Perjalanan Junghuhn dari Bogor ke Bandung Tahun 1844

Diterjemahkan oleh Muhammad Malik Ar Rahiem dari Buku Reizen Door Java, voornamelijk door Het Oostelijk Gedeelte van dit Eiland oleh Franz Wilhelm Junghuhn, yang diterbitkan tahun 1850 di Leiden.

Cianjur, 7 Agustus 1844

“Salam dariku, gunungku dengan puncak yang bercahaya merah,
Salam dariku, matahari yang menyinarinya!”

Schiller: Spaziergang

Sebelum Mentari pagi menembakkan sinar keemasannya dari balik Pegunungan Megamendung, 6 ekor kuda bergerak keluar dari stasiun Wangun (di atas Buitenzorg). Kuda-kuda itu menarik kereta kuda empat roda yang aku naiki, bergerak dengan berirama. Tak lama kemudian tiga puncak gunung di sekitar Buitenzorg (Salak, Gajak, dan Ciapus), tersinari terang cahaya surya pagi, sementara di bagian barat daya menuju Gede (Cikopo dan Cisarua), serta daerah hingga kaki Gunung Salak masih tertutup oleh bayang-bayang pegunungan Megamendung.

Gunung Salak. F. Junghuhn: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart. 2. Band

Aku memandangi puncak ini dengan seksama. Puncak yang telah didaki oleh begitu banyak naturalis anggota Naturkommisie sejak 1812, sementara itu 50 gunung lainnya di Jawa, hingga kini masih belum diinjak oleh para naturalis.

Udara pagi yang menyegarkan membangkitkan gairah berpetualang dalam diriku. Sementara keindahan dan kemegahan pepohonan dan tetanaman menakjubkanku. Di sini pepohonan masih tersembunyi dalam bayang-bayang hutan yang gelap. Di tempat lain aku lihat beberapa pucuk pohon palem yang sudah berkilauan diterpa sinar Mentari. Suasana ini sangatlah puitis, menghidupkan pikiranku, yang begitu mudah tergoda oleh kesan dari luar, dan membuat hidup dipenuhi kebahagiaan.

Meski demikian, tak ada hal lain yang lebih memancing rasa antusias selain dari kereta di Jawa, yang ditarik oleh Kuda Jawa, dan dikemudikan oleh kusir Jawa. Dari luar roda berdetak dan kuda-kuda mendengus. Dari depan terdengar tepukan keras dari kusir, dan dari belakangnya, tiga orang berteriak, seolah pertunjukan suara tanpa henti, ayoo – oh – ayoo – brr – hui – bur,bur! Tentu tidak dengan gaya Jenny Lind, tepi tetap menyentuh hati, sekaligus memekakkan telinga.

Di Pondok Gede, matahari mulai naik dan menyinari tanaman dari Afrika, yaitu perkebunan Conchineal-Cactus yang berada di satu sisi dari hutan pedesaan yang indah, yang juga muncul berkelompok dengan subur di sisi yang lainnya. Aku sudah tinggal selama 10 tahun di Jawa, tapi tetap saja terpana melihat kubah indah pohon Rambutan (Nephelium lappaceum), Mangga, dan banyak pohon-pohon buah lainnya, atau dedaunan Parkia biglobosa yang halus, bersirip, dan lembut menyebar, serta puncak pohon kelapa dan pinang. Ada kegembiraan yang membuncah, sebagaimana saat pertama kali aku melihatnya.

Kekuatan kebiasaan menumpulkan semua kesenangan. Kita baru bisa memahami keindahan alam melalui perubahan yang kontras, perubahan, dan pergantian yang signifikan. Hal itu harus menjadi rangsangan yang menjaga kerentanan pikiran kita, agar terus-menerus segar dan merasa hidup. Pada akhirnya, seseorang sangat merindukan bentuk-bentuk yang lebih solid, sebagaimana yang ditunjukkan alam kepada kita di utara: pemandangan padang rumput yang monoton, rumpun pohon ek yang tumbuh rendah, atau kebun ceri.

Untuk itu, maka jayalah terus industri mesin yang menjadikan perjalanan menjadi mudah, yang menjadikan perjalanan kereta kuda menjadi begitu nyaman. Semoga Tuhan menguatkan keretaku, terutama membuat as roda bertahan setidaknya sampai aku mencapai Jawa Tengah.

“Agar kita bisa berpencar padanya,
Itulah satu-satunya alasan dunia ini begitu besar”

Segera ketika sore tiba, sang kusir melihat kereta kudaku dengan tatapan keheranan. Ia mengingat perjalanan sebelumnya ke Cianjur, di mana ketika itu ia menjatuhkanku dari kereta hingga dua kali. Aku merasa cukup gembira untuk bertemu kenalan lama. Aku berjanji jika nanti bertemu lagi aku akan memberinya dua gulden, alih-alih satu gulden seperti harga biasa.

Di jalan menuju Megamendung (ketinggian 4620 kaki), aku terkagum dengan fakta bahwa pembangunan terjadi sangat cepat di sini dan populasi meningkat dengan cepat. Hal ini tidak mungkin terjadi tanpa peningkatan kesejahteraan masyarakat secara simultan. Beberapa tahun yang lalu, di tempat ini semua masih tertutup oleh hutan dan merupakan habitat badak. Sekarang banyak keluarga yang telah menetap di sana, dan sebuah warung yang dibangun dengan baik, menawarkan makanan, kopi, dan kue-kue untuk para pelancong. Warung ini berada di titik tertinggi jalan yang dibangun.

Di sini terlihat bahwa pembangunan jalan yang baik memiliki dampak yang kuat terhadap perluasan budidaya di suatu negara. Orang Jawa senang mengikuti jalan dan bermukim di sekitarnya. Oleh karena itu, pembentukan koloni baru, jika diperlukan, dapat dengan mudah diarahkan dengan membangun jalan menuju titik-titik tertentu. Aku tidak akan menjelaskan mengenai kondisi jalanan di Megamendoeng, yaitu jalan tertinggi yang bisa dilalui kendaraan di Jawa. Lintasan tertinggi yang bisa dilalui dengan menunggang kuda adalah lintasan di atas Pegunungan Dieng, dari Pekalongan melewati Batoer ke Wonosobo (titik tertinggi sekitar 6500 kaki). Kemudian jalur yang melewati Pegunungan Tengger, dari Tosari ke Wonosari, dan dari Kebo glaga ke Ledok-ombo. Lintasan terakhir mencapai 7800 kaki di titik tertingginya.

Di ngarai lembah di seberang celah, di antara bebatuan vulkanik, sungai Ci Kundul mengalir ke hilir. Sungai ini memisahkan Megamendoeng (sebagai rantai dari punggungan Pangrango) dari kaki Gede yang tinggi dan rata. Di atasnya, lebih jauh ke selatan, terletaklah Cipanas. Di tepi Ci Kundul, sedikit di bawah dekat jembatan, orang dapat melihat dinding vertikal berwarna abu-abu, cukup halus dengan tinggi sekitar 40 kaki. Dinding ini hanya terdiri atas satu lapisan abu vulkanik yang mengeras (orang Sunda menyebutnya Wadas). Abu ini jarang ditemukan di sekitar Gede, tapi di celah yang sempit ini mungkin merupakan tempat yang sangat tepat untuk berakumulasi, dan mungkin tersapu (pada erupsi sebelumnya) dengan aliran dari Ci Kundul, sebagai suatu aliran lumpur.

Peta Gunung Gede-Pangrango dan Sungai Ci Kundul. F. Junghuhn: Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart. 2. Band

Gunung-gunung di daerah ini memiliki nama yang spesial (Gunung Peser, Gunung Rasamala, Gunung Tjipanas, dll). Pegunungannya sendiri, jika dilihat dari kacamata geologi, terbentuk sekaligus dalam satu kesatuan, dan terdiri atas deretan bukit-bukit yang tersambung, di mana dasarnya adalah aliran lava yang berasal dari Gede.

Kami akhirnya tiba di Cianjur pukul 5.30 sore.

Bandung, 9 Agustus 1844

Pada pagi hari di tanggal 8, kami mulai bertolak ke arah timur. Dataran Cianjur terletak di kaki kerucut Gunung Gede, berupa hamparan yang luas, miring menurun menjauh dari pusat gunung berapi. Daerah sebelah selatan Cianjur menurun ke arah tenggara, menuju kaki dari Perbukitan Djampang (Kendeng). Sementara daerah di sebelah timur Cianjur, di mana Jalan Raya Pos berada, merupakan dataran dengan kemiringan landai ke arah timur, menuju lembah Ci Sokan. Sungai ini berhulu di Pegunungan Kendeng, jauh di selatan, dan mengalir menuju utara.

Beda elevasi dari dataran Cianjur ke dasar Ci Sokan adalah 584 kaki (Cianjur 1450 kaki, Ci Sokan 866 kaki), dengan jarak 8 menit geografis (sekitar 2 mil geografis). Dataran ini sangat cocok untuk budidaya padi, dan kita lihat di sini sawah-sawah yang luas memenuhi lereng-lereng Gunung Gede, membentuk teras-teras hijau, yang basah oleh air, yang di antaranya ditumbuhi oleh pohon-pohon buah, yang seolah menjadi titik-titik berwarna hijau gelap, di antara hamparan padi hijau yang memanjakan mata. Siapapun yang telah terbiasa dengan pemandangan Eropa, mungkin tak menyangka ini adalah Jawa. Hamparan hijau pesawahan, yang di kiri-kanannya pohon-pohon buah-buahan, dengan pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang. Masyarakat yang tinggal di sini adalah orang-orang yang penuh syukur, yang tinggal di pondok-pondok bambu sederhana.

Dataran yang berupa kaki gunung yang luas dan turun ke arah yang berbeda, dengan kemiringan yang rata sempurna, jarang ditemukan di Jawa. Biasanya lereng yang lebih rendah dari gunungapi bergabung dengan lereng gunungapi lainnya dan membentuk teras. Di beberapa gunungapi, kaki gunung menerus terus sampai ke pantai, seperti teramati di kaki selatan Merapi. Dataran Jogjakarta yang terbentuk dengan geomorfologi ini, meski 2/3 lebih rendah dari dataran Cianjur, bisa menjadi pembanding yang baik.

Di sisi kanan Ci Sokan, morfologi kembali menjadi dataran. Tren menurun ke arah timur telah berakhir, memasuki medan datar yang bergelombang, dengan elevasi merata antara 850-870 kaki sejauh 6 pal ke arah timur, hingga ke Ci Tarum, kemudian ke Dataran Rajamandala, lalu menerus hingga ke batas pegunungan batugamping Mesigit, yang menjadi batas sebelah barat dari Dataran Tinggi Bandung. Di Bandung, elevasi meningkat dua kali lipat lebih tinggi.

Ci Sokan dan Ci Tarum mengalir hampir sejajar satu sama lain. Keduanya mengalir dari selatan ke utara, dan kemudian bergabung pada jarak beberapa pal ke arah utara Jalan Raya Pos. Kedua sungai ini menggerus begitu dalam, membentuk ngarai sedalam hingga 150-250 kaki, dengan lebar dua kali lipat kedalamannya. Tepi-tepiannya terjal, dengan dinding curam menurun secara tegak lurus. Saluran di atasnya jatuh menderu ke bawah. Sampai kedalaman yang sama dengan kedalaman ngarai-ngarai ini, daratan di antara lembah (juga dataran Cianjur dan Rajamandala) hanya terdiri dari puing-puing vulanik, yaitu bongkah dan konglomerat dari berbagai ukuran, yang menumpuk di sini setebal beberapa ratus kaki. Mencirikan suatu lembahan luas antara Cianjur dan Pegunungan Batugamping Rajamandala, sebelum menjadi morfologi seperti sekarang.

Kedalaman dasar Ci Sokan berdasarkan observasi barometer adalah 150 kaki, sementara Ci Tarum 255 kaki. Dasar dari kedua ngarai ini masihlah puing-puing batuan vulkanik, sehingga kita tak bisa tahu dengan pasti seberapa tebal lapisan ini, juga lapisan apa yang melandasinya. Kita mungkin tahu informasi ini jika menyusuri ngarai ini jauh ke hilir. Kita tidak tahu pula bahan penyusun lapisan ini berasal dari mana. Apakah dari Burangrang? Apakah dari Gede? Ataukah dari Patuha? Yang kemudian terlimpas jauh hingga ke sini karena dorongan erupsi gunungapi. Kemudian berapa lama kemudian waktu yang dibutuhkan untuk terbentuknya lapisan koral Mesigit, yang kini membumbung tinggi hingga elevasi 2500 kaki. Sulit untuk membayangkannya jika membandingkan dengan sifat alam dari material rombakan gunungapi. Kebanyakan terdiri atas trakhit dengan kristal hornblende yang besar, lalu kristal feldspar yang bersifat gelas tersebar acak di sana, dengan masa dasar feldspar. Lebih jauh lagi, batuan ini biasanya didominasi oleh hornblende, sampai suatu titik bisa kita sebut sebagai batuan hornblende, yang porous, dan sesekali bisa kita lihat gelembung udara besar dan kecil.

Ci Sokan di titik ini telah menggerus lapisan, membentuk ngarai yang dalam, dan menghempaskan begitu banyak pecahan-pecahan dinding yang terakumulasi di dasar sungai. Lokasi pecahan-pecahan yang seolah membentuk pulau ini tertutup oleh lapisan tanah, dengan ketebalan sekitar 5 kaki. Di tepi-tepi teras Ci Tarum (atau setidaknya di mana itu berpapasan dengan jalan), bongkah-bongkah yang besar telah hilang, dan digantikan oleh lapisan tebal debu-pasir volkanik yang berwarna abu kekuningan dan memiliki karakteristik khusus. Di banyak tempat, pasir-pasir ini sudah terlapuk dan berubah menjadi lempung.  

Di banyak tempat, lapisan pasir atau debu ini berselingan dengan lapisan batuan membundar yang terdiri atas trakhit, dengan ketebalannya secara bergantian 5 hingga 10 kaki. Namun, di dataran Rajamandala, di sisi kanan Tji Tarum, terdapat bukaan jalan dengan ketinggian hingga 50 kaki. Di sini hanya tampak tanah lempung yang gembur, yang tampaknya dibentuk oleh dekomposisi batuan konglomerat yang aku sebut sebelumnya.

Pemandangan perbukitan kapur dari Jembatan Citarum Rajamandala

Lembah Ci Sokan dan Ci Tarum adalah satu-satunya lembah di Jawa yang serupa dengan lembah dataran tinggi Sumatera, seperti di Batang Agam (di Padang), atau lembah di Toba di Tanah Batak. Semua sungai-sungai di lembah ini terbentuk di atas lapisan konglomerat. Sebagai contoh Sungai Agam menyayat batuan apung sedalam hingga 500 kaki, seolah memotong dataran tinggi ini. Badan air Ci Tarum kira-kira sepertiga lebih besar daripada Ci Sokan, ini karena sungai ini sebelumnya menampung seluruh aliran air dari dataran tinggi Bandung. Warna aliran ini hampir selalu keruh karena sedimen yang dibawanya. Sedimen coklat ini membentuk kontras yang tajam dengan air jernih dari TJi Bodas yang lebih kecil, yang mengalir dari mata air.

Mungkin karena sulitnya mencari air, karena lokasi aliran sungai yang begitu jauh di bawah permukaan, maka daerah antara Ci Sokan dan Ci Tarum adalah suatu kawasan liar yang tak berpenghuni, dengan pepohonan yang rendah, namun alang-alang yang begitu tinggi. Spesies alang-alang dan gelagah (Imperata alang, Sorghum tropicum, Imperata glaga) menjadi tutupan lahan yang utama di sini. Di antara rerumputan ini, ada spesies Bambu, Emblica officinalis Gartn, Semak Melastoma malabatricum, dan di sana-sini beberapa Colberta obovate yang tersebar, kadang membentuk rumpun kecil seperti di taman. Tapi jarang ditemukan Ficus dan jenis pepohonan lainnya. Relung liar yang berumput dan semak belukar yang tebal ini sangat kontras dengan hutan tinggi yang teduh dan lembab yang ditemukan di sekitarnya. Lebih mudah untuk melewati hutan belantara yang tinggi dan gelap daripada melewati hutan semak yang sangat panas, dan terlebih lagi merupakan tempat favorit rusa, babi, dan harimau.

Lambatnya perjalanan kami terutama karena penyeberangan di kedua sungai. Hanya salah satu di antaranya, yaitu Ci Sokan yang memiliki jembatan yang terbuat dari balok kayu. Gerak kereta begitu lambat karena kerbau-kerbau yang begitu kepayahan menarik kereta melewati jalan yang curam. Dari pos Rajamandala, di tepi kanan Ci Tarum, kami berkuda. Kereta kami ditarik oleh 6 ekor kuda yang bergerak dengan cepat melewati dataran indah Rajamandala. Perjalanan menanjak, sesekali saja menurun. Di sana sini aku lihat tanaman nila, di sisi lain ditanami teh. Hingga akhirnya kami tiba di perbatasan dataran tinggi Bandung, yaitu suatu pegunungan kapur.

Kami bertemu dengan penyambut kami yang sabar, dengan penampakan yang bodoh dan tidak peka (maksudku adalah si kerbau). Kerbau-kerbau ini menarik kami perlahan tapi pasti menuju tujuan. Sepanjang jalan yang perlahan ini, kami punya banyak waktu untuk mengamati situasi pegunungan batukapur, dan bisa melihat beberapa lapisan fosil koral, di mana banyak terlihat bekas-bekas kerang-kerangan. Koral-koral ini terletak di kaki gunung Ciguntur, di sekitar Ci Bogo, tak seberapa jauh dari stasiun Cisitu dan di sebelah timur dari menara gunung kapur Kentjana. Puncak batukapur Kentjana, Mesigit, dan Karang menjulang indah ke kiri, di sebelah utara jalan. Warna putih kapur ini bersinar kontras melalui hijau hutan di sekitarnya. Lebih jauh ke depan, di sebelah selatan jalan, berdiri tegak puncak keempa, sebuah batugamping yang tandus, Gunung Hawu, yang seolah-olah hanya potongan-potongan berbentuk dadu yang ditumpuk satu sama lain. Kaki gunung ini merupakan titik tertinggi dari jalan ini, yaitu pada ketinggian 2.567 kaki. Dari sini jalanan stabil melandai sampai ke dataran Bandung.

Gunung Masigit di Padalarang dilihat dari Puncak Pasir Pawon

Dataran ini semakin luas di hadapan mata para pengembara. Gunung-gunung di hadapan mata bersinar memukau. Puncak-puncak gunung api tersambung satu sama lain, terpandang jelas menembus sanubari. Bening air di danau seolah cermin. Danau buatan yang dibuat dengan membangun bendungan, dan terletak di sebelah kiri jalan. Lahan padi yang ditanam dengan baik disela oleh rumah dan desa-desa, menjadi penyambut para pengelana.

Tanpa menunggu lama, tentu aku merekomendasikan dataran tinggi yang cantik ini. Paling luas di Jawa, pada ketinggian ini (secara umum di Karesidenan Priangan, tipe bentangalamnya seperti di Sumatera, berbeda dengan di Jawa pada umumnya yang berupa dataran rendah dengan gunung-gunung terisolasi). Kepada seluruh petualang, kalian akan menemukan banyak bahan-bahan untuk pertimbangan ilmu pengetahuan, baik meteorologi, botani, dan geologi.

Pada jam 2 siang, aku tiba di Bandung yang telah cukup padat populasinya, meskipun tetap tenang dan menyenangkan. Aku menyiapkan beberapa persiapan untuk melanjutkan perjalanan aku ke beberapa tempat di Priangan, sebelum berangkan ke Jawa Timur. Ah, Gunung Guntur, tak sabar untuk aku datangi lagi. Mr. Nagel (Asisten Residen Bandung) dan Jenderal Cleerens (Residen Priangan) memberikan aku dukungan yang sangat berharga. Jenderal Cleerens bahkan memberikan aku surat pengantar untuk menghadap Residen lainnya.

2 thoughts on “Perjalanan Junghuhn dari Bogor ke Bandung Tahun 1844”

  1. Indah sekali catatan perjalanan ini walau berasal dari penerjemahan (Belanda, ya Mas bahasa awalnya?). Sangat penasaran dengan latar belakang dan cerita di balik layar seorang Junghuhn ketika menulis hal ini. Walau di post sebelumnya memang menjelaskan beliau dan sedikit sambungan terkait perjalanan cerita ini. Ditunggu cerita sambungannya mas!

    1. Terima kasih ya Reza

      Betul bahasa awal bukunya Bahasa Belanda. Sayang sekali memang belum ada yang menerjemahkan.

      Banyak cerita menarik tentang Junghuhn. Jika tertarik, bisa baca bukunya Pak Hawe Setiawan, atau bisa baca juga laporannya Beekman atau Bosma. Junghuhn sudah banyak jadi topik kajian para cendekia, tapi memang belum begitu merakyat, karena belum ada buku populernya yg berbahasa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *