Batu Selendang, Sebuah Kisah di Lembah Tahura

Kita sering mendengar kisah tentang letusan dahsyat Gunung Tangkuban Perahu di masa silam, namun seberapa dahsyatnya, seberapa jauh aliran lavanya, seberapa banyak abu yang ditebarkannya tak banyak dari kita yang tahu. Hanya tahu dahsyat tanpa tahu seberapa besar kuantitasnya.

Kenampakan lava yang terlipat-lipat, sangat menarik. (foto oleh Arrahiem, 2011)

Warga Bandung Raya tentu tak asing dengan Taman Hutan Raya Ir. Djuanda atau biasa disingkat Tahura. Suatu hutan yang biasa kita jadikan sebagai lokasi untuk menyegarkan pikiran di akhir pekan setelah sebelumnya berpenat-penat dalam berbagai kesibukan. Lokasi ini menyediakan sebuah pemandangan khas hutan yang tenang dan nyaman serta beberapa jeram yang juga sangat menarik untuk dikunjungi.

Jadi di akhir minggu ini saya melakukan sebuah kunjungan singkat ke Tahura, selain dengan tujuan untuk “refreshing” juga dengan satu tempat yang sangat ingin saya datangi, yaitu lokasi Batu Selendang. Lokasi Batu Selendang ini mungkin hanya segelintir saja yang tahu, bahkan mungkin mayoritas baru mendengarnya. Padahal lokasi ini merupakan lokasi yang sangat menarik untuk dikunjungi karena mempunyai cerita yang luar biasa di dalamnya.

Alkisah 48 ribu tahun yang lalu (Sunardi & Koesoemadinata, 1997), terjadilah sebuah letusan dari Gunung Tangkuban Perahu, gunung yang identik dengan kisah Sangkuriang ini mengeluarkan aliran lava yang sangat banyak dan mengalir sejauh mungkin melalui lembah-lembah sungai di sekitarnya, salah satunya ke Sungai Cikapundung. Sungai Cikapundung ini pada saat letusan, ikut pula menjadi jalur aliran lava, yang kini buktinya terekam pada batuan lava basalt di Sungai Cikapundung, terutama pada aliran di daerah Tahura yang beberapa di antaranya kini telah menjadi jeram-jeram yang sangat menarik untuk dikunjungi, contoh Curug Omas, Curug Lalay, dan Curug Dago.

Dan ternyata tercatat pula pada batuannya, sebuah jejak luar biasa dari efek pendinginan lava encer yang mengalir yaitu yang kini kita sebut sebagai Batu Selendang karena bentukannya menyerupai selendang yang terlipat-lipat.

Batu Selendang dengan koordinat lokasi S 06o50’35.6” dan E107o39’02.4” merupakan suatu fenomena geologi menarik yang tersingkap di bantaran Sungai Cikapundung, batu ini membentuk suatu motif batik seperti tumpukan gulali yang terbentuk akibat aliran lava encer yang jatuh dari suatu tinggian sehingga mengakibatkan hasil sebuah jejak lava yang begitu eksotis karena membentuk pola lipatan berulang-ulang dengan ukuran dan jarak yang sama. Ada lipatan yang lancip dan gemuk yang tergambar secara vertikal. Bila dilihat dari atas, sepintas jejak itu mirip motif batik(T. Bachtiar).

Lava yang terlipat, (Foto oleh Arrahiem, 2011)

Jika kita ingin ke lokasi ini maka kita dapat menyusuri jalan setapak menuju Maribaya dari Pintu Gerbang Utama Tahura kemudian melewati beberapa tanjakan yang cukup melelahkan hingga kita menemukan Curug Lalay, namun saat ini plang penunjuk menuju Curug Lalay sedang dicabut karena jalannya mengalami kerusakan. Batu Selendang ini dapat kita temui sebelum lokasi Curug Lalay, berada di tepian Sungai Cikapundung dipisahkan dengan tebing terjal dari jalanan utama. Bisa juga kita meminta tolong kepada warga sekitar atau petugas dari Tahura untuk menunjukkan lokasi Batu Selendang.

Sesampainya di Batu Selendang maka kita akan melihat suatu fenomena tak lazim yang luar biasa indah, suatu jejak batuan berukuran 5x2m dengan motif seperti selendang yang terlipat-lipat. Di sampingnya mengalir aliran Sungai Cikapundung yang agak kecoklatan dengan bantaran sungai berupa batuan basalt yang indah, hitam mengilap terpapar matahari. Beberapa foto yang saya ambil mungkin tidak cukup untuk mendeskripsikan keindahan yang luar biasa itu. Fenomena ini diyakini mirip dengan fenomena aliran lava di Hawaii, yaitu berupa aliran lava yang sangat encer, yang dalam bahasa geologi tipe lava ini biasa disebut Pahoehoe yang berarti lava yang mengalir bebas. Menurut T. Bachtiar, fenomena ini diyakini sebagai yang pertama kali ditemukan di Indonesia.

Batu Selendang ini merupakan suatu kisah geologi yang harus dijaga kelestariannya, karena ia dapat bertutur tentang kejadian di masa lampau, tentang lava yang encer, tentang jalur aliran lava, dan tentang banyak hal lagi. Diharapkan upaya dari pengurus Tahura untuk mulai menambah informasi kepada pengunjung agar lokasi Batu Selendang ini dapat dikunjungi lebih sering lagi karena selain merupakan sumber informasi, ini juga merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi oleh pengunjung Tahura. Upaya yang bisa dilakukan seperti mulai memasukkan lokasi Batu Selendang pada peta Tahura, memasang plang yang berisi informasi lokasi dan informasi geologinya, dan juga pembuatan jalan atau pagar-pagar pengaman yang aman namun tetap tidak merusak lingkungan Tahura. Dan tentu kearifan dari pengunjung untuk melindungi lokasi yang sangat berharga ini mutlak diperlukan demi terjaganya jejak lava Tangkuban Perahu ini.

Penulis : Muhammad Malik Arrahiem (Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi “GEA” ITB)

You Might Also Like
Leave a Reply