Apakah Tuna Netra Bisa Jadi Geolog?

Beberapa bulan lalu ada perdebatan seru di Twitter, tentang apakah seorang buta warna bisa berkuliah di jurusan geologi di Indonesia. Di kampus saya dulu, Insitut Teknologi Bandung, memang ada aturan ini. Bahwa salah satu pra-syarat masuk jurusan geologi adalah mampu menunjukkan surat bebas buta warna. Entah apakah sekarang masih ada atau tidak.

Sebelumnya saya tidak pernah benar-benar memikirkan hal ini, tapi saya kemudian sadar bahwa ini adalah aturan diskriminatif yang harus dihapuskan. Geologi adalah ilmu yang harus bisa dipelajari oleh siapa saja. Lebih umum lagi, pendidikan harus bisa diakses siapa pun, terlepas dari kondisi fisiknya. Jadi siapa saja bisa belajar apa saja yang dikehendakinya.

Apa hak kampus untuk melarang seorang buta warna belajar geologi? Apakah seorang buta warna tidak bisa menjadi geolog? Jika buta warna saja tidak bisa, apalagi tuna netra. Lalu muncul pertanyaan lain, apakah seorang tuna netra tidak bisa menjadi geolog?

Tuna netra jadi geolog? Jawabannya bisa!

Ini adalah cerita yang menjungkirbalikkan semua asumsi-asumsi keliru, yang membuktikan bahwa ketika kesempatannya ada, semua orang bisa, mampu, dan bahkan menjadi yang terbaik. Bahkan seorang tuna netra bisa menjadi nomor satu di dunia dalam bidangnya.

Ini cerita tentang Dr. Geerat Vermeij, seorang ahli moluska, profesor di bidang Paleobiologi di Universitas California Davis (UC Davis), Amerika Serikat. Ia bukanlah seorang buta warna. Ia adalah seorang tuna netra. Ia kehilangan pandangan sejak umurnya 3 tahun.

Profesor Vermeij membuktikan bahwa ketidakmampuan untuk melihat bukanlah hambatan untuk berkarya. Dalam puluhan tahun karirnya ia mempublikasikan lebih dari 200 publikasi, termasuk 5 buku. Publikasinya tersebar di jurnal ternama, Paleobiology, Science, American Naturalist, dll.

Contoh publikasi Vermeij

Buku terbarunya, Nature an Economic History, membahas mengenai ekonomi dan evolusi. Ia membandingkan antara prinsip dasar evolusi dengan prinsip dasar ekonomi, kemudian mengorelasikannya dengan tren sejarah kehidupan dan sejarah kemanusiaan.

Profesor Vermeij adalah seorang tuna netra. Tapi itu tak mencegah ia menjadi yang terbaik di bidangnya. Tahun 2001, ia dianugerahi Medali Daniel Giraud Elliot. Penghargaan ini diberikan oleh U.S. National Academy of Sciences bagi mereka yang memberikan dampak besar di bidang zoologi atau paleontologi.

Pada tahun 2017, ia dianugerahi Fellow Medalist dari Fellows of the California Academy of Sciences. Ini adalah penghargaan tertinggi di California untuk ilmuwan yang memberikan kontribusi ilmiah di bidang ilmu alam.

Kedua penghargaan prestisius ini tentu tidak diberikan karena Dr. Vermeij adalah seorang tuna netra. Kedua penghargaan ini diberikan karena karya-karya Vermeij memang eksepsional dan memberikan dampak yang luar biasa.

Tidak mudah tapi mungkin
Perjalanan Profesor Vermeij hingga di posisinya sekarang itu sama sekali tidak mudah. Tapi ia membuktikan bahwa ia bisa. Sejak kecil ia dibimbing oleh orang tuanya untuk menyukai ilmu pengetahuan. Pada umur 10 tahun, mereka pindah ke Amerika Serikat, dan Vermeij mulai tertarik pada kerang-kerangan. Ia mulai mengoleksi kerang. Orang tua dan saudara-saudaranya sangat senang dan antusias dengan kegemarannya. Mereka membacakan, mentranskrip, dan mendiktekan setiap buku ilmu pengetahuan yang mereka bisa dapat.

Sejak kecil, ia selalu mendapat dukungan yang ia perlukan. Semua guru-gurunya menerima dengan hangat dan mendengarkan dengan antusias ketika Vermeij muda menceritakan keinginannya untuk menjadi ahli kerang atau biologi. Bidang yang sama sekali visual. Tak pernah sekalipun mereka menyatakan bahwa bidang yang ingin ia geluti ini tidak cocok dengan kondisinya. Mungkin dalam hatinya mereka berpikir bahwa tuna netra janganlah belajar biologi karena itu akan merepotkan, tapi tak pernah sekalipun pikiran-pikiran itu mereka sampaikan.

Vermeij muda kemudian diterima masuk Universitas Princeton di jurusan Biologi dan Geologi. Profesor-profesornya di sana memberikan dukungan penuh.

Selepas dari Princeton, tahun 1971 Vermeij melanjutkan studi doktoral di Yale. Ketika ia diwawancara oleh kepala departemen, ia dites. Ia diberikan dua buah cangkang dan ditanya apakah ia mengenali cangkang itu. Vermeij muda hanya tersenyum, karena dua cangkang itu sangat dikenalinya.

Kepala departemen sangat puas dengan kecerdasan Vermeij dan kemudian memberikan dukungan penuhnya. Vermeij mendapatkan beasiswa penuh dan juga diberikan dana untuk riset doktoralnya. Posisi terakhirnya adalah profesor paleontologi di UC Davis, kampus ternama di Negara bagian California, Amerika Serikat.

Yang dilakukan Vermeij sama dengan yang dilakukan geolog-geolog lainnya. Ia pergi ke lapangan. Ia mengumpulkan sampel. Ia menganalisis sampel yang dikumpulkannya di laboratorium. Ia pergi ke museum, ke perpustakaan. Ia meneliti sampel yang ada. Ia mempelajari literatur yang tersedia.

Kegiatan lapangannya pun sama seperti geolog-geolog lainnya. Ia meneliti terumbu karang. Ia berbasah-basahan di rawa mangrove, di rawa berlumpur, di pantai, di gurun, hutan hujan, di kapal, di stasiun pengamatan, dan banyak tempat lainnya.

Apakah kebutaan menjadi halangan? Tidak. Sama sekali tidak.

Vermeij mendapat bantuan ketika ia bekerja. Ada orang yang memandunya. Tapi apakah ini kemewahannya sebagai seorang peneliti yang tuna netra? Tidak juga. Penulis sendiri ketika dulu bekerja selalu ditemani oleh asisten. Franz Junghuhn di tahun 1830an ketika meneliti di Indonesia, konon ditemani lebih dari 20 asisten.

Bagi Vermeij, kebutaan bukanlah hal yang menghalangi ia untuk bekerja sama seperti peneliti lainnya. Bahkan menurut dia, tak ada hal dalam pekerjaannya yang membuat seorang tuna netra lain tak bisa melakukan apa yang dia lakukan. Ketika di lapangan, ia pernah disengat lebah, dicapit kepiting, terpeleset di batu, terkena batu tajam, dan banyak hal lainnya. Baginya, baik tuna netra, maupun mereka yang bisa melihat mempunyai risiko yang sama saja.

Pesan Vermeij
Pengalaman Vermeij bertahun-tahun sebagai ahli kerang bisa menjadi contoh bagi kita semua bahwa ketika kesempatannya ada, maka tuna netra bisa menjadi yang terbaik di bidangnya. Bahkan lebih baik dari mereka yang bisa melihat. Bahkan di bidang yang sangat visual seperti biologi, dan juga geologi.

Menurut Vermeij, pendidikan umum selama ini harus direformasi. Terlalu lama pendidikan memperlakukan tuna netra dengan tidak adil. Selama ini tuna netra selalu diarahkan menuju ilmu sosial atau jurusan-jurusan yang “aman”, jauh dari laboratorium atau jurusan yang berkegiatan di lapangan. Ini tidak adil, katanya. Kunci dari semua ini adalah kesetaraan, dan kunci kesetaraan adalah kesempatan dan respek. Selama kesempatannya tidak sama, maka tidak akan pernah ada kesetaraan.

Lantas bagaimana?
Bagi saya, yang utama adalah mendukung kesetaraan. Setiap orang harus dapat kesempatan yang sama. Sekarang bagaimana bisa semua orang dapat kesempatan yang sama jika aturan dasar masuk sekolah saja sudah sangat diskriminatif?

Maka ayolah kita sudahi perdebatan-perdebatan tidak perlu perihal penerimaan mahasiswa jurusan geologi atau jurusan lain harus begini begitu, yang aturannya malah diskriminatif dan memberatkan orang lain. Cukuplah persyaratan akademik yang menjadi batas.

Kampus janganlah mendiskriminasi orang dari kondisi fisiknya. Beri kesempatan untuk semua orang. Siapa yang tahu kalau jenius paleontologi moluska itu seorang tuna netra? Apakah ini mungkin terjadi jika dulu Princeton dan Yale menolak mahasiswa tuna netra di kampusnya?

Menurut Yayasan Mitra Netra, ada sekitar 3,5 juta orang tuna netra di Indonesia. Ini termasuk mereka yang parsial dan total. Sudah berapa banyak orang kita rebut haknya untuk belajar dengan aturan-aturan yang membelenggu itu? Bagaimana jika ada orang-orang jenius seperti Vermeij yang kita lupakan. Betapa meruginya dunia sains Indonesia.

Ketika masuk hal teknis, misal seorang tuna netra terdaftar di jurusan geologi yang banyak kegiatan lapangan. Mungkin kampus dapat meminta mahasiswa untuk menyanggupi menyediakan pemandu yang bisa mendampingi. Jangan mahasiswa ditolak ketika ia punya keinginan kuat dan kemampuan untuk mewujudkan keinginannya. Atau kita tidak akan pernah punya Vermeij-Vermeij lain di Indonesia. Yang bisa mewakili kaumnya, yang bisa menjadi inspirasi kelompoknya. Yang bisa menjadi bukti bahwa kesempatan bisa mewujudkan kesetaraan. Yang bisa menjadi bukti bahwa setiap orang, tak peduli kondisi fisiknya, bisa menjadi yang terbaik di bidang apapun.

Sumber:
https://nfb.org/images/nfb/publications/books/kernel1/kern0610.htm

Tuna netra hebat lainnya: Rumphius.

Image result for rumphius
Rumphius, salah satu botanist ternama yang meneliti Indonesia di tahun 1600an. Karyanya Herbarium Amboinense, adalah katalog tanaman di Maluku. Rumphius menulis bukunya dalam keadaan buta.
You Might Also Like
Leave a Reply