Tutorial Membuat GIF Citra Satelit dengan Sentinel-Hub

Adakah yang tertarik bikin GIF kaya gini? Silakan baca lanjutan tulisan saya ini. Saya mau berbagi cara bikin GIF citra satelit.

Perkembangan pengolahan data citra satelit itu luar biasa cepat. Sekarang di zaman 4.0 di mana semua terkoneksi jaringan internet cepat, sudah gak zaman lagi mengolah di komputer sendiri. Data citra satelit yang luar biasa gede itu harus diolah di server dengan teknologi komputasi awan.

Di bidang inilah Amerika dan Eropa bersaing ketat. Google Earth Engine, milik Google sudah lama berjaya. Perusahaan ini mengumpulkan data citra satelit dan menyediakan komputer super mereka untuk algoritma pemrograman yang dibuat oleh pengguna.

Eropa tak mau kalah. ESA dengan Copernicusnya meluncurkan Sentinel-Hub, suatu layanan mengolah data citra satelit, terutama misi Sentinel agar bisa digunakan semua orang. Yang sekarang akan saya sedikit jelaskan bagaimana kita bisa pakai Sentinel-Hub ini untuk hal yang sederhana: membuat GIF.

Pertama buka laman Sentinel Hub https://apps.sentinel-hub.com/eo-browser/

Kurang lebih hasilnnya begini

Silakan mendaftar. Tenang jangan khawatir ini gratis.

Setelah daftar langsung masuk. Login.

Gambarnya sama tapi di bagian kiri atas akan ada nama kita sebagai pengguna.

Langsung tekan huruf i di pojok kanan atas untuk tahu fitur-fitur apa saja yang tersedia dalam layanan ini.

Di panel sebelah kiri kita bisa lihat jenis-jenis data apa yang bisa kita yang bisa kita pakai. Ada Sentinel-1 yang menyediakan data tanpa terpengaruh cuaca dan waktu. Bisa siang dan malam. Ada Sentinel 2 yang menyedikan gambar bumi beresolusi tinggi (satelit ini seperti memotret bumi dari kejauhan). Jenis satelit ini optikal, jadi sangat terpengaruh oleh awan dan cahaya.

Kemudian ada Sentinel-3 yang mirip Sentinel-2 tapi resolusi spasialnya lebih rendah, tapi waktu kunjungan ulangnya lebih rapat daripada Sentinel 2. Setiap 2 hari terdapat data Sentinel 3 yang baru.

Ada juga Sentinel 5P yang menyediakan data pengukuran atmosfir, iklim, ozon, radiasi UV, SO2, NO2, dll. Selain itu ada satelit lain seperti Landsat, Envisat, MODIS, Proba-V, dan GIBS yang gak akan saya bahas.

Di tutorial ini kita akan coba main dengan data Sentinel-2, tepatnya data Sentinel-2 L1C, silakan google sendiri bedanya apa. Kurang lebih Sentinel-2 L2A itu sudah dikoreksi, kalau Sentinel-2 L1C itu belum dikoreksi. Ketersediaannya lebih banyak sentinel-2 L1C, makanya kita akan pakai yang itu. Data Sentinel-2 ini tersedia sejak Juni 2015.

Kita akan bikin GIF letusan Gunung Krakatau seperti yang saya tampilkan di atas.

Di panel sebelah kanan, pilih gambar Mark Point of Interest, bentuknya mirip tanda seru yang ada bolong di tengahnya. Tandai satu titik di mana saja di sekitar Gunung Krakatau.

Selanjutnya centang hanya Sentinel-2 dan centang L1C. Lalu ganti cloud coverage ke misal 30%. Atur juga tanggal pencarian misal ke Juni 2015.

Klik search yang berwarna kuning di bawah. Hasilnya kurang lebih seperti ini:

Hasilnya kurang lebih seperti ini

Pilih gambar yang mana saja. Tapi usahakan yang cakupan awannya paling rendah. Saya pilih yang paling atas. Tertanggal 2019-06-27, cakupan awan 0.65%.

Hasilnya kurang lebih seperti ini

Silakan bermain visualisasi dengan memanfaatkan pilihan-pilihan yang sudah ada. Kita bisa ganti-ganti juga datasetnya ke L2A yang sudah dikoreksi atau L1C. Silakan coba-coba.

visualisasi True Color untuk menunjukkan bagaimana citra terlihat dengan mata normal
Visualisasi false color untuk menunjukkan fitur-fitur yang ingin dilihat. Misal kita ingin membedakan daerah berpohon dengan daerah tidak berpohon

Jika Anda senang dengan gambar yang Anda punya, bisa langsung disimpan dengan mengeklik di panel sebelah kanan kedua dari bawah. Judulnya download image.

Ada tiga pilihan, basic, analytical, atau high-res print. Saya biasa pilih analytical. Lalu pilih image format JPG kalau cuma untuk gambar biasa. Atau pilih TIFF untuk gambar bergeoreferensi. Pilih juga resolusi gambar, misal High Resolution.

Silakan unduh gambar yang Anda kehendaki.

Untuk membuat GIF, tekan tombol yang ada di bawah download image. Judulnya Create Timelapse Animation.

Pilih jangka waktu yang dikehendaki, dan limit cakupan awan. Misal Tsunami Krakatau terjadi sebelum tahun baru 2019, maka pilih gambar dari awal bulan November (konon sejak November pun Krakatau sudah batuk-batuk), dan pilih hingga akhir bulan Januari (2018-11-01 sampai 2019-01-31) dengan cakupan awan misal 100% (tidak disaring). Klik gambar kaca pembesar (search).

Cek bagian bawah yang ada tulisan Speed frames/s. Perhatikan ada 1/37 yang berarti ada 37 gambar tersedia. Kita bisa atur berapa gambar yang ditampilkan dalam gif setiap detiknya. Misal 2 frames/second. Play!

Di kumpulan gambar kita masih ada gambar-gambar yang seperti ini. Gambar-gambar yang tidak kita kehendaki karena tertutup awan harus kita saring. Caranya mudah. Di panel sebelah kiri, cukup matikan centang. Kemudian gambar tidak akan ditampilkan dalam GIF.

Saya hanya pakai 9 gambar dari 37 gambar yang tersedia. Hasilnya kemudian saya unduh dan saya tampilkan sebagai berikut

Perhatikan tanggal 29 Desember 2018, Gunung Krakatau mulai berubah morfologinya. Setelah tahun baru, kita bisa amati danau kawah baru yang terbentuk dengan warna kecoklatan di pantainya. Konon ini karena oksidasi material gunungapi yang baru terpapar atmosfer.

Demikian tutorial singkat menggunakan Sentinel-Hub dari saya. Semoga teman-teman yang membaca bisa mengaplikasikan dan bersedia berbagi apa yang teman-teman kerjakan.

Salam

Banjir Konawe Utara dari Sentinel-1

Satelit adalah mata dunia. Dengan satelit kita semakin memahami bumi. Lebih jauh daripada yang kita bayangkan dulu, ketika kita masih meraba bumi dari darat, sebelum kita mengenal satelit.

Ada banyak jenis satelit. Ada satelit telekomunikasi, ada satelit navigasi, ada juga satelit penginderaan jauh. Yang disebut terakhir inilah yang disebut sebagai mata dunia. Ia mengindera bumi dari kejauhan. Dalam bahasa inggris, dikenal sebagai Remote Sensing. Istilah ini sudah lama dibahasaindonesiakan sebagai inderaja, .

