang

Melanjutkan penemuan foto udara daerah Tegallega yang saya post kemarin, saya juga mendapatkan foto udara orthophoto daerah ITB dan sekitarnya. Kemudian foto ini saya georeferensi, lalu saya bandingkan kondisinya dengan kondisi sekarang. 

Gambar di atas adalah perbandingan foto udara ITB tahun 1933 dibandingkan dengan sekarang. Gambar ini diputar 44 derajat ke arah timur agar menyesuaikan sudut pengambilan gambar. ITB baru dibangun pada tahun 1920, sehingga pada masa itu bangunan belum sebanyak sekarang. 

Pada tahun 1933, hanya ada bangunan yang sekarang menjadi Aula Barat, Aula Timur, Gedung Prodi Teknik Sipil, Gedung Prodi Fisika, dan yang sekarang menjadi Gedung Seni Rupa dan Arsitektur. Penggunaannya ketika itu saya belum tahu, jurusan-jurusan apa yang sudah ada pun saya belum tahu. 

Di sebelah utara masih kosong melompong hamparan lega sampai ke jalan Tamansari sekarang. Begitu pun Sasana Budaya Ganesha belum ada juga karena baru dibangun pada tahun 1997. 

Di sebelah barat terlihat bentukan oval, kini menjadi Kebun Binatang Bandung. Saya belum tahu apakah daerah ini sudah menjadi kebun binatang atau belum, meskipun saya tahu bahwa KBB mulai didirikan tahun 1930. 

Di sebelah selatan, terdapat Taman Ganesha yang dulunya bernama Ijzerman Park sebagai penghargaan untuk Tuan Ijzerman yang berjasa dalam pembangunan ITB. Pepohonan di sekitar jalan Ganesha dan Gelap Nyawang belum ada. Masih berupa bibit-bibit kecil, sehingga pepoponan besar yang ada sekarang itu masih berumur kurang dari 100 tahun.  Begitu juga pepohonan di tepi Jalan Tamansari pun belum ada. 

Di sebelah timur Jalan Dago pun masih sepi. Perkomplekan elite daerah Jalan Imam Bonjol, Teuku Umar, dll masih berupa lahan kosong, bahkan masih berupa petak-petak kebun. 

Gambar di bawah merupakan perbandingan foto udara dengan peta openstreetmap. 

Begitulah bagaimana Bandung berkembang dari dulu hingga sekarang. Betapa banyak yang berubah, namun satu yang kita ketahui, bahwa dulu Bandung pernah gundul tak ada pepohonan. Belum terlambat untuk kita jika ingin memiliki pepohonan besar yang rimbun seperti di daerah Ganesha dan Tamansari sekarang. Mungkin puluhan tahun yang datang, maka tanaman kita akan rimbun, sebagaimana daerah ini sekarang.

Salam

Keterangan:
Foto udara berasal dari Tropenmuseum
Foto pada muka berasal dari Tropenmuseum
Foto citra satelit berasal dari Google Earth
Foto peta berasal dari OpenStreetMap