Geotrek Curug Malela, Ekspresi Rasa Takjub pada Ciptaan Yang Maha Kuasa

1
Rombongan Travel O’Logy Curug Malela. Foto oleh Azmi Harsana.

Perkenalan saya dengan Curug Malela dimulai di tahun 2009 ketika saya membaca artikel tentang Curug Malela di harian Pikiran Rakyat. Artikel itu memuat cerita tentang Curug Malela yang ditulis oleh Dr. Budi Brahmantyo.Setahun kemudian, Pak Dede Yusuf sebagai Wakil Gubernur mengunjungi Curug Malela dan kemudian air terjun ini menjadi begitu tenar kemana-mana.

Meskipun sudah dikunjungi wagub, perjalanan ke Curug Malela ketika itu sangat mengerikan. Bagaimana tidak, jalanan rusak mulai dari Cililin. Jalan berlubang berbatu, berbahaya. Semakin dekat bukan semakin baik tapi semakin parah. Bahkan masuk di Kecamatan Rongga, jalanan berbatu, berlumpur sangat menguras tenaga.

Ketika itu kami pergi bersepeda motor, dari Bandung pagi hari, sampai di Curug Malela sore hari. Pulang pun terpaksa harus menginap semalam di Cililin karena perjalanan terlalu melelahkan.

Namun kini, jalan menuju Curug Malela mulai diperbaiki. Sejak tahun 2010 hingga sekarang perbaikan cukup terasa. Tahun 2013, waktu saya mengunjungi Curug Malela untuk kali kedua, jalan Bandung hingga Gununghalu sudah mulai mulus. Meski jalanan di Rongga masih banyak yang berbatu. Di tahun 2016 sekarang, jalanan sudah mulus beraspal hingga Desa Cicadas, 5 km dari Curug Malela, sehingga cukup kita trekking sejauh 5 km saja.

Berdasarkan informasi yang saya terima dari masyarakat sekitar Curug Malela, jalan dari Cicadas ke Curug Malela pun akan diperbaiki di tahun ini, sehingga harapannya di tahun 2017, jalan ke Curug Malela sudah tersambung aspal seluruhnya.  Aamiin. Meski begitu harus dipikirkan juga akses jalan yang sempit yag cukup menyulitkan jika dua mobil berpapasan.

Bagi saya, Curug Malela adalah airterjun perjuangan. Curug ini adalah tempat yang pencapaiannya penuh perjuangan, tapi perjuangannya sepadan dengan hasilnya. Hanya 3-4 jam perjalanan berkendara dilanjutkan dengan 1 jam jalan kaki, kita akan disambut airterjun raksasa yang derunya terdengar dari jarak 3 km. Dari kejauhan telah terlihat buih dan aliran putih yang begitu menggoda sesiapa untuk turun melihat ke hadapannya.

Nama Curug Malela

Menurut T. Bachtiar (2016), kata malela  digunakan sebagai suatu ekspresi untuk menggambarkan kekaguman, kekuatan, atau daya lebih dari suatu benda. Oleh karena itu ketika melihat hamparan keusik atau pasir yang berkilauan, masyarakat menambahkan kata malela menjadi keusik malela.  Ketika melihat tanaman yang daunnya berbulu sangat gatal, lebih gatal daripada tanaman daun biasa, maka disebutlah pulus malela.

Dari situ sangat mungkin pula, penamaan Curug Malela bermula. Desa Cicadas tempat air terjun itu berada, merupakan desa dengan topografi berbukit-bukit tersusun atas batuan-batuan yang keras dan kasar atau batu cadas. Air terjun ini jatuh di sungai dengan lebar lebih dari 50 meter dengan tinggi lebih dari 20 meter sehingga tidak lazin dari air terjun biasa yang hanya 2 meter atau kurang dari 10 meter lebarnya.

Aliran Ci Dadap tempat Curug Malela mengalir kemudian berubah menjadi Ci Curug yang mencirikan bahwa alirannya berjeram-jeram. Kemudian alirannya bermuara ke Ci Sokan yang saat ini telah dibangun Bendungan Upper Ci Sokan dan Lower Ci Sokan.

Geologi Curug Malela

Curug Malela jatuh di aliran Ci Dadap yang berhulu di Gunung Kendeng, Kabupaten Bandung. Menurut Koesmono dkk dalam Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Curug Malela berada pada Formasi Beser, yaitu endapan gunungapi berumur Mio-Pliosen atau sekitar 5-7 juta tahun yang lalu. Sedangkan menurut Brahmantyo (2016), Curug Malela merupakan singkapan puncak antiklin Formasi Saguling yang berumur Miosen Awal hingga Tengah atau 15-10 juta tahun yang lalu.

2
Sketsa Curug Malela oleh Budi Brahmantyo (2016)

Curug Malela di Cicadas, Kecamatan Rongga, Kab. Bandung Barat, adalah air terjun jenis katarak (lebar membentuk tabir air) dari Ci Dadap (Ci Curug) yang jatuh setinggi kira-kira 50 m pada perlapisan batupasir amalgamasi (lapisan masif sangat tebal dengan batas lapisan yang tidak jelas) dari Formasi Saguling berumur Miosen Atas. Di sini membentuk kemiringan kecil (seperti plateau) karena diperkirakan persis pada puncak antiklin. Sketsa dibuat pada acara Jelajah Geotrek Matra Bumi 30 Juli 2016

Batuannya sendiri berupa perlapisan datar batupasir dan breksi yang sangat keras. Pannekoek (1946, dalam van Bemmelen, 1949) menyebut daerah ini sebagai Plateau Rongga, yaitu bagian selatan dari Punggungan Rajamandala dan transisi antara Zona Bandung dan Pegunungan Selatan. Plateau Rongga ini memiliki elevasi mulai dari 1000 meter dan permukaannya merupakan bukit dewasa hingga tua.

3
Modifikasi Sketsa Peta Geomorfologi Plato Rongga van Bemmelen 1949, dalam Ar Rahiem 2013.

Sebagai suatu plateau, maka tentu saja morfologi daerah ini tersusun atas lapisan-lapisan datar yang terpotong oleh lembah-lembah yang terjal. Pannekoek menduga daerah Plateau Rongga diduga merupakan dataran berumur Pliosen sebagai akibat dari denudasi Jampang.

Selain di Curug Malela, bentukan morfologi Plato Rongga bisa kita amati dengan baik di Tebing Gunung Celak, Kecamatan Gunung Halu, sekitar 20 km sebelum Curug Malela. Tebing ini merupakan lapisan landai breksi volkanik Formasi Beser berumur Mio-Pliosen atau sekitar 5-7 juta tahun yang lalu.

4
Tebing Celak di Kecamatan Gununghalu. Penciri bentangalam plato, yaitu tinggian yang dibatasi tebing terjal. Foto oleh Azmi Harsana.

Sebagai suatu platau, wajarlah bahwa sungai di kawasan Rongga dan sekitarnya banyak terpotong oleh air terjun. Lapisan datar atau landai memiliki kecenderungan untuk membentuk air terjun. Pada batuan sedimen yang berlapis, terdapat perbedaan resistensi. Ada lapisan yang keras, ada lapisan yang lebih lunak. Gambar di bawah mencoba menjelaskan bahwa aliran sungai mengerosi lapisan yang lebih lunak sehingga menyebabkan lapisan tersebut membentuk cerukan yang dalam istilah arung-jeram disebut sebagai undercut. Cerukan ini makin lama makin dalam dan mengakibatkan lapisan di atasnya menjadi menggantung dan lama-lama runtuh. Keruntuhannya menyisakan bongkah-bongkah besar yang biasanya banyak berada di sekitar airterjun. Selain itu, keruntuhannya juga menyebabkan airterjun semakin mundur. Jika dilihat dari udara, air terjun ini seolah-olah membentuk bentukan tapal kuda. Kita bisa melihat contoh ini dengan baik di Niagara.

5
Ilustrasi pembentukan airterjun pada lapisan landai dan datar.
6
Bentukan tapal kuda Air Terjun Niagara.

Sepanjang sungai, aliran ini mengerosi lapisan-lapisan datar membentuk begitu banyak airterjun. Di Curug Malela sendiri, terdapat 7 air terjun. Menurut dugaan penulis, beberapa curug ini pasti berada pada satu aliran sungai, meskipun ada juga yang jatuh di aliran anak sungai. Curug-curug ini di antaranya adalah Curug Malela, Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul, Curug Sumpel, Curug Palisir, dan ditutup dengan Curug Pameungpeuk.

 

Sejarah Curug Malela              

22240609
Buku tentang kisah para juragan teh Jawa Barat

Pada tahun 1870, Pemerintah Hindia Belanda memberlakukan UU Agraria yang mengizinkan swasta melakukan usaha perkebunan di Indonesia. Ketika itu swasta berbondong-bondong berinvestasi di Indonesia. Di Jawa Barat sendiri, komoditas yang popular adalah teh. Para pengusahanya biasa disebut sebagai Preanger Planters. Beberapa tokoh Preanger Planters yang terkenal diantaranya adalah K.F. Holle, Bosscha, keluarga Kerkhoven, dll.

Di Bandung Barat sendiri, pada 1908 berdirilah perkebunan Montaya milik perusahaan NV Cultuur My. Area kebunnya meliputi Kecamatan Gununghalu dan Kecamatan Rongga dengan luas konsesi keseluruhan sekitar 2100 hektar. Di dekat perkebunan teh inilah Curug Malela berada.

Dalam buku Bandung Tempo Dulu karya Haryoto Kunto pada bagian Pariwisata Bandung ada sebuah foto Curug Malela yang saat itu disebut sebagai Curug Sumpah. Meskipun tidak ada keterangan yang jelas mengenai air terjun ini, tetapi keberadaan informasi ini menjadi titik terang bahwa curug ini telah sejak lama menjadi lokasi wisata.

7
Curug Malela dalam buku Bandung Tempo Dulu karya Haryoto Kunto. Pada saat itu Curug Malela dikenal sebagai Curug Sumpah

 

Curug Malela dan Perkembangan Geowisata

Curug Malela telah berkembang begitu pesat sejak ekspos pariwisata di harian Pikiran Rakyat tahun 2009. Ia bersolek dan bermolek untuk menyambut tamu-tamu yang ingin menyegarkan pikirannya. Bertualang mengagumi keindahan ciptaan-Nya. Masyarakat bahu membahu menata lingkungan Curug Malela agar rapi dan nyaman dikunjungi. Fasilitas yang ada sudah begitu baik, warung makan, kamar mandi, mushola, tempat sampah, dan terbaru adalah platform untuk berfoto-foto kekinian. Pengunjung bisa berpose di atas pohon dengan pemandangan Curug Malela yang tak terhalang. Fasilitas ini menjadi salah satu fasilitas yang digemari oleh pengunjung.

8
Platform di atas pohon untuk berfoto menjadi idola para pengunjung. Cukup membayar Rp3000 saja sekali naik. Foto oleh Malik Ar Rahiem
9
Pak Atip, petugas Curug Malela.

Begitu pula petugas sangat ramah dan tanpa segan bersiap membantu pengunjung yang kesulitan. Mereka telah cukup terlatih dan terbiasa untuk memandu dan menawarkan jasanya tanpa membuat pengunjung merasa dipaksa. Hal ini tentu sangat positif dan meningkatkan kenyamanan pengunjung.

Pariwisata menjadi salahsatu katalis perkembangan wilayah. Keberadaan Curug Malela dan ekspos positif dari media membuat pembangunan menjadi suatu keniscayaan. Interaksi ekonomi antara pengunjung dan masyarakat membuat warga sadar bahwa Curug Malela merupakan aset daerah yang harus dijaga dan dikembangkan.

Menuju Curug Malela

Berjalan-jalan ke Curug Malela adalah suatu keharusan bagi anda yang menyenangi pemandangan alam (sampai saat ini saya belum bertemu orang yang tidak senang dengan pemandangan alam). Perjalanannya yang cukup jauh terbayar dengan keindahan alamnya yang luar biasa.

Untuk menuju ke Curug Malela ada beberapa opsi yang bisa ditempuh. Jalur ke Curug Malela dari Bandung adalah sebagai berikut; Bandung – Batujajar – Cililin – Sindangkerta – Gununghalu – Rongga – Desa Cicadas – Curug Malela sejauh 75km (gambar). Dari Bandung hingga Rongga jalanan sudah beraspal baik, namun dari Gununghalu hingga ke Rongga jalanan cukup sempit hanya bisa dilalui kendaraan kecil (maksimal elf). Panduan jalan dengan menggunakan Google Maps sudah cukup informatif. Di beberapa tempat ada plang jalan yang kadang terlewat sehingga harus berhati-hati agar tidak tersesat.

10
Peta Jalan Curug Malela – T. Bachtiar.

Dari Rongga hingga Cicadas, sudah beraspal baik. Ujung aspal berada di dekat perkebunan teh yaitu di warung Abah Kuluk, sekitar 6 km dari Curug Malela. Jalanan berbatu namun masih bisa dilewati hingga gerbang tiket Curug Malela, yaitu dekat SMPN 3 Rongga. Dari sini kita harus berjalan kaki sekitar 4 km menuju Curug Malela. Jika menggunakan motor, bisa hingga warung-warung Curug Malela, namun perjalanan cukup berat karena jalanan tanah dan berbatu. Dari warung ini juga bisa menggunakan jasa ojek dengan tarif negosiasi sekitar Rp30.000 – Rp50.000 tergantung musim perjalanan.

Musim kunjungan Curug Malela yang terbaik adalah ketika musim penghujan. Saat itu debit Curug Malela sangat tinggi dan aliran air begitu megahnya, tapi sangat tidak disarankan untuk berenang karena aliran yang deras dan rawan terjadi banjir bandang dari hulu. Meski demikian, kunjungan pada musim penghujan cukup berat karena jalanan tanah yang licin. Pada musim kemarau, debit Curug Malela kecil namun bisa untuk berenang dan bermain air.

Jika menggunakan angkutan umum, bisa menggunakan elf Ciroyom – Bunijaya. Informasi tarif belum jelas, namun mungkin sekitar Rp20.000 – Rp50.000. Dari Bunijaya kita harus menyewa ojek yang tarifnya sekitar Rp50.000 – Rp100.000 dengan jarak perjalanan sekitar 20 km (15 km jalan aspal dan 5 km jalan tanah berbatu).

11

Jadi tunggu apa lagi. Siapkan akhir pekanmu, kunjungi Curug Malela segera!

Daftar Pustaka

Ar Rahiem, M.M. 2013. Geologi dan Identifikasi Gerakan Tanah Daerah Celak Kabupaten Bandung Barat. Tugas Akhir Sarjana pada FITB ITB Bandung. Tidak diterbitkan.

Bachtiar, T. (2011, 11, September). Curug Malela, Wow Keren! Geomagz Volume 1 no 3.

Bevis, K.A. 2013. Tumalo Creek; Its Glaciated Valley and Spectacular Waterfalls (Field Trip 1E. [daring]. Tersedia:http://intheplaygroundofgiants.com/field-guides-to-central-oregons-geology/field-guide-to-the-bend-area/tumalo-creek-its-glaciated-valley-and-spectacular-waterfalls-field-trip-1e/ [diakses 4 Oktober 2016]

Brahmantyo, B. (2009, 3, Agustus). Curug Malela Lebih Dari Sekedar Wisata. Harian Pikiran Rakyat.

Brahmantyo, B. 2016. Sketsa Curug Malela-Album Facebook. [daring]. Tersedia: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1020257771414681&set=a.117584741681993.22623.100002914046227&type=3&theater. [diakses 4 Oktober 2016]

Kunto, Haryoto. 1982. Bandung Tempo Dulu. Bandung. Grasindo

Niagara Parks. 2016. Niagara. [daring]. Tersedia: http://www.infoniagara.com/attractions/canadian_falls/images/image2.jpg [diakses 4 Oktober 2016]

Excellence Prize of Big Data Competition For Sustainable Cities and Urban Communities 2016

So, we did it yeayy! After a month of discussion and several late night meetings, we finally win Excellence Prize in Big Data Competition For Sustainable Cities and Urban Communities 2016 held by UN Global Pulse. I’m proudly present you to this two young pretty ladies who inspire me a lot and always spread some positive energy.

Pravitasari and Gita!!

115735
Ita – Malik – Gita

A few months ago, I was asked to accompany Ita and Gita to Tangkuban Perahu. They were doing some research about tourism accessibility for the disables. Later they proposed an idea to some sociopreneurship competition about Captour which stands for Capable Tourism, an act to provide tourism for everyone, especially the disable.

Unfortunately, their brilliant idea didn’t make it to the competition. But the idea itself is still waiting to be manifested.

In May, I saw a competition leaflet. It is Big Ideas Competition For Sustainable Cities and Urban Communities 2016 held by UN Global Pulse. I read the booklet and I think that the proposal wouldn’t be so hard to create. So I ask Ita and Gita to join the competition as a team and we discussed about topic we should proposed. Later we chose this idea, Tune Map – Mapping accessible pedestrian routes for people with visual impairments in Bandung.

Of course for Ita dan Gita, this is not a new idea since they’re deeply concern about the mobility for the disables. Me? I think I’m a great catalyst. It is a great honor for me to be able to work with such brilliant peoples. Those who’s never stop spreading the positive vibes.

So here we are, Excellence Prizes Winner of Big Ideas Competition for Sustainable Cities and Communities.I praise Allah for this Ramadhan Kareem, Praise Him for this blessing. I’m really proud to be part of the team, and I’m looking forward for our next project. Lezgooo!

http://unglobalpulse.org/news/winners-big-ideas-competition-sustainable-cities-and-urban-communities-announced

Sepercik Kasih Travel O’Logy

Saya senang bercerita. Mungkin ini turun dari mama saya yang sangat pandai bercerita. Pernah suatu ketika beberapa kawan mampir ke rumah. Mereka sudah ingin pulang, tapi mama menahannya dengan tidak berhenti-berhentinya bercerita. Waktu teman-teman sudah berdiri mendekat ke pintu, mama melanjutkan lagi ceritanya sampai teman-teman akhirnya duduk lagi.

Kesenangan itu saya bawa hingga mahasiswa dan sekarang setelah lama lulus kuliah. Ketika mendirikan Travel O’Logy, salah satu motivasi saya saat itu adalah agar saya bisa menjadi interpreter sekaliber dosen saya, Pak Budi Brahmantyo, yang hampir semua orang mengakui bahwa beliau pandai membawakan kisah geologi dengan cara yang sederhana. Motivasi dari beliau pun sama, harapannya adalah ada interpreter muda yang bisa mengedukasi geologi dengan cara yang populer lagi tidak menggurui.

Bercerita tentang geologi membuat saya merasa berkembang. Bagaimanapun saya dipaksa untuk merangkum semua detil rumit kisah geologi tentang tektonik, petrogenesa, sedimentologi, vulkanisme, dan lain-lain ke dalam bahasa sederhana yang bisa dimengerti bahkan oleh bocah TK. Mencoba berbagi juga berarti saya harus membuka diri bahwa saya lebih banyak tidak tahu dan menerima juga bahwa mungkin ada orang lain yang lebih tahu, dan saya boleh jadi salah.

Bagi saya, pengalaman bersama Travel O’Logy adalah suatu pencapaian paling hebat dalam hidup saya. Meskipun Travel O’Logy belum berkembang sebagaimana yang saya bayangkan, meskipun ia masih tersengal-sengal, namun saya merasa bangga bahwa kami sudah sampai sejauh ini.

Perlu energi yang begitu besar untuk mendirikan sesuatu yang berkelanjutan. Perlu energi yang besar untuk menciptakan sistem yang bisa berjalan. Perlu energi yang besar untuk bertahan selama ini. Namun yang lebih diperlukan adalah kerendahan hati, untuk bisa menerima bahwa saya tak akan menjadi apa-apa tanpa bantuan dari teman-teman semua. Terima kasih banyak untuk : Fusi, Kure, Yuanita, dan Ikhrandi sebagai founder pertama Travel O’Logy. Terima kasih juga untuk Amran, Ndoy, Edo, Asmi, Carok, Sirka, Nabilah, Dulleh, dan teman-teman lain yang sudah banyak membantu kami bisa berjalan sampai sejauh ini.

Mari berkarya lagi setelah Lebaran!

Gowes Bareng Geolog VI : Surutnya Danau Bandung

Pagi hari Sabtu, 19 Maret 2016 adalah pagi yang seru. Kami Travel O’Logy berkesempatan untuk melakukan pendokumentasian acara ikonik dari Ikatan Alumni Teknik Geologi ITB (IAGL-ITB), yaitu Gowes Bareng Geolog (GBG) VI : Surutnya Danau Bandung. GBG merupakan acara pertama di Indonesia yang mengombinasikan bersepeda dengan field trip geologi dan telah berlangsung 6 kali sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2011.

 

Acara GBG VI ini dilaksanakan juga untuk memperingati World Water Day yang diperingati setiap tanggal 22 Maret. Tema Surutnya Danau Bandung dan lokasi acara di sekitar Danau Saguling dipilih juga untuk mengingatkan kita betapa pentingnya air bagi kehidupan. Danau Saguling yang semakin terancam oleh pencemaran menjadi suatu topik yang diangkat untuk meningkatkan awareness peserta mengenai pentingnya sadar lingkungan, terutama mengenai air.

Acara GBG VI ini diikuti oleh sekitar 140an penggowes dan dipandu oleh interpreter Dr. Ir. Budi Brahmantyo, M.Sc, yang menjelaskan bagaimana surutnya Danau Bandung. Perjalanan dimulai dari ITB, sepeda dinaikkan ke mobil bak terbuka, peserta berarak menggunakan angkutan bus.

DSC_0018
Peserta berfoto bersama sebelum berangkat di Gerbang Depan ITB

Spot I : Bendungan Saguling

Perjalanan sepeda dimulai di Bendungan Saguling. Bendungan Saguling yang mulai beroperasi pada tahun 1985. Air genangan Saguling kemudian dialirkan melalui pipa pesat untuk memutarkan turbin yang menghasilkan listrik sebesar 700 MW dan menerangi Pulau Jawa. Saat ini, Bendungan Saguling menghasilkan genangan pada elevasi 643 mdpl.

20160317112042
Genangan Danau Saguling di elevasi 643 mdpl

Melihat genangan air danau Saguling, kita seolah-olah dibawa ke puluhan ribu tahun yang lalu ketika Cekungan Bandung masih tergenang air menjadi sebuah danau. Alkisah pada 105 ribu tahun yang lalu, terjadi sebuah letusan katastrofi dari sebuah gunung di Utara Bandung, yaitu Gunung Sunda. Letusan ini menutup sebuah lembah di sekitar Padalarang, mengakibatkan Sungai Citarum Purba yang melewatinya terbendung dan kemudian menggenangi kawasan Cekungan Bandung yang serupa mangkok. Namun ketinggian air pada saat itu jauh lebih tinggi dari sekarang. Jika genangan air Saguling berada pada elevasi maksimal 643 mdpl, genangan air Danau Bandung kala itu berada pada elevasi 715 mdpl.

Permasalahan Lingkungan

Bendungan Saguling didesain untuk beroperasi selama 100 tahun dengan laju sedimentasi maksimal sebesar 4 juta m3/tahun. Namun perubahan tata guna lahan di daerah tangkapan air Danau Saguling mengakibatkan laju sedimentasi terus bertambah hingga 4.2 juta m3/tahun. Hal ini terjadi karena di daerah hulu terjadi perubahan tata guna lahan, dari hutan menjadi perkebunan, perumahan, industri, dan lain-lain. Dengan laju sedimentasi seperti saat ini, maka diperkirakan sedimen akan memenuhi Danau Saguling pada 36 tahun yang akan datang. Ketika hal ini terjadi, maka Bendungan Saguling hanya akan bisa memproduksi listrik di musim penghujan, akibatnya adalah hilangnya 700 MW yang diproduksi oleh PLTA Saguling.

Air Danau Saguling pun kini sudah berada di level D, dari sebelumnya di level B pada saat pembangunannya. Level D ini berarti bahwa kualitas air Danau Saguling hanya cocok untuk kebutuhan industri. Pada awal pembendungan, ikan mas masih bisa dibudidayakan di air Danau Saguling, namun kini ikan Patin yang lebih tangguh pun sudah tidak bisa dibudidayakan disini. Selain itu, kualitas air yang buruk dan sedimen yang tinggi juga memengaruhi kebutuhan kincir pemutar turbin yang dengan mudahnya terkorosi. Hal ini tentu membuat biaya perawatan alat di PLTA semakin tinggi.

Spot II : Surge Tank

Dari Bendungan Saguling, kami bersepeda terus ke arah Cikuda. Menyusuri tanjakan Pasir Cikukur yang melelahkan. Disini para penggowes diuji ketabahannya dalam menaiki tanjakan. Satu persatu terlihat memapah sepedanya, yang lain melambai-lambai mencari pertolongan. Warung-warung ramai dimampiri sekedar mencari teh manis untuk mengisi energi. Hingga akhirnya sampai di puncak Pasir Tikukur dan turun sedikit ke Surge Tank.

Surge Tank atau Bak Pendatar Air adalah sebuah bak yang digunakan untuk mengumpulkan air Danau Saguling sebelum dialirkan ke pipa pesat untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. Secara teori pipa pesat berfungsi sebagaimana piston yang harus terisi air sepenuh mungkin dan tidak boleh ada udara di dalamnya. Ketika pipa pesat terisi penuh, maka energi potensialnya akan maksimal. Energi potensial inilah yang dikonversi menjadi energi listrik ketika aliran deras air memutar turbin.

Spot III : Curug Bedil

Dari Surge Tank kita terus turun menuruni Back Slope dari punggungan homoklin Saguling yang miring ke selatan. Hingga kita berhenti di sebuah air terjun (dalam bahasa sunda disebut curug), bernama Curug Bedil. Yang menarik dari curug ini adalah bahwa curug ini menjadi model paling ideal untuk menggambarkan proses erosi ke hulu. Proses ini merupakan proses yang bertanggung jawab atas bobolnya Danau Bandung pada masa lampau.

20160317120311
Curug Bedil sebagai contoh erosi ke hulu resen. Erosi ke hulu menjadi alasan utama pembobolan Danau Bandung

Setelah Sungai Citarum terbendung pada 105 ribu tahun yang lalu, proses erosi secara intensif terjadi di balik genangan Danau Bandung. Puncaknya adalah di 16 ribu tahun yang lalu, bertepatan dengan puncak zaman es Wurm Max (18 ribu tahun yang lalu). Ketika itu muka air laut lebih rendah hingga 140 meter dari muka air laut saat ini. Akibatnya adalah erosi vertikal semakin besar di seluruh daratan karena air berupaya mengejar muka air laut.

Ketika itu, di antara Pasir Kiara dan Pasir Larang pada saat ini terjadi penjebolan dinding yang membendung Danau Bandung. Air yang menemukan celahnya kemudian mengerosi celah tersebut begitu hebatnya hingga terbentuk sebuah lembah yang begitu terjal dan dalam yang kini menjadi lembah Citarum lama.

Erosi ke hulu resen yang kita lihat di Curug Bedil merupakan sebuah cara bagaimana seorang geolog melihat masa lalu. Kami percaya bahwa the present is the key to the past, yaitu proses-proses yang terjadi di masa sekarang juga terjadi pada masa lampau.

 

 

 

Spot IV : Sanghyang Tikoro

Akhir dari turunan kita tiba di Sanghyang Tikoro, tepat di samping Power House PLTA Saguling. Sanghyang Tikoro berarti Kerongkongan Dewa (atau Dewa Kerongkongan?). Hal ini merujuk pada dimensi lubang yang begitu besar dan air Citarum masuk ke dalamnya. Siapapun yang melihat aliran Citarum di Sanghyang Tikoro tentu berimajinasi. Sejak lama geolog-geolog Belanda menduga bahwa bocornya Danau Bandung terjadi disini. Hal ini dipercaya turun-temurun. Bahkan pada saat perang kemerdekaan, beberapa pejuang mengusulkan mengebom Sanghyang Tikoro dengan tujuan membuat Bandung menjadi danau lagi.

20160317122717
Citarum masuk ke dalam Gua Sanghyang Tikoro. Besarnya dimensi gua ini mengakibatkan semua berimajinasi bahwa Danau Bandung bobol disini.

Hal ini dapat dibuktikan keliru secara geomorfologi, karena Danau Bandung tak pernah menyentuh Sanghyang Tikoro mengingat elevasinya yang begitu rendah dan posisinya yang berada di balik dinding bendungan. Sanghyang Tikoro berelevasi 394 mdpl, begitu jauh dari elevasi genangan Danau Bandung di elevasi 715 mdpl. Diketahui kemudian bahwa pembobolan Danau Bandung terjadi di sebuah lembah terjal antara Pasir Kiara dan Pasir Larang.

 

Spot V : Jembatan Gantung Citarum

Selepas dari Sanghyang Tikoro kami melanjutkan gowes ke arah Desa Bantar Caringin menyebrangi Sungai Citarum dengan jembatan gantung dan masuk ke lokasi proyek Bendungan Rajamandala. Dengan medan offroad tanah dan berbatu kami mengayuh pedal kami kepayahan karena panas yang luar biasa. Konon katanya hari itu adalah hari ketika matahari tepat berada di khatulistiwa sehingga panasnya cuaca menguras stamina kami.

Kemudian kami masuk ke hutan untuk menembus ke Desa Untu-Untu, Cihea. Di desa ini kami menyusuri jalan perkebunan singkong/jagung milik PTPN yang tak ada tanaman pelindung. Meskipun begitu, pemandangan Gunung Guha di belakang kami menjadi sebuah pelipur kelelahan yang mendera.

Lepas dari jalur perkebunan, kami masuk ke jalan Bandung-Cianjur lama. Jalan ini jarang dilewati lagi semenjak pembangunan Jembatan Rajamandala, sehingga sepi kendaraan yang lewat. Meskipun begitu jalanan begitu bagus sehingga perjalanan lancar, kecuali bagi kami yang sudah kehabisan stamina.

Spot VI : Jembatan Rajamandala

Jembatan Rajamandala menjadi pemberhentian terakhir. Disini kami makan dana menerima satu materi terakhir. Sebenarnya ini mempercepat finish karena lokasi finish sebenarnya di Jembatan Kereta Leuwijurig, yaitu jalur kereta api Bandung-Cianjur yang kini non-aktif.

Disini kami melihat lembah terjal yang digores oleh Citarum. Kami bisa membayangkan bagaimana derasnya aliran Citarum sehingga menghasilkan lembah yang begitu tinggi, vertikal. Namun saat ini setelah dibendung di Saguling dan Cirata, Citarum bagaikan anak manis yang mengalir dengan manja. Alirannya pelan santai, kita bisa berperahu di bawahnya.

Acara berakhir dengan kuis dari Pak Budi yang berhadiah batu mulia dari Mang Okim. Mang Okim menutup acara dengan mengajak kami menyanyikan lagu Bagimu Negeri. Hal ini menurut beliau adalah karena perjalanan ini adalah upaya kita untuk mengenali negeri kita dalam rangka memperkuat rasa cinta kita pada Indonesia. Bahwa orang-orang yang terlibat menyelenggarakan acara ini berupaya begitu maksimal agar acara berjalan lancar dan bagaimana acara ini kemudian mampu memberikan makna bagi kami para peserta yang mengikutinya.

Terima kasih untuk panitia Gowes Bareng Geolog VI! Bravo GEA! Sampai jumpa di GBG VII, segera!

Back to Nature, Talk for the Future

Di awal tahun 2016, kami Travel O’Logy mengajukan sebuah program sebagai bagian dari rangkaian acara kampanye calon Ketua Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung, Pak Ridwan Djamaluddin. Program tersebut adalah sebuah rangkaian kegiatan outdoor di sekitar Bandung yang dikemas khas Travel O’Logy dan diakhiri dengan piknik bersama di taman Villa Merah.

Acara ini bertujuan agar alumni-alumni berkumpul sejenak di tengah padatnya aktivitas pekerjaan, berekreasi, menghirup udara segar, berolahraga, menambah ilmu pengetahuan, dan sekaligus juga bersilaturahmi dengan kawan-kawan.

Pada akhir acara kami bersyukur bahwa acara berjalan lancar dan di akhir masa pemilihan, Pak Ridwan juga terpilih sebagai Ketua Ikatan Alumni sehingga kami berharap ke depannya akan ada banyak kreasi-kreasi alumni muda yang difasilitasi oleh IA.

 

Kaitan Sasakala Sangkuriang Dengan Kejadian Geologi Cekungan Bandung

Bicara tentang Cekungan Bandung, maka kita takkan lepas dari kisah Sangkuriang yang mencintai ibunya, Dayang Sumbi. Kisah ini begitu melegenda, bahkan catatan paling tua tentang kisah ini ada sejak abad ke-16, yaitu pada catatan Bujangga Manik. Bujangga Manik, seorang pangeran Kerajaan Pajajaran memilih jalan hidup seorang resi atau pertapa dan melakukan perjalanan mengelilingi Pulau Jawa. Catatannya yang kini tersimpan di Museum Oxford di Inggris menyimpan begitu banyak informasi mengenai toponimi daerah di Jawa Barat. Mengenai Sangkuriang, ia mencatat:

Leumpang aing ka baratkeun, datang ka bukit Patenggeng. Sasakala Sang Kuriang, masa dek nyitu Ci Tarum, burung tembey kasiangan

Artinya:

“Berjalanan aku ke barat, datang dari Bukit Patenggeng, Legenda Sang Kuriang, bagaimana mau membendung Ci Tarum, gagal karena kesiangan”

legenda sangkuriang dan gunung tangkuban perahu
Ilustrasi Sangkuriang menendang perahu yang telah dibuatnya

R.W. van Bemmelen, seorang geolog Belanda begitu terpana ketika mendengar kisah Sangkuriang, Keterpanaan ini karena menurutnya kisah Sangkuriang begitu cocok dengan kisah pembentukan Danau Bandung dan letusan katastrofi Gunung Tangkuban Perahu. Hal yang menarik juga karena pada beberapa daerah toponimi atau penamaan wilayah begitu erat kaitannya dengan Sasakala Sangkuriang.

Berdasarkan legenda, Sangkuriang yang diminta untuk membuat sebuah danau dan perahu, membendung Ci Tarum dalam satu malam. Bahan perahu diambilnya dari Pohon Lametang yang berada di sebelah timur. Pohon itu ditebangnya kemudian runtuh ke arah barat. Sisa tunggulnya kemudian menjadi Gunung Bukittunggul. Runtuhnya pohon begitu dahsyat sehingga menimbulkan gempa. Sisa batang yang runtuh memanjang barat timur menjadi tinggian Sesar Lembang. Bagian ranting dan batang pohon dalam bahasa Sunda disebut Rangrang, diinterpretasikan sebagai Gunung Burangrang. Kejadian ini terjadi sebelum terbentuknya perahu. Hal ini dianggap bersesuaian dengan penelitian bahwa Gunung Tangkuban Perahu adalah gunung yang berusia lebih muda dibandingkan gunung-gunung di sekitarnya.

Kemudian Sangkuriang membendung Ci Tarum dan ketika air Ci Tarum mulai tergenang dan danau akan selesai, Dayang Sumbi yang cemas bersiasat sembari berdoa pada yang maha Kuasa. Ia mengibar-ngibarkan selendangnya di ufuk timur. Selendangnya konon tersisa sebagai Batu Selendang di Tahura Dago. Melihat mentari telah bersinar di ufuk timur, Sangkuriang yang merasa gagal sangatlah kesal. Ia kemudian menendang perahu yang telah dibuatnya. Perahu mendarat terbalik menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Batu Selendang, dipercaya sebagai Selendang Dayang Sumbi. Foto oleh Budi Brahmantyo.

Sisa-sisa Sasakala Sangkuriang juga terdapat di Bandung Barat. Di kawasan perbukitan kapur Rajamandala, beberapa bukit dinamai sesuai dengan nama-nama perkakas pesta. Di daerah ini terdapat beberapa nama bukit seperti Bukit Pawon yang artinya dapur. Ada pula Pasir Pabeasan yang artinya tempat beras. Pasir Manik = manik-manik perhiasan, Pasir Hawu = tungku, Pasir Leuit = lumbung, Pasir Kancahnangkub =wajan/panci terbalik, Pasir Bende dan Gua Ketuk = alat tetabuhan. Bukit-bukit itu berada pada posisi yang terpisa jauh, seolah-olah berserakan karena ditendang Sangkuriang.

Kearifan masyarakat Sunda dalam menamai wilayahnya tentu sangat menarik untuk dikaji. Bagaimana bisa kisah-kisah ini begitu berkaitan. Bagi mereka yang skeptis, boleh jadi ini hanya reka-rekaan atau kita hanya mencocok-cocokan. Namun saya merasa bahwa hal ini terlalu menarik untuk disebut sebagai sebuah kebetulan. Bagaimanapun masih banyak kebijaksanaan leluhur kita yang kita belum pahami. Begitu banyak warisan lisan yang tak tercatat dan akan segera hilang apabila penuturnya telah berpulang. Maka tentu sangat penting bagi kita generasi muda untuk mencari tahu dan menjaga agar kearifan-kearifan itu bisa terjaga.

 

Daftar Pustaka

Bachtiar, T. dan Syafriani, Dewi., 2012. Bandung Purba. Bandung: Pustaka Jaya

Kunto, H., 2014. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung: Granesia

Brahmantyo, B., dan Bachtiar, T., 2009. Wisata Bumi Cekungan Bandung. Bandung: Truedeepustakasejati

Franz Junghuhn si Pengagum Alam Raya

Franz Wilhelm Junghuhn adalah seorang penjelajah keturunan Jerman. Ia lahir di Mansfield pada tahun 1809 dan wafat di Lembang pada 1864. Pada tahun 1837, Junghuhn bersama Dr. E.A. Fritze ditugaskan untuk melakukan inspeksi kesehatan di beberapa daerah di Jawa Barat. Saat berada di Dataran Tinggi Bandung, keduanya mendaki Gunung Malabar. Pengalaman menjelajahi Bandung Selatan begitu berkesan baginya sehingga ia memilih daerah Pangalengan untuk lokasi pengembangan dan penelitian tanaman kina.

Junghuhn_self-portrait
Junghuhn muda

Junghuhn dijuluki sebagai Humboldt van Java karena kegemarannya akan ilmu pengetahuan. Sebagaimana Humboldt ia pun adalah seorang naturalis, pencinta alam, geolog, eksplorasionis. Ia menyelidiki begitu banyak hal, terutama tentang Flora-Fauna, Geografi, Geologi, Iklim dan Sosiografi Penduduk Pulau Jawa. Dari hasil penelitiannya, terutama di daerah Priangan menjadi landasan bagi para pengusaha Belanda untuk menentukan lokasi yang tepat untuk perkebunannya. Hasil penyelidikan Junghuhn dibukukan dalam 4 jilid berjudul “Java” Gravenhage, 1853.

Haryoto Kunto, dalam Bandung Tempo Doeloe mendeskripsikan kecintaan Junghuhn pada tanah Priangan dengan cerita akhir hayatnya. Di akhir hayatnya, Junghuhn yang begitu mencintai tanah Priangan berkata pada sahabatnya, Dr. Groneman.

Groneman yang budiman, maukah engkau membukakan pintu jendela kamarku ini? Aku ingin berpamitan dengan gunung-gunungku yang tercinta. Buat akhir kali, aku ingin memandang hutan-hutanku. Ku ingin sekali menghirup udara pegunungan yang segar.”

Sambil memandangi dataran Bandung yang molek di bawah kaki langit, dihiasi gunung dan hutan alam Parahyangan yang cantik menghijau, berpulanglah Franz Junghuhn, Pengagum Alam Raya, menuju haribaan-Nya.

Begitulah Junghuhn, orang yang memiliki banyak jasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan di republik ini. Sebuah bukit di Pangalengan dinamai sesuai namanya, Pasir Junghuhn. Di makamnya di Jayagiri dibangun sebuah tugu obelisk untuk mengenangnya. Di sekitar tugu ditanamlah pohon-pohon kina untuk mengingat jasanya yang mengembangbiakan kina di Indonesia hingga pernah memenuhi 90% kebutuhan kina dunia. Begitulah Junghuhn, jasanya abadi.

slide_73
Klasifikasi vegetasi berdasarkan elevasi

Pustaka:

Kunto, H., 2014. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung: Granesia

Suganda, Her. 2014. Kisah Para Preanger Planters. Jakarta: Kompas.

Mendaki Tangkuban Perahu via Jayagiri

Hampir semua orang Bandung pernah ke Tangkuban Perahu, tapi mendaki Tangkuban Perahu? Hey tunggu dulu. Nah salah satu jalur pendakian Gunung Tangkuban Perahu yang paling mudah dan populer adalah Jalur Jayagiri. Tulisan ini akan membahas sebuah jalur pendakian untuk mengisi akhir pekan anda dengan kegembiraan.

Sebaiknya untuk perjalanan ini gunakan angkutan umum, atau simpan kendaraan anda di sekitar Lembang. Mulai dengan kunjungan ke Taman Junghuhn, yaitu makam seorang Naturalis asal Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn yang berjasa besar dalam penelitian vegetasi di Pulau Jawa. Taman Junghuhn berjarak 1 km dari Kota Lembang, yaitu setelah belokan kanan pertama Pasar Lembang, ambil belokan kiri pertama dengan plang hijau Taman Junghuhn.

IMG_4218
Tugu Obelisk Junghuhn

Di taman Junghuhn kita akan disambut oleh sebuah nisan berbentuk obelisk yang merupakan persemayaman terakhir Franz Wilhelm Junghuhn. Di taman ini banyak terdapat pohon kina, yang mana merupakan salah satu jasa terbesar Junghuhn di Indonesia. Ia merupakan orang pertama yang mengembangbiakan kina yang dicuri pemerintah kolonial Belanda dari Peru ketika itu. Dari kina anakan yang dikembangkan Junghuhn, Indonesia kemudian dikenal sebagai penghasil kina terbesar di dunia. Hal ini tentu menjadi keuntungan luar biasa bagi pemerintah kolonial karena kebutuhan kina sebagai obat-obatan ketika itu sangat tinggi dan harganya sangat mahal.

Selepas dari Taman Junghun, kembali ke jalan utama dan lanjutkan ke atas hingga bertemu gerbang Perhutani. Disinilah trekking kita akan bermula. Cukup dengan membayar Rp5.000 kita bisa menikmati suasana hutan pinus dan kebun kopi di Jayagiri ini. Total perjalanan dari gerbang Perhutani hingga ke Terminal Jayagiri Tangkuban Perahu sejauh 6.5 km dengan kenaikan elevasi setinggi 450 meter. Medan yang tidak terlalu terjal, dengan suasana hutan pinus yang meneduhkan membuat perjalanan ini tak terasa berat. Di sepanjang perjalanan pun kita akan sering bertemu dengan para pejalan kaki lainnya yang juga sedang menikmati suasana syahdu hutan Jayagiri. Saya mencoba membayangkan suasana tahun 70an ketika Abah Iwan Abdulrachman menciptakan lagu Melati dari Jayagiri. Pasti suasana ketika itu lebih khidmat dan menenangkan.

“Melati dari Jayagiri

Ku terawang keindahan kenangan

Hari-hari lalu di mataku

Tatapan yang lembut dan penuh kasih”

IMG_0076
Rombongan Ex Undis Solum I berfoto di gerbang Jayagiri (dari kiri berdiri : Teh Tyas, Jessy, Cae, Harits, Yudi, Teh Dian, Teh Akih, Nza, Arlyn, Kang Rakhman, Kang Shandi, Fabila, Bdi. dari kiri duduk : Gita, Edna, Dea, Hesty, Malik, Rayhan, Feby, Dadan)

Ada dua warung di perjalanan menuju Terminal Jayagiri, bisa ditempuh setelah 2 jam berjalan kaki. Warung ini dikenal sebagai Warung Abah. Warung ini merupakan tempat favorit para trekker dan offroader yang jalurnya bertemu di warung ini. Dari Warung Abah menuju Terminal Jayagiri bisa dicapai dengan 1 jam berjalan kaki. Kemudian kita harus membayar tiket masuk Tangkuban Perahu sebesar Rp30.000/orang.

IMG_0114
Suasana perjalanan di hutan pinus Jayagiri

Dari Terminal Jayagiri kita memiliki dua opsi, yaitu menggunakan Ontang-Anting yang disediakan PT GRPP seharga Rp7.000 atau melanjutkan jalan kaki menuju Kawah Ratu. Jika lelah gunakan saja fasilitas yang tersedia, karena berjalan kaki menuju Kawah Ratu akan menghabiskan 1 jam perjalanan menanjak tanpa henti. Kepuasan karena sudah berhasil mendaki Tangkuban Perahu merupakan hal yang patut kita syukuri. Keberhasilan karena sudah berhasil menaklukan diri sendiri.

Untuk menghibur kaki yang lelah karena telah berjalan begitu jauh, berjalanlah ke Kawah Domas. Kawah ini merupakan mata air panas yang terjadi akibat adanya energi panas bumi dari dalam Tangkuban Perahu. Di kolam-kolam dengan suhu 40o-100o C ini kita bisa merendam kaki kita. Kandungan sulfur yang tinggi dalam air panas menjadikan air panas ini baik bagi kulit kita. Beberapa turis dari Timur Tengah bahkan begitu senang membalurkan lumpur sulfur ke badan dan wajah mereka. Konon katanya lumpur ini baik agar kulit wajah tetap kencang dan sehat.

IMG_0301
Foto bersama di Kawah Domas. Peserta paling muda umur 6 tahun, paling tua ga usah ditanya lah. Tapi semua bahagia.
IMG_0271
Penjelasan singkat mengenai manifestasi panas bumi di Kawah Domas. Interpretasi geologi sederhana sebagai sebuah nilai tambah pariwisata.

Kita akhiri perjalanan kita di parkiran Kawah Domas dengan total trekking sejauh 15 km. Pengalaman perjalanan ini saya harap dapat menjadi energi untuk menjalani esok hari.
Salam

Rangkuman Buku Agrogeology : Rocks for Crops

Saya ingin berbagi mengenai tugas kuliah saya dulu. Isinya adalah rangkuman dari bab pendahuluan sebuah buku judulnya Agrogeology : Rocks for Crops. Buku ini ditulis untuk menjawab tantangan kebutuhan pangan yang luar biasa besar di masa yang akan datang. Meskipun studi kasus dilakukan di Afrika yang sulit jika dianalogikan sama dengan Indonesia, namun semangat untuk meneliti tentulah harus ditiru. Dengan visi Pak Jokowi untuk swasembada pangan dalam 3 tahun dan tentu seterusnya, maka pertanian yang berkelanjutan harus menjadi prioritas. Dengan itu tentu saja harus diterapkan segala disiplin ilmu agar didapatkan hasil yang maksimal.

Berikut rangkuman saya:

Sistem agrikultur yang berkelanjutan dan produktif adalah salah satu kebutuhan fundamental sebuah Negara dalam perkembangannya. Di Negara-negara Afrika sub-Sahara, lebih dari 50% populasinya bergantung pada agrikultur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yang secara makro terhitung berkontribusi >30% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Agrikultur adalah sumber utama penghasilan, pekerjaan, ketahanan pangan, dan upaya survival dari populasi umum. Namun saat ini pertumbuhan dari produk agrikultur relatif tetap sedangkan pertambahan populasi tumbuh lebih cepat dari produksi pangan. Hasilnya adalah penurunan produksi pangan per kapita, yang berkontribusi terhadap defisit pangan dan kelaparan. Pada umumnya petani afrika diklasifikasikan sebagai kalangan miskin karena kesulitan modal, lahan, buruh, dan dengan penghasilan harian per kapita <US$1. Angka ekspektasi hidup pun sangat rendah di Afrika, sebagai contoh di Guinea-Bissau, Madagaskar, Malawi, Rwanda, Sierra Leone, Uganda, dan Zambia, angka ekspektasi hidup <42 tahun. Hasilnya adalah Negara Afrika sub-Sahara memiliki proporsi tertinggi dari anak kekurangan gizi di dunia.

Penduduk di daerah Afrika sub-Sahara pada umumnya bergantung pada tanah dan hujan untuk mendukung produksi agrikultur. Tanah adalah basis dari upaya mereka untuk bertahan, untuk menjamin ketahanan pangan, dan bekerja. Namun di hampir semua daerah di Afrika, tanah mengalami eksploitasi yang berlebihan. Untuk kesuburan tanah yang berkelanjutan, perlu dilakukan penambahan nutrisi tanah dengan jumlah yang sesuai penggunaan nutrisi tersebut oleh tumbuhan. Namun pada hampir semua daerah di Afrika, lebih banyak nutrisi tanah yang dipakai daripada yang ditambahkan. Konsekuensinya adalah nutrisi tanah seolah-olah “ditambang” (Van der Pol, 1993). Selain itu, banyak area yang tidak terlindungi dari ancaman erosi sehingga tanah seolah-olah digerus dari ladang petani. Dalam beberapa dekade ke belakang, produktivitas tanah terus menerus berkurang. Laju penipisan tahunan di sub-Sahara mencapai 22kg nitrogen, 2.5 kg fosfor, dan 15 kg potassium per hektar tanah yang dibudidayakan. Nilai ini ekuivalen dengan US$ 4 miliar pupuk (Sanchez, 2002). Penurunan kualitas tanah ini disebut-sebut oleh banyak saintis sebagai penyebab biofisik utama dari penurunan produksi pangan di sub-Sahara (Sanchez dkk, 1997; Sanchez, 2002).

Kebutuhan akan produktifitas agrikultur yang berkelanjutan untuk periode waktu yang lama kemudian dijawab dengan pelatihan manajemen efektifitas tanah, air dan nutrisi yang efektif. Untuk menjawab tantangan kebutuhan pangan di Negara sub-Sahara, diperlukan usaha yang keras dari berbagai tingkat masyarakat, individu, komunitas, nasional, dan bahkan internasional. Hal ini karena masa depan generasi muda bertautan erat dengan adanya ketahanan pangan yang berkelanjutan dan juga adanya pangan yang bernutrisi dan cukup untuk dikonsumsi semua orang.

Untuk meningkatkan produktifitas tanah, produktifitas pangan, dan ketahanan pangan, petani tidak hanya harus menambah kadar nutrisi tanah (pupuk), tapi juga harus meningkatkan kualitas struktur tanah, dan mengurangi kehilangan tanah (erosi). Pemanfaatan pupuk dan juga nutrisi alamiah lainnya merupakan salah satu strategi dalam manajemen sumber daya yang efektif. Penggunaan pupuk yang larut dalam air juga merupakan langkah yang cukup baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanah. Namun, penggunaan produk ini juga dibatasi oleh komponen biaya yang tinggi dan juga kurangnya ketersediaan. Hal ini juga karena adanya perubahan kebijakan ekonomi makro di tahun 90an yang menghasilkan liberalisasi produk pertanian dan perang harga juga komersialisasi pupuk bersubsisdi. Hal ini mengakibatkan tingkat penggunaan pupuk menjadi berkurang. Secara regional, penggunaan pupuk per hektar sangat rendah yaitu <5 kg pupuk cair per hektar, yang merupakan rata-rata penggunaan terendah di dunia.

Kebutuhan untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan ketahanan pangan, dan melindungi lingkungan memerlukan usaha yang lebih luas dan lebih substansial, dan lebih berinovasi. Sanchez dan Leakey (1997) menyebutkan tiga kebutuhan penting untuk meningkatkan produksi agrikultur per kapita untuk petani berlahan kecil, hal ini meliputi kebijakan dan peningkatan infrastruktur lingkungan (meliputi pendidikan, fasilitas kesehatan, kredit, pasar, dan servis). Juga perlu ada upaya melawan pengurangan kesuburan tanah seperti dengan intensifikasi dan diversifikasi penggunaan lahan.

Riset dan pengembangan tanah pada umumnya hanya fokus pada isu teknikal. Tapi faktor non-teknis seperti sosial, ekonomi, dan politik juga penting. Situasi di kebun cukup kompleks sehingga solusi teoritis seringkali sulit untuk diaplikasikan. Salahsatu yang bisa dilakukan adalah studi mengenai nutrisi agrikultur.

Nutrisi agrikultur meliputi pupuk, kesuburan, dan sumber daya geologi (agromineral) yang berpotensi menambah produktifitas tanah. Agromineral secara natural merupakan material geologi yang terbentuk di dalam tanah dan bisa digunakan dalam sistem produksi pangan untuk menambah kesuburan tanah. Agromineral yang mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan biasa disebut sebagai “pupuk batuan” (Benetti, 1983; Appleton, 1990), kadang pula disebut “petrofertilizer” (Mathers 1994; Leonardos dkk, 1987, 2000), yaitu batuan dengan komposisi yang berbeda.

Istilah agromineral digunakan disini dan memiliki arti yang luas. Itu termasuk pula batuan penyedia nutrisi seperti batuan fosfat, nitrogen, garam potassium, dll. Juga termasuk “soil amendment” termasuk batugamping dan dolomite dan juga batuan silikat. Sumber daya geologi batuan ini pada umumnya mampu memberikan nutrisi pada tanah pada periode waktu yang cukup lama. Agromineral juga termasuk pada batuan dan mineral yang meningkatkan status fisik tanah. Misalkan perlit digunakan untuk menambah tingkat aerasi pada media tumbuh buatan di rumah kaca. Vermikulit dan zeolit adalah mineral yang mampu menampung dan melepas nutrisi dan moisture secara perlahan. Dan batuan volkanik scoria dan pumis mampu membantu mengurangi evaporasi.

Secara konvensional, pupuk kimia hasil industri berbentuk cairan dan mengandung nutrisi dalam konsentrasi yang cukup tinggi, kecuali pada beberapa pupuk nitrogen Sedangkan agromineral pada umumnya hanya dimodifikasi secara fisik dengan dihancurkan atau digerus. Yang sering digunakan juga adalah penggabungan antara metode kimiawi dengan agromineral.

Kini, banyak institusi sains nasional ataupun internasional yang mengumpulkan data-data mengenai kegunaan mineral-mineral. Namun data yang umum adalah data mengenai kegunaan unsur metal. Data-data mengenai agromineral masih tersebar dimana-mana sehingga perlu pendekatan yang komprehensif mengenai aset nutrisi tanaman yang mampu disediakan oleh unsur geologi, terutama yang dapat meningkatkan produksi pangan di dunia.

Kegunaan buku ini setidak-tidaknya ada dua, yaitu untuk merangkum peran potensial batuan dan mineral dalam meningkatkan produktifitas tanah, yang kedua adalah untuk menjadai khazanah pengetahuan dalam memahami sumber daya agromineral untuk 48 negara di selatan Sahara, Afrika.

Beauty of Curug Cimahi

Beauty of Curug Cimahi

When I was in highschool I came to this place and all I see is a waterfall.
I went there just now, and what I see is an amazing waterfall, made up from lava and volcanic breccia with 90 metres tall.
We can see the vertical collumnar joint which indicate the horizontal flows.
Curug (sundanese language for waterfall) Cimahi is a waterfall from Ci Mahi (Ci in english means River, so Ci Mahi means River Mahi). This river come from Situ Lembang (Situ means Lake), Situ Lembang now become the training center of Kopassus, Indonesian Army.