Satelit-satelit inderaja ini bekerja dengan memanfaatkan hukum-hukum fisika. Ada yang merespon refleksi cahaya matahari, baik gelombang yang tampak, maupun gelombang tak tampak. Ada juga satelit yang menembakkan gelombang ke Bumi. Pantulannya kemudian diukur, responnya diteliti. Lalu kita menginterpretasi apa yang terjadi.

Banyak negara mengirim misi satelit inderaja ke langit. Merekam informasi dari kejauhan. Ada banyak tujuan mengirim satelit inderaja; militer, sains, bisnis, dll. Indonesia dengan LAPAN-nya pun tak mau kalah. Kita punya beberapa satelit inderaja di langit sana. Dari laman Pusat Teknologi Satelit, kita tahu bahwa LAPAN punya setidaknya 3 satelit; Satelit LAPAN Tubsat, LAPAN A2, dan LAPAN A3.

Di tulisan ini saya tidak akan bercerita tentang satelit LAPAN. Karena saya belum pernah coba pakai data dari satelit LAPAN. Meskipun besar keinginan saya untuk kelak mencoba memanfaatkan data dari satelit anak bangsa, tapi untuk sekarang akses ke data satelit LAPAN belum cukup nyaman bagi saya.

Saya ingin bercerita tentang satelit Sentinel-1. Satelit kebanggaan European Space Agency (ESA), LAPAN-nya Uni Eropa.

Satelit Sentinel 1 memiliki dua satelit yang mengorbit di langit, yaitu Sentinel 1A dan Sentinel 1B. Keduanya membawa instrumen C-Band Synthetic-aperture radar yang memungkinkan instrumen ini merekam data siang dan malam, di segala cuaca. Jadi kelebihan satelit ini, tidak terpengaruh awan. Tidak seperti satelit Landsat atau satelit Sentinel 2, yang sifatnya optikal.

Gampangnya satelit ini penting sekali, karena datanya tidak terganggu awan. Jadi setiap dia merekam data, maka jadilah datanya bisa digunakan. Tidak perlu menyaring cakupan awan. Salah satu hal paling menyebalkan dari satelit optik seperti Landsat atau Sentinel-2.

Aplikasi dari Sentinel-1 banyak banget. Dia bisa dipakai untuk aplikasi kemaritiman, misal; memonitor tinggi air laut dan kondisi es, kebocoran minyak di laut, aktivitas kapal. Satelit ini juga biasa dipakai untuk memonitor perubahan lahan di daratan, yang sangat bermanfaat, terutama bagi bidang pertanian dan kehutanan.

Tapi, terutama yang paling saya suka adalah kemampuan satelit ini untuk merespon kondisi darurat bencana, misal banjir, longsor, gunung api, gempa, dll. Satelit ini bisa mengukur perbedaan elevasi akibat bencana. Misal penurunan muka tanah akibat ekstraksi air tanah berlebih, perubahan topografi pasca gempa, longsor, letusan gunung api.

Dan banjir. Seperti di Konawe yang lagi rame belakangan ini. (Lokasi Konawe di peta Google Maps berikut)

Image result for banjir konawe
Banjir Konawe Utara
Kawasan terdampak banjir. Citra Sentinel-1 tanggal 9 Juni 2019. Toponimi dari Badan Informasi Geospasial.

Kabupaten Konawe Utara, di Provinsi Sulawesi Tenggara sudah beberapa minggu ini menjadi tajuk utama di media masa akibat banjir besar yang menghantam wilayah ini. Menurut BNPB, total 5847 kepala keluarga atau sekitar 22.573 jiwa terdampak banjir di sini. Dilaporkan 4688 unit rumah rusak, 32 unit taman kanak-kanak, 49 unit sekolah dasar, dan 14 sekolah menengah pertama terendam banjir yang terjadi sejak sebelum lebaran dan masih menggenang hingga sekarang.

Belum sawah, lahan pertanian, dan kerugian lainnya menimpa saudara-saudara kita di sana. Semoga Allah melindungi mereka semua dan mengganti segala kerugian dengan kebaikan yang melimpah kelak.

Dari gif berikut kita bisa lihat seluas apa banjir yang terjadi di Kabupaten Konawe Utara. Gif ini dibuat dari citra Sentinel-1 yang diakses menggunakan Sentinel-Hub. Secara total terdapat 5 gambar tertanggal 28 Mei 2019, 2 Juni 2019, 9 Juni 2019, 14 Juni 2019, 21 Juni 2019, atau dengan interval 5-7 hari.

Gif banjir Konawe Utara di daerah Desa Tapuwatu

Di gambar-gambar di atas kita bisa bedakan air dengan daratan. Ini karena air dan daratan memberikan respon yang berbeda terhadap gelombang radar yang dipancarkan satelit. Secara naluriah pun kita bisa bedakan. Air pasti yang warnanya gelap, karena ada sungai. Daratan warnanya abu terang bertekstur kasar. Dari membedakan ini saja kita sudah bisa membayangkan sejauh mana pelamparan banjir terjadi.

Di pojok kiri bawah terdapat garis skala agar terbayang luasnya. Sungai yang ada di peta ini adalah Sungai Lasolo yang bermuara menuju Pulau Bahabulu di bagian timur kaki Sulawesi.

Kita juga bisa dengan mudah menghitung luas banjir. Kita bisa konversi jumlah piksel berwarna hitam sebelum banjir (misal tanggal 28 Mei 2019), kemudian konversi jumlah piksel setelah banjir terjadi. Kemudian kita hitung perbedaannya. Jika satu piksel itu resolusinya 10 meter atau 100 meter persegi, maka jumlah piksel hitam dikali 100 meter persegi adalah luas banjir, Dengan piranti Sistem Informasi Geografi ini mudah saja untuk dilakukan.

Semoga nanti ada waktu untuk melakukannya.

Akibat dari banjir ini, Desa Tapuwatu, yang terletak di tepian Sungai Lasolo, menghilang. Tanggal 9 Juni, Sungai Lasolo meluap hingga ke atap rumah warga. Ketika banjir agak mereda, desa sudah tiada. Banjir tidak meninggalkan sisa.

Bangunan habis semua. Warga mengungsi. Entah sampai kapan mereka bertahan, karena mereka tak lagi punya rumah untuk kembali.

Kemudian gif kedua adalah kondisi di Sungai Lalindu, yang merupakan anak Sungai Lasolo. Letaknya ke arah utara dari Sungai Lasolo. Daerah ini tak kurang parah dihantam banjir yang sama. Perhatikan gambar! Pada puncak banjir, hampir seluruh lembah Sungai Lalindu ini penuh terisi air yang meruah. Meski sekarang sudah cukup mereda.

Gif banjir Sungai Lalindu

Lalu semakin ke utara dari Sungai Lalindu. Ke daerah Wiwirano, di sepanjang Jalan Poros Lamonae-Landawe yang merupakan jalur Trans-Sulawesi tampak banjir merajalela. Memutus jalan poros yang menjadi nadi logistik, membuat tentara harus mengirim bantuan dari udara.

Gif di Wiwirano

Banjir Konawe ini memang dahsyat. Menghantam kita begitu telak di masa lebaran ketika orang-orang harusnya bergembira. Desa-desa harus direlokasi. Tak kurang tiga desa harus berpindah tempat; Desa Tapuwatu, Wanggudu Raya, dan Walalindu. Semua di bantaran Sungai Lasolo.

Respon LAPAN dan BPPT
Meski kemampuan kita untuk memitigasi bencana masih banyak kurangnya di sana-sini, tapi institusi riset kita harus diberi acungan jempol atas kesigapannya merespon kejadian ini. Pada tanggal 10 Juni, 4 hari pasca banjir terjadi, LAPAN menginformasikan estimasi bangunan terdampak banjir dengan memanfaatkan citra Sentinel-1. BPPT juga melaporkan hasil pengamatannya melalui akun instagram PTPSW (Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah).

http://pusfatja.lapan.go.id/simba/qr/BANJIR/2019/06_Juni/Bangunan_Terdampak_Banjir_10_Juni_2019_Konawe_Sulawesi_Tenggara/Konawe_Bangunan_Terdampak_A.pdf

Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh LAPAN (Pusfatja) melaporkan 12 peta yang meliputi semua area terdampak banjir di daerah ini. Peta ini kemudian dimanfaatkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk mengestimasi jumlah korban, merencanakan aksi tanggap bencana, dan banyak hal penting lainnya yang harus sigap dilaksanakan pasca bencana terjadi.

Yang mana harus kita apresiasi sebesar-besarnya dan kita dukung agar program tanggap bencana ini semakin sigap ke depannya.

Dari kejadian banjir ini saya belajar pentingnya program satelit sebagai mata kita dari langit. Program satelit bukan program gagah-gagahan negara bisa mengirim satelit ke angkasa, tapi program ketahanan negara, bagaimana kita bisa memahami negeri kita sendiri.

Jika NASA tidak menggratiskan lagi layanannya, atau Copernicus ogah membagikan datanya lagi pada kita, lantas bagaimana kita melihat negeri kita sendiri? Maka dari itu, penting bagi kita untuk mendukung program satelit LAPAN, agar semakin berkembang, semakin membuka datanya pada masyarakat. Agar kita bisa gunakan dan memanfaatkannya untuk kepentingan orang banyak.

Satu riset pernah dilakukan di Amerika Serikat, mengenai dampak digratiskannya citra Landsat ke khalayak umum sejak tahun 2008. Ada 2 milyar dolar Amerika per tahun berputar sebagai omset dari perusahaan yang bergerak di bidang penginderaan jauh. Luar biasa! Padahal biaya misi Landsat ini hanya kurang dari 1 milyar dolar saja

The economic value of just one year of Landsat data far exceeds the multi-year total cost of building, launching, and managing Landsat satellites and sensors.

 Landsat Advisory Group of the National Geospatial Advisory Committee, 2014

Dari banjir Konawe kita berdoa, semoga tidak ada lagi bencana-bencana menimpa tanah air kita, Indonesia. Semoga korban-korban tetap terlindungi dari penyakit dan kesulitan, serta selalu mendapat bantuan-bantuan yang mereka perlukan.

Insyaallah.

Data: Citra Sentinel-1 tahun 2019 yang diolah menggunakan piranti daring Sentinel Hub

Pengalaman Ikut Copernicus Eyes on Earth Roadshow di Darmstadt

Tahukah kamu bahwa di atmosfer sana terdapat lebih dari 3000 satelit mengorbit Bumi?

Tahukah kamu bahwa terdapat ratusan petabytes data citra satelit yang bisa kita akses gratis? (1 petabyte = 1000 terabyte = 1 juta gigabyte)

Tahukah kamu bahwa European Space Agency merilis sekitar 8 petabyte data citra satelit setiap tahunnya?

Terakhir dan paling menohok. Tahukah kamu bahwa cara kamu mengolah data satelit dengan mengunduh data, terus otak-atik di ArcGIS, QGIS, Erdas, dll itu sudah ketinggalan zaman saking cepatnya perkembangan teknologi satelit yang datanya makin gede dan butuh komputasi super?

Saya juga baru tahu minggu lalu.

Ketika saya ikut acara Lokakarya Penginderaan Jarak Jauh yang diselenggarakan di EUMETSAT (European Organisation for Meteorological Satellites) di Darmstadt. Acara ini merupakan bagian dari Lokakarya Eyes of Earth yang diselenggarakan oleh Copernicus (program Observasi Bumi Uni Eropa). Simak liputan acara ini di sini.

Saya beruntung, karena acara ini diselenggarakan di kota tempat saya studi. Gratis. Tidak perlu akomodasi. Makan siang yang enak. Buah tangan seminar yang mantap. Itu beberapa hal kesukaan mahasiswa seperti saya.

Tapi yang lebih utama adalah kesempatan untuk berjejaring dengan para ahli di bidang penginderaan jauh dan dapat gambaran sejauh mana dunia ini sudah berkembang.

Roadshow_Participants_Pictures
Suasana acara. Gambar diambil dari sini

Berkembang Pesat
Penginderaan Jauh berkembang sangat pesat. Sejak Pemerintah Amerika Serikat dengan misi Landsatnya merekam Bumi dari angkasa, diikuti dengan misi-misi lainnya membuat kita bisa mengerti bagaimana Bumi kita ini bekerja. Dengan citra satelit kita bisa mengetahui sebanyak apa es mencair di kutub dan di tempat-tempat lain di dunia.

Kita bisa memonitor pergerakan arus laut dan plankton yang hidup mengikutinya. Kita bisa mengetahui ke arah mana awan dan angin bergerak, sehingga kita bisa memahami cuaca lebih baik dari sebelumnya. Dan begitu banyak aplikasi lain dari teknologi ini.

Ketika data satelit Landsat digratiskan pada tahun 2008, jumlah pengunduh satelit ini meningkat 100 kali lipat, dan menciptakan bisnis dengan nilai 2 miliar dollar per tahunnya di Amerika Serikat saja. Uni Eropa pun tak mau kalah, dengan meluncurkan satelit Sentinel dan membuka datanya gratis untuk publik.

Di acara Eyes on Earth ini saya melihat ada persaingan hebat antara Uni Eropa dengan Amerika Serikat dalam teknologi satelit dan pemanfaatannya. Orang-orang Eropa ini begitu bangga dengan program Sentinelnya. Juga dengan program-program lain yang mengikuti Sentinel ini.

Misal ketika saya bertanya tentang Google Earth Engine, salah satu piranti lunak yang biasa digunakan untuk mengolah data satelit. Kebanyakan dari mereka menjawab bahwa itu produk Amerika dan mereka tidak boleh bergantung pada produk itu. Copernicus pun menyediakan platform untuk mengolah data citra satelit berbasis komputasi awan. Tak tanggung-tanggung ada lima program yang mereka sediakan, semua punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Kita harus bersyukur dengan persaingan ini, karena ini memberi kita pilihan sebagai pengguna. Kita terima-terima saja dan gunakan semua yang mungkin dan bisa kita gunakan.

Mendorong Terciptanya Start-up
Dalam acara Eyes on Earth ini, Copernicus mendorong terbentuknya perusahaan rintisan yang menggunakan data inderaja sebagai sumber datanya. Sudah ada banyak perusahaan rintisan yang dibimbing dan dikatalis oleh Copernicus.

Misal perusahaan Deep Blue Globe. Perusahaan ini mengembangkan navigasi maritim berbasis kecerdasan buatan. Jadi mereka menggunakan data lalu lintas perjalanan laut dan kondisi cuaca aktual yang dimasukkan ke dalam sistem kecerdasan buatan mereka untuk menavigasi kapal-kapal di lautan.

Perusahaan lain misal AgriBORA yang mengombinasikan data inderaja, stasiun cuaca, dan model pertanian untuk memberikan informasi waktu tanam terbaik kepada petani di Afrika. Informasi ini dikirimkan secara langsung dan aktual kepada petani melalui SMS.

Panitia Eyes on Earth mendorong kami, para peserta, untuk mengembangkan perusahaan rintisan kami sendiri. Ada 6 sesi khusus, antara 30-60 menit untuk kami berdiskusi mencari masalah dan solusi yang mungkin bisa diciptakan, serta bagaimana data inderaja dapat digunakan sebagai bagian dari solusi.

Grup saya, 4 orang, saya, Sophie, Mennatullah, dan Julian, semua dari TU Darmstadt dibimbing oleh ahli inderaja dari Universitas Twente, Valentin. Kami ingin bikin perusahaan bohong-bohongan yang membuat platform pengidentifikasi kualitas air dengan menggunakan citra satelit. Kita bisa bedakan kualitas misal kejernihan (turbidity), kandungan organik (CDOM), klorofil, salinitas, dan temperatur, dari data satelit.

Valentin, Julian, Menna, Sophie, dan saya setelah presentasi hari pertama

Dari diskusi-diskusi singkat di setiap sesi, kami dipaksa untuk mengisi model bisnis Canvas dan kemudian mempresentasikan singkat ide kami di hadapan ahli-ahli inderaja dan mendengar saran dari para ahli ini. Mereka kemudian memberi tahu alat-alat apa yang sudah tersedia. Misi satelit mana yang sesuai dengan kebutuhan data kami, dan seterusnya.

Pada akhirnya, acara Eyes on Earth ini membuka mata saya, bahwa ada begitu banyak peluang terbuka karena satelit telah membuka cakrawala kita terhadap planet yang kita tinggali ini. Keterbukaan data dan kebersediaan orang-orang untuk membagi pengetahuannya menjadi modal sangat berharga untuk memulai karir atau bisnis di bidang ini.

Kemajuan teknologi diikuti dengan membanjirnya data adalah satu hal, tapi kreativitas manusia untuk memanfaatkannya adalah hal lain. Tanpa kreativitas dan visi kita tidak akan gagap dan melaju lambat. Tak peduli betapa majunya teknologi.

Kehadiran satelit merubah cara pandang kita terhadap Bumi. Kemajuan teknologi pengolahan data berbasis awan merubah cara pandang kita terhadap cara mengolah data konvensional di komputer pribadi kita. Dan begitu banyak revolusi lainnya yang merombak secara signifikan bagaimana cara kita bekerja dan berpikir terhadap sesuatu. Sehingga keengganan untuk beradaptasi boleh jadi akan menjadi titik kemunduran kita. Bukan karena kita payah. Hanya karena orang lain jauh lebih visioner dan berani beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Semoga kehadiran saya membawa manfaat, terutama bagi diri saya pribadi, dan semoga kepada orang banyak .

Tabik.

Fridays for Future – Klimastreik

Diinisiasi remaja fenomenal dari Swedia, Greta Thunberg, Fridays for Future kini telah menjadi gerakan yang mendunia. Greta, 16 tahun, pertama kali menginisiasi gerakan ini pada Agustus 2018.

Greta kala itu masih duduk di kelas 9. Ia memutuskan untuk mogok bersekolah dari tanggal 20 Agustus 2018 hingga pemilihan umum di Swedia pada tanggal 9 September 2018. Keputusan itu ia ambil setelah terjadinya bencana iklim gelombang panas dan kebakaran hutan di Swedia.

Why should I be studying for a future that soon may be no more, when no one is doing anything to save that future

Greta Thunberg, 16 tahun

Gerakannya merembet ke mana-mana. Per 17 Juni 2019, sudah terjadi 4410 demo di seluruh dunia, di lebih dari 100 negara, dan 800 kota. Premis demo ini sederhana, kenapa harus belajar untuk masa depan kalau tidak ada masa depan. Kenapa kita harus berusaha agar menjadi orang terpelajar, ketika pemerintah kita ogah mendengarkan orang terpelajar. Info lebih lengkap mengenai gerakan ini bisa didapatkan di laman https://www.fridaysforfuture.org/.

Statistik Fridays for Future Strike source

Ada banyak kemirisan ketika di satu sisi seorang anak bisa menginisiasi gerakan perubahan iklim yang begitu besar, sementara di sisi lain masih banyak orang-orang yang bahkan tak percaya bahwa perubahan iklim itu nyata.

Anak-anak diajarkan bahwa mereka akan mewarisi bumi. Mereka selalu dibebankan tanggung jawab bahwa mereka adalah generasi penerus yang akan menggantikan bapak dan ibu mereka. Bahwa anak-anak adalah masa depan.

Tapi anak-anak ini kita warisi bumi yang sudah kita bikin bobrok. Yang air sungainya tak bisa dipakai mandi apalagi minum. Yang air tanahnya surut semakin mendalam setiap harinya. Yang atmosfernya kotor, partikulat bertebaran kita hirup setiap saatnya.

Anak-anak ini kita warisi keragaman spesies yang minim, karena satu juta spesies sedang menanti kepunahannya. Karena hutan tropis yang kaya akan variasi spesies kita rubah jadi perkebunan monokultur yang menjadikan gajah, harimau, orangutan sebagai hama, dan kita berkonflik dengan mereka setiap harinya.

Pantas saja mereka berkata, “Ngapain saya belajar untuk masa depan, kalau tidak ada masa depan. Ngapain saya belajar kalau gak ada orang yang berjuang untuk menyelamatkan masa depan?

Aksi Greta menginspirasi dunia. Ribuan jika bukan jutaan orang mendukung aksinya. Aksi Greta diabadikan di Miniatur Wunderland, salah satu tempat wisata utama di Kota Hamburg. Miniatur Greta yang sedang berdemo di atas es yang mencair, dengan mobil dan korporasi hitam di satu sisi, dan beruang kutub yang sangat terancam dengan berkurangnya jumlah es di bumi di sisi lainnya. Sementara Greta sedang berdemo dengan spanduknya “ Skoolstreijk for Klimatet“, aksi demo anak sekolah untuk iklim.

Miniatur Wunderland mendukung Greta dengan mendorong semua yang melihat miniatur ini untuk membagikan gambar dengan takarir “Vi Ar Greta” atau Kita adalah Greta!

Miniatur Greta di Miniatur Wunderland, Hamburg. source

Klimastreik di Darmstadt

Di Darmstadt, kota saya tinggal sekarang, saya sudah lihat kurang lebih 4 demo sampai sekarang. Di demo-demo itu semua kalangan ada di sana; anak-anak, pemuda, orang dewasa. Jalan-jalan ditutup. Polisi mengawal. Wartawan berseliweran mengambil gambar dari gerakan yang fenomenal ini.

Fridays for Future terakhir, hari Jumat lalu diikuti kurang lebih 3500 orang.

Yel-yel mereka teriakkan lantang

“Wir sind hier, wir sind laut, weil ihr unsere Zukunft klaut”

Kami di sini, kami berteriak kencang, karena kalian mencuri masa depan kami!

Hampir setengah kota Darmstadt harus ditutup pada hari jumat ini untuk mengakomodasi peserta demo. Demo dilaksanakan damai, dengan aktivitas dan rute demo yang disetujui dan diamankan oleh polisi lokal.

Di kampus saya, mereka pasang poster menohok para mahasiswa. Katanya menyelamatkan iklim bisa juga tanpa perlu M.Sc. Mungkin mereka menyindir orang-orang yang belajar tinggi-tinggi tapi pada akhirnya malah jadi sumber emisi.

Pada akhirnya anak-anak ini ingin kita sadar bahwa kita sedang mencuri masa depan mereka. Dalam harian lokal Darmstadt, echo-online, seorang anak memberikan testimoni, “Saya gak mau beruang kutub mati“. Anak yang lain berkata, “Kita hanya punya sembilan tahun tersisa menuju titik di mana dampak irreversibel bisa kita cegah. Kalau kita gagal, kita selesai”.

Sedih, miris, dan ironis. Tapi juga membuka mata, bahwa perjuangan belum berakhir. Bahwa masih banyak orang-orang di dunia ini yang memperjuangkan dunia yang lebih baik. Yang akan kita wariskan pada anak cucu kita nanti. Yang sekarang sudah geram dan marah karena tahu betapa buruk cara kita mengorganisasi bumi yang akan mereka warisi.

Semoga kita sadar. Semoga kita mengerti. Bahwa kita tak bisa lagi merampok warisan masa depan anak-anak kita lagi.

Wir sind hier, wir sind laut, weil ihr unsere Zukunf klaut! Wir sind Greta!

Bandung Hareudang – Penelitian Suhu Permukaan Kota Bandung

Bandung yang dingin adalah sebuah kefanaan. Dalam buku-buku nostalgia, banyak dikisahkan cerita tentang Bandung yang dingin, adem, dan nyaman ditinggali. Bahkan ada sebuah memoar terkenal karya Us Tiarsa berjudul Basa Bandung Halimunan, atau jika diterjemahkan berarti Ketika Bandung Berkabut, menunjukkan betapa Bandung sebagai kota yang dingin dan bahkan sering berkabut saking dinginnya.

“Bandung dingin adalah fana, hareudang-lah yang nyata”

Hal inilah yang mendorong saya melakukan penelitian kecil sederhana. Yang sudah banyak dilakukan orang sebelumnya. Hanya sedikit saya modifikasi. Agar ada perbedaan. Ada kebaruan. Saya mencoba memetakan suhu permukaan di Kota Bandung. Memberi bukti, bahwa hareudang itu nyata.

Syahdan NASA (LAPAN-nya Amerika Serikat) dan USGS (Badan Geologi-nya Amerika Serikat) mengirimkan satelit ke atmosfir. Nama misinya Landsat. Mulai dari Landsat 1 tahun 1972, hingga sekarang sudah Landsat 8 sejak 2013, dan nanti Landsat 9 mungkin tahun 2020.

Dari langit satelit ini merekam respon permukaan bumi terhadap radiasi cahaya matahari. Hutan punya respon tersendiri. Kota juga punya. Begitu juga air, sawah, dan berbagai macam bentang alam lainnya.

Setiap 16 hari sekali Landsat 8 ini mengelilingi bumi. Satu titik di gambar yang direkam satelit ini mewakili 0.1 – 1 hektar lahan. Salah satu data yang bisa direkam adalah suhu di permukaan. Yang saya pakai untuk penelitian saya ini.

Selain satelit Landsat, sebenarnya masih banyak lagi satelit lain yang merekam temperatur. Tapi tidak saya pakai. Mungkin nanti. Jika ada waktu dan kesempatan di lain hari.

Citra satelit ini saya saring berdasarkan tutupan awan. Kalau ada awan, tidak ada data suhu permukaan. Yang terekam angka negatif. Sangat dingin karena suhu awan.

Dari tahun 2013 hingga sekarang total ada 125 citra satelit yang berhasil dikumpulkan oleh piranti Google Earth Engine (GEE). Piranti super powerful yang menurut saya harus dikuasai oleh ahli kebumian seperti di tulisan saya yang lalu.

Dengan memodifikasi naskah-naskah pemrograman Java yang tersedia di forum-forum developer GEE, saya membuat peta persebaran suhu permukaan tanah di Cekungan Bandung dan membuat diagram seri waktu suhu di tengah kota, di Baksil, dan di Tahura.

Hasilnya mudah diduga, bahwa suhu di tengah kota lebih tinggi. Kemudian suhu di Baksil, dan paling adem adalah suhu di Tahura.

Peta suhu permukaan tanah rata-rata Cekungan Bandung. Suhu rata-rata 20-22 C.
Peta suhu permukaan tanah rata-rata Kota Bandung dan sekitarnya. Suhu rata-rata 25-26 C.

Fenomena kota yang lebih panas dari daerah di sekitarnya dikenal dengan nama Urban heat island. Ini terjadi di seluruh daerah urban di dunia. Seiring dengan ancaman perubahan iklim akibat ulah manusia, akan semakin sering terjadi suhu ekstrim. Artinya musim panas semakin panas, musim dingin semakin dingin.

Di Kota Bandung, suhu rata-ratanya antara 25-26 C, sementara di Cekungan Bandung suhu rata-ratanya antara 20-22 C. Di titik di kota, suhu rata-ratanya 27.94 C. Di Baksil suhu rata-ratanya 22.57 C. Sementara di Tahura suhu rata-ratanya adalah 19.33 C.

Menurut penelitian dari Widya Ningrum (2018), suhu rata-rata Kota Bandung bertambah 1.3 C antara tahun 2005 hingga tahun 2016.

Penting bagi para perencana kota untuk merespon fenomena Pulau Panas Perkotaan ini agar panasnya Kota Bandung tidak sampai taraf mematikan. Pernah dengar cerita para lansia yang meninggal dunia karena musim panas yang tidak mampu ditahannya? Cerita itu nyata dan terjadi di banyak tempat di bumi kita ini.

Ada banyak penelitian juga yang menunjukkan bahwa orang-orang yang taraf ekonominya kurang, umumnya hidup di wilayah yang lebih panas. Akibatnya mereka lebih rentan terkena dampak fenomena ini.

Data suhu yang saya sajikan di tulisan ini hanyalah data dari satelit. Tingkat akurasinya tidak meyakinkan. Perlu lebih banyak sensor suhu dipasang di darat. Merekam data harian. Agar kita tahu bagaimana kota kita hidup. Bagaimana kota kita ini berdenyut.

Konon saya dengar ada pemasangan sensor suhu di kelurahan-kelurahan di Kota Bandung. Wah ini sangat menarik kalau datanya bisa dielaborasi. Digabungkan dan dianalisis bersama-sama. Lalu kita bisa tahu di mana kekurangan data. Biar kita bisa semakin pahami kota yang kita cintai ini.

Karena aksi itu harus bisa diukur tingkat keberhasilannya. Misal kita menanam sejuta pohon. Apakah itu berhasil atau tidak? Mana kita tahu jika tidak ada pembandingnya. Hanya perasaan saja. Contoh yang paling nyata misal pembuatan sejuta lubang biopori. Apakah itu ada pengukuran dampaknya? Saya kira tidak ada. Maka ya itu seolah gerakan asal saja.

Penelitian Pulau Panas Perkotaan ini masih bisa berkembang jauh lagi. Kita bisa bandingkan setiap kelurahan dan kepadatan penduduknya. Kita bisa bandingkan tingkat pendapatan dan jenis kegiatan dominan yang ada di wilayah tersebut. Kita bisa hitung jumlah ruang terbuka hijau dan membandingkan suhu rata-rata di daerah yang banyak dan sedikit ruang terbuka hijaunya. Dan masih banyak lagi kemungkinan penelitian-penelitian lainnya. Yang seru. Yang membuka mata kita akan fakta-fakta tentang kota yang kita cinta.

Dan Bandung bagiku bukan hanya
masalah wilayah belaka
Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan
yang bersamaku ketika sunyi

Pidi Baiq

PS: oh iya penelitian ini sedang saya tulis makalahnya untuk dimasukkan ke http://sinasinderaja.lapan.go.id/, konferensi tahunan yang diselenggarakan LAPAN (NASA-nya Indonesia). Nanti kalau sudah selesai, saya akan bagikan tautan makalah dan juga kode programnya.

Time Lapse Gunung Anak Krakatau

Sejak letusan Gunung Anak Krakatau akhir tahun 2018 lalu, saya jadi sering mengikuti cuitan-cuitan para peneliti mengenai gunung ini. Salah satu yang sering saya lihat adalah akun Annamaria Luongo @annamaria_84, seorang peneliti inderaja yang rutin membagikan gambar-gambar terbaru Gunung Anak Krakatau.

Gambar-gambarnya bagus, jernih, bebas awan. Saya jadi penasaran bagaimana cara mendapatkan data tersebut.

Saya juga kemudian mengikuti akun-akun terkait inderaja lainnya seperti @CopernicusEU, @CopernicusEMS, atau @USGSLandsat.

Kesemua akun ini, mengajak kita untuk memanfaatkan data inderaja. Data-data ini terbuka untuk publik dan bisa diakses dengan gratis.

Kemudian saya mencoba mengolah data-data ini sendiri. Piranti lunak yang saya gunakan adalah Sentinel-Hub. Piranti lunak super canggih, yang memberi kita kemudahan untuk mengakses data citra satelit, mengolahnya, dan juga membuat gambar berselang waktu (time lapse).

Hebatnya, kita bisa melakukan semua ini tanpa perlu mengunduh data. Kita bisa lakukan menggunakan komputasi awan memanfaatkan server Sentinel. Persis seperti Google Earth Engine yang saya bahas dalam tulisan sebelum ini.

Hasilnya adalah gambar berselang waktu dengan format .gif yang saya unggah di atas.

Di gambar ini, 42 citra satelit Gunung Anak Krakatau dari awal 2018 hingga sekarang ditayangkan secara berurutan. 42 citra satelit ini dipilih berdasarkan cakupan awan terendah. Agar gambar yang ditampilkan tidak merupakan gambar yang tidak tertutup awan.

Kita bisa lihat letusan-letusan kecil sebelum letusan masif yang menghancurkan badan Gunung Anak Krakatau pada akhir 2018 lalu. Menarik bukan?

Dengan memanfaatkan citra satelit, kita bisa memantau apa yang terjadi di sekitar kita. Misal setiap kali terjadi banjir bandang atau musibah-musibah, kita selalu menyalahkan perubahan tata guna lahan di bagian hulu. Apakah benar kejadiannya seperti itu? Bagaimana mengetahuinya? Kita bisa gunakan citra satelit.

Teknologi satelit saat ini sudah sangat maju. Resolusi spasial citra Sentinel ini bisa mencapai 10 meter. Artinya satu piksel gambar mewakili 10 meter asli. Resolusi ini sudah sangat detil dan bisa dipakai untuk pengamatan berskala besar, misal 1:10.000.

Resolusi temporalnya sekitar 5 hari. Artinya kita akan mendapat gambar baru setiap 5 hari. Keren kan?

Seru sih. Saya jadi bersemangat untuk belajar lebih keras untuk bisa paham cara memanfaatkan teknologi penginderaan jarak jauh ini. Saya kira ini salah satu kemampuan penting yang harus dikuasai oleh ahli kebumian.

Google Earth Engine: Salah Satu Piranti Lunak yang Harus Dikuasai Ahli Kebumian

Ada banyak kemampuan penting yang harus dikuasai oleh seorang ahli kebumian. Selain kemampuan lapangan, kemampuan memahami medan juga sangat penting. Salah satu cara paling mudah untuk memahami medan penelitian adalah dengan melakukan penginderaan jarak jauh. Menerawang lokasi penelitian tanpa perlu menginjakkan kaki ke lapangan. Kemampuan ini amat sangat penting bagi ahli kebumian jaman now.

Minggu lalu saya ikut block course Penginderaan Jarak Jauh (Remote Sensing). Block Course ini adalah salah satu kelas yang diampu oleh pengajar tamu dari luar TU Darmstadt. Programnya dipadatkan selama 1 minggu dari jam 9 sampai jam 4 sore. Pengajarnya seorang calon Doktor di bidang Inderaja dari Universitas Zaragoza, Spanyol.

Ada fakta penting yang menarik untuk dicermati terkait bidang ini. Di langit sana, ada ratusan atau ribuan satelit beterbangan mengorbit bumi. Dari mulai Satelit Sputnik dari Rusia yang merupakan satelit pertama yang diluncurkan ke angkasa, hingga Satelit Palapa kebanggaan bangsa Indonesia. Satelit-satelit ini terbang dengan berbagai tujuan; telekomunikasi, militer, riset, dan lain sebagainya. Salah satu satelit, yaitu Landsat yang diluncurkan NASA, sejak 1972 mengorbit bumi dan secara konsisten merekam gambar-gambar permukaan bumi.

Yang menarik lagi satelit ini tidak cuma merekam gelombang warna yang kasat mata (visible wave), tapi juga bisa merekam gelombang warna tak kasat mata. Setiap objek di muka bumi memiliki karakter pemantulan (Reflectance Signature) cahayanya masing-masing, yang kemudian memungkinkan kita untuk mengidentifikasi objek yang terekam dalam gambar.

Tabel yang menunjukkan karakter reflektansi tanaman. Perbedaan karakter reflektansi ini dapat digunakan untuk membedakan tanaman-tanaman sehingga luas tutupan tanaman ini dapat kita ukur. Sumber

Jika kita melakukan validasi di lapangan, kemudian menjadikan titik validasi tersebut sebagai acuan bagi piranti lunak untuk mengidentifikasi suatu bentang alam, maka piranti lunak kita bisa mengidentifikasi area yang sangat luas dengan konsistensi yang baik.

Memahami materi ini, kemudian saya ingat petuah mentor saya di Bandung dulu

Lik, lu harus belajar Earth Engine. Barang bagus itu!

Mbah Rendi

Setelah mendapat petuah ini dulu, saya beberapa kali mencoba Earth Engine dan melihat video serta tutorial. Tapi saya tidak paham kegunaan dan cara memanfaatkannya. Baru setelah kuliah ini saya paham.

Kenapa Google Earth Engine ini penting?

Data inderaja itu besar. Jika kita mengunduh dari Earth Explorer-nya USGS misal, satu data itu bisa sampai 1 GB. Artinya untuk memproses data ini, kita perlu komputer yang tangguh. Itu baru satu area, bagaimana kalau kita mau menganalisis satu Pulau Kalimantan misal, atau satu Benua Eropa?

Nah Google Earth Engine ini jawabannya.

Google punya akses ke hampir semua data-data satelit yang bisa kita akses gratis. Saking besarnya data yang mereka punya, unit datanya bukan lagi Giga atau Tera, tapi Petabyte, 1 PB = 1000 TB = 1000.000 GB. Earth Engine tidak hanya menyediakan data saja, tapi mereka juga memberi kita peluang untuk menggunakan komputer super Google untuk menganalisis data yang kita inginkan.

Kuncinya cuma satu: kemampuan membuat skrip (script) Java (entah apa padanannya script, rasanya naskah kurang pas). Kita bisa membuat skrip ini untuk memerintahkan komputer Google menganalisis data-data yang kita mau.

Hasilnya keren!

Misal studi Tutupan Hutan Global yang dipimpin oleh Matt Hansen dari Universitas Maryland. Mereka menggunakan Google Earth Engine untuk mengetahui perkembangan tutupan hutan di seluruh dunia, baik daerah yang kehilangan tutupan hutan atau daerah yang tutupan hutannya justru bertambah. Studi ini dipublikasikan di Jurnal Science, dan sangat mengagumkan karena bisa menganalisis semua benua, kecuali Antartika dan beberapa pulau di Kutub Utara. Studi ini mencakup area seluas 128.8 juta km2, yang setara dengan 143 miliar piksel data dengan resolusi spasial 30 meter. Ini tidak mungkin bisa dilakukan jika menggunakan komputer biasa.

Peta Perubahan Lanskap Hutan Karya Matt Hansen dkk. Sumber

Lantas kenapa saya bilang ahli kebumian harus menguasai kemampuan ini?

Google Earth Engine ini gratis. Penggunanya belum banyak, komunitasnya berkembang. Saya sudah mencoba beberapa baris kode dan tidak terlalu sulit juga untuk belajar. Permasalahan sangat banyak di Indonesia yang bisa dibantu penyelesaiannya dengan pemahaman spasial dan temporal yang lebih baik.

Kita bisa mengukur perubahan bentang alam di mana-mana. Kita bisa hitung ekspansi perkebunan ke lahan sawit. Kita bisa hitung area habitat orangutan yang terancam. Kita bisa mengetahui di mana daerah kering dan di mana daerah basah, serta bagaimana perkembangan setiap tahunnya. Kita bisa ukur luas kebakaran hutan, dan banyak aplikasi-aplikasi lainnya.

Tapi yang paling utama adalah karena teknologi ini sangat canggih. Kita cukup duduk di warnet yang tidak perlu spesifikasi komputer canggih, lalu tinggal merangkai kode. Kita bisa simpan dan lanjutkan lagi kemudian hari di komputer kantor atau di rumah. Tidak perlu lagi membawa komputer-komputer super yang berat dan menyiksa punggung. Kita bisa kerja di mana saja (asal ada internetnya).

Ayo mari mencoba!

Sumber Air Minum Warga Kota Bandung

Minggu ini saya bermain-main dengan data dari http://data.bandung.go.id/dataset. Ternyata ada banyak data yang bisa dipakai untuk buat peta ala-ala.

Di peta ini digambarkan persentase sumber air minum warga Kota Bandung. Sumber air minum warga kota Bandung terdiri dari air kemasan/mineral, ledeng, pompa, sumur terlindung, sumur tak terlindung,, mata air terlindung, mata air tak terlindung, dan lain-lain. Bisa dilihat di gambar bahwa mayoritas warga Kota Bandung membeli air minumnya berupa air kemasan atau air galon.

Hampir di semua tempat, terutama di Bandung bagian selatan, orang-orang membeli air mineral/kemasan sebagai air minumnya. Hanya di beberapa tempat, terutama di Bandung Utara, warga bisa memakai sumber mata air, atau dari sumur.

Memang kita bisa mafhum, karena air kita memang tercemar. Sehingga untuk minum, memang paling aman pakai air galon.

Mungkin jika ada yang membuat penelitian tentang pengeluaran masyarakat untuk air, peta ini bisa disandingkan sehingga kita bisa bikin perbandingannya. Atau bisa juga kita tumpang tindihkan dengan peta kemiskinan dan pendapatan yang datanya juga tersedia di pusat data Kota Bandung.

Dari sini kita bisa ambil kesimpulan. Pantas saja bisnis air galon maju terus pantang mundur. Pasarnya gede betul, hampir 2.5 juta orang di masa depan akan pakai air galon untuk sumber minumnya. Akibatnya perusahaan air makin rajin beli kaveling di sumber-sumber air kita semua.

Mungkin teman-teman banyak yang tidak tahu bahwa PDAM adalah singkatan dari Perusahaan Daerah Air Minum. Sebenarnya mereka punya obligasi untuk menyediakan air minum bagi masyarakat Kota Bandung. Namun entah kenapa sampai kini mereka hanya sediakan air baku, itu pun jaringannya sangat terbatas, mati-nyala-mati-nyala bergiliran komplain di media masa.

Yang menarik sebenarnya, kita bisa pakai data ini sebagai titik awal Kota Bandung berbenah di bidang air. Kita bikin regulasi yang ketat untuk air galon, kualitas tinggi harga murah. PDAM yang menyediakannya.

Jangan seperti sekarang, harga air galon mahal. Misal merk Aqua yang keluarga saya biasa beli 19 ribu satu galon (19 liter, 1000/liter). Sementara di Jerman, di tempat saya tinggal sekarang, air keran yang bisa diminum itu harganya 2 euro per m3, atau 32 ribu per 1000 liter, atau 32 rupiah per liter. Kualitasnya jangan tanya, standarnya ketat, monitoringnya rutin nyaris tanpa cela.

Kalau kita bikin air galon harga 19 liter atau 1 galon = 600 rupiah, kira-kira orang masih mau kah beli Aqua 19 ribu atau VIT 9 ribu rupiah di Alfa? Kalau kita bisa bikin prosesnya bagus, tentu bisa kita kejar harganya segitu.

Jangan lah masyarakat itu dipaksa menyediakan sendiri air minumnya. Jangan kebutuhan penting kaya begitu diserahkan ke mekanisme pasar. Jangan kita dipaksa membeli yang mahal karena ketidakmampuan kita untuk percaya pada pemerintah mampu menyediakan hal yang lebih murah dan terjangkau.

Data ini ke depannya ingin saya tumpang tindihkan dengan data jaringan distribusi PDAM dan sumur-sumur milik warga. Selain itu saya juga sedang mencari data titik-titik sumur pantau di Kota Bandung. Biar bisa membuat peta kedalaman air tanah di Kota Bandung. Barangkali ada yang tahu di mana saya bisa cari datanya, bisa berbagi dengan saya.

Kira-kira bisa berkembang ke mana saja kah data ini, terutama jika dikaitkan dengan kondisi hidrogeologi Kota Bandung?

Resensi Buku Krakatoa: The Day The World Exploded

Pasca letusan dan tsunami Gunung Anak Krakatau pada hari Sabtu, 22 Desember 2018, saya segera memesan buku Krakatoa yang ditulis oleh Simon Winchester. Saya ingin membaca buku ini karena ulasan-ulasannya yang sangat bagus, juga rekomendasi dari sangat banyak orang untuk membaca buku ini


…a trove of wonderfully arcane information. The author has been able to attach so many tentacles to a single event – the spectacular and catastrophic eruption of the title volcano – that there seems to be nowhere he can’t go

Janet Maslin – New York Times

Penulis buku ini adalah seorang geolog lulusan Oxford yang banting setir menjadi penulis dan jurnalis. Karir kepenulisannya sudah sangat panjang sejak 1975. Ia mempublikasikan Krakatoa pada tahun 2004.

Buku Krakatoa: The day the world exploded, bagi saya adalah buku yang sangat komprehensif. Dalam buku setebal 432 halaman yang diterbitkan oleh Penguin Books di London ini, Simon Winchester bercerita segala hal yang berkaitan dengan letusan Gunung Krakatau tahun 1883, salah satu letusan paling dahsyat di periode modern.

Secara umum buku ini bisa dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu bagian pertama sebelum terjadi letusan, bagian kedua ketika letusan terjadi, dan bagian ketiga yaitu pasca letusan.

Di bagian pertama, Winchester membuka cerita ini dengan menuturkan kisah-kisah tentang Tektonik Lempeng untuk memberikan gambaran kenapa terjadi letusan di Selat Sunda, bukan di tengah-tengah Benua Eropa, misal. Ia bercerita tentang Alfred Wegener dan teori Pengapungan Benua yang ditolak habis-habisan oleh para geolog, hanya karena Wegener tidak mampu menjelaskan sumber energi yang mengakibatkan Pengapungan Benua terjadi.

Winchester juga bercerita tentang Alfred Russel Wallace, seorang Naturalis dari Inggris, yang kalah tenar dari Charles Darwin, padahal ia dianggap sama berjasanya terhadap perkembangan teori evolusi dan adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya. Alfred Wallace menarik garis batas flora dan fauna Indonesia bagian barat dan timur, yang kelak diketahui bahwa batas ini juga adalah batas lempeng.

Kemudian Winchester juga menjelaskan tentang perkembangan teknologi komunikasi. Ini penting untuk menjelaskan premis Winchester tentang kenapa letusan Krakatau bisa sangat terkenal di dunia, yaitu karena teknologi komunikasi sudah berkembang cukup pesat kala itu.

Di bagian kedua, Winchester berkisah tentang laporan-laporan dari Anyer, dari Teluk Betung, dari Batavia, dari para pelaut yang melewati Selat Sunda pada masa-masa sebelum Krakatau meletus, dan sebelum letusan paroksismal terjadi. Ia juga bercerita tentang saat letusan terjadi, secara runtun hari per hari, dari semua sisi. Laporan resmi pemerintah kolonial, para pelaut, dan saksi-saksi.

Ia juga menuliskan sejauh mana letusan ini terdengar. Membuat ilustrasi petanya agar bisa dibayangkan lebih mudah. Kesaksian-kesaksian dituliskan dalam bentuk kutipan, seolah kita sedang menjadi orang yang membaca laporan.

Di bagian ketiga, Winchester bercerita tentang dampak letusan ini bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan juga kehidupan sosial. Ia berkisah tentang pemberontakan petani di Banten tahun 1888 yang kemungkinan besar juga dilatarbelakangi oleh kondisi sosial pasca letusan. Ia bercerita tentang langit dunia sepanjang tahun 1883-1884 yang memberikan semburat warna yang indahnya luar biasa akibat distorsi abu Krakatau di atmosfer membelokkan cahaya matahari.

Letusan Krakatau 1883 juga membuka peluang ilmu biologi untuk berkembang, karena untuk pertama kalinya kita bisa mempelajari suksesi kehidupan pasca bencana besar terjadi.

Di akhir Winchester juga menyertakan bahan-bahan bacaan untuk memahami buku ini lebih baik lagi.

Secara umum buku ini sangat keren! Seperti ulasan dari Janet Maslin yang berkata bahwa kisah-kisah di buku ini seperti tentakel-tentakel cerita yang bermuara pada satu kisah utama, saya hanya bisa setuju, karena memang begitu benar adanya.

Saya sangat mengagumi cara bercerita Winchester karena kita seolah dibawa kembali ke masa lalu. Ia memberikan gambaran pentingnya kejadian ini bagi perkembangan ilmu pengetahuan, bagi perkembangan kehidupan umat manusia. Dan 432 halaman tak terasa begitu panjang, seperti kedipan mata, mungkin karena asyiknya membaca.

Maka tak ada kata lain selain, Sangat Direkomendasikan untuk Dibaca!

Ci Tarum Tercemar Amat Sangat Super Luar Biasa Berat!

Hari ini saya belajar mengenai status mutu air berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 tahun 2003 Tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Dalam pedoman ini, metoda yang digunakan untuk menentukan status mutu air adalah metoda STORET. Metoda ini secara prinsip membandingkan antara data kualitas air dengan baku mutu air yang disesuaikan dengan peruntukannya guna menentukan status mutu air.

Untuk mengklasifikasikan status mutu air, digunakan sistem nilai dari US-EPA, yang mengklasifikasikan mutu air dalam empat kelas, yaitu
(1) Kelas A : baik sekali, skor = 0  memenuhi baku mutu
(2) Kelas B : baik, skor = -1 s/d -10  cemar ringan
(3) Kelas C : sedang, skor = -11 s/d -30  cemar sedang
(4) Kelas D : buruk, skor lebih kecil dari -31  cemar berat

Angka di atas kurang lebih berarti seperti ini: setiap ada satu parameter yang lebih besar dari batas ambang minimal, maka akan dapat skor minus. Parameter yang diukur seperti parameter fisika (TDS, suhu, DHL), kimia (kandungan zat-zat kimia), dan biologi (e-coli). Semakin rendah nilainya (semakin minus), maka semakin buruk skornya.

Nah kemudian saya mencoba membaca hasil analisis kualitas air Ci Tarum di Nanjung, dekat Jembatan Ci Tarum di Leuwigajah, yang dilaporkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat. Pengukurannya sendiri dilakukan pada bulan April, Mei, Juli, September, dan Oktober 2013. Hasilnya adalah skor Storet Ci Tarum di Nanjung -176! (cek tabelnya di: NANJUNG)

Skor -176 ini selisihnya lebih dari 140 dari batas minimal kelas D yang artinya tercemar berat. Mungkin kita bisa menambah beberapa kelas lagi sampai kelas Z untuk menunjukkan bahwa Ci Tarum ini tingkat ketercemarannya sangat luar biasa buruk.

Lebih lima tahun lalu saat kampanye mantan Gubernur Ahmad Heryawan, beliau menjanjikan pada 2018 air Ci Tarum bisa diminum. Janji ini tentu hanya sekedar janji politik yang omong kosong. Kenapa begitu? Karena lihat saja tahun 2013 saat janji itu diungkapkan, angkanya -176, mungkin di stasiun pengukuran lain sama juga, sementara untuk bisa diminum, yaitu memenuhi baku mutu maka nilainya itu 0. Ada puluhan parameter yang harus diperbaiki, sementara aksinya tidak terasa kalau tidak boleh bilang tidak ada.

Kini tahun 2018, Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat belum menyediakan lagi data kualitas air Ci Tarum di laman situsnya. Konon klaimnya, meski kualitas air tetap buruk, tapi angkanya membaik.

Karena di rezim jaman sekarang itu tidak boleh asal kritik dan harus memberi solusi, maka saya ingin mencoba memberi solusi.

Solusi dari saya adalah keterbukaan data agar masyarakat bisa melihat sendiri perbaikan yang terjadi di Ci Tarum. Buka akses selebar-lebarnya terhadap semua pengukuran dan monitoring di Ci Tarum. Buka data analisis kualitas air, dan tunjukkan grafiknya bahwa perubahan terjadi menuju arah yang lebih baik. Biar kita bisa mengukur sendiri, biar kita bisa tahu sejauh mana dampak upaya kita untuk melindungi Ci Tarum.

Saat ini data yang tersedia hanya data tahun 2013. Sementara itu untuk mengakses data-data terbaru harus mengajukkan permohonan yang tentu memakan waktu dan terutama karena kita paham ruwetnya birokrasi. Dengan terbukanya akses data, maka partisipasi warga akan lebih mudah. Toh data milik warga juga, tidak perlu disembunyi-sembunyikan. Kecuali memang ada yang ingin disembunyikan.

Solusi saya yang kedua sifatnya lebih lokal. Salah satu simpul Ci Tarum adalah Curug Jompong. Dalam tulisan saya yang lalu, saya menulis tentang Curug Jompong yang telah dikenal sejak lama dan telah menjadi tempat bergeowisata sekurang-kurangnya sejak 1918. Dengan menghidupkan kembali Curug Jompong sebagai tujuan berwisata (meskipun masih kotor, jorok, dan berbau tak sedap) kita mengundang masyarakat untuk menjadi pengawas Ci Tarum. Ini untuk membuka pikiran masyarakat bahwa Ci Tarum adalah beranda rumah kita, yang harus kita jaga dan pelihara. Juga untuk mengingatkan semua orang bahwa Ci Tarum pernah begitu berjaya dengan Curug Jompongnya, menjadi objek wisata kebanggaan warga Bandung sejak 100 tahun yang lalu.

Semoga saya bisa menjadi bagian dari solusi, bukan hanya yang berucap tanpa berbuat.