Pengalaman Ikut Copernicus Eyes on Earth Roadshow di Darmstadt

Tahukah kamu bahwa di atmosfer sana terdapat lebih dari 3000 satelit mengorbit Bumi?

Tahukah kamu bahwa terdapat ratusan petabytes data citra satelit yang bisa kita akses gratis? (1 petabyte = 1000 terabyte = 1 juta gigabyte)

Tahukah kamu bahwa European Space Agency merilis sekitar 8 petabyte data citra satelit setiap tahunnya?

Terakhir dan paling menohok. Tahukah kamu bahwa cara kamu mengolah data satelit dengan mengunduh data, terus otak-atik di ArcGIS, QGIS, Erdas, dll itu sudah ketinggalan zaman saking cepatnya perkembangan teknologi satelit yang datanya makin gede dan butuh komputasi super?

Saya juga baru tahu minggu lalu.

Ketika saya ikut acara Lokakarya Penginderaan Jarak Jauh yang diselenggarakan di EUMETSAT (European Organisation for Meteorological Satellites) di Darmstadt. Acara ini merupakan bagian dari Lokakarya Eyes of Earth yang diselenggarakan oleh Copernicus (program Observasi Bumi Uni Eropa). Simak liputan acara ini di sini.

Saya beruntung, karena acara ini diselenggarakan di kota tempat saya studi. Gratis. Tidak perlu akomodasi. Makan siang yang enak. Buah tangan seminar yang mantap. Itu beberapa hal kesukaan mahasiswa seperti saya.

Tapi yang lebih utama adalah kesempatan untuk berjejaring dengan para ahli di bidang penginderaan jauh dan dapat gambaran sejauh mana dunia ini sudah berkembang.

Roadshow_Participants_Pictures
Suasana acara. Gambar diambil dari sini

Berkembang Pesat
Penginderaan Jauh berkembang sangat pesat. Sejak Pemerintah Amerika Serikat dengan misi Landsatnya merekam Bumi dari angkasa, diikuti dengan misi-misi lainnya membuat kita bisa mengerti bagaimana Bumi kita ini bekerja. Dengan citra satelit kita bisa mengetahui sebanyak apa es mencair di kutub dan di tempat-tempat lain di dunia.

Kita bisa memonitor pergerakan arus laut dan plankton yang hidup mengikutinya. Kita bisa mengetahui ke arah mana awan dan angin bergerak, sehingga kita bisa memahami cuaca lebih baik dari sebelumnya. Dan begitu banyak aplikasi lain dari teknologi ini.

Ketika data satelit Landsat digratiskan pada tahun 2008, jumlah pengunduh satelit ini meningkat 100 kali lipat, dan menciptakan bisnis dengan nilai 2 miliar dollar per tahunnya di Amerika Serikat saja. Uni Eropa pun tak mau kalah, dengan meluncurkan satelit Sentinel dan membuka datanya gratis untuk publik.

Di acara Eyes on Earth ini saya melihat ada persaingan hebat antara Uni Eropa dengan Amerika Serikat dalam teknologi satelit dan pemanfaatannya. Orang-orang Eropa ini begitu bangga dengan program Sentinelnya. Juga dengan program-program lain yang mengikuti Sentinel ini.

Misal ketika saya bertanya tentang Google Earth Engine, salah satu piranti lunak yang biasa digunakan untuk mengolah data satelit. Kebanyakan dari mereka menjawab bahwa itu produk Amerika dan mereka tidak boleh bergantung pada produk itu. Copernicus pun menyediakan platform untuk mengolah data citra satelit berbasis komputasi awan. Tak tanggung-tanggung ada lima program yang mereka sediakan, semua punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Kita harus bersyukur dengan persaingan ini, karena ini memberi kita pilihan sebagai pengguna. Kita terima-terima saja dan gunakan semua yang mungkin dan bisa kita gunakan.

Mendorong Terciptanya Start-up
Dalam acara Eyes on Earth ini, Copernicus mendorong terbentuknya perusahaan rintisan yang menggunakan data inderaja sebagai sumber datanya. Sudah ada banyak perusahaan rintisan yang dibimbing dan dikatalis oleh Copernicus.

Misal perusahaan Deep Blue Globe. Perusahaan ini mengembangkan navigasi maritim berbasis kecerdasan buatan. Jadi mereka menggunakan data lalu lintas perjalanan laut dan kondisi cuaca aktual yang dimasukkan ke dalam sistem kecerdasan buatan mereka untuk menavigasi kapal-kapal di lautan.

Perusahaan lain misal AgriBORA yang mengombinasikan data inderaja, stasiun cuaca, dan model pertanian untuk memberikan informasi waktu tanam terbaik kepada petani di Afrika. Informasi ini dikirimkan secara langsung dan aktual kepada petani melalui SMS.

Panitia Eyes on Earth mendorong kami, para peserta, untuk mengembangkan perusahaan rintisan kami sendiri. Ada 6 sesi khusus, antara 30-60 menit untuk kami berdiskusi mencari masalah dan solusi yang mungkin bisa diciptakan, serta bagaimana data inderaja dapat digunakan sebagai bagian dari solusi.

Grup saya, 4 orang, saya, Sophie, Mennatullah, dan Julian, semua dari TU Darmstadt dibimbing oleh ahli inderaja dari Universitas Twente, Valentin. Kami ingin bikin perusahaan bohong-bohongan yang membuat platform pengidentifikasi kualitas air dengan menggunakan citra satelit. Kita bisa bedakan kualitas misal kejernihan (turbidity), kandungan organik (CDOM), klorofil, salinitas, dan temperatur, dari data satelit.

Valentin, Julian, Menna, Sophie, dan saya setelah presentasi hari pertama

Dari diskusi-diskusi singkat di setiap sesi, kami dipaksa untuk mengisi model bisnis Canvas dan kemudian mempresentasikan singkat ide kami di hadapan ahli-ahli inderaja dan mendengar saran dari para ahli ini. Mereka kemudian memberi tahu alat-alat apa yang sudah tersedia. Misi satelit mana yang sesuai dengan kebutuhan data kami, dan seterusnya.

Pada akhirnya, acara Eyes on Earth ini membuka mata saya, bahwa ada begitu banyak peluang terbuka karena satelit telah membuka cakrawala kita terhadap planet yang kita tinggali ini. Keterbukaan data dan kebersediaan orang-orang untuk membagi pengetahuannya menjadi modal sangat berharga untuk memulai karir atau bisnis di bidang ini.

Kemajuan teknologi diikuti dengan membanjirnya data adalah satu hal, tapi kreativitas manusia untuk memanfaatkannya adalah hal lain. Tanpa kreativitas dan visi kita tidak akan gagap dan melaju lambat. Tak peduli betapa majunya teknologi.

Kehadiran satelit merubah cara pandang kita terhadap Bumi. Kemajuan teknologi pengolahan data berbasis awan merubah cara pandang kita terhadap cara mengolah data konvensional di komputer pribadi kita. Dan begitu banyak revolusi lainnya yang merombak secara signifikan bagaimana cara kita bekerja dan berpikir terhadap sesuatu. Sehingga keengganan untuk beradaptasi boleh jadi akan menjadi titik kemunduran kita. Bukan karena kita payah. Hanya karena orang lain jauh lebih visioner dan berani beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Semoga kehadiran saya membawa manfaat, terutama bagi diri saya pribadi, dan semoga kepada orang banyak .

Tabik.

Fridays for Future – Klimastreik

Diinisiasi remaja fenomenal dari Swedia, Greta Thunberg, Fridays for Future kini telah menjadi gerakan yang mendunia. Greta, 16 tahun, pertama kali menginisiasi gerakan ini pada Agustus 2018.

Greta kala itu masih duduk di kelas 9. Ia memutuskan untuk mogok bersekolah dari tanggal 20 Agustus 2018 hingga pemilihan umum di Swedia pada tanggal 9 September 2018. Keputusan itu ia ambil setelah terjadinya bencana iklim gelombang panas dan kebakaran hutan di Swedia.

Why should I be studying for a future that soon may be no more, when no one is doing anything to save that future

Greta Thunberg, 16 tahun

Gerakannya merembet ke mana-mana. Per 17 Juni 2019, sudah terjadi 4410 demo di seluruh dunia, di lebih dari 100 negara, dan 800 kota. Premis demo ini sederhana, kenapa harus belajar untuk masa depan kalau tidak ada masa depan. Kenapa kita harus berusaha agar menjadi orang terpelajar, ketika pemerintah kita ogah mendengarkan orang terpelajar. Info lebih lengkap mengenai gerakan ini bisa didapatkan di laman https://www.fridaysforfuture.org/.

Statistik Fridays for Future Strike source

Ada banyak kemirisan ketika di satu sisi seorang anak bisa menginisiasi gerakan perubahan iklim yang begitu besar, sementara di sisi lain masih banyak orang-orang yang bahkan tak percaya bahwa perubahan iklim itu nyata.

Anak-anak diajarkan bahwa mereka akan mewarisi bumi. Mereka selalu dibebankan tanggung jawab bahwa mereka adalah generasi penerus yang akan menggantikan bapak dan ibu mereka. Bahwa anak-anak adalah masa depan.

Tapi anak-anak ini kita warisi bumi yang sudah kita bikin bobrok. Yang air sungainya tak bisa dipakai mandi apalagi minum. Yang air tanahnya surut semakin mendalam setiap harinya. Yang atmosfernya kotor, partikulat bertebaran kita hirup setiap saatnya.

Anak-anak ini kita warisi keragaman spesies yang minim, karena satu juta spesies sedang menanti kepunahannya. Karena hutan tropis yang kaya akan variasi spesies kita rubah jadi perkebunan monokultur yang menjadikan gajah, harimau, orangutan sebagai hama, dan kita berkonflik dengan mereka setiap harinya.

Pantas saja mereka berkata, “Ngapain saya belajar untuk masa depan, kalau tidak ada masa depan. Ngapain saya belajar kalau gak ada orang yang berjuang untuk menyelamatkan masa depan?

Aksi Greta menginspirasi dunia. Ribuan jika bukan jutaan orang mendukung aksinya. Aksi Greta diabadikan di Miniatur Wunderland, salah satu tempat wisata utama di Kota Hamburg. Miniatur Greta yang sedang berdemo di atas es yang mencair, dengan mobil dan korporasi hitam di satu sisi, dan beruang kutub yang sangat terancam dengan berkurangnya jumlah es di bumi di sisi lainnya. Sementara Greta sedang berdemo dengan spanduknya “ Skoolstreijk for Klimatet“, aksi demo anak sekolah untuk iklim.

Miniatur Wunderland mendukung Greta dengan mendorong semua yang melihat miniatur ini untuk membagikan gambar dengan takarir “Vi Ar Greta” atau Kita adalah Greta!

Miniatur Greta di Miniatur Wunderland, Hamburg. source

Klimastreik di Darmstadt

Di Darmstadt, kota saya tinggal sekarang, saya sudah lihat kurang lebih 4 demo sampai sekarang. Di demo-demo itu semua kalangan ada di sana; anak-anak, pemuda, orang dewasa. Jalan-jalan ditutup. Polisi mengawal. Wartawan berseliweran mengambil gambar dari gerakan yang fenomenal ini.

Fridays for Future terakhir, hari Jumat lalu diikuti kurang lebih 3500 orang.

Yel-yel mereka teriakkan lantang

“Wir sind hier, wir sind laut, weil ihr unsere Zukunft klaut”

Kami di sini, kami berteriak kencang, karena kalian mencuri masa depan kami!

Hampir setengah kota Darmstadt harus ditutup pada hari jumat ini untuk mengakomodasi peserta demo. Demo dilaksanakan damai, dengan aktivitas dan rute demo yang disetujui dan diamankan oleh polisi lokal.

Di kampus saya, mereka pasang poster menohok para mahasiswa. Katanya menyelamatkan iklim bisa juga tanpa perlu M.Sc. Mungkin mereka menyindir orang-orang yang belajar tinggi-tinggi tapi pada akhirnya malah jadi sumber emisi.

Pada akhirnya anak-anak ini ingin kita sadar bahwa kita sedang mencuri masa depan mereka. Dalam harian lokal Darmstadt, echo-online, seorang anak memberikan testimoni, “Saya gak mau beruang kutub mati“. Anak yang lain berkata, “Kita hanya punya sembilan tahun tersisa menuju titik di mana dampak irreversibel bisa kita cegah. Kalau kita gagal, kita selesai”.

Sedih, miris, dan ironis. Tapi juga membuka mata, bahwa perjuangan belum berakhir. Bahwa masih banyak orang-orang di dunia ini yang memperjuangkan dunia yang lebih baik. Yang akan kita wariskan pada anak cucu kita nanti. Yang sekarang sudah geram dan marah karena tahu betapa buruk cara kita mengorganisasi bumi yang akan mereka warisi.

Semoga kita sadar. Semoga kita mengerti. Bahwa kita tak bisa lagi merampok warisan masa depan anak-anak kita lagi.

Wir sind hier, wir sind laut, weil ihr unsere Zukunf klaut! Wir sind Greta!

Berbagi Ilmu di Kuliah Tamu

Di Institut Geosains Terapan (Institut für Angewandte Geowissenschaften) TU Darmstadt, setiap minggunya diadakan kuliah tamu, mengundang saintis-saintis dari seluruh dunia. Minggu lalu, yang hadir adalah Profesor Emeritus dari Stanford, Profesor Martin Reinhard yang mempresentasikan tentang kontaminan organik di Singapura, minggu ini kami kehadiran Dr. Georg Houben dari Badan Geologi Jerman (BGR) yang mempresentasikan tentang eksplorasi air tanah di Namibia.
Peserta kuliah tamu ini mahasiswa, dosen, dan umum. Mahasiswa sarjana untuk lulus wajib hadir dan meminta tanda tangan dosen di lembar kehadiran (seperti lembar kolokium di GL ITB). Yang menarik dari kuliah tamu ini saya kira adalah antusiasme dari dosen-dosen untuk hadir dan mendengarkan presentasi yang disampaikan. Saya melihat dosen, baik yang muda dan yang sudah sangat sepuh sekali pun hadir, menyimak, dan bertanya dalam sesi diskusi. Seringkali pertanyaannya bahkan sangat serius hingga diskusi harus dilanjutkan setelah kelas selesai. 
Yang mengagumkan lagi adalah bahwa kuliah tamu ini diadakan pada pukul 17.15 (CET), yang artinya di musim dingin sekarang hari sudah gelap, dan orang-orang “seharusnya” sudah kehilangan konsentrasinya untuk menyimak pelajaran. Tapi tetap, orang-orang datang menunjukkan antusiasmenya.
Kuliah kemarin oleh Dr. Houben dari BGR sangat menarik, karena bagi saya sebagai mahasiswa hidrogeologi, semua teknik yang dipelajari dalam perkuliahan dibahas dan diaplikasikan dalam riset eksplorasi air tanah di Namibia. Detilnya bisa dilihat di laman ini.
Saya kira program seperti ini sangat menarik juga untuk dilaksanakan di Indonesia. Sekarang yang ada hanya kolokium yang biasa diselenggarakan oleh Pusat Survei Geologi atau oleh Badan Geologi. Saya kira bagus juga kalau universitas yang mengadakan dan mengundang peneliti dari universitas lain. Ini bakal membuka wawasan mahasiswa untuk lebih paham di kampus lain atau di instansi riset itu penelitiannya seperti apa dan juga membuka peluang kerja sama yang lebih baik lagi.
Jangan terlalu banyak saling bersaing, berdebat, tapi kurang berkolaborasi.

Darmstadt Climathon 2018

Dua minggu yang lalu saya ikut salah satu acara paling seru yang pernah saya datangi di Jerman, Darmstadt Climathon 2018. Climathon sendiri adalah sebuah gerakan global yang didedikasikan untuk menyelesaikan tantangan permasalahan iklim di kota-kota di dunia. Tahun 2017 ada 104 kota di 45 negara di seluruh benua yang menyelenggarakan Climathon dengan total 4551 peserta dan 628 ide untuk menyelesaikan permasalahan kota-kota tersebut.

Tahun ini adalah pertama kalinya Darmstadt ikutan Climathon. Tantangan iklim yang ingin diselesaikan Darmstadt adalah untuk menjawab sejauh apa sih jarak yang ditempuh makanan yang dijual di supermarket itu untuk sampai di meja kita. Asumsinya adalah semakin jauh jarak tempuhnya, maka semakin besar emisi karbon yang diperlukan untuk mendistribusikan makanan tersebut.

Climathon 2018
Peserta Darmstadt Climathon 2018

Nah kita ditantang untuk menjawab pertanyaan ini dengan ikutan 24 jam diskusi berkelompok untuk mencapai satu solusi. Di Darmstadt, Climathon disponsori oleh Merck (perusahaan kimia terkemuka di Jerman) dan Pemerintah Kota Darmstadt. Agar menyemangati peserta untuk menghasilkan solusi yang bisa dilaksanakan, para sponsor ini menawarkan hadiah menarik bagi mereka yang menang, yaitu dibiayai gratis menghadiri konferensi, pilihannya di Paris atau di Budapest. Mantap kan?

Pada akhirnya sih tim saya gak menang, tapi saya dapat banyak sekali pengetahuan baru setelah menghabiskan 24 jam di Pusat Inovasinya Merck.

Pengetahuan penting yang pertama

Food Miles adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan berapa jauh jarak yang ditempuh makanan dari tempat ia diproduksi (kebun, peternakan, dll) hingga sampai di rumah kita. Logika umum yang masuk akal adalah semakin jauh jarak tempuh maka emisi semakin besar, akibatnya makanan semakin tidak ramah lingkungan. Hal ini benar, tapi apakah benar solusinya adalah jangan beli makanan yang diproduksi dari jauh, misal pisang dari Kolumbia, atau Durian dari Thailand?

Faktanya transportasi atau jalur distribusi makanan hanya menyumbang 11 persen dari total emisi yang dihasilkan makanan tersebut sejak ia ditanam atau dibibit hingga sampai pada konsumen. Emisi terbesar datang dari proses produksinya itu sendiri. Untuk makanan berbasis tumbuhan, faktor transportasi memang persentasenya cukup tinggi, yaitu sekitar 30% dari total emisi, hal ini karena makanan berbasis tumbuhan memang tingkat emisinya lebih rendah daripada makanan berbasis hewan. Jadi kalau temen-temen yang di Indonesia suka makan daging sapi, itu kebanyakan diimpor dari Australia dan Selandia Baru. Daging sapi emisinya sangat tinggi, ditambah perjalanan jauh, jadi mantap kan emisinya.

Dalam penelitian juga disebutkan bahwa membeli makanan dari petani atau peternak lokal hanya mengurangi total emisi sebesar 4 persen saja! Artinya pengurangan emisinya tidak signifikan. Kalau mau serius mengurangi emisi karbon dari pola makan, solusi yang ditawarkan para peneliti itu hanya satu kurangi konsumsi daging, perbanyak memakan sayuran dan buah-buahan. Hanya itu satu solusinya.

Jika sudah memperbanyak makan sayuran, baru kita bisa memperbanyak membeli sayuran lokal, yang diproduksi oleh petani-petani lokal, karena memang untuk sayuran, dampak transportasi terhadap emisi terasa cukup signifikan.

Pengetahuan yang kedua

Saya jadi punya banyak teman baru dari berbagai macam bidang ilmu. Saya berkelompok bertiga dengan dua orang Jerman yang ramah dan senang berbagi, namanya Achim dan Matthias. Mereka warga Darmstadt yang pengen berbuat sesuatu untuk kotanya. Beneran serius, itu motivasi mereka untuk ikutan, “Karena saya punya waktu, saya bisa, dan kenapa enggak”, kata Achim pas saya tanya motivasinya ikut Climathon.

Achim dan Matthias banyak bekerja dengan website. Dari mereka saya jadi tahu bahwa bikin website itu gampang. Akhirnya saya jadi termotivasi, dan tidak lama setelah Climathon, jadilah website saya ini.

Pengetahuan yang ketiga

Saya jadi tahu isinya gedung Merck setelah setiap hari lewat Merck cuma bisa lihat dari Tram. Ternyata kantornya bagus banget, suasana kantornya nyaman, dan mendorong karyawan untuk berinovasi.

Ya kurang lebih begitulah pengalaman saya ikutan Climathon di Darmstadt. Jika ada acara sejenis lagi, tentu saya dengan senang hati akan meluangkan waktu untuk ikut. Pengalaman yang amat sangat seru dan menyenangkan!

Climathon 2018
Tim Climathon Saya. Darmstadt Gartenboerse

Marburg, Ibukota Tuna Netra Jerman

Seberapa seringkah kamu melihat tuna netra berjalan-jalan keluar di kotamu? Coba keluar dan perhatikan trotoar jalanan, mungkin jarimu jarang sekali menghitung. Tapi jika kamu ada di Marburg, negara bagian Hesse, Jerman, kamu akan sering sekali melihat tuna netra berjalan bebas di jalanan, karena Marburg adalah ibukotanya tuna netra di Jerman.

Di Marburg, orang-orang dengan tongkat panjang berwarna putih dengan bola di ujung tongkatnya adalah tetangga, sahabat, dan bagian tak terpisahkan dari pemandangan jalanan. Tidak ada kota lain di Jerman dengan jumlah tuna netra sebanyak Marburg. Kota ini menyediakan fasilitas yang begitu mendorong inklusivitas dan memfasilitasi tuna tetra untuk berkarya, memanifestasikan bakatnya. Seluruh persimpangan dan lampu lalu lintas sudah ramah tuna netra, tangga-tangga telah ditandai, trotoar dengan ubin taktil, lift yang bersuara, denah kota yang taktil, dan menu dalam huruf braile.

Kolam renang memiliki sistem pemanduan tuna netra. Stasiun kereta api, pasar swalayan, stadion olahraga, dan kantor-kantor pemerintahan memiliki denah taktil. Bahkan ada juga mesin ATM dan teater serta bioskop yang menyediakan fasilitas deskripsi suara. Telah begitu lama Marburg mengupayakan kesejahteraan bagi para tuna netra, sehingga sangatlah pantas kota ini menyandang sebutan Der Blindehaupstadt, atau ibukotanya tuna tetra.

Kota universitas ini berutang kepada Blindenstudienanstalt (blista, lembaga pendidikan tuna netra) yang didirikan di Marburg lebih 100 tahun lalu. Alumni mereka yang terkenal seperti peraih medali emas Paralimpiade, Verena Bentele, kemudian Sabriye Tenberken, Komisaris Pemerintah Federal untuk Penyandang Cacat, yang pernah naik ke Gunung Everest. Kemudian ada komposer muda Sarah Pisek yang memenangkan penghargaan Bambi. Selain itu masih banyak lagi alumni lainnya yang menjadi aktrik terkenal, penyanyi, wartawan, politisi, dan pengacara.

Verena Bentele, peraih medali emas Paralimpiade

Di Marburg, tuna netra bisa beraktualisasi diri tanpa perlu merasa berbeda dengan orang lain. Kita bisa melihat siswa-siswa blista berlarian melalui jalanan Marburg, begitu cepat seolah-olah mereka tidak punya disabilitas. Kita dengan mudah melihat mereka berjalanan di dalam bus, di ruang publik, dan tinggal di apartemen yang sama dengan orang-orang lain.

Informasi menarik ini saya dapat dari lembar panduan wisata di Der Blindenhauptstadt Marburg. Dalam kunjungan saya ke Marburg, saya terkesima dengan cara Marburg memuliakan penduduk tuna netranya. Bahkan mereka membuat sebuah jalur wisata khusus untuk menceritakan tentang Marburg sebagai ibukotanya tuna netra. Tak semua tempat dalam jalur wisata ini saya kunjungi, hanya beberapa saja.

Wisata ini dimulai dengan berkisah tentang sejarah bagaimana ini bermula. Kisah ini diceritakan sambil mengunjungi tempat tinggal Carl Strehl dan Alfred Bielschowsky pada masa lampau dan juga mengunjungi Rumah Bielschowsky, yaitu Pusat Rehabilitasi untuk Tuna Netra. Siapakah Strehl dan Bielschowsky?

Alkisah pada akhir perang dunia pertama, lebih dari tiga ribu orang tentara menjadi tuna netra akibat pecahan peluru atau gas beracun. Kebanyakan dari mereka diarahkan menuju Marburg, di mana Prof. Alfred Bileschowsky (1871-1940), direktur dari departemen Ophtalmology, memulai departemen khusus bagi korban kebutaan akibat perang. Kemudian mereka menyadari bahwa pendekatan pemulihan bagi mereka yang kehilangan penglihatan akibat perang tidak bisa hanya pendekatan pengobatan saja, mereka harus diberikan masa depan agar tidak menjadi pengangguran dan peminta-minta pengharap belas kasihan. Bielschowsky mengatur penyelenggaraan kursus Braille. Tak hanya itu, ia juga mengurus akomodasi, pengadaan bahan literatur, dan semua yang dibutuhkan untuk pendidikan bagi tuna netra. Untuk kebutuhan ini, ia mempekerjakan seorang mahasiswa, Carl Strehl (1886-1971) yang hampir kehilangan seluruh penglihatannya akibat kecelakaan di laboratorium kimia di New York. Mereka berdua kemudian membentuk Asosiasi Pendidikan Tuna Netra Jerman pada tahun 1916, dan mendirikan Lembaga Pendidikan Tuna Netra Jerman. Di dalamnya terdapat perpustakaan dan pusat konseling bagi tuna netra. Ini artinya, untuk pertama kalinya di Jerman, tuna netra mampu dan bisa untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Bielschowsky kemudian menjadi direktur kehormatan dari Blista dan Strehl memimpin manajemen.

Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Lembaga Pendidikan Tuna Netra Marburg (Blista). Sekolah ini adalah sekolah menengah (setara SMA) khusus tuna netra pertama di dunia. Sekolah Carl Strehl ini merupakan inti dari Blista Marburg, yang menerima siswa dari Jerman mulai dari kelas 5. Sekolah ini sangat sukses, dengan rata-rata nilainya sesuai dengan rata-rata nasional Jerman. Banyak lulusan dari sini mendapatkan pekerjaan yang baik, karena suasana pembelajarannya yang nyaman dan menarik.

Kelas terdiri dari hanya 6 hingga 12 siswa dengan literatur beraksara Braille, komputer dengan tampilan Braille dan memiliki fitur berbicara, membaca layar dan piranti lunak untuk memperbesar gambar dan tulisan, serta banyak fitur bantuan lainnya. Yang tidak bisa divisualisasikan digantikan dengan merasakan, mendengar, mencium, dan meraba. Ada model untuk merasakan gempa bumi, meraba molekul dan bentuk geometri. Ada orang-orang yang mentransformasikan listrik dan warna menjadi suara.

Selain kegiatan akademik, Blista juga menyediakan aktivitas luar lapangan seperti berkuda, berenang, bersepeda, mendayung, judo, berselancar, ski, dan bahkan bermain sepakbola. Ada juga kegiatan lain seperti ekskursi, drama, dan magang. Blista juga mengajarkan siswa-siswanya untuk hidup normal, berbelanja, menggunakan transportasi umum, mengunjungi teman, makan tidak belepotan, memasak, mencuci baju, dan bersih-bersih juga merupakan bagian dari pembelajaran. Karenanya, pada pelajar yang tinggal di sekitar 40 tempat di seluruh Marburg merupakan bagian aktif dari masyarakatnya.

Siswa tuna netra Berperahu di Sungai Lahn

Blista juga memiliki program untuk meningkatkan kompetensi pemuda-pemuda dengan menyediakan hampir 48 ribu buku dan majalah dalam format suara yang bisa dipinjam secara gratis. Pusat rehabilitasi menawarkan konseling, pelatihan orientasi, mobilitas, dan juga kemampuan sehari-hari. Mereka juga menyediakan konseling untuk para senior, konseling untuk sekolah-sekolah, juga saran-saran untuk mereka yang membutuhkan alat bantu penglihatan, terutama mereka yang mengalami low-vision.

Menyusuri jalanan Marburg, kita bisa melihat lampu-lampu lalu lintas yang khusus didesain untuk tuna netra. Lampu lalu lintas ini bisa berbunyi bersuara memberi tanda untuk berhenti atau mulai berjalan. Lampu lalu lintas khusus tuna netra ini pertama dibuat pada tahun 1971 di dekat Lembaga Pendidikan Tuna Netra Marburg di Ketzerbach. Sekarang, hampir semua lampu lalu lintas di Marburg dilengkapi dengan sinyal suara. Di sekitar pusat kota, hanya ada tiga lampu lalu lintas yang tidak dilengkapi suara. Ini sengaja dilakukan agar di sana siswa Blista bisa belajar bagaimana menyebrang jalan di persimpangan jalan tanpa sinyal suara.

Secara ritmik mereka mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke jalan sembari menyeberang dari ujung ubin taktil ke ujung ubin taktil lainnya di seberang jalan. Ubin-ubin ini sudah dipasang sejak tahun 2000, sejak saat itu sangat banyak jalur-jalur yang dilengkapi dengan ubin ini. Meski demikian ubin ini tidak menjadi satu-satunya alat pemandu, tepi-tepi trotoar, tiang pegangan, juga bisa menjadi alat bantu pemanduan berjalan.

Ada tombol di setiap lampu lalu lintas. Di halte-halte bus, jika tombol dipencet, kedatangan dan kepergian bus diumumkan nyaring. Stasiun Marburg juga dibuat sangat nyaman untuk dikunjungi tuna netra. Denah stasiun kereta sudah dibuat dan ubin-ubin taktil dipasang di dalam stasiun. Sejak direnovasi menjadi stasiun yang nyaman untuk tuna netra, Stasiun Marburg menjadi kebanggaan kota. Pada 2015, bahkan stasiun ini menjadi Stasiun Tahun 2015 oleh Pemerintah Jerman.

Tipikal kota-kota di Jerman pasti memiliki bangunan-bangunan megah yang menjadi tengara (land mark) kota. Di Marburg ada beberapa tengara yang menarik dan selalu menjadi tujuan berwisata para turis. Namun tentu saja sulit bagi tuna netra untuk membayangkan bangunan-bangunan megah hanya dengan bantuan suara. Oleh karena itu, pemerintah kota Marburg membuat maket-maket tengara Kota Marburg dari perunggu dengan keterangan beraksara Braille. Ada beberapa maket yang dibuat seperti maket Marktplatz (pasar utama), maket Marburger Schloss (Kastil Marburg), maket Gereja Elisabeth (Elisabetkirche), dan maket sinagog. Maket ini dibuat sangat detil dan presisi dengan keterangan yang lengkap. Saya melihat beberapa kali tuna netra yang sedang meraba-raba maket mencoba membayangkan bangunan yang ada di depannya.

Maket Gereja Elisabeth Marburg dengan aksara Braille sebagai keterangannya

Tuna netra dan penyandang low vision yang mengunjungi Marburg bisa memilih enam paket tur yang ditawarkan oleh pemerintah kota. Pemerintah kota telah melatih para pemandu wisata dengan bantuan Lembaga Pendidikan Tuna Netra Jerman, agar bisa memandu para tuna netra. Sebelum menerima lisensinya mereka wajib untuk menjelajahi kota dengan mengenakan penutup mata agar mereka bisa melatih nalurinya. Mereka akan mengajak para peserta tur untuk menyusuri Kota Marburg, mendengarkan para pemain terompet memainkan musiknya. Mereka akan mengajak peserta untuk menjelajahi Gerbang Dominika di Kampus Lama, serta tengara-tengara kota lainnya.

Peta Wisata Blindenhauptstadt Marburg

Lokasi terakhir yang saya kunjungi adalah Jalur Planet. Ini adalah instalasi sederhana yang menurut saya penuh makna. Di tempat ini pemerintah Kota Marburg membuat suatu jalur setapak yang di sepanjang jalur itu, mereka membuat deretan planet di tata surya mulai dari Matahari hingga Pluto dalam skala satu banding satu miliar. Jalur ini menunjukkan betapa berdekatannya planet-planet dalam dibandingkan planet-planet luar, juga perbandingan antara matahari yang berukuran 1.39 meter dibandingkan dengan bumi yang berukuran sebiji kacang. Tentu instalasi ini bentuknya 3 dimensi dan memiliki keterangan beraksara Braille.

Jalur Planet. Foto oleh Michael Fielitz

Begitulan Marburg, ibukotanya tuna netra. Sebuah bukti bahwa ada cara untuk memberdayakan tuna netra, bahwa itu mungkin, sangat mungkin, dan juga menjadikan tuna netra sebagai subjek pembangunan. Dengan diberikan akses yang sama terhadap pendidikan, maka tuna netra juga menjadi golongan pekerja yang memberikan sumbangan tak kecil dalam bentuk pajak untuk pembangunan negeri. Semoga Bandung bisa menjadi kota ramah tuna netra yang berikutnya.

Aamiin.

sumber: Brosur wisata Marburg Blindenhauptstadt

Kelip Lampu dan Cinta Kota pada Penduduknya

Hampir sebulan sejak perjalanan saya ke Ghent, Belgia, saya tidak menulis apa-apa. Bukannya kenapa-kenapa, hanya saya bingung apa yang harus saya tulis saking berkesannya perjalanan saya ke sana.

Meski demikian ada satu tempat yang begitu berkesan di hati saya, yang ketika dijelaskan pada saya oleh pemandu tur jalan kaki saya, bergetar hati saya oleh haru. Tempat itu namanya Sint Veerleplein. Lokasinya di sebuah lapangan kecil di depan pintu masuk Kastil Gravensteen, di tepian Sungai Leie.

Sint Veerleplein dari Kastil Gravensteen

Di sini tak ada apa-apa. Jika saya tidak ikut tur saya pasti melewatkan tempat ini, karena hanya lapangan biasa saja.

Di lapangan ini pemandu kami, Fabian, menunjuk satu tiang lampu yang berada di tengah-tengah lapangan itu kemudian bercerita, “Tempat ini adalah salah satu tempat favorit saya di Kota Ghent. Kenapa? Karena saya pernah melihat orang menangis, tertawa, berjingkrak-jingkrak, bersulang, dan melakukan banyak hal lainnya.” Fabian menghela nafasnya sembari melanjutkan ceritanya, “Lihat tulisan di bawah kaki kalian” katanya “Di sana tertulis, tiang lampu ini terhubung pada rumah bersalin di Ghent, setiap kali lampu ini berkelip-kelip selama satu menit, itu artinya ada satu orang bayi lahir di Ghent, bertambah satu penduduk Ghent. Kelap-kelip lampu ini dipersembahkan untuk setiap bayi dan anak yang baru lahir di kota ini”

3F9A5627.JPG
The Streetlights on Sint Veerleplein are connected to the maternity hospitals in the city of Ghent. Everytime the lights slowly flashes, a child is born. This work is dedicated to the newborn and to all children who are born today in this city.

Fabian berhenti berbicara, kemudian melanjutkan pelan, “Indah bukan? Suatu keterikatan penduduk kota pada kelompoknya, bahwa setiap mereka yang lahir dianggap sebagai bagian dari penduduk Ghent, dan mereka merayakannya.”

Secara rata-rata dua puluh bayi lahir setiap harinya di Ghent, atau rata-rata setiap satu jam. Sayang ketika saya di sana, saya menunggu sekitar satu jam namun tidak cukup beruntung untuk melihat lampu itu berpendar nyala.

Lalu saya berpikir panjang dan bahkan terus memikirkannya hingga sekarang. Saya selalu yakin bahwa saya mencintai Bandung, kota kelahiran saya. Tapi apakah Bandung mencintai saya? Atau apakah penduduk Bandung mencintai saya? Atau bagaimana membuat orang merasa dicintai kotanya, seperti Kota Ghent dengan Sint Veerleplein-nya menunjukkan simbol rasa memiliki kota pada penduduknya.

Semoga kelak ada saatnya, saya duduk lagi di sana dan merayakan lahirnya penduduk baru Kota Ghent.

Video Tebing Hainstadt – Buntsandstein

 

Saya sudah lama ingin melihat langsung singkapan Buntsandstein yang batuannya saya lihat di mana-mana di Darmstadt. Batupasir merah ini memang mencolok dan mudah dikenali. Beberapa kali saya lihat singkapannya tapi biasa saja. Pas mampir di singkapan di daerah Hainstadt dekat perbatasan Hesse dan Bavaria ini saya terpana.

Singkapannya megah! Tebing tinggi besar dipakai oleh para pemanjat tebing untuk berlatih menyalurkan adrenalin. Warnanya merah mencolok, disinari matahari makin mencrang, kontras dengan langit dan pepohonan yang tumbuh di tepi dan atasnya.

Sekalian mencoba hobi baru membuat video, saya rekam-rekam dan otak-atik videonya secara amatir.

Jelajah Jalur Klasik Lembah Sungai Rhine: Burg Rheinstein

IMG_0345.JPG
Burg Rheinstein dan Singkapan Kuarsit

Saya membayangkan berabad-abad lampau ketika peperangan terus terjadi antara satu daerah dengan daerah lain. Raja-raja berlindung di kastil yang dibangun di atas bukit, di atas bebatuan yang kuat, agar tidak bisa ditembus dari mana pun. Tembok-tembok disusun tinggi, menjadi pelengkap dari perlindungan alami yang disediakan tebing alam.

Membayangkan kembali ke masa lampau dapat dilakukan dengan menyusuri Sungai Rhine di Jerman. Di sepanjang Sungai Rhine, kastil berderet begitu banyak di bukit-bukit di tepiannya, lebih dari jari bisa menghitungnya. Kastil-kastil yang berdiri tegak menegaskan perannya dalam sejarah panjang peradaban Eropa.

Lembah Rhine yang merupakan lembah subur di Jerman merupakan manifestasi dari Graben Rhine, sebuah graben yang terbentuk sejak awal Kenozoikum atau setelah kepunahan dinosaurus 65 juta tahun lalu. Secara geografis, Lembah Rhine bisa dibagi menjadi tiga segmen, Rhine Atas atau Oberrheingraben mulai dari Basel hingga ke Wiesbaden, kemudian Rhine Tengah atau Mittelrheingraben mulai dari Bingen hingga ke Bonn, dan Rhine Hilir yang dimulai dari Bonn hingga bermuara ke Laut Utara.

Jika Oberrheingraben terkenal dengan area pertanian subur yang dibatasi oleh Perbukitan Horst Odenwald dan Perbukitan Vosges yang berlitologi granit, Rhine Tengah atau Mittelrhein terkenal sebagai jalur wisata klasik, salah satu yang terindah di Jerman.

Jalur ini juga telah diakui sebagai warisan dunia UNESCO. Beberapa kriteria yang mendasarinya antara lain: sudah sejak dua milenium menjadi jalur utama transportasi di Eropa, bentangalam yang luar biasa meliputi tatanan geologi dan geomorfologi serta kebudayaan manusia yang berkembang di dalamnya seperti kastil, perkebunan anggur, dan kota-kota kecil.

Sungai Rhine yang mengalir dari arah selatan berbelok ke barat ketika menabrak bebatuan tua Perbukitan Taunus dengan litologi kuarsit. Sungai ini terus mengalir hingga akhirnya berbelok kembali ke utara di Bingen. Di sini sungai ini menggerus bebatuan Perbukitan Taunus, menyingkapkan bebatuan masif dengan struktur geologi terlipat kuat, menghasilkan lembah terjal yang mengagumkan.

Lembah terjal ini berliku sejauh 65 kilometer, mulai dari Bingen hingga ke Kota Koblenz.  Lembahnya sempit, lebar Sungai Rhine di sektor ini paling lebar hanya 130 meter dan paling sempit 20 meter saja. Mungkin di beberapa segmen lebih tepat disebut sebagai Ngarai. Di sepanjang lembah ini berdiri bangunan-bangunan saksi sejarah bermilenium kebudayaan Eropa. Selama seribu tahun naik turun kebudayaan manusia di sini, ada sekitar 40 kastil yang didirikan di tepian lembah.

Pada masa perang di abad ke 17 banyak kastil-kastil ini ditinggalkan. Hingga akhirnya pada akhir abad ke 18 di saat kesadaran untuk mengapresiasi sejarah dan alam menjadikan pemandangan dramatis Lembah Sungai Rhine Tengah dihargai dan daerah ini dikembangkan. Hingga pada abad ke-19 banyak dilakukan aktivitas restorasi dan rekonstruksi.

Burg Rheinstein adalah salah satunya. Ia berdiri megah di seberang Kota Assmannshausen. Kastil ini dibangun pada abad ke-14  di atas bebatuan kuarsit Formasi Taunusquartzit berumur Devon, Sempat menjadi puing akibat ditinggalkan, kastil ini kemudian dibeli oleh Raja Frederick dari Prussia yang mengembangkannya dan bahkan kastil ini menjadi lokasi berlibur kesukaannya. Hal yang wajar karena suasana damai yang ditawarkan Lembah Rhine dengan aliran sungai yang pelan dan menenangkan.

Kini kapal-kapal feri berlewatan setiap hari membawa turis yang datang dari arah utara dari Koblenz atau dari arah selatan dari Rüdesheim. Tur menyusuri Sungai Rhine ini memang lebih cocok dengan kapal feri. Ada banyak paket yang ditawarkan dengan berbagai macam bahasa pengantar, sayang tidak ada yang sesuai dengan anggaran bulanan mahasiswa seperti saya.

Alhasil saya berjalan kaki, dari Rüdesheim menyusuri perkebunan anggur di tepian lembah hingga ke Kota Assmanshausen sejauh 7 kilometer, yang sepadan setiap langkahnya. Yang singkapan-singkapan membentang sejauh mata memandang, dan aliran sungai, hijau lembah, dan kastil-kastil tua.

Di Assmanshausen saya berhenti dan memandangi Burg Rheinstein seraya menetapkan niat bahwa saya nanti akan kembali lagi. Menyusuri sisa Lembah Mittelrhein yang belum terlangkahi. Yang menanti untuk ditafakuri, yang menjadi sumber rasa syukur atas kesempatan yang didapatkan.

Untuk lihat video perjalannnya bisa mampir di kanal Youtube saya: Geotouren des Rudesheim am Rhein jangan lupa suka dan komentar ya!

Sampai jumpa lagi.

IMG_0382.JPG

IMG_0360.JPG
Singkapan kuarsit ke arah hulu dari Burg Rheinstein, perhatikan arah kemiringan lapisan

Grimm Bersaudara dan Dedikasinya pada Sastra

Semua orang pasti pernah dengar cerita Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, Rapunzel, dll. Siapa coba pengarangnya?

Cerita-cerita itu adalah folklor dari Jerman yang kemudian dicatat, dikembangkan, dan ditulis ulang oleh Grimm Bersaudara, Jacob dan Wilhelm Grimm pada awal abad ke-19. Mereka adalah cendekiawan dari Jerman, filolog, leksikolog, akademia di bidang kultur dan budaya. Kisahnya diabadikan dalam film Brothers Grimm yang dibintangi oleh Matt Damon dan Heath Ledger (saya belum nonton tapi kayanya seru nih).

Jacob_und_Wilhelm_Grimm.png
Grimm Bersaudara. By Ludwig Emil Grimm – Historisches Museum, Hanau zeno.org, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=3193091

Grimm Bersaudara lahir di Hanau, sekitar 20 kilometer arah timur dari Frankfurt, dekat dengan tempat saya tinggal. Mereka berkuliah di Universitas Marburg, salah satu universitas paling tua di Jerman, juga paling terkemuka. Di sinilah mereka memulai studi tentang sastra periode pertengahan Jerman.

Sekitar tahun 1810 mereka bekerja sebagai pustawakan di Kassel, pekerjaan yang sederhana tapi bisa memberikan waktu luar biasa untuk meriset dan berkarya. Sekitar periode ini hingga 1830 merupakan saat-saat paling produktif tatkala mereka berhasil mempublikasikan banyak karya terutama Kinder- und Hausmärchen, yaitu cerita anak-anak Jerman. Juga karya-karya seperti folklor Denmark dan Irlandia, mitologi bangsa Nordik. 

Karena publikasinya ini, mereka diangkat sebagai Profesor Sastra Jerman di Universitas Goettingen. Jacob mempublikasikan Mitologi Jerman, sementara Wilhelm melanjutkan publikasi Kinder- und Hausmärchen. 

Karya terbesar mereka adalah Kamus Besar Bahasa Jerman edisi pertama. Mereka memulai projek ini pada tahun 1838 setelah mereka dipecat dari universitas karena memprotes penguasa. Selama dua tahun mereka mengerjakan projek ini secara mandiri, hingga kemudian situasi politik mencair dan mereka melanjutkan bekerja di Universitas Berlin. Di sini juga mereka menerima dana riset dan melanjutkan pembuatan Kamus Besar Bahasa Jerman yang dipublikasikan pertama kali pada 1854.

German_dictionary

Wilhelm meninggal dunia di Berlin pada 1859. Jacob yang berlarut dalam kesedihan akibat kehilangan saudaranya terus melanjutkan perjuangan mereka dalam menyusun kamus, hingga akhirnya menyusul pada tahun 1863.

Grimm Bersaudara adalah contoh dedikasi tiada henti pada bidang sastra. Karyanya pada dokumentasi folklor kemudian menjadi suatu cabang ilmu (folkloristics), menjadi standar dalam dokumentasi cerita rakyat lain mungkin hingga sekarang. Kinder- und Hausmärchen adalah buku yang menjadi bacaan wajib pelajar pada akhir abad ke 19. Dongeng-dongeng hasil publikasi Grimm Bersaudara kini menjadi dasar fondasi dari kerajaan milyaran dolar Disney. Cerita-ceritanya mewarnai masa kecil hampir semua anak di dunia. 

Brothers_grimm_movie_poster
By Source, Fair use, https://en.wikipedia.org/w/index.php?curid=1980464

Rumah Grimm Bersaudara di Marburg. Sayang pas berkunjung lagi tutup karena pengurusnya sedang libur musim panas.

Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Brothers_Grimm

Sketsa Gereja Tua di atas Batugamping Terumbu dan Ingatan pada Sang Guru

Saya duduk di tepian Sungai Lahn, melihat pemandangan Gereja St. Lubentius yang dibangun megah pada abad ke-13 di atas batugamping terumbu berumur Devon (sekitar 375 juta tahun yang lalu). Siang itu benderang dan saya duduk di rimbun taman tepi sungai. Orang-orang berlewatan, berlari, bersepeda, berhenti sejenak kemudian berenang di Sungai Lahn yang tenang. Tempat ini indah dan sudah ditetapkan menjadi bagian dari Geopark Lahn-Westerwald-Taunus, sebuah geopark nasional di Jerman dengan luas 3800 km persegi yang menyimpan kisah geologi lebih 400 juta tahun ke belakang.
Waktu saya masih panjang, kereta hadir setiap jam. Pikir saya tak perlu terburu-buru. Lalu saya keluarkan pensil dan kertas, memulai mengukur dan mengeker, membayangkan proporsi bentuk sketsa saya. Mengingat dengan keras ajaran-ajaran yang saya serap dari almarhum guru saya, yang saya yakin akan sedang asyik menyeketsa jika ada bersama saya di sana. Memamerkan hasilnya pada saya, membuat saya berkecil hati, lalu dia tertawa.
Saya bukan penggemar membuat sketsa, hanya siang itu saya merasa ingin melakukannya. Karena dengan begitu saya merasa dekat dengan Sang Guru, yang selalu memuji, sejelek apapun hasil sketsa saya. Kata beliau, “Sketsa saya juga dulu jelek”, yang mana saya yakin merupakan manifestasi kerendahhatiannya, karena saya membaca skripsi sarjana beliau, skripsi lulusan terbaik pada periode wisudanya, yang dihadiahi palu geologi oleh himpunan kami sebagai penghargaannya. Tentu sketsa di skripsi beliau itu luar biasa bagusnya, silakan mampir di perpustakaan Klompe jika tak percaya.
Menyeketsa perlu waktu yang lama, perlu ketekunan membuat garis, memberi tekstur, dan memperkirakan proporsi gambar agar sesuai, tak terlalu kecil, tak terlalu besar. Tekun bukan sifat saya. Sulit buat saya untuk tekun, karena begitu banyak distraksi. Mungkin karena sifat milenial yang kesulitan berkonsentrasi dan mudah tergoda melakukan hal lain. Tapi saya percaya bahwa membuat sketsa adalah salah satu cara baik untuk melatih ketekunan. Menyelesaikan yang sudah kita mulai, dengan hasil baik yang memuaskan.
Terima kasih Pak Budi Brahmantyo, semoga ilmu bapak menjadi amal yang tiada putus-putusnya menerangi di alam sana.

St. Lubentius an der Lahn auf dem Devonischer Kalkstein,

Limburg, Hessen, Deustchland

22.August.2018