Berbagi Ilmu di Kuliah Tamu

Di Institut Geosains Terapan (Institut für Angewandte Geowissenschaften) TU Darmstadt, setiap minggunya diadakan kuliah tamu, mengundang saintis-saintis dari seluruh dunia. Minggu lalu, yang hadir adalah Profesor Emeritus dari Stanford, Profesor Martin Reinhard yang mempresentasikan tentang kontaminan organik di Singapura, minggu ini kami kehadiran Dr. Georg Houben dari Badan Geologi Jerman (BGR) yang mempresentasikan tentang eksplorasi air tanah di Namibia.
Peserta kuliah tamu ini mahasiswa, dosen, dan umum. Mahasiswa sarjana untuk lulus wajib hadir dan meminta tanda tangan dosen di lembar kehadiran (seperti lembar kolokium di GL ITB). Yang menarik dari kuliah tamu ini saya kira adalah antusiasme dari dosen-dosen untuk hadir dan mendengarkan presentasi yang disampaikan. Saya melihat dosen, baik yang muda dan yang sudah sangat sepuh sekali pun hadir, menyimak, dan bertanya dalam sesi diskusi. Seringkali pertanyaannya bahkan sangat serius hingga diskusi harus dilanjutkan setelah kelas selesai. 
Yang mengagumkan lagi adalah bahwa kuliah tamu ini diadakan pada pukul 17.15 (CET), yang artinya di musim dingin sekarang hari sudah gelap, dan orang-orang “seharusnya” sudah kehilangan konsentrasinya untuk menyimak pelajaran. Tapi tetap, orang-orang datang menunjukkan antusiasmenya.
Kuliah kemarin oleh Dr. Houben dari BGR sangat menarik, karena bagi saya sebagai mahasiswa hidrogeologi, semua teknik yang dipelajari dalam perkuliahan dibahas dan diaplikasikan dalam riset eksplorasi air tanah di Namibia. Detilnya bisa dilihat di laman ini.
Saya kira program seperti ini sangat menarik juga untuk dilaksanakan di Indonesia. Sekarang yang ada hanya kolokium yang biasa diselenggarakan oleh Pusat Survei Geologi atau oleh Badan Geologi. Saya kira bagus juga kalau universitas yang mengadakan dan mengundang peneliti dari universitas lain. Ini bakal membuka wawasan mahasiswa untuk lebih paham di kampus lain atau di instansi riset itu penelitiannya seperti apa dan juga membuka peluang kerja sama yang lebih baik lagi.
Jangan terlalu banyak saling bersaing, berdebat, tapi kurang berkolaborasi.

Darmstadt Climathon 2018

Dua minggu yang lalu saya ikut salah satu acara paling seru yang pernah saya datangi di Jerman, Darmstadt Climathon 2018. Climathon sendiri adalah sebuah gerakan global yang didedikasikan untuk menyelesaikan tantangan permasalahan iklim di kota-kota di dunia. Tahun 2017 ada 104 kota di 45 negara di seluruh benua yang menyelenggarakan Climathon dengan total 4551 peserta dan 628 ide untuk menyelesaikan permasalahan kota-kota tersebut.

Tahun ini adalah pertama kalinya Darmstadt ikutan Climathon. Tantangan iklim yang ingin diselesaikan Darmstadt adalah untuk menjawab sejauh apa sih jarak yang ditempuh makanan yang dijual di supermarket itu untuk sampai di meja kita. Asumsinya adalah semakin jauh jarak tempuhnya, maka semakin besar emisi karbon yang diperlukan untuk mendistribusikan makanan tersebut.

Climathon 2018
Peserta Darmstadt Climathon 2018

Nah kita ditantang untuk menjawab pertanyaan ini dengan ikutan 24 jam diskusi berkelompok untuk mencapai satu solusi. Di Darmstadt, Climathon disponsori oleh Merck (perusahaan kimia terkemuka di Jerman) dan Pemerintah Kota Darmstadt. Agar menyemangati peserta untuk menghasilkan solusi yang bisa dilaksanakan, para sponsor ini menawarkan hadiah menarik bagi mereka yang menang, yaitu dibiayai gratis menghadiri konferensi, pilihannya di Paris atau di Budapest. Mantap kan?

Pada akhirnya sih tim saya gak menang, tapi saya dapat banyak sekali pengetahuan baru setelah menghabiskan 24 jam di Pusat Inovasinya Merck.

Pengetahuan penting yang pertama

Food Miles adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan berapa jauh jarak yang ditempuh makanan dari tempat ia diproduksi (kebun, peternakan, dll) hingga sampai di rumah kita. Logika umum yang masuk akal adalah semakin jauh jarak tempuh maka emisi semakin besar, akibatnya makanan semakin tidak ramah lingkungan. Hal ini benar, tapi apakah benar solusinya adalah jangan beli makanan yang diproduksi dari jauh, misal pisang dari Kolumbia, atau Durian dari Thailand?

Faktanya transportasi atau jalur distribusi makanan hanya menyumbang 11 persen dari total emisi yang dihasilkan makanan tersebut sejak ia ditanam atau dibibit hingga sampai pada konsumen. Emisi terbesar datang dari proses produksinya itu sendiri. Untuk makanan berbasis tumbuhan, faktor transportasi memang persentasenya cukup tinggi, yaitu sekitar 30% dari total emisi, hal ini karena makanan berbasis tumbuhan memang tingkat emisinya lebih rendah daripada makanan berbasis hewan. Jadi kalau temen-temen yang di Indonesia suka makan daging sapi, itu kebanyakan diimpor dari Australia dan Selandia Baru. Daging sapi emisinya sangat tinggi, ditambah perjalanan jauh, jadi mantap kan emisinya.

Dalam penelitian juga disebutkan bahwa membeli makanan dari petani atau peternak lokal hanya mengurangi total emisi sebesar 4 persen saja! Artinya pengurangan emisinya tidak signifikan. Kalau mau serius mengurangi emisi karbon dari pola makan, solusi yang ditawarkan para peneliti itu hanya satu kurangi konsumsi daging, perbanyak memakan sayuran dan buah-buahan. Hanya itu satu solusinya.

Jika sudah memperbanyak makan sayuran, baru kita bisa memperbanyak membeli sayuran lokal, yang diproduksi oleh petani-petani lokal, karena memang untuk sayuran, dampak transportasi terhadap emisi terasa cukup signifikan.

Pengetahuan yang kedua

Saya jadi punya banyak teman baru dari berbagai macam bidang ilmu. Saya berkelompok bertiga dengan dua orang Jerman yang ramah dan senang berbagi, namanya Achim dan Matthias. Mereka warga Darmstadt yang pengen berbuat sesuatu untuk kotanya. Beneran serius, itu motivasi mereka untuk ikutan, “Karena saya punya waktu, saya bisa, dan kenapa enggak”, kata Achim pas saya tanya motivasinya ikut Climathon.

Achim dan Matthias banyak bekerja dengan website. Dari mereka saya jadi tahu bahwa bikin website itu gampang. Akhirnya saya jadi termotivasi, dan tidak lama setelah Climathon, jadilah website saya ini.

Pengetahuan yang ketiga

Saya jadi tahu isinya gedung Merck setelah setiap hari lewat Merck cuma bisa lihat dari Tram. Ternyata kantornya bagus banget, suasana kantornya nyaman, dan mendorong karyawan untuk berinovasi.

Ya kurang lebih begitulah pengalaman saya ikutan Climathon di Darmstadt. Jika ada acara sejenis lagi, tentu saya dengan senang hati akan meluangkan waktu untuk ikut. Pengalaman yang amat sangat seru dan menyenangkan!

Climathon 2018
Tim Climathon Saya. Darmstadt Gartenboerse