Tentang Sunda Abad-19 dan Naturalis Jerman yang Melaporkannya

Kemarin saya nonton tayangan ulang Diskusi Sunda Abad-19 yang diadakan oleh Oleh-Oleh Boekoe Bandoeng dan Sahabat Heritage Bandung dengan narasumber Pak Hawe Setiawan dan Pak T. Bachtiar. Tayangannya sebagai berikut:

Dalam suasana COVID-19 ini, saya bersyukur diseminasi ilmu berjalan secara masif. Memanfaatkan platform online, semua kelompok berlomba-lomba membagikan ilmunya. Mungkin inilah keadaan normal yang baru. Forum-forum kajian yang dulu terfokus di kampus, kelas, selasar-selasar, kini berpindah ke rumah masing-masing, disambungkan oleh platform daring. Keren.

Sekitar dua tahun lalu, saat masih di Jerman, saya dapat kesempatan untuk melihat buku-buku jadul. Publikasi-publikasi abad-19 yang membuat saya berdecak kagum, betapa orang pada masa itu bisa menulis dengan kualitas tulisan yang sangat baik. Bahkan kalau saya boleh bilang, jauh lebih baik dari tulisan modern. Betapa perbedaan fasilitas tidak memengaruhi kualitas tulisan. Kemudian saya menyadari bahwa gagasan orang-orang itu abadi.

Saya terlecut untuk melanjutkan projek lama saya, menulis buku tentang Petualangan Naturalis Jerman ke Tanah Priangan Abad-19. Tulisan ini bagi saya penting, karena catatan-catatan naturalis Jerman ini tersedia. Beberapa sudah saya terjemahkan, beberapa lainnya sedang saya kurasi untuk memilah catatan mana yang ingin saya tampilkan dalam buku ini.

Buku saya ini berisi tentang perjalanan empat orang Jerman pada masa yang berbeda-beda. Naturalis pertama, seorang Jerman yang bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda dalam misi pemetaan potensi alam tanah kolonial. Namanya Salomon Mueller yang bertugas di Hindia Belanda pada tahun 1826-1836. Ia adalah salah satu orang yang selamat dari rimba ganas Hindia Belanda dan kembali ke negerinya. Mueller adalah seorang ahli hewan. Pada tahun 1833, selama lebih 3 bulan, ia berkunjung ke Bandung dan menjelajah tanah Priangan. Bersama Pieter van Oort, seorang pelukis, Mueller melaporkan perjalanan dari Tangkuban Perahu ke Curug Cimahi, Curug Penganten, Cililin, Gunung Lumbung, Ciwidey, Banjaran, dan kembali ke Bandung.

Naturalis kedua adalah Si Humboldt dari Jawa. Orang yang saya sebut peneliti Jerman paling berjasa bagi perkembangan ilmu alam di Hindia Belanda, namanya Franz Wilhelm Junghuhn. Saking banyaknya catatan yang ia buat, saya belum berhasil mengurasi perjalanannya dan memilah mana yang ingin saya tampilkan. Saking hebatnya Junghuhn, setelah lebih 150 tahun kematiannya, orang masih berdiskusi tentangnya.

Saya bermaksud untuk mengurasi catatan Junghuhn, terutama pada bagian geologi. Saya tidak tahu siapa orang yang lebih dulu memeta geologi Pulau Jawa sebelum Junghuhn, tapi saya belum menemukan peta yang lebih tua daripada peta yang Junghuhn buat dan dipublikasikan pada tahun 1857. Koleksi sampel geologinya melimpah, fosil, kerangka, dan batuan. Bahkan seorang Jerman lain yang saya bahas juga, Karl Martin, khusus mengaji fosil kerang yang dibawa Junghuhn dari Jawa. Catatannya tentang lokasi fosil berupa lokasi A-Z menjadi harta karun yang harus kita petakan, di mana sebenarnya lokasi fosil-fosil ini berada.

Naturalis ketiga, seorang Jerman lain, khusus datang ke Bandung pada tahun 1858 untuk bertemu dengan Junghuhn. Nama orang ini adalah Ferdinand von Hochstetter yang berkunjung ke Hindia Belanda dalam perjalanan ekspedisi Novara, ekspedisi saintifik berkeliling dunia yang didanai oleh Kerajaan Austria.

Hochstetter adalah seorang geolog. Ia meminta dengan amat sangat agar Junghuhn bersedia menemaninya dalam perjalanan melihat lapisan Tersier di sekitar Bandung. Sayang Junghuhn tidak dalam kondisi terbaiknya, namun tetap memberikan petunjuk dan mengirim perwakilannya untuk menemani Hochstetter berkeliling Cekungan Bandung. Hochstetter menelusuri jejak Junghuhn ke Curug Jompong, kemudian ke Lio Cicangkang untuk melihat fosil laut, hingga akhirnya terpana akan keindahan Curug Halimun, yang oleh Junghuhn disebut sebagai air terjun terindah di Jawa. Ia menelusuri Ci Tarum hingga bertemu Sanghyang Tikoro dan kembali pulang. Sampel-sampel perjalanan Hochstetter masih bisa kita temui di Natural History Museum of Vienna.

Naturalis keempat, Karl Martin, Bapak Paleontologi Belanda. Martin adalah seorang Jerman yang kemudian bekerja sebagai pengajar geologi di Universitas Leiden, Belanda. Martin memulai publikasinya tahun 1879 ketika ia menganalisis sampel fosil moluska yang dibawa oleh Junghuhn.

Pada tahun 1910, Martin yang begitu penasaran dengan sampel-sampel yang dikirim oleh Junghuhn, kemudian mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Priangan. Ia mengunjungi lokasi-lokasi di mana fosil-fosil itu berasal dan memberikan catatan terperinci yang membantu kita untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi fosil. Pertama Martin mengunjungi lapisan Ci Talahab di sekitar Ci Mandiri di Sukabumi, kemudian ia mengunjungi lapisan Rajamandala di Bandung Barat. Selanjutnya ia melaporkan tentang lokasi Lio Cicangkang di Gunung Halu, hingga akhirnya ia melaporkan tentang lapisan sedimen pembawa fosil moluska di daerah Ci Lanang, Gunung Halu. Lokasi yang belakangan ini kebetulan adalah lokasi tugas akhir penulis.

Martin berhasil mengidentifikasi umur lapisan berdasarkan kelimpahan fosil moluska yang ada di lapisan-lapisan tersebut. Metode yang digunakan adalah perbandingan antara jumlah spesies fosil yang masih hidup hingga sekarang dibandingkan jumlah spesies total (spesies masih hidup + spesies telah punah).

Keempat naturalis ini hanyalah sebagian kecil dari orang-orang Jerman yang berjasa pada Indonesia. Kita masih bisa sebut naturalis-naturalis lain yang berjasa besar, seperti Rumphius yang mengidentifikasi flora dari Ambon. Karya besarnya Herbarium Amboinsche saya kira adalah mahakarya abad 18 yang sangat luar biasa. Terlebih pada akhir masa hidupnya ia kehilangan indra penglihatan.

Kita bisa sebut juga Carl Blume, seorang direktur herbarium dari Leiden. Bukunya Rumphio (terinspirasi dari Rumphius) ditulis dalam bahasa latin dan memuat catatan-catatan flora yang sangat komprehensif, terutama dari sekitar Priangan. Lalu Caspar Georg Carl Reinwardt, kepala pertama Kebun Raya Bogor.

Sangat disayangkan bahwa ilmu-ilmu yang telah mereka catat sejak 200 tahun lalu belum tersambung ke zaman sekarang karena bahasa. Tulisan-tulisan mereka yang dibuat dalam bahasa Jerman atau Belanda masih sulit kita mengerti. Meski ada kabar gembira, bahwa magnum opus-nya Junghuhn, Java, sedang diterjemahkan oleh Komunitas Bambu. Tentu ini sangat menggembirakan untuk ditunggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *