Franz Junghuhn si Pengagum Alam Raya

Franz Wilhelm Junghuhn adalah seorang penjelajah keturunan Jerman. Ia lahir di Mansfield pada tahun 1809 dan wafat di Lembang pada 1864. Pada tahun 1837, Junghuhn bersama Dr. E.A. Fritze ditugaskan untuk melakukan inspeksi kesehatan di beberapa daerah di Jawa Barat. Saat berada di Dataran Tinggi Bandung, keduanya mendaki Gunung Malabar. Pengalaman menjelajahi Bandung Selatan begitu berkesan baginya sehingga ia memilih daerah Pangalengan untuk lokasi pengembangan dan penelitian tanaman kina.

Junghuhn_self-portrait
Junghuhn muda

Junghuhn dijuluki sebagai Humboldt van Java karena kegemarannya akan ilmu pengetahuan. Sebagaimana Humboldt ia pun adalah seorang naturalis, pencinta alam, geolog, eksplorasionis. Ia menyelidiki begitu banyak hal, terutama tentang Flora-Fauna, Geografi, Geologi, Iklim dan Sosiografi Penduduk Pulau Jawa. Dari hasil penelitiannya, terutama di daerah Priangan menjadi landasan bagi para pengusaha Belanda untuk menentukan lokasi yang tepat untuk perkebunannya. Hasil penyelidikan Junghuhn dibukukan dalam 4 jilid berjudul “Java” Gravenhage, 1853.

Haryoto Kunto, dalam Bandung Tempo Doeloe mendeskripsikan kecintaan Junghuhn pada tanah Priangan dengan cerita akhir hayatnya. Di akhir hayatnya, Junghuhn yang begitu mencintai tanah Priangan berkata pada sahabatnya, Dr. Groneman.

Groneman yang budiman, maukah engkau membukakan pintu jendela kamarku ini? Aku ingin berpamitan dengan gunung-gunungku yang tercinta. Buat akhir kali, aku ingin memandang hutan-hutanku. Ku ingin sekali menghirup udara pegunungan yang segar.”

Sambil memandangi dataran Bandung yang molek di bawah kaki langit, dihiasi gunung dan hutan alam Parahyangan yang cantik menghijau, berpulanglah Franz Junghuhn, Pengagum Alam Raya, menuju haribaan-Nya.

Begitulah Junghuhn, orang yang memiliki banyak jasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan di republik ini. Sebuah bukit di Pangalengan dinamai sesuai namanya, Pasir Junghuhn. Di makamnya di Jayagiri dibangun sebuah tugu obelisk untuk mengenangnya. Di sekitar tugu ditanamlah pohon-pohon kina untuk mengingat jasanya yang mengembangbiakan kina di Indonesia hingga pernah memenuhi 90% kebutuhan kina dunia. Begitulah Junghuhn, jasanya abadi.

slide_73
Klasifikasi vegetasi berdasarkan elevasi

Pustaka:

Kunto, H., 2014. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung: Granesia

Suganda, Her. 2014. Kisah Para Preanger Planters. Jakarta: Kompas.

Mendaki Tangkuban Perahu via Jayagiri

Hampir semua orang Bandung pernah ke Tangkuban Perahu, tapi mendaki Tangkuban Perahu? Hey tunggu dulu. Nah salah satu jalur pendakian Gunung Tangkuban Perahu yang paling mudah dan populer adalah Jalur Jayagiri. Tulisan ini akan membahas sebuah jalur pendakian untuk mengisi akhir pekan anda dengan kegembiraan.

Sebaiknya untuk perjalanan ini gunakan angkutan umum, atau simpan kendaraan anda di sekitar Lembang. Mulai dengan kunjungan ke Taman Junghuhn, yaitu makam seorang Naturalis asal Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn yang berjasa besar dalam penelitian vegetasi di Pulau Jawa. Taman Junghuhn berjarak 1 km dari Kota Lembang, yaitu setelah belokan kanan pertama Pasar Lembang, ambil belokan kiri pertama dengan plang hijau Taman Junghuhn.

IMG_4218
Tugu Obelisk Junghuhn

Di taman Junghuhn kita akan disambut oleh sebuah nisan berbentuk obelisk yang merupakan persemayaman terakhir Franz Wilhelm Junghuhn. Di taman ini banyak terdapat pohon kina, yang mana merupakan salah satu jasa terbesar Junghuhn di Indonesia. Ia merupakan orang pertama yang mengembangbiakan kina yang dicuri pemerintah kolonial Belanda dari Peru ketika itu. Dari kina anakan yang dikembangkan Junghuhn, Indonesia kemudian dikenal sebagai penghasil kina terbesar di dunia. Hal ini tentu menjadi keuntungan luar biasa bagi pemerintah kolonial karena kebutuhan kina sebagai obat-obatan ketika itu sangat tinggi dan harganya sangat mahal.

Selepas dari Taman Junghun, kembali ke jalan utama dan lanjutkan ke atas hingga bertemu gerbang Perhutani. Disinilah trekking kita akan bermula. Cukup dengan membayar Rp5.000 kita bisa menikmati suasana hutan pinus dan kebun kopi di Jayagiri ini. Total perjalanan dari gerbang Perhutani hingga ke Terminal Jayagiri Tangkuban Perahu sejauh 6.5 km dengan kenaikan elevasi setinggi 450 meter. Medan yang tidak terlalu terjal, dengan suasana hutan pinus yang meneduhkan membuat perjalanan ini tak terasa berat. Di sepanjang perjalanan pun kita akan sering bertemu dengan para pejalan kaki lainnya yang juga sedang menikmati suasana syahdu hutan Jayagiri. Saya mencoba membayangkan suasana tahun 70an ketika Abah Iwan Abdulrachman menciptakan lagu Melati dari Jayagiri. Pasti suasana ketika itu lebih khidmat dan menenangkan.

“Melati dari Jayagiri

Ku terawang keindahan kenangan

Hari-hari lalu di mataku

Tatapan yang lembut dan penuh kasih”

IMG_0076
Rombongan Ex Undis Solum I berfoto di gerbang Jayagiri (dari kiri berdiri : Teh Tyas, Jessy, Cae, Harits, Yudi, Teh Dian, Teh Akih, Nza, Arlyn, Kang Rakhman, Kang Shandi, Fabila, Bdi. dari kiri duduk : Gita, Edna, Dea, Hesty, Malik, Rayhan, Feby, Dadan)

Ada dua warung di perjalanan menuju Terminal Jayagiri, bisa ditempuh setelah 2 jam berjalan kaki. Warung ini dikenal sebagai Warung Abah. Warung ini merupakan tempat favorit para trekker dan offroader yang jalurnya bertemu di warung ini. Dari Warung Abah menuju Terminal Jayagiri bisa dicapai dengan 1 jam berjalan kaki. Kemudian kita harus membayar tiket masuk Tangkuban Perahu sebesar Rp30.000/orang.

IMG_0114
Suasana perjalanan di hutan pinus Jayagiri

Dari Terminal Jayagiri kita memiliki dua opsi, yaitu menggunakan Ontang-Anting yang disediakan PT GRPP seharga Rp7.000 atau melanjutkan jalan kaki menuju Kawah Ratu. Jika lelah gunakan saja fasilitas yang tersedia, karena berjalan kaki menuju Kawah Ratu akan menghabiskan 1 jam perjalanan menanjak tanpa henti. Kepuasan karena sudah berhasil mendaki Tangkuban Perahu merupakan hal yang patut kita syukuri. Keberhasilan karena sudah berhasil menaklukan diri sendiri.

Untuk menghibur kaki yang lelah karena telah berjalan begitu jauh, berjalanlah ke Kawah Domas. Kawah ini merupakan mata air panas yang terjadi akibat adanya energi panas bumi dari dalam Tangkuban Perahu. Di kolam-kolam dengan suhu 40o-100o C ini kita bisa merendam kaki kita. Kandungan sulfur yang tinggi dalam air panas menjadikan air panas ini baik bagi kulit kita. Beberapa turis dari Timur Tengah bahkan begitu senang membalurkan lumpur sulfur ke badan dan wajah mereka. Konon katanya lumpur ini baik agar kulit wajah tetap kencang dan sehat.

IMG_0301
Foto bersama di Kawah Domas. Peserta paling muda umur 6 tahun, paling tua ga usah ditanya lah. Tapi semua bahagia.
IMG_0271
Penjelasan singkat mengenai manifestasi panas bumi di Kawah Domas. Interpretasi geologi sederhana sebagai sebuah nilai tambah pariwisata.

Kita akhiri perjalanan kita di parkiran Kawah Domas dengan total trekking sejauh 15 km. Pengalaman perjalanan ini saya harap dapat menjadi energi untuk menjalani esok hari.
Salam

Rangkuman Buku Agrogeology : Rocks for Crops

Saya ingin berbagi mengenai tugas kuliah saya dulu. Isinya adalah rangkuman dari bab pendahuluan sebuah buku judulnya Agrogeology : Rocks for Crops. Buku ini ditulis untuk menjawab tantangan kebutuhan pangan yang luar biasa besar di masa yang akan datang. Meskipun studi kasus dilakukan di Afrika yang sulit jika dianalogikan sama dengan Indonesia, namun semangat untuk meneliti tentulah harus ditiru. Dengan visi Pak Jokowi untuk swasembada pangan dalam 3 tahun dan tentu seterusnya, maka pertanian yang berkelanjutan harus menjadi prioritas. Dengan itu tentu saja harus diterapkan segala disiplin ilmu agar didapatkan hasil yang maksimal.

Berikut rangkuman saya:

Sistem agrikultur yang berkelanjutan dan produktif adalah salah satu kebutuhan fundamental sebuah Negara dalam perkembangannya. Di Negara-negara Afrika sub-Sahara, lebih dari 50% populasinya bergantung pada agrikultur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yang secara makro terhitung berkontribusi >30% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Agrikultur adalah sumber utama penghasilan, pekerjaan, ketahanan pangan, dan upaya survival dari populasi umum. Namun saat ini pertumbuhan dari produk agrikultur relatif tetap sedangkan pertambahan populasi tumbuh lebih cepat dari produksi pangan. Hasilnya adalah penurunan produksi pangan per kapita, yang berkontribusi terhadap defisit pangan dan kelaparan. Pada umumnya petani afrika diklasifikasikan sebagai kalangan miskin karena kesulitan modal, lahan, buruh, dan dengan penghasilan harian per kapita <US$1. Angka ekspektasi hidup pun sangat rendah di Afrika, sebagai contoh di Guinea-Bissau, Madagaskar, Malawi, Rwanda, Sierra Leone, Uganda, dan Zambia, angka ekspektasi hidup <42 tahun. Hasilnya adalah Negara Afrika sub-Sahara memiliki proporsi tertinggi dari anak kekurangan gizi di dunia.

Penduduk di daerah Afrika sub-Sahara pada umumnya bergantung pada tanah dan hujan untuk mendukung produksi agrikultur. Tanah adalah basis dari upaya mereka untuk bertahan, untuk menjamin ketahanan pangan, dan bekerja. Namun di hampir semua daerah di Afrika, tanah mengalami eksploitasi yang berlebihan. Untuk kesuburan tanah yang berkelanjutan, perlu dilakukan penambahan nutrisi tanah dengan jumlah yang sesuai penggunaan nutrisi tersebut oleh tumbuhan. Namun pada hampir semua daerah di Afrika, lebih banyak nutrisi tanah yang dipakai daripada yang ditambahkan. Konsekuensinya adalah nutrisi tanah seolah-olah “ditambang” (Van der Pol, 1993). Selain itu, banyak area yang tidak terlindungi dari ancaman erosi sehingga tanah seolah-olah digerus dari ladang petani. Dalam beberapa dekade ke belakang, produktivitas tanah terus menerus berkurang. Laju penipisan tahunan di sub-Sahara mencapai 22kg nitrogen, 2.5 kg fosfor, dan 15 kg potassium per hektar tanah yang dibudidayakan. Nilai ini ekuivalen dengan US$ 4 miliar pupuk (Sanchez, 2002). Penurunan kualitas tanah ini disebut-sebut oleh banyak saintis sebagai penyebab biofisik utama dari penurunan produksi pangan di sub-Sahara (Sanchez dkk, 1997; Sanchez, 2002).

Kebutuhan akan produktifitas agrikultur yang berkelanjutan untuk periode waktu yang lama kemudian dijawab dengan pelatihan manajemen efektifitas tanah, air dan nutrisi yang efektif. Untuk menjawab tantangan kebutuhan pangan di Negara sub-Sahara, diperlukan usaha yang keras dari berbagai tingkat masyarakat, individu, komunitas, nasional, dan bahkan internasional. Hal ini karena masa depan generasi muda bertautan erat dengan adanya ketahanan pangan yang berkelanjutan dan juga adanya pangan yang bernutrisi dan cukup untuk dikonsumsi semua orang.

Untuk meningkatkan produktifitas tanah, produktifitas pangan, dan ketahanan pangan, petani tidak hanya harus menambah kadar nutrisi tanah (pupuk), tapi juga harus meningkatkan kualitas struktur tanah, dan mengurangi kehilangan tanah (erosi). Pemanfaatan pupuk dan juga nutrisi alamiah lainnya merupakan salah satu strategi dalam manajemen sumber daya yang efektif. Penggunaan pupuk yang larut dalam air juga merupakan langkah yang cukup baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanah. Namun, penggunaan produk ini juga dibatasi oleh komponen biaya yang tinggi dan juga kurangnya ketersediaan. Hal ini juga karena adanya perubahan kebijakan ekonomi makro di tahun 90an yang menghasilkan liberalisasi produk pertanian dan perang harga juga komersialisasi pupuk bersubsisdi. Hal ini mengakibatkan tingkat penggunaan pupuk menjadi berkurang. Secara regional, penggunaan pupuk per hektar sangat rendah yaitu <5 kg pupuk cair per hektar, yang merupakan rata-rata penggunaan terendah di dunia.

Kebutuhan untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan ketahanan pangan, dan melindungi lingkungan memerlukan usaha yang lebih luas dan lebih substansial, dan lebih berinovasi. Sanchez dan Leakey (1997) menyebutkan tiga kebutuhan penting untuk meningkatkan produksi agrikultur per kapita untuk petani berlahan kecil, hal ini meliputi kebijakan dan peningkatan infrastruktur lingkungan (meliputi pendidikan, fasilitas kesehatan, kredit, pasar, dan servis). Juga perlu ada upaya melawan pengurangan kesuburan tanah seperti dengan intensifikasi dan diversifikasi penggunaan lahan.

Riset dan pengembangan tanah pada umumnya hanya fokus pada isu teknikal. Tapi faktor non-teknis seperti sosial, ekonomi, dan politik juga penting. Situasi di kebun cukup kompleks sehingga solusi teoritis seringkali sulit untuk diaplikasikan. Salahsatu yang bisa dilakukan adalah studi mengenai nutrisi agrikultur.

Nutrisi agrikultur meliputi pupuk, kesuburan, dan sumber daya geologi (agromineral) yang berpotensi menambah produktifitas tanah. Agromineral secara natural merupakan material geologi yang terbentuk di dalam tanah dan bisa digunakan dalam sistem produksi pangan untuk menambah kesuburan tanah. Agromineral yang mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan biasa disebut sebagai “pupuk batuan” (Benetti, 1983; Appleton, 1990), kadang pula disebut “petrofertilizer” (Mathers 1994; Leonardos dkk, 1987, 2000), yaitu batuan dengan komposisi yang berbeda.

Istilah agromineral digunakan disini dan memiliki arti yang luas. Itu termasuk pula batuan penyedia nutrisi seperti batuan fosfat, nitrogen, garam potassium, dll. Juga termasuk “soil amendment” termasuk batugamping dan dolomite dan juga batuan silikat. Sumber daya geologi batuan ini pada umumnya mampu memberikan nutrisi pada tanah pada periode waktu yang cukup lama. Agromineral juga termasuk pada batuan dan mineral yang meningkatkan status fisik tanah. Misalkan perlit digunakan untuk menambah tingkat aerasi pada media tumbuh buatan di rumah kaca. Vermikulit dan zeolit adalah mineral yang mampu menampung dan melepas nutrisi dan moisture secara perlahan. Dan batuan volkanik scoria dan pumis mampu membantu mengurangi evaporasi.

Secara konvensional, pupuk kimia hasil industri berbentuk cairan dan mengandung nutrisi dalam konsentrasi yang cukup tinggi, kecuali pada beberapa pupuk nitrogen Sedangkan agromineral pada umumnya hanya dimodifikasi secara fisik dengan dihancurkan atau digerus. Yang sering digunakan juga adalah penggabungan antara metode kimiawi dengan agromineral.

Kini, banyak institusi sains nasional ataupun internasional yang mengumpulkan data-data mengenai kegunaan mineral-mineral. Namun data yang umum adalah data mengenai kegunaan unsur metal. Data-data mengenai agromineral masih tersebar dimana-mana sehingga perlu pendekatan yang komprehensif mengenai aset nutrisi tanaman yang mampu disediakan oleh unsur geologi, terutama yang dapat meningkatkan produksi pangan di dunia.

Kegunaan buku ini setidak-tidaknya ada dua, yaitu untuk merangkum peran potensial batuan dan mineral dalam meningkatkan produktifitas tanah, yang kedua adalah untuk menjadai khazanah pengetahuan dalam memahami sumber daya agromineral untuk 48 negara di selatan Sahara, Afrika.

Beauty of Curug Cimahi

Beauty of Curug Cimahi

When I was in highschool I came to this place and all I see is a waterfall.
I went there just now, and what I see is an amazing waterfall, made up from lava and volcanic breccia with 90 metres tall.
We can see the vertical collumnar joint which indicate the horizontal flows.
Curug (sundanese language for waterfall) Cimahi is a waterfall from Ci Mahi (Ci in english means River, so Ci Mahi means River Mahi). This river come from Situ Lembang (Situ means Lake), Situ Lembang now become the training center of Kopassus, Indonesian Army.

Desa Mukapayung sebagai Lokasi Wisata Alam Paling Komplit di Sekitar Bandung

Berwisata alam di Bandung Raya, tentu orang akan langsung berpikiran pada beberapa lokasi terkenal seperti Gunung Tangkuban Perahu di utara, atau Kawah Putih dan sekitarnya di kawasan Ciwidey, Bandung Selatan. Dua kawasan ini memang menjadi primadona wisata alam di sekitar Bandung Raya. Namun kali ini saya akan mengajak kita untuk berwisata ke tempat yang berbeda, yaitu Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Berbicara Cililin, berdasarkan obrolan dengan beberapa teman, maka yang terlintas adalah satu, longsor. Di Cililin memang pernah terjadi beberapa longsoran besar, seperti pada bulan Maret 2013 di Desa Mukapayung, dan pada 2003 di Desa Kidang Pananjung. Korbannya cukup banyak dan merupakan berita utama pada Koran-koran pada saat itu. Namun longsor tentu merupakan musibah. Selain itu tentu saja kawasan Cililin memiliki potensi lain yang mungkin belum tergali dengan baik sehingga masyarakat tidak mengetahuinya.

Di Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, terdapat sebuah kawasan wisata alam yang sangat menarik, namanya “Lembah Curugan Gunung Putri”. Kawasan ini merupakan kawasan wisata yang dikelola oleh masyarakat sekitar dengan memanfaatkan berkah aliran Ci Bitung. Disini masyarakat menggunakan aliran Ci Bitung untuk membuat kolam pancing dan juga kolam renang. Selain itu terdapat pula warung-warung yang menjajakan kuliner khas sunda seperti nasi liwet, ayam bakar, ikan bakar yang tentu menggugah selera.

ImageFoto kawasan Mukapayung dilihat dari Situs Mundinglaya, sepintas terlihat kemiringan lapisan (Foto oleh Oman Abdurrahman)

Image

Sajian kuliner berupa ayam bakar dengan nasi timbel. Makan di dalam saung beralaskan bilik bambu (Foto oleh Sarah Najmillah)

Pesona kawasan ini tidak hanya itu saja. Kawasan ini memiliki pesona geologi yang luar biasa. Kawasan ini termasuk ke dalam Formasi Pb menurut Soejatmiko (1972) yang berumur Pliosen atau sekitar 2-5 juta tahun yang lalu. Batuannya terdiri atas breksi yang berbentuk bukit-bukit besar yang dibelah oleh aliran Ci Bitung. Selain itu gejala kemiringan lapisan juga membuat orang dapat bertanya-tanya mengapa batuan memiliki lapisan yang miring sehingga dapat menjadi peluang edukasi geologi. Bongkah-bongkah raksasa yang jatuh dari tebing dinding breksi menambah eksotisme kawasan ini. Toponimi atau penamaan lokasi-lokasi di wilayah ini ternyata memiliki sebuah kisah yang cukup menarik. Alkisah terdapatlah seorang pemuda tampan bernama Pangeran Asep Roke yang ingin melamar seorang putri. Ia telah menyiapkan segala hal untuk pernikahannya termasuk seserahan dan juga seekor kerbau (munding). Namun pada hari pernikahannya, ia terlambat. Warga yang telah bersiap menyambut Pengantin laki-laki kesal dan meneriakinya. Ini direpresentasikan oleh salah satu gunung yang berada di lokasi ini yang bernama Gunung Hanyewong (dalam bahasa sunda berarti menyoraki). Kesal diteriaki, Asep Roke mengacak-acak bawaannya hingga bertebaran, sedangkan kerbaunya berlari ketakutan dan masuk ke dalam lumpur yang dalam, masyarakat melempari kerbau ini dengan batu-batu, sehingga kerbau takut dan memasukkan kepalanya ke dalam lumpur, tinggalah batu berbentuk punggung kerbau yang dikenal sebagai batu Mundinglaya. Putri yang tidak jadi dilamar kemudian menjadi gunung yang dikenal sebagai Gunung Putri. Selain itu payung untung memayungi pengantin pun terbalik dan menjadi Bukit Mukapayung yang kemudian menjadi nama dari daerah ini.

ImageBerfoto dengan latar Gunung Hanyewong saat Geotrek Cililin (Foto oleh Muhammad Malik Ar Rahiem)

Image

Gua dan Mata air yang berada di Gunung Putri (Foto oleh Muhammad Malik Ar Rahiem)

Berwisata di sekitar Mukapayung ini merupakan wisata yang komplit. Dengan unsur geologi yang kental berupa bebatuan terjal membentuk tebing-tebing, air terjun, gua, mata air menjadikan wisata ini menantang bagi kita yang menyenangi wisata petualangan. Mitos yang berkembang di masyarakat juga sangat menarik sebagai bagian dari kegiatan wisata yang terpadu.

Tiang-Tiang Bentukan Alam, Komparasi Irlandia dan Indonesia


Berdasarkan data dari Northern Ireland Tourism Facts 2007 didapatkan angka jumlah pengunjung dari lokasi wisata geologi Giant Causeway sebesar 712.714 pengunjung. Pengunjung yang datang kesini disajikan pemandangan sangat indah dari lava basalt yang mendingin membentuk kolom-kolom raksasa yang menghampar sangat indah untuk dipandang. Dari data yang sama juga didapatkan fakta bahwa Giant Causeway merupakan salah satu tujuan wisata terfavorit di Irlandia.

Dapat kita bayangkan dampak ekonomi yang didapat oleh warga sekitar dengan kehadiran ratusan ribu orang setiap tahunnya. Mereka bisa menjual pernak-pernik, menyediakan jasa pemandu wisata, layanan parkir, penginapan, dan lain-lain. Hal ini menjadi bukti bahwa pariwisata dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar.

(foto : http://www.irelandblog.net/index.php/2007/08/10/giants-causeway-north-ireland/)

 

Keberadaan situs geologi yang luar biasa ini telah menarik minat masyarakat yang sebelumnya tidak mengenal geologi dan kemudian mencari tahu kenapa bisa terbentuk bentukan yang seperti ini. Bentuk yang simetris membuat orang awam mungkin berpikir bahwa ini adalah hasil pahatan manusia zaman megalitikum. Namun jika kita menjelaskan secara geologi, maka kita akan memahami bahwa bentukan seperti ini merupakan bentuk alamiah dari magma ketika magma tersebut mendingin.

Kekar kolom terbentuk akibat respon tekanan akibat pendinginan lava (Mallet, 1875; Iddings, 1886, 1909; Spry, 1962). Lava merekah akibat pendinginan membentuk rekahan. Setelah rekahan terbentuk, rekahan tersebut berkembang. Perkembangan ini tegak lurus terhadap arah aliran. Bentuk segienam terbentuk diduga karena bentuk ini dianggap sebagai struktur paling stabil di alam, yaitu struktur yang mampu menahan beban lebih baik dari bentuk lainnya seperti yang dapat kita lihat pada struktur sarang lebah.

Publikasi yang wah dan fasilitas yang baik menunjang daerah Giant Causeway ini menjadi lokasi wisata andalan pemerintah Irlandia. Bahkan mungkin tak sedikit dari kita yang bercita-cita ingin pergi kesana melihat langsung panorama kekar kolom tersebut. Hal ini cukup baik untuk memancing rasa ingin tahu dan belajar. Namun kita tak perlu jauh-jauh untuk melihat fenomena ini. Di sebelah selatan Bandung, terdapat perbukitan intrusi Pliosen yang memiliki singkapan-singkapan indah, salah satunya adalah singkapan kekar kolom di dekat Gunung Lalakon.

Lokasi ini dapat kita capai dari arah Bandung menuju Cimahi dan kemudian diteruskan ke arah Nanjung menuju Stadion Si Jalak Harupat atau dari arah Soreang ke arah Cimahi. Di jalan ini kita akan menemui bukit-bukit andesit-dasit yang beberapa telah ditambang oleh warga. Salah satu bukit ini adalah Gunung Lalakon yang sempat heboh di media massa karena dipercaya oleh beberapa kalangan sebagai Piramida. Tepat di samping gunung Lalakon melihat dari arah SPBU Pertamina, singkapan kekar kolom ini kami lihat dan kami abadikan.

 

Kekar Kolom di daerah Perbukitan Selacau-Lagadar. (Foto oleh Muhammad Malik Arrahiem, 2012)

Dapat kita lihat kenampakan luar biasa dari kolom-kolom batuan beku yang terbentuk akibat intrusi dangkal magma pada sekitar 4 juta tahun yang lalu. Bentukan ini sangat menarik untuk diamati dan juga sangat cantik untuk menjadi objek foto. Jika kita bandingkan dengan Giant Causeway tentu sangat jauh berbeda, namun yang menjadi penting adalah bahwa lokasi ini sedang terancam bahaya. Di sekitar daerah ini merupakan daerah tambang aktif dengan tingkat produksi tinggi menelan bukit-bukit intrusi yang tentu menyimpan sangat banyak potensi. Penambangan ini berlangsung terus menerus dan kian menggerus bukit-bukit ini.

Selain dari potensi wisatanya, lokasi ini juga menjadi lokasi pembelajaran yang baik bagi para ahli geologi muda untuk mengenal sifat batuan beku. Maka dari itu saya menghimbau kepada kita semua untuk kembali peduli kepada alam dan tidak berbuat semaunya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan lain, baik kepentingan manusia atau pun kepentingan alam.

Lokasi ini mungkin tak akan menjadi sehebat Giant Causeway atau lokasi-lokasi luar biasa lainnya di luar sana, namun apabila kita diamkan dan tak dipedulikan, maka lama kelamaan kita tak akan punya sama sekali warisan alam untuk kita pelajari dan manfaatkan. Oleh karena itu mari kita mengenal lingkungan sekitar kita, lokasi-lokasi menarik di sekitar kita sebelum mengunjungi tempat-tempat di luar negeri sana yang sudah jelas bagusnya. Karena akan menjadi sebuah peninggalan yang bermanfaat bagi generasi penerus kita nanti apabila kita mampu menjaga dan melestarikannya.

Salam Geologi

Muhammad Malik Arrahiem

HMTG “GEA” ITB

Batu Selendang, Sebuah Kisah di Lembah Tahura

Kita sering mendengar kisah tentang letusan dahsyat Gunung Tangkuban Perahu di masa silam, namun seberapa dahsyatnya, seberapa jauh aliran lavanya, seberapa banyak abu yang ditebarkannya tak banyak dari kita yang tahu. Hanya tahu dahsyat tanpa tahu seberapa besar kuantitasnya.

Kenampakan lava yang terlipat-lipat, sangat menarik. (foto oleh Arrahiem, 2011)

Warga Bandung Raya tentu tak asing dengan Taman Hutan Raya Ir. Djuanda atau biasa disingkat Tahura. Suatu hutan yang biasa kita jadikan sebagai lokasi untuk menyegarkan pikiran di akhir pekan setelah sebelumnya berpenat-penat dalam berbagai kesibukan. Lokasi ini menyediakan sebuah pemandangan khas hutan yang tenang dan nyaman serta beberapa jeram yang juga sangat menarik untuk dikunjungi.

Jadi di akhir minggu ini saya melakukan sebuah kunjungan singkat ke Tahura, selain dengan tujuan untuk “refreshing” juga dengan satu tempat yang sangat ingin saya datangi, yaitu lokasi Batu Selendang. Lokasi Batu Selendang ini mungkin hanya segelintir saja yang tahu, bahkan mungkin mayoritas baru mendengarnya. Padahal lokasi ini merupakan lokasi yang sangat menarik untuk dikunjungi karena mempunyai cerita yang luar biasa di dalamnya.

Alkisah 48 ribu tahun yang lalu (Sunardi & Koesoemadinata, 1997), terjadilah sebuah letusan dari Gunung Tangkuban Perahu, gunung yang identik dengan kisah Sangkuriang ini mengeluarkan aliran lava yang sangat banyak dan mengalir sejauh mungkin melalui lembah-lembah sungai di sekitarnya, salah satunya ke Sungai Cikapundung. Sungai Cikapundung ini pada saat letusan, ikut pula menjadi jalur aliran lava, yang kini buktinya terekam pada batuan lava basalt di Sungai Cikapundung, terutama pada aliran di daerah Tahura yang beberapa di antaranya kini telah menjadi jeram-jeram yang sangat menarik untuk dikunjungi, contoh Curug Omas, Curug Lalay, dan Curug Dago.

Dan ternyata tercatat pula pada batuannya, sebuah jejak luar biasa dari efek pendinginan lava encer yang mengalir yaitu yang kini kita sebut sebagai Batu Selendang karena bentukannya menyerupai selendang yang terlipat-lipat.

Batu Selendang dengan koordinat lokasi S 06o50’35.6” dan E107o39’02.4” merupakan suatu fenomena geologi menarik yang tersingkap di bantaran Sungai Cikapundung, batu ini membentuk suatu motif batik seperti tumpukan gulali yang terbentuk akibat aliran lava encer yang jatuh dari suatu tinggian sehingga mengakibatkan hasil sebuah jejak lava yang begitu eksotis karena membentuk pola lipatan berulang-ulang dengan ukuran dan jarak yang sama. Ada lipatan yang lancip dan gemuk yang tergambar secara vertikal. Bila dilihat dari atas, sepintas jejak itu mirip motif batik(T. Bachtiar).

Lava yang terlipat, (Foto oleh Arrahiem, 2011)

Jika kita ingin ke lokasi ini maka kita dapat menyusuri jalan setapak menuju Maribaya dari Pintu Gerbang Utama Tahura kemudian melewati beberapa tanjakan yang cukup melelahkan hingga kita menemukan Curug Lalay, namun saat ini plang penunjuk menuju Curug Lalay sedang dicabut karena jalannya mengalami kerusakan. Batu Selendang ini dapat kita temui sebelum lokasi Curug Lalay, berada di tepian Sungai Cikapundung dipisahkan dengan tebing terjal dari jalanan utama. Bisa juga kita meminta tolong kepada warga sekitar atau petugas dari Tahura untuk menunjukkan lokasi Batu Selendang.

Sesampainya di Batu Selendang maka kita akan melihat suatu fenomena tak lazim yang luar biasa indah, suatu jejak batuan berukuran 5x2m dengan motif seperti selendang yang terlipat-lipat. Di sampingnya mengalir aliran Sungai Cikapundung yang agak kecoklatan dengan bantaran sungai berupa batuan basalt yang indah, hitam mengilap terpapar matahari. Beberapa foto yang saya ambil mungkin tidak cukup untuk mendeskripsikan keindahan yang luar biasa itu. Fenomena ini diyakini mirip dengan fenomena aliran lava di Hawaii, yaitu berupa aliran lava yang sangat encer, yang dalam bahasa geologi tipe lava ini biasa disebut Pahoehoe yang berarti lava yang mengalir bebas. Menurut T. Bachtiar, fenomena ini diyakini sebagai yang pertama kali ditemukan di Indonesia.

Batu Selendang ini merupakan suatu kisah geologi yang harus dijaga kelestariannya, karena ia dapat bertutur tentang kejadian di masa lampau, tentang lava yang encer, tentang jalur aliran lava, dan tentang banyak hal lagi. Diharapkan upaya dari pengurus Tahura untuk mulai menambah informasi kepada pengunjung agar lokasi Batu Selendang ini dapat dikunjungi lebih sering lagi karena selain merupakan sumber informasi, ini juga merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi oleh pengunjung Tahura. Upaya yang bisa dilakukan seperti mulai memasukkan lokasi Batu Selendang pada peta Tahura, memasang plang yang berisi informasi lokasi dan informasi geologinya, dan juga pembuatan jalan atau pagar-pagar pengaman yang aman namun tetap tidak merusak lingkungan Tahura. Dan tentu kearifan dari pengunjung untuk melindungi lokasi yang sangat berharga ini mutlak diperlukan demi terjaganya jejak lava Tangkuban Perahu ini.

Penulis : Muhammad Malik Arrahiem (Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi “GEA” ITB)