Junghuhn Seorang Geologist

Dalam pengetahuan komunal masyarakat Indonesia, Junghuhn dikenal sebagai orang yang membuat grafik lokasi ideal tumbuh kembang tanaman berdasarkan elevasi ketinggian. Pengetahuan ini tersebar, karena dimuat dalam pelajaran geografi ketika SD dan SMP. Setidaknya begitu belasan tahun lalu, ketika saya masih sekolah dasar dan sekolah menengah dulu.

Ketika masuk dalam pelajaran sejarah, nama Junghuhn kembali mengemuka mengingat jasanya dalam budidaya kina. Junghuhn dikenang sebagai perintis budidaya kina di Indonesia, hingga pada awal abad 20, Indonesia menguasai pasar kina dunia.

Tugu Makam Junghuhn di Lembang, dikelilingi pohon-pohon kina. Telah ditetapkan sebagai Cagar Alam Junghuhn seluas 2.5 ha

Selain dari dua bidang tersebut, nama Junghuhn tak banyak saya lihat. Ketika saya berkuliah di jurusan geologi, namanya tak muncul. Mungkin hanya sekali, yaitu ketika almarhum Pak Budi Brahmantyo menceritakan tentang sketsa Junghuhn di Situ Patengan. Namun selebihnya ia tak terdengar.

Padahal Franz Junghuhn (lahir di Mansfeld Jerman, 1809 dan wafat di Bandung, 1864) adalah salah satu perintis penelitian geologi di Hindia Belanda, terutama di Jawa. Karyanya yang paling masyhur, Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart (Jawa, Bentuk, Vegetasi, dan Struktur Pembentuknya), yang terdiri atas tiga volume, pada volume III setebal 329 halaman, khusus membahas mengenai geologi Pulau Jawa. Di dalamnya tercakup pembahasan mengenai sebaran mineral, sedimen, morfologi pegunungan, fosil hewan dan tanaman, formasi-formasi penting, batuan gunungapi, keberadaan metal, bahkan hingga mata air panas. Deskripsi fosil dan lokasi penemuannya menjadi lokasi A-Z, menjadi sumbangan sangat berharga bagi penelitian stratigrafi di Hindia.

Sementara volume I membahas mengenai tanaman-tanaman dan volume II membahas mengenai gunungapi. Pada tahun 1855, Junghuhn mempublikasikan peta Pulau Jawa skala 1:350.000 yang ia bagi ke dalam 4 lembar. Salah satu edisi peta ini merupakan peta geologi dengan warna-warna yang membedakan formasi-formasi batuan. Peta ini merupakan peta geologi kedua Pulau Jawa, setelah peta geologi oleh Horsfield pada awal abad-19.

Peta Geologi Bandung dan Sekitarnya oleh Junghuhn (1855)

Jika kita menelusuri karya-karya Junghuhn secara kronologis, maka kita akan tahu bahwa mulanya Junghuhn tidak begitu awas dengan kondisi geologi. Passion-nya ketika itu lebih ke aspek botani. Menurut Rogier Verbeek, kemungkinan besar Junghuhn mulai awas dengan kondisi geologi adalah pada tahun 1834, ketika ia berkunjung ke Laacher See (Danau Laach) di sekitar Pegunungan Eifel. Di sini, Junghuhn muda terkesima dengan pegunungan vulkanik ini, dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa geologi juga merupakan hal menarik yang belum banyak dipahami.

Pada awal karir Junghuhn di Hindia pun, ia tak begitu awas dengan kondisi geologi. Ia lebih banyak memperhatikan tanaman-tanaman, mendeskripsi, kemudian mengumpulkan spesimennya. Baru pada tahun 1837, ketika Junghuhn ditugaskan menjadi deputi dari Dr. Fritze, ia mulai memiliki pembimbing dalam ilmu geologi. Dalam buku “Topograpische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java, Magdeburg 1845”, Junghuhn menuliskan bahwa dalam perjalanannya dengan Dr. Fritze, Junghuhn melakukan penelitian mengenai tanaman; sementara Dr. Fritze melakukan observasi geologi, mengunjungi kawah, dan mengoleksi bebatuan. Pada bulan Mei 1839, Fritze meninggal dan meninggalkan kesedihan mendalam bagi Junghuhn.

Ernst Albert Fritze (1791-1839)

Junghuhn melanjutkan petualangannya di Jawa hingga tahun 1841, untuk kemudian berpindah ke Sumatera dan melakukan penelitian di Tanah Batak selama 13 bulan. Di rimba yang liar ini, Junghuhn berhasil memetakan topografi kawasan ini dengan sangat baik, sekaligus mempublikasikan pengamatannya mengenai Tanah Batak di Sumatera (Die Battaländer auf Sumatra). Menurut Verbeek, dalam buku tersebut Junghuhn secara eksplisit menyebutkan mengenai rencana pembahasan geologi yang akan dituliskan dalam buku volume kedua. Namun buku tersebut tak pernah terpublikasikan. Buku Die Battaländer auf Sumatra hanya terbit dalam bahasa Jerman. Ini karena naskah buku ini ditolak oleh pemerintah kolonial karena catatan-catatan kritis mengenai perlakuan buruk tawanan Jawa oleh serdadu kolonial.

Pada periode awal Junghuhn di Hindia, selama 13 tahun (1835-1848), kemudian kita kurangkan dua tahun bekerja di Sumatera, dan dua tahun lainnya untuk membuat laporan tentang Tanah Batak, maka sebenarnya Junghuhn hanya punya sekitar 9 tahun untuk meneliti Jawa. Bayangkan 9 tahun untuk mendaki 45 gunung, beberapa di antaranya berkali-kali, 16 di antaranya ia merupakan orang yang pertama, kemudian mengunjungi lembah-lembah yang dalam dan deras, serta menerobos rimba belantara yang kejam, mengumpulkan spesimen dalam peti-peti dan mengirimkannya ke Eropa. Bahkan pada periode awal, kebanyakan dari waktu tersebut bahkan dilakukan pada masa-masa cuti, karena pada awalnya Junghuhn adalah seorang dokter militer. Ini merupakan prestasi yang hebat, menimbang seluruh kesulitan yang ada ketika itu. Perjalanan-perjalanan geologi Junghuhn hanya bisa dilakukan jika ada persitensi yang tinggi, mengingat begitu terperincinya laporan yang ditulis Junghuhn.

“Sebuah cahaya baru yang telah lama dinantikan, baru-baru ini terbit mengenai karakter geognostic Pulau Jawa, melengkapi karya-karya terdahulu Horsfield, Raffles, dan Reinwardt, yang masih belum lengkap. Dibuat oleh peneliti alam yang cerdas, piawai, dan pantang menyerah, Franz Junghuhn. Setelah tinggal lebih dari 12 tahun ia merampungkan karya yang sangat berharga: Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart.”

Alexander von Humboldt dalam Kosmos jilid 4, tahun 1858

Junghuhn harus kita kenang sebagai geologist yang handal. Kita harus ingat bahwa Junghuhn memelajari geologi secara otodidak. Ia tak punya pendidikan khusus geologi. Hal ini juga kemudian mengakibatkan banyak observasinya yang kurang presisi, meski tidak mengurangi rasa apresiasi kita padanya. Verbeek menuliskan bahwa Junghuhn mengklaim bahwa basalt hanya ditemukan di tiga gunungapi di Jawa, padahal batuan ini bisa ditemukan di begitu banyak gunung. Junghuhn juga banyak mendeskripsi batuan plagioklas-trakhit, yang ternyata merupakan batuan andesit. Lebih lanjut Verbeek mengapresiasi Junghuhn begitu tinggi, terkait deskripsi medan yang begitu detil terperinci dengan ilustrasi yang dilengkapi banyak sketsa, profil, dan peta. Namun harus diakui bahwa ketika Junghuhn membahas substansi geologi, maka maknanya kurang begitu berarti, terutama jika kita bandingkan dengan ilmu yang berkembang sekarang.

Beberapa teori penting yang dikemukakan Junghuhn, terutama teori mengenai pembentukan gunungapi. Junghuhn lah yang pertama menyatakan dan membuktikan bahwa kerucut gunungapi volkanik itu bertumbuh dan membangun kerucutnya secara berturut-turut dari letusan debu gunungapi dan aliran lava. Naiknya elevasi gunungapi bukan karena pengangkatan, tetapi karena proses letusan-letusan yang berulang. Teori ini mungkin sekarang sudah usang dan kuno, tetapi pada zaman Junghuhn, teori itu diterima sebagai teori yang benar, dan bahkan didukung oleh Leopold von Buch. Tak hanya von Buch, Charles Lyell, bapak geologi abad 19, dalam bukunya yang legendaris, The Principle of Geology (1868) tak ragu untuk menyebut nama Junghuhn 6 kali dalam bukunya, dan menyitir pendapat Junghuhn, membuktikan betapa berharganya informasi dan analisis yang dikembangkan Junghuhn di Jawa.

Pada akhirnya, Junghuhn harus kita kenang sebagai salah satu perintis ilmu geologi di Indonesia. Seperti yang disampaikan Verbeek dalam memoir mengenang 100 tahun Franz Junghuhn, bahwa Junghuhn memberikan efek sugestif pada generasi muda. Ia menginspirasi pemuda generasi Verbeek untuk berkarya mengeksplorasi bumi Hindia, dan harusnya juga pada generasi-generasi setelahnya, termasuk generasi kita. Junghuhn adalah contoh dari orang berjiwa Promethean, yaitu orang yang memberikan segalanya untuk kemajuan ilmu pengetahuan, tanpa memedulikan konsekuensi terhadap dirinya sendiri.

Wahai Junghuhn, karyamu abadi!

Sketsa geologi pantai dengan undercut di bawahnya. Terdiri atas lapisan batupasir dan kapur
Sketsa Bukit Breksi Batu Nini di sekitar Gunung Buleud Cililin
Sketsa batuan sedimen berlapis nyaris tegak di Sanghyang Heuleut

Beberapa sumber tulisan ini:
1. Junghuhn als Geologe – Rogier Verbeek
2. Forschen – Vermessern – Streiten – oleh Renate Sternagel dan Gerhard Aus
3. Buku Java: Seine Gestalt, Pflanzendecke, und Innere Bauart volume III – Franz Junghuhn

10 thoughts on “Junghuhn Seorang Geologist”

  1. Adakah dia menyebutkan siapa pendamping pribumi yg menunjukkan dia tempat mana yg hsrus dikunjungi? Seperti Everest doidampingi sherpa Tenzing

    1. Thanks Pak atas pertanyaannya. Sejauh yang saya tahu, belum ada referensi tentang itu. Kalau ada, akan saya kabari Bapak.

  2. Terima kasih atas tulisannya, Mas. Saya sedang mencari buku Java ini versi bhs Inggris. Apakah pernah diterbitkan dlm bhs Inggris? Terima kasih.

    Salam,
    Uswah

  3. Wah, saya sebenarnya penasaran sama mbah Bemmelen, ketik di google “mbah bemmelen” malah diantar ke blog ini, bagus mas tulisannya, saya mendapat pemikiran-pemikiran yang mantap hehe. Semoga terus berkarya menulis yaa mas, terutama bidang geologi, saya akan jadi pembaca setia blog ini hihi. Saya ijin bookmark yaa mas 🙂

    1. Wah terima kasih ya. Saya ada nulis tentang Naturalist-Geologist periode Hindia Belanda, kalau mau baca, bisa mampir ada di twitter saya @malikarrahiem

  4. Tetap sangat menarik selain fakta bahwa Junghuhn adalah salah satu geologist penting di Indonesia adalah naik 45 gunung dalam 9 tahun di tengah kondisi saat itu.

    Masih sama dengan pertanyaan Pak Muliawan. Penasaran dengan pribumi yg diajak saat itu? Selain itu adakah pribumi yg menemani akhirnya diajari untuk melakukan ekspedisi sendiri dst di abad 18 19 maupun 20? Thanks Mas.

    1. Thanks Reza atas pertanyaannya. Sejauh yang saya sudah baca, belum ada nama pribumi yang ditulis Junghuhn. Secara pribadi Junghuhn bukan orang yang mudah diajak bekerja sama, dia juga cenderung penyendiri dan suka meremehkan orang lain.

      Ada tulisan bagus dari Pak Atep Kurnia tentang Carl Blume, seterunya Junghuhn. Carl Blume ini pernah menulis tentang Bapak Santir, seorang pribumi yang terampil dalam mengidentifikasi tanaman. Tapi oleh Junghuhn, Bapak Santir ini disindir hanya seorang kuli. https://m.ayobandung.com/read/2020/11/02/148086/c-l-blume-ldquo-djelma-bodas-rdquo-dan-vaksinasi-cacar

      Tapi Junghuhn juga banyak memuji orang2 pribumi, terutama mereka yang hidup di dataran tinggi. Kata Junghuhn, orang pribumi yang tinggal di dataran tinggi itu berperadaban lebih tinggi, selain juga jauh lebih beradab dari orang2 yang tinggal di pesisir. Orang2 yang dimaksud Junghuhn terutama orang2 di Tanah Batak dan di Pegunungan Tengger.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